Begin Again – Chapter 6

wallpaper2you_519993_副本

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5

..

Soojung menjalani akhir pekan dengan perasaan tak menentu.

Sabtu pagi, ia terbangun karena ponselnya berbunyi. Rasa kantuk dan malas membuatnya ingin mengabaikan raungan benda elektronik tersebut. Tetapi pemikiran bahwa telepon itu mungkin saja datang dari Sehun membuat ia dengan setengah sadar menyapukan ibu jari di atas layar ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga.

“Apa kau sudah punya kabar baik untukku?” tanya seseorang di ujung sambungan.

Harapan kecil yang menggantung di benak Soojung lagi-lagi sirna. Itu bukan suara suaminya. Pertanyaan semacam itu juga jelas tidak mungkin terlontar dari bibir Sehun. Tidak ada kabar baik yang mungkin muncul di antara mereka dalam waktu dekat.

Soojung menghela napas panjang dan membuka mata yang masih terasa berat. Ia duduk di atas sofa, meluruskan tubuh yang kaku akibat posisi tidur tidak mengenakkan, sekaligus mengumpulkan kesadaran sebelum memperhatikan nama yang tertera di layar lima inci dalam genggamannya baik-baik.

Suara maskulin yang terdengar di ujung sambungan adalah kepunyaan Kim Heechul, editor yang belakangan bertindak lebih cerewet ketimbang ibu tiri paling jahat.

“Kau menghubungiku sepagi ini untuk bertanya soal pekerjaan?” keluh Soojung.

“Apa aku menginterupsi sebuah kegiatan penting?” tanya Heechul. Nada menggoda dalam suaranya tidak bisa disembunyikan, dan Soojung langsung bisa membayangkan bahwa di seberang sana, lawan bicaranya tengah tersenyum jahil, entah karena memikirkan hal jorok macam apa.

Soojung mendengus. “Jangan memikirkan yang bukan-bukan,” kata gadis itu, memperingati. “Apa suaraku belum terdengar cukup sengau untuk memberi tahu bahwa aku baru bangun tidur?”

“Aku dan kekasihku biasa bermesraan saat baru bangun tidur,” timpal Heechul santai. Nada jahil itu belum hilang dari ucapannya.

Oppa, kau membangunkanku untuk membahas pekerjaan, bukan?”

“Ah, benar juga,” kata Heechul, tidak sadar kalau pertanyaan Soojung barusan terlontar agar pria 35 tahun itu menghentikan ucapan melanturnya. “Jadi, sudah sampai di mana perkembangan ceritamu? Deadline semakin mendekat, kau tahu.”

“Aku tahu,” tukas Soojung. Bagaimana mungkin ia tidak tahu jika pada pertemuan mereka sehari sebelumnya, Heechul mengulang-ulang kata itu seperti kaset rusak?

“Jadi?”

“Bukankah aku masih punya waktu tiga minggu sebelum tanggal rilis tiba?”

“Memang benar,” sahut Heechul. “Tetapi Krystal Jung yang kukenal selalu merampungkan semua pekerjaannya jauh sebelum tenggat waktu yang ditetapkan penerbit. Apa kau sedang ada masalah? Kemarin saja kau terlihat kurang fokus.”

Soojung memang ada masalah. Dua hari lalu ia mendapati Sehun terlihat begitu akrab bercengkerama bersama seorang wanita cantik dan anak kecil yang terlihat mirip dirinya. Kemarin, untuk pertama kali setelah tiga tahun, Soojung menginjak ruang kerja suaminya dan mendapati foto pernikahan mereka terpajang di salah satu sisi ruangan. Namun, itu semua bukan karena Sehun menyukai dirinya. Foto pernikahan mereka hanya alat untuk meyakinkan klien Sehun bahwa mereka mendatangi konsultan yang tepat. Semalam, suaminya tidak menelepon bahkan untuk sekadar mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Busan. Terakhir, kalimat setengah bercanda yang diucapkan Jongin di telepon, yang terus terngiang di telinga Soojung sampai ia tertidur, yang kembali bergaung di pikirannya begitu ia terbangun, yang berusaha ia abaikan namun terus saja menghantui benaknya.

Soojung tidak tahu harus menggunakan kata apa untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Kecurigaan dan kejenuhan akan sikap Sehun seolah bersekongkol untuk merusak suasana hatinya. Pernikahan yang ia jaga sekuat tenaga sekarang hanya satu fase menuju kehancuran, dan itu jelas merupakan sebuah masalah besar.

“Aku baik-baik saja,” dusta Soojung. Berusaha terdengar sesantai mungkin, ia berujar, “Sepertinya benar katamu kemarin, aku sedang kekurangan inspirasi.”

“Aku paham kalau kau seperti itu,” kata Heechul. Ada kepedulian dalam suaranya. “Seseorang dengan hidup sebahagia dirimu pasti sulit mengerjakan cerita yang bertema penderitaan. Kadang aku sampai berharap Sehun bisa cukup tega menyakitimu hanya agar ceritamu mengalir mulus.”

Soojung tertawa kering. Kim Heechul, satu lagi orang yang berpikir bahwa pernikahannya bergelimang kebahagiaan. Kalau di kantor Sehun ada sekretaris bernama Lee Sungkyung yang tanpa segan menyatakan rasa iri melihat hubungan atasannya dengan sang istri, Soojung mengenal seorang editor yang senantiasa mengelu-elukan pernikahan Soojung sebagai salah satu kisah teromantis yang pernah ia lihat. Sebuah kisah cinta yang lebih indah daripada novel mana pun yang pernah ia baca, katanya.

“Mau bagaimana lagi,” Soojung menanggapi, “kita harus tunduk pada selera pasar, bukan?”

Itu memang benar. Sesekali kantor penerbitan yang mengontrak Soojung mengizinkannya menulis novel yang betul-betul mengutamakan nilai kesusastraan—jenis novel yang temanya sedikit berat, cenderung membosankan, dan seringnya tidak terlalu laku. Namun, setiap industri selalu membidik pasar yang menjanjikan keuntungan terbesar. Dalam kasus Soojung, pasar itu berarti sekumpulan gadis muda usia 20-an yang mendambakan kisah cinta dengan akhir semanis madu tetapi konfliknya berliku dan kalau bisa menguras air mata. Untuk proyek terbarunya kali ini, Heechul secara khusus menuntut agar Soojung menyiksa tokoh utama sedemikian rupa sebelum memberinya kesempatan untuk menemukan kebahagiaan.

Hal tersebut bisa saja Soojung lakukan dengan cara instan. Menuliskan kisah rumah tangganya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi standar menyedihkan versi Heechul. Namun itu berarti, Soojung harus berusaha membayangkan sebuah akhir bahagia, sementara ia sama sekali tidak yakin apakah hal semacam itu akan benar-benar hadir dalam pernikahannya. Membayangkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang sama menyiksanya dengan menggantungkan harapan kosong.

“Itulah kenapa aku menyukaimu, Soojung. Kau selalu mengerti aku,” kata Heechul, yang kontan memutus rantai pikiran Soojung. “Jadi, kapan kira-kira aku bisa menerima surel berisi naskah darimu?”

Soojung menatap kertas yang berserakan di lantai serta laptop di atas meja kerjanya. Benda itu masih berkedip-kedip karena lupa dimatikan tadi malam. “Segera, Oppa.”

“Sebenarnya aku tidak menyukai jawaban ambigu seperti itu,” kata Heechul, “tetapi aku yakin kau tidak akan mengecewakanku.”

“Terima kasih. Kau pengertian sekali. Apa aku sudah pernah bilang bahwa kau adalah editor favoritku?”

“Aku hanya ingat kau pernah mengataiku cerewet.”

“Ya, kau memang cerewet, karena itu aku menyukaimu.”

Heechul tertawa terbahak-bahak. Pria itu memang selalu senang dipuji. “Dasar penjilat,” celanya, yang dibalas tawa ringan oleh Soojung. “Baiklah, akan kututup teleponnya agar kau bisa lanjut bekerja. Oh, jangan lupa sampaikan salamku kepada suamimu. Kapan-kapan kita harus makan malam bersama.”

Setelah Heechul mengakhiri pembicaraan, Soojung langsung beringsut dari sofa demi menengok kembali naskah yang ia telantarkan semalam.

Seperti kata Heechul, untuk proyeknya kali ini, kinerja Soojung memang menurun. Perhatiannya sering teralih. Akibatnya, studi karakter kerap terbengkalai. Alur cenderung tidak jelas. Riset yang ia jadwalkan selesai dalam sebulan malah memakan waktu jauh lebih lama dari harapan.

Semalam, setidaknya ia bekerja cukup baik. Satu bab terselesaikan nyaris tanpa kesulitan berarti. Ia dengan mudah menuangkan ide ke dalam kalimat-kalimat panjang yang kemudian berubah menjadi paragraf, lalu berakhir menjadi cerita sepanjang 39 halaman.

Soojung berniat merampungkan satu bab lagi sebelum memulai kegiatan rutinnya setiap Sabtu: ke pasar swalayan untuk belanja keperluan seminggu ke depan. Heechul mungkin akan cukup puas jika ia menyetor dua bab minggu ini.

Setengah jam berlalu, yang Soojung lakukan hanya mengetik dan menghapus. Jangankan melihat hasil ketikannya bertambah. Yang ada, ia malah merombak sebagian besar tulisan yang telah ia kerjakan malam sebelumnya.

Gadis itu berdiri untuk meluruskan punggung, kemudian berjalan mengitari meja dan memunguti kertas-kertas yang semalam ia biarkan berserakan di lantai. Kertas-kertas itu berisi konsep mentah yang ia kerjakan selama beberapa bulan terakhir. Soojung membaca ulang tulisan tangannya sendiri, berharap ada inspirasi yang bisa muncul dari sana.

Nihil.

Kata-kata Jonginlah yang justru kembali memenuhi pikirannya, menumbuhkan prasangka buruk yang menyiksanya tanpa ampun.

Jujur padaku, Soojung, apa kau benar-benar tidak pernah sekali pun berpikir bahwa suamimu ke luar kota demi menemui wanita lain?

Soojung mendesah putus asa, menatap kertas dalam genggamannya sekali lagi, lalu memutuskan mematikan laptop dan mengayun langkah gontai menuju kamarnya di lantai dua.

Gadis itu mandi tiga puluh menit lebih lama demi menenangkan pikiran. Otak liarnya ia pakai untuk mencari bermacam alasan untuk membantah kecurigaan Jongin semalam. Beragam skenario pun muncul. Sebagian konyol, sebagian lagi cukup masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil meredakan cemburunya.

Usai berpakaian, yang ia lakukan hanya berbaring di kasur. Gadis bermata indah itu menatap nelangsa langit-langit kamar tidur sembari menebak apakah ada orang bodoh lain di luar sana yang bisa begitu gundah hanya karena panggilan suara yang tidak kunjung datang, juga apakah ada istri lain seperti dirinya, yang untuk menghubungi suami sendiri saja ragu.

Selama ini Soojung memang tidak pernah menelepon Sehun duluan. Ia selalu takut telepon darinya akan mengganggu sang suami dan menyebabkan pria itu kemudian menghadiahinya dengan pertanyaan pendek yang diucapkan dengan nada cenderung datar namun selalu berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.

Terkadang Soojung berharap ia punya lebih banyak teman, seseorang yang bisa ia percaya untuk menampung semua keluh-kesahnya. Membagi isi hatinya kepada orang lain mungkin akan membuat perasaannya membaik. Sejauh ini, yang mengetahui betapa buruk keadaan rumah tangganya hanya Jongin. Namun, berbicara dengan pria itu tidak pernah benar-benar membantu. Yang Jongin lakukan tiap kali Soojung menyebut nama suaminya hanyalah menyuruh gadis itu bercerai.

Dulu, Soojung biasa berbagi cerita dengan sang kakak. Mereka memang sangat akrab. Sejak kecil, Sooyeon selalu berusaha melindungi Soojung, mengusahakan apapun agar adik kecilnya tersenyum. Beranjak dewasa, ia menyayangi Soojung dengan cara berbeda. Ia memberi ruang bagi Soojung untuk melakukan apapun yang adiknya inginkan, sekaligus mengusahakan agar terus ada setiap kali sang adik membutuhkannya. Sesibuk apapun ia, gadis yang lebih tua lima tahun dari Soojung itu selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan adiknya. Ada kalanya ia memberi nasihat bijak, namun seringnya ia hanya menertawakan penderitaan Soojung, menawarkan cokelat atau es krim, baru setelah itu Sooyeon mengungkapkan pendapat untuk membantu adiknya berpikir lebih jernih. Apapun itu, Soojung selalu terhibur karena apa yang dilakukan Sooyeon terhadapnya.

Sekarang, Soojung merasa enggan bercerita terlalu banyak kepada Sooyeon, apalagi perihal kehidupannya pasca menikah. Ia malu sekaligus iri kepada kakaknya. Mereka sama-sama menikahi pria pilihan sang ayah, tetapi Sooyeon berakhir begitu bahagia sedangkan dirinya … entahlah.

Sehun tidak pernah berlaku kasar kepada Soojung. Jangankan membentak, berbicara dengan nada tinggi pun tidak pernah. Pria itu lebih banyak diam sembari menatap istrinya dengan pandangan menilai, meninggalkan Soojung yang hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa makna dibalik sorot mata misterius tersebut.

Soojung menghela napas panjang berkali-kali, kemudian memutuskan mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan. Terapi belanja sama sekali bukan kegemaran Soojung. Berbeda dengan Sooyeon yang menjadikan suara gesekan kartu kredit sebagai penawar semua kegalauan, Soojung lebih suka melarikan diri pada buku atau musik menenangkan. Akan tetapi, dua hal itu jelas tidak akan mempan untuknya saat ini. Ia sudah mencoba melakukan hal serupa beberapa hari lalu, di hari ketika ia mendapati Sehun di toko mainan, dan hasilnya sama sekali tidak sesuai harapan. Jadi, ya, mengikuti hobi sang kakak mungkin tidak ada salahnya.

Ia keluar-masuk beberapa toko pakaian bermerek, mencoba beragam model baju dan tas, tertarik pada dua atau tiga barang, dan membeli semua barang itu tanpa tahu kapan akan menggunakannya.

Setelah kakinya pegal lantaran berkeliling selama berjam-jam, setelah ia menggesek kartunya belasan kali, setelah menghabiskan uang sampai kartu berwarna biru itu mencapai limit, perasaan Soojung tidak kunjung membaik. Bagasi mobilnya penuh oleh kantong belanjaan, tetapi hatinya tetap terasa kosong.

Di salah satu lampu merah yang dilaluinya dalam perjalanan kembali ke rumah, seorang wanita yang melintas di jalur penyeberangan menarik perhatian Soojung. Ia sama sekali tidak mengenal wanita itu, tetapi rambut merah serta dandanannya yang berani menumbuhkan sebuah ide di benak Soojung, menjadikannya mengurungkan niat untuk segera pulang.

Soojung membanting setir ke arah salon langganannya. Kaki wanita itu melangkah ringan melewati pintu masuk salon bergaya kontemporer tersebut. Salah seorang pegawai yang menghampiri langsung mengenalinya. Gadis berpenampilan eksentrik itu melontarkan senyum ramah kepada Soojung.

“Apa yang bisa kami bantu, Nona Jung?”

Soojung berkontemplasi sejenak. Ia melihat bagaimana wanita-wanita yang duduk berjejer di hadapannya terlihat begitu menarik dengan gaya masing-masing, lalu menjadi bingung sendiri memikirkan model rambut seperti apa yang akan ia pilih.

“Buat saja aku terlihat semencolok mungkin,” pintanya kemudian.

Gadis muda di depan Soojung tertawa. Sedikit basa-basi, ia berujar, “Itu terlalu ambigu, Nona. Kalau kau meminta pendapatku, penampilanmu yang sekarang pun sudah cukup untuk menjadikanmu tampil mencolok.”

Pandangan Soojung kontan beralih ke cermin besar yang menutupi sisi sebelah kiri salon. Ia memperhatikan bayangannya baik-baik. Hari itu, Soojung mengenakan sebuah blus putih sederhana yang dipadukan dengan jeans ketat hitam serta sepatu tumit tinggi berwarna serupa bajunya. Rambut cokelat panjangnya dibiarkan terurai sampai ke punggung. Tidak buruk, tetapi jika dibandingkan dengan wanita yang tadi ia lihat di lampu merah, penampilan Soojung terkesan terlalu sederhana.

Soojung berpikir, mungkin selama ini ia terlalu termakan kata-kata Jongin—dan orang tuanya, dan Sooyeon, dan kenalannya, dan para pembacanya, dan media—yang terus menyebutnya cantik, padahal ia sama sekali jauh dari kata itu. Mungkin itulah alasan hingga Sehun terus-terusan mengabaikannya. Ia tidak pernah terlihat cukup menarik hingga Sehun enggan mengajaknya pergi berdua. Di mata Sehun, Soojung mungkin tidak lebih cantik dari Kang Seulgi atau wanita berambut panjang yang tempo hari menemaninya di toko mainan, hingga pria itu tidak pernah memperlakukan Soojung selayaknya seorang istri.

Soojung sebenarnya cukup sering bereksperimen dengan penampilan. Namun, itu semua hanya sebatas padu-padan pakaian. Rambutnya kadang lurus, kadang berombak, tetapi warnanya tidak pernah cukup berani.

“Merah,” putus Soojung. “Aku ingin mengubah warnanya jadi merah. Modelnya terserah padamu.”

Pegawai itu mengangguk. Ia mempersilakan Soojung duduk di sebuah kursi kosong dan mulai menyiapkan peralatan. Sembari mengerjakan tugasnya, gadis muda yang memang sudah cukup akrab dengan Soojung itu bercerita mengenai banyak hal. Soojung berusaha menyimak dengan saksama, meski beberapa kali pikirannya melayang membayangkan seorang pria yang berada jauh di Busan.

Dua jam kemudian, rambut lurus Soojung sudah berubah menjadi agak bergelombang. Warna yang semula cokelat madu kini berganti merah. Gadis muda yang berdiri di belakangnya menatap pantulan wajah sang pelanggan dengan raut bangga, dan memang, Soojung pun mengakui bahwa gadis itu mengerjakan tugasnya dengan baik. Penampilan Soojung berubah drastis, sesuai yang ia harapkan.

Sayangnya, mengubah penampilan tidak serta merta mengubah suasana hatinya. Rasa tidak tentram itu masih saja hadir. Usai melakukan pembayaran, ia kembali mengecek ponsel, berharap ada satu panggilan atau pesan dari suaminya.

Layar benda selebar lima inci tersebut menampakkan pemberitahuan bahwa ada tiga pesan baru yang belum dibaca. Harapan pun kembali muncul di benak Soojung. Ia menggigit bibir, memicingkan mata sedikit, takut-takut menekan tanda amplop putih yang berkedip-kedip minta dibuka.

Secepat harapan itu datang, secepat itu pula ia lenyap. Tidak ada satu pun dari ketiga pesan itu berasal dari orang yang Soojung harapkan. Satu pesan datang dari ibunya, berisi ajakan berbelanja kebutuhan bayi untuk Sooyeon yang beberapa bulan lagi akan melahirkan anak kedua. Pesan selanjutnya dikirim oleh Heechul, lagi-lagi mengingatkan soal deadline. Terakhir—dan entah kenapa Soojung merasa tidak kaget melihat nama itu muncul di layar—ada Jongin yang mengirim sebuah foto dengan tulisan ‘This is how we do it down in Puerto Rico’ di bagian bawahnya.

Kalimat itu berhasil melahirkan senyum tipis di wajah Soojung yang sejak pagi tampak resah. Siapa yang akan menyangka bahwa Kim Jongin, salah satu dokter muda terbaik yang pernah bekerja di rumah sakit ayahnya, benar-benar terbang jauh ke seberang benua hanya demi melakukan sebuah hal konyol?

Soojung tahu betul dari mana Jongin mengutip kalimat tersebut. Sebuah lagu Latin yang pernah sangat terkenal sepertinya telah menjadi alasan bagi pria berkulit eksotis itu untuk mengunjungi Puerto Rico, bernyanyi sambil memukul gendang kecil, dan tentu saja, berpose sambil dikelilingi oleh wanita cantik berpakaian seksi.

Jari-jari Soojung bergerak mengetik pesan balasan.

Wanita berbaju biru di sampingmu terlihat cantik. Kenapa kau tidak mengajaknya berkencan? Oh, dan omong-omong, kau gila!

Tak lama setelah pesan itu terkirim, ponsel Soojung langsung berdering. Wanita itu melangkah memasuki sebuah toko kue yang terletak tepat di samping salon yang baru saja ia datangi sebelum memutuskan menjawab panggilan tersebut. Jongin melakukan panggilan video, jadi Soojung berpikir sudah seharusnya ia mencari tempat bicara yang sedikit lebih layak. Lagi pula, sejak pagi ia belum makan apapun. Bukan berarti ia akan berselera menatap makanan. Tetapi paling tidak, ia masih ingat bahwa perutnya tidak boleh kosong. Tidak ada orang yang akan memperhatikan, apalagi mengingatkannya meminum obat jika penyakit lambungnya kambuh.

“Apa yang terjadi pada rambutmu?” tanya Jongin begitu Soojung menerima panggilannya.

Suasana di belakang Jongin tampak temaram sekaligus gaduh, khas kehidupan daerah pesisir yang ramai dikunjungi wisatawan. Suara alat musik pukul serta nyanyian berbaur dengan gema percakapan dalam bahasa asing. Ditambah perbedaan waktu yang hampir setara setengah kali perputaran bumi, seharusnya di tempat Jongin sekarang waktu sedang menunjukkan pukul empat pagi.

Mengabaikan pertanyaan lawan bicaranya, Soojung berkomentar, “Sepertinya kau bersenang-senang di Puerto Rico.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Soojung,” kata Jongin. Nadanya sedikit tidak sabar. “Apa yang terjadi pada rambutmu?”

“Aku mewarnainya,” sahut Soojung enteng.

Jongin memutar bola matanya. “Aku tahu itu. Maksudku, kenapa?”

“Tidak ada alasan khusus.”

Jongin menatap curiga ke arah sahabatnya. Belasan tahun mengenal wanita itu, Jongin tahu betul bahwa selalu ada alasan khusus setiap kali Soojung mengubah penampilan secara drastis. Soojung pernah melakukannya beberapa tahun lalu. Mantan kekasih yang sangat ia puja menyukai wanita yang berdandan sedikit berani, maka Soojung pun mulai rajin menggaris kelopak matanya dengan eyeliner tebal serta menyapukan lipstik berwarna menyala yang membuatnya justru terlihat seperti wanita nakal. Ketika hubungan itu berakhir empat tahun kemudian, Soojung memangkas rambut panjangnya sampai sebatas leher sebagai wujud pelampiasan.

“Apa kau masih memikirkan kata-kata bodohku semalam?” tanya Jongin.

“Apa menurutmu rambut baruku terlihat aneh?” timpal Soojung, lagi-lagi mengabaikan pertanyaan sahabatnya.

“Kau selalu cantik dengan penampilan apapun, Soojung. Tetapi, kita sama-sama tahu bukan itu masalahnya sekarang. Mulut lancangku yang membuatmu seperti itu, ‘kan?”

Pelayan datang mengantar kue dan minuman pesanan Soojung tepat setelah Jongin menyelesaikan kalimatnya. Soojung menunggu pemuda berwajah murung itu menjauh sebelum kembali menatap layar ponsel dan menjawab, “Ini bukan karena kau, Jongin.”

Pria itu terlihat menghela napas putus asa. Ekspresi di wajah Jongin sungguh kontras dengan suara musik gembira yang mengalun di belakangnya.

“Hei, kau tahu,” kata Jongin. Sejenak, pria itu terlihat ragu, namun pada akhirnya ia tetap menyatakan apa yang saat itu melintasi benaknya. “Kalau Sehun tidak menelepon, kau selalu bisa menghubunginya duluan.”

Soojung menaikkan alis. “Apa kau benar-benar Kim Jongin?”

Pria itu tertawa kering. “Kita berpisah selama dua hari dan kau sudah tidak bisa mengenali wajah tampanku?”

“Bukan begitu,” kata Soojung, “aku hanya tidak percaya kau memberiku saran seperti itu. Biasanya kau langsung menyuruhku bercerai.”

Melihat Soojung menceraikan Oh Sehun mungkin adalah cita-cita terbesar Jongin sejak tiga tahun lalu. Namun, ia juga tidak ingin Soojung merana, apalagi jika itu terjadi karena kata-katanya. Jika pria itu diminta menuliskan hal-hal yang ingin ia lakukan, menyakiti hati Soojung pasti berada di urutan terakhir.

“Aku sama sekali tidak pernah berharap akan mengatakan ini, tetapi … telepon suamimu, oke? Tanyakan apa yang mengganjal di benakmu. Jangan biarkan kata-kataku meracuni pikiranmu hingga kau akhirnya bersedih sendiri. Biar aku yang menghajarnya nanti kalau memang ia berani mengabaikan panggilanmu.”

“Kenapa kau baik sekali kepadaku, Jongin?”

“Pertama, karena aku mencintaimu. Kedua, karena kau pantas memperoleh semua kebaikan di muka bumi. Ketiga, karena aku berharap kebaikan itu akan membuatmu mau menaikkan statusku dari sahabat menjadi kekasih,” jawab Jongin. “Astaga, Soojung, kita sudah mengenal begitu lama dan kau masih merasa perlu menanyakan itu?”

Soojung tersenyum. Dalam hatinya, ada begitu banyak ungkapan terima kasih untuk Jongin atas segala kepedulian yang pria itu tujukan kepada dirinya sampai saat ini.

“Anggap saja ini ungkapan rasa bersalah karena ucapanku semalam, oke?” kata Jongin lagi. Kali ini, ia terdengar lebih santai. Di layar ponselnya, ia melihat Soojung melontar seulas senyum tulus, jadi pria itu berkesimpulan bahwa perasaan Soojung sudah agak membaik. Nada bicara pria itu berubah menjadi gerutuan saat berujar, “Padahal aku menghubungimu karena ingin memamerkan kehidupan malam di Puerto Rico, tetapi kau malah membuatku jadi penasihat pernikahan.”

Soojung tertawa begitu renyah. Ada sesuatu dalam gerutuan Jongin yang sejenak membuatnya lupa bahwa beberapa saat lalu, hatinya gundah karena alasan yang boleh dikata tidak masuk akal. Soojung memberi waktu sekitar setengah jam bagi Jongin untuk memamerkan tempat liburannya, mengenalkannya pada Gaby—wanita berbaju biru yang sempat dikomentari Soojung saat melihat foto yang dikirimkan Jongin beberapa saat sebelumnya—kemudian mengakhiri sambungan untuk menghubungi Sehun.

Jam di atas pintu masuk toko menunjukkan sepuluh menit lewat dari pukul lima sore. Meski Soojung tidak begitu mengerti jenis seminar yang dihadiri Sehun kali ini, setidaknya ia cukup yakin acara tersebut sudah selesai. Menghubungi Sehun sekarang sepertinya bukan gagasan buruk.

“Hai, apa kabar?” kata Soojung. Tangan kanannya menempelkan ponsel ke telinga, sementara yang kiri mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan gelisah. Berbicara dengan Sehun selalu membuatnya gugup, entah kenapa. “Kau sudah sampai di Busan?”

Gadis itu mendengus sedetik kemudian, mencela pilihan kalimatnya sendiri. “Kau berbicara dengan orang yang kau temui kurang dari 24 jam lalu, Jung Soojung. Kenapa kau malah menanyakan kabar seolah kalian sudah terpisah selama puluhan tahun? Dan tentu saja ia sudah sampai di Busan. Memangnya jarak kota itu dari Seoul seberapa jauh, hah?” ujar gadis itu sembari menatap galak bayangannya di dinding kaca yang membatasi bagian dalam toko kue dengan trotoar. “Rileks, oke? Kau berbicara dengan suamimu sendiri, bukan penagih utang. Jangan takut, dia tidak akan me—”

“Soojung?”

“Oh, astaga!” seru gadis itu panik. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya ketika menyadari telepon sudah tersambung padahal ia belum selesai latihan. Kapan ia menekan tombol panggil?

“Kau baik-baik saja?”

“Huh? Hm, iya,” jawab Soojung gelagapan. Ia berdeham lantaran salah tingkah. Tangan kirinya mencengkram kuat sudut meja. “Bagaimana kabarmu? Kau sudah sampai di Busan?”

Gadis itu langsung mendesis begitu kalimatnya selesai. Dalam hati, ia memaki diri sendiri karena tidak mampu memikirkan kalimat pembuka yang lebih baik dari sapaan basi itu.

“Aku sudah sampai,” beritahu Sehun. Pria itu menjeda bicaranya sejenak, dan Soojung sudah mempersiapkan satu alasan payah seandainya sang suami bertanya kenapa ia menelepon. Namun, apa yang Sehun katakan kemudian ternyata jauh berbeda dari apa yang Soojung perkirakan. Suara pria itu tidak setenang biasa kala berkata, “Sungguh kau baik-baik saja? Suaramu terdengar seperti orang yang sedang kesakitan.”

Soojung mendapati diri menyunggingkan bibir. Ada sesuatu yang merekah dalam hatinya karena ucapan Sehun barusan. Gadis itu bahkan merasa perlu menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan diri bahwa apa yang ditangkap indra pendengarannya barusan tidaklah keliru. Ia baru saja mendengar kepedulian dalam suara pria itu. Benar, ‘kan?

“Kau … mengkhawatirkanku?” tanyanya. Soojung paham betul pertanyaan itu hanya akan membuatnya terdengar seperti orang tolol. Lagi-lagi, ia mempermalukan diri di depan suaminya. Soojung tidak peduli. Ia merasa harus menanyakan itu.

“Apa kekhawatiranku beralasan?”

Senyum Soojung merekah semakin lebar. Ia memang mengharapkan sebuah kata iya yang lugas, tetapi pertanyaan Sehun barusan juga sudah cukup baginya. Beberapa hal memang lebih baik diungkapkan secara tersirat, bukan?

“Tidak,” jawab Soojung ceria. “Aku baik-baik saja.”

“Baguslah kalau begitu.”

Lalu hening yang familiar itu datang lagi. Soojung memotong-motong kue wortel pesanannya tanpa niat, menjadikan kue cantik berhias krim keju dan stroberi itu tampak seperti makanan sisa.

Soojung tidak tahu apa yang dilakukan Sehun di seberang sana, tetapi sepertinya keheningan itu sama-sama mereka pakai untuk memikirkan bahan pembicaraan. Soojung juga tidak mengerti mengapa waktunya begitu pas, karena ketika akhirnya mereka menemukan sesuatu untuk dikatakan, baik Sehun atau Soojung mengutarakannya di saat bersamaan, dan isinya pun hampir sama.

“Aku meneleponmu semalam.”

“Aku menunggu teleponmu semalam.”

“Sungguh?”

“Benarkah?”

“Semalam teleponmu sibuk,” beritahu Sehun. “Kupikir kau mungkin sedang berdiskusi dengan editor yang kau ceritakan saat kita makan siang kemarin.”

Sebenarnya, yang semalam menelepon adalah Jongin, tetapi Soojung menelan pemberitahuan tersebut sebelum meluncur dari bibirnya. Wanita itu tidak ingin merusak hal baik yang tengah terjadi dengan menyebut nama pria lain.

Soojung mulai menyendok kue di atas piring kecil yang tersaji di depannya sembari menimbang harus mengatakan apa lagi. Ia masih belum ingin pembicaraan ini berakhir, namun ia juga enggan membahas perihal telepon semalam lebih lama lagi.

“Kau sedang apa sekarang?”

Soojung menggigit bibir bawah seusai pertanyaan itu terlontar. Satu lagi kalimat bodoh terlahir dari otaknya yang gagal kreatif.

“Aku masih berdiri di depan ruang seminar, mengobrol denganmu.”

“Apa aku mengganggu?”

“Sama sekali tidak,” jawab Sehun lugas. Mengalihkan pembicaraan, pria itu balik bertanya, “Bagaimana perkembangan novelmu?”

“Cukup baik. Aku bisa menyelesaikan hampir dua bab semalam.”

“Itu bagus.”

“Ya, kurasa juga begitu.”

“Soojung,” ujar Sehun, membuat wanita yang namanya disebut langsung berhenti mengunyah potongan kue ke dalam mulutnya. “Kalau malam ini aku menelepon, apa itu akan mengganggu pekerjaanmu?”

Soojung merasakan dorongan untuk segera menelan kuenya. Makanan itu entah kenapa terasa berbeda. Apa mungkin gula dalam kue yang ia makan tidak teraduk rata? Karena potongan terakhir jelas lebih manis dari sebelumnya.

“Tidak,” jawab Soojung kelewat bersemangat. Ia berdeham, mengatur volume suaranya agar turun sedikit, kemudian berujar dengan lebih pelan, “Maksudku, tidak. Sama sekali tidak.”

Ada jeda sejenak sampai suara tawa Sehun terdengar. Bukan tawa terbahak-bahak seperti yang biasa dilakukan Jongin, tetapi bagi Soojung itu sudah lebih dari cukup. Sehun tertawa, dan itu karenanya.

Maka hanya seperti itu. Suasana hatinya yang keruh langsung berubah hanya karena kata-kata sederhana dari Sehun.

Mereka mengobrol lebih lama lagi. Namun, tidak ada keheningan panjang seperti yang biasa hadir setiap kali Sehun meneleponnya. Soojung takjub bagaimana mereka bisa begitu santai membicarakan cuaca Busan yang panas serta kerang hijau yang jadi hidangan utama saat Sehun makan siang di hotel, seolah dua hal itu adalah topik paling menarik di dunia. Pembicaraan itu ditutup setengah jam kemudian lantaran baterai ponsel Soojung sudah berulang kali memberi peringatan untuk diisi.

Soojung meletakkan benda elektronik yang nyaris kehabisan daya itu di atas meja sembari tersenyum kelewat lebar. Ia menyantap sisa kue di atas piringnya dengan perasaan bahagia.

Yang tidak Soojung ketahui, di antara sekian banyak hal yang tadi diucapkan Sehun kepadanya, terselip satu kebohongan. Seminar yang diikuti pria itu sama sekali belum selesai. Sehun meninggalkan ruangan empat puluh menit lebih awal untuk mengangkat telepon darinya. Hal lain yang juga tidak Soojung ketahui adalah fakta bahwa di seberang sana, Sehun menutup telepon dengan senyum yang tak kalah lebar.

to be continued…

Advertisements

38 thoughts on “Begin Again – Chapter 6

  1. Terima kasih udah buat sestal moment walau hanya via telepon. Mereka, sestal aku benar-benar sayang mereka dan karena kakak udah buat cerita tentang mereka, aku benar-benar bersyukur banget. Kadang aku bingung mau komen apa tentang cerita ini. Sama sekali gak ada kekurangan. Selain 👍👍 buat cerita ini, yang bisa aku minta hanya buat sestal bahagia bersama. Itu aja. Btw chap ini buat aku benar-benar bahagia. Pokoknya senang banget liat sestal sweet sweet gitu. Sekali lagi terima kasih kak atas chap ini. Ditunggu selalu lanjutannya. Maaf atas ungkapan bahagiaku yang kelewat panjang ini. Efek sestal hardshipper akut. Semangat kak💪💪💪💪

    1. Kamu cepet bgt komennya. Haha.. Sama-sama. Aku juga seneng kok nulis cerita ini. Ini cerita bersambung pertama yg kutulis setelah sekian lama vakum nge-ff, jadi semua hal ttg cerita ini berasa lebih personal aja. Doain aku ga kambuh lagi malesnya. Pengen bgt bisa update chapter baru pas ultah soojung minggu depan 😊😊

      1. Aku cepat kalau menyangkut sestal. Lagian karena kakak udah janji mau update malam ini jadi aku tungguin dan langsung komen setelah netralin perasaanku yang terlalu bahagia. Dan Amin, semoga penyakit malasnya kakak pergi jauh-jauh biar bisa fast update hehehehe

  2. Makin ke sini aku ngeliat makin banyak moment manis. Belum sebanyak harapanku sih, tapi utk ukuran penikmat angst spt kamu kak, ini udah kehitung banyak. Hahaha… Curiga problem menulisnya soojung di chapter ini diambil dr kisah nyata penulisnya. Eh apa jangan2 keseluruhan cerita ini malah diambil dr kehidupan pribadi kakak? Soojung/sehun dibikin lbh tua dr umur sebenarnya kan? Jadi seumuran kakak gitu?

    1. Aku masih 27 dan belum nikah woiiii… Amit-amitlah punya pernikahan macam ini. Biarpun kalo suaminya cakep kaya sehun, aku rasa ga bakalan amit-amit amat sih 😂😂

      1. Eh, kakak masih online? Biasanya abis ngepost udah langsung ngilang. Hehe… Mau suami kayak sehun apa donghae nih jadinya?

        1. Masih. Lagi bosen, jadi lama-lamain ngeblog. Yang kaya donghae dong… Tapi kalo dapatnya yang mirip sehun, aku cuma bisa pasrah. Aku kan ga bisa menentang takdir tuhan 😎😎

  3. NAH GITU DONG! Kalo ngomong langsung kan enak. Ke depannya mesti ngobrol lebih akrab lagi. Bolehlah awal-awal bahas yg remeh dulu, ntar sehun pulang, kangen-kangenan, trus saling mengungkapkan isi hati deh. Sayang-sayangan deh. Hoho.

  4. aku merasa pengen nge ciye-ciyein mereka. soojung kalo bahagia bisa lebay juga ya. wkwkwk. abis telponan aja makan kue langsung berasa manis, apalagi kalo abis diromantisin 😊😊

  5. aku iseng nyari tau lirik lagu yang ditulis jongin di foto yg dia kirim ke soojung, dan langsung ngakak ngebayangin dia jauh-jauh ke puerto rico cuma buat nge-despacito. pantesan aja soojung bilang jongin itu konyol, ternyata emang beneran. niat banget sumpah 😂😂😂😂
    lama-lama aku jatuh cinta juga nih sama karakter jongin. dia kayaknya sayang banget sama soojung. selalu nyuruh soojung cerai tapi giliran soojung galau beneran dia malah yg ngedorong supaya soojung mau berinisiatif hubungin sehun duluan. trus yang pas soojung nanya kenapa jongin baik bgt ke dia, ya ampun… satu hal kak yang aku minta (berhubung sptnya akhir bahagia sudah byk direquest sm reader lain), tolong jangan bikin nasib jongin kayak second lead di kebanyakan drakor. kasih dia akhir bahagia juga.

    1. jatuh cinta aja.. cowok kaya jongin emang layak dicintai kok. cuma soojung aja tuh ga nyadar-nyadar (well, irl dia nyadar sih. haha)
      dan yup, itu memang potongan lagu despacito. terima kasih udah mau repot-repot ngegoogling. aku sama sekali gak ngarep ada reader yang bakal kepo sama part itu *terharu*

  6. Kirain soojung ke salon buat adegan potong rambut, taunya mau ganti warna. Tapi soojung dan rambut merah malah berasa kaistal ga sih? Yang pas pink tape apa red light gitu, yang ada foto soojung nyender di bahu jongin buat foto teaser(?), rambutnya merah kan? Aku lupa-lupa ingat, males ngegoogling, tapi iya ga sih?
    Anyhow… Aku suka perkembangan hubungan mereka. Sebenarnya utk hitungan ff yg chapternya ga banyak (itu kalau kamu beneran ga khilaf bikin cerita ini lebih panjang dr perkiraan, which I greatly not sure you’ll really do 😂😂), chapter 6 dan interaksinya masih kayak gini tuh hitungannya alurnya agak lambat. Though aku juga ga yakin bakalan suka kalau interaksi mereka jadi lebih intens dlm sekejap. Jadi… Aku ini reader problematic sebenarnya 😂😂😂 Overall, and as usual, chapter selanjutnya selalu ditunggu! Semangat!! 💖

    1. hanna, let me kiss you pleaseeee.. I love your thoughtful comment like ugh girl, how could you make me so happy only by reading your comment. yup, soojung dan rambut merah emang berasa bgt feeing kaistalnya gegara teaser buat pink tape. but guess what, i dont care and i believe we share similar idea. hoho… aku punya misi sekarang: bikin rambut merah soojung ngingetin kamu sama sestal *wink*

  7. Kakak!!! Aku gemes segemes-gemesnya sama chapter ini! Bukan karena sestalnya (well, mereka juga unyuk sih) tapi karena jongin sepertinya bakalan bikin aku menderita second lead sindrom. Aku pengen banget liat sestal bahagia, tapi aku juga gak mau liat jongin sedih 😢

  8. Kenapa aku baru nemu ff sestal sebagus ini sekarang?? Bukan hanya sestal tp haesicanya… hari sabtu/minggu sekitar tiga minggu yang lalu aku sempat baca semua ff disini setelah gak sengaja baca begin again chapter 4 dan gravity chapter 1 (lupa hr apa) but maaf baru komen sekarang.. aku maunya baca semua dulu baru komen 🙂

    1. yatuhan gravity T_T aku merasa bersalah bgt sama yang keburu baca cerita itu. gak tahu kenapa aku selalu gak mood buat ngelanjutin. haha.. tp terima kasih udah baca cerita lain juga. semoga kamu suka sama semua ff di blog ini 🙂

  9. yaampun soojung!! galau udah kebangetan, terus cuma gegara abis telponan langsung jadi bahagia begitu. gimana kalau dia sampe tahu selama ini sehun juga diam-diam kangen sampe susah tidur kalau udah jauhan sm dia 😏😏 kak, next chapter buruan diupdate juseyooo…

  10. Kak, chapter selanjutnya wajib banget dipublish asap!! Aku punya feeling kalau chapter 7 bakalan lebih banyak moment sestal yg bahagia kayak gini. Gila ya, aku baru disuguhi moment mereka telponan dan bahas hal random aja udah bahagia, gimana kalau lebih. Please kak pleaseeeee…. Chap 7 juseyongggg *insert emotiomcon lucu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s