dpdtj

a JaeNana fanfiction by nchuhae

poster by the talented Sifixo from Indo Fanfictions Arts

..

When you sit alone, you sit with your memory

..

”Kau sudah terlalu banyak minum.”

Jaejoong memilih untuk tidak mengacuhkan peringatan itu. Seolah hendak menantang sang pemilik suara, tangan kanannya bergerak meraih botol kaca yang terletak di atas meja, kemudian mengenggak isinya sampai nyaris habis. Sebagian minuman beralkohol itu meleleh di sudut bibir Jaejoong, jatuh membasahi leher, dan berakhir sebagai biang noda di kerah kemeja putihnya. Pria itu tidak peduli.

“Kau benar-benar tidak mau mendengarkanku, huh?”

Seulas senyum mengejek tersungging di sudut bibir pria berambut cokelat madu tersebut. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa di sampingnya, Nana tengah melipat tangan di depan dada sembari bersungut-sungut, tanpa suara menyumpahi dirinya. Matanya yang besar dan dikelilingi bulu mata lentik pasti sedang menyipit sebal. Alisnya yang lurus akan bertemu, menimbulkan kerutan lucu yang selalu membuat Jaejoong tergoda untuk menempatkan jari telunjuk di sana.

Jaejoong menghitung dalam benak. Ketika hitungannya sampai pada angka delapan, Nana pun berhenti merajuk. Ia menggigit bibir, mengembuskan napas panjang, kemudian kembali berujar dengan nada yang kali ini terdengar jauh lebih lembut.

“Pulang saja, ya? Tidak usah lama-lama di sini. Orang lain juga sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Kau ada atau tidak ada, tidak akan berpengaruh bagi mereka. Ya? Pulang saja, ya? Besok kau masih harus bekerja.”

Jaejoong terkekeh pelan, meledek gadis di sampingnya sekaligus memberikan penghargaan kepada diri sendiri karena sekali lagi telah berhasil meredakan kekesalan gadis itu tanpa harus berkata apa-apa. Nana terlalu mudah ditebak. Ia seorang pemarah yang tidak pernah berhasil mempertahankan kemarahannya lebih dari delapan detik. Setidaknya kepada Jaejoong.

Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua asing. Ruangan luas berhias lampu warna-warni di mana dirinya berada merupakan kepunyaan seorang yang tidak ia kenal. Wajah-wajah yang tertangkap indra penglihatannya satu pun tidak pernah ia lihat sebelumnya. Musik berisik yang mengalun melalui pengeras suara yang dipasang di sudut-sudut ruangan juga sama sekali tidak akrab di telinga seorang penikmat musik klasik sepertinya.

Yang dikatakan Nana memang sepenuhnya benar. Tempat ini dipadati oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa menebar rayu, beberapa sudah masuk tahap bermesraan, beberapa malah sibuk membicarakan kerjaan. Keberadaan Jaejoong di sana tidak akan berarti apa-apa bagi mereka.

Namun, Jaejoong belum ingin pulang. Karena meski di tempat ini ia diselubungi keasingan, tangannya masih menggenggam sesuatu yang beberapa bulan belakangan akrab dengannya.

“Kau masih harus menyetir setelah ini.”

Peduli apa Jaejoong dengan urusan keselamatan berkendara? Pilihannya selalu hanya ada dua, tergantung seberapa tinggi kadar keberuntungannya. Jika sedang sial, dia mungkin akan terkena razia petugas karena mengemudi dalam keadaan mabuk, kemudian setelah mangkir dari serangkaian sidang membosankan, izin mengemudinya akan segera dicabut dan ia harus bersusah payah mengurus ulang surat izin tersebut.

Sejauh ini Jaejoong selalu sial. Namun, pikirnya, ia bisa saja beruntung malam ini. Dirinya hanya butuh minum sedikit lebih banyak dan memacu mesin kendaraan sedikit lebih cepat, lalu di salah satu tikungan yang dilaluinya, mobilnya akan menabrak pembatas jalan, jatuh ke jurang, hancur, terbakar, mati. Seperti dia.

“Apa kau sedang berusaha mengabaikan peringatanku?” protes Nana setelah melihat Jaejoong kembali mempertemukan mulut botol minuman dengan miliknya.

Pria itu tidak menggubris gerutuan gadis berambut panjang di sampingnya. Sedikit lagi, perintahnya kepada diri sendiri. Dia ingin mengakhiri semuanya malam ini.

“Kim Jaejoong, berhenti minum sekarang juga dan cepat telepon supir pengganti sebelum kesadaranmu habis! Kau harus segera pulang.”

Gadis itu memang selalu suka memerintah, dan bagi Jaejoong, setiap keinginan Nana adalah perintah yang wajib dipenuhi. Dulu.

Sekarang, semua berbeda. Jaejoong tidak ingin lagi menuruti keinginan gadis itu. Pria itu cuma ingin menjemput kematian dengan cara yang sama seperti dia.

“Kau ini benar-benar mengesalkan, kau tahu?” ujar Nana lagi. Nada suaranya merupakan perpaduan kesal dan putus asa. Setelah sekian banyak bujukan yang ia lontarkan, Jaejoong sepertinya sama sekali tidak berniat menggubris permintaannya.

Nana menyalurkan kekesalan dengan menghentakkan kaki ke lantai. Ujung sepatu tumit tingginya menimbulkan bunyi halus kala bertemu dengan permukaan lantai yang keras, sesuatu yang anehnya masih tertangkap oleh telinga Jaejoong meski suara musik yang begitu gaduh masih memenuhi ruangan tempat mereka berada. Pria itu tersenyum sinis pada dirinya sendiri, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai pembayaran atas tiga botol alkohol yang telah ia tenggak. Jaejoong lantas berdiri. Dengan langkah agak sempoyongan, ia berjalan menuju pintu keluar kelab, meninggalkan Nana yang berseru girang di belakang.

“Kita sudah akan pulang, ‘kan?” tanya Nana ketika ia sudah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Jaejoong. Senyum puas merekah di bibir gadis berambut panjang itu, berpikir bahwa Jaejoong akhirnya memilih pulang berkat bujukan—dan tentu saja gerutuan—tanpa henti yang tadi ia lancarkan.

Jaejoong tidak menjawab, tapi pria itu mengatur GPS mobilnya agar mengarah ke apartemen tempat ia dan Nana tinggal, jadi sang gadis pun merasa tidak lagi perlu mendengar jawaban verbal dari kekasihnya itu.

Mereka berkendara dalam diam. Nana duduk manis di samping Jaejoong sembari memperhatikan cat kukunya, seolah itu adalah hal paling menarik yang bisa dilakukan seseorang di jam satu pagi. Ia sudah memutuskan untuk tidak mengajak Jaejoong mengobrol, berpikir bahwa sisa kesadaran kekasihnya tersebut lebih baik dipakai untuk berkonsentrasi menyetir.

Jarak kelab malam yang tadi didatangi Jaejoong cukup jauh dari kediaman mereka. Awalnya pria itu ke sana untuk bertemu Jung Yunho, pria yang menjadi produser album terbaru Jaejoong. Mereka berbincang selama lebih dari sejam; diawali dengan basa-basi seputar padatnya lalu lintas dan indahnya bunga ceri yang mulai bermekaran, baru setelah itu perihal pekerjaan mendapat jatah untuk dibahas. Yunho pulang terlebih dulu, berkata bahwa istrinya akan marah besar jika ia pulang terlalu larut, meninggalkan Jaejoong yang memilih untuk tinggal lebih lama di tempat remang-remang nan bising itu.

Jaejoong bukan pecinta dunia malam, apalagi minuman beralkohol. Tapi sejak beberapa bulan lalu, kedua hal itu menjadi teman baru yang membantunya mengusir rasa bersalah—rasa yang akan ia tebus malam ini juga.

Keheningan di dalam mobil itu pun mencapai ujung ketika mereka melintasi daerah perbukitan berkelok-kelok dan alih-alih berhati-hati, Jaejoong malah menginjak pedal gas lebih dalam dari seharusnya. Nana langsung berteriak panik, memaki kekasihnya dengan satu kalimat pendek, “Jangan bodoh, Jae!”

Pria itu tidak bodoh. Ia hanya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah menjadi penyebab kematian orang yang sangat ia sayangi. Kalau saja waktu itu Jaejoong bersedia menyempatkan diri menjemput Nana, gadis tersebut tentu tidak perlu berkendara sambil mabuk dan akhirnya mengalami kecelakaan.

Dan sungguh, Jaejoong tidak bodoh. Pria itu tahu betul bahwa untuk mengakhiri rasa bersalahnya, ia hanya butuh minum sedikit lebih banyak dan memacu mesin kendaraan sedikit lebih cepat, lalu di salah satu tikungan yang dilaluinya, mobilnya akan dibiarkan menabrak pembatas jalan, jatuh ke jurang, hancur, terbakar, kemudian ia akan menjemput kematian seperti halnya yang dialami Nana tiga bulan lalu.

“Rem, Jae! Injak remmu sekarang!” teriak Nana dari bangku penumpang. Gadis itu mencoba menggapai apa pun yang dianggapnya bisa menyadarkan sang kekasih, tapi tangannya hanya menyentuh udara kosong.

Seulas senyum lega hadir menghiasi wajah Jaejoong ketika mobilnya menghantam pembatas jalan dan jatuh ke jurang. Penebusan dosanya seolah telah terwujud. Dan di detik-detik singkat sebelum mobilnya meledak, ia merasa masih bisa mendengar Nana memaki-maki di sampingnya.

Orang yang sudah meninggal memang tidak bisa lagi berbicara. Namun, setiap kali Jaejoong melakukan hal bodoh, suara Nana akan selalu terdengar olehnya. Kau harus begini, Jae. Kau tidak boleh begitu, Jae.

Seperti potongan memori yang menyeruak dan berubah menjadi candu, suara-suara itu menjadi satu-satunya hiburan kala rasa bersalah yang berujung kesepian melanda dirinya. Dan Jaejoong sudah lelah berteman sepi. Ia ingin segera menemui kekasihnya lagi.

end.

A/N: the first Jaenana fanfiction I post here. Hope you love this couple as much as I do.

Advertisements

7 thoughts on “Dead People Don’t Talk, Jae!

  1. Ada apa antara kamu dan suicide tendency, kak? Dua ff belakangan ga cuma castnya aja yg ga kamu bgt, tp genrenya jg lebih

      1. Cast yg aku bgt maksudnya haesica sama sestal ya? Yg xiumin kmrn itu dibuat krn pengen diikutin event di blog tetangga. Kalo yg jaenana ini cuma demi berlaku adil(?) utk semua otp, so expect more non-haesica/sestal fanfic next time.
        Kalo soal genre, kebetulan aja berurutan gini yg isinya soal bunuh diri. In real life I’m not so depressed kok 😉

        1. Yup, aku tiap liat donghae pasti ingat haesica, dan tiap liat sehun nongol di tl sosmed pasti ingat sestal. Aku jadi latah ngeship haesica dan sestal gara2 kamu, kak, jadi dimohon pertanggngjawabannya dgn ngasih lbh byk ff yg castnya mereka :p

  2. Another crack pairing, huh? They’ll make a perfect visual couple tho.
    Aku suka gimana nama yunho disebut di salah satu paragraf. Yunjae is loveeeee!!
    Tapi jae, daripada bunuh diri krn merasa bersalah, mending berdamai sama hati trus move on (ke aku). Haha.

    1. Aku mendeteksi aura fangirl dbsk nih. Haha..
      Yup, jaenana is both crack and lovely. Dan kalau jae move on ke kamu, jadinya ini bukan ff jaenana lagi dong 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s