Begin Again – Chapter 3

beginagain-sestal-poster-fix

Sebelumnya:

Chapter 1Chapter 2

..

“Para pegawai memuji bolu lemonmu kemarin,” kata Sehun. Ia menggeser tubuh sedikit, memberi ruang bagi Soojung yang hendak meletakkan segelas kopi yang masih beruap di depannya. Pria itu  menunggu sampai sang istri duduk di tempatnya yang biasa sebelum menambahkan, “Nona Lee bahkan bilang seharusnya kau membuka usaha bakery.”

“Sekretarismu memang paling pandai menyenangkan hati orang,” timpal Soojung. Gadis itu tak lupa menyematkan senyum terbaik yang ia miliki, sesuatu yang selama ini selalu gagal diartikan dengan baik oleh suaminya.

Sehun memilih menanggapi perkataan Soojung hanya dengan sebuah anggukan pelan untuk menyatakan persetujuan, lalu menghirup kopi hangat yang tersaji di atas meja.

Pagi itu, sarapan di kediaman keluarga Oh berlangsung seperti biasa. Sehun sudah berpakaian rapi. Jas berwarna cokelat gelap membungkus tubuhnya. Di kerah kemeja pria itu, terlilit dasi merah berbahan sutra yang dibelikan Soojung saat kunjungannya ke Inggris setahun lalu. Campuran aroma bunga serta dedaunan samar-samar menguar dari tubuh pria itu, menjadikannya tampak segar dan siap menjalani hari.

Soojung masih mengenakan pakaian rumah. Pekerjaan sebagai penulis membuat jadwal kerjanya lebih fleksibel. Setiap pagi, saat Sehun bersiap-siap ke kantor, gadis itu sibuk di dapur, menyiapkan sarapan yang seringnya hanya akan dicicipi sekadarnya oleh Sehun, tidak peduli seenak apa makanan tersebut, juga seberapa lama Soojung harus berkutat dengan alat-alat dapur untuk menyajikannya.

Pagi itu sepertinya merupakan sebuah pengecualian, dan Soojung mulai bertanya-tanya apakah setiap hari ia harus membuat croissant cokelat agar Sehun menghabiskan sarapan yang ia sajikan.

“Ini enak,” beritahu Sehun, seolah bisa membaca keingintahuan di wajah istrinya.

Gadis itu tersenyum lagi. Namun kali ini, senyumnya lebih cerah. Sepertinya efek sebuah pujian memang bergantung pada identitas pemberinya. Dua kata sederhana itu terbukti mampu membuat Soojung sejenak melupakan kekesalan yang sehari sebelumnya membuat ia sempat terpikir untuk melayangkan surat cerai.

“Akan kubuatkan lagi besok,” sahut Soojung. Ia berusaha membuat nada suaranya terdengar tetap tenang, tahu betul bahwa Sehun tidak menyukai wanita yang kelewat bersemangat. Sudah cukup ia merusak kencan pertama mereka dengan ketidaktahuan akan hal tersebut. Ia tidak ingin mendapat tatapan aneh dari pria itu lagi.

Soojung sebetulnya ragu upaya itu berhasil. Ia selalu senang dipuji. Namun Sehun, jangankan memuji, mengomentari hasil kerjanya pun jarang. Pria itu lebih sering mengucapkan terima kasih setiap kali Soojung melakukan sesuatu untuknya. Maka, ketika pujian langka itu akhirnya terlontar, mengontrol ekspresi menjadi sesuatu yang benar-benar sulit dilakukan.

“Tidak perlu,” ujar Sehun, yang kontan membuat kebahagiaan gadis di depannya surut. Menyadari perubahan air muka sang istri, Sehun cepat-cepat menambahkan, “Aku harus menghadiri seminar di Busan besok pagi.”

“Begitu, rupanya,” sahut Soojung.

Ia menahan diri agar tidak tampak terlalu kecewa. Gadis berambut panjang itu menunduk sembari memutar-mutar gelas kopi tanpa berniat menghirup isinya. Padahal baru saja ia merasa senang karena mendapat pujian dari suaminya, namun pria itu sudah kembali membuat perasaannya tidak nyaman.

“Kapan kau berangkat?”

“Aku mengambil penerbangan terakhir malam nanti.”

Sehun selalu saja begitu. Melakukan sesuatu tanpa pemberitahuan di awal, membuat Soojung merasa selalu jadi orang terakhir yang mengetahui perkembangan hidup pria itu. Ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan suaminya, dan itulah alasan ia tidak pernah banyak bertanya setiap kali pria itu pulang terlambat. Namun, bukankah perjalanan ke luar kota setidaknya diberitahukan sejak beberapa hari sebelumnya?

“Pulangnya?”

“Minggu sore, jam lima.”

Akhir minggu di Busan. Kedengarannya sangat mengasyikkan jika saja Sehun mengajak Soojung bersamanya. Mereka benar-benar akan tampak seperti sepasang suami-istri bahagia. Sehun bisa mengikuti seminar dari pagi sampai sore, sementara Soojung menunggu di hotel sembari mulai mengerjakan bab pertama novel terbarunya. Malam hari, mereka bisa jalan-jalan, menikmati kuliner terkenal di daerah itu. Mungkin mereka juga bisa ke pantai, melihat bintang dan membiarkan debur ombak menjadi pengiring kebersamaan mereka.

Soojung tidak pernah tahu akan menikahi siapa, namun ide semacam itu sudah tertanam di benaknya sejak lama. Sayangnya, bersama Sehun, Soojung tahu betul hal tersebut hanya akan menjadi bagian dari khayalan indahnya. Sejauh ini sang suami selalu tampak menikmati bepergian seorang diri.

Akhirnya, Soojung hanya mengangguk pelan, berharap kekecewaannya tidak terlalu kentara. Sehun bergeming, lalu hening yang familiar itu pun datang lagi, menggantung di udara, melingkupi meja makan besar yang menjadi saksi percakapan kaku mereka setiap hari.

Jam di ruang tamu berdentang delapan kali, dan untuk sesaat, bunyi monoton itu menjadi pengisi keheningan di antara mereka.

Di hari-hari biasa, ketika sebuah bahan pembicaraan telah habis, Sehun akan buru-buru menyelesaikan sarapan, beralasan harus datang lebih awal ke kantor untuk menyiapkan sesuatu. Namun, pagi itu ia ingin tinggal sedikit lebih lama. Selain karena croissant buatan Soojung memang sayang untuk dilewatkan, ia juga masih merasa bersalah karena semalam lagi-lagi pulang larut dan membuat sang istri melewatkan makan malam hanya karena menungguinya. Pria itu berharap, menghabiskan waktu lebih banyak di meja makan pagi ini bisa menebus perbuatannya beberapa hari belakangan.

Sehun tengah menimbang apakah harus mengeluarkan satu lagi stok bahan pembicaraan yang ia simpan ketika suara istrinya kembali terdengar.

“Omong-omong, kau mau kumasakkan apa untuk makan siang?”

Sehun mengedik ringan. “Terserah kau saja.”

“Bagaimana kalau aku membuatkan makanan seperti kemarin?”

Ucapan Soojung membuat perut Sehun seolah ditonjok. Bekal makan siang yang dibawakan gadis itu kemarin sama sekali tidak sempat ia sentuh lantaran terburu-buru ingin menjemput Joohyun dan Dayoung di sekolah. Ia sudah mengingatkan diri untuk menghabiskan makanan itu saat kembali ke kantor, tapi saat berjalan menuju ruang kerja, ia mendapati kliennya sudah menunggu di lobi. Satu setengah jam kemudian, ketika konsultasi menjemukan dengan anak walikota selesai, Sehun sudah merasa terlalu lelah hingga lupa akan keberadaan kotak makanan yang ia letakkan di atas salah satu tumpukan dokumen.

“Di kulkas masih tersisa banyak daging,” ujar Soojung lagi. “Kupikir aku membeli terlalu banyak.”

Jadi menu kemarin adalah daging. Kesukaannya. “Selama tidak merepotkanmu, kurasa tidak masalah,” timpal Sehun.

“Kau ingin aku menambahkan lebih banyak wortel?”

“Boleh.”

“Baiklah.”

Sekali lagi, Soojung mengangguk paham. Di bibirnya tersungging sebuah senyum tipis yang tampak sangat dipaksakan, dan Sehun baru mengetahui arti senyum itu beberapa jam kemudian.

..

Sehun menatap kosong ke arah layar laptopnya. Sudah hampir setengah jam jari-jarinya berada di atas papan ketik, tapi halaman Microsoft Word yang ia buka sama sekali tidak menampakkan satu kata pun.

Seharusnya ia mengetik laporan untuk kasus Tuan dan Nyonya Choi yang datang tempo hari, sembari menunggu salah satu kliennya datang. Sehun biasanya adalah pekerja yang efisien. Ia selalu mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Pria itu merasa rugi jika melewatkan jeda antara satu jadwal konsultasi dan yang selanjutnya hanya dengan memainkan ponsel atau mengobrol dengan para pegawai. Namun, pikiran Sehun siang itu menolak diajak bekerja sama. Penyebabnya satu: bekal makan siang yang dibawakan istrinya kemarin.

Pagi tadi, hal pertama yang Sehun lakukan sesampainya di kantor adalah membuka kotak makan bersusun yang dibawakan Soojung sehari sebelumnya. Wadah itu kedap udara, jadi Sehun setengah berharap isinya masih layak dimakan.

Sehun mungkin tidak pernah terang-terangan menyatakan kecintaan terhadap makanan buatan Soojung, namun pria itu menghargai jerih payah sang istri. Ia selalu menghabiskan bekal yang dibawakan Soojung ke kantor setiap siang. Saat sarapan pun, seandainya saja ia tidak merasa harus menghemat stok bahan pembicaraan, Sehun pasti bersedia berlama-lama di meja makan dan menyantap apapun yang disajikan Soojung di atas meja.

Pria berusia 29 tahun itu akhirnya tidak jadi memakan bekal yang dibawakan Soojung kemarin. Bukan karena isi kotak itu sudah basi, namun karena saat membuka penutupnya, sebuah kesadaran langsung menampar Sehun, membuat selera makannya menguap tak tersisa. Isinya ternyata bukan daging bercampur wortel seperti yang dibicarakan Soojung saat sarapan, melainkan ayam panggang dengan bumbu beraroma lemon. Tidak ada secuil pun daging atau wortel di sana.

Sehun ragu apakah menjebak merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan perbuatan Soojung, tapi pria itu jelas telah bertindak ceroboh dengan mengiyakan sesuatu yang tidak pernah ada. Entah apa yang dipikirkan Soojung karena ketololannya tadi pagi. Gadis itu mungkin akan mengira selama ini Sehun tidak pernah sekali pun menyentuh makanan yang ia buat. Padahal, kecuali kemarin, pria itu selalu berlaku layaknya suami bahagia yang lebih memilih menghabiskan makanan buatan istrinya ketimbang menikmati makanan dari restoran seperti yang dilakukan para pegawai di kantor ini.

Sehun bertanya-tanya mengapa setelah menangkap basah semua ketololan itu, Soojung tidak mengatakan apa-apa dan malah tersenyum seperti biasa, seolah tidak ada yang salah. Kenapa gadis itu terus saja berpura-pura di depannya? Ia bisa saja marah, dan sungguh, Sehun akan dengan senang hati memberinya penjelasan.

“Tuan Oh.”

Suara merdu sekretarisnya terdengar, menarik Sehun sebelum ia semakin tersesat dalam labirin pikirannya. Pria itu mendongak, sepenuhnya mengabaikan tampilan layar Microsoft Word yang masih kosong. Senyum terlatih sang sekretaris menyambutnya.

“Tuan dan Nyonya Hwang sudah datang. Bisa saya menyuruh mereka masuk?”

Sehun kontan melirik jam tangannya. Jadwal konsultasi pasangan itu seharusnya dimulai satu jam lagi.

“Sedikit lebih cepat, memang,” ujar Nona Lee, seolah bisa membaca isi pikiran atasannya. “Nyonya Hwang bilang ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anda dan mengurai benang kusut rumah tangganya sesegera mungkin.”

Sehun memperhatikan bagaimana sekretarisnya menggerakkan tangan demi membentuk tanda kutip imajiner kala mengatakan ‘benang kusut’.

Berdasarkan informasi yang diberikan Nona Lee beberapa waktu lalu, Tuan dan Nyonya Hwang baru menikah selama dua bulan. Sehun berani bertaruh pasangan itu baru saja mengalami pertengkaran pertama, dan ajaibnya mereka langsung memutuskan menggunakan jasa seorang konsultan untuk membantu mengatasi masalah yang tengah mereka hadapi.

Lucu, pikir Sehun, bagaimana sejumlah pasangan begitu ingin segera menyelesaikan konflik rumah tangga mereka, sementara ada pasangan lain yang memilih mendiamkan kesalahpahaman demi kesalahpahaman seakan hal itu sama sekali tidak pernah terjadi.

“Nona Lee,” ujar pria itu. Suaranya tenang, meski dalam hati ia tidak begitu yakin dengan apa yang hendak ia katakan. “Kalau istriku datang, bilang padanya agar jangan pulang dulu. Aku … kurasa aku perlu makan siang berdua dengannya.”

Ya, mungkin memang sudah saatnya Sehun mulai mengurai benang kusut rumah tangganya sendiri, dan ia akan mengawali itu dengan memberitahu alasan ia tidak menyentuh bekalnya kemarin. Jika terpaksa, Sehun juga akan menceritakan soal Joohyun dan Dayoung, meski itu berarti ia harus membongkar masa lalu yang tidak mengenakkan.

“Anda pasti ingin makan siang berdua sebagai pengganti makan malam bersama yang harus terlewatkan selama Anda berada di Busan. Ah, manis sekali,” ujar Nona Lee penuh semangat. Sekretaris bermata indah itu menatap Sehun dengan pandangan bersekongkol, lupa bahwa ia sedang berbicara dengan atasannya. Untuk urusan mengagumi pernikahan Sehun dan Soojung, Nona Lee memang juara. “Tenang saja, Tuan. Saya akan memastikan Anda bisa makan siang romantis dengan istri Anda.”

Sehun menahan diri untuk tidak tersenyum masam. Jika suatu saat Nona Lee tahu bahwa kata romantis tidak pernah mewakili apapun yang terjadi antara Sehun dan istrinya, bahwa pernikahan ideal yang selama ini ia kagumi ternyata tidak pernah baik-baik saja, entah apa yang akan ia katakan.

“Dan Nona Lee,” sela Sehun sebelum sekretarisnya meracau panjang soal makan siang romantis yang tidak akan terjadi, “kau boleh menyuruh Tuan dan Nyonya Hwang masuk sekarang.”

Sekretaris berambut pirang itu mengangguk pelan sambil memasang kembali wajah profesionalnya. Ia membungkukkan tubuh sedikit, kemudian melangkah ke luar demi menyilakan pasangan muda yang menunggu di depan ruangan Sehun untuk segera masuk.

..

Mengantar makanan untuk Sehun sudah menjadi bagian dari hari-hari Soojung sejak awal pernikahan. Sesibuk apapun ia, kegiatan itu tidak pernah terlewatkan. Setiap siang, gadis itu selalu muncul di kantor sang suami sembari menenteng kotak hitam bermotif bunga ceri. Tidak jarang para pegawai menggoda Soojung, mengatakan betapa beruntung atasan mereka karena mendapat istri yang begitu perhatian. Nona Lee bahkan selalu terang-terangan menyatakan rasa irinya terhadap pasangan itu. Setiap kali Soojung datang untuk menitipkan makanan buatannya, wanita cantik yang sudah lima tahun menjadi sekretaris Sehun itu tidak pernah luput menyelipkan satu komentar manis yang sukses membuahkan senyum di bibir Soojung.

“Baunya enak,” ujar Nona Lee. “Tuan Oh pasti akan senang sekali jika bisa menikmati makanan ini bersama Anda.”

Mendengar nama suaminya disebut, Soojung kontan melirik pintu kayu yang membatasi ruang kerja Sehun dengan tempat ia berdiri. Di balik pintu itu, sang suami tengah mendengarkan keluhan mengenai rumah tangga orang lain, menggunakan ilmu yang didalaminya sejak sepuluh tahun silam untuk memperbaiki hubungan pasangan lain, padahal ia dan istrinya juga punya masalah sendiri—masalah pelik yang mengendap selama bertahun-tahun tanpa kepastian kapan masalah tersebut bisa terselesaikan.

“Aku tidak ingin dia bosan melihat wajahku, Nona Lee,” canda Soojung.

Sekretaris itu tertawa renyah. “Saya meragukan hal itu, Nyonya. Justru, saya berpikir saat ini Tuan Oh sedang sangat merindukan wajah istrinya.”

Soojung ikut tertawa, sebagian demi sopan santun, sebagian lagi karena merasa ucapan wanita di depannya kelewat mengada-ada. Kalau Sehun memang sebegitu inginnya melihat wajah Soojung, seharusnya pria itu tidak pernah pulang terlalu larut. Seharusnya mereka tidak tidur dengan saling memunggungi. Seharusnya Sehun mengajak Soojung ke Busan.

“Tadi saja, saat saya masuk ke ruangannya, beliau sedang sibuk melamun. Sepertinya ia membayangkan penderitaan karena harus melewatkan akhir pekan jauh dari istrinya yang cantik,” tambah Nona Lee.

Betapa Soojung berharap dugaan sekretaris itu benar.

“Kalau saja Anda tidak sedang sibuk mempersiapkan novel baru, saya yakin Tuan Oh tidak akan ragu membawa Anda ke Busan untuk menemaninya.”

Ah, seandainya memang itu alasan Sehun tidak mengajaknya, Soojung yakin suasana hatinya saat ini akan jauh membaik.

“Ya, aku memang selalu sibuk menjelang perilisan novel baru,” timpal Soojung seadanya.

“Meski begitu, Anda tidak keberatan ‘kan tinggal sedikit lebih lama untuk mengurangi penderitaan bos saya?”

Soojung melirik jam tangannya. Lalu, sambil memasang wajah menyesal, ia berujar, “Aku ada janji bertemu editorku dua jam lagi.”

Soojung hapal jadwal kerja suaminya. Satu sesi konsultasi berlangsung selama satu setengah jam. Konsultasi pertama selalu dimulai pukul sembilan pagi, setelah itu Sehun akan istirahat sekitar satu jam sembari mengetik laporan untuk kasus lain yang ia tangani. Konsultasi selanjutnya dimulai menjelang pukul sebelas dan berakhir tepat pada waktu istirahat makan siang.

Jam yang melingkari pergelangan tangan kiri Soojung saat itu menunjukkan lewat sedikit dari pukul sebelas. Itu berarti, ia masih harus menunggu sejam sampai Sehun menyelesaikan urusan dengan klien. Ditambah waktu yang harus dihabiskan untuk menemani pria itu menghabiskan makanannya, Soojung ragu ia bisa menemui editornya tepat waktu.

“Ini permintaan Tuan Oh,” kata Nona Lee, yang langsung membuat Soojung berhenti melakukan kalkulasi waktu. Sekretaris itu tampaknya melihat perubahan di wajah Soojung, karena itu dengan ekspresi menggoda ia langsung menambahkan, “Seperti yang saya bilang tadi, Tuan Oh mungkin sedang sangat menderita membayangkan harus menghabiskan dua hari tanpa Anda di sisinya, makanya ia ingin berlama-lama di dekat Anda.”

Bagi Soojung, mengantar makanan untuk Sehun adalah satu kebiasaan. Mengutarakan alasan untuk tidak tinggal dan menikmati makanan tersebut juga adalah kebiasaan. Soojung punya segudang alasan untuk itu. Di atas segalanya, ia memang wanita sibuk. Alasan payah seperti memiliki janji bertemu dengan orang lain pun tetap terasa masuk akal.

Mendengar Sehun memintanya tinggal adalah cerita berbeda. Ia bukan tidak pernah mendambakan hal tersebut, namun sejak mendapati kebersamaan pria itu dengan Kang Seulgi, Soojung merasa harus membatasi diri agar Sehun tidak merasa terganggu, juga untuk menjaga agar ia tidak perlu menyaksikan lebih banyak hal yang mungkin bisa menyakiti hatinya lebih dalam.

“Ayolah, Nyonya,” rayu Nona Lee lagi. “Tuan Oh bahkan bersedia memulai konsultasi lebih awal demi mewujudkan keinginan itu. Kurasa tidak lama lagi tamunya—”

Sebelum perkataan sekretaris berambut pirang itu selesai, pintu ruangan Sehun sudah mengayun terbuka. Sepasang suami-istri yang kelihatan masih sangat muda keluar dari sana sambil berpelukan. Sang istri menangis di dada suaminya, sementara pria itu dengan penuh kasih menepuk-nepuk bahu istrinya, tampak jelas berusaha menenangkan perasaan wanita itu. Soojung memperhatikan sang suami menundukkan kepala sedikit untuk berpamitan kepada Sehun yang mengantar mereka sampai ke pintu. Entah apa yang menjadi keluhan pasangan itu, tetapi melihat bagaimana ekspresi Sehun, Soojung yakin masalah mereka sudah menemukan titik terang.

Ah, seandainya pria itu juga bisa menggunakan keahliannya untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Soojung.

“Kuharap aku tidak membuatmu menunggu terlalu lama,” sapa Sehun. Dengan lugas pria itu menghampiri istrinya, mendaratkan ciuman ringan di pipi gadis itu, kemudian meraih kotak makan siang yang beberapa menit lalu diletakkan Soojung di atas meja kerja Nona Lee. Sehun mengangkat benda berwarna hitam itu sedikit lebih dekat dengan indra penciumannya, lalu berkomentar, “Sepertinya ini enak.”

Suara dehaman pelan Nona Lee kontan terdengar. Maksudnya mungkin untuk menggoda, tetapi bagi Soojung efeknya jauh melebihi itu.

Soojung bertanya-tanya apakah pria yang sedang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama dengan yang kemarin ia lihat tertawa riang bersama wanita lain serta seorang anak kecil di toko mainan. Apakah pria itu adalah orang yang semalam membuatnya tidak bisa tidur nyenyak hingga Soojung harus bangun pukul tiga dinihari dan membuat croissant untuk menyalurkan kegundahan yang menyelubungi dirinya. Apakah ini pria yang sama dengan yang tadi pagi begitu polos mengiyakan tawaran Soojung untuk dibuatkan daging bercampur wortel ‘seperti kemarin’.

“Itu sesuai pesananmu tadi pagi,” ujar Soojung sekenanya.

Sehun menanggapi dengan seulas senyum tipis yang tampak begitu alami hingga Soojung nyaris percaya bahwa pria itu benar-benar senang telah dibawakan bekal makan siang.

Suara dehaman Nona Lee kembali terdengar. Ia pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas di atas meja, tetapi dari ekor matanya, Soojung bisa melihat sekretaris itu tengah bersusah payah menahan diri untuk tidak tersenyum kelewat lebar menyaksikan apa yang dilakukan atasannya.

Sedikit gelagapan, Soojung menambahkan, “Aku tadi mungkin langsung pergi kalau saja Nona Lee tidak menahanku.”

Sehun menoleh ke arah sekretarisnya. “Kau memang selalu bisa diandalkan,” puji Sehun.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Nona Lee, Sehun menggamit tangan Soojung dan menuntunnya ke dalam ruangan.

Kapan terakhir kali Sehun menyentuhnya, Soojung tidak lagi ingat. Kehangatan yang muncul kala telapak tangan pria itu beradu dengan jari-jarinya terasa begitu asing dan menyenangkan di saat bersamaan. Soojung jelas tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu, tapi ia sama sekali tidak keberatan.

Di tengah keterkejutan akan sikap tiba-tiba Sehun, Soojung mengikuti langkah suaminya. Sebelum menutup pintu ruangan Sehun, gadis itu masih sempat mendapati Nona Lee berkedip penuh persekongkolan ke arahnya, namun Soojung tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia bahkan tidak berani menebak maksud di balik kedipan nakal itu.

to be continued…

Advertisements

33 thoughts on “Begin Again – Chapter 3”

  1. Sebenarnya aku paling sulit baca cerita yang sad tentang sestal seperti ini. Gampang emosian dan kalau ada konflik dikit langsung nangis. Berlebihan emang tapi itulah kenyataannya. Apa karena jiwa sestalshipperku udah akut ya? Maaf jadi curhat. Tapi ff ini berbeda. Biasanya kalau udah nemu ff tentang sestal yang sedih pasti aku gak ngelanjutin lagi. Aku suka cerita ini secara keseluruhan mulai dari karakter, alur, penulisan dan semuanya. Aku juga mau bilang makasih udah buat ff sestal yang keren seperti ini. Aku gak tau ending bakal seperti apa. Tapi aku harap sestal bisa bersama. Ditunggu selalu kelanjutannya, semangat💪💪💪💪

    1. Tenang. Kamu ga sendiri kok. Aku juga selalu gampang bahagia dan gampang sedih kalo udah bicara soal otp kesayangan. Cerita ini ga bakalan sepenuhnya sedih. Setidaknya menurut standarku begitu. Haha.. Sekali lagi maaksih udah baca 🙂

    2. Mengenai kepergian sehun ke busan untuk urusan perkerjaan hanya alasan. Sehun mau ngerayain ultahnya dayoung pasti. Kesel ama sehun tapi tetap aja aku ngebet sestal bisa bersama

  2. Jadi, apakah ini tanda kalau mereka bakalan meluruskan kesalahpahaman dan memulai lagi semua dari awal? Anw, sekretarisnya sehun lucu. Semangat banget dia fangirlingin pernikahan bosnya.

    1. Kamu percaya aku bakalan sebaik itu ngelurusin kesalahpahaman mereka padahal ini hitungannya masih di chapter awal? *insert evil laugh sound for dramatic effect*

      1. Perasaan kamu bilang klo cerita ini chapternya bakalan pendek? Aku nggak sanggup thor klo ini bakalan sad ending, mereka (sestal) in real life udah sad jgn dibikin sad di ff juga, please…wkwkwkw semangat yah thor, aku selalu nungguin

        1. ‘Sestal in real life udah sad’
          kenaoa aku jadi sedih baca kalimat ini? 😂😂
          Ff ini emang ga bakalan panjang kok. 8 atau 9 chapter palingan. Tp ini kan baru chpt 3, belum sampai pertengahan. Jd kalau konfliknya diurai skrg, jadi kurang seru lagi dong. Aku suka menyiksa otpku di setiap ff. Haha.

  3. aku jadi mikir sebenarnya sehun itu ada rasa sama soojung. mungkin bukan dalam artian romantis, tapi ngeliat dia selalu ngabisin makanan yang dibawain soojung rasanya dia care aja gitu sama istrinya. mungkin sehun belum nemu celah yg tepat aja buat nunjukin kalau dia peduli. tapi aku punya harapan mereka bisa memperbaiki kesalahpahaman yang selama ini ada.

  4. Nah, gitu dong Hun… jelasin semua ke soojung. Jangan diem-dieman terus. Next chapter ditunggu! 🙂

  5. Halo, salam kenal. aku nemu ff ini di exoffi, trus karena penasaran jadi langsung nyari blog authornya dan ternyata di sini sudah sampai chapter 3. Aku suka sama ide dan cara bercerita author. Gemes juga sebenarnya lihat pasangan suami istri yang buat ngobrol aja perlu nabung bahan pembicaraan. Sehun sepertinya punya banyak rahasia masa lalu, utamanya yang menyangkut joohyun sm dayoung. Penasaran sama kelanjutan cerita ini. Semangat ya 😊😊😊

    1. Hai, nadine. Salam kenal juga 🙂
      Makasih ya udah mampir ke blog ini. Minggu lalu aku lupa ngirim cerita ini ke exoffi, jadi di sana updatenya agak telat. Iya, sehun sm soojung emg ngegemesin. Tp dayoung lbh ngegemesin #eh

  6. sepertinya sehun dan limbad bersaudaraan beda ibu bapak ya seperti itulah kita simpulkan. Semakin penasaran gimana endingnya, semangat ya kaak!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s