PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4

..

Ketika Donghae bilang ia ingin ditraktir, Jessica membayangkan mereka akan makan malam berdua di restoran mewah sambil berbincang hangat, membicarakan masa lalu dan merancang masa depan. Maka ketika Donghae menyebutkan nama sebuah kafe sederhana di dekat rumah sakit, gadis itu pun sedikit bingung. Terlebih lagi, ketika ia sampai di tempat yang sudah mereka sepakati, mantan kekasihnya itu ternyata tidak sendirian di meja yang sudah dipesan. Ada empat pria lain yang tampak lebih muda, menatap Jessica mendekat dengan pandangan kagum bercampur tidak percaya.

“Kau ingat hoobae yang pernah kuceritakan dulu?”

Mendengar kata hoobae, Jessica langsung ingat sebuah percakapan yang dilakukannya bersama Donghae saat masih dirawat dulu. Pria itu bercerita bahwa ada beberapa dokter asuhannya yang ingin sekali bertemu Jessica. Gadis itu pun ingat sudah menyetujui keinginan Donghae untuk memperkenalkan mereka, tapi ia tidak mengharapkan pertemuan tersebut akan terjadi seperti ini.

Sebagian diri Jessica berpikir bahwa ini adalah cara Donghae menjaga jarak dengannya. Pria itu mencari alasan agar mereka tidak perlu bertemu berdua saja. Berdua membuat mereka akan membicarakan lebih banyak hal. Berdua membuat mereka terlihat lebih akrab. Berdua tidak membuat Donghae nyaman.

Namun sebagian dirinya yang lain memilih mengusir pikiran buruk itu jauh-jauh dan menggantinya dengan gagasan yang lebih positif. Mungkin saja Donghae mengajak keempat dokter muda itu agar tidak mengundang kesalahpahaman. Siapa yang tahu dari mana kamera wartawan akan menyorot? Siapa pula yang bisa menerka bagaimana spekulasi akan muncul ketika Jessica didapati sedang makan malam berdua dengan pria lain, sementara saat ini skandalnya dengan sang politikus masih saja ramai menghias layar kaca?

Jessica memantapkan hati pada kemungkinan kedua. Donghae melakukan ini semua karena memikirkan citra Jessica di depan publik. Ya, pasti itu alasannya.

Sambil memasang senyum terbaiknya, Jessica menyalami para pria yang datang bersama Donghae. Keempatnya memperkenalkan diri dengan canggung, membuat sang idola harus berulang kali meminta agar mereka bersikap sekasual mungkin.

Pria bernama Baekhyun adalah orang pertama yang berhasil keluar dari suasana kaku yang tidak mengenakkan itu. Dengan percaya diri ia langsung meminta foto berdua dengan Jessica, berkata bahwa ibunya di desa akan sangat senang melihat anaknya berfoto bersama artis terkenal.

Mendengar pengakuan yang kelewat jujur itu, Jessica langsung tertawa renyah, Donghae tersenyum geli di tempatnya, Jongdae mengembuskan napas putus asa, sementara Junmyeon langsung menghadiahi Baekhyun dengan tendangan pelan di betis, membuat sang dokter muda meringis.

“Maaf Nona Jung, dia memang tidak tahu malu,” ujar Junmyeon, tidak peduli bahwa di sampingnya, Baekhyun tengah melotot tidak terima.

Jessica menggeleng pelan, masih sambil tertawa. Sepertinya memang tidak salah Donghae begitu menyukai dokter-dokter muda ini. “Tidak apa. Aku tidak keberatan. Kalau kau mau aku menelepon ibumu untuk memberi salam pun kurasa tidak masalah.”

Kalimat terakhir Jessica membuat mata kecil Baekhyun membulat takjub. Pria itu langsung mengangkat dua tangan ke udara dan membentuk tanda hati besar di atas kepalanya. “Saranghamnida, Nona Jung! Mulai sekarang aku bersumpah akan menjadi penggemar sejatimu! Aku pasti akan membeli album Anda setelah rilis nanti,” seru Baekhyun penuh semangat. “Dan konser! Jumpa penggemar! Penampilan live di stasiun televisi juga akan kuikuti semua! Aku akan mendukung Anda dengan sepenuh hati.”

Kelakuan Baekhyun membuat semua orang di meja itu serempak tertawa. Keakraban tampak jelas hadir di antara mereka. Sembari menikmati kue dan minuman yang sudah dipesan, dokter-dokter itu menyimak Jessica bercerita tentang kehidupannya selama menjadi trainee, kisah-kisah seru yang terjadi setelah ia debut, serta rencana yang berhubungan dengan kariernya di dunia hiburan. Baekhyun bahkan sempat-sempatnya bertanya kebenaran beberapa gosip kencan yang melibatkan mantan rekan satu grup Jessica.

Jika ada yang terlihat tidak menikmati obrolan tersebut, maka dia adalah seorang pria tinggi yang duduk di sebelah kanan Donghae. Pria itu tadi mengenalkan diri dengan nama Wu Yifan. Dengan mata tajam serta alis tebal yang membuatnya tampak seperti orang marah, dokter berdarah China itu beberapa kali berhasil membuat Jessica salah tingkah.

“Kau tidak menyukaiku, ya?” tanya Jessica akhirnya.

Yifan yang tengah duduk kaku di tempatnya langsung menggeleng cepat, sementara ketiga temannya saling melemparkan tatapan geli yang lagi-lagi memunculkan rasa ingin tahu Jessica. Donghelah yang kemudian berinisiatif memberi penjelasan kepada gadis itu.

“Kau ingat aku pernah bilang bahwa salah seorang dokter magang yang baru masuk adalah penggemar beratmu? Dia orangnya.”

“Oh, itu kau?”

Sang dokter muda hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.

“Yifan sering kabur saat sedang piket hanya agar bisa menyusup ke lantai sembilan dan bertemu dengan Anda, Nona Jung,” beritahu Baekhyun. Dari cara pria itu meringis setelah ia menyelesaikan kalimatnya, Jessica bisa menebak bahwa Yifan baru saja menginjak atau malah menendang kaki rekan kerjanya.

Tapi sepertinya kali ini Baekhyun tidak sendiri. Dua dokter muda di sampingnya juga ikut-ikutan membeberkan kelakuan Yifan selama di rumah sakit.

“Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas keberadaan poster-poster SNSD di ruang istirahat kami,” ujar Jongdae.

“Dia sangat pendiam, tapi bisa tiba-tiba bernyanyi dengan kencang kalau mendengar lagu Anda,” tambah Junmyeon.

“Cita-cita terbesarnya adalah menjadi dokter pribadimu.” Donghae ikut bersuara.

Mendengar langsung cerita teman-teman Yifan tentang kelakuan pria itu sehari-hari membuat Jessica kontan tertawa geli. Memangnya apa yang bisa lebih membahagiakan seorang artis selain dukungan sepenuh hati dari penggemar? Setelah sepuluh tahun berkarya, Jessica tahu betul betapa berharganya rasa cinta seperti itu.

“Lalu kenapa kau diam saja sejak tadi?”

“Tentu saja karena ia malu,” imbuh Donghae.

“Kau tidak perlu sungkan, tahu. Aku tidak menggigit,” canda Jessica, yang langsung mendapat anggukan setuju oleh ketiga rekan Yifan.

Selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, pria itu hanya diam. Saat tahu bahwa Donghae mengajaknya untuk bertemu sang idola, otak Yifan sudah dipenuhi bermacam-macam skenario. Sejak tadi ia sibuk memilih harus mengatakan apa agar artis kesayangannya terkesan. Ia merasa iri kepada teman-temannya yang bisa dengan mudah membuat Jessica tampak terhibur dengan kata-kata mereka.

Sadar Jessica masih menunggu dia berbicara, Yifan lalu berujar, “Apa Anda menyukai kado yang kuberikan?”

Sang artis berambut panjang langsung mengerutkan alis, bingung. “Kado?”

Ne. Setiap hari aku menyuruh perawat meletakkannya di depan pintu masuk kamar Anda.”

Sebuah ide melintas di pikiran Jessica, tapi ia segera menghalau ide tersebut karena dalam hati gadis itu berharap ia salah.

“Ah, Anda tidak ingat, ya?” kata Yifan. Ada kekecewaan yang tersirat dari nada bicaranya, namun pria itu berusaha tetap terdengar santai saat menambahkan, “Aku paham, pasti tidak mudah mengingat semua yang diberikan penggemar kepada Anda. Apalagi kado yang kuberikan bukan sesuatu yang istimewa.”

Tidak. Tidak ada satu pun penggemarnya yang tahu di rumah sakit mana ia dirawat. Semua kado dan kartu ucapan dikirimkan penggemar ke apartemennya. Beberapa malah dikirim ke rumah orang tua dan adik Jessica. Satu-satunya kado yang ia terima selama di rumah sakit adalah pemberian Donghae.

Sungguh, itu bukan dariku. Aku menemukannya di depan pintu. Mungkin dari penggemarmu.

Mendadak tenggorokan Jessica terasa kering. Ia menatap Donghae, berharap pria itu bisa membaca kekhawatirannya dan segera memberi tahu bahwa apa yang sedang dipikirkan Jessica adalah kekeliruan. Tapi Donghae hanya diam, dan harapan Jessica pun hancur.

“Nona Jung, ada tidak apa-apa?”

Jessica tidak tahu suara itu milik siapa. Dia tidak peduli.

“Jessica, kau baik-baik saja?”

Tidak, ia tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja kalau kado yang selama ini ia pandangi saat bangun dan menjelang tidur, yang ia kira datang dari sang mantan kekasih, yang ia pikir merupakan tanda bahwa Donghae masih merasakan hal yang sama dengannya, ternyata merupakan pemberian orang lain.

“Apa penyakit Anda kambuh lagi?”

“Hei, Yifan, lihat apa yang kau lakukan pada Nona Jung. Kau membuatnya berpikir terlalu keras. Bagaimana kalau penyakitnya benar kambuh lagi? Cepat minta maaf!”

“Nona Jung—”

“Ah, maafkan aku. Aku memang kadang seperti ini saat sedang mengingat sesuatu,” kata Jessica. Tak lupa ia menyisipkan senyum untuk meyakinkan lawan bicaranya. Dokter-dokter itu serempak mengembuskan napas lega, membuat Jessica diam-diam bersyukur atas kemampuannya bersandiwara. Mengalihkan pandangan ke arah Yifan yang masih tampak panik, gadis itu berujar penuh semangat, “Jadi boneka lumba-lumba raksasa itu pemberianmu?”

Aku tidak tahu kalau kau sehebat itu dalam berakting.

“Oh, Anda ingat?”

Sang idola kontan mengangguk. “Bunga, buku, cokelat, dan beraneka macam buah. Itu juga darimu, kan?”

“Anda benar-benar mengingat semuanya?”

Jessica memamerkan senyum terbaiknya. “Tidak ada penggemar yang tahu di mana aku dirawat saat itu, jadi kalau ada kado yang datang, berarti itu darimu.”

Seharusnya kau tidak didebutkan sebagai penyanyi. Akting akan sangat cocok denganmu.

Jessica memang pelakon yang cemerlang. Donghae pun sudah mengakui kemampuan gadis itu berpura-pura. Maka ia menggunakan keahliannya lagi di sisa pertemuan malam itu. Ia tidak begitu memperhatikan apa saja yang dikatakan Yifan dan teman-temannya. Mereka tetap berbicang akrab. Dengan lugas Jessica menyahuti setiap perkataan keempat dokter muda di hadapannya. Donghae juga sesekali ikut berkomentar. Mereka berbagi cerita dan tertawa seperti orang yang sudah kenal lama. Tapi bagi Jessica, semua itu kini tidak lebih dari sekadar sandiwara.

Jessica tidak ingat siapa yang lebih dulu berinisiatif untuk menyudahi pertemuan itu. Ketika ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, gadis tersebut baru sadar waktu sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh.

“Terima kasih atas traktirannya, Nona Jung. Anda memang yang terbaik,” kata Baekhyun sembari membentuk tanda hati mungil dengan jari-jarinya.

Kelakuan Baekhyun lagi-lagi berhasil membuahkan tawa di bibir Jessica. Bedanya, kali ini tawa gadis itu butuh usaha ekstra, tidak seperti tadi di mana semua kegembiraan hadir secara sukarela.

“Terima kasih sudah mengizinkan kami bergabung malam ini,” ujar Junmyeon. Pria berkulit putih susu itu membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat, dan Jessica membalas dengan melakukan gestur serupa.

Ne, aku juga berterima kasih atas kebaikan Anda malam ini,” tambah Jongdae. “Kuharap kita masih bisa bertemu dan berbincang seakrab tadi.”

“Jangan sungkan untuk menyapa kalau kalian melihatku.”

“Aku pasti datang kalau Anda mengadakan konser, Nona Jung,” seru Yifan tak mau kalah. “Aku akan bolos piket kalau perlu.”

Junmyeon berdeham cukup keras sebagai isyarat agar Yifan tidak lupa bahwa supervisor mereka juga berada di sana. Bagi pria itu, perkara piket adalah hal yang sakral. Selama tubuh masih sehat, tidak ada alasan untuk membolos.

“Kalau kau sampai melalaikan jadwal piketmu, aku akan memastikan kau mendapat teguran resmi dari pihak rumah sakit,” canda Donghae, yang langsung disambut tawa renyah oleh empat orang di sampingnya.

Jessica langsung melotot ke arah Donghae. “Kalau kau berani berlaku sekejam itu pada penggemarku, aku akan membuat perhitungan denganmu,” guraunya, dan mereka pun tertawa lagi.

Setelahnya, satu per satu dari dokter magang itu berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Yifan adalah yang terakhir beranjak dari kafe tersebut. Ia merasa masih ingin berlama-lama dengan sang idola, tapi mau bagaimana lagi, gadis itu pasti juga butuh istirahat. Sebelum naik ke taksi yang ia pesan, dokter beralis tebal itu berujar, “Aku tidak pernah menyangka kalau Anda dan Dokter Lee ternyata sangat akrab. Seandainya saja Dokter Lee tidak akan segera menikah, aku pasti akan jadi orang pertama yang mendukung kalian berkencan.”

Yifan menutup pintu taksi dan kembali ke rumahnya dengan perasaan riang karena bisa bertemu dan mengobrol panjang dengan wanita yang sudah ia idolakan sejak sepuluh tahun lalu. Pria itu sama sekali tidak sadar bahwa ucapannya sudah berhasil membuat dunia Jessica seakan runtuh.

Seakan belum cukup suasana hatinya rusak karena fakta bahwa benda-benda di kamar Jessica ternyata bukan dari Donghae, Yifan mengungkapkan satu lagi kabar yang membuat Jessica kehabisan kata-kata.

***

“Jadi, kau akan menikah,” ujar Jessica. Gadis itu menunduk sembari mempermainkan pita keemasan yang menghias undangan pernikahan pria di sampingnya.

Mereka masih duduk bersisian di dalam mobil yang diparkir Donghae tepat di depan rumah Jessica. Seusai pertemuan di kafe tadi, Donghae memutuskan mengantar gadis itu pulang, sekaligus memberikan undangan yang belum sempat ia serahkan. Gadis itu tidak mengiya ketika Donghae menawarkan diri mengantarnya pulang, namun kabar pernikahan pria itu juga membuatnya terlalu terkejut hingga untuk menolak pun ia merasa sudah tidak punya sisa tenaga.

Suara musik yang mengalun dari radio menjadi satu-satunya pengiring perjalanan mereka menuju rumah sang gadis. Keduanya memilih tidak mengobrolkan apapun, berpikir bahwa tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan. Donghae mengira keheningan itu hanya akan diakhiri oleh ucapan selamat malam yang canggung, tapi ternyata ia salah. Setelah membaca isi kotak berhias pita keemasan yang tidak lain merupakan undangan pernikahan Donghae, Jessica mulai bersuara. Kata-katanya panjang, dituturkan pelan, penuh kejujuran, namun menyakitkan.

“Aku sempat berpikir bahwa kedekatan kita selama aku dirawat di rumah sakit adalah awal baik untuk memulai kembali hubungan kita yang dulu kandas. Aku masih menyimpan perasaan terhadapmu, tahu. Selama sepuluh tahun terakhir, satu-satunya pria yang kubayangkan setiap kali menyanyikan lagu cinta adalah dirimu. Setiap malam, aku bertanya-tanya bagaimana kau menjalani hidup. Apa kau bahagia? Apa kau sudah menemukan penggantiku? Apa kita masih bisa bertemu lagi? Apa aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku? Bahkan, kalau boleh jujur, aku mengencani Tuan Kim hanya karena merasa ia punya sedikit kemiripan denganmu. Aku menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa bersamanya aku bisa merasakan kembali indahnya mencintai, sama seperti yang dulu aku rasakan terhadapmu.”

Tapi, Sunbaenim, apa Anda tidak merasa punya sedikit kemiripan dengan Tuan Kim?

Donghae menurunkan kaca jendela mobil. Ucapan Jessica barusan membuat udara di dalam SUV hitam miliknya mendadak terasa sangat mencekik. Berulang kali Donghae menarik napas panjang, berharap rasa sesak di dalam dadanya bisa perlahan berkurang.

“Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu bimbang, apalagi membebanimu dengan perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesali perbuatanku sepuluh tahun lalu. Kuharap kau sudi memaafkanku ,” imbuh Jessica lagi.

Donghae melemparkan pandangan ke balik jendela demi menghindari tatapan Jessica. Ia berharap dengan begitu gadis di sampingnya tidak akan bisa membaca penyesalan yang ia rasakan. Ah, kenapa pertemuan mereka begitu terlambat? Kenapa gadis itu kembali di saat ia sudah terlanjur melabuhkan hati pada wanita lain?

“Wanita itu … kau mencintainya?”

Tidak sebanyak aku mencintaimu, sahut Donghae dalam hati.

“Setelah putus denganmu, dia adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatku ingin mencintai dan dicintai sekali lagi.”

“Ah, begitu rupanya.”

Lalu hening.

Donghae bahkan sudah tidak lagi mendengar suara musik dari radio yang masih menyala. Suara-suara di dalam kepalanya membawa ia terasing ke dalam labirin pikirannya sendiri.

Di samping Donghae, Jessica duduk diam di kursi penumpang, menimbang apakah harus segera menyudahi pertemuan ini dan masuk ke rumah, ataukah menunggu Donghae mengatakan sesuatu. Gadis itu tidak berharap Donghae tiba-tiba akan berjanji membatalkan pernikahan demi bisa bersamanya. Ia menunggu sesuatu yang lain. Sebuah kejujuran, mungkin. Sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang tiga bulan belakangan mengusik benaknya.

Donghaelah yang kemudian menyudahi keheningan itu. Seperti Jessica yang akhirnya menemukan jalan untuk mengungkapkan semua isi hatinya, sang calon pengantin juga ikut mengutarakan semua yang selama ini mengganjal di hatinya. Masa-masa sulit yang ia lalui setelah mereka putus, upaya pelarian diri yang membuat ia menggantungkan mimpi menjadi seniman dan justru masuk sekolah kedokteran yang dulu tidak pernah sekali pun menjadi bagian dari cita-cintanya, pertemuannya dengan anak direktur rumah sakit yang kemudian menjadi kekasihnya, serta harapan rapuh yang muncul seiring kembalinya Jessica ke dalam kehidupan pria itu.

“Untuk beberapa saat, kedekatan kita selama di rumah sakit benar-benar membuatku lupa bahwa aku punya seorang kekasih, dan itu membuatku merasa sangat berdosa kepadanya. Pesan-pesan yang kau kirim … aku mencari segala macam alasan untuk tidak membalasnya. Yifan dan teman-temannya, aku membawa mereka sebagai tameng, agar kita tidak perlu berbincang terlalu lama dan membahas hal yang terlalu personal. Aku terlalu takut hatiku goyah. Sebesar keinginanku untuk bersama lagi denganmu, sebesar itu pula keinginanku untuk tidak menyakitinya.”

Jessica tersenyum hambar. Sebenarnya ia ingin menguji kemampuan aktingnya sekali lagi dengan mengulas senyum bahagia untuk sang mantan kekasih, tapi kali ini sisi logisnya menang. Ia terlambat. Bahkan jika ia mengungkapkan perasaannya sejak awal pertemuan mereka di rumah sakit pun, ia tetap saja terlambat. Pria yang ia inginkan, satu-satunya pria yang tidak pernah meninggalkan hatinya selama sepuluh tahun, sudah dimiliki orang lain.

“Pernikahan itu direncanakan jauh sebelum kita bertemu lagi. Ah, Jessica, seandainya kau tahu betapa sering aku berandai-andai, berharap kita bertemu setahun lebih cepat.”

“Kalau sampai kau tidak bahagia—”

Jessica sebenarnya ingin menyambung kalimat itu dengan menyatakan kesediaan menerima Donghae kembali jika memang hubungannya dengan sang istri tidak berjalan seindah harapan, tapi gadis itu sadar betapa jahat dirinya jika belum apa-apa ia sudah memikirkan hal buruk. Ia tidak boleh egois. Ia pernah punya kesempatan berbahagia dengan Donghae, namun kesempatan itu sudah ia tukar dengan karier di dunia hiburan. Pria itu harus bahagia, meski bukan dengannya.

Pada akhirnya, Jessica menelan semua yang hendak ia katakan dan ganti berujar, “Kau harus bahagia. Jangan buat aku menyesal sudah melepaskanmu.”

Donghae mengangguk pelan. Sembari memamerkan senyum tipis yang canggung, ia menyahut, “Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”

***

Jessica menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut panjang bergelombangnya tampak acak-acakan karena sudah hampir seminggu tidak disisir. Wajahnya kusam karena jarang dibersihkan. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis. Hanya ada satu kata yang bisa merangkum penampilannya saat itu: mengerikan.

Kabar pernikahan Donghae dan kejujuran yang diungkapkan pria itu di pertemuan terakhir mereka membuat hati sang gadis hancur lebur. Semua harapan yang membantunya tetap bersemangat mengatasi masa-masa sulit selama tiga bulan belakangan langsung sirna begitu ia mendapati nama mantan kekasihnya tercetak manis di atas kertas undangan berdesain elegan.

Jessica tidak datang ke perhelatan besar itu. Kemampuan aktingnya ternyata tidak cukup hebat untuk menyamarkan hatinya yang patah. Dia menangis sejadi-jadinya. Waktu seminggu ia habiskan dengan mengutuki takdir, mengutuki kebodohannya di masa lalu, serta mengutuki semua yang melintas di kepalanya.

Bagaimana definisi kata terlambat?

Kalau ada yang menanyakan hal itu kepada Jessica, maka ia yakin bisa menjelaskan jawabannya dengan lengkap.

Terlambat adalah ketika kau melewatkan sesuatu dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menemukan kesadaran bahwa yang kau lewatkan ternyata adalah hal terbaik dalam hidupmu. Terlambat adalah cara takdir mempermainkanmu. Terlambat adalah hukuman dari Tuhan atas kesalahanmu di masa lalu.

Jessica mengusap wajah dan berulang kali mengembuskan napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin. “Kau akan baik-baik saja. Kau harus baik-baik saja,” perintahnya pada diri sendiri.

Gadis itu lalu mengambil sebuah kartu nama dari laci mejanya. Di atas kertas kecil berwarna kuning gading itu, tertera nama seorang CEO manajemen artis, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Sang pemilik nomor menjawab panggilan itu tidak lama setelah telepon tersambung. Riang, ia berseru, “Oh, Nona Jung, sebuah kehormatan bagiku mendapat telepon darimu. Bagaimana, kau sudah punya jawaban atas tawaranku tempo hari?”

“Tuan Yang,” sahut Jessica. Menangis membuat suaranya parau, karena itu ia harus berdeham terlebih dulu sebelum lanjut berbicara. “Kalau aku bergabung dengan manajemenmu, apa kau bisa memastikan aku terus sibuk?”

Orang yang dipanggil Jessica dengan sebutan Tuan Yang langsung tertawa renyah di seberang sana. Kepercayaan diri yang begitu besar tergambar jelas dari suaranya ketika ia menjawab, “Kalau itu memang maumu, aku bisa memastikan tidak ada satu hari pun yang akan kau lewati tanpa bekerja. Sebut saja, kau mau terus menyanyi, iklan, modeling, atau mencoba peruntungan baru di dunia akting? Dengan popularitasmu, dan tentu saja kerja keras dari pihak manajemen, aku yakin kau akan semakin bersinar.”

“Baiklah kalau begitu. Aku setuju bergabung dengan perusahaanmu.”

Jessica bisa mendengar lawan bicaranya berseru kegirangan di ujung saluran telepon. Ia mengucapkan terima kasih dan mengumbar sejuta janji manis yang tidak terlalu diperhatikan oleh gadis itu. Setelah sepakat melakukan satu lagi pertemuan demi membahas detail kontrak, Jessica dan calon atasan barunya menyudahi percakapan.

Kelak, Tuan Yang mungkin akan membuatnya bekerja seperti budak. Liburan dan privasi akan menjadi hal mahal baginya. Tapi Jessica tidak peduli. Ia ingin kesibukan. Ia butuh pelarian agar bisa melupakan kekosongan di satu sudut hatinya. Gadis itu meninggalkan pria yang sangat ia cintai demi mengejar karier, maka setidaknya ia harus memastikan bahwa kariernya tetap cemerlang.

end.

A/N: Bagaimana endingnya? Memuaskan? HAHAHA ;))

Advertisements

18 thoughts on “How Late is Too Late? – Chapter 5 [END]

  1. entah kenapa aku ga kaget lihat endingnya begini. author mmg sepertinya cenderung suka ending angsty kaya gini ya? tapi tetep kok, nice story…

  2. Serasa nonton drama bacanya kak 😂 sukaaa ceritanya tapi gak suka endingnyaa 😂 sakit hati ini kak hahaha alay 😂
    Bikin yg lain lagi yaa kak kalau bisa wks~, semangat terus pknya😁💪

  3. Aku semacam lost track gitu sama cerita ini, jadi akhirnya kubaca ulang dr awal. Kalo ga salah ingat dulu formatnya mau dibikin twoshots kan? And at the end malah jadi 5 chapter. Haha.
    Sptnya rayuan pas part awal dulu ga ada yang mempan. Terbukti di endingnya mereka tetep ga balikan. Sampe pertengahan aku masih punya harapan cerita ini bakalan happy ending. Ngerinya tuh cuma kalo dokter magang yg ngefans sm jessica bakal jd rival berat donghae, ga taunya dia malah jadian sm perawat ruang vip gara-gara keseringan nyelinap ke sana buat ketemu jessica. Pas donghae bagi-bagi undangan, aku pikir dia mau promosi jabatan apa gimana gitu. Apalagi hoobaenya pada komenin dia sbg contoh senior sukses. Ternyata ini sukses krn udah memenangkan hati putri direktur rumah sakit. Huhu TT_TT

    1. Dan authornya juga sukses bikin pembaca baper. Hahaha…. Next project pls happy ending ya ;)))

    2. yawla, ada yg sampe lost track saking lamanya aku menelantarkan ff ini. hahaha. iya, niatnya emg mau twoshots, tapi kamu tahu kan jariku ini sering berkhianat. otakku kelewat sinetron, jd ceritanya berbelit-belit. dan ah, rayuan itu. aku sebenarnya sempat tergoda lho buat bikin happy ending, tp rasanya kayak maksa gitu, jd kubalikin lagi ke rencana awal.

  4. endingnya memuaskan tapi sekaligus mematahkan harapan. aku tunggu sekian lama kak, berharap mereka dikasih happy ending, tapi yang happy cuma donghae krn jadi dokter “sukses”, jessicanya kasian merana gegara patah hati. huhuhu.

  5. Lama ga update, tau-tau cerita ini udah sampe chapter 5 aja. Kak, endingnya, kak… 😭😭😭
    Sama kaya komen di atas, aku suka ceritanya, tp gasuka endingnya. Terlalu sedih kalo menurutku. Dan entah kenapa rasanya sibuk kerja demi nyari pelarian is a thing di ff ini. Dulu donghae yg kaya gitu, skrg sica ikut-ikutan masuk manajemen dgn tuntutan kerja gila-gilaan demi bs mengalihkan perhatian dr donghae.

    1. kenapa kalian semua ga suka endingnya? aku kudu piyeeee? ini ending paling masuk akal menurutku. sepuluh tahun, byk yg bs berubah di waktu sepanjang itu, termasuk perkara hati.
      pelarian dgn kerja membabi-buta itu semacam curcol, sebenarnya *ups

  6. Aku udah sempat menduga ceritanya bakalan sedih, tapi entah kenapa tetep gak suka pas baca endingnya. Gara-gara kado yg dibawa donghae, aku udah sempat berharap mereka bisa punya kesempatan kedua. Ternyata itu dr org lain. Trus pas adegan donghae ngeliatin undangan nikahannya dan mikir kapan bs ngasih ke sica. Aku pikir itu kado krn bentuknya kotak, gak taunya undangan nikahan 😂😂😂 next haesicanya dibikin happy ya kak 😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s