PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2Chapter 3

..

Donghae membuka mata dan meraih ponsel yang ia letakkan di samping ranjang. Sudah hampir pukul tiga dini hari dan ia belum juga bisa tidur. Padahal, kegiatannya dua hari belakangan begitu menguras tenaga. Jadwal kerja di rumah sakit serta persiapan sebuah acara besar membuat pria itu nyaris menghabiskan 48 jam tanpa tidur. Sekembalinya dari rumah sakit, ia langsung mengempaskan tubuh di atas kasur, berharap tidak lama kemudian kantuk yang membayang bisa langsung membawanya menuju alam mimpi. Selama dua jam lebih ia hanya sibuk membolak-balik tubuh tanpa bisa benar-benar terlelap. Penyebabnya satu: sebuah pesan yang dikirimkan gadis dari masa lalunya.

Pria itu terbiasa melihat nama Jessica di kotak masuk pesannya. Sejak pertemuan mereka di rumah sakit beberapa bulan lalu, ia dan sang gadis memang kembali akrab. Luka-luka masa lalu seolah terlupakan dalam setiap obrolan singkat yang mereka lakukan di sela-sela pemeriksaan rutin setiap sore di kamar Jessica. Bahkan, setelah sudah tidak lagi berstatus pasien, gadis itu tetap rajin menghubungi Donghae. Kadang kala ia menceritakan kegiatan apa saja yang ia lakukan dalam sehari, namun seringnya gadis itu hanya mengirimkan gambar-gambar lucu serta ucapan agar sang dokter semangat bekerja.

Meski merasa terhibur dengan datangnya semua kalimat manis tersebut, Donghae tahu betul bahwa ia tidak boleh terlalu besar kepala. Menganggap pesan dari Jessica sebagai tanda bahwa gadis itu ingin kembali merajut cinta dengannya adalah tindakan ceroboh yang bisa lagi-lagi membawanya pada rasa sakit. Jessica mungkin hanya ingin menjaga hubungan baik yang sudah mereka jalin selama gadis itu mendapat perawatan di rumah sakit. Atau mungkin, gadis berambut panjang itu hanya sedang bosan di rumahnya. Suatu saat jika ia sudah memutuskan untuk kembali terjun di dalam sibuknya dunia hiburan, pesan-pesan manis itu pun akan lenyap dengan sendirinya.

Maka, pada akhirnya Donghae memilih untuk bersikap tidak acuh. Pesan-pesan itu ia balas sekenanya. Bahkan, ia lebih sering membiarkan pesan dari Jessica begitu saja. Kesibukan di rumah sakit serta beberapa hal yang bersifat lebih pribadi berhasil menjaganya tetap sibuk hingga ia merasa punya lebih banyak alasan untuk tidak menuruti kata hatinya yang ingin terus meladeni pesan dari sang mantan kekasih.

Kali ini berbeda. Jessica mengajaknya bertemu untuk memenuhi janji yang mereka ucapkan suatu hari setelah gadis itu menceritakan perihal tuntutan perdata yang dialamatkan kepadanya. Sekitar sebulan sebelumnya, gadis itu secara khusus menghubungi Donghae, hanya untuk mengabarkan perkembangan terbaru kasus itu. Mereka berbincang cukup lama, dan telepon ditutup setelah Donghae sekali lagi mengingatkan agar Jessica membelikannya makanan untuk merayakan selesainya kasus tersebut. Permintaan itu hanya candaan, tentu saja. Donghae tidak menyangka bahwa Jessica ternyata menanggapi gurauannya dengan serius.

Donghae melirik sebuah kotak berukuran sedang yang terletak di atas meja di samping ranjangnya. Sinar lampu kamar membuat benda berpita keemasan itu tampak bersinar. Sudah sejak lama ia hendak memberikannya kepada Jessica, tapi tidak pernah terwujud karena pria itu tidak tahu harus mengemukakan alasan apa untuk mengajak sang gadis bertemu.

Kini, justru Jessica yang lebih dulu mengajaknya bertemu. Permohonan cuti yang ia ajukan tempo hari juga sudah dikabulkan pihak rumah sakit hingga mulai besok Donghae punya cukup banyak waktu luang. Satu-satunya hal yang menahan pria itu untuk tidak segera menerima ajakan Jessica adalah ketakutan tak beralasan bahwa saat melihat wajah gadis itu lagi, hatinya akan goyah. Keinginan untuk memperbaiki hubungan masa lalu mereka, yang sudah ia tekan dalam-dalam ke sudut hati, bisa kembali menyeruak. Jika itu benar terjadi, bagaimana selanjutnya? Bagaimana jika pertahanannya terlanjur runtuh sementara Jessica hanya menganggapnya tidak lebih dari sekadar teman lama?

Sebanyak keinginannya untuk bertemu gadis itu lagi, sebanyak itu pula ia ragu terhadap dirinya sendiri. Sebanyak apapun cinta yang tersisa di hatinya untuk Jessica, sebanyak itu pula ia tidak ingin kembali tersakiti.

Donghae menatap layar ponselnya, sekali lagi membaca pesan yang dikirim Jessica beberapa jam lalu.  Setelah berulang kali menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan, ia mulai mengetik balasan.

LeeDonghae: Maafkan aku. Jadwalku belakangan begitu menggila hingga untuk mengecek pesan masuk saja aku tidak sempat. Kau sudah tidur? Ah, aku yakin kau pasti sudah terlelap dalam mimpi indahmu. Sampai dua minggu ke depan aku cuti, jadi terserah kau saja kapan bisa bertemu.

Donghae menghapus pesan panjang itu tidak lama setelah mengetik kata terakhir. Pesan yang kelewat panjang akan membuatnya terlihat terlalu antusias. Penjelasan tidak perlu akan membuat Jessica berpikir bahwa ia pria membosankan.

Setengah jam kemudian, setelah berulang kali mengetik dan menghapus, pesan balasan untuk Jessica akhirnya terkirim.

***

Jessica yang tertidur di sofa sembari memegang ponsel sontak terbangun mendengar bunyi yang menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Buru-buru, ia menggerakkan jari dan membuka aplikasi bergambar amplop putih di sudut kanan bawah layar lima inci dalam genggamannya. Gadis bersuara nyaring tersebut nyaris bersorak ketika akhirnya mendapati nama mantan kekasihnya di sana.

LeeDonghae: Tentu saja aku ingat. Malam ini di kafe depan rumah sakit, bagaimana?

Jessica sebenarnya mengharap balasan Donghae sedikit lebih panjang. Bukankah setidaknya ia berhak mendapat penjelasan kenapa pesannya baru dibalas setelah lima belas jam berlalu? Apakah Donghae sebegitu sibuknya di rumah sakit? Apakah ada hal lain yang menyita perhatiannya?

Ia ingin bertanya, namun di saat yang sama ia juga sadar tidak punya hak menuntut macam-macam. Donghae yang dulu ia kenal memang tidak pernah membuatnya bertanya-tanya. Pria itu bahkan selalu menjelaskan banyak hal tanpa perlu diminta. Tapi mungkin benar, waktu bisa mengubah seseorang. Dan jika memang perubahan itu adalah bagian dari Donghae yang sekarang, Jessica sama sekali tidak keberatan.

JessicaJung: Baiklah. Sampai bertemu nanti malam :))

***

“Kurasa pria itu yang bersalah. Dia sudah punya istri yang tidak kalah cantik, tapi masih saja terlibat hubungan dengan gadis lain.”

“Justru itu! Karena dia sudah punya istri, bukankah seharusnya gadis itu yang menjauh?”

“Apa kau tidak membaca wawancara ekslusifnya? Nona Jung jatuh cinta! Memangnya apa yang bisa kaulakukan kalau cinta sudah bicara? Aku yakin ia tidak akan begitu ceroboh mempertaruhkan kariernya kalau tidak benar-benar menyukai Tuan Kim.”

“Tapi sekarang kau lihat sendiri bagaimana cinta mereka berhasil menghancurkan karier yang sudah dibangun bertahun-tahun. Padahal aku sudah sangat yakin akan memberikan suaraku untuk Tuan Kim pada pemilihan walikota tahun depan. Sayang sekali harapan memperoleh pemimpin berkualitas seperti dirinya harus kandas karena hubungan yang dijalin terlalu sembrono.”

“Menurutku yang lebih patut diberi simpati adalah Nona Jung. Jelas sekali bahwa perasaan Tuan Kim terhadapnya tidak setulus yang ia harapkan. Pria itu benar-benar memojokkan dirinya saat konferensi pers. Seolah dengan melemparkan semua kesalahan pada Nona Jung, ia bisa begitu saja lepas dari semua masalah ini.”

Donghae memilih berdeham agar ketiga orang yang tampak asyik berbincang di depannya menyadari keberadaan pria itu. Dokter 32 tahun tersebut bukan tipe yang gemar berlaku sok senior. Sebaliknya, ia selalu berusaha bersikap sebaik mungkin kepada dokter-dokter baru yang berada di bawah bimbingannya. Namun meski saat itu ada senyum di wajah Donghae, kehadirannya mampu membuat ketiga dokter magang yang sebelumnya sibuk menghabiskan sisa waktu istirahat sambil mengomentari berita yang ditayangkan salah satu stasiun televisi langsung panik. Mereka serempak berdiri dan membungkuk hormat kepada Donghae yang saat itu bersandar di ambang pintu.

“Selamat pagi, Dokter Lee!”

Senyum masih belum hilang dari wajah Donghae ketika ia mengangguk pelan untuk menjawab salam para juniornya.

“Kupikir Anda sudah mulai cuti hari ini,” ujar seorang pria yang lebih muda. Di papan nama yang terpasang di jas putihnya, terdapat sulaman huruf yang membentuk kata Kim Jongdae.

“Aku datang untuk memberikan ini,” ujarnya sembari menyodorkan sebuah kantung kertas berisi empat kartu undangan.

Kim Junmyeon, dokter muda yang kebetulan berdiri paling dekat dari pintu langsung menerima kantung pemberian Donghae dan membagikan kartu di dalamnya kepada rekannya yang lain.

“Oh, kami juga diundang?” Byun Baekhyun, seorang dokter lain yang dikenal Donghae merupakan yang paling cerewet di antara teman-temannya, ikut bersuara.

Donghae mengangguk.  “Kalian ini hoobae kesayanganku, tentu saja kalian berempat harus hadir.”

Sunbaenim, berarti tidak lama lagi Anda akan menjadi salah satu petinggi di rumah sakit ini,” komentar Jongdae setelah membaca tulisan di kartu undangan pemberian Donghae. Dengan pandangan kagum, ia berujar, “Mulai sekarang aku akan menjadikanmu panutan terbesar dalam hidupku.”

“Sama. Aku juga,” tambah Junmyeon.

“Aku juga!” seru Baekhyun tak mau kalah. “Aku harus jadi dokter yang sukses seperti Anda agar ibuku di desa semakin bangga.”

Dipuji demikian, Donghae kontan tertawa pelan. “Bagaimana bisa sukses kalau yang kalian lakukan setiap hari hanya menonton gosip selebriti,” ujar pria 32 tahun itu. Sekilas, matanya melirik ke arah televisi yang memang disediakan di setiap ruang istirahat. Di layar kecil itu, tampak wajah seseorang yang sangat ia kenal. Sudah hampir tiga bulan sejak pertama kali berita tersebut mencuat dan media masih saja sibuk memberitakan perkembangan hidup gadis itu.

“Tapi berita tentang Nona Jung dan politisi itu benar-benar seru, Sunbaenim!” sahut Jongdae.

“Begitukah?” tanya Donghae, berusaha tampak tidak terlalu tertarik.

“Dokter Lee, bukankah Anda sering ditugaskan di ruang VIP? Apa Anda pernah bertemu dengan Nona Jung?”

Donghae mengangguk. Sebuah tawa kecil lolos dari sela bibirnya. “Kami bertemu setiap hari. Dia salah satu pasienku.”

Ekspresi ketiga orang di depan Donghae langsung berubah. Bagaimana tidak, sejak memulai masa magang, mereka sudah mendengar kabar bahwa Jessica Jung dirawat di rumah sakit tempat mereka bertugas. Seorang dokter yang masuk bersamaan dengan mereka bahkan sengaja datang dari China, melewati proses adminstrasi yang tidak sedikit, hanya demi mendapat kesempatan praktik kerja di rumah sakit di mana idolanya dirawat. Aturan rumah sakit yang memberikan pengawasan ketat terhadap kenyamanan pasien VIP-lah yang akhirnya memupuskan harapan melihat sekilas wajah sang artis dari dekat. Jangankan mendekati kamar sang artis, menginjak zona VIP pun mereka tidak bisa sembarangan. Jangankan mencari tahu perkembangan sang publik figur, identitas dokter yang merawatnya pun dirahasiakan.

Tapi siapa sangka, dokter pembimbing mereka justru merupakan orang yang bertanggung jawab atas kesehatan artis yang paling banyak dibicarakan saat ini, dan mereka bahkan baru tahu dua bulan setelah sang artis keluar dari rumah sakit ini.

Ketiganya mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan dengan cara berbeda.

Junmyeon, sebagaimana pembawaannya yang selalu tenang, berhasil meredakan keterkejutannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Anda benar-benar pandai menyimpan rahasia, Sunbaenim.”

Donghae menanggapi dengan balik tersenyum. “Tuntutan profesi,” jawabnya.

Jongdae, meski sedikit kecewa karena baru mengetahui fakta itu sekarang, tampak tidak ingin terlalu memperlihatkan perasaannya. Sebagai ganti, ia hanya bertanya, “Apakah dia benar-benar cantik? Anda tahu ‘kan maksudku, tanpa make-up berlebih seperti yang biasa terlihat di televisi.”

Bayangan Jessica yang masih memakai seragam sekolah menengah langsung melintas di benak Donghae; polos, tanpa polesan kosmetik, tanpa pernah tersentuh pisau operasi. Lagi-lagi tersenyum, pria itu menjawab, “Iya, dia cantik meski tanpa riasan apapun.”

“Sungguh?” seru Baekhyun. Pria berbadan mungil itu langsung meraih tangan Donghae. Dengan mata yang berbinar penuh harap, ia berujar, “Dokter Lee, apa Anda bisa membantuku mendapatkan tanda tangan Nona Jung? Meski sebenarnya aku lebih menyukai Taeyeon Noona, tapi—”

Baekhyun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Junmyeon sudah terlebih dulu menendang kaki Baekhyun dari samping, mengingatkannya agar menjaga sikap di depan senior. Bukannya Donghae akan keberatan. Ketiga orang itu sudah sangat tahu bahwa Donghae adalah seorang senior yang cukup bijaksana hingga mereka bisa bersikap santai di depannya. Tetapi Junmyeon merasa mereka bertiga harus tetap menaati batas antara senior dan junior, apalagi kelangsungan nasib mereka di rumah sakit ini bergantung dari penilaian Donghae di akhir program magang nanti.

“Omong-omong, di mana Yifan?” tanya Donghae. Dia baru menyadari bahwa satu anak bimbingannya tidak tampak di ruang istirahat, padahal tidak lama lagi jadwal piket mereka akan dimulai.

“Di mana lagi?” tukas Jongdae, seolah yakin bahwa tanpa benar-benar memberitahukan keberadaan Yifan, Donghae sudah bisa mengetahui di mana pria itu menghabiskan waktu istirahat.

“Lantai sembilan?” tebak Donghae. Alisnya sedikit terangkat, menunjukkan ketidakyakinan, sementara bibirnya melengkung membentuk seulas senyum geli membayangkan alasan pria tinggi yang selalu tampak tenang itu berada di sana.

Ketiga dokter muda di depan Donghae langsung mengangguk, dan akhirnya senyum geli pria itu berubah menjadi sebuah tawa ringan.

Lantai sembilan rumah sakit tempat Donghae bekerja merupakan area khusus untuk para pasien berstatus VIP. Di salah satu kamar di lantai itu, pernah ada Jessica Jung, artis yang begitu diidolakan Yifan. Sejak resmi berstatus dokter magang di rumah sakit ini, sudah tidak terhitung berapa kali pria itu ketahuan berusaha menerobos penjagaan di lantai sembilan hanya demi bisa menemui artis kesayangannya. Semua upaya itu gagal, tentu saja. Rumah sakit ini tidak pernah main-main dalam urusan pelayanan, termasuk memeriksa dengan ketat pengunjung yang datang agar para pasien VIP tetap terjaga kenyamanannya.

Lucunya, meski tidak pernah berhasil bertemu dengan Jessica, kedatangan Yifan yang terus-menerus membuatnya mendapat perhatian dari seorang perawat yang memang ditugaskan berjaga di sana. Tidak ada yang tahu kapan hubungan romantis di antara keduanya bermula, yang jelas Yifan akhirnya punya alasan lain untuk tetap mengunjungi lantai sembilan biarpun Jessica sudah tidak ada lagi di sana.

“Beritahu Yifan, lain kali jika dia ingin ke lantai sembilan, tidak usah sembunyi-sembunyi dariku. Pertama, aku sudah tahu alasan dia masih sering ke sana. Kedua, aku tidak akan menghukumnya selama kunjungannya ke tempat itu tidak dilakukan saat jadwal piket. Dan omong-omong, aku ada janji dengan Nona Jung malam ini. Jadi kalau setelah piket ia ingin menukar waktu tidur dengan kesempatan bertemu artis idolanya, ia bisa ikut denganku.”

Daebak!” seru Jongdae dan Baekhyun bersamaan.

“Kalian bertiga juga boleh ikut, kalau mau,” ujar Donghae lagi.

“Benarkah?”

Donghae mengedikkan bahu, ringan.

Dan dengan begitu, ketiga dokter muda di hadapan Donghae serempak berseru gembira. Junmyeon yang sebelumnya tampak tenang dan tidak terlalu tertarik, mulai terlihat bersemangat. Jongdae langsung menghujani Donghae dengan pandangan kagum yang tidak ingin ditutup-tutupi. Baekhyun bahkan tidak ragu untuk memeluk Donghae sambil meloncat-loncat kegirangan, berkata bahwa ia nanti akan meminta berfoto dengan Jessica, lalu foto tersebut akan ia kirimkan kepada ibunya di desa. “Aku pasti akan menjadi bahan perbincangan orang-orang sekampung setidaknya selama seminggu penuh!” serunya. Mata pria itu berbinar penuh harap dan Junmyeon sampai harus kembali menendang kaki Baekhyun agar pria yang lebih muda tersebut menghentikan tindakan kekanakannya.

Donghae tertawa ringan melihat tingkah ketiga pria muda di depannya. Rasanya menyenangkan sekali melihat interaksi mereka yang penuh keakraban. Dulu, saat masih menjadi dokter magang, Donghae tidak pernah punya kesempatan untuk bercengkrama seperti ini bersama teman-teman seangkatannya. Pria itu selalu menyibukkan diri dengan pasien, bahkan di saat ia seharusnya beristirahat. Sebagian temannya menganggap ia sedang mencari muka, sebagian lagi memilih untuk tidak terlalu peduli. Tidak ada yang tahu bahwa Donghae melakukan semua itu karena berpikir bahwa kesibukan yang menggila akan membantunya melupakan seseorang yang telah mematahkan hatinya.

“Tapi, Sunbaenim,” ujar Baekhyun setelah melepas pelukannya dari tubuh Donghae. Nadanya ragu-ragu, dan untuk sesaat, ia sempat berpikir untuk tidak melanjutkan ucapannya. Mendapati Donghae dan kedua rekannya yang lain sudah terlanjur menoleh, dokter magang termuda di rumah sakit itu tahu ia tidak punya pilihan selain menambahkan, “Apa Anda tidak merasa punya sedikit kemiripan dengan Tuan Kim?”

Jongdae menelengkan kepala sedikit, tampak berusaha mencari-cari kemiripan yang dimaksud Baekhyun, tapi ekspresi bingung di wajahnya menjelaskan bahwa dia tidak berbagi pemikiran yang sama dengan Baekhyun. Merasa tidak puas dengan hasil pengamatannya, ia menatap wajah Donghae dan layar televisi secara bergantian, tapi sama seperti sebelumnya, dia tidak merasa bahwa seniornya itu mirip dengan politisi yang diberitakan terlibat skandal dengan Jessica.

“Kalau dilihat dari samping, Anda memang terlihat sedikit mirip dengan pria itu.” Junmyeon yang kebetulan sedang berdiri di sebelah kiri Donghae kembali bersuara, membenarkan ucapan Baekhyun.

Jongdae langsung menggeser posisi ke dekat Junmyeon demi memperhatikan sisi sebelah kiri wajah Donghae. Sejujurnya, Donghae tidak terlalu nyaman ditatap dengan cara demikian, tapi ketidaknyamanan itu seolah tergeser ke sudut pikirannya karena ia tiba-tiba teringat perbincangannya dengan Jessica tempo hari.

Sampai sekarang aku juga bertanya-tanya kenapa aku mau menjalin hubungan dengan pria brengsek itu.

Mungkinkah….

Donghae berdeham untuk menghalau harapan yang datang bersamaan dengan kesadaran yang baru saja menghampirinya. Hatinya yang patah masih menyisakan sebuah ujung tajam yang jika tidak dihindari akan kembali menyakitinya seperti dulu, dan Donghae tidak menginginkan itu.

Ketiga dokter muda di dalam ruangan itu menganggap dehaman Donghae sebagai tanda agar mereka berhenti bercanda dan kembali pada pekerjaan masing-masing. Mereka buru-buru meraih jas putih yang tergantung di dekat pintu lalu berjalan tergesa-gesa menuju unit gawat darurat, tempat mereka akan bertugas sepuluh menit lagi, meninggalkan Donghae sendirian di ruang istirahat dengan televisi yang masih menyala. Di layar selebar empat belas inci itu, terpampang wajah Kim Jaehyung, pria yang beberapa waktu belakangan selalu disebut-sebut media menjalin hubungan gelap dengan Jessica. Pandangan Donghae lekat pada gambar bergerak di hadapannya, bukan karena ia tertarik dengan perkembangan karier sang politikus pasca skandalnya dengan Jessica, tapi karena ia mendadak terlalu sibuk memperhatikan hasil sorotan kamera wartawan yang kebetulan mengambil gambar pria itu dari sisi sebelah kiri. Seperti kata Baekhyun, mereka memang punya kemiripan.

Sialan!

to be continued…

Advertisements

One thought on “How Late is Too Late – Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s