Begin Again – Chapter 2

wallpaper2you_519993_副本

Sebelumnya: Chapter 1

..

Lepas pukul satu siang, Sehun sudah merampungkan semua pekerjaannya untuk hari itu. Dua sesi konsultasi dilakukan nyaris tanpa jeda sejak pagi. Laporan untuk kasus hari sebelumnya sebagian sudah ia selesaikan semalam, sebagian lagi masih jauh dari tenggat waktu yang ditetapkan kantor. Pria itu menekan satu tombol di telepon yang terpasang di atas meja kerjanya, membuat ia langsung tersambung dengan sang sekretaris.

“Nona Lee, ke ruanganku segera,” perintahnya.

Tidak sampai semenit kemudian, seorang wanita cantik bertubuh langsing memasuki ruangan. Aroma manis dari parfum yang ia kenakan langsung menyapa indra penciuman Sehun. Huruf-huruf yang membentuk nama Lee Sungkyung tertera di kartu identitas yang tergantung di leher jenjangnya.

“Aku sudah tidak ada jadwal lagi, kan?” tanya sang konsultan.

“Tidak ada, Tuan,” sahut Nona Lee. “Tapi tadi seseorang menelepon. Ia ingin menjadwalkan satu sesi konsultasi dengan Anda sesegera mungkin. Kalau bisa hari ini, katanya.”

“Aku ada urusan lain. Bisa kau atur untuk besok saja?”

“Jadwal Anda penuh sampai tiga hari ke depan. Dan kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya Anda melayani klien ini secepatnya. Ia anak tunggal Pak Walikota.”

Sehun tahu betul, sejak dulu pekerjaan di bidang jasa memang selalu harus mengutamakan klien penting. Tidak peduli orang lain sudah mengantre lama, para petinggi bisa dengan mudah menyerobot antean tersebut sesuka hati. Di biro konsultasi miliknya pun, hal serupa berlaku.

Pria itu mengembuskan napas panjang. Setengah bercanda, ia berkata, “Belakangan ini ada banyak sekali pasangan bermasalah, huh?”

“Tidak semua orang seberuntung Anda,” goda Nona Lee.

“Kau tahu perkataanmu sedikit berlebihan, kan?”

“Sama sekali tidak,” sang sekretaris berargumen. “Anda tampan dan Nyonya cantik. Kalian mapan, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu terlihat mesra. Dilihat dari sisi mana pun, kalian sempurna. Pernikahan Anda adalah panutan semua pegawai di sini, termasuk saya.”

Pria itu tersenyum tipis. Sepertinya tidak sia-sia sandiwara yang selama ini ia dan istrinya mainkan. Soojung pasti akan bangga jika tahu seberapa tinggi orang-orang mengelu-elukan pernikahan mereka.

Sehun melirik jam tangan Richard Mille yang melingkari pergelangan tangannya. Benda itu merupakan pemberian sang istri saat ulang tahun pernikahan mereka yang kedua. Setelah cukup lama menimbang, sang konsultan memutuskan, “Baiklah, atur pertemuan untuk jam tujuh malam ini. Kalau dia bilang tidak bisa, berarti ia memang harus menunggu sampai ada jadwal kosong.”

“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan,” sahut Nona Lee.

Sebelum meninggalkan ruangan atasannya, sekretaris muda itu tersenyum simpul sambil menyodorkan sebuah kotak makanan yang tampak terlalu familiar. “Tadi Nyonya datang membawakan ini.”

Sehun menatap kotak berwarna gelap di depannya. Entah Soojung memasak apa lagi kali ini. Sejak awal menikah, gadis itu memang tidak pernah luput membawakan bekal makan siang untuknya. Ah, istrinya memang paling tahu bagaimana cara menarik perhatian orang. Mungkin itulah salah satu penyebab semua pegawai di kantor ini berpikir bahwa mereka adalah pasangan harmonis.

“Saya sudah menawarkan agar ia menunggu, tapi Nyonya bilang tidak ingin mengganggu. Oh, dan omong-omong, para pegawai juga mendapat jatah bolu lemon yang sangat lezat. Seharusnya istri Anda membuka usaha bakery.”

Sehun menanggapi pujian itu dengan senyum ramah seperti biasa. Dalam hati, ia mengingatkan diri agar tidak lupa membahas komentar para pegawai tentang bolu lemon Soojung saat sarapan besok pagi.

..

“Soojung!”

Gadis yang namanya dipanggil kontan menoleh. Ia baru saja keluar dari kantor sang suami seusai mengantar makan siang untuk pria itu. Saat mendapati siapa yang barusan memanggil namanya, Soojung langsung mendelik kaget.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya panik.

Kim Jongin, yang saat itu tengah duduk nyaman di atas mobil hitamnya hanya mengedipkan sebelah mata dan menjawab santai, “Menjemputmu, tentu saja.”

Buru-buru, Soojung membuka pintu mobil pria itu. Ketika kendaraan roda empat tersebut sudah melaju di jalan raya, sang gadis berseru galak, mengulangi ucapannya tadi. “Apa yang baru saja kau lakukan, hah?”

Jongin tertawa jahil. “Bukankah sudah kubilang, aku menjemputmu. Kau punya utang kencan denganku.”

“Dari mana kau tahu aku ada di kantor Sehun?”

“Jangan bercanda, Soojung. Memangnya di mana lagi kau berada saat jam makan siang seperti sekarang kalau bukan di kantor suamimu? Bagaimana, dia menghabiskan bekal yang kau buat?”

Soojung tahu betul ucapan Jongin barusan hanya untuk mengolok-olok dirinya. Sejak dulu pria itu memang selalu mencela apapun yang dilakukan Soojung untuk suaminya. Jongin bilang, semua itu percuma. Sikap Sehun kepadanya tidak akan berubah hanya karena dibawakan makanan setiap siang.

“Dia sedang ada tamu, jadi aku pulang duluan,” beritahu Soojung. Ada sedikit rasa kecewa dari caranya bicara.

“Baguslah kalau begitu,” timpal Jongin ceria. “Berarti makan siang berdua juga akan masuk agenda kencan kita hari ini.”

“Aku hanya berjanji menemanimu membeli mainan,” Soojung mengingatkan. “Kecuali definisi kata kencan sudah berubah, baru kau bisa bicara seperti tadi.”

“Astaga, kenapa aku merasa kau semakin galak saja?” canda Jongin. Dari ekor matanya, ia bisa melihat tatapan kesal Soojung. Pria itu kontan menggerakkan satu tangan yang tidak memegang setir ke pucuk kepala gadis di sampingnya. Gemas, ia mengacak rambut cokelat gadis tersebut. “Aku selalu suka wanita galak,” tambahnya, yang sukses membuat Soojung mendengus dan memukul pelan tangan pria itu.

“Siapa suruh kau muncul tiba-tiba seperti ini?” tanya Soojung lagi. Kali ini, ia terdengar lebih santai dibanding sebelumnya. “Bagaimana kalau pegawai di kantor Sehun melihat dan mereka berpikir yang bukan-bukan?”

Jongin mengedikkan bahu. “Kau serius mau mendengar pendapatku?”

Tahu bahwa Jongin hanya akan memberinya jawaban melantur, Soojung berujar, “Sudahlah, lebih baik kita langsung ke toko saja. Masih banyak yang harus aku kerjakan di rumah.”

..

Audi hitam milik Sehun berhenti di depan sebuah taman kanak-kanak, bertepatan dengan berbunyinya bel pertanda jam pulang. Tidak lama kemudian, segerombolan anak kecil berseragam kuning cerah berhamburan dari pintu keluar gedung lantai dua tersebut.

Satu sosok familiar menghampiri Sehun dengan senyum ceria menghias wajah mungilnya. Ia berlari sekencang yang dimungkinkan kaki pendeknya, membiarkan seorang wanita yang lebih tua tertinggal beberapa langkah di belakang.

Seolah tahu betul apa yang akan diperbuat anak itu, Sehun turun dari mobil dan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Kedua tangannya dibuka lebar-lebar, hingga saat makhluk mungil tersebut menabrak dirinya, Sehun dengan mudah memerangkap anak itu dalam satu pelukan hangat.

Sembari melingkarkan lengan di leher Sehun, anak itu berujar manja, “Appa, Dayoung rindu.”

Tersenyum manis, Sehun mendaratkan kecupan di pipi kemerahan gadis kecil tersebut. “Appa juga rindu,” katanya. “Dayoung tidak nakal ‘kan selama Appa pergi?”

Gadis itu menggeleng. Dengan mata berbinar penuh semangat, ia menceritakan kesehariannya, mulai dari rajin bangun pagi, membantu ibunya menyiapkan sarapan, mandi dan berpakaian sendiri, menuruti kata-kata gurunya di sekolah, serta mengunci rumah rapat-rapat sembari menunggu ibunya pulang kerja.

Sehun menyimak semua penjelasan itu sambil menahan senyum bangga. Untuk anak yang baru berusia empat tahun, Dayoung memang sangat pandai. Sehun tidak heran jika anak itu bisa dengan mudah membuat orang-orang menyayanginya.

“Anak Appa memang hebat!” puji Sehun sebelum mencium anak itu sekali lagi.

“Dayoung sepandai itu karena mewarisi sifatku.”

Suara feminin itu membuat Sehun mendongak. Seulas senyum mengejek terpatri di wajah pria tersebut kala melihat seorang wanita berambut panjang berdiri di dekatnya. Sehun kemudian berdiri, tidak lupa menggendong Dayoung.

“Jangan seenaknya mengaku-ngaku,” ujar pria itu. Matanya mendelik nakal ketika dengan bangga ia menambahkan, “Dayoung tumbuh jadi anak yang begitu pandai karena mewarisi sifat ayahnya.”

Bae Joohyun, wanita berparas anggun yang juga merupakan ibu dari anak yang tengah digendong Sehun kontan tertawa, seolah tidak ingin berpanjang-lebar mendebat perkataan Sehun barusan. Mengalihkan pembicaraan, ia berujar, “Maaf, merepotkanmu lagi. Sejak seminggu lalu Dayoung terus merengek ingin bertemu denganmu.”

“Tidak apa,” katanya seraya mengulas senyum menenangkan. “Aku memang sudah lama tidak menemui kalian. Ditambah lagi, lusa Dayoung ulang tahun. Kita harus membawanya jalan-jalan dan membeli kado. Bukan begitu, Dayoung?”

Gadis kecil itu mengangguk antusias.

“Dayoung mau kado apa dari Appa?”

“Boneka beruang yang besaaaaar sekali,” jawab Dayoung. Kedua tangan mungilnya bergerak membentuk lingkaran ketika ia mengucapkan kata besar.

“Lalu, apa lagi?”

Dayoung melirik ibunya, meminta persetujuan. “Apa Dayoung bisa meminta lebih dari satu kado?”

Sehun tertawa renyah melihat kepolosan anak itu. “Tentu saja,” katanya, mengambil alih tugas Joohyun memberikan jawaban. “Karena selama ini Dayoung sudah menjadi anak baik, Appa akan membelikan semua yang Dayoung inginkan.”

“Jangan terlalu memanjakannya,” sela Joohyun. Setengah bercanda, wanita berambut gelap itu berujar, “Rumah kecil kami bisa jadi semakin sempit kalau kau terus membelikan semua yang ia inginkan.”

“Aku bisa memberikan rumah yang lebih besar kalau kau mau,” sahut pria itu enteng. Kembali mengarahkan pandangan pada sosok mungil berseragam kuning dalam gendongannya, Sehun mengulang pertanyaannya tadi, “Nah, Dayoung mau minta apa lagi?”

..

“Soojung-ah,” panggil Jongin.

Gadis itu hanya bergeming, membuat pria di sampingnya kontan menghela napas simpati.

Mereka berada di atas mobil Jongin. Sudah sejak tadi mobil besar itu sampai di depan tempat tinggal sang gadis, tapi sepertinya Soojung terlalu asyik melamun hingga tidak menyadari mesin kendaraan yang ia tumpangi sudah lama mati.

Sembari menepuk pelan bahu gadis itu, Jongin mengulangi perkataannya. “Soojung-ah, kita sudah ada di depan rumahmu.”

“Oh, kita sudah sampai, ya?” sahut Soojung sekenanya. Sedikit gelagapan, gadis itu meraih tas yang ia letakkan di dasbor, bersiap-siap membuka pintu mobil, namun tangan Jongin menahannya.

“Kau yakin masih ingin kembali ke rumah ini setelah—”

Gadis itu tahu betul apa yang hendak dikatakan oleh pria di sampingnya. Karena itu, sebelum mendengar kalimat menyakitkan tersebut, Soojung mendahului dan berkata, “Aku harus menyiapkan makan malam untuk suamiku.”

Jongin mengembuskan napas panjang, tampak frustasi melihat kelakuan gadis yang dicintainya. “Kau ini baik atau bodoh? Pria itu sama sekali tidak berhak memperoleh secuil pun kebaikan darimu.”

Soojung hanya tersenyum getir. Beberapa jam lalu, ia masih bisa tertawa riang sambil memilih mainan yang hendak Jongin bagikan kepada anak-anak kurang beruntung yang kelak akan pria itu temui selama masa kerja sosialnya di Haiti. Soojung tengah menertawai satu dari setumpuk lelucon payah yang dilontarkan Jongin ketika pandangannya tertumbuk pada satu sosok yang kelewat familiar.

Suaminya berada di toko yang sama. Di samping pria itu, berdiri seorang wanita cantik dan anak kecil berseragam taman kanak-kanak. Mereka tampak begitu akrab bersenda gurau sambil memilih satu di antara sekian banyak boneka yang dipajang.

Selama ini, Sehun senantiasa terlihat kaku di mata Soojung. Ia lebih sering berbicara dengan wajah datar, nyaris tanpa emosi. Bahkan saat sedang tersenyum pun, pria itu tetap menjaga jarak dengan lawan bicaranya. Siang itu, setelah tiga tahun mengenal Oh Sehun, Soojung akhirnya mendapati sisi lain dari suaminya. Sehun yang ceria, Sehun yang mampu tertawa lepas seolah semua kebahagiaan di dunia tersaji di hadapannya. Ia terlihat begitu menikmati kebersamaan dengan dua sosok di sampingnya sampai-sampai tidak menyadari kalau beberapa meter dari tempatnya berdiri, ada sepasang mata yang menatapnya dengan ekspresi terluka.

“Aku yakin ada penjelasan masuk akal untuk itu semua,” ujar Soojung akhirnya.

“Tentu saja ada,” sahut Jongin ketus. “Oh Sehun berselingkuh dan punya anak dari wanita lain. Astaga, Soojung, seharusnya malam ini juga dia sudah mendapat surat permohonan cerai darimu.”

“Jangan bahas itu lagi, Jongin. Apa kata orang kalau konsultan pernikahan ternama seperti dirinya malah dituntut cerai oleh istri yang baru tiga tahun ia nikahi? Tidak, aku tidak ingin mempertaruhkan kariernya.”

Lagi, Jongin mengembuskan napas panjang, sama sekali gagal memahami jalan pikiran gadis di sampingnya. Menggebu-gebu, ia berkata, “Kalau jadi kau, sudah kulabrak mereka tadi. Atau kalau kau memang enggan berhadapan dengan mereka, seharusnya kau membiarkanku menghajar pria brengsek tak tahu diuntung itu, bukannya malah menyeretku pergi dari sana.”

Pria itu mengeratkan genggaman pada setir mobil hingga buku jarinya memutih. Rasanya ingin sekali Jongin memukul sesuatu saking kesalnya. Tapi di saat yang sama ia juga tahu betul, semarah apapun dirinya, amarah yang ia rasakan tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan Soojung. Di balik sikap tenangnya, gadis itu jelas adalah yang paling terluka karena semua masalah ini.

“Kau memang perempuan aneh,” ujar Jongin setelah berhasil meredakan emosinya. “Dan yang lebih anehnya lagi, itu membuat aku semakin tidak ingin melepaskanmu.”

Soojung tersenyum hambar. “Kau memang selalu pandai menyisipkan rayuan dalam keadaan apapun, huh?”

Jongin ikut tersenyum, berharap itu bisa membaikkan suasana hati gadis pujaannya. “Aku ini seorang oportunis, tahu. Semua celah berarti kesempatan yang harus dimaksimalkan. Siapa tahu saja kau terbawa perasaan dan mau menerima cintaku.”

Ucapan sarat percaya diri itu berhasil membuat Soojung tertawa kecil. Kim Jongin memang selalu tahu bagaimana memperbaiki perasaannya yang kacau.

“Omong-omong, kapan kau berangkat?” tanya Soojung, mengalihkan pembicaraan.

“Besok. Penerbangan pertama. Belum terlambat kalau kau berubah pikiran dan memutuskan ikut denganku. ”

Alis Soojung berkerut. “Bukankah itu terlalu cepat? Setahuku program kerja sosialmu baru dimulai empat hari lagi.”

Senyum nakal Jongin terbit. Menatap Soojung penuh konspirasi, ia berujar, “Aku mau mampir dulu ke Puerto Rico.”

Sang gadis kontan mendengus. Rencana ke Puerto Rico memang pernah dicetuskan Jongin beberapa waktu lalu, setelah mendapati kota itu disebut-sebut dalam sebuah lagu Latin terkenal. Dan meski tahu bahwa sahabatnya itu gemar melakukan hal-hal konyol, Soojung sama sekali tidak menyangka Jongin benar-benar akan memasukkan kota eksotis itu ke dalam daftar tempat yang akan ia kunjungi pada perjalanannya kali ini.

“Beritahu aku, berapa jarak yang harus kau tempuh demi memenuhi obsesi konyolmu itu?”

“377 mil dari Haiti. Aku sudah mengeceknya.”

Lagi, Soojung tertawa. Untuk sesaat, pembicaraan mengenai Haiti dan Puerto Rico mampu membuat pikiran gadis itu teralih dari bayangan kemesraan suaminya dengan wanita lain. Ia menghabiskan lima belas menit lebih lama di dalam mobil Jongin sebelum memutuskan masuk ke rumah untuk melakukan kebiasaan rutinnya memasak makan malam untuk Sehun.

..

“Kurasa memang sudah waktunya kau pindah ke tempat yang lebih besar,” komentar Sehun.

Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen yang dihuni Joohyun dan anaknya sejak empat tahun silam. Tempat itu sebenarnya rapi dan bersih. Barang-barang ditata sedemikian rupa hingga setiap celah bisa dimanfaatkan. Tetapi tetap saja, Sehun berpikir tempat itu tidak cocok untuk dihuni oleh lebih dari satu orang.

Acara jalan-jalan mereka berakhir menjelang pukul tujuh malam. Setelah makan siang bersama dan mengitari pusat perbelanjaan untuk membeli barang-barang yang diinginkan Dayoung, mereka bertiga langsung pulang. Sehun sebenarnya mengusulkan agar mereka makan malam lebih dulu, tapi Joohyun menolak karena tidak ingin menyita terlalu banyak waktu berharga Sehun.

Ketika sampai di rumah, Dayoung langsung berlari menuju kamar mungilnya sembari menyeret boneka beruang besar yang dibelikan Sehun, meninggalkan sang ibu dan Sehun berdua di ruang keluarga.

“Gajiku sebagai guru les tari hanya cukup untuk menyewa tempat ini,” ujar Joohyun seraya meletakkan secangkir teh hangat dan beberapa kue mangkuk di atas meja.

Sehun meraih minuman yang tersaji di depannya, menghabiskan setengah isi cangkir dalam sekali teguk. Lugas, pria itu lalu berkata, “Sudah kubilang, aku bisa membelikannya kalau kau mau.”

Joohyun tertawa kecil. “Kau yakin mau membahas hal itu lagi? Tidak apa, Sehun. Aku dan Dayoung merasa senang tinggal di sini. Ahjumma di apartemen sebelah sangat baik kepada kami. Aku bisa menitipkan Dayoung kapan pun di rumahnya. Sulit menemukan tetangga seperti dirinya.”

Sekilas, Sehun melirik ke dalam kamar Dayoung. Anak itu terlihat sedang sibuk memakaikan pita di leher boneka barunya. Senyum penuh kasih tergambar di wajah sang pria kala ia berujar, “Anak itu memang pada dasarnya gampang disukai siapa saja. Ke mana pun kau pindah, tetanggamu pasti memperlakukannya dengan baik.”

Joohyun mengikuti arah pandang Sehun. Bibirnya ikut tertarik ke samping, menirukan gestur serupa yang dilakukan Sehun. Pria itu mungkin benar. Dayoung punya bakat untuk membuat orang-orang menyukainya, karena bahkan hanya dengan melihatnya bermain seperti itu, hati Joohyun langsung terasa penuh oleh cinta.

Pelan, wanita yang lebih tua tiga tahun dari Sehun itu berujar, “Dia benar-benar seperti ayahnya.”

Sehun mengangguk, membenarkan. “Ya, seperti ayahnya.”

Pria itu kemudian meraih kembali cangkir di depannya, menghabiskan sisa minuman dalam wadah porselen itu tidak kalah cepat dari sebelumnya.

“Terburu-buru, huh?” komentar Joohyun.

“Aku masih harus melakukan sesuatu di kantor,” beritahu Sehun.

Ia melirik jam di tangannya. Tiga puluh menit lagi pria itu sudah harus ada di kantor. Tadi sore, sekretarisnya menelepon, mengabarkan bahwa Tuan Kim, anak semata wayang walikota mereka, menyetujui pertemuan untuk jam delapan malam ini.

“Seharusnya kau melewatkan lebih banyak waktu dengan istrimu,” ujar Joohyun.

Sehun menanggapi perkataan wanita di depannya dengan senyum tipis. “Soojung sedang sibuk dengan proyek novel terbarunya. Kupikir lebih baik memberinya banyak waktu untuk menyendiri.”

Pria itu kemudian berdiri, merapikan pakaiannya sebentar, dan berjalan menuju kamar Dayoung. Penuh sayang, ia membungkuk dan mengecup pipi tembam anak itu, membuat Dayoung sejenak mengalihkan perhatian dari bonekanya.

Appa pergi dulu, ya?” pamit Sehun.

Makhluk mungil itu mengangguk paham, seolah sudah sangat terbiasa melihat Sehun berpamitan dengan cara seperti tadi. “Appa tidak usah mencemaskan apa-apa. Dayoung akan menjaga Eomma baik-baik.”

Perkataan polos anak itu membuat Sehun kembali menghadiahinya dengan kecupan sayang. Joohyun yang menyaksikan dari ambang pintu ikut tersenyum karena tingkah anaknya.

Joohyun mengantar Sehun sampai ke pintu depan. Saat sang pria selesai memasang kembali sepatunya, wanita bermata indah itu berujar, “Terima kasih untuk hari ini.”

Sehun mengangguk. “Sampai bertemu lagi,” pamitnya.

Pria itu kemudian berlalu, meninggalkan Joohyun yang tersenyum tipis sembari menatap pintu rumahnya mengayun tertutup.

..

Soojung menatap foto berpigura indah yang dipajang di ruang keluarga rumah besarnya. Di foto itu, tampak dirinya dan Sehun, mengenakan pakaian pengantin dalam ruangan bernuansa serba putih, tersenyum lebar dengan tangan saling menggenggam. Siapapun yang melihat, pasti akan langsung berkata bahwa dua orang dalam foto itu saling mencintai.

Soojung tidak ingat pernah punya momen sebahagia itu dengan Sehun. Foto itu memang diambil sembunyi-sembunyi dari sudut yang kelewat pas, beberapa saat setelah mereka mengucap sumpah saling setia.

Tiap kali melihat foto tersebut, Soojung selalu merasa tidak menyesal telah membayar mahal untuk menebus hasil kerja fotografer yang mereka sewa waktu itu. Ia seolah mendapat semangat baru untuk tetap mempertahankan pernikahan hanya dengan memandangi senyum suaminya. Ia selalu berharap akan datang hari di mana momen manis seperti di foto itu terjadi lagi.

Gadis itu memaksakan senyum ketika menyadari bahwa harapannya selama ini mungkin sia-sia belaka.

Sepanjang sisa hari itu, yang Soojung lakukan hanya mencari pembenaran atas sikap sang suami. Di atas segalanya, memang bukan cuma sekali ia mendapati Sehun bermesraan dengan wanita lain.

Saat masih berstatus pengantin baru, Soojung pernah mengunjungi Sehun di kantornya. Ia  baru saja mencoba resep dari internet dan ingin suaminya mencicipi makanan yang telah ia buat dengan susah payah. Soojung bahkan berharap mereka bisa makan bersama sembari berbincang akrab. Sayang, saat membuka pintu, yang ia lihat hanya pemandangan tak mengenakkan. Sehun tidak sendiri di ruangan itu. Ada Kang Seulgi—wanita yang dikencani Sehun setidaknya sampai beberapa bulan sebelum mereka menikah—sedang merangkul mesra suaminya sembari mendaratkan ciuman di bibir pria itu.

Soojung terlalu kaget hingga ia bahkan tidak ingat mengatakan apa saat itu. Tiba-tiba saja, ia sudah mendapati diri di atas taksi, menangis sambil memeluk kotak makanan yang tadi ia bawa. Soojung menunggu bertahun-tahun untuk mendengar Sehun memberinya penjelasan atas peristiwa itu, tapi sang suami bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Soojung sempat menyalahkan diri sendiri, berpikir bahwa suaminya berlaku demikian karena merasa sang istri kelewat membosankan. Mengingat bagaimana mereka menghabiskan masa bulan madu, gadis itu tidak heran jika ketika kembali ke keseharian masing-masing, pria itu mencari pelampiasan bersama wanita lain.

Peristiwa tadi siang berbeda. Anak kecil yang bersama Sehun setidaknya berusia empat atau lima tahun. Dan mengingat wajahnya yang sangat mirip dengan pria itu, Soojung hanya bisa menyimpulkan satu hal: suaminya sudah punya anak sebelum mereka menikah.

Soojung menghela napas panjang. Dulu, di awal pernikahan mereka, ada Kang Seulgi. Sekarang, muncul wanita lain bersama anak yang terlihat mirip sekali dengan Sehun. Sebenarnya ada berapa banyak wanita yang dimiliki pria itu di luar sana?

to be continued

Advertisements

40 thoughts on “Begin Again – Chapter 2

  1. Aku gemes! Fix lah Sehun jahat sama istrinya. Padahal Soojung udah setia banget ngurusin dia, gak tahunya Sehun udah punya anak dari perempuan lain. Makin penasaran gimana kelanjutan kisah ini. Mungkin Soojung nanti malah sama Jongin?

  2. Kak, aku mesti ngapain biar chapter selanjutnya cepetan dipublish? Penasaran sama kelanjutan cerita ini 😣😣😣

          1. Aku ga tau gimana masukin foto/gif di kolom komentar wp. Kalau aku tau, postingan ini udah penuh kali sama foto sehun/donghae

  3. Berharap ada momen SeStal di chapter ini 😅
    Sepertinya Soojung salah paham sama Sehun, tapi Dayoung panggilnya Appa,,, jadi bingung juga
    Insiden Seulgi cium Sehun di kantornya (?) 😢😢,
    Ditunggu next chapternya,,
    Apa hubngn Sehun-Joohyun-Dayoung ? dan bgaimn insiden Seulgi cium Sehun,,,? 💪💪

    1. Aku baru sadar lho kalo di chapter ini mereka ga berinteraksi sama sekali /author apaan aku ini/ 😂😂😂
      Apa hubungan sehun-joohyun-dayoung, plus insiden seulgi bakalan dijelasin di 2 chapter selanjutnya. Makasih udah baca ya 🙂

  4. They really need to talk and sort things out. Aku sih liat nama dayoung entah kenapa jadi ingat ff sestal kamu yg lain kak, yg ada dayoungnya juga, dan dia manggil sehun appa. Setengah berharap kasusnya bakalan sama. Next chapter ditunggu 😉

    1. Kak Al, aku liat komen ini jadi mikir ke arah situ juga. Iya, di always had never will juga dayoung manggil sehun appa, tp ternyata dia bukan anak kandungnya sehun. Jangan-jangan… 😶😶😶

      1. Nah, kan… Kalo di cerita itu status dayoung yg bukan anak sehun bikin kita patah hati, aku justru berharap di cerita ini kasusnya sama. Eh tapi ini si kakaknya ga bisa ditebak sih kalo urusan ngasih ending. Mau otp mau bukan, ga pernah ada jaminan bersatu 😒

        1. Setuju, kak! Urusan ending kita sbg pembaca cuma bisa pasrah 😂😂😂 sejauh ini tebakan endingku ga pernah ada yang benar. Anyway, yg punya blog ke mana, ya? Kita udah dr kemarin ngerumpi di sini tp kakaknya ga muncul 😳😳😳

  5. wah, makin seru!! sehun ini womanizer juga jangan-jangan. byk bgt wanita di dekatnya. dari soojung, joohyun, seulgi, dan sekretarisnya juga cewe. chapter selanjutnya ditunggu :))

  6. Sepertinya terlalu cepat kalo aku langsung melompat ke ending, tapi… Kaistal dan hunrene mungkin bakal berjaya di ending nanti?

  7. demi apa dong kak akhirnya aku nemu ff marriage life di blog ini. meskipun ini bukan otp utamaku (uhuk… ini kode lho biar soheechul dibuatin ff lagi), tapi sejauh ini ceritanya bisa aku nikmati. masih suka kebayang seohyun sih tiap kali nemu joohyun. belum terbiasa kayaknya sama irene, hahaha. chapter selanjutnya sangat ditunggu

    1. jangan kasih aku kode kaya gituuuu.. aku ga sanggup dikode ><
      joohyun di ff ini irene red velvet lho ya. jangan ketuker. satu-satunya yang bakal aku pasangin sama seohyun (kalo aku sanggup bikin ff) cuma yonghwa, because yongseo is love. haha.

  8. Aku udah baca ampe chapter ke 2 tapi sehun ama soojung gak pernah berinteraksi hahaha mereka kayak dua cerita yg berbeda. Tapi aku masih pengen tau kelanjutan cerita ini, apakah mereka mulai dari awal semuanya sama2 atau mereka mulai dari awal ama pasangan yg berbeda? Tapi aku harap sehun ama soojung bersatu dan mulai dari awal lagi. Semangat thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s