Begin Again – Chapter 7

wallpaper2you_519993_副本

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6

..

Ada banyak hal yang mungkin dirasakan seorang wanita jika bertemu selingkuhan suaminya. Bahagia jelas bukan salah satu di antaranya. Tetapi, perasaan tersebutlah yang memenuhi hati Soojung sore itu, ketika Joohyun dan Dayoung kembali hadir di hadapannya.

Soojung baru saja menandaskan cappuccino latte pesanannya dan berencana untuk langsung kembali ke rumah, melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Beberapa saat sebelumnya, tak lama setelah ia menyudahi obrolan dengan Sehun, Heechul lagi-lagi menelepon, bertanya sudah sejauh mana perkembangan tulisannya. Ponsel Soojung yang memang sudah nyaris kehabisan daya akhirnya mati sebelum ia sempat menjawab pertanyaan sang editor. Wanita itu berani bertaruh, saat ini Heechul pasti sedang marah-marah sendiri. Editor berkelakuan eksentrik itu memang selalu benci jika orang mengabaikannya.

Soojung cukup yakin bisa bekerja jauh lebih baik dibanding semalam. Sehun sudah berjanji akan menelepon jam sepuluh, jadi ia tidak perlu menunggu seperti orang bodoh seperti sebelumnya. Selain itu, kegalauan tidak beralasan yang seharian penuh memenuhi pikirannya, yang seolah mengganjal semua kreativitasnya mengolah kata, sekarang telah sirna. Suasana hatinya secara drastis membaik setelah mendengar suara sang suami, dan biasanya, suasana hati yang baik juga berdampak baik bagi pekerjaannya. Ia berharap bisa memenuhi target menulisnya sesegera mungkin agar Heechul tidak perlu merongrongnya setiap hari dengan peringatan tentang tenggat waktu yang semakin mendekat.

Soojung melirik ponsel yang tergeletak tidak berdaya di atas meja. Benda itu sudah benar-benar tidak bisa lagi dinyalakan. Layarnya gelap, tak menampakkan apapun. Namun, hanya dengan melihat benda itu saja, Soojung sudah langsung teringat pembicaraannya dengan Sehun beberapa menit lalu. Pembicaraan yang jika diingat-ingat lagi hanya berisi hal-hal tidak penting, tetapi begitu bermakna bagi Soojung. Wanita itu kembali tersenyum layaknya seorang remaja kasmaran, meraih ponsel, dan berdiri, bersiap meninggalkan toko kue tersebut ketika sebuah suara terdengar olehnya.

“Princess….”

Soojung menoleh karena merasakan seseorang menarik-narik ujung blusnya. Dan benar saja, seorang anak tengah berdiri di sampingnya, menatapnya melalui sepasang mata yang terlihat sangat familiar. Mata yang mengingatkan Soojung pada suaminya.

Soojung berusaha mencari-cari kebencian dalam hatinya. Karena … bukankah itu wajar? Kerenggangan hubungannya dengan Sehun selama ini mungkin merupakan akibat dari banyak hal. Tetapi mungkin ia salah menduga. Bukan peristiwa bodoh saat mereka berbulan madu yang mengubah sikap Sehun. Bukan Kang Seulgi yang membuat suaminya sering pulang terlambat. Anak ini dan ibunyalah alasan utama di balik semua masalah rumah tangganya dengan Sehun.

“Kau—”

Ucapan Soojung terhenti. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada anak kecil berbaju merah jambu tersebut. Otaknya memerintahkan agar ia segera pergi. Berlama-lama bersama anak itu hanya akan mengembalikan keresahan yang beberapa hari belakangan selalu berhasil merusak suasana hatinya. Ia baru saja mendapat secuil kebahagiaan karena berbicara dengan Sehun. Rasanya sayang jika perasaan langka itu harus lenyap hanya karena kehadiran sosok yang mengingatkannya pada sisi lain kehidupan sang suami.

Namun, sebuah kesadaran menghampiri akal sehatnya. Anak itu tidak mungkin sendirian. Ibunya pasti berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Itu berarti, secara tidak langsung prasangka yang lahir karena kata-kata Jongin semalam telah termentahkan. Sehun memang benar-benar pergi ke Busan dan pria itu semalam tidak meneleponnya bukan karena sedang asyik berduaan dengan wanita lain.

Semudah obrolan dengan Sehun meluruhkan semua kegundahannya, semudah itu pula kesadaran tersebut menguapkan kecemburuan Soojung. Memang tidak semua, tetapi itu cukup untuk membuat ia mengurungkan niat untuk segera pergi. Alih-alih memasang wajah dingin dan beranjak meninggalkan toko, Soojung malah memasang ekspresi paling ramah yang ia miliki lalu bertanya, “Kau sendirian? Mana ibumu?”

Gadis kecil di depan Soojung melongo. Matanya yang besar berbinar dengan sorot takjub. “Kau … bisa bicara?” tanyanya.

Sebuah tawa ringan lolos dari sela bibir Soojung. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ursula tidak mengambil suaramu?”

Kening Soojung berkerut, bingung membaca arah pembicaraan anak di sampingnya. Namun, belum juga ia berhasil menerka Ursula mana yang anak itu maksudkan, suara lain terdengar, membuat Soojung mendongak.

“Dayoung, apa yang kau lakukan di sini? Maafkan anakku, Nona. Aku tadi mengantre di kasir dan tiba-tiba saja anak ini—oh! Soojung?”

Wanita yang namanya disebut itu tampak tak kalah kaget dari orang yang memanggil. Bedanya, jika Joohyun terkejut karena tidak menyangka akan bertemu Soojung di toko kue tersebut, Soojung terkejut karena menyadari betapa cantik wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. Dua hari lalu, Soojung hanya sempat melihat sosok feminin tersebut dari kejauhan. Itu pun hanya sekilas. Ia tidak menyangka wanita itu ternyata secantik ini.

Mengabaikan raut terkejut di wajah dua orang dewasa di sampingnya, Dayoung menarik lengan baju Soojung lebih kuat, memaksa wanita tersebut kembali menujukan perhatian kepadanya. Dengan suara penuh persekongkolan, gadis kecil itu berbisik, “Itu nama samaranmu?”

Seolah memahami kebingungan Soojung atas apapun yang dibisikkan anaknya kepada wanita itu, Joohyun berujar, “Dayoung-ah, sepertinya Unnie cantik ini sudah mau pulang. Jangan ganggu dia, eoh?”

Dayoung memperhatikan Soojung yang berdiri dengan tas tersampir di bahunya. “Kau sungguh mau pergi sendirian? Tanpa menunggu Prince Eric menjemput?” tanya anak itu lagi.

Mendengar nama itu, Soojung akhirnya memahami apa yang tengah dibicarakan oleh gadis kecil di hadapannya. Rasanya sedikit percuma ia menghabiskan waktu untuk mendongeng di panti asuhan setiap bulan karena pada akhirnya ia tetap butuh waktu lama untuk mengerti ke mana perkataan gadis itu mengarah. Seharusnya sejak awal ia sudah tahu. Rambut merahnya pasti mengingatkan Dayoung pada Ariel, si putri duyung. Lagi pula, tokoh Ursula hanya ada di dongeng Little Mermaid. Wajar saja Dayoung heran melihat Soojung berbicara. Ariel seharusnya bisu.

“Aku sedang bersembunyi dari Ursula,” beritahu Soojung. Ia sengaja berbicara dengan suara lebih rendah dari seharusnya, berharap hal tersebut membuat ucapannya terkesan lebih nyata. Dan melihat bagaimana Dayoung mengangguk antusias menyimak perkataannya, wanita itu berpikir usahanya berhasil. Sekilas, Soojung melirik ke arah Joohyun yang masih berdiri di tempatnya semula. Wanita itu menutup mulut dengan satu tangan, tampak tidak kuasa menahan tawa. Mengembalikan perhatiannya pada Dayoung, Soojung melanjutkan perkataannya dengan nada lebih dramatis. “Prince Eric sedang berkelana, mencari ramuan untuk mengobati kakiku.”

“Ah, benar!” seru gadis itu. Ia menatap simpati ke kaki Soojung yang sebenarnya tidak kenapa-napa. “Rasanya pasti sakit, ‘kan?”

Soojung menggeleng. “Selama Ursula tidak mengetahui di mana aku berada, mantranya tidak akan berfungsi.”

Mulut Dayoung membulat, membentuk huruf o kecil yang sangat lucu. Sejenak, pemikiran untuk memiliki anak hinggap di benak Soojung. Pikirnya, pasti akan menyenangkan jika ia mempunyai anak selucu ini. Anak yang mewarisi wajah tampan Sehun, dan mungkin sedikit kecerdasan dari Soojung. Wanita itu kemudian menggigit bibir, berusaha mengusir pikiran kelewat indah tersebut sebelum harapannya dibawa melambung terlalu jauh.

Mengembalikan perhatiannya pada Dayoung, Soojung berujar dengan suara rendah. “Ini rahasia,” katanya sembari meletakkan telunjuk di depan bibir. “Hanya kita berdua yang tahu, jadi jangan beritahu siapa pun, oke?”

Untuk kesekian kali, Dayoung mengangguk paham. Ia menyilangkan kedua telunjuknya di depan bibir kemudian berkata, “Aku sudah menyegel mulutku dengan kunci rahasia. Rahasiamu aman, Princess.”

Soojung tersenyum. Tangannya bergerak ke puncak kepala anak itu untuk membelai rambut halusnya dengan penuh sayang.

“Karena kau sudah memberitahukan rahasiamu,” kata Dayoung begitu Soojung menarik kembali tangannya, “apa itu berarti kita berteman?”

Soojung mengangguk. “Tentu saja.”

“Kalau begitu, apa kau mau makan kue bersamaku? Ibu Guru bilang merayakan ulang tahun sebaiknya dengan teman-teman. Tetapi karena rumah kami kecil, Eomma bilang aku tidak bisa mengajak teman sekelasku ke rumah. Kalau cuma satu orang, kurasa Eomma tidak akan melarang. Iya ‘kan, Eomma?”

“Bukannya tadi Dayoung bilang mau makan kue di sini saja?” tanya Joohyun, mengingatkan.

Anak itu kontan menepuk dahi dengan gaya sok dewasa. “Aku lupa. Rumah kita masih bau gosong.”

Soojung mengernyit. Tanpa sadar,  otaknya sudah mulai menerka-nerka apa sebenarnya yang telah terjadi. Dayoung sepertinya punya bakat membuat orang bingung sekaligus penasaran dengan ucapannya.

Eomma nyaris membakar seluruh dapur karena ingin memasak sup rumput laut untukku,” beritahu Dayoung, seolah memahami rasa ingin tahu Soojung. “Semalam juga Eomma membuat gaduh sampai tengah malam untuk membuatkanku kue ulang tahun yang ternyata sangat jelek.”

“Jangan bongkar rahasia Eomma, Dayoung.”

“Kue buatan Eomma memang jelek,” tukas Dayoung cuek. “Mata Princess-nya seperti mau meloncat keluar saking besarnya. Dayoung tidak suka.”

Ucapan bernada polos itu berhasil menghadirkan tawa ringan di bibir Soojung, serta ringisan pelan dari Joohyun.

“Princess,” kata Dayoung lagi. Kedua tangan anak itu menggenggam jemari Soojung, mengayunkannya pelan seraya meminta, “Kau mau tinggal untuk makan kue bersamaku, ‘kan? Aku berjanji akan melindungimu kalau Ursula datang.”

Soojung tidak perlu berpikir lama untuk mengiyakan permintaan itu. Sebetulnya ia pun tidak yakin akan perbuatannya. Setengah dari dirinya bahkan sudah berteriak, mengatainya sinting. Sekilas, Soojung juga sempat teringat Jongin dan membayangkan sumpah serapah macam apa yang akan dilontarkan pria itu seandainya tahu apa yang tengah ia lakukan. Seolah tidak cukup ia berlaku manis terhadap anak yang diperoleh suaminya dari wanita lain, ia juga bersedia meluangkan waktu untuk merayakan ulang tahun anak itu.

“Kau sungguh mau tinggal?” tanya Joohyun. “Sehun bilang kau sangat sibuk belakangan ini. Aku tidak ingin membuatmu sampai terganggu.”

Soojung tersenyum menenangkan. Untuk alasan yang tidak bisa ia pahami, Soojung merasa perbuatannya saat ini begitu benar. “Kurasa tidak ada salahnya berlama-lama di tempat ini.”

Dayoung berseru gembira saat Soojung meletakkan kembali tasnya. Anak itu memanjat kursi dengan penuh semangat, kemudian menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya untuk mempersilakan Soojung duduk. Wanita itu menurut.

Joohyun membuka kotak kue yang tadi ia beli dan dengan hati-hati menancapkan lilin berbentuk angka enam di atas kue berhias krim vanila tersebut.

Enam tahun, pikir Soojung. Di mana dirinya enam tahun lalu? Mungkin di kamar lamanya, menekuri laptop untuk mengerjakan sebuah novel. Mungkin di panti asuhan, membacakan cerita untuk anak-anak di tempat itu. Mungkin di rumah sakit, berusaha membujuk dokter kepala untuk memberi izin kepada Jongin yang mengeluh lantaran jenuh menghadapi pasien. Soojung tidak bisa memastikan di mana dirinya enam tahun lalu. Yang jelas, saat itu Joohyun tengah berjuang melahirkan anak dari seorang pria yang kelak justru menikahi wanita lain.

Soojung menatap Joohyun yang kala itu tengah menyalakan lilin. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah Joohyun membencinya.

Selama ini, Soojung terlalu sering memperlakukan dirinya seperti korban. Hati kecilnya selalu menyalahkan Sehun atas ketidakharmonisan rumah tangga mereka. Ia tidak pernah mencoba melihat semua itu dari sudut pandang suaminya. Siapa yang tahu rasa bersalah macam apa yang menggelayuti benak pria itu karena harus meninggalkan wanita dan anak yang ia cintai demi memenuhi permintaan kakeknya? Siapa yang bisa mengukur seberapa dalam kesedihan yang tersembunyi dari balik senyum gembira yang tersungging di wajah dua sosok di depannya?

Seakan menyadari arah pandang Soojung, Joohyun balik menatap wanita berambut merah itu dan melontar senyum akrab. Ia melirik kue dan lilin menyala di hadapan mereka, dan Soojung memahaminya sebagai tanda agar ia berhenti berpikir macam-macam.

Mereka bertiga bertepuk tangan sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Dayoung. Anak itu langsung berdiri di atas kursi begitu lagu selesai. Tubuhnya sedikit dicondongkan agar lebih dekat dengan kue berhias potongan stroberi tersebut. Sebelum meniup lilin ulang tahunnya, ia melipat tangan dan memejamkan mata.

Soojung menunggu doa apa yang kira-kira akan diucapkan gadis kecil tersebut. Saat masih seusia Dayoung, yang Soojung pinta setiap kali berulang tahun hanya boneka atau buku cerita. Otak belianya tidak pernah memikirkan hal yang lebih bermanfaat dibanding barang-barang semacam itu.

Akan tetapi, nampaknya Dayoung jauh lebih dewasa. Atau setidaknya kesan tersebutlah yang Soojung tangkap saat anak itu berkata, “Semoga Princess dan Prince Eric selalu bahagia, jauh dari kutukan Ursula, dan adik Melody cepat lahir agar Dayoung punya lebih banyak teman.”

“Kurasa Dayoung sangat menyukaimu,” komentar Joohyun. Lagi-lagi, nadanya bersahabat. Dan lagi-lagi, hal itu menimbulkan rasa bersalah di hati Soojung.

Soojung tidak tahu harus menjawab apa, karena itu ia memilih mengalihkan pandangan ke arah Dayoung yang mulai sibuk memotong kue.

Hasil kerja anak itu jauh dari kata simetris. Kue berbentuk lingkaran di atas meja seharusnya dibagi delapan, dengan satu stroberi di masing-masing bagian. Namun, Dayoung malah membaginya menjadi tiga bagian yang tidak sama besar.

Potongan pertama sekaligus yang paling kecil ia berikan kepada ibunya. “Eomma tidak boleh makan banyak-banyak,” kata anak itu sembari menyodorkan piring. “Eomma masih harus bertanggung jawab menghabiskan kue jelek yang ada di rumah.”

Joohyun langsung merengut karena perlakuan anaknya. Dayoung menanggapi hal itu dengan memasang senyum nakal yang sukses membuat sang ibu mencubit gemas pipi tembamnya.

Soojung memperhatikan keakraban ibu dan anak itu dengan rasa bersalah yang tertancap semakin dalam. Kalau saja ia tidak pernah hadir dalam kehidupan Sehun, apakah momen ulang tahun Dayoung hari ini akan jadi berbeda?

“Ini untuk Princess,” ujar Dayoung sembari mengangsurkan sepotong kue yang ukurannya sekitar dua kali lipat dari yang diterima Joohyun barusan. Di samping kue itu, ada tiga butir stroberi yang tampaknya diambil dari bagian Dayoung.

“Dayoung tidak suka stroberi?” tanya Soojung.

“Sudah kubilang, ia menyukaimu,” kata Joohyun. Tanpa mengacuhkan raut bingung di wajah Soojung, wanita itu menambahkan, “Sehun akan sangat iri kalau tahu Dayoung membagi stroberinya denganmu. Anak ini selalu pelit untuk urusan stroberi. Seingatku ia tidak pernah mau berbagi dengan siapa pun.”

Ada banyak pertanyaan yang menghinggapi pikiran Soojung karena ucapan Joohyun. Tentang seberapa akrab Sehun dengan Dayoung. Tentang seberapa sering pria itu mengunjungi mereka. Tentang rumah kecil yang tadi disebutkan oleh Dayoung. Bagaimana Joohyun membiayai hidupnya selama ini? Apakah Sehun memberi mereka cukup uang? Apakah Sehun memberi mereka cukup perhatian?

Tidak ada satu pun dari pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya terlontar. Karena sebanyak apapun Soojung ingin mengetahui jawabannya, ia masih takut kecemburuannya kembali berkuasa.

“Dia sangat mirip ayahnya,” ujar Soojung akhirnya. Pandangan wanita itu terarah pada Dayoung yang asyik memotong-motong kue di piringnya.

Joohyun tersenyum. Ia memandang Dayoung yang mulai sibuk menyendok kuenya.

“Kurasa kecintaan Dayoung pada makanan manis memang diwariskan oleh ayahnya,” kata Joohyun sembari mulai menyuap kuenya sendiri.

Sehun menyukai makanan manis. Soojung berjanji akan mengingat fakta itu baik-baik.

“Kau lihat saja, anak ini tidak akan mau bicara sampai kuenya habis,” beritahu Joohyun. Wanita itu menjeda bicaranya sejenak untuk memandang Dayoung dan menggelengkan kepala dengan ekspresi agak berlebihan. Penuh sayang, ia menggerakkan tangan untuk menyeka krim yang menempel di sudut bibir anaknya. Seperti yang ia bilang, anak itu benar-benar tidak tidak mengatakan apapun. Perhatiannya hanya tertuju pada kue berlapis krim vanila di atas piring. “Untuk satu hal ini,” ujar Joohyun lagi, “aku juga harus menyalahkan ayahnya. Bagaimana mungkin makan bersama orang lain tanpa mengobrol sama sekali sampai makanan habis? Apa menurutmu itu masuk akal? Apa ia tidak mengerti bagaimana canggungnya berada di meja makan yang sama, menikmati sajian yang sama, tetapi tidak ada yang dibicarakan? Ah, aku kadang tidak habis pikir kenapa dulu jatuh cinta pada pria semacam itu.”

Sehun tidak suka berbicara saat sedang makan. Soojung menambahkan fakta itu dalam daftar hal yang harus ia ketahui mengenai Oh Sehun.

“Mata dan bibirnya—” ucap Soojung.

Mata dan bibir Dayoung memang seolah mengarbonkopi milik Sehun. Joohyun mengaminkan hal tersebut karena intonasi suaranya berubah saat menimpali ucapan Soojung.

“Kau benar. Semua orang yang mengenal kami juga berkomentar sama.”

Ada kerinduan serta cinta yang teramat besar di mata Joohyun kala itu.  Seakan-akan, ada potret seorang pria yang tiba-tiba hadir di benaknya ketika Soojung menyebut dua alat indra tersebut.

Meski tidak ingin, Soojung perlahan mulai membandingkan ekspresi Joohyun dengan dirinya. Ia menyukai Sehun, tentu saja. Namun apakah matanya akan berbinar penuh cinta saat membayangkan Sehun? Apakah kedua manik cokelatnya akan memancarkan sinar kompleks yang sama seperti yang hadir di mata Joohyun barusan? Soojung tidak tahu, dan ketidaktahuan itu terasa sangat mengganggu.

“Dayoung selalu membuatku merasa bahwa ayahnya tidak pernah meninggalkan kami.”

Meninggalkan. Satu kata itu menghantam benak Soojung kuat-kuat, menimbulkan sebuah rasa tidak mengenakkan yang dengan cepat menguasai pikirannya. Logika Soojung berkata hal itu seharusnya tidak perlu hadir. Ia adalah istri sah Sehun. Sudah seharusnya pria itu menghapus semua jalinan asmara dengan wanita lain.

Namun sebagai seorang wanita, nuraninya berkata sebaliknya. Kata meninggalkan seharusnya tidak terdengar begitu pedih. Joohyun mungkin tidak bermaksud membuat Soojung merasa bersalah. Soojung bahkan ragu lawan bicaranya menyadari kepedihan yang tersirat dalam suaranya kala ia mengucapkan kata itu. Tetapi bahkan tanpa sempat Soojung cegah, ucapan Joohyun sudah terlanjur mengakar di pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu pun tak pelak menghampiri benak Soojung.

Apa dulu kakek Sehun juga tidak tahu mengenai hubungan Sehun dengan Joohyun? Ataukah ia sengaja tidak menceritakan semua hal tentang hubungan asmara cucunya kepada Soojung? Apa pernikahannya dengan Sehun telah membuat pria itu melepas tanggung jawab terhadap Joohyun dan anaknya? Apa sebenarnya ia yang bersalah karena muncul di tengah-tengah kebahagiaan Sehun dan dua orang yang saat ini duduk di depannya?

“Aku tidak tahu kalau kau juga mengenal Junmyeon,” kata Joohyun lagi. Suaranya terdengar ceria. Kalau saja Soojung tidak terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia pasti menyadari bahwa keceriaan itu terkesan dipaksakan.

Joohyun menatap Soojung sambil tersenyum menyenangkan, tidak menyadari bahwa wanita berambut merah di depannya mengerutkan alis mendengar nama yang sangat asing tersebut. “Sehun memberitahumu, ya?” tanya wanita itu. Lalu, tanpa menunggu tanggapan dari Soojung, ia kembali berujar, menjawab pertanyaannya sendiri. “Ah, tentu saja. Bicara apa aku ini. Semua hal yang berhubungan dengan Junmyeon sudah dihilangkan dari kediaman Keluarga Oh sejak peristiwa itu. Dari mana lagi kau bisa tahu tentang dia kalau bukan Sehun yang bercerita.”

Joohyun dengan santai menyeruput jus jeruknya. Senyum ramahnya kembali merekah kala ia menyantap kue sembari menunggu Soojung menyahuti perkataannya.

Soojung berusaha mengingat apakah pernah mendengar nama Junmyeon sebelumnya. Nihil. Otaknya tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan nama itu.

“Siapa Junmyeon?” tanya wanita itu ketika ia akhirnya menemukan suaranya.

Kening Joohyun kontan berkerut. Agak bingung, ia menjawab, “Ayah Dayoung, tentu saja. Bukankah tadi kau membicarakan—oh, ya Tuhan!”

Ucapan Joohyun terhenti ketika sebuah kesadaran menghampirinya. Sendok di tangan kanannya terjatuh dengan dramatis, membuat Dayoung mengalihkan pandangan dari kue di piringnya. Anak itu menatap bingung ke arah dua orang dewasa yang tiba-tiba terdiam di dekatnya, kemudian memutuskan bahwa itu bukan sesuatu yang harus ia urusi. Gadis itu membantu ibunya memegang kembali sendok yang sempat terjatuh di atas meja, melirik sekali lagi ke arah Soojung yang tampak mengerutkan alis, sebelum kembali menyendok kuenya.

Joohyunlah yang menyudahi keheningan tersebut. Mata bulatnya memicing penuh curiga saat bertanya, “Kau tidak berpikir bahwa Sehun adalah ayah dari anakku, bukan?”

..

Minggu malam, dalam perjalanan kembali ke rumah, Sehun setengah berharap akan mendapati Soojung menunggunya di depan pintu seperti biasa. Pria itu sebetulnya masih belum tahu harus berbuat apa saat melihat istrinya nanti. Sebuah pelukan akan terasa canggung. Ciuman kasual di pipi juga mungkin agak berlebihan. Tetapi, akan lebih aneh lagi jika mereka hanya melakukan ritual seperti biasa. Bertukar senyum, sedikit basa-basi, serta kebersamaan tanpa obrolan rasanya tak lagi sesuai keinginannya.

Sepanjang akhir pekan, Sehun merasa ada perubahan dalam hubungan mereka. Tidak banyak, tentu saja. Sehun tidak akan membohongi diri dengan delusi kelewat tinggi. Namun ia tahu betul, jika perubahan tak seberapa banyak itu ia manfaatkan dengan baik, sebuah perubahan besar bisa saja terjadi.

Harapan Sehun menyusut saat turun dari taksi dan tidak menemukan sosok yang ia harapkan di depan pintu. Tidak ada Soojung yang duduk di kursi sembari menulis sesuatu di buku catatan kecil berwarna merah yang diduga Sehun sebagai tempat penyimpanan ide-ide mentah. Tidak ada Soojung yang setengah tertidur dengan kacamata miring dan rambut disimpul asal, serta buku pengantar kardiologi di pangkuannya. Tidak ada siapapun, dan hal itu menimbulkan denyut kekecewaan di hati Sehun.

Harapan tersebut semakin menciut ketika Sehun membuka pintu yang yang nampak olehnya adalah Bae Joohyun. Wanita itu terlihat santai berdiri di rumah peninggalan seseorang yang tidak pernah menerimanya sebagai menantu, seolah tak ada luka yang pernah ia peroleh saat terakhir kali menginjak rumah besar itu.

“Sepertinya kau mengharapkan orang lain yang membukakan pintu untukmu,” goda Joohyun.

Tampak sama sekali tidak ingin bercanda, Sehun bertanya, “Sedang apa kau di sini?”

to be continued

Advertisements

26 thoughts on “Begin Again – Chapter 7

  1. Akhirnya setelah sekian lama diup juga. Walau pendek aku tapi tetap senang. Semoga ini awal dari kebahagian sestal, amin. Gak apa-apa kalau mau dikasih cobaan apa aja asal sestal harus sama-sama, gak boleh pisah (maksa). Joohyun baik yah. Untung aja joohyun peka jadi soojung gak salah paham tentang dayoung dan dirinya. Dayoungnya gemesin. Langsung ngebayangin gimana dayoung ngira kalau soojung itu ariel kkk. Iya soojung ariel dan ericnya sehun. Chap ini bisa ngusir sekian % kegundahan hatiku karena MAMA malam ini. Keep writing kak. Ditunggu terus loh, ngilangnya jangan lama-lama yah kak, semangat💪💪💪💪

  2. akhirnya update! dan finally, yes, finally, semua kesalah pahaman terjawab. kenapa Joohyun selalu dijaga sama Sehun, kenapa Sehun sayang banget sama Dayoung. ah pokoknya seneng deh udah gak ada salah paham soal Sehun yang punya ‘anak dari wanita lain’. suka juga sama sikap Krystal yang kepala dingin, gak emosi. nah udah ginikan enak di Krystal dan Sehun juga. *sigh* sooooo yaudah lah SeStal berhenti gengsi dan tingkatin(?) hubungan kalian!

  3. Sepertinya ini akan jadi awal yang baru buat mereka. Semoga dari sini hubungan mereka jadi lebih baik lagi. Aku menunggu cerita di balik hubungan sehun-joohyun-junmyeon. Aku udah ada beberapa bayangan tp gak tahu mana yang mungkin bakalan jadi kenyataan. Kenapa joohyun ada di rumah sehun? Semacam acara makan malam untuk merayakan sesuatu kah? Next chapt please asap ya kak? 😉

  4. aduuuhhhh gillaaaaaa kenapa aku baru nemu cerita ini astaga……… jujur aja ceritanya bagus banget. ternyata dayoung bukan anak sehun yaass. suka suka suka suka. penasaran sama lanjutannya, update nya jangan lama-lama dong thor seneng banget nih wkwkkwk

  5. Akhirnya apdet jugaaaa!! Weekend aku ngilang gak buka wp dan kamu malah apdet, kak. Aku merasa gagal krn biasanya selalu baca dan komen cepat 😭😭
    Dan akhirnya salah paham antara mereka berhasil diurai. Aku masih pengen hubungan masa lalu joohyun dan sehun dan junmyeon. Chapter depan mungkin bakal fokus buat bahas itu dulu kali ya? Tp bolehkah aku berharap akan ada moment sestal yang manis manis gitu? Kan udah kelar semua masalah antara mereka 😏😏😏😏

  6. Yeyyy kamu update setelah sekian lama…sekarang udah jelas masalah joohyun ama doyoung, masalah seulgi gimana? Aku harap hubungan sestal bisa ada lebih berkembang dan lebih greget wkwkwk…semangat yah

  7. Ih sehun mah gitu.. Pulang-pulang ngarepin soojung nungguin tp ketemunya malah sama joohyun jadi kesel deh. Hahaha. Okay kesalahpahaman ttg sehun punya anak akhirnya dijelaskan. Tapi kok ada joohyun segala di rumah sehun? Diundang makan malam buat syukuran kah? 😂😂

    1. MAKAN MALAM BUAT SYUKURAN!!! entah kenapa aku ngakak baca ini. di komentar lain ada yang bahas ini juga, tapi dia cuma bilang buat ngerayain sesuatu. syukuran adalah kosakata yang mendadak terasa lucu karena disangkutin sama ff koriyah

  8. Di saat kesalahpahaman sehun dan krystal bikin orang gemes menjurus sebel, salah pahamnya dayoung malah bikin aku gemes pengen mengadopsi dia jadi keponakan. Lucu banget pasti punya anak kecil cerewet dan manis kaya dia. Chapter depan dayoung dimunculin lagi dong… #teamdayoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s