Begin Again – Chapter 11

wallpaper2you_519993_副本

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10

..

Meet Mr. Romantic! He dates his own wife

..

Ketika Sehun berjalan memasuki ruangannya hari itu, ia menyenandungkan lagu yang sama seperti yang dinyanyikan istrinya di dapur tadi pagi. Atau setidaknya begitulah yang ia harapkan. Sehun masih belum tahu judul lagu itu. Meski kedengarannya tidak asing, ia tidak ingat pernah mendengarnya di mana. Sehun bersenandung sambil terus mengingat-ingat irama itu karena dua alasan sederhana. Pertama, hatinya bahagia. Ia mendadak merasa hidup terlalu indah untuk dilalui hanya dengan ekspresi datar.  Kedua, ia penasaran. Sehun bertekad akan mencari sampai mengetahui siapa penyanyi dan bagaimana lirik lagu itu.

Nona Lee, yang seperti biasa sudah duduk di mejanya sembari merapikan beberapa dokumen, langsung berdiri dan menyambut Sehun. Dengan senyum yang agak bejat dan mata yang berkilat nakal, wanita cantik itu berkata, “Anda terlihat ceria sekali hari ini, Tuan Oh. Apa sesuatu yang menyenangkan terjadi di rumah?”

Sehun sama sekali tidak asing dengan ulah jahil sang sekretaris. Namun jika sebelumnya ia bisa dengan baik menyembunyikan perasaannya, kali ini pria tersebut tampak seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta. Wajahnya bersemu. Senyumnya terbit kepalang lebar, dan semua itu tentu saja tidak luput dari mata jeli sekretarisnya.

“Seharusnya Anda tinggal saja di rumah hari ini.”

Mengabaikan ucapan yang jelas dimaksudkan hanya untuk menggoda itu, Sehun justru bertanya, “Nona Lee, apa kau tahu judul lagu ini?”

Pria itu kemudian menyenandungkan ulang irama yang sejak pagi menempel di otaknya, sementara sang sekretaris menyimak dengan alis yang sedikit berkerut.

“Apa ini semacam pertanyaan jebakan yang kalau saya jawab dengan benar, Anda akan memberikan bonus atau kenaikan gaji?” tanya Nona Lee kemudian.

“Aku belum punya rencana menaikkan gajimu,” timpal Sehun.

Nona Lee memasang tampang cemberut yang terlalu dibuat-buat. Dan karena waktu itu suasana hati Sehun sedang sangat baik, ia tertawa dan menambahkan, “Tetapi aku mungkin bisa memberi bonus kalau kau tahu itu lagu siapa.”

Mendengar kata bonus, wajah wanita bermata indah itu langsung sumringah. “Anda mendengar lagu ini di mana?”

Tadi pagi istrinya menyenandungkan lagu itu di dapur. “Tidak usah bertanya macam-macam,” elak Sehun. “Kau tahu atau tidak?”

Nona Lee kembali menghadiahi atasannya dengan delik nakal yang biasa ia layangkan setiap kali ingin menggoda Sehun. “Irama itu cukup familier, tetapi saya tidak ingat judulnya apa.”

Sehun mengembuskan napas, sedikit kecewa karena sempat berpikir sekretarisnya yang serba bisa itu akan memberikan jawaban atas rasa penasarannya. “Seharusnya Google menyediakan fitur untuk mencari tahu judul lagu hanya dengan senandung,” ujar Sehun, yang langsung diaminkan dengan sebuah anggukan oleh wanita di depannya.

Rasa ingin tahu Sehun akhirnya terjawab saat jam istirahat makan siang. Sesaat setelah Tuan dan Nyonya Park—pasangan yang hari itu baru saja menyelesaikan sesi konsultasinya yang keempat—meninggalkan ruangan, Nona Lee langsung masuk dan dengan semangat berseru, “Unbelievable, Tuan Oh. Unbelievable!”

Sehun mengerutkan alis, bingung. “Apanya yang unbelievable?”

“Lagu yang tadi pagi Anda tanyakan. Itu lagu Craig David. Judulnya Unbelievable.”

Tanpa menunggu lama, Sehun langsung meraih ponsel dan mengetikkan judul lagu serta nama penyanyi yang baru saja disebutkan sekretarisnya di kolom pencarian salah satu aplikasi penyedia video. Setelah memastikan bahwa itu merupakan lagu yang sama dengan yang sejak pagi menyita rasa ingin tahunya, Sehun langsung menghadiahi sang sekretaris dengan satu anggukan tenang. Harus diakui, wanita yang bekerja untuknya sejak lima tahun lalu itu memang selalu bisa diandalkan.

Mendapat pengakuan seperti itu dari atasannya, Nona Lee tak pelak merasa senang. Tanpa menunggu lama, ia dengan lugas menangih bonus yang dijanjikan sang atasan kepadanya tadi pagi.

Sehun mengeluarkan sebuah amplop merah yang dihias pita berwarna senada. Nona Lee menerima amplop tersebut dan ingat kalau ia pernah melihat benda itu sebelumnya. Itu merupakan satu dari sejumlah surat yang datang untuk Sehun akhir minggu lalu. Sekretaris berpenampilan necis tersebut hanya tidak tahu isinya apa. Keningnya kontan berkerut saat mendapati bahwa amplop merah itu ternyata adalah undangan ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Min, pasangan yang beberapa waktu lalu menggunakan jasa biro konsultasi tempatnya bekerja. Setelah enam sesi konsultasi yang acap kali diwarnai perdebatan, pasangan yang sudah puluhan tahun menjalin ikatan pernikahan itu akhirnya membatalkan niat mereka untuk berpisah, dan minggu depan, mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-25.

“Aku tidak bisa memenuhi undangan itu, jadi kau harus datang untuk mewakiliku,” jelas Sehun.

“Anda tidak akan datang?” ulang Nona Lee ragu-ragu. Tidak biasanya sang konsultan melewatkan undangan yang datang kepadanya. Atasannya adalah orang yang selalu tahu bagaimana menghargai klien. Sehun sudah lebih dari terkenal sejak keberhasilannya menyatukan kembali pernikahan seorang artis kawakan beberapa tahun lalu, tetapi pria itu tidak pernah berpuas diri. Ia akan memanfaatkan kesempatan dalam wujud apapun untuk memperluas jaringan, termasuk memenuhi setiap undangan pesta yang datang kepadanya.

“Hari itu bertepatan dengan awal musim panas,” beritahu Sehun, yang kontan membuat lawan bicaranya semakin bingung. Apa hubungan semua ini dengan pergantian musim?

“Matahari di awal musim panas sangat indah, Nona Lee,” tambah sang konsultan. “Itu akan jadi waktu yang baik untuk bermalas-malasan sambil melihat matahari terbenam.”

Menyadari bahwa ada sedikit terlalu banyak kebahagiaan di dalam cara atasannya berbicara, sekretaris berwajah cantik itu merasa mulai bisa membaca keadaan. Ia sebenarnya ingin menyuarakan pemikirannya, tetapi langsung menelan kembali pertanyaan tersebut karena sadar hal itu akan membuatnya terlihat terlalu ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Memutuskan mengalihkan pembicaraan, Nona Lee bertanya sambari mengangkat amplop merah dalam genggamannya sedikit lebih tinggi, “Jadi, ini hadiah yang Anda maksud?”

Pertanyaan itu langsung dijawab Sehun dengan anggukan pelan.

“Ini lebih layak disebut tiket lembur daripada hadiah, Tuan,” keluh wanita bertubuh tinggi tersebut. “Saya bahkan tidak punya pasangan untuk diajak ke acara ini.”

Sehun tersenyum nakal. Dengan mata yang menyorot lucu, ia berkata dengan nada yang sama jahilnya dengan yang biasa digunakan sang sekretaris kala melontarkan candaan kepadanya. “Justru karena itu. Kau mungkin akan memperoleh pasangan di sana. Anak-anak kolega mereka juga pasti diundang.”

“Tuan Oh,” ujar Nona Lee, masih dengan nada keberatan.

“Bukankah kau selalu mengeluh tidak punya waktu mencari kekasih karena yang datang di biro konsultasi kita adalah orang-orang yang sudah menikah?”

“Tapi….”

Sehun tertawa lagi. “Datanglah,” katanya seraya menarik laci dan mengeluarkan selembar kertas berwarna jingga. Nona Lee menerima benda itu dan senyumnya seketika terbit saat mengetahui kertas apa yang diberikan Sehun kepadanya. Itu adalah voucher belanja di sebuah butik terkenal. Nominal yang tertera di sana juga tidak main-main. Jumlahnya hampir setara dengan gajinya selama sebulan. “Aku akan merasa bersalah kalau kau terus-terusan tidak punya kekasih karena sibuk mengurusi pekerjaanmu,” sambung Sehun. “Kau bisa membeli gaun di tempat itu dan gunakan kemampuan bicaramu untuk mengesankan pria lajang yang kau temui di sana.”

“Anda memang bos terbaik, Tuan Oh!” ucap Nona Lee sembari mengacungkan jempol kirinya di dekat wajah. “Omong-omong, ini ada titipan dari istri Anda,” beritahu Nona Lee sembari mengangsurkan sekotak makanan yang diantarkan Soojung setengah jam sebelumnya. “Saya menyuruhnya menunggu tetapi seperti biasa Nyonya bilang ia tidak ingin Anda bosan jika melihatnya terus-menerus.”

Sehun mengangguk paham.

“Istri Anda terlihat sangat cantik dengan rambut barunya,” kata Nona Lee lagi. Kilat nakal itu lagi-lagi hadir di matanya kala ia dengan jahil berkata, “Saya akhirnya bisa menebak kenapa pagi ini Anda terlihat ceria sekali.”

Sebelum sosok feminin di hadapannya kembali melakukan hobinya berbicara panjang lebar mengenai kehidupan rumah tangga atasannya, sang konsultan dengan cepat berkata, “Terima kasih, Nona Lee. Kau boleh kembali ke mejamu sekarang.”

Sang sekretaris membungkuk dan langsung meninggalkan ruang kerja atasannya dengan senyum sedikit lebih lebar dan biasanya, serta otak yang sudah sibuk memikirkan gaun seperti apa yang akan ia beli dengan voucher pemberian Sehun.

Sepeninggal Nona Lee, Sehun langsung membuka kotak makan yang ada di hadapannya. Penampilan makanan itu persis seperti yang ia dapati beberapa hari lalu. Kalaupun ada yang membedakan, itu terletak pada aromanya yang jauh lebih menggiurkan, juga selembar kertas kecil yang tertempel di bagian penutupnya.

Makanan ini seharusnya diberi cuka apel, tetapi karena aku alergi apel, jadi kuganti dengan lemon. Semoga kau suka.

Sehun mencicipi ayam panggang tersebut dan memutuskan bahwa kombinasi ayam dan lemon dalam makanan itu cocok dengan seleranya. Ah, dipikir-pikir lagi, memangnya sejak kapan masakan Soojung tidak terasa enak di lidahnya? Selama ini ia hanya terlalu sibuk menghemat bahan obrolan hingga sering kali melewatkan sarapan dan makan malam yang disajikan istrinya di rumah.

Pria itu menikmati makan siangnya sambil mendengarkan lagu Unbelievable dari Craig David. Itu adalah siang yang sempurna, pikir Sehun. Lidahnya mengecap makanan buatan sang istri, sementara telinganya mendengarkan lagu yang ternyata punya lirik yang pas untuk mewakili perasaannya saat ini. Seandainya saja Soojung ada di hadapannya, mungkin siang itu bisa jadi lebih sempurna lagi.

Usai menandaskan makanannya, Sehun memotret kotak kosong di hadapannya dan mengirimkan hasilnya kepada Soojung.

Hanya untuk membuatmu yakin bahwa aku menghabiskan makan siangku kali ini. Dan omong-omong, aku baru tahu kalau kau alergi apel. Itu jenis alergi yang sedikit aneh.

Sejak hari itu, kolom obrolan yang sebelumnya hanya berisi pemberitahuan bahwa Sehun akan pulang terlambat, berubah jadi lebih berwarna. Sehun mendapati dirinya menemukan hobi baru. Pria yang sudah hampir menginjak usia 30 tahun itu jadi gemar mengirimkan foto dirinya saat sedang menunggu jadwal konsultasi selanjutnya tiba. Posenya juga macam-macam, dan terkadang Soojung pun masih sulit percaya kalau suami yang selama ini selalu tampak nyaris tanpa ekspresi di depannya, ternyata bisa bertingkah imut layaknya anak usia belasan. Sehun bahkan bersusah payah membubuhi foto yang ia kirim dengan beberapa baris kutipan manis atau gombalan payah yang sebagian ia rangkai sendiri, sebagian lagi ia comot bebas dari internet. Semua itu selalu sukses membuat suasana hati Soojung jadi lebih cerah.

Bekal makan siang yang diantarkan Soojung pun mengalami sedikit perubahan. Kotaknya masih sama besar, isinya masih selezat biasa, tetapi ada satu detail kecil yang melengkapinya. Penutup kotak makan itu selalu ditempeli kertas kecil yang berisi pesan singkat. Sehun baru menyadari maksud tulisan-tulisan tersebut di hari keempat dan memutuskan untuk membalas semua pesan itu dengan cara yang hampir sama. Sebelum berangkat kantor, Sehun selalu menyempatkan diri menulis satu fakta tentang dirinya di atas secarik memo, kemudian menempelkan kertas-kertas berwarna cerah tersebut di tempat-tempat yang mudah ditemukan seperti pintu kulkas atau cermin kamar mandi.

Selama ini Sehun merasa sudah cukup mengenal Soojung lantaran dulu terlalu sering mendengar kakeknya menyebut-nyebut nama wanita itu di setiap perbincangan mereka. Selama lebih dari tiga tahun hidup bersama, Sehun mendapati sang istri tidak pernah tampak berlebihan dalam menunjukkan rasa sukanya terhadap sesuatu. Soojung menyukai kucing sama seperti ia menyukai anjing atau binatang lain. Ia mengenakan pakaian berwarna cerah sesering ia mengenakan pakaian berwarna gelap hingga Sehun berpikir bahwa Soojung tidak punya warna favorit. Gaya berpakaiannya terkadang kasual, kadang formal, tergantung tempat mana yang akan ia tuju. Wanita itu cenderung bersikap praktis dan melakukan segala hal tergantung keperluan. Sama seperti kesan yang diperoleh Sehun dari pertemuan pertama mereka, hidup bersama mengajarkan Sehun bahwa Soojung adalah tipe orang yang menjalani hari dengan disiplin. Semua serba teratur dan terencana. Ia juga jelas bukan tipe wanita penakut, karena suatu malam ketika listrik tiba-tiba mati dan petir bersahut-sahutan di luar rumah, Sehun sama sekali tidak mendengar teriakan panik.

Mengetahui fakta-fakta kecil semacam itu membuat Sehun merasa tidak perlu lagi bertanya langsung kepada sang istri. Pikirnya, sekadar mengamati saja sudah cukup untuk mengenal wanita itu. Soojung pun sepertinya berbagi gagasan serupa, terbukti dari kurangnya bahan obrolan dan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan upaya untuk lebih mengenal pribadi satu sama lain. Namun mengingat bagaimana kegiatan mengamati dan berasumsi yang selama ini mereka andalkan justru membuat ia dan Soojung terlibat dalam kesalahpahaman yang berlarut-larut, Sehun menyadari betapa penting mengonfirmasi semua yang ia pikirkan langsung kepada Soojung.

Sehun menyukai ide itu. Memo-memo itu, maksudnya. Ada rasa senang yang menyelinap di hatinya setiap kali ia membuka kotak makan siang dan mendapati tulisan tangan istrinya di sana. Soojung pun merasakan yang sama. Berkeliling rumah dan mencari di mana Sehun menempelkan memonya adalah kebiasaan baru yang dijalani wanita itu dengan suka hati setiap hari.

Soojung alergi apel.

Sehun pernah bercita-cita menjadi presiden.

Soojung menyukai seni abstrak.

Sehun dulu membuat buku harian yang isinya membahas tentang susu.

Soojung adalah penggemar Johnny Depp.

Sehun menyukai Miranda Kerr.

Soojung dulu belajar di sekolah khusus wanita.

Sehun pernah masuk ke klub tari modern saat masih sekolah.

Soojung berpikir hampir semua elemen yang ditulis Dan Brown dalam novelnya adalah kenyataan.

Sehun menganggap David Lynch adalah sutradara jenius.

Fakta yang mereka bagi memang hanya hal sederhana yang sebagian juga sudah diam-diam Sehun dan Soojung ketahui dari sekadar mengamati kebiasaan dan menyimak cerita kakek Sehun semasa hidup dulu. Namun tetap saja, melakukan hal itu mendatangkan kesenangan tersendiri.

Di hari kesebelas, ketika soojung sudah mulai putus asa lantaran telah menyusuri setiap ruang dalam rumah dan tidak juga menemukan tanda di mana Sehun menempelkan memonya kali ini, bel berbunyi. Petugas pengiriman datang membawa seikat mawar merah beserta kartu kecil yang bertuliskan, “Apa kau mau berkencan denganku?”

Soojung tertawa kecil membaca ajakan itu. Setelah menandatangani tanda terima yang disodorkan petugas, Soojung meraih ponsel dan mengirim sebaris pesan.

Aku akan menerima ajakanmu dengan satu syarat. Kau harus membawaku ke tempat yang menyenangkan.

Balasan dari Sehun datang tak lama kemudian.

Tenang saja. Kau pasti menyukai tempat pilihanku.

Sepanjang sisa minggu itu, Soojung terus bertanya-tanya di mana lokasi kencan yang Sehun pilih. Ia bahkan sudah mengutarakan semua tempat yang muncul di benaknya, tetapi semua opsi yang ia berikan hanya dijawab oleh gelengan pelan serta senyum sok misterius dari Sehun.

Ketika akhirnya hari yang dijanjikan telah tiba, Sehun tetap saja membuatnya penasaran lantaran pria itu membawa mobilnya di jalur menuju luar kota, padahal mereka sama sekali tidak membawa pakaian ganti atau persiapan apapun untuk menginap.

Keingintahuan Soojung baru terjawab saat mobil Sehun berbelok ke arah yang familier. Itu adalah jalan yang sejak kuliah ia lalui setidaknya dua kali dalam sebulan. Ia mulai menebak-nebak alasan Sehun membawanya ke tempat tersebut, sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua dan pria di sampingnya bersuara, menjawab pertanyaan yang sejak tadi muncul di kepala sang istri.

“Aku ingin melunasi ajakan kencan yang aku ucapkan kepadamu empat tahun lalu.”

Pemberitahuan tersebut membawa ingatan Soojung ke pertemuan pertama mereka, ketika Sehun mengantarnya pulang dan berkata bahwa ia ingin mengunjungi padang ilalang di belakang panti asuhan tempat mereka mengobrol dan menyaksikan matahari tenggelam.

Soojung hampir tak percaya Sehun masih mengingat janji itu. Ia bahkan sempat berpikir pria itu dulu mengatakan hal demikian hanya untuk sekadar berbasa-basi demi menyenangkan hati Soojung. Masalah yang hadir dalam pernikahan mereka juga membuat Soojung sempat melupakan kalau janji seperti itu pernah terucap.

“Kau ingat,” kata Soojung, sedikit berbisik.

“Tentu saja,” jawab Sehun ringan. Pria itu sebetulnya mengingat jauh lebih banyak hal daripada yang Soojung harapkan. Jangankan perihal janji yang memang seharusnya ditepati, hal remeh semacam pakaian yang saat itu dikenakan oleh Soojung, buku cerita apa yang ia bacakan di depan anak-anak yang duduk mengelilinginya di bawah pohon besar yang kini sudah dipangkas sebagian, juga gurauan-gurauan yang dilontarkan beberapa anak yang dimaksudkan untuk menggoda mereka yang kala itu berjalan berdua di jalan setapak menuju padang ilalang di belakang panti. Sehun mengingat semua itu, hanya saja ia tidak pernah menemukan cara untuk mengungkapkannya.

Lugas, pria itu memutar tubuhnya sedikit ke arah kursi penumpang dan meraih tangan Soojung. Sambil menggenggam jemari sang istri, Sehun berkata, “Kuharap keterlambatan empat tahun masih bisa ditolerir.”

“Tempat itu sudah tidak ada lagi,” beritahu Soojung dengan ekspresi menyesal. Binar semangat di mata Sehun seketika meredup. “Seorang pengusaha properti membelinya sekitar setengah tahun lalu. Saat ini memang belum ada bangunan, tetapi semua tanaman yang ada di sana sudah rata dengan tanah.”

Hal itu seharusnya tidak terlalu mengejutkan Sehun. Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan banyak lahan tidur di daerah ini yang sudah mulai dilirik para pengembang. Sisi jalan yang seingat Sehun masih kosong kini sudah banyak dibanguni apartemen dan pertokoan. Tetap saja, ia tidak menyangka tempat  kencan pilihannya juga sudah menjadi bagian dari perubahan itu. Padahal selama berhari-hari ia sudah membayangkan bisa berduaan dengan Soojung sembari menikmati angin sore dan cerahnya matahari musim panas di tempat itu lagi, sekarang rencananya yang brilian harus kandas begitu saja.

“Sepertinya aku membuatmu menunggu terlalu lama.”

Soojung menatap Sehun dan mendapati sorot kecewa yang belum mau hilang dari mata pria itu. Wanita itu kontan menggeleng pelan sembari mengeratkan genggamannya di tangan Sehun. “Kau mengingat janjimu. Itu yang paling penting.”

“Maafkan aku.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sehun,” kata Soojung dengan nada menenangkan. Berusaha tampak lebih ceria, ia menambahkan, “Lagi pula, bukankah kau cuma berjanji akan mengajakku ke tempat yang menyenangkan? Anak-anak di panti asuhan ini pun sudah lebih dari cukup untuk membuatku senang, dan percayalah, kau juga akan merasa terhibur oleh celotehan mereka.”

Sehun berjalan memasuki pintu masuk panti asuhan dengan langkah gontai dan otak yang masih sibuk berandai-andai. Penyesalan terbesarnya bukan semata karena rencana yang sudah ia susun ternyata malah hancur berantakan. Ia betul-betul merasa bersalah kepada Soojung. Wanita itu mungkin sudah membayangkan hal fantastis saat menerima ajakan kencannya, tetapi yang Sehun berikan hanya harapan kosong.

“Dia adalah mutan terkuat!”

Seruan itu mengalihkan perhatian Sehun dari rencana kencannya yang gagal kepada sekelompok anak yang tengah berkumpul di ruang depan panti. Setelah pria itu memperhatikan lebih saksama, ia baru menyadari tempat ini jauh lebih sepi daripada yang ia ingat. Selain empat anak yang duduk santai sembari beradu argumen di depannya, tidak ada lagi orang yang mengisi ruangan luas tersebut. Bahkan, di halaman depan yang seingatnya dipenuhi anak-anak berlarian juga tampak kosong.

Anak-anak yang ada di depan mereka, Sehun menebak, berusia sekitar sepuluh tahun. Mereka saling berteriak, berusaha mengungguli suara satu sama lain. Mereka tampak begitu larut dalam topik yang mereka bahas hingga sama sekali tidak menyadari kedatangan Sehun dan Soojung.

“Tampaknya kita masuk di tengah perdebatan sengit,” bisik Sehun, yang kontan dibalas senyum geli oleh sang istri.

Tanpa mengalihkan tatapan dari kerusuhan di depan mereka, wanita itu berujar, “Aku penasaran mereka memperdebatkan apa kali ini.”

Sehun mengenali tatapan itu. Jika diingat lagi, tatapan penuh sayang itulah yang dulu membuat Sehun berpikir kalau wanita pilihan kakeknya adalah seorang yang istimewa. Sehun banyak berinteraksi dengan orang. Pekerjaannya mengharuskan ia untuk melakukan hal itu. Dan di antara sekian banyak orang yang pernah Sehun temui, hanya segelintir yang tampak sama sekali tidak keberatan menghadapi segerombol anak kecil dengan tingkah beragam.

Soojung memperkenalkan semua anak yang ada di hadapan mereka sambil tetap menyaksikan perdebatan alot tersebut seolah itu adalah sesuatu yang sangat menghibur. Sesuai dugaan Sehun, keempat anak itu berusia awal belasan. Anak berbaju merah bergambar Iron Man, yang suara teriakannya menyambut Sehun dan Soojung, bernama Renjun. Usianya 13 tahun. Yang berbaju kuning dan biru dengan potongan rambut dan bentuk tubuh serupa ternyata adalah sepasang anak kembar. Jeno berbaju kuning; Jaemin berbaju biru. Mereka berusia setahun lebih tua. Dan yang satunya lagi, anak berbadan gempal dan tengah asyik mengunyah keripik, adalah Chenle yang usianya masih sembilan tahun.

“Dia bahkan tidak bisa mengontrol kekuatannya,” ejek Jeno.

“Pokoknya dia tidak terkalahkan! Dia mutan tingkat lima!” jerit Renjun. Jaemin mendukungnya dengan mengangkat kedua tangan ke udara. Di masing-masing tangan, kelima jarinya tampak tegas berdiri.

“Apa kita perlu menonton ulang The Last Stand agar kau bisa melihatnya mati sekali lagi?” balas Jeno.

“Aku yakin dia tidak mati di situ. Kau masih ingat seri keduanya, ‘kan? Kita juga dibuat berpikir bahwa dia sudah mati, tapi akhirnya dia muncul lagi di seri ketiga,” Chenle ikut mengutarakan pendapatnya.

“Apa kalian tidak mengerti apa yang disebut pemenang? Itu orang yang muncul di awal dan tetap hidup sampai akhir cerita.” Jeno melipat kedua tangan di depan dada sembari melempar senyum kemenangan kepada tiga anak di dekatnya. “Phoenix tidak memenuhi kriteria itu.”

Jaemin dan Chenle tampaknya tidak bisa membantah logika ini.

“Ini perdebatan bodoh,” ujar Renjun, masih tidak mau mengakui kekalahannya. “Mutan itu tidak ada.”

Ketiga saudaranya menoleh padanya dan mulai meneriakkan protes.

Soojung langsung menepukkan tangan demi mengatasi keributan itu. Semua orang terdiam dan menatap wanita itu. Mereka akhirnya menyadari bahwa ada dua orang yang sejak tadi menyaksikan perdebatan mereka. Renjun serta si kembar Jeno-Jaemin langsung terpaku di tempat mereka berdiri, tampak sedikit malu karena telah kedapatan melakukan perdebatan tidak penting, sementara Chenle dengan cueknya berlari dan memeluk pinggang Soojung. “Noona, aku rindu!”

Soojung mengacak pelan rambut anak itu dan menjawab, “Aku juga merindukan kalian. Nah, sekarang siapa yang mau memberitahuku, sebenarnya ada apa ini?”

“Kami sedang berdebat tentang siapa mutan paling kuat,” beritahu Jeno. “Renjun bersikeras bahwa Phoenix-lah yang terhebat, padahal sudah jelas Professor X jauh lebih kuat.”

Penjelasan yang disampaikan kelewat serius itu membuat Sehun mengeluarkan suara aneh yang terdengar seperti tawa tertahan. “Debat yang sangat menarik dan mendalam.” Pria itu berkomentar sembari memasang tampang serius.

Apa yang dikatakan Jeno membuat Renjun—yang masih enggan menerima kekalahan—kontan mengerang. “Professor X hanya bisa memanipulasi pikiran. Ia tidak bisa benar-benar bertarung!”

“Dia menjadi pemimpin X-Men bukan tanpa alasan, Renjun.” Jeno tampak lelah. Yang lain tidak mau mendengarkannya.

“Tetapi Phoenix nanti akan punya filmnya sendiri!” Jaemin ikut berargumen, nyaris tidak nyambung.

Renjun menyikut pelan tubuh Jaemin. Memiliki partner debat yang payah seperti Jaemin seolah jadi beban tersendiri baginya. “Jangan jadikan film yang bahkan belum dirilis sebagai referendummu!” Ia berbisik, mengingatkan.

“Referensi,” Jeno membetulkan perkataan Renjun dengan ekspresi malas.

“Jangan khawatir,” kata Soojung kepada Sehun yang masih berdiri takjub di sampingnya. “Perdebatan ini masih lebih beradab dibandingkan dengan perdebatan mengenai siapa yang paling mungkin mengangkat palu milik Thor.”

Mengabaikan perdebatan yang masih berlangsung di hadapannya, Chenle dengan manja berkata, “Noona, kau terlihat seperti Poison Ivy.”

Soojung tertawa dan mengacak rambut Chenle lagi. “Apakah itu pujian?”

Chenle mengangguk antusias. “Tentu saja. Kau cantik sekali dengan rambut barumu.”

“Jadi sebenarnya kau ini Ariel si putri duyung atau Poison Ivy si musuh Batman?” bisik Sehun lagi.

Soojung terkekeh pelan karena pertanyaan itu. “Aku bisa menjadi apa saja, tergantung kebutuhan.”

“Aku penasaran, dari mana anak-anak ini mendapat pengetahuan tentang tokoh-tokoh superhero Marvel dan DC?”

“Tentu saja dari noona mereka yang cantik ini,” jawab Soojung seraya mengulas senyum sombong.

“Kau meracuni mereka.” Sehun menyimpulkan.

Soojung tidak ingin mendebat hal itu.

Noona,” panggil Chenle lagi, yang otomatis membuat perhatian Soojung kembali tertuju kepada anak berambut keriting itu. “Siapa ahjussi yang berdiri di sampingmu?”

Soojung baru ingat belum mengenalkan Sehun. Ia berusaha menarik perhatian—sekaligus menyudahi perdebatan tak berkesudahan—Renjun, Jeno, dan Jaemin dengan menepuk tangannya sekali lagi. “Anak-anak, kita kedatangan tamu spesial hari ini,” beritahunya sembari sekilas melempar pandang ke arah suaminya.

Ketika Soojung menggamit lengan Sehun, Jeno langsung menyipitkan mata, Renjun dan Jaemin menatap pria yang lebih tua itu dengan sorot permusuhan, sementara Chenle tanpa tanggung-tanggung memelototinya. Sikap mereka membuat Sehun menyadari betapa penting arti Soojung bagi anak-anak ini, juga betapa protektif mereka terhadap wanita yang dipanggil dengan sebutan noona itu.

“Ini adalah suami Noona. Namanya Sehun. Dia akan jadi tamu kita hari ini, dan kalian tahu ‘kan apa yang harus kita lakukan jika ada tamu yang datang?”

“Aku tahu! Aku tahu!” seru Chenle sembari meloncat-loncat antusias. Anak itu menunggu Soojung menyilakan ia berbicara sebelum dengan bangga menyuarakan jawabannya. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Renjun sudah lebih dulu berkata, “Bersikap ramah dan memberi sambutan yang baik.”

Kelancangan Renjun membuat Chenle menghadiahinya sorot permusuhan.

“Dan bagaimana contoh sikap yang ramah?”

Jeno, yang tampaknya memang berpikiran lebih matang, langsung memasang senyum terbaik yang bisa ia berikan. Ia juga membungkuk dan dengan sopan mengucapkan salam. Ketiga saudaranya mengikuti dengan setengah hati.

“Mereka bersikap lebih menyeramkan dibanding ayahmu,” bisik Sehun sekali lagi, yang ditanggapi Soojung dengan satu senyum geli.

“Omong-omong, di mana semua orang?” tanya Soojung.

“Doyoung, Taeyong, dan Jaehyun Hyung sedang ada kegiatan di sekolah. Si Cheng Hyung bekerja sambilan di kafe sampai sore. Yiyang dan Lami Noona sedang menemani Ibu panti dan Nona Kang berbelanja ke pasar. Sisanya, aku tidak tahu. Mungkin bermain layang-layang di taman,” beritahu Jeno dengan gayanya yang sok dewasa. Tingkah anak itu sedikit mengingatkan Sehun pada Dayoung. Ia jadi mulai bertanya-tanya apakah menjadi terlalu cepat dewasa—atau setidaknya kegemaran bertingkah sok dewasa—adalah hal yang lazim terjadi pada anak-anak zaman sekarang.

“Jadi kalian hanya tinggal berempat di sini?”

Jaemin menggeleng. “Herin dan Koeun Noona ada di dapur. Mereka bilang ingin membuat kue, tetapi sedari tadi belum ada tanda kue buatan mereka sudah matang, buktinya mereka tidak membawa sepiring kue pun ke sini.”

“Pacar Herin Noona besok berulang tahun,” tambah Renjun dengan ekspresi bersekongkol. “Aku yakin mereka sedang membuat kue untuk Hyung berkacamata itu.”

“Apa Herin dan Koeun bisa memasak lebih baik dari Joohyun Noona?” tanya Sehun, masih sambil berbisik. Ada raut khawatir bercampur geli di wajahnya. “Kalau tidak, kau harus membantu sebelum mereka membakar dapur.”

Herin dan Koeun boleh dikata adalah juru masak di panti asuhan ini. Soojung belum tahu keahlian mereka dalam hal membuat kue, tetapi seburuk apapun hasil kerja kedua remaja itu, mereka tidak akan sampai membakar dapur. Tetap saja, Soojung tertarik untuk ikut membantu. Urusan menyiapkan sesuatu yang spesial untuk orang yang disukai selalu membuatnya bersemangat.

“Anak-anak, aku akan ke belakang untuk membantu Herin dan Koeun Noona. Kalian tidak keberatan ‘kan menemani Ahjussi ini bermain sementara aku berada di dapur?”

Keempat anak itu menggeleng. Jeno bahkan langsung bergegas menuju kamar tidurnya dan kembali dengan menggendong sebuah kotak besar. Soojung menyipitkan mata demi membaca tulisan yang tertera di sana: Monopoli.

“Edisi Plant vs Zombie?” kata Sehun yang sengaja melongok untuk ikut membaca.

Hyung sangat terobsesi pada zombie eclipse setelah menonton Train to Busan,” beritahu Chenle sembari memasukkan keripik dari dalam kemasan ukuran besar yang sedari tadi ia pegang.

Apocalypse,” Jeno membetulkan. Dengan gaya sok dewasa, anak itu menambahkan, “Dan apa kau sudah lupa kata Soojung Noona? Jangan bicara saat sedang mengunyah! Tidak sopan.”

“Hei, bukankah itu punyaku?” tanya Jaemin. Nadanya tidak mengandung rasa keberatan. Ia mengucapkan itu hanya untuk pamer.

Mengabaikan ucapan saudara kembarnya, Jeno mengambil posisi bersila di atas karpet di tengah ruangan. “Ayo kita bermain ini!” katanya sebelum mulai sibuk mengatur uang kertas bergambar zombie untuk dibagikan kepada para pemain.

Renjun, Jaemin, dan Chenle langsung merapat. Renjun membantu Jeno mengatur kartu-kartu yang akan dipakai, Jaemin menghitung pion yang ada, memastikan jumlah hotel dan rumah masih lengkap, sementara Chenle masih asyik dengan keripiknya.

Ahjussi, apa kau tidak mau ikut main?”

Santai, Sehun menimpali, “Tergantung, apakah salah satu pionnya berbentuk bunga matahari?”

Soojung menoleh ke arah Sehun, sedikit takjub oleh fakta bahwa pria di sampingnya ternyata familier dengan permainan semacam Plant vs Zombie. Setengah berbisik, wanita itu berkata, “Aku baru tahu kalau kau juga mengetahui hal semacam ini.”

Soojung berpikir, kalaupun Sehun memang pernah menjadi seorang penikmat game, pria itu mungkin akan memilih sesuatu yang lebih populer dan maskulin seperti Assasin’s Creed atau Grand Theft Auto. Lagi-lagi, sekadar mengamati dan menduga memang bukan jalan yang efektif untuk saling mengenal.

“Aku sering memainkannya saat tahun pertama kuliah,” beritahu Sehun.

Sebuah potret feminin langsung melintas di benak Sehun kala ia mengingat masa itu. Awal-awal kuliah yang penuh tugas. Ia dan gadis itu hampir selalu melewatkan waktu luang di perpustakaan untuk membaca buku dan jurnal penelitian yang berkenaan dengan tema yang diajarkan. Jika bosan dengan suasana perpustakaan, mereka akan pindah ke kafe dekat kampus untuk mengerjakan makalah yang diminta oleh dosen. Sambil menggerakkan jari di atas papan ketik, gadis itu selalu mengeluh panjang-pendek. Kadang-kadang, jika sudah merasa terlalu penat, kalimat umpatan juga akan meluncur dari sela bibirnya. Jika sudah lelah mengumpat dan tugas itu tetap tidak selesai, ia akan mencari penyegaran dengan membuka salah satu game andalannya, dan umpatan yang sebelumnya ia layangkan untuk dosen yang menurutnya memberi tugas dengan semena-mena, otomatis berganti kepada zombie-zombie yang berlomba memakan tanaman di halaman rumah virtualnya.

Sama seperti ketika ia menyaksikan langsung gadis itu memaki-maki gambar yang tampil di layar laptopnya, saat itu pun, hanya dengan membayangkannya, sudut-sudut bibir Sehun tanpa sadar tertarik ke samping. Hubungannya dengan sang gadis memang berakhir menyedihkan, tetapi ada kenangan manis yang tidak bisa luruh begitu saja dari ingatan Sehun seberapa pun ia mencoba.

“Kenapa kau tersenyum?”

Suara Soojung menariknya kembali ke masa sekarang, membuat Sehun teringat posisinya saat ini. Ia bukan lagi seorang mahasiswa yang diam-diam jatuh cinta pada teman sekelasnya, melainkan seorang pria dewasa, suami dari wanita yang ia yakini tidak akan melukai perasaannya.

“Teringat sesuatu yang menarik?” tanya Soojung lagi.

Seseorang, koreksi Sehun dalam hati. Mengganggap hal itu sebagai sebuah pemberitahuan yang tidak perlu, Sehun memilih menjawab pertanyaan Soojung dengan gelengan pelan. “Aku hanya tidak menyangka ada orang yang terpikir untuk mengadaptasi game itu sebagai tema permainan monopoli,” ujarnya.

Soojung menyadari Sehun tidak sepenuhnya berkata jujur. Seharusnya ia bertanya. Mungkin, kalau saat itu ia tidak mengabaikan sorot nostalgia yang sempat hadir di mata sang suami, pertanyaan besar yang selama ini menggelayuti pikirannya akan segera terjawab. Namun Soojung melewatkan kesempatan itu, berpikir bahwa kesempatan yang sama akan datang lagi. Di atas segalanya, ia dan Sehun sekarang sudah bisa berkomunikasi jauh lebih baik. Tak ada alasan baginya untuk tergesa-gesa.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan ke belakang untuk menyapa Herin dan Koeun,” pamit Soojung. Sebelum ia berbelok menuju ruang tengah, samar-samar indra pendengarannya menangkap Sehun mengajukan protes kepada keempat anak di dekatnya.

“Hei, ini tidak adil. Kenapa kalian memanggil Soojung dengan sebutan noona sementara aku dipanggil ahjussi? Aku hanya beberapa bulan lebih tua darinya, jadi paggil aku hyung, oke?”

Keempat anak itu serempak menyatakan keengganan, dan Soojung mau tak mau tersenyum geli membayangkan raut muka suaminya.

Sehun muncul di dapur ketika Soojung sudah hampir selesai membuat krim kocok berwarna merah muda untuk dipakai menghias kue. Pria bertubuh tinggi itu dengan manja memeluk istrinya dari belakang. Dengan lengan yang dilingkarkan di pinggang Soojung, ia bertanya, “Belum selesai juga?”

“Tinggal dihias,” beritahu Soojung. Mengalihkan pembicaraan, ia balik bertanya, “Permainan monopolinya sudah selesai?”

Sehun menggeleng. “Belum, tetapi aku melakukan kesepakatan dengan Jaemin.”

“Kenapa aku merasa ada yang tidak beres?”

Sehun tertawa renyah. “Tenang saja, yang kami lakukan bukan sesuatu yang buruk. Dia setuju memanggilku Hyung dengan syarat aku membiarkannya bermain menggunakan semua uang yang kukumpulkan.”

“Dan berapa banyak uang yang kaukumpulkan?”

“Aku jadi pemain paling kaya, tahu!” ucap Sehun sombong. “Jaemin akan hidup makmur dengan warisan empat hotel di Afrika, serta tiga rumah di Paris dan Australia. Oh, dan aku juga punya kartu bebas penjara.”

Soojung memutar bola mata mendengar sang suami membanggakan kekayaannya. Ia lalu mencolek krim yang baru ia buat dan menjulurkan jari telunjuknya kepada Sehun. “Bagaimana rasanya?”

“Kelewat manis,” ujar Sehun, yang seketika membuat Soojung tampak panik. Adonan yang hambar masih bisa disiasati dengan menambahkan bubuk gula, tetapi tidak akan ada yang dengan senang hati memakan sesuatu yang rasanya terlalu manis.

“Bukan krimnya,” kata pria itu lagi. Kalau saja Soojung tidak membelakanginya, wanita itu pasti bisa menangkap kilat nakal di mata suaminya kala pria itu menambahkan, “Kau yang terlalu manis.”

Gombalan payah Sehun membuat Soojung langsung menggigit bibir lantaran malu, sementara dua remaja yang sedari tadi fokus menghias kue di sudut dapur kompak berpura-pura batuk, membuat Sehun akhirnya menyadari keberadaan mereka.

Oppa, jangan terlalu sering berkata seperti itu kepada istrimu. Dia bisa mati muda karena diabetes.”

“Kurasa sebaiknya aku mulai mencari pacar.”

Berusaha untuk tampak tak terlalu salah tingkah, Sehun melepas pelukannya di pinggang Soojung dan melempar senyum kepada dua remaja berambut panjang di sudut ruangan. “Akhirnya ada orang di tempat ini yang tidak memanggilku dengan sebutan ahjussi.”

“Kau terlalu tampan untuk dipanggil ahjussi,” kata si gadis berlesung pipit.

Oppa, apa kau punya seseorang yang bisa dikenalkan kepadaku?” tanya gadis yang satunya lagi. “Aku sudah cukup mengasihani diri sendiri lantaran harus menghabiskan hari libur dengan membantu Herin membuat kue untuk kekasihnya. Dan sekarang aku harus melihat kalian bermesraan seperti sepasang pengantin baru.”

“Kenalanku sudah berumur tiga puluhan ke atas.” Sehun beralasan.

“Tidak apa,” jawab Koeun santai. “Mengencani pria yang jauh lebih tua sedang jadi trend gara-gara Goblin. Aku bisa seperti Euntak yang memanggil kekasihku dengan sebutan ahjussi.”

Sehun tertawa. “Tapi pria-pria itu tidak setampan Gong Yoo. Dan paling penting, mereka bisa dituduh pedofil kalau berkencan denganmu.”

Gadis itu mengembuskan napas kecewa. “Benar juga. Usiaku bahkan belum sampai delapan belas tahun.”

Tidak ingin membiarkan topik mengenai Koeun mengencani pria yang jauh lebih tua semakin berlarut, Soojung menyerahkan krim yang ia buat dan meminta kedua remaja itu menyelesaikan kegiatan mereka menghias kue, kemudian menyeret sang suami menjauh dari dapur.

“Apa Donghae Oppa yang mengajarimu berkata seperti tadi?” tanya Soojung saat mereka sudah sama-sama duduk di atas ayunan yang berada di samping panti asuhan. Kakak iparnya itu memang punya banyak sekali stok rayuan payah yang selalu sukses membuat Sooyeon menghadiahinya dengan tatapan malas. Mengingat keakraban Sehun dengan pria itu, wajar saja jika Soojung curiga Donghae sudah mengajari suaminya untuk ikut mengatakan hal-hal konyol.

“Yang tadi yang mana?” Sehun balik bertanya, berusaha berpura-pura bodoh untuk menggoda istrinya.

“Apa lagi?” timpal Soojung dengan ekspresi jengkel bercampur malu. “Yang kelewat manis, tentu saja.”

“Aku mempelajarinya dari sebuah forum di internet,” aku Sehun.

“Kau membuatku malu, tahu! Aku yakin Herin dan Koeun tidak akan membiarkan kejadian tadi terlupakan begitu saja.”

“Bukankah itu justru bagus?”

Soojung mengembuskan napas panjang dan memutuskan untuk menyerah. Tidak ada gunanya mendebat Sehun dalam hal ini.

Mereka terdiam dan sibuk memainkan kaki di atas pasir yang disebar di sekitar ayunan sampai Sehun kembali bersuara, “Lucu, ya? Selama ini kita sering sekali berpura-pura mesra di  depan orang lain dan tak lama kemudian bisa bersikap seolah semua itu tidak pernah terjadi. Kurasa perbuatanku tadi sebagian disebabkan oleh kebiasaan itu.”

Soojung mengangguk. Ia teringat sejumlah kemesraan yang sengaja mereka pertontonkan di depan orang lain demi memberi kesan bahwa mereka adalah pasangan bahagia. “Aku bahkan sudah tidak ingat bagaimana semua itu bermula.”

“Aku ingat,” kata Sehun. Pria itu mengayun pelan tubuhnya sembari menatap lurus ke arah dedaunan yang bergerak ditiup angin. Ia memandangi kejadian itu selama beberapa lama sebelum melanjutkan, “Kita baru pulang dari Maladewa saat itu. Donghae Hyung dan Sooyeon Noona kebetulan sedang ada di Seoul, jadi ibumu mengundang kita untuk makan malam bersama.”

Pelan-pelan, ingatan Soojung mulai mereka ulang kejadian yang disebutkan Sehun.

Malam itu, di dapur Keluarga Jung, sang ibu bersama kedua anak perempuannya tengah sibuk menyiapkan menu makan malam. Sehun menemani sang ayah bermain catur di ruang keluarga, sementara Donghae yang bahkan tidak tahu kalau raja tidak bisa bergerak sembarangan, dipaksa istrinya untuk membantu di dapur.

“Astaga, Lee Donghae! Aku menyuruhmu memotong wortel, bukan memakannya!” seru Sooyeon.

“Ini tidak adil,” keluh Donghae. “Seharusnya laki-laki tidak bekerja di dapur. Sehun dan Abeoji saja tidak ada di sini.”

“Makanya kau belajarlah main catur!” timpal Sooyeon tak mau kalah.

Ibu mereka menyimak pertengkaran suami-istri itu sambil menggelengkan kepala, sementara Soojung yang baru saja mengacaukan bulan madunya hanya bisa menatap iri ke arah kakaknya. Ia lanjut mengelap piring yang akan dibawa ke meja makan sambil dalam hati berharap hubungannya dengan Sehun akan segera membaik dan mereka bisa bercengkerama seakrab yang dilakukan Sooyeon dengan suaminya.

Sehun, yang kala itu ke dapur untuk mengambil air putih, mendapati raut kecil hati di wajah istrinya. Tanpa pikir panjang ia langsung melangkah ke arah sang istri dan memeluknya dengan mesra. “Butuh bantuan?” tanyanya.

Soojung yang terkejut setengah mati karena kemesraan yang tiba-tiba itu tidak bisa melakukan apa-apa untuk menimpali pertanyaan Sehun. Jangankan menjawab dengan kata, untuk sekadar mengangguk saja ia tidak mampu. Sekujur tubuhnya terasa dihantam gelombang panas yang susul-menyusul. Ujung jarinya gemetar hingga piring yang ia pegang nyaris jatuh. Untung saja Sehun menyadari hal itu dan dengan sigap memegangi tangan Soojung hingga benda porselen tersebut tidak jadi menghantam lantai.

“Astaga, Pengantin Baru! Apa yang kalian lakukan di depan kami?” tanya Sooyeon.

Sehun kemudian berbalik dan melayangkan senyum sungkan, sementara Soojung yang masih belum menemukan kepercayaan diri untuk menghadapi ibu, kakak, dan kakak iparnya menyibukkan diri dengan mengelap ulang piring yang sudah ia bersihkan. Semua yang hadir di ruangan itu berpikir Soojung menghindari kontak mata dengan mereka lantaran malu.

“Lihat itu,” kata Sooyeon seraya melirik tajam ke arah Donghae yang lagi-lagi memasukkan tomat kecil ke dalam mulutnya. “Sehun benar-benar suami ideal. Ia bisa bermain catur dan sekarang dengan sukarela membantu istrinya di dapur. Beda sekali dengan seseorang.”

Mereka melewatkan sisa malam itu dengan mendengarkan Sooyeon yang terus memuji Sehun, mengatakan bahwa adiknya sangat beruntung bisa menikah dengan pria sebaik itu. Sehun dan Soojung menimpali pujian itu dengan senyum seadanya, karena dalam hati mereka tahu, ketika hari berakhir, pasangan yang akan terlelap dalam kehangatan adalah Sooyeon dan suaminya. Meski di rumah Keluarga Jung si bungsu adalah tokoh utama, ketika kembali ke kediaman Keluarga Oh, wanita itu hanya akan kembali pada hubungan diselubungi hening.

“Aku masih mengingat sorot matamu saat itu,” kata Sehun. “Seolah-olah kau sedang berpikir, apa mungkin pernikahanmu akan sebahagia kakakmu? Apa kalau kau menikahi orang lain, kau bisa seperti mereka? Astaga, Soojung … waktu itu aku bahkan berpikir kau sedang membayangkan mantan kekasihmu dan mulai menyesali keputusan menikah denganku.”

“Kau benar tentang rasa iri,” Soojung mengakui, “tetapi kau salah besar soal mantan kekasih. Hubungan kami berakhir jauh sebelum kau datang. Perasaanku padanya sudah habis, bahkan sebelum aku bertemu kakekmu untuk pertama kali.”

Sehun menghentikan kegiatannya mengayun tubuh demi menoleh ke arah Soojung yang saat itu juga tengah menatapnya. Lugas, pria itu meraih tangan sang istri dan menautkan jemari mereka. “Ceritakan kepadaku tentang pria itu.”

Soojung mengangkat bahu, ringan. “Tidak banyak yang bisa diceritakan. Aku patah hati setelah ditolak orang seorang sunbae yang kusukai selama bertahun-tahun. Aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Dan pria itu, yang kebetulan adalah sahabatku, mengutarakan cinta di tengah upayanya menghiburku. Kupikir, setelah sekian lama mencintai tanpa balas dicintai, menerima perasaan seseorang yang mengklaim diri sudah menyukaiku sejak lama bukanlah hal yang salah. Di atas segalanya, bagi seorang wanita, dicintai jauh lebih aman daripada mencintai, bukan? Sejak saat itu kami resmi mengubah status sahabat menjadi pacar. Dan selama empat tahun, kami menjalani hubungan yang bahagia. Atau setidaknya seperti itulah yang kurasakan. Pria itu memperlakukanku dengan sangat baik, sampai akhirnya dia memutuskan hubungan kami karena ingin fokus pada kariernya.”

“Aku tidak habis pikir orang bodoh mana yang tega menolak cintamu. Sunbae yang kauceritakan itu jelas-jelas sudah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya,” komentar Sehun. “Dan mantan pacarmu, astaga, aku yakin ia akan menyesali kebodohannya sampai tujuh kali reinkarnasi.”

Ucapan Sehun kontan membuat Soojung terbahak. Setelah sekian lama, baru kali ini ia bercerita mengenai kisah cintanya yang kandas. Dulu, mendengar nama pria itu disebut saja, Soojung tidak sudi. Ternyata benar, waktu adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan segala hal. Kehadiran cinta yang baru akan dengan mudah menghapus luka lama. Diam-diam, Soojung justru bersyukur pria itu meninggalkannya, karena jika tidak, Soojung tidak mungkin bisa mengenal Sehun.

“Aku tidak akan meninggalkanmu,” kata Sehun sembari mengeratkan genggaman di tangan Soojung. “Aku tidak akan melakukan kebodohan seperti yang dulu dilakukan mantan kekasihmu.”

Soojung mengangguk kemudian mengalihkan pandangan pada genggaman Sehun di tangannya. Janji yang diucapkan pria itu membuat hatinya terasa hangat. Sudut bibirnya tanpa sadar tertarik ke samping, menjadikan seulas senyum hadir menghias wajahnya. Sejenak, mereka hanya saling menatap dan larut dalam hening yang menyenangkan, sebelum Soojung memecah keheningan itu dengan berkata, “Itu keputusan yang sangat bijak, Tuan Oh.”

to be continued…

Author’s Note:

  • Saya gak tahu anak-anak panti asuhannya mau dikasih nama apa, jadi akhirnya minjam nama anak-anak NCT sama SM Rookies. Maaf kalau beda umur di cerita sama dunia nyata malah bikin chapter ini berasa aneh.
  • Inti chapter ini adalah buat ngasih sedikit sneak peek ke beberapa kejadian masa lalu sekaligus sarana biar haesica dan dedek-dedek NCT bisa eksis, utamanya kisah Sehun dan Soojung dengan mantannya masing-masing. Sekarang udah mulai ngerti ‘kan, kenapa Soojung terus-terusan nolak Jongin? Dia udah pernah nyoba pacaran dengan sahabatnya, dan hubungan itu tidak berakhir baik. Soojung cuma tidak mau kejadian dengan mantan pacarnya terulang dengan Jongin.
  • Just in case ada yang penasaran siapa mantannya Soojung, cek fotonya di sini.
Advertisements

42 thoughts on “Begin Again – Chapter 11

  1. Seneng akhirnya update jugaa
    Suka banget moment mereka disini
    Gemesin banget sih mereka berdua
    Btw suka juga anak2 nct dipake, jadi bisa lebih memvisualisasikan😂😂😂
    Ditunggu terusss kelanjutannya
    Semangatttttt

  2. Sestal moment dengan sweet scene adalah yang terbaik. Ini benar benar manis sampai buat aku senyum senyum sendiri. Saat baca cerita ini dari chap awal sampai sekarang rasanya seperti aku udah nonton filmnya. Kyak ada roll film di dalam kepalaku jadi feelnyaa dapat benget. Btw maksh udah up kak. Dan seperti biasa kelanjutannya sangat diharapkan. Mmn bisa fast up mungkin? Heheheheh

    1. Seulgi udah terhapus dari hati sehunkan? Sepenuhnya kan? Mungkin sehun sampai senyum saat ingat masa lalunya karena dulu sering dilakukan. Ya sekedar mengingat tanpa rasa. Iya kan? Sehun udah janji gak bakal ninggalin soojung. Scene tentang sehun senyum karena ingat zombie zombie itu udah buat perasaanku gak enak. Untungnya kak author bilang sestal bakal bersatu jadi aku enakan lagi deh walau jalan menuju kebahagiaan sestal pasti bakal ada masalah. Ok thor sekian

    2. Jadi mantannya soojung itu taemin. Pantas aja dia nolak kai. Selain gak mau pacaran sama sahabat lagi, pasti wajah kai mengingatkan taemin. Mereka kan mirip, iya ga? Hehehe

    3. Setuju!! Semua sweet scene yang ngelibatin sestal juga selalu bikin aku bahagia pas baca, dan lbh bahagia lagi kalo bs nulis yg spt itu. Makasih juga udah membaca. Kelanjutannya nanti aku update pas lagi suntuk. Haha..

  3. Sehun janji gak bakal ninggalin soojung, tp dia kok kayak masih ada rasa sama seulgi? Kok ngebayangin hal sederhana kayak game yg sering dimainin seulgi dulu udah bisa bikin sehun senyum sendiri? Aku punya feeling gak bagus soal ini. Jangan sampai nanti seulgi muncul, jongin balik dari haiti, dan masalah langsung meledak semuanya. Mereka bs saling cemburu.
    By the way, ini chapter yang bertabur cameo, dan di antara semua cameo yang ada, aku paling suka moment haesica. Kapan-kapan mereka dimunculin lagi, bisa gak?

  4. Sehun nunggunya kelamaan sih! Padang ilailangnya udah gak ada deh… Eh tapi tapi tapi… Kencan di panti juga udah cukup kok. Kalo udah jatuh cinta sih, kencan di mana aja udah berasa spesial. It’s not the place, but the person you do it with. Dan ada haesica! Setelah lumayan lama gak ada ff haesica, akhirnya couple ini muncul jd cameo di ff sestal. Aku kangen!! Apalagi mereka di sini jadi suami istri. Gemesh deh!

    1. Bener banget. Utk urusan kencan, bukan masalah di mana tempatnya, tp sama siapa. Dan ttg haesica, yupppp.. Aku desperate bgt gak bs nulis apapun ttg mereka, jd akhirnya buat menebus rasa bersalah kuselipin aja di sini.

  5. akhirnya update seneng bangettt, btw aku masih gregetan sama kisahnya sehun dulu, sedikit takut juga saa sehun karena blm cerita kehidupan percintaannya yang dulu ke soojung, soojungnya juga yang msh belum nanya tentang kisahnya sehun. jangan lama – lama updatenya ya thorr

  6. Awww momen mereka so sweet banget tapi….kok Sehun masih ada rasa ama Seulgi yah? mungkin karena dia belum punya banyak momen manis kali yah ama Soojung…aku suka momen HaeSica wkwkwk

    1. Kita emang belum bs ngebandingin hubungan sehun-seulgi yg sejak awal mulus2 aja sama hubungan sehun-soojung yg baru aja ‘akur’. Semua berproses. Dan iya, aku jg suka sm moment haesica di chapter ini

  7. Jeno acting so mature is so damn cute. Trus dikembarin sama jaemin pula. Dan ada chenle yg kerjanya makan keripik, plus ada dedek manis sr15g jadi cameo tambahan. Dan haesica juga muncul. Ih, aku bahagia baca chapter ini. Biarpun agak kesel juga sm sehun yang sempat2nya keingat seulgi. Pake senyum2 pula. Masih ada rasa kah? Bukannya udah bahagia sama soojung? Next update please cepetan…

  8. jongin dulu kayaknya keduluan taemin deh. mereka sahabatan bertiga kan? secara jongin sm soojung udah sahabatan lama, sebelum pacaran taemin jg sahaabtan sm soojung, dan taemin pacaran sm soojung sekitar 7 tahunan dr timeline cerita ini, jadi seharusnya taekaistal saling kenal dong? well, aku overalayzing things lagi, tp sepertinya ini bener. dan kalo bener, sumpah aku kasihan sm jongin.
    tentang sestalnya sendiri… author udah bilang mereka bakal bersatu di akhir ya. padahal aku mulai mikir kalau sehun balikan sm seulgi, trus soojung nerima jongin, kayaknya seru. hahaha…. aku fans sestal tp emang kadang suka mikir buat couplein mereka sm org lain.

    1. Gurllll!!! You definitely got it right! Yup, mereka bertiga dulu sahabatan. Dan tau gak inspirasinya dari mana? Photoshoot mereka buat W magazine. Dipikir lagi, jongin mmg jadi karakter paling ngenes di cerita ini. Pas awal nulis aku bahagia aja bikin karakter spt itu, tp makin ke belakang aku jadi kasihan juga sm dia. Hahaha..
      Oh, dan kita sama bgt! Aku juga suka sestal pake banget, tp utk urusan pairing, aku berpikiran sangat terbuka. Ff sestal gak harus berakhir dgn sestal bersatu di ending.

      1. Jangan dong thor, karena sestal di dunia nyata nggak bersatu eh di ff juga nggak. Sedihhhhh Jongin ama Seulgi aja atau Gigi Hadid wkwkwk. Aku nggak ngelihat Jongin sebagai korban, kan cinta nggak harus memiliki, dan klo mereka jadian berarti lingkaran percintaan antar sahabat terjadi lagi dong dan gw rasa itu melelahkan hahaha kalau ama Sehun, Soojung bisa memulai hidup baru, kisah baru dan masa depan baru. Itu pendapat gw sih wkwkwk

  9. Makin ke sini hubungan soojung sama sehun makin dekat, tapi di saat hampir bersamaan, makin banyak hal yg bikin aku mikir hubungan mereka selama ini fragile banget. Sehun sptnya belum sepenuhnya move on dr seulgi, sementara soojung ngerasa udah cukup puas dengan perkembangan hubungannya sama sehun dan seperti udah gak punya niat buat ngebahas masa lalu. Nah, masalahnya, kalau gadis masa lalu ini muncul lagi, gimana?

    1. Betul, hubungan mereka masih rapuh banget. Ada badai dikit bisa hancur. Tp percaya deh, selama soojung masih konsisten mempertahankan pernikahan, mereka akan baik-baik saja. Krn seperti janji sehun, dia gak akan ninggalin soojung. Jd tinggal soojungnya aja nanti gimana.

  10. Thor, aku udah baca dari chapter 1 sampai chapter 11 dan aku lihat kalau Soojung bener2 tulus cinta ama Sehun. Tp kok aku nggak nangkep perasaan yg sama dari Sehun yah? Soojung udah cerita tentang masa lalunya dan dia udah nggak punya perasaan apa2 lagi ama mantannya jauh sebelum ketemu Sehun, tp Sehun sampai sekarang masih mikirin mantan ugghh penasaran. Lanjut deh Thor kalau bisa double update hahaha

    1. Oh iya kenapa aku ngambil kesimpulan seperti itu karena aku lihatnya Soojung lebih banyak berinisiatif dalam hubungan mereka. Misalkan nungguin Sehun pulang kantor, telepon duluan, nyiapin peringatan kematian Jumnyeon, ngerwarnain rambut hanya buat narik perhatian Sehun trus nggak langsung minta cerai pas lihat Sehun jalan ama Irene dan tetap sabar menanti penjelasan tentang ciuman Sehun ama Seulgi, itu belum dijelasin tuh.

    2. Sehun jg cinta kok sama istrinya. Dia cuma terlalu kaku sampai gak tau mesti ngungkapin perasaannya dgn cara apa. Ttg urusan ingat mantan… Hehe.. Aku suka gimana orang penasaran sama part ini.

  11. Ga tau mau komen apa 😂
    Berharap jangan terlalu berat buat konflik nya nanti 😂.
    Ini harus happy ending ya kak, maksa pokoknya.
    Update nya jangan lama-lama 😥
    Semoga buat chapter selanjutnya

  12. Sehun why you masih senyum-senyum ingat seulgi? Soojung why you gak nanya mumpung ada kesempatan? Kalo ditunda-tunda mulu, nanti kayak rencana sehun mau ngajak ngedate ke padang ilailang lho. Telat. Tempatnya keburu gak ada 😔😔

    1. Kalo udah bs senyum pas ingat mantan, artinya udah move up. Yang dihargai tinggal kenangannya, orangnya (mungkin) udah terlupakan. Kurang lbh begitu. Soojung gak nanya krn dia gak mau terlalu mendesak. Apalagi sehun udah ngasih alasan kenapa dia sampe senyum, dan soojung menganggap alasan itu cukup bs diterima

  13. Wah, aku ketinggalan. Bingung juga mau komen apa. Pertanyaanku jg udah diwakili sm reader lain. Aku mau request aja biar chapter selanjutnya lbh cepat diupdate, biar gak usah lama-lama penasaran. Semangat ya!

  14. Udah lumayan ada kmjuan soal komunikasi sestal…. jadi senyum” sndri ngbyangin sehun yg biasa cool bljar gombalin istrinya… bukanya terharu mlah malu… semoga happy ending ya kak…. btw brp chapter lgi ffnya?

  15. Parahh sih ini ka aku udah baca dari chapter 1-11 keren banget ceritanya!!! Walaupun aku bukan sestal shipper tapi aku berharap happy ending yaa kak abis momen sestalnya bikin aku senyum2 sendiri^^ lucu bgt sumpah mereka suka bgt deh pokoknya!! Btw semangat next chapter yaa kak, jangan lama2 updatenya hehe

  16. Kakak!! Aduh aku gak tau gimana mesti komen. Aku ketinggalan cuma beberapa chapter tp rasanya udah ngelewatin byk bgt moment. Mulai dari mana dulu ya? Aduh aku tuh bingung kalo perasaan lagi camour aduk gini. Sestalnya akhirnya bisa bahagia, bisa mesra, dan seriusan deh aku jatuh cinta bgt sama sehun di sini. Dia tuh kaya yang selalu diam memperhatikan soojung, tau perasaan istrinya, biarpun ya kadang suka salah bersikap. Tapi tetep aja abis baca chapter ini dan yg sebelumnya, aku suka aja sama sehun. Semoga mereka terus bahagia. Bodo amat sama wanita masa lalunya. Toh dia udah janji ga bakal ninggaling soojung kan? Seulgi datang deh gapapa. Ntar dijodohin sama jongin. Hehe. Next chap ditunggu kak!! Fighting. 🙂

  17. kapan updatenya lgi thor???, maaf jadi reader yang ga sabaran,heheh
    sebenarnya agak khawatir sama sestal, rasanya bakal ada badai lgi dihubungannya mereka, but semoga aja mereka tetep sama2. and kapan soojung bakal cerita tentang jongin ke sehun biar ga salah paham gitu. sehun juga, aku penasaran banget sama kang seulgi
    semoga bisa fast update ya thor🙌

    1. hai, chapter baru udah diupdate lho. gak apa-apa kalo sering nagih kayak gini, aku juga sering gak sabaran kalo baca cerita bersambung, apalagi yg updatenya gak jelas kapan. hahaha. badai yg kamu sebutin masih on the way. chapter 12nya mereka masih bahagia2 aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s