8

a HaeSica fanfiction by nchuhae

..

Yang kutulis ini memang jauh dari kata romantis, tapi Sooyeon, aku berharap kau masih sudi menganggapnya sebagai surat cinta.

Masih berhubungan dengan You’ve Got Mail dan mengambil latar waktu yang sama dengan Present. Selamat membaca 🙂

..

Sooyeon berbaring di atas ranjang sembari menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga dini hari, tapi kantuk belum juga menyelimuti kelopak matanya. Di hari biasa, setelah menjalani jadwal yang padat dari pagi hingga malam hari, gadis itu bisa dengan mudah melayang ke alam mimpi begitu kepalanya menyentuh bantal. Namun, malam ini berbeda.

Benak gadis itu masih belum berhenti mereka ulang apa yang terjadi di atas kereta beberapa jam lalu. Sooyeon tidak sanggup menghalau ide bahwa perbuatan tersebut merupakan hal gila—atau lebih tepatnya bodoh. Untuk yang kesekian kalinya sejak sebulan terakhir, gadis itu kembali mempertanyakan kebenaran kata-kata Heechul. Benarkah ia tidak salah mengartikan semua perlakuan Donghae selama ini kepadanya?

Setelah ia dan Donghae turun dari kereta, keduanya berjalan menuju apartemen dengan berselubung sunyi. Sooyeon merasa ada yang salah, sebab apa yang ia alami jelas tidak seperti yang selama ini terbayangkan olehnya. Setelah menyatakan cinta, apakah wajar keheningan seperti itu hadir?

Sebelum Sooyeon akhirnya meyakini bahwa ia dan Donghae saling memiliki perasaan kepada satu sama lain, gadis 28 tahun tersebut sudah lebih dulu menjalin sejumlah romansa dengan pria lain, dan tidak pernah ada yang terasa seganjil ini. Ia terbiasa menerima pernyataan, bukan menyatakan perasaan terlebih dulu. Lalu ketika ia dan para mantan kekasihnya sepakat pada sebuah komitmen, pria-pria tersebut biasanya langsung menemukan bahan pembicaraan baru yang akan dengan ampuh mengalihkan suasana canggung di antara mereka. Hal sederhana semacam tempat-tempat yang hendak mereka datangi pada kencan berikut, misalnya.

Bersama Donghae, pembicaraan semacam itu tidak hadir sama sekali. Pria yang disebut-sebut Heechul sudah lama memendam perasaan terhadapnya itu justru dengan tenang berjalan di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Padahal, Sooyeon sudah menunggu Donghae mengucapkan sesuatu. Apa saja, asalkan gadis itu tidak mendadak dihantui pemikiran bahwa Donghae menerima pernyataan cintanya hanya karena terpaksa.

Seandainya malam belum terlalu larut, Sooyeon pasti tidak akan ragu melakukan panggilan internasional demi menuntut Heechul memberikan pembenaran atas apa yang telah ia lakukan. Di atas segalanya, gadis itu mulai meyakini ide bahwa Donghae menyukainya berkat provokasi dari Heechul. Kalau sampai apa yang dikatakan mantan kekasihnya tersebut hanyalah bualan belaka, Sooyeon tidak tahu lagi bagaimana mempertahankan harga dirinya di hadapan Donghae.

Sooyeon masih sibuk berkontemplasi saat ponselnya mengeluarkan bunyi pelan yang menandakan sebuah pesan baru saja masuk ke surelnya. Dengan malas gadis itu berguling demi meraih benda elektronik yang ia letakkan di meja kecil di samping ranjang, dalam hati merasa tahu betul bahwa hanya ada satu orang yang akan mengiriminya pesan di jam seperti ini.

Ia langsung menekan gambar amplop putih di sudut kiri bawah layar, dan benar saja, pesan itu datang dari Donghae. Isinya berupa gambar lanskap kota yang dipotret dari sudut yang terlalu familiar untuknya. Ia dan Donghae sering sekali menghabiskan malam dengan berbincang tidak tentu arah di tempat tersebut, membiarkan suara embusan angin dan sayup deru mesin kendaraan yang lewat menjadi pengiring obrolan mereka.

Di bawah gambar tersebut, ada sebaris ajakan untuk kembali menghabiskan waktu dengan mengobrol di sana, serta peringatan agar Sooyeon tidak lupa membawa ponselnya. Kau mungkin akan memerlukan ponselmu nanti. Itulah yang dikatakan Donghae untuk menutup suratnya.

Sooyeon tidak butuh waktu lama untuk segera menyambar mantel wol cokelat kesayangannya dan beranjak menuju atap gedung.

..

Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Sooyeon untuk sampai di tempat yang diberitahukan Donghae. Ketika ia membuka pintu yang menghubungkan lantai teratas gedung dengan atap, semilir angin langsung menyapu wajahnya, menerbangkan sejumlah anak rambut yang sebelumnya hanya ia gelung ala kadarnya. Gadis itu refleks mengeratkan mantel yang ia kenakan, sementara matanya aktif mencari keberadaan pria yang telah mengajaknya ke tempat tersebut.

Donghae tidak tampak di mana-mana, setidaknya itulah yang bisa disimpulkan Sooyeon ketika ia telah melayangkan pandangan ke semua arah namun tidak juga menemukan batang hidung pria itu. Cepat, ia meraih ponsel dari dalam saku mantel dan mengetik sebaris pesan.

SooyeonJung: Aku sudah ada di atap. Kau di mana?

Pesan itu mendapat balasan sekitar dua menit kemudian.

Handsome Fish: Menurutmu?

SooyeonJung: Oh, jangan bilang kau sedang mengerjaiku.

Handsome Fish: Menurutmu?

SooyeonJung: Jangan bercanda, Lee Donghae! Kau di mana?

Handsome Fish: Menurutmu?

Sooyeon menatap layar ponselnya dengan mata membulat dan hati yang mendadak dirundung kesal. Setelah mendiamkannya sepanjang perjalanan pulang tadi, sekarang pria itu tanpa rasa bersalah menyuruhnya naik ke atap gedung di jam seperti ini hanya demi bercanda? Yang benar saja!

..

Kekesalan Sooyeon semakin berkobar ketika ia memasuki apartemen Donghae dan pria itu—lagi-lagi—tidak tampak di mana pun. Sooyeon bahkan membuka lemari pakaian Donghae, berpikir pria itu mungkin bersembunyi di sana, tapi pencariannya tidak membuahkan hasil.

SooyeonJung: Hei Bodoh, kau di mana, hah?

Handsome Fish: Menurutmu?

SooyeonJung: Ponselmu rusak atau apa? Kenapa sejak tadi yang kauketik hanya satu kata itu?

Handsome Fish: Menurutmu?

Gadis itu mengembuskan napas dengan kasar. Jarinya kembali bergerak di atas layar ponsel untuk mengetik pesan berisi umpatan. Lalu, tanpa menunggu lebih lama lagi, ia meninggalkan tempat itu dengan otak yang sibuk memilih skenario terbaik untuk membunuh seseorang.

..

Niat membunuh itu seketika lenyap ketika Sooyeon membuka pintu apartemennya dan mendapati ruangan tersebut tampak berbeda dari biasa.

Di hari-hari lain, yang menyinari tempat ini adalah lampu neon, bukannya sejumlah lilin yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk jalan kecil yang kemudian menuntunnya menuju ruang tengah di mana ia dan Donghae biasa menghabiskan waktu luang dengan menonton drama.

Di hari-hari lain, yang berserakan di meja pendek yang mengantarai sofa dan layar televisi adalah beragam camilan kesukaan Sooyeon, bukannya kelopak mawar merah dan kotak terbuka yang menampakkan sebuah cincin bertahta berlian mungil.

Di hari-hari lain, yang muncul di layar selebar 50 inci tersebut adalah wajah aktor dan aktris yang tengah berlakon memainkan skenario romantis yang sangat disukai Sooyeon, bukannya video yang diedit secara amatir, berisi wajah sang gadis dengan beragam ekspresi, dan ada lagu I Wanna Grow Old With You milik Westlife sebagai musik pengiringnya.

Sooyeon menggigit bibir. Hatinya yang sempat dipenuhi kekesalan kini dibanjiri kebahagiaan, karena semua ini hanya bisa berarti satu hal: kekhawatirannya tadi tidak beralasan. Mungkin Donghae memang bukan orang yang menyatakan perasaan dengan cara gamblang, mungkin pria itu tidak menyadari akibat yang bisa dibawa oleh bahwa sikap diamnya tadi, dan mungkin inilah arti dari ucapan Heechul tempo hari.

“Aku heran, kenapa sampai sekarang dia masih belum mengatakan apa-apa kepadamu.”

Dalam hati, Sooyeon berjanji tidak akan lagi meragukan keputusannya mempercayai perkataan mantan kekasihnya itu. Dia sudah punya cukup bukti sekarang.

Gadis itu mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Donghae. Seperti sebelumnya, pria bermata sendu itu tidak tampak. Sooyeon menduga Donghae sedang bersembunyi di balik salah satu pintu di dalam apartemen sederhana ini, entah untuk tujuan apa. Tapi berbeda dari sebelumnya, kali ini Sooyeon tidak ingin bersusah payah mencari. Ia mengambil ponsel dan kembali menulis pesan.

SooyeonJung: Kau di mana? Kalau kau menjawab pertanyaanku dengan kata ‘menurutmu’ lagi, aku bersumpah akan memukul kepalamu.

Tidak ada pukulan yang mendarat di kepala Donghae malam itu, karena sang pria menjawab pertanyaan Sooyeon dengan sebuah surat yang sangat panjang—dan tidak ada kata ‘menurutmu’ di dalamnya.

..

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Sepertinya Ini Surat Cinta

Aku sangat ingin membuka surat ini dengan mengutarakan bagaimana perasaanku saat kita pertama kali bertemu. Kau tahu ‘kan, seperti di novel-novel yang sering kaubaca menjelang tidur, di mana hampir semua surat cinta yang ditujukan pemeran utama pria berisi ungkapan betapa jantungnya berdegup tidak biasa kala melihat sang gadis untuk pertama kali.

Aku sempat iseng membaca beberapa di antara koleksi novelmu, dan sungguh mengejutkan mendapati tokoh utama di cerita itu bahkan ingat bahwa saat pertama kali bertemu dengan kekasihnya, sang gadis sedang berdiri di koridor sekolah, mengenakan kaus Gun and Roses, sambil membaca surat cinta dari seorang siswa senior.

Ada juga yang bertemu dengan kekasihnya saat mereka masih berusia lima tahun, dan—hebatnya!—dia bisa mengingat dengan jelas di kaki mana gadisnya itu terluka. Dia bahkan bisa-bisanya terpikir untuk mengutarakan kata-kata yang menurutku terlalu dewasa untuk bisa melintas di benak seorang anak yang bahkan mandi sendiri saja belum tentu bisa.

Betapa aku penasaran bagaimana anak sekecil itu terpikir untuk mengingat penampilan setiap orang yang mereka temui. Maksudku, dalam hidup ini, berapa banyak orang yang kita temui? Pasti banyak. Seorang introvert sekali pun tidak mungkin hanya bertemu beberapa orang sepanjang hidupnya. Dan di antara sekian banyak orang, bagaimana cara agar bisa mengetahui siapa yang nantinya akan menawan hati kita hingga saat pertama kali bertemu dengannya, kita harus memperhatikan semua yang melekat di dirinya, bagaimana senyumnya—atau di beberapa kisah, tangisnya—membuat perhatian sang pria tercuri, apa yang pertama kali mereka bicarakan, apa yang menarik dari pembicaraan itu dan hubungannya dengan kehidupan asmara mereka bertahun-tahun setelahnya.

Jangan salah paham dulu. Aku tidak berniat merusak imajinasimu tentang adegan itu karena kutahu kau menyukainya. Dan meski hal itu sungguh melukai logikaku sebagai orang dewasa, aku sempat berpikir bahwa tidak ada salahnya mencoba melakukan hal serupa jika itu bisa menyenangkanmu. Sayangnya, Sooyeon, aku sama sekali tidak sanggup melakukannya.

Aku sudah tidak ingat bagaimana rupamu saat kita pertama kali bertemu. Yang kuingat adalah kita berkenalan karena nenekmu tinggal tidak jauh dari rumahku. Saat liburan sekolah, kau dan adikmu akan datang berkunjung dan kita—entah bagaimana—berakhir sebagai teman sepermainan.

Kumohon, jangan sekali-kali kau berpikir bahwa aku tidak berusaha mengingat hal penting yang terjadi di pertemuan pertama kita. Aku sudah tidak bisa membilang berapa banyak malam yang kuhabiskan dengan menelusuri ingatanku agar aku bisa menemukan pembuka surat yang romantis seperti di kebanyakan kisah cinta. Mungkin benar katamu, aku ini bodoh, maka maafkan jika pembukaan surat cinta dari pria bodoh ini tidak memenuhi ekspektasimu.

Ketika Heechul Hyung akhirnya memberitahu mengenai aku yang memendam perasaan kepadamu, kuyakin hal pertama yang melintas di kepalamu adalah keraguan. Di atas segalanya, aku memang tidak pernah mengatakan secara gamblang kapan dan bagaimana perasaanku bermula.

Sejujurnya, aku pun tidak tahu sejak kapan dan dengan cara apa perasaan ini bermula. Dan itu adalah alasan kedua mengapa aku merasa harus mengucapkan maaf kepadamu karena lagi-lagi, ketidaktahuanku membuat surat cinta ini jadi tidak seromantis pengakuan yang biasa diterima tokoh utama wanita di novel atau film romantis yang biasa kaucandu.

Dengan alasan yang sudah kusebutkan tadi, kau pasti sudah bisa menyimpulkan bahwa perasaanku bukan sesuatu yang tumbuh sejak pertemuan pertama. Namun sejak mengenalmu, aku mendapati diriku menunggu datangnya waktu libur dengan antisipasi lebih besar dari biasanya. Sepanjang tahun, aku rajin menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit agar saat kau datang untuk menghabiskan liburan musim panas, aku bisa membelikan es krim kesukaanmu setiap hari. Aku selalu dengan senang hati menolak ajakan Donghwa Hyung untuk memancing di laut—yang mana merupakan hal favoritku saat masih kecil—hanya demi melihat kau bermain Barbie bersama Soojung di teras rumah nenekmu. Aku senang ketika kau memintaku berpura-pura menjadi ksatria yang menyelamatkanmu dari monster jahat setiap kali kita bermain di taman. Aku diam-diam menangis ketika tahu kau dan keluargamu memutuskan untuk pindah ke Amerika hingga kita terpaksa melewatkan sembilan tahun hanya dengan saling berkirim surat. Aku kecewa setiap kali tukang pos datang dan tidak menemukan surat darimu. Aku memutuskan menerima pernyataan cinta seorang adik kelas yang bahkan tidak begitu kukenal saat tahu bahwa di belahan dunia lain, kau sudah menemukan pacar pertamamu. Aku bersyukur karena meski telah punya kekasih, kau tetap menjaga komunikasi kita dengan rutin mengirimiku surat yang memberitahukan perkembangan hidupmu. Dan aku meloncat kegirangan ketika akhirnya kau memberitahu bahwa kau akan segera pulang ke Korea untuk melanjutkan kuliah.

Apakah selama periode waktu itu cintaku tumbuh?

Entahlah. Kurasa tidak. Cinta di usia muda selalu disertai rasa ingin memiliki yang besar, bukan? Seingatku, saat itu perasaan demikian tidak pernah hadir. Aku menyukaimu, tentu saja. Cukup menyukaimu hingga seandainya saat itu kau tidak terlanjur jatuh hati kepada seorang mahasiswa senior di fakultasmu, aku mungkin akan meminta kau menjadi kekasihku hanya agar teman-temanku tidak mengataiku penyuka sesama jenis lantaran tidak pernah terlihat menjalin hubungan romantis bersama seorang gadis. Tapi itu tidak terjadi, karena pikirku, memilikimu di sampingku saja sudah cukup, tidak peduli bagaimana statusnya.

Lalu Heechul Hyung datang, dan berbeda dengan pria-pria lain yang sebelumnya kaujadikan kekasih, aku menemukanmu benar-benar tergila-gila kepadanya. Setiap obrolan kita selalu diisi oleh ceritamu tentang dia. Heechul yang membuat hatimu selalu berdegup kencang, Heechul yang lucu, Heechul yang menyenangkan, serta semua pujian lain yang kadang membuatku diam-diam berharap ia tidak pernah hadir dalam kehidupan kita.

Apakah selama periode waktu itu cintaku tumbuh?

Aku selalu berpikir perasaan yang timbul karena kecemburuan bukanlah hal baik. Kalaupun diteruskan, itu hanya akan membentuk hubungan yang rapuh, dan aku selalu ingin hubunganku denganmu berlangsung sebagai sesuatu yang lebih dari itu. Jadi, kurasa jawaban pertanyaan tadi juga adalah tidak.

Sejak awal Heechul Hyung selalu berpikir kau menyukaiku. Rupanya, kedekatan kita dianggapnya sebagai sesuatu yang terlalu intim untuk sekadar dilabeli persahabatan. Sebelum Heechul Hyung menyatakan perasaan kepadamu, ia lebih dulu bertanya apakah aku menyukaimu. Aku tidak mengiyakan atau membantah. Waktu itu aku masih belum yakin terhadap perasaanku sendiri. Tapi mendengar cerita-ceritamu mengenai dia, bagaimana matamu berbinar cerah setiap kali membicarakan dirinya, akhirnya akulah yang mendorong dia untuk menjadikanmu kekasih.

Keputusan itu kusesali sekaligus kusyukuri. Sesalku hadir karena kebersamaan kalian membuatku harus menghabiskan delapan tahun lebih lama untuk menyaksikan drama percintaanmu dengan pria yang bukan aku. Namun di selang waktu itu, aku mendapati perasaanku kepadamu juga semakin dewasa. Ia bukan lagi sesuatu berwujud keinginan memiliki yang sifatnya egois, tapi perasaan bahagia ketika kau juga bahagia.

Setelah delapan tahun berlalu dan Heechul Hyung ternyata masih belum bisa mengatasi ide bahwa kau sebenarnya lebih menyukaiku dibanding dirinya, kupikir kesempatan menjadikanmu milikku akhirnya datang. Sayang sekali, kepayahanku dalam mengungkapkan perasaan membuat aku lagi-lagi harus merelakanmu jatuh di pelukan seorang pria yang bahkan baru kaukenal. Kedewasaan cintaku pun harus kembali diuji.

Apakah aku cemburu pada pria yang kau kencani hanya demi upaya balas dendammu yang konyol itu? Alih-alih menamainya cemburu, aku lebih senang mengatakan bahwa yang kurasakan waktu itu adalah ketakutan. Aku takut kau salah memilih, takut pria itu tidak bisa memperlakukanmu dengan baik, takut kau tidak bahagia.

Dan ketakutanku terbukti. Kau pulang dari Saipan dengan keadaan yang lebih buruk dibanding ketika kau berangkat.

Orang bijak berkata bahwa selalu ada kebaikan dibalik sebuah keburukan. Kupikir itu ada benarnya. Karena setelah serangkaian patah hati yang kau alami, pada akhirnya kau melihatku. Aku tidak lagi merasa keberadaanku di sampingmu hanya sebagai teman bicara, tapi juga sebagai seorang pengayom, dan aku menyukai hal itu. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, di mana aku menjadi ksatria yang dengan gagah berani melindungimu dari kejahatan.

Aku ingin bisa membuatmu terus merasa aman dan nyaman, karena dengan cara itulah aku mendapatkan kebahagiaan. Aku ingin kau selalu bahagia dan berharap kebahagiaanmu selalu melibatkanku. Aku ingin menjadi satu-satunya pria yang mendengarkan semua ceritamu, yang kau lihat saat pagi datang dan malam menjelang, serta mengisi harimu dengan kenangan-kenangan indah yang kelak akan kauceritakan sebagai dongeng pengantar tidur untuk anak cucu kita. Aku ingin selalu ada di sampingmu. Jadi, Jung Sooyeon, mari kita menikah.

..

Di pertemuan terakhirnya dengan Heechul, Sooyeon mendapat satu pertanyaan yang waktu itu tidak bisa ia jawab. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sederhana dan sudah berulang kali ditanyakan orang lain kepada dirinya, namun tidak pernah benar-benar ia dapatkan jawabannya sampai malam ini.

“Kenapa kau setuju pindah ke Jepang bersama Donghae?”

Dulu, Sooyeon pikir alasan utama kepindahannya hanya karena ia jenuh dan butuh suasana baru pasca hubungannya dengan Heechul berakhir. Hal remeh semacam gaji yang tergolong besar juga sempat ia kira sebagai faktor pendorong keputusannya berpindah domisili. Tapi sepertinya ia salah. Donghaelah alasan utamanya. Keinginannya untuk berada di samping pria itulah yang membuat Sooyeon mantap mengiyakan ajakan Donghae bahkan tanpa mempertimbangkan apakah suasana Niigata akan membuatnya betah. Keyakinan bahwa ia akan selalu baik-baik saja selama pria itu ada di dekatnyalah yang membuat Sooyeon tidak pernah banyak bertanya setiap kali Donghae mengatakan sesuatu kepadanya. Astaga, ia tadi bahkan naik ke atap hanya karena sebuah pesan, tanpa tahu apa tujuan pria itu mengajaknya ke sana.

Gadis itu mengangkat ponselnya lagi demi mengetik sebuah pesan.

SooyeonJung: Kau ingin aku memakai cincin ini sendiri?

Sembari menunggu Donghae menjawab pesannya, Sooyeon mengalihkan pandangan ke arah video yang tampak di layar televisi. Sebelumnya, ia tidak terlalu memperhatikan detail video itu karena perhatiannya sudah lebih dulu tercuri oleh cincin di atas meja. Kini, setelah mengamati lebih saksama, gadis itu menyadari bahwa semua gambar yang ada di sana diambil dari sudut tersembunyi.

Suara dehaman Donghaelah yang kemudian mengakhiri kegiatan Sooyeon memandangi video tersebut. Sang gadis menoleh dan mendapati Donghae tengah berdiri di dekatnya sambil tersenyum salah tingkah. Pria itu tampak rapi dalam balutan setelan jas hitam. Di tangannya, ada seikat mawar merah yang langsung ia serahkan kepada Sooyeon begitu sang gadis sudah memutar tubuh hingga mereka berdiri berhadapan.

Sooyeon menerima bunga itu dengan senyum malu-malu. Namun, alih-alih mengucapkan terima kasih, gadis itu justru berujar, “Jadi kau menyuruhku ke atap agar punya waktu menyusup ke dalam apartemenku dan menyiapkan semua ini?”

Donghae mengangguk penuh percaya diri. “Aku sudah mirip pria di drama-drama romantis, ‘kan?”

“Dasar bodoh!” ejek Sooyeon.

“Kau tetap mengataiku bodoh meski setelah menerima pernyataan cinta dariku?”

“Suratmu membuat pernyataan cinta paling buruk di dalam drama sekalipun mendadak terasa begitu indah.”

“Drama sialan itu sudah sangat merusak otakmu, rupanya.”

“Video editanmu juga jelek sekali,” tambah Sooyeon. Untuk sesaat, matanya melirik ke arah layar televisi yang masih menampakkan wajah dirinya.

Donghae mengikuti arah pandang gadis di depannya dan langsung mengembuskan napas putus asa. “Jelek sekali, ya? Aku menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuatnya, tahu.”

“Yah, setidaknya aku menyukai lilin-lilin ini,” ujar Sooyeon seraya mengalihkan pandangan ke lilin yang ditata sedemikian rupa oleh Donghae dari pintu masuk hingga tempat mereka berdiri sekarang. “Kenapa kau tidak menata semua ini di atap saja? Pernyataan cinta di atas atap kedengaran lebih romantis. Paling tidak, itu bisa menutupi kekurangan suratmu yang mengerikan itu.”

“Sudah kucoba, tapi anginnya sedang usil. Lilinku tidak mau menyala di atas sana.”

Sooyeon kontan tertawa karena merasa kejujuran Donghae barusan sangat lucu. Gadis itu berpikir, pria di depannya benar-benar harus diberi tutorial berlaku romantis ala pemeran utama di novel-novel roman.

Donghae kemudian membungkuk untuk mengambil cincin di dalam kotak beledu merah yang ia biarkan terbuka di atas meja. Pria itu mempermainkan lingkaran kecil tersebut selama beberapa saat sebelum menatap Sooyeon dan berujar, “Apa aku harus berlutut dan mengucapkan kata-kata manis seperti di film-film?”

Sang gadis mencebik halus. “Memangnya kau tahu harus mengucapkan apa?”

“Aku punya beberapa referensi. Kucomot langsung dari film, tentu saja. Jadi kau tinggal memilih mau dilamar dengan kata-kata cinta di film mana.”

“Cih, tidak usah susah payah begitu, Lee Donghae. Pakaikan saja cincinnya,” kata Sooyeon sembari menjulurkan tangan kanannya.

“Apakah setelah aku memakaikan cincin ini, kau akan menciumku? Menangis terharu, mungkin? Kau tahu ‘kan, seperti di film-film.”

“Berliannya tidak cukup besar untuk membuatku terharu.”

Kali ini, giliran Donghae yang tertawa. Pria itu mundur selangkah lalu menekuk lutut. Dengan rasa malu bercampur canggung yang berusaha disamarkan lewat dehaman pelan, ia meraih tangan kanan Sooyeon dan berujar, “Aku tahu kau sama sekali tidak serius saat berkata akan melamarku, tapi kau benar-benar melakukannya dan aku sangat menyukai apa terjadi di atas kereta beberapa jam lalu, serta bagaimana hal itu membuat kita akhirnya sampai pada pembicaraan mengenai pernikahan. Tapi, aku ingin melakukannya dengan benar. Aku ingin kau mendapatkan lamaran yang pantas. Meski sadar bahwa usahaku masih sangat jauh dari harapan, aku berharap kau masih sudi merekam peristiwa malam ini dan mengingatnya sebagai salah satu malam terpenting dalam hidupmu. Jadi, Jung Sooyeon, maukah kau menikah denganku?”

“Dasar bodoh!” seru Sooyeon lagi. Ia mengucapkan umpatannya sembari menahan tawa, membuat Donghae cukup percaya diri untuk menyimpulkan bahwa gadis tersebut sama sekali tidak serius dengan apa yang barusan ia ucapkan.

Malam itu memang ada banyak sekali kontradiksi dalam pembicaraan mereka. Donghae bilang akan mengutip kalimat dari film untuk mengutarakan cintanya kepada Sooyeon, namun pada akhirnya pria itu melakukannya dengan kata-kata yang ia rangkai sendiri. Sooyeon bilang semua yang dilakukan Donghae sangatlah payah dan jauh dari romantis, tapi dalam hati ia menganggap itu adalah hal terbaik yang pernah ia alami. Gadis itu berulang kali mengatai Donghae dengan sebutan bodoh, tapi sebenarnya itu hanya sebuah cara untuk menutupi rasa harunya. Ia juga mengklaim diri tidak akan mencium Donghae, menjadikan kecilnya ukuran berlian di cincin pemberian pria itu sebagai alasan, tapi setelah benda itu melingkar manis di jari manis tangan kanannya dan Donghae sudah kembali berdiri, Sooyeon tetap berjinjit demi mendaratkan bibirnya ke pipi pria yang tidak lama lagi akan ia nikahi.

“Cuma di pipi?” protes Donghae.

“Jangan melunjak!” sahut Sooyeon seraya memukulkan buket bunga yang sedari tadi ia pegang ke lengan Donghae. “Aku sudah membiarkanmu menciumku di bibir saat kita di kereta tadi. Tidakkah kau berpikir kita perlu melakukan semuanya secara bertahap? Astaga, kau ingin menikahiku padahal kita bahkan belum pernah berkencan!”

Donghae terkekeh pelan. Biasanya ia selalu dengan mudah menuruti kata-kata gadis di depannya, namun kali ini berbeda. “Aku punya definisi sendiri mengenai kata bertahap,” ujarnya sebelum menunduk dan mempertemukan bibirnya dengan Sooyeon.

Malam itu, satu lagi kontradiksi hadir di antara mereka, karena di dalam hati, Sooyeon juga sebenarnya ragu kalau ia benar-benar ingin menjalani hubungannya dengan Donghae secara perlahan.

end.

And again, I miss my OTP. It’s not a really good fanfic, I know. I’m not even confident enough to say that the story (and the way I write it) meet my expectation. But still, I need to write something before this writer’s block hit me.

Anyway, comments will be really appreciated.

Advertisements

10 thoughts on “The Proposal

  1. Sukaaaaaa!! Ya Tuhan, suka banget! Ini gak romantis tapi romantis jadi gimana dong kak?
    Karakternya Donghae di sini beda bgt dgn di kebanyakan ff mu. Dia usil unyu gimana gitu. Adegan terakhirnya lucu dan ada manis-manisnya juga.

  2. Donghae and his ‘menurutmu?’ are exceptionally funny. Jahil bgt nyuruh org tengah malam ke atap gedung cuma biar bisa nyelinap ke dlm apartrmen buat bikin surprise. But it’s cuuute!

  3. “cuma di pipi?”
    yaelah abang, udah syukur lo dicium malah minta lebih. hahaha…
    adegan ini lucu bgt kak! manis dan lucu dan bikin makin gemes sama couple ini. please dilanjut dong kak… mereka nyiapin pesta pernikahan apa pasudah nikah gitu.

  4. aku merasa sebagian isi suratnya donghae gak lain adalah sinisme penulis ttg kebanyakan hal klise yang biasa didapati di novel atau film atau bahkan ff romance yg byk beredar. kalimat ‘…dan meski itu melukai logikaku sbg org dewasa…’ aku rasa lucu dan romantis di saat bersamaan. setuju sih, kadang sebagian kisah cinta terlalu maksain adegan-adegan manis yang mungkin ga masuk akal (kaya anak lima tahun yg udah ngerti aja gimana ngeromantisin temennya sesama bocah), tp toh tetep kita tonton dan bahkan beberapa mungkin sukses bikin kita senyum-senyum gajelas.
    ada kedewasaan yg aku lihat di tulisanmu ini, kak, dan aku suka bgmn kakak nyelipin sudut pandang kakak (walaupun subtle) di dlm tulisan ini. aku mendukung cerita ini dilanjut. hehe.

  5. Hahahaha paling lucu pas baca kata2 terakhir dimana donghae bilang “ak punya definisi sendiri mengenai kata bertahap” lalu donghae mencium bibir sica dan sica jg bilang (dlm hati) ia ragu menjalani hubungan dgn donghae secara bertahap. Atuh berarti sbrnanya mereka berdua itu pigin sesuatu yg lbh lbh dr sekedar ciuman dipipi tp kenapa mereka harus malu2 gt yah.
    Hahahahahahaha
    Cerita sangat2 keren.
    Lanjut yah thor…. pingin lihat mereka menikah dan punya anak. Hahaha
    Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s