Begin Again – Chapter 8

beginagainposter2

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7

..

“Sedang apa kau di sini?”

Pertanyaan bernada dingin itu sama sekali tidak mempengaruhi Joohyun. Ia tahu Sehun tidak bermaksud buruk. Pria itu memang kadang kelewat protektif. Sejak kepergian Junmyeon, Sehun selalu mengupayakan segala hal untuk menjauhkan Joohyun dari hal tidak menyenangkan. Kenangan buruk terhadap rumah besar milik Keluarga Oh, misalnya.

Continue reading “Begin Again – Chapter 8”

Advertisements

Begin Again – Chapter 6

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5

..

Soojung menjalani akhir pekan dengan perasaan tak menentu.

Sabtu pagi, ia terbangun karena ponselnya berbunyi. Rasa kantuk dan malas membuatnya ingin mengabaikan raungan benda elektronik tersebut. Tetapi pemikiran bahwa telepon itu mungkin saja datang dari Sehun membuat ia dengan setengah sadar menyapukan ibu jari di atas layar ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga.

Continue reading “Begin Again – Chapter 6”

Begin Again – Chapter 5

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4

..

Sehun memiliki satu kebiasaan. Setiap kali bepergian ke luar kota, pria itu selalu menghubungi istrinya menjelang jam tidur. Ada kalanya mereka mengobrol. Sehun memberitahu hal menarik yang ia alami dalam sehari, sedangkan Soojung akan balas menceritakan apa yang ia lakukan selama sang suami tidak ada di rumah. Obrolan itu jarang terjadi, memang. Satu-dua kali, cerita mengenai perjalanan ke luar kota bisa jadi cukup menyenangkan untuk disimak. Namun setelahnya, semua nyaris terasa sama saja hingga Sehun berpikir mengulangi hal serupa bukanlah sesuatu yang perlu dilakukan. Maka sambungan telepon itu pun hanya akan diisi oleh ucapan selamat malam, basa-basi singkat, dan keheningan panjang sampai akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk menekan tanda merah di layar telepon.

Continue reading “Begin Again – Chapter 5”

Begin Again – Chapter 4

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3

..

Pertemuan pertama Sehun dan Soojung terjadi atas nama kencan buta. Sejak mengetahui bahwa hubungan cucunya dengan Kang Seulgi telah kandas, kakek Sehun seolah tidak pernah jenuh mencarikan calon jodoh potensial untuk cucunya. Setidaknya temui dulu gadis itu, kata pria tua tersebut setiap kali ia menunjukkan foto calon menantu pilihannya. Maka Sehun, sebagaimana layaknya cucu tunggal yang dididik untuk senantiasa patuh, selalu mengikuti keinginan kakeknya meski ia sama sekali belum berminat mencari kekasih baru.

Continue reading “Begin Again – Chapter 4”

Begin Again – Chapter 3

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2

..

“Para pegawai memuji bolu lemonmu kemarin,” kata Sehun. Ia menggeser tubuh sedikit, memberi ruang bagi Soojung yang hendak meletakkan segelas kopi yang masih beruap di depannya. Pria itu  menunggu sampai sang istri duduk di tempatnya yang biasa sebelum menambahkan, “Nona Lee bahkan bilang seharusnya kau membuka usaha bakery.”

Continue reading “Begin Again – Chapter 3”

Begin Again – Chapter 2

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya: Chapter 1

..

Lepas pukul satu siang, Sehun sudah merampungkan semua pekerjaannya untuk hari itu. Dua sesi konsultasi dilakukan nyaris tanpa jeda sejak pagi. Laporan untuk kasus hari sebelumnya sebagian sudah ia selesaikan semalam, sebagian lagi masih jauh dari tenggat waktu yang ditetapkan kantor. Pria itu menekan satu tombol di telepon yang terpasang di atas meja kerjanya, membuat ia langsung tersambung dengan sang sekretaris.

Continue reading “Begin Again – Chapter 2”

How Late is Too Late? – Chapter 5 [END]

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4

..

Ketika Donghae bilang ia ingin ditraktir, Jessica membayangkan mereka akan makan malam berdua di restoran mewah sambil berbincang hangat, membicarakan masa lalu dan merancang masa depan. Maka ketika Donghae menyebutkan nama sebuah kafe sederhana di dekat rumah sakit, gadis itu pun sedikit bingung. Terlebih lagi, ketika ia sampai di tempat yang sudah mereka sepakati, mantan kekasihnya itu ternyata tidak sendirian di meja yang sudah dipesan. Ada empat pria lain yang tampak lebih muda, menatap Jessica mendekat dengan pandangan kagum bercampur tidak percaya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 5 [END]”

How Late is Too Late? – Chapter 4

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3

..

Donghae membuka mata dan meraih ponsel yang ia letakkan di samping ranjang. Sudah hampir pukul tiga dini hari dan ia belum juga bisa tidur. Padahal, kegiatannya dua hari belakangan begitu menguras tenaga. Jadwal kerja di rumah sakit serta persiapan sebuah acara besar membuat pria itu nyaris menghabiskan 48 jam tanpa tidur. Sekembalinya dari rumah sakit, ia langsung mengempaskan tubuh di atas kasur, berharap tidak lama kemudian kantuk yang membayang bisa langsung membawanya menuju alam mimpi. Selama dua jam lebih ia hanya sibuk membolak-balik tubuh tanpa bisa benar-benar terlelap. Penyebabnya satu: sebuah pesan yang dikirimkan gadis dari masa lalunya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 4”

How Late is Too Late? – Chapter 3

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2

..

Sore itu, Donghae mengunjungi kamar Jessica untuk melakukan pemeriksaan rutin. Semua tampak seperti biasa. Donghae, dengan mengenakan jas putih, mengetuk pintu untuk membiarkan Jessica mengetahui keberadaannya. Setelah mendapat izin dari penghuni kamar, ia berjalan sambil melayangkan seulas senyum kepada Jessica. Di tangan kanannya, ia membawa catatan berisi informasi kesehatan standar para pasien. Jessica memandang pria itu mendekat sambil menirukan senyum yang diberikan Donghae kepadanya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 3”

How Late is Too Late? – Chapter 2

PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1

..

“Keadaanmu sudah mulai membaik. Tekanan darahmu sudah kembali normal dan wajahmu juga tidak terlalu sepucat kemarin,” ujar Donghae setelah menyelesaikan pemeriksaan rutinnya. “Kurasa dua atau tiga hari lagi kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini.”

“Aku tidak yakin pengacaraku akan menyetujui ide itu,” imbuh Jessica. Ia meraih telepon genggam yang diletakkannya di nakas samping ranjang, membuka surel yang dikirimkan pengacaranya beberapa jam lalu, kemudian mengangsurkan benda elektronik itu kepada pria di depannya.

Continue reading “How Late is Too Late? – Chapter 2”