How Late is Too Late? – Chapter 4

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3

..

Donghae membuka mata dan meraih ponsel yang ia letakkan di samping ranjang. Sudah hampir pukul tiga dini hari dan ia belum juga bisa tidur. Padahal, kegiatannya dua hari belakangan begitu menguras tenaga. Jadwal kerja di rumah sakit serta persiapan sebuah acara besar membuat pria itu nyaris menghabiskan 48 jam tanpa tidur. Sekembalinya dari rumah sakit, ia langsung mengempaskan tubuh di atas kasur, berharap tidak lama kemudian kantuk yang membayang bisa langsung membawanya menuju alam mimpi. Selama dua jam lebih ia hanya sibuk membolak-balik tubuh tanpa bisa benar-benar terlelap. Penyebabnya satu: sebuah pesan yang dikirimkan gadis dari masa lalunya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 4”

Advertisements

How Late is Too Late? – Chapter 3

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2

..

Sore itu, Donghae mengunjungi kamar Jessica untuk melakukan pemeriksaan rutin. Semua tampak seperti biasa. Donghae, dengan mengenakan jas putih, mengetuk pintu untuk membiarkan Jessica mengetahui keberadaannya. Setelah mendapat izin dari penghuni kamar, ia berjalan sambil melayangkan seulas senyum kepada Jessica. Di tangan kanannya, ia membawa catatan berisi informasi kesehatan standar para pasien. Jessica memandang pria itu mendekat sambil menirukan senyum yang diberikan Donghae kepadanya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 3”

How Late is Too Late? – Chapter 2

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1

..

“Keadaanmu sudah mulai membaik. Tekanan darahmu sudah kembali normal dan wajahmu juga tidak terlalu sepucat kemarin,” ujar Donghae setelah menyelesaikan pemeriksaan rutinnya. “Kurasa dua atau tiga hari lagi kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini.”

“Aku tidak yakin pengacaraku akan menyetujui ide itu,” imbuh Jessica. Ia meraih telepon genggam yang diletakkannya di nakas samping ranjang, membuka surel yang dikirimkan pengacaranya beberapa jam lalu, kemudian mengangsurkan benda elektronik itu kepada pria di depannya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 2”