monokrom-poster

Monokrom by nchuhae

Kim Minseok & Kim Junmyeon | Slice of Life | PG-15

.

Ditulis sebagai entry untuk Xiumin Birthday Project oleh EXO Fanfiction Indonesia

..

Kim Minseok jenuh pada dunianya. Seperti tampilan film yang dibuat puluhan tahun silam, setiap kali ia melayangkan pandangan, yang tampak olehnya hanya hitam dan putih.

Menjadi lucu dan uniklah, maka orang-orang akan melirikmu.

Berdietlah agar wajahmu terlihat lebih menarik dan penggemarmu bertambah.

Kualitas suara itu nomor sekian. Kalau penggemar sudah terlanjur menyukaimu, kau tampil seburuk apa pun, mereka pasti akan selalu menemukan pembenaran untukmu.

Hidupnya sesederhana itu. Selalu hanya ada dua pilihan yang tersedia untuknya. Menjadi tampan atau terlupakan. Menerima perintah atau ditendang. Kalau bukan hitam, ya putih. Basi!

Dunia Minseok bukannya tak pernah berwarna. Dulu, ketika benaknya masih dipenuhi mimpi dan hatinya masih bergelimang harapan, letupan warna indah selalu menjadi komposisi utama untuk membentuk harinya. Tetapi kala kerasnya dunia hiburan mulai menghantam, warna-warna menyenangkan itu perlahan memudar hingga yang tersisa hanya dua warna membosankan.

“Belum tidur?”

Minseok menoleh dan mendapati Junmyeon, rekan satu timnya, tengah berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang mulai mengembang akibat kantuk yang ditahan-tahan.

Waktu memang sudah menunjukkan hampir dini hari. Semalaman mereka terjaga untuk merayakan pertambahan umur Minseok. Seluruh penghuni apartemen pasti sudah terlelap, pikir Minseok, karena kalau belum, pemimpin grup yang bertanggung jawab seperti Junmyeon tidak akan kembali ke kamar untuk beristirahat.

Minseok memperhatikan pria yang lebih muda itu mengambil sepasang pakaian tidur kemudian melenggang menuju kamar mandi, tidak merasa perlu repot-repot menunggu Minseok menjawab pertanyaannya tadi.

Belum tidur? Huh, lagi-lagi pertanyaan basa-basi.

Junmyeon kembali beberapa menit kemudian. Aroma mint yang segar melayang di udara kala pria berkulit putih susu itu memasuki ruangan. Ia tampak lebih bersih, tapi kedua mata yang digelayuti kantuk itu tidak bisa berbohong.

Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang sejak tadi menyita perhatiannya, Minseok berujar, “Kau tahu, ada banyak musisi yang meninggal di usia 27.”

“Aku hanya tahu Kurt Cobain dan Jimi Hendrix. Ada lagi selain mereka?” sahut Junmyeon sekenanya. Pria itu lantas menyibak selimut yang menutupi setengah permukaan tempat tidurnya, memposisikan diri agar nyaman di atas kasur, dan mulai membungkus tubuh dengan kain tebal bermotif bunga anggrek tersebut.

Minseok tersenyum tipis. “Ah, pengetahuanmu tentang musik ternyata sedangkal itu,” ucapnya kemudian.

Junmyeon menanggapi gurauan tersebut dengan sebuah tawa garing. “Kau tidak bermaksud bergabung dengan mereka, ‘kan?” candanya.

Sebagian diri Minseok ingin langsung menjawab tidak. Yang benar saja! Ia pasti gila kalau sampai meninggalkan dunia di saat manisnya perasaan bangga karena dielu-elukan penggemar masih menjadi candu baginya. Namun, di saat yang hampir bersamaan, beberapa pertanyaan hadir mengusik benaknya. Apakah perasaan bangga yang selama ini ia rasakan tidak keliru? Apakah light stick putih yang selama ini menghiasi redupnya gedung konser dinyalakan penggemar untuknya? Apakah jika ia tidak ada, penggemar akan merasa kehilangan?

Sel abu-abu di otak Minseok dengan cepat memutar hal-hal yang terjadi sejak ia debut.

Manajemen tempatnya bernaung punya kebiasaan menjadikan anggota paling tua dalam sebuah grup sebagai pemimpin, tapi di grupnya tidak. Peran itu diambil oleh seorang yang setahun lebih muda darinya. Padahal, jika saja terpilih, ia yakin bisa melaksanakan semua tugas dengan baik.

Anggota lain selalu mendapat kado dari para penggemar. Dia juga, sebenarnya. Tetapi jumlah kado yang ia terima tidak pernah sebanding dengan yang lain.

Di beberapa situs penyedia fiksi penggemar, namanya berada di urutan terakhir anggota EXO yang paling sering dipakai sebagai tokoh utama. Ah, jangankan tokoh utama, jadi pendukung pun ia jarang.

Masih banyak hal lain yang akhirnya membuat pria itu sampai pada satu kesimpulan: ia tidak pernah mendapat cukup sorotan.

Sebuah ide cemerlang lalu melintasi benaknya. Mungkin sekaranglah waktu baginya untuk bisa terlepas dari dunia hitam putih yang ia benci. Mungkin ini jalan yang dibukakan Tuhan agar ia bisa lebih terkenal. Mungkin dengan mengakhiri hidupnya di usia ini, namanya akan turut disebut ketika orang-orang membicarakan The 27 Club yang legendaris itu.

Minseok menoleh ke arah ranjang Junmyeon. Pria itu sudah tertidur, lagi-lagi tanpa merasa perlu bersusah payah menunggu Minseok memberinya jawaban. Ia meninggalkan Minseok yang masih terjaga dengan pikiran yang mendadak dipenuhi bayang-bayang sebilah pisau bermata tajam yang diletakkan di laci dapur apartemennya.

Kim Minseok jenuh pada dunianya. Seperti tampilan film yang dibuat puluhan tahun silam, setiap kali ia melayangkan pandangan, yang tampak olehnya hanya hitam dan putih. Namun malam itu, satu warna kembali hadir dalam hidupnya: merah.

end.

Advertisements

2 thoughts on “Monokrom

  1. Tumben kak ff mu pendek begini. Hehe. Kalau ttg isinya yg kelam aku ga komen banyak deh. Tapi yaampun masa lagi ulang tahun malah pengen mati.
    Anyway, kak, I thought youre joining kak al sama kak hana di geng protect the blog. Kok ini dibuka lagi gemboknya? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s