Begin Again – Chapter 4

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3

..

Pertemuan pertama Sehun dan Soojung terjadi atas nama kencan buta. Sejak mengetahui bahwa hubungan cucunya dengan Kang Seulgi telah kandas, kakek Sehun seolah tidak pernah jenuh mencarikan calon jodoh potensial untuk cucunya. Setidaknya temui dulu gadis itu, kata pria tua tersebut setiap kali ia menunjukkan foto calon menantu pilihannya. Maka Sehun, sebagaimana layaknya cucu tunggal yang dididik untuk senantiasa patuh, selalu mengikuti keinginan kakeknya meski ia sama sekali belum berminat mencari kekasih baru.

Calon pertama bernama Choi Jinri, seorang model yang menjadi brand ambassador dari produk kecantikan yang dipasarkan oleh perusahaan kakeknya. Cantik, berpenampilan menarik, terkenal. Kakeknya bilang, pernikahan mereka akan menjadi batu loncatan bagi karier Sehun yang ketika itu baru dirintis.

Usia Jinri hampir sama dengan Sehun, tetapi menurut Sehun kelakuan gadis itu kelewat kekanakan. Di kencan pertama mereka, Jinri berpakaian layaknya orang dewasa—terbuka, berani, mengundang—namun dari caranya bersikap, Sehun bisa langsung menarik kesimpulan kalau menjalin hubungan dengan Choi Jinri kelak hanya akan mendatangkan masalah baginya. Pertemuan mereka hari itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya.

Calon kedua bernama Son Seungwan, seorang dokter bedah plastik yang pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan kakek Sehun. Seungwan, di mata Sehun, adalah gadis cerdas dengan kepribadian menyenangkan. Di pertemuan pertama mereka saja, ia sudah bisa dengan begitu santai melontarkan kelakar-kelakar payah yang anehnya justru membuat Sehun betah mengobrol dengan gadis itu selama berjam-jam.

Percakapan panjang yang mereka lakukan di restoran yang ditunjuk kakek Sehun sebagai lokasi kencan buta membuat pria itu berani mengatakan bahwa Seungwan bukan pilihan yang buruk. Gadis itu paling tidak akan menjadi teman yang menyenangkan baginya. Mereka memiliki banyak kesamaan selera. Bersama Seungwan, Sehun merasa tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Buku, film, makanan, sampai isu politik bisa mereka obrolkan tanpa lelah.

Setelah pertemuan pertama itu, Sehun dan Seungwan semakin sering bertemu. Kakek Sehun bahkan sudah berulang kali mendesak agar cucunya segera melamar gadis itu. Sehun tengah mempertimbangkan permintaan kakeknya ketika mantan kekasih Seungwan muncul dan merusak segalanya.

Sambil memasang wajah menyesal, Seungwan mengatakan bahwa ia memutuskan memberi kesempatan kedua kepada mantan kekasihnya. Sehun menerima keputusan itu dengan hati terbuka, namun kakeknya jelas kecewa. Selama berhari-hari, pria berambut keperakan itu terang-terangan mengatai cucunya terlalu lamban mengambil langkah. Beragam pengandaian ia lontarkan di setiap kesempatan, hingga akhirnya ia lelah dan mulai mencari calon lain.

Pilihan kemudian jatuh pada anak bungsu keluarga Park, kolega bisnis kakek Sehun selama berpuluh-puluh tahun. Gadis yang memperkenalkan diri dengan nama Sooyoung itu merupakan jaksa muda yang bertugas di pengadilan negeri Seoul. Cantik, ceria, bersemangat, tetapi sayangnya langsung menolak Sehun bahkan sebelum pria itu sempat mengucapkan apa-apa.

“Aku sudah punya kekasih. Orang tuaku belum tahu, karena itu mereka menyuruhku datang ke sini. Kalau kau tidak keberatan, maukah kau bilang pada kakekmu bahwa kau tidak menyukaiku? Maksudku … aku sebenarnya tidak suka ditolak, tetapi kurasa itu lebih baik untuk menjaga reputasimu.”

Sehun masih ingat senyum sungkan yang dilayangkan Park Sooyoung kepadanya hari itu, juga bagaimana ia menawarkan pertemanan sebagai ganti upaya perjodohan yang gagal karena dirinya. Sehun menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Berteman dengan seorang jaksa tidak pernah menjadi sebuah kerugian. Apalagi, pekerjaannya lumayan dekat dengan urusan hukum. Beberapa kasus yang ia tangani kadang berujung di meja hijau, karena itu punya kenalan seorang jaksa mungkin bisa membantunya mendapat pengetahuan lebih dalam tentang seluk-beluk dunia hukum. Pertemanan dengan Park Sooyoung terbukti berguna di kemudian hari, ketika Sehun menangani kasus yang akhirnya menjadi titik tolak kariernya sebagai konsultan pernikahan.

Setelah Park Sooyoung, Sehun melewatkan hampir setahun sampai kakeknya kembali menyodorkan satu nama. Selain karena kondisi pria tua itu memang sudah agak melemah—komplikasi penyakit yang ia derita semakin parah dari waktu ke waktu—Sehun juga sudah mulai sibuk melayani klien yang terus berdatangan seiring semakin populernya jasa biro konsultasi yang ia dirikan.

Kakeknya menelepon di suatu sore yang cerah. Tanpa halo, tanpa ucapan selamat sore, apalagi pertanyaan basa-basi semacam apa kabar?, pria tujuh puluh tahun itu meminta cucunya untuk datang ke salah satu panti asuhan yang terletak di kawasan sepi penduduk di pinggiran Kota Seoul.

“Aku yakin dia adalah jodohmu,” kata kakek Sehun menutup penjelasan.

Tanpa banyak bertanya, Sehun mematikan sambungan telepon dan memberi tahu sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal. Beberapa menit berselang, pria itu sudah mengendarai mobil membelah padatnya jalanan Seoul, menuju tempat yang disebutkan sang kakek.

Sepanjang perjalanan, Sehun tidak berhenti menduga-duga seperti apa gadis pilihan kakeknya kali ini. Ketika kakeknya menyebut panti asuhan, Sehun langsung berpikir bahwa waktu akhirnya telah mengubah sudut pandang pria tua tersebut akan arti ‘menantu potensial’. Masih jelas di ingatan Sehun bagaimana dulu kakeknya dengan tegas menolak Bae Joohyun sebagai cucu menantu hanya karena gadis itu berasal dari keluarga miskin. Kakeknya bahkan tidak segan memutus tali kekeluargaan hanya demi membuktikan bahwa ia betul-betul tidak rela melihat cucunya menjalin hubungan dengan gadis yang tidak sederajat. Sebuah keajaiban mungkin baru saja terjadi, hingga setelah berulang kali gagal menjodohkan Sehun dengan gadis-gadis dari keluarga kaya, sang kakek justru menemukan sosok yang ia cari dalam diri seorang gadis sederhana yang besar di panti asuhan.

Prasangka itu luruh sejam kemudian. Saat Sehun sampai di tempat tujuan dan bertanya di mana ia bisa menemui gadis bernama Jung Soojung, wanita paruh baya yang ia tanyai langsung menunjuk ke arah kerumunan di bawah pohon tua yang berdiri kokoh di depan bangunan kecil  bertingkat dua tersebut. Di sana, berdiri seorang gadis berambut panjang yang tengah asyik membacakan sebuah buku dongeng untuk anak-anak yang duduk mengelilinginya.

Sehun mengenal gadis itu dengan nama berbeda. Krystal Jung, seorang yang disebut-sebut media lebih layak menjadi artis dibanding penulis. Beberapa kali wajahnya muncul menghiasi halaman majalah dan portal berita online. Tajuk yang menyertai gambar gadis itu pun selalu bernada positif. Novel baru yang lagi-lagi meraih angka penjualan fantastis, gaya berpakaian yang menjadi panutan kalangan muda, kegiatan sosial di mana-mana. Belakangan, sebuah situs bahkan mengungkap kalau gadis itu adalah putri bungsu pemilik rumah sakit terbesar di Seoul.

Kalau kakeknya ingin mencari calon istri untuk Sehun, maka gadis itulah jawabannya. Ia memenuhi semua kriteria; cantik, terkenal, pandai, berasal dari keluarga terpandang, dan melihat bagaimana anak-anak itu dengan antusias menyimak cerita yang ia bacakan, sepertinya pilihan kakeknya kali ini juga adalah sosok menyenangkan.

Sehun berdiri di tempatnya, dalam diam memperhatikan bagaimana putri bungsu keluarga Jung bercerita dengan penuh penjiwaan. Ekspresi gadis itu berubah dari waktu ke waktu. Kadang ia terlihat menakutkan, kadang ketakutan. Kadang bahagia, kadang merana, tergantung dialog tokoh mana yang ia lakonkan. Beberapa kali, Sehun bahkan mendengar gadis itu bersenandung untuk membuat tokoh putri kerajaan dalam ceritanya terlihat lebih hidup. Suara gadis itu merdu, dan Sehun langsung berpikir bahwa artikel yang pernah ia baca memang tidak keliru. Soojung seharusnya menjadi artis. Ia piawai bernyanyi dan berakting.

Ketika Soojung menutup cerita yang ia bawakan, anak-anak yang sejak tadi mengelilinginya langsung ramai bertepuk tangan. Gadis itu membungkukkan tubuh, dengan jenaka menirukan gaya para penampil setiap kali selesai melakukan pertunjukan. Saat itulah, ia akhirnya menyadari kehadiran Sehun.

Soojung tersenyum canggung, nyaris salah tingkah. Senyum itu kemudian berubah menjadi lebih akrab beberapa saat kemudian, kala ia menunjuk anak-anak yang berkerumun di dekatnya, tanpa suara memberi tanda agar Sehun bersedia menunggu sedikit lebih lama. Sehun menjawab dengan sebuah anggukan pelan.

“Soojung datang setiap bulan untuk bermain dengan anak-anak di sini.”

Suara feminin itu membuat Sehun menoleh. Wanita paruh baya yang tadi menunjukkan keberadaan Soojung kepadanya berdiri di samping pria itu sembari memegang dua kaleng jus jeruk. Dia menyodorkan satu kepada Sehun. Pria itu menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

Melayangkan pandangan kembali ke arah Soojung yang saat itu tengah tertawa riang sambil menerima pelukan sayang dari seorang anak berpipi gembung, Sehun berkomentar, “Sepertinya semua anak mengidolakan dirinya.”

Wanita di samping Sehun mengangguk setuju. “Ia adalah gadis yang baik. Mudah sekali bagi orang untuk menyukainya.”

Sehun tidak tahu harus menjawab apa, karena itu ia memilih diam.

Hening sesaat, lalu suara wanita itu terdengar lagi. “Kau pria itu, ‘kan? Yang akan menikah dengannya?”

“Kurasa masih terlalu awal untuk menyebut pernikahan,” tukas Sehun. “Tetapi memang benar, kakekku berniat menjodohkan kami.”

Wanita di samping Sehun kembali mengangguk, sebuah gestur yang gagal tertangkap oleh indra penglihatan Sehun karena mata pria itu masih belum beralih dari Soojung.

Gadis itu kelihatan sudah menyelesaikan sesi berpamitannya. Satu per satu dari kerumunan itu meninggalkan Soojung. Sebagian berlari ke taman bermain sederhana di bagian sebelah kiri gedung, sisanya memilih langsung masuk. Ketika semua anak sudah pergi, Soojung melangkah ke arah Sehun sembari mengulas senyum bersahabat. Wajahnya terlihat ceria kala menerima jus jeruk dari wanita yang sedari tadi mengajak Sehun mengobrol.

“Kau membuat teman kencanmu menunggu lama, Nona Jung,” ucap wanita itu. Nada suaranya yang terkesan jahil, serta bagaimana Soojung menanggapi perkataan itu dengan kekehan ringan membuat Sehun bisa menyimpulkan bahwa keduanya lebih dari sekadar akrab. “Aku ada di kantor kalau kalian membutuhkan sesuatu,” ujarnya sebelum beranjak meninggalkan Sehun dan Soojung di halaman panti.

Angin sore yang berhembus sepoi mengisi keheningan singkat yang hadir sepeninggal wanita paruh baya tersebut. Sehun menoleh ke arah Soojung. Gadis itu tampak menyugar rambutnya yang sedikit berantakan akibat diterbangkan angin.

Jung Soojung seharusnya jadi bintang iklan sampo, pikir Sehun. Rambut bergelombang yang halus itu seharusnya dilihat oleh lebih banyak orang. Cara gadis itu menelusupkan jari ke sela-sela rambut cokelatnya harus diabadikan lewat video. Sudut pengambilan gambarnya harus beberapa inci lebih tinggi dari puncak kepala Soojung agar orang-orang juga bisa melihat bagaimana jemari lentik, bulu mata hitam, hidung lurus, dan bibir yang sedikit terbuka itu berpadu apik melukiskan kecantikan pemiliknya.

Atau tidak. Jung Soojung seharusnya tetap seperti itu. Menjadi penulis. Menjadi orang di balik layar. Membiarkan kecantikannya hanya bisa dinikmati orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat, rekan kerja, dan juga … suaminya, mungkin?

Sehun tertegun oleh fakta bahwa ia membayangkan dirinya sendiri ketika kata suami melintasi benaknyaAda aliran rasa hangat yang pelan-pelan menjalar menuju wajahnya. Berusaha mengabaikan hal itu, Sehun berujar, “Kuharap aku tidak mengganggumu, Nona Jung.”

“Soojung,” ralat gadis itu cepat. “Aku lebih suka dipanggil seperti itu. Dan tidak, kau sama sekali tidak mengganggu.”

Sehun mengulang, menyebut nama gadis itu dengan suara pelan—namun cukup agar bisa didengar oleh lawan bicaranya—kemudian melakukannya lagi berkali-kali tanpa suara, di dalam benak.

“Jadi…,” kata Soojung sembari memutar-mutar kaleng minuman dalam genggamannya, “kau mau pergi sekarang?”

Sehun terbiasa menjalani kencan buta. Meski kadang pasangannya membuat pria itu merasa tidak nyaman, pengalaman membuat Sehun bisa mengatasi semua hal dengan baik. Setidaknya ia selalu berhasil menyelesaikan setiap pertemuan tanpa disiram minuman—atau lebih parah, ditampar—seperti yang kebanyakan terjadi di dalam drama.

Namun, sepertinya hal demikian tidak berlaku bagi Soojung. Sehun tidak tahu sudah berapa banyak kencan buta yang dilakukan gadis itu sebelum pertemuan mereka, atau apakah gadis tersebut memang pada dasarnya pemalu. Melihat bagaimana jemari Soojung bergerak gelisah mempermainkan silinder berwarna jingga yang ia genggam, Sehun tahu gadis itu berusaha keras menutupi kegugupannya.

“Kau keberatan membawaku berkeliling di sekitar sini?” tanya Sehun. “Tempat ini sepertinya cukup indah.”

“Tentu saja tidak,” sahut Soojung. Bibirnya melengkung membentuk seulas senyum tipis. Matanya ikut tersenyum kala memberi tahu, “Ada padang rumput di bukit belakang tempat ini. Aku yakin kau akan menyukainya.”

Kemudian, Soojung mulai mengayun tungkai, menapaki bebatuan yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah jalan kecil yang mengarah ke bagian belakang panti asuhan. Sehun berusaha menyejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Mereka berjalan beriringan dalam diam, dan Sehun lagi-lagi menangkap bahwa Soojung memutar kaleng minumannya seperti tadi.

Hening membuat Soojung gugup, Sehun menyimpulkan.

Pria itu hendak mengatakan sesuatu, namun sebuah suara mendahuluinya.

Unnie, calon suamimu sangat tampan!”

Kala itu mereka berada di dekat taman kecil di mana beberapa anak tengah bermain ayunan. Celetukan nakal itu berasal dari salah seorang gadis berkacamata yang kira-kira berusia sepuluh tahun. Anak lain yang juga berada di tempat itu langsung ikut tertawa jahil, tidak peduli Soojung  sudah melotot galak kepada mereka, memberi peringatan.

Sampai bertahun-tahun berikutnya, Sehun masih tetap bisa mengingat dengan baik bagaimana ia berusaha keras mengatupkan bibir agar senyumnya tidak terbit kepalang lebar menyaksikan adegan itu.

“Kurasa semua orang di sini sudah tahu tentang rencana perjodohan kita,” canda Sehun.

Soojung mendesis, terlihat sedikit frustasi. “Sudah kuduga pertemuan di tempat ini adalah ide buruk.”

“Biar kutebak,” tukas Sehun, “kakekku mendesak agar kau mau menemuiku secepatnya.”

“Sebenarnya mendesak bukan istilah yang tepat,” kata Soojung. Ia menjeda ucapannya sejenak saat membuka pintu besi yang membatasi halaman panti asuhan dengan tanah lapang yang ditumbuhi banyak ilalang. “Aku hanya sedikit tidak siap.”

Soojung pasti sudah sangat sering ke tempat itu, pikir Sehun, karena begitu pintu terbuka, ia langsung tahu harus mengarahkan kakinya ke mana. Sehun mengikuti dari belakang, memperhatikan figur gadis itu kala melangkah lincah di atas jalan setapak yang berujung di puncak bukit.

Dengan santai Soojung duduk di atas tanah berumput tersebut. Ia menepuk area kosong di sampingnya, mengisyaratkan permintaan agar Sehun ikut duduk di sana.

Pria itu menurut.

“Kakekmu memang sudah sejak lama memberi tahu bahwa ia ingin mengenalkanku dengan cucunya,” ujar Soojung lagi, “tapi kupikir waktu itu ia hanya bercanda. Lalu tadi ia tiba-tiba menelepon, menanyakan keberadaanku. Dan di sinilah kau sekarang, ikut menjadi bahan ledekan anak-anak itu.”

Sehun terkekeh ringan. “Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dikatakan gadis kecil tadi,” beritahunya.

Soojung menatap Sehun seolah ucapan pria itu barusan merupakan hal yang luar biasa. Mulutnya terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu, namun sampai beberapa detik berselang, tetap tidak ada kata yang keluar. Gadis itu malah menunduk. Tangannya kembali mempermainkan kaleng minuman yang ia genggam.

Sehun membuka kaleng miliknya. Ia mengangkat benda itu sedikit lebih dekat dengan wajah Soojung, menunggu gadis itu menerima ajakannya untuk bersulang. Soojung memahami gestur tersebut. Ia ikut menarik besi ringan yang berfungsi menghalangi cairan rasa jeruk di dalamnya agar tidak tumpah. Ada bunyi kelontang halus yang muncul kala Soojung mempertemukan kaleng minuman miliknya dengan Sehun.

“Untuk pertemuan pertama kita,” ujar Sehun sebelum menenggak jus jeruknya.

“Untuk pertemuan pertama kita,” ulang Soojung dengan suara yang lebih pelan.

Mereka menikmati minuman itu tanpa berkata apapun selama beberapa saat. Sehun asyik memperhatikan ujung ilalang yang bergoyang ditiup angin sore. Cahaya jingga dari matahari yang perlahan bergerak turun mendatangkan suasana damai yang membuat hatinya terasa hangat. Aroma nostalgia seketika menghampiri benaknya.

Dulu—dulu sekali—ayah dan ibunya pernah mengajak ia bertamasya ke Jeju. Tidak jauh dari vila yang mereka tempati, terdapat padang rumput yang hampir sama persis dengan yang ia lihat sekarang. Luas, tenang, nyaman. Mereka menghabiskan sore dengan menunggu matahari terbenam di tempat itu. Sehun dan ayahnya berlarian menangkap belalang, sementara ibunya sibuk mengomel, mengingatkan agar mereka jangan sampai terluka. Sehun selalu ingat betapa bahagia ia saat itu, karena kenangan tersebut adalah kebahagiaan terakhir yang ia alami bersama kedua orang tuanya.

“Tempat ini indah,” kata Sehun. Tatapannya beralih dari rerumputan ke wajah Soojung. Tersenyum, pria itu menambahkan, “Terima kasih sudah mengajakku ke sini.”

Soojung mengangguk. Senyum yang tak kalah lebar dibanding yang diberikan Sehun tersemat di bibirnya. “Aku senang kau menyukainya,” ujar gadis itu.

“Kau sering ke mari?”

“Aku selalu ke sini setiap kali ingin menyendiri,” beritahu Soojung. “Kadang aku bisa menghabiskan waktu sehari penuh hanya dengan berbaring, mendengarkan musik, menatap langit sembari menunggu inspirasi datang.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Kau harus mencobanya suatu saat nanti. Berada di sini bisa membuatmu lupa waktu.”

“Akan kupertimbangkan,” kata Sehun seraya kembali mengalihkan pandangan ke arah matahari yang tak lama lagi tenggelam.

Lalu hening. Lagi. Bedanya, kali ini hening yang berlangsung terasa lebih nyaman. Pemandangan matahari tenggelam dan suara burung yang kembali ke sarang menjadi pengisi yang pas untuk keheningan itu. Satu hal yang disadari Sehun, sepanjang sisa sore itu, Soojung tidak lagi memutar kaleng minumannya.

Mereka meninggalkan padang rumput ketika hari berangsur gelap. Setelah berpamitan kepada pengurus panti dan anak-anak yang tinggal di sana, Soojung kembali ke kediamannya di pusat kota Seoul.

Gadis itu sebenarnya membawa mobil sendiri, namun Sehun bersikeras mengantarnya sampai ke depan rumah. Setelah cukup lama menimbang, Soojung memutuskan ikut dengan Sehun. Tak lupa ia menghubungi supir keluarga Jung untuk mengambil mobilnya nanti.

Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol banyak. Seperti Son Seungwan, Soojung sebenarnya merupakan seorang yang senang bicara. Bedanya, Seungwan kadang tidak butuh ditanya. Ia bisa begitu saja mengutarakan sesuatu. Sehun hanya butuh menanggapi sedikit, lalu percakapan antara mereka akan mengalir dengan mulus, nyaris tanpa jeda berarti.

Bersama Soojung, Sehun merasa perlu lebih berinisiatif. Ia harus lebih banyak bercerita—mengenai apapun selain hal yang ia rasa bersifat terlalu pribadi—serta melontarkan beberapa pertanyaan ringan untuk memancing Soojung berbicara. Lucunya, saat sudah berbicara, Soojung bisa terlihat seperti orang yang benar-benar berbeda. Gadis itu selalu menjawab pertanyaan singkat Sehun dengan penjelasan panjang yang hebatnya sama sekali tidak membuat Sehun merasa jenuh.

Soojung tahu betul ingin melakukan apa dengan hidupnya. Segala hal terencana dengan baik. Kesannya sedikit ambisius, tetapi juga masuk akal dan struktural di saat bersamaan. Sehun menyimak semua cerita gadis itu dengan saksama. Sesekali ia tertawa ringan. Kadang tanggapannya hanya sebatas anggukan pelan.

Di ujung perjalanan itu, Sehun tidak hanya tahu tempat tinggal Soojung, tetapi juga banyak hal soal dunia menulis. Riset, mengetik berjam-jam, kehilangan inspirasi, stres, mengetik lagi, adu pendapat dengan editor, pemilihan sampul, launching buku, promosi, seminar, bahkan sampai pajak royalti.

Sepertinya memang tidak salah Soojung menjadi penulis, pikir Sehun. Gadis itu adalah pencerita yang baik. Dan sepertinya juga tidak salah jika sebelum penulis itu masuk ke rumah besarnya, Sehun dengan cepat berujar, “Aku ingin mengunjungi padang rumput itu lagi suatu hari nanti. Bersamamu.”

Sehun tidak pernah benar-benar tahu bagaimana efek kalimat itu terhadap Soojung. Yang ia tahu, begitu kalimatnya selesai, Soojung langsung menoleh untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa panas. Sedikit salah tingkah, gadis itu menyugar rambut dan mengucap selamat malam, lupa bahwa Sehun baru saja mengajaknya untuk melakukan kencan kedua—di tempat favoritnya!—dan ia seharusnya memberi jawaban untuk ajakan itu.

Sekitar pukul sepuluh malam, kakek Sehun menelepon lagi. Sama seperti sebelumnya, pria itu juga tidak merasa perlu berbasa-basi. Begitu telepon tersambung, ia langsung bertanya, “Bagaimana, kau menyukainya?”

Harabeoji, bukankah seharusnya kau sudah tidur jam segini?”

“Nak, di usiaku sekarang, tidur cepat tidak lagi penting. Aku bahkan tidak tahu apakah masih bisa bangun besok pagi.”

“Kau akan sembuh,” kata Sehun. Kakeknya memang sudah tua. Bulan ini saja, pria itu sudah tiga kali dirawat inap di rumah sakit. Namun Sehun tetap tidak suka mendengar satu-satunya keluarga yang ia miliki berbicara mengenai kematian. “Kau harus sembuh agar bisa melihatku menikahi wanita pilihanmu.”

Di ujung saluran telepon, pria tua itu tertawa penuh kemenangan. “Jadi kau menyukainya, ‘kan?”

“Dia gadis yang menarik.”

“Tentu saja. Soojung adalah perwujudan semua hal yang kuinginkan dari seorang cucu menantu. Kau bodoh kalau tidak menyukai gadis itu,” ujar kakek Sehun. “Kapan kau akan melamarnya?”

Harabeoji, kami bahkan baru bertemu sekali. Apa yang akan dikatakan orang tua Soojung jika aku melamar anak mereka secepat ini?”

“Dasar bodoh! Kau pikir kenapa aku butuh waktu lama untuk mengenalkan Soojung kepadamu? Aku harus membujuk ayahnya dulu, tahu. Dan berhubung Tuan Jung sudah setuju, sekarang semua keputusan ada di tangan kalian. Ingat, aku bisa merana di kuburku kalau kau sampai mengulangi kesalahan seperti yang dulu terjadi dengan Dokter Son.”

“Apa aku sedang diancam?”

“Diingatkan,” ralat kakek Sehun. Pria itu terdengar menghela napas panjang sebelum menambahkan, “Nak, aku tidak tahu sampai kapan alat-alat canggih di rumah sakit ini bisa menyambung nyawaku. Satu-satunya yang membuatku tetap bertahan hanya keinginan untuk melihatmu bersanding dengan gadis baik-baik. Setelah itu, aku ikhlas kalau Tuhan ingin langsung mengirim malaikat pencabut nyawa kepadaku.”

Sehun adalah cucu penurut. Karena itu, saat bertemu Soojung beberapa hari kemudian, ia sudah menyodorkan cincin lamaran.

“Aku tahu ini agak gila,” katanya membuka pembicaraan. “Namun, aku sangat berharap kau mau memakai cincin ini.”

Bohong jika Soojung bilang ia tidak terkejut menerima lamaran mendadak tersebut. Setelah pertemuan pertama, Soojung memang sudah tahu bahwa mereka pada akhirnya akan sampai pada pembicaraan mengenai pernikahan, tetapi ia tidak menyangka semua itu akan terjadi begitu cepat.

Siang tadi, pria itu menelepon, mengajaknya makan malam. Soojung berpikir itu hanya ajakan biasa. Semacam kencan yang diisi obrolan santai untuk lebih mengenal pribadi masing-masing. Ketika pria itu muncul di depan rumahnya sambil mengenakan jas yang kelewat rapi untuk sebuah makan malam kasual, Soojung langsung mengerti ke mana acara kencan mereka akan mengarah.

Bukannya gadis itu tidak suka. Menurutnya, Sehun adalah pria baik. Ia mapan di usia relatif muda, berasal dari keluarga terpandang, dan penampilan fisiknya pun memukau. Berdiri di samping Sehun dan menyebut pria itu dengan sebutan suami sepertinya bukan ide yang buruk.

Soojung pernah menjalin hubungan dengan pria yang dicintainya setengah mati. Semua berjalan manis pada awalnya, namun hubungan itu kandas empat tahun kemudian. Mantan kekasihnya lebih memilih mengejar cita-cita, meninggalkan Soojung yang patah hati dan butuh waktu lama untuk menerima kenyataan.

Sejak saat itu, gadis tersebut tidak pernah lagi mendambakan pernikahan yang didasari oleh cinta menggebu. Baginya, menikah adalah perihal kerjasama, kesediaan menerima dan berkompromi dengan kekurangan masing-masing. Kasih sayang akan tumbuh seiring waktu, cinta akan datang sebagai bonus.

Ia sudah melihat bagaimana teori itu berlaku pada pernikahan kakak perempuannya. Dulu wanita yang lebih tua lima tahun dari Soojung itu menolak mentah-mentah perjodohan yang diatur ayah mereka. Tetapi setelah mencoba memberi kesempatan kepada pria pilihan sang ayah, kakaknya justru menjelma menjadi istri paling bahagia yang pernah Soojung lihat.

Bukankah orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk mendampingi anaknya? Sang ayah pernah memilihkan seorang pria baik untuk kakaknya, jadi Soojung percaya kali ini pun ayahnya tidak akan salah pilih.

Gadis itu menatap kotak perhiasan yang terbuka di depannya. Sehun tidak menawarkan cincin emas bertahta berlian kepadanya. Yang tampak di depan Soojung saat itu adalah batu kuarsa berwarna merah yang diikat oleh perak berkualitas rendah. Sebuah perhiasan sederhana—sangat sederhana—yang bisa dibeli dengan harga murah di toko tanpa nama.

“Ini bukan benda mahal, namun benda ini sangat berarti bagiku,” kata Sehun. Ia ikut menatap cincin dalam kotak beledu merah yang ia sodorkan kepada Soojung. Matanya sayu kala ia bercerita, “Saat masih merintis usaha, kakekku melamar wanita pujaannya dengan cincin terbaik yang bisa ia beli kala itu. Ibuku menerima benda ini tiga puluh tahun kemudian sebagai hadiah pernikahan. Dan karena sekarang ibuku sudah tidak ada, aku ingin menggantikannya memberikan benda ini kepadamu.”

“Aku tidak bisa memakai cincin itu,” ujar Soojung, yang kontan membuat Sehun mendongak. Pria itu memandangnya dengan ekspresi bercampur baur. Sedikit kecewa, lebih banyak pasrah. Namun sebelum Sehun sempat mengatakan apa-apa untuk menyuarakan isi hatinya, Soojung sudah lebih dulu mengulurkan tangan dan berkata, “Kau yang harus memakaikannya di jariku.”

Jung Soojung memang gadis penuh kejutan. Sehun jelas tidak pernah mengharapkan penolakan dari gadis itu, tetapi dia juga tidak pernah menyangka Soojung akan menerima lamarannya begitu saja.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Kau tahu itu, ‘kan?” tanya Sehun.

Soojung mengangguk. “Ini bukan keputusan terburu-buru. Percayalah.”

“Kau bahkan belum mengenalku dengan baik.”

“Jadi kau lebih suka aku menolak?”

“Kau tahu bukan itu maksudku.”

Ringan, Soojung menjelaskan, “Mampir ke ruang inap kakekmu untuk mendengar ia membanggakan betapa hebat cucu kesayangannya adalah bagian dari rutinitasku tiga bulan terakhir. Aku tahu cukup banyak tentang dirimu.”

Ekspresi Sehun melunak. Lugas, ia meraih cincin warisan ibunya dan menyematkan benda itu di jari manis Soojung. “Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal kepadamu,” kata Sehun, “tetapi aku bisa memastikan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Soojung tersenyum. “Itu sudah lebih dari cukup.”

..

Nyatanya, tidak pernah ada kata cukup dalam sebuah pernikahan. Status sebagai seorang istri membuat Soojung menjadi serakah. Bersama Sehun, Soojung berharap bisa mewujudkan semua adegan romantis yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bagian dari imajinasi yang ia tuangkan ke dalam novelnya. Ia berharap Sehun bisa berlaku manis, sama seperti kakak iparnya memperlakukan istrinya. Ia berharap Sehun rajin pulang lebih awal, agar mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Ia berharap Sehun menyatakan cinta kepadanya sekali saja. Ia berharap tidak pernah ada wanita lain dalam pernikahan mereka.

Tak ada satu pun dari harapan itu yang terkabul. Sehun memang menepati janjinya. Ia tidak pernah sekali pun berkata hendak meninggalkan Soojung. Namun, tidak jarang perbuatannya justru membuat Soojung ingin meninggalkan pria itu.

Sehun selalu mampu mempermainkan emosi istrinya. Sekali waktu ia membuat perasaan gadis itu melambung, namun tak lama kemudian ia dengan mudah menghancurkan semuanya. Sama seperti hari ini.

Setelah pintu ditutup, genggaman Sehun di tangan Soojung pun terlepas. Rasa hangat yang sempat dirasakan gadis itu hilang tanpa peringatan, menyisakan perasaan kosong yang familiar. Soojung bertanya-tanya ke mana perginya pria yang beberapa saat lalu memperlakukannya dengan begitu manis di depan Nona Lee. Apakah itu semua hanya sandiwara agar orang-orang semakin meyakini betapa bahagianya pernikahan mereka? Apakah penilaian orang lain sebegitu pentingnya bagi Sehun?

Tanpa berkata apa-apa, pria itu melangkah menuju meja kerjanya dan meletakkan kotak makan siang yang dibawa Soojung di dekat laptop yang masih menyala.

Soojung ikut mengayun tungkai menuju meja besar tersebut, tapi matanya tidak tertuju ke sana. Perhatiannya tercuri oleh sebuah rak tinggi di salah satu sisi ruangan, tempat Sehun memajang semua piala dan piagam penghargaan yang ia peroleh selama berkarier sebagai konsultan. Rak kayu berpelitur indah itu mungkin baru dibeli, mungkin juga sudah lama berada di sana, Soojung tidak tahu. Ia memang tidak pernah benar-benar tahu bagaimana keadaan ruangan di mana sang suami menghabiskan lebih dari setengah waktunya dalam sehari. Terakhir kali Soojung menginjak ruang kerja Sehun adalah di hari ketika ia mendapati pria itu mencium Kang Seulgi. Setelahnya, perjalanan Soojung mengantar makanan untuk Sehun selalu berakhir di meja sekretaris. Karena itu, ketika akhirnya ia mendapati bahwa foto pernikahannya terpajang manis di antara deretan piagam yang diletakkan Sehun di baris kedua rak tinggi tersebut, sebuah harapan kembali terbit di lubuk hatinya.

Mungkin, selama ini ia sudah salah sangka kepada suaminya. Mungkin, selama ini ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dulu, dengan Kang seulgi, mungkin ia hanya salah paham. Kemarin, di toko mainan, mungkin ia hanya salah mengenali orang. Suaminya tidak pernah bermesraan dengan wanita lain. Suaminya tidak pernah punya anak dari wanita lain. Sama seperti Soojung, Sehun juga menghargai pernikahan mereka. Pria itu mungkin mencintainya, hanya saja ia tidak pernah punya cara untuk menunjukkan perasaannya.

Menyadari ke mana tatapan sang istri terarah, Sehun berujar, “Nona Lee berkata bahwa foto itu akan meningkatkan kepercayaan klien terhadap kinerjaku.”

Hati Soojung mencelus. Harapannya yang sudah terbang kelewat tinggi tiba-tiba seolah ditarik oleh gravitasi mahakuat agar menghempas bumi sekeras-kerasnya hingga hancur berantakan.

Namun, menikahi Oh Sehun membuat gadis itu terlatih mengelabui perasaan dan menutupinya. Tersenyum semanis biasa, ia mengatakan, “Foto itu memang bisa jadi alat promosi yang bagus untukmu. Kita terlihat bahagia sekali di situ.”

Ucapan Soojung membuat Sehun menatapnya dengan ekspresi itu lagi. Ekspresi datar yang seolah memberi tahu bahwa pria itu diam-diam sedang mengaplikasikan ilmu psikologi yang ia miliki untuk menilai lawan bicaranya. Sehun melakukan itu berkali-kali sejak awal perkenalan mereka, tetapi Soojung masih saja tidak terbiasa. Gadis itu berdeham untuk mengusir rasa tidak nyaman yang menggantung di sekitar mereka, lalu dengan tenang ia berkata, “Aku sedikit tidak percaya saat Nona Lee bilang kau ingin makan siang denganku.”

Sehun duduk di kursinya, tanpa suara mengisyaratkan agar Soojung melakukan hal serupa.

“Kuharap permintaanku tidak terlalu mengganggumu,” ujar pria itu sembari membuka bekal yang dibawakan sang istri.

Di kotak bersusun itu, ada nasi yang masih hangat. Daging yang dipotong agak lebar, ditumis dengan sedikit minyak dan ditaburi parutan wortel tersaji di sampingnya. Soojung juga menyiapkan salad dan beberapa makanan lain sebagai pelengkap.

Makanan itu seharusnya membuat mulut Sehun langsung berair. Aroma dan penyajiannya menggugah selera, seperti biasa. Namun mengingat percakapan dengan Soojung tadi pagi, kerongkongan Sehun langsung kering, mulutnya jadi terasa pahit. Pria itu meraih segelas air minum yang selalu disiapkan Nona Lee di atas meja, menenggak sedikit cairan di wadah bening tersebut, berharap hal demikian bisa membantu mengusir rasa bersalahnya.

“Sebenarnya aku ada janji dengan editor dua jam lagi,” beritahu Soojung.

“Ah, benar. Novel barumu,” timpal Sehun. Pria itu mengangsurkan sumpit untuk istrinya, yang diterima Soojung dengan sedikit keraguan. Sehun mengerti alasan dibalik keraguan itu, namun ia memilih mengabaikannya. Berusaha terdengar sesantai mungkin, ia bertanya, “Boleh kutahu ceritanya tentang apa?”

Soojung memperhatikan suaminya mengambil sepasang sumpit untuk dirinya sendiri, kemudian mulai menyantap makanan yang tersaji di atas meja.

Sejak lama, melihat Sehun dengan lahap menghabiskan makanan yang ia buat, sementara ia bercerita tentang pekerjaannya adalah salah satu keinginan terbesar Soojung. Keinginan itu terwujud hari ini, tetapi entah mengapa Soojung merasa ada yang mengganjal. Ia tidak merasa bahagia meski sang suami akhirnya menunjukkan ketertarikan terhadap pekerjaan yang digeluti oleh gadis itu.

Soojung bisa saja bercerita panjang lebar mengenai proyek novel terbarunya, namun kegundahan yang ia rasakan membuatnya malah mengatakan hal lain. Sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan cerita yang sedang ia kerjakan.

“Drama keluarga,” sahut gadis itu enteng, “tentang pria yang memilih menikahi wanita pilihan orang tuanya, padahal ia sudah punya anak bersama wanita lain.”

Sehun tersedak. Keras sekali hingga ia butuh menghabiskan semua likuid yang tersisa di gelas untuk menghentikan batuknya. Soojung seketika itu juga merogoh tas, mengambil tisu dan mengangsurkan benda tersebut kepada Sehun yang masih sibuk meredakan rasa gatal pada tenggorokannya.

“Cerita itu … bagaimana akhirnya?” tanya Sehun kemudian.

“Entahlah. Aku belum bisa memastikannya. Ini cerita yang akan dirilis secara berkala di situs resmi penerbit, jadi kami masih harus melihat tanggapan pembaca,” beritahu Soojung.

“Aku berharap cerita itu berakhir bahagia.”

Soojung juga berharap demikian. Siapa yang tidak mengharapkan akhir bahagia, terutama jika cerita yang baru saja ia sampaikan merupakan gambaran atas kehidupan pernikahannya dengan Sehun? Namun, bukankah bahagia hanya masalah perspektif? Seorang istri yang melepaskan suaminya untuk bisa bersama dengan wanita lain juga bisa dianggap sebagai akhir bahagia, tergantung dari sisi mana cerita itu dipandang.

“Aku juga, Sehun,” ujar Soojung, “aku selalu menyukai akhir bahagia, jadi aku akan melakukan apa saja agar tokoh utama di cerita ini memperoleh kebahagiaan.”

to be continued

Author’s Note:

  • Sebenarnya, di chapter ini saya berniat menjelaskan masa-masa awal perkenalan Sehun sama Soojung, sekaligus ngasih kesempatan buat Sehun meluruskan masalah bekal tidak tersentuh itu. Malah saya juga pengen sekalian menjelaskan hubungan Sehun sama Joohyun-Dayoung. Tapi pas abis diketik hasilnya ternyata jauh lebih panjang dari dugaan, jadi akhirnya chapter 4 saya cut di sini saja. Gak apa-apa, kan? *kasih senyum manis biar ga ditimpuk virtual sama reader*
  • Cerita ini sudah tidak sempat saya baca ulang lagi. Minggu depan sepertinya saya bakalan lumayan sibuk di kantor, jadi mumpung ada kesempatan, saya buka wp dan memilih publish cerita hari ini saja. Kalau ada salah ketik (atau kesalahan lain dalam bentuk apa saja), tolong kasih tahu ya, biar bisa saya perbaiki nanti.
Advertisements

38 thoughts on “Begin Again – Chapter 4”

  1. Sehun penurut banget sama kakeknya. Disuruh ngapain juga dia ikut. Tapi ada nama joohyun disebut-sebut biarpun sepintas, jadi menurutku sehun nurutin semua permintaan kakeknya biar gak dicurigai lagi kalau sebenarnya dia masih berhubungan sm joohyun. Kak, kalau memang udah gak mau lagi nulis cerita panjang-panjang, minggu ini double update dong… Aku penasaran. Huhu 😂😂

  2. You used to make a 13k-words-oneshot, Kak. Segini sih hitungannya masih pendek. Haha. Aku setuju sama Feli. Double update please… Itu Joohyun udah sempat disinggung sekilas. Jadi sebelum sama soojung, sehun emang udah sering ikut kencan buta sama wanita pilihan kakeknya. Tapi sebenarnya yang dia suka itu joohyun, gitu?

  3. Jadi joohyun itu kekasih sehun? Jadi sehun sukanya sama joohyun? Dan waktu sehun Mau melamar joohyun kakeknya gak mau karena gak memenuhi kriteria seperti yang kakek sehun inginkan? Tapi pertemuan pertama soojung dan sehun sangat sangat indah sampai aku gak ngerti kenapa mereka jadi seperti sekarang ini, kaku dan itu buat aku penasaran. Disini bukan hanya sehun yang mainin emosi, tapi author juga udah mainin emosi para pembaca. Btw terima kasih udah update. Aku sih setuju dan berharap kalau author bisa double update mengingat minggu depan author sibuk. Ditunggu selalu kelanjutannya, semangat💪💪💪💪

    1. Kekasih sehun bukan ya? Sehun sukanya sm joohyun gak ya? /senyum2 sok misterius/
      Aku senang kalau kamu menangkap kesan manis dr pertemuan pertama sehun-soojung. Aku berusaha bikin itu sesubtle mungkin, seminim mungkin adegan unyu2nya, biarpun sebenarnya otak romanceku udah gatel pengen bikin adegan semanis mungkin. Knp hubungan mereka jd kaku begitu… well, kadang hal besar terjadi krn kesalahpahaman kecil yg didiamkan terlalu lama. Semoga hint ini bs membantu kamu menebak jalan cerita 🙂

  4. baiklah, jadi mulai sekarang, aku ga akan minta happy ending. karena bukankah itu cuma masalah perspektif? satu akhir bisa saja sedih di mataku, tp mungkin author menganggapnya sbg akhir terbaik yg bs diberikan. aku cuma berharap mereka menyelesaikan kesalahpahaman apapun yang bikin mereka sampai jadi begitu, karena dari yang aku lihat, awal pertemuan mereka ga buruk-buruk amat. manis, malah.
    ada beberapa kalimat yg agak janggal di bagian atas. bukan typo sih, lebih ke kalimat yg lupa diedit. gak byk, dan gak terlalu mengganggu kok. terus pas di kalimat kakek sehun ikhlas ada malaikat penjemput nyawa dtg, mungkin maksudnya pencabut nyawa kali ya? itu lebih enak didengar dan lebih lazim.
    komenku kepanjangan gak sih? hehe…. semangat terus ya nulisnya. ff ini selalu kutunggu lanjutannya 🙂

    1. PENJEMPUT NYAWA!! Astaga, aku ga tau lagi mikir apa pas ngetik kata itu. Maksudnya mmg pencabut nyawa. Haha.. Makasih pemberitahuannya. Akan aku edit kalo udah ol pc.
      Dan kamu bijaksana sekali!! Aku bangga punya reader kayak gini. Hehe. Jadi misalkan nanti aku kasih ending sedih, kamu ga bakalan protes kan? /pasang senyum licik/

  5. Kak, aku udah ngikutin cerita ini dari part 1 tapi maaf selama ini cuma bisa jadi silent reader. Sekarang aku mau komen bikos aku merasa perlu menyatakan kekesalan sama makhluk bernama oh sehun. Yang bagian krys liat foto pernikahan mereka dipajang di kantor sehun, aku juga udah mikir… ya, mungkin mmg sebenarnya sehun itu diam-diam cinta sama istrinya. Toh di chapter sebelumnya juga udah dijelasin kalau dia selalu ngabisin makanan yg dibawain istrinya. Plus dia juga selalu merasa bersalah tiap ngelakuin sesuatu yg buruk ke krystal (though he still did it anyway). Tapi setidaknya ada feeling lah. Apalagi baca part dimana mereka baru ketemu dan semuanya kelihatan baik2 aja. TAPI KEMUDIAN SEHUN MALAH BILANG KALAU DIA PAJANG FOTO PERNIKAHAN CUMA DEMI MENAIKKAN KEPERCAYAAN ORG THD KINERJANYA SBG KONSULTAN. Aaah, aku KZL! Pake banget. Dia pasti ngerasa disindir tuh, yg pas krys cerita ttg novelnya, makanya sampe keselek gitu. Hahaha… That guy in her story is definitely him! Dan aku juga pengen membujuk biar next time kakak bisa double update. Aku doain semoga kerjaannya lancar, kakaknya bahagia terus, biar mood nulis juga ikutan lancar yes. Love you, kak!! 💙💙💙

    1. hai, febi.. makasih komentarnya. aku selalu suka baca komentar yang panjang macam drabble kayak gini. hehe. gak masalah kok kalau kamu ga komen. aku selalu mikir kalo reader gak komen, berarti tulisanku belum cukup menarik dan menggugah. jadi kamu santai aja. sebanyak apapun aku menyukai komentar dr orang2, aku ga bakal nuntut itu spt orang gila :p
      tapi sepertinya chapter ini berhasil menggugah (atau malah bikin kesal?) kamu. jangan berlebihan lho keselnya. ntar malah jatuh cinta /wink/

  6. Author’s notenya bikin aku langsung ingat sama resolusi yang kamu bikin awal tahun ini. Satu ff berchapter dan manajemen word count. Didnt expect you’ll make those wishes come true, actually 😂😂😂
    Aku, strangely, punya harapan besar sama couple ini. Biarpun kelihatannya mereka punya byk masalah yang kelamaan didiemin, tapi sehun setidaknya sudah nunjukin usaha buat ngelurusin itu, gak yang lagi-lagi pura-pura gak tahu. Tentang joohyun, setelah ngeliat cara kamu nulis selama ini, aku mantap berpikir kalau hubungan dia sama sehun bukan dalam konteks romance. Afterall, kamu kan hobi bikin pembaca mikir ke satu arah, tapi ternyata ada twist di belakang. I’m no longer innocent, you know 😌😌😌

    1. Anyway, kencan pertama mereka unyu, tahu! Gak banyak ngomong, ngeliatin sunset berdua, dan kalimat sehun pas nganter soojung pulang adalah favoritku. “Aku ingin mengunjungi tempat itu lagi bersamamu”. Hatiku langsung menyublim baca adegan itu.

        1. Aku sebenarnya kurang tahu soal ini. Hahaha. Asal comot dr postingan orang. Kedengarannya bagus aja, jd kupake juga

    2. ((Didnt expect you’ll make those wishes come true, actually )) hahaha… mungkin saking seringnya aku bikin wishes yang ga diwujudkan, kamu jadi mikir resolusi fangirlingku tahun ini bakal sama kayak yang kemarin2. nope nope nope :p

  7. Coba nama Jinri diganti sama Yeri, lengkap deh Sehun punya cerita sama semua member red velvet. 3 orang sebagai teman kencan buta, seulgi sebagai mantan pacar, dan joohyun yang sampai sekarang statusnya masih tanda tanya 😌😌
    Pertemuan pertama sehun sama soojung, ditambah adegan lamaran yang entah kenapa aku rasa sweet banget itu, aku anggap sebagai bagian terindah cerita sejauh ini. Akhirnya bisa lihat mereka punya moment bahagia, biarpun itu cuma flashback. Semoga ke depannya akan ada banyak moment bahagia lain dari pasangan ini. Semangat terus, kak(?) *sok akur gitu…*

    1. dedek yeri masih kecil, belum boleh disuruh cinta-cintaan :p
      mulai chapter 6, sestal bakalan dpt lebih banyak moment bahagia, jadi kamu tungguin aja. dan omong2, aku seneng kok di-sok akur-in, jadi panggil kak aja kalau mau. bebas kalo sama aku mah..

  8. Ada dua sisi kepribadian sehun yang dimunculkan. Sehun yang manis dan penurut, sama sehun yang sedikit jahat dan penuh misteri. Sejujurnya aku pengen banget tahu lebih banyak tentang masa lalu mereka. Kenapa dari awal yang lumayan menjanjikan itu, dia bisa jadi suami yang dengan tega ngebiarin istrinya berkali-kali sakit hati dan tetap gak minta maaf biarpun dia sadar akibat perbuatannya ke soojung.

  9. Karena aku gak tahu mau kasih komen apa, dan karena satu like rasanya gak cukup, jadi aku mau kasih ini aja 💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
    He.he.

  10. lagi iseng googling sestal dan ketemu cerita ini. suka bangettt, aku biasanya baca di wattpad soalnya jarang kan nemu cerita sestal di blog. tapi sumpah ini bagus banget, bikin gregetan ama kesel sama sehunnya. pokoknya ditunggu kelanjutannya ya, fighting !

    1. hai.. terima kasih sudah membaca. iya, emang jarang ada yang update ff sestal di blog. kebanyakan pada milih lari ke wattpad krn reader di sana emg lbh banyak. tp semoga ff ini bikin kamu sering2 mampir ke blogku.

  11. suka suka suka!! gemes banget sama sehun di cerita ini. jahat-jahat minta ditampol gimana gitu.
    ditunggu chapter selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s