PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1Chapter 2

..

Sore itu, Donghae mengunjungi kamar Jessica untuk melakukan pemeriksaan rutin. Semua tampak seperti biasa. Donghae, dengan mengenakan jas putih, mengetuk pintu untuk membiarkan Jessica mengetahui keberadaannya. Setelah mendapat izin dari penghuni kamar, ia berjalan sambil melayangkan seulas senyum kepada Jessica. Di tangan kanannya, ia membawa catatan berisi informasi kesehatan standar para pasien. Jessica memandang pria itu mendekat sambil menirukan senyum yang diberikan Donghae kepadanya.

Jika ada yang berbeda dari kegiatan mereka biasanya, maka itu terletak pada tangan kiri Donghae yang menjinjing sekeranjang bunga mawar putih.

“Bunga ini bukan dariku,” beritahu Donghae sebelum Jessica sempat bersuara. Ia menaruh bunga tersebut di meja di sisi ranjang Jessica, kemudian langsung melakukan tugas hariannya, memeriksa keadaan gadis itu.

“Lalu, siapa?”

Donghae mengedikkan bahu, santai. “Aku tidak tahu.”

Jessica, dengan lengan dibebat alat pengukur tekanan darah, menatap Donghae dengan mata yang menyipit nakal. Tanpa diminta, ingatan gadis itu melayang ke masa dua belas tahun lalu, ketika ia baru menjalin hubungan dengan Donghae.

“Benda itu bukan dariku,” ujar Donghae.

Jessica menggerakkan tangan ke lehernya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kepingan salju melingkar indah di sana.

Tadi pagi, saat hendak mengambil buku di loker, Jessica mendapati sebuah kotak yang dibungkus rapi dengan kertas kado bermotif bunga. Ada namanya di sana, karena itu Jessica yakin kado tersebut tidak salah alamat. Atas desakan sahabatnya, ia membuka kado itu dan mendapati seuntai kalung yang menurutnya sangat mahal—setidaknya siswa sekolah menengah seperti mereka mustahil bisa membeli benda itu jika tidak  menyisihkan uang jajan selama setidaknya tiga bulan.

Ia meneliti kotak dalam genggamannya, mencari siapa tahu ada kartu ucapan yang terselip di sana. Ia merasa perlu mengetahui identitas pemberi kado mahal itu.

Jessica tahu pencariannya sia-sia setelah berulang kali menilik kotak berukuran tak seberapa besar di tangannya dan tidak juga menemukan benda yang ia cari.

“Menurutmu siapa lagi yang akan memberikan benda seperti ini kalau bukan kekasihmu yang kelewat romantis itu?” cetus salah satu temannya.

Iya, memangnya siapa lagi kalau bukan Donghae?

Tapi pria itu mengelak.

“Kau menyukainya?” tanya Donghae, ragu-ragu. “Kalung itu, maksudku.”

“Aku tidak mungkin langsung memakainya kalau tidak suka.”

Jessica bisa melihat ada senyum yang mengembang di wajah sang kekasih setelah mendengar kalimat tersebut. Pria itu memang bukan seorang yang pandai bersandiwara, Jessica memutuskan. Dan dipikir-pikir lagi, Lee Donghae memang sangat cheesy. Entah dia menonton film apa lagi kali ini, hingga terpikir untuk diam-diam memberi kado tanpa ingin ketahuan. Setelah sebelumnya ia mengajak Jessica berkencan di wahana ice skating karena menyaksikan adegan di film Serendipity, bertukar surat karena terinspirasi dari film The Lake House, juga setelah mereka menghabiskan waktu seharian berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas sambil mengobrolkan segala macam hal demi meniru apa yang dilakukan Jesse dan Celine di film Before Sunrise, rasanya Jessica tidak perlu lagi bertanya-tanya jika suatu hari pria itu kembali ke padanya dengan sebuah ide yang dimaksudkan romantis namun sering kali lebih terkesan aneh.

Kenangan itu membuat Jessica tanpa sadar tertawa kecil. Ternyata, selain senyum penuh pengertian dan kelakuan yang kadang suka sedikit terlampau jahil, masih ada satu hal yang tidak berubah dari pria di depannya.

Donghae yang sedang sibuk mengevaluasi catatan kesehatan Jessica menoleh dari kertas yang dipandanginya saat mendengar tawa ringan gadis itu. Entah kenapa, ia merasa langsung tahu penyebab tawa itu.

“Sungguh, bukan aku yang membeli bunga ini,” ujar Donghae, nampak salah tingkah menanggapi senyum nakal serta tatapan menuduh yang dilayangkan Jessica kepadanya. Cepat, ia menambahkan, “Aku menemukannya di depan pintu. Mungkin dari penggemarmu.”

Sama seperti sepuluh tahun lalu ketika ia tidak menuntut penjelasan lebih dari Donghae atas segala tindakan konyolnya, kali ini Jessica juga memilih mengaminkan ucapan mantan kekasihnya. Ia mengangguk paham dan menghentikan niatnya untuk menggoda Donghae lebih lama lagi karena pria itu nampak sudah kehabisan alasan.

“Kau menyukainya?” tanya Donghae, ragu-ragu. Pandangan pria itu sekilas tertuju pada keranjang berisi mawar putih yang tadi ia bawa.

Jessica tersenyum. Sambil menatap penuh arti bunga-bunga putih yang masih tampak segar itu, ia menjawab, “Suka. Suka sekali.”

Gadis itu berharap dia tidak sedang berdelusi ketika menoleh dan melihat ada senyum yang samar-samar tersungging di sudut bibir mantan kekasihnya setelah mendengar jawaban Jessica. Pria itu masih tidak pandai bersandiwara, Jessica memutuskan.

Hari-hari berikutnya, kunjungan Donghae ke kamar Jessica selalu diwarnai oleh keberadaan sesuatu di tangan kiri pria itu. Sekali waktu, dia bahkan harus mencatat hasil pemeriksaan rutin Jessica di telepon genggam karena kedua tangannya terlalu sibuk memeluk sebuah boneka lumba-lumba putih, memastikan benda yang ukurannya hampir sebesar manusia itu tidak sampai menyentuh lantai.

Bunga, cokelat, buah-buahan, buku, boneka.

Bunga lagi, cokelat lagi, buah-buahan lagi, buku lagi, boneka lagi.

Jessica tidak pernah lagi bertanya dari mana muasal semua barang tersebut. Gadis itu merasa cukup puas melihat benda-benda itu bertumpuk di salah satu sisi kamar, menjadikan ruangan luas berselubung dinding putih itu jadi tampak lebih berwarna.

Donghae, meski tanpa ditanya, selalu mengulang ucapannya, bahwa itu semua ia temukan di depan pintu kamar Jessica. Sang gadis menanggapi pengakuan tidak meyakinkan tersebut hanya dengan seulas senyum kecil dan ucapan, “Kuharap aku bisa bisa bertemu dengan orang yang memberikan semua ini. Kau tahu, agar aku bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepadanya.”

Setiap malam, sebelum tertidur, Jessica menatap semua benda yang dibawa Donghae untuknya. Ia merasa bisa melihat bayangan pria itu di sana, sedang tersenyum salah tingkah sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Harapan untuk memperbaiki hubungannya dengan pria itu pun jadi terasa semakin mungkin terwujud. Hal itu saja sudah cukup untuk mengantarkan Jessica pada sebuah mimpi indah.

***

“Aku tidak tahu dia sebenarnya pengacara atau manager,” komentar Donghae. Pria itu sudah lepas piket dan memutuskan untuk mengunjungi Jessica sebelum pulang dan beristirahat di rumahnya. “Menurutku dia terlalu banyak mencampuri urusan keartisanmu.”

Jessica baru saja menceritakan apa saja yang diberitahukan pengacaranya saat pria itu datang berkunjung pagi tadi. Katanya, Jessica sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang. Tiga minggu berada di rumah sakit rasanya sudah cukup untuk mengembalikan simpati masyarakat kepadanya. Pengacara itu juga sudah mempersiapkan cukup bahan jika pengadilan memanggil dirinya untuk menghadiri sidang gugatan perdata yang dilayangkan pihak perusahaan yang produknya pernah diiklankan oleh Jessica.

“Menurut Pengacara Park, citraku di mata masyarakat akan sangat berpengaruh pada jalannya kasus itu. Kalau sampai kami memang harus kalah, setidaknya jumlah tuntutan yang perlu dibayarkan tidak akan terlalu banyak karena image-ku juga tidak begitu buruk lagi sekarang,” beritahu Jessica, mengulangi penjelasan yang diberikan pengacaranya. Gadis itu duduk bersila di atas ranjang sembari memakan donat yang dibawa Donghae. Setelah menjilati sisa krim cokelat yang menempel di tangannya, gadis itu berujar penuh percaya diri, “Tapi kurasa kami akan menang. Perusahaan itu tidak punya hak menuntutku macam-macam.”

“Kau harus mentraktirku minum kopi kalau kalian berhasil memenangkan kasus ini,” kata Donghae.

Untuk beberapa saat, Jessica tercenung di tempatnya. Apakah tidak terlalu naïf jika ia mengartikan ucapan Donghae barusan sebagai sebuah ajakan kencan?

“Atau makan malam di restoran mewah.” Suara Donghae kembali terdengar, menarik gadis itu dari pikirannya yang kepalang melayang. Jessica menatap pria di depannya. Ada seringai jahil yang tersimpul di kedua sudut bibir pria itu ketika ia menambahkan, “Dan aku pasti akan memesan menu paling mahal.”

Jessica terkekeh. Tersenyum sombong, gadis itu menjawab, “Kalau aku tidak jadi bangkrut, jangankan kopi atau makan malam di restoran, apapun yang kau minta akan kuberikan.”

Termasuk hatiku.

Donghae mengangguk penuh persetujuan. “Kalau begitu kita sepakat,” cetus pria itu sembari tersenyum senang. Ia mengulurkan tangan, dan tanpa pikir panjang Jessica langsung menjabatnya.

***

Jessica keluar dari rumah sakit sehari kemudian. Krystal, adiknya, sengaja bolos kuliah agar bisa datang menjemput, dan gadis yang lebih muda itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan dua hal.

Pertama, saat melihat satu kotak besar berisi boneka, novel, dan beberapa CD kompilasi lagu-lagu romantis. Gadis itu bahkan berdecak pelan ketika dengan susah payah harus memasukkan sebuah boneka lumba-lumba ukuran super besar ke dalam mobilnya, membiarkan benda putih berbulu itu berdesakan dengan boneka lain yang berukuran lebih kecil di jok belakang.

Krystal merasa tidak perlu bertanya dari mana datangnya semua benda itu ketika melihat siapa yang sedang berdiri di samping kakaknya. Dan itulah hal kedua yang memicu keterkejutannya. Ada Donghae di sana, sedang mengantar kakaknya sampai ke tempat parkir, meminta maaf karena tidak bisa menemaninya sampai ke rumah. Mereka juga sekilas berbincang mengenai rencana pertemuan Jessica dengan beberapa dokter magang yang belum sempat terwujud karena sang gadis sudah harus meninggalkan rumah sakit, tapi Krystal tidak terlalu memperhatikan detail pembicaraan itu. Ia terlalu takjub oleh fakta bahwa Donghae, mantan kekasih yang selama bertahun-tahun masih selalu dibicarakan kakaknya setiap kali gadis berambut cokelat keemasan itu kehilangan kesadaran akibat alkohol, sedang berdiri di samping Jessica dan bahkan berbincang akrab dengannya.

Ketika mobil sudah melaju menuju apartemen yang mereka tinggali, Krystal melayangkan pandangan curiga kepada kakaknya, menuntut gadis yang lebih tua lima tahun darinya itu untuk memberi penjelasan mengapa selama ini ia tidak pernah memberi tahu bahwa Donghae bekerja di rumah sakit tempat Jessica dirawat.

“Menurutmu, apakah kami masih punya kesempatan?” Jessica bertanya dalam suara rendah, mengabaikan rasa ingin tahu adiknya.

Krystal menahan keinginannya untuk memutar bola mata. Alih-alih melakukan itu, ia memilih menoleh ke bagian belakang mobilnya, seolah ingin bertanya kepada kakaknya apakah semua benda itu masih belum cukup untuk menjawab pertanyaannya barusan. “Itu semua benda pemberian Donghae Oppa, bukan? Setelah menerima semua benda merepotkan itu, kurasa aneh jika kau masih berpikir bahwa kalian tidak punya kesempatan. Maksudku, kau tahu kan, pria selalu punya maksud tersembunyi setiap kali memberikan sesuatu kepada seorang gadis. Terutama kalau gadis itu adalah orang yang pernah dan mungkin masih dicintainya.”

“Tapi aku sudah membuatnya patah hati.”

“Dan di saat yang sama kau juga patah hati,” ujar Krystal, mengingat lagi bagaimana kakaknya menangis sepanjang malam setelah gadis itu memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Donghae sepuluh tahun lalu. “Aku memang belum bisa membenarkan tindakanmu waktu itu. Meninggalkan kekasih yang selalu dengan setia mendukungmu hanya karena perusahaan melarang artisnya berpacaran, menurutku adalah hal bodoh. Yah, anggap saja kalau kau melakukan itu karena ingin mematuhi aturan. Tapi Unnie, meski dilarang, artis-artis lain juga melakukan itu sembunyi-sembunyi. Berkencan, maksudku.”

Jessica diam, mencerna kata-kata adiknya.

“Tidakkah kau merasa beruntung saat ini?” kata Krystal lagi. Tangannya masih memegang kuat setir mobil, sementara matanya berkonsentrasi menatap jalan yang membentang di hadapannya. “Kau mendapat semacam kesempatan kedua, tahu. Kau sudah tidak di bawah perintah perusahaan tempatmu dulu bekerja. Tuan Kim juga sudah menunjukkan keburukannya dengan membebankan semua kesalahan kepadamu, yang mana aku yakin itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu tidak ingin kembali lagi kepadanya. Kau bebas melakukan apa saja saat ini, jadi ikuti saja kata hatimu.”

Jessica tidak menjawab. Di sisa waktu perjalanan pulang, ia terus berpikir apakah kesempatan itu benar-benar ada. Mungkinkah benda-benda yang diberikan Donghae selama ia berada di rumah sakit mengandung makna seperti yang dipikirkan adiknya? Kalau iya, lalu apa yang harus gadis itu lakukan? Menunggu Donghae menawarkannya kesempatan kedua ataukah justru ia yang harus lebih dulu meminta kesempatan itu?

***

Hampir dua bulan berlalu sejak Jessica keluar dari rumah sakit. Dalam selang waktu itu, ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya.

Dia tidak jadi bangkrut. Kedua tuntutan yang diajukan atas dirinya resmi dibatalkan seiring citranya yang kian membaik di mata masyarakat. Satu di antara perusahaan itu bahkan menawarkan sebuah kontrak pemotretan ekslusif kepadanya, tapi Jessica menolak dengan dalih ingin menenangkan diri terlebih dulu. Beberapa tawaran untuk membintangi acara talkshow berdatangan di kotak masuk surelnya, tapi Jessica memutuskan hanya menerima satu tawaran saja, berpikir bahwa kemunculan yang terlalu sering akan menjadikan masyarakat cepat jenuh melihatnya.

Selain itu, ia tengah mempertimbangkan tawaran untuk bergabung di sebuah managemen baru. Di atas segalanya, meski sorot kamera dan kilatan blitz masih membuatnya merasa jengah, dia sama sekali belum berniat untuk meninggalkan hingar-bingar dunia keartisan.

Sejauh ini sudah ada dua perusahaan yang menawarinya kontrak baru. Tawaran pertama berasal dari manajemen besar yang memang terkenal sebagai pesaing berat perusahaan yang dulu menaunginya. Jessica tahu bahwa jika ia bergabung dengan perusahaan yang pertama, managemen lamanya pasti akan langsung heboh. Dia mungkin akan langsung dianggap pengkhianat. Persaingannya dengan Tiffany juga pasti akan berlangsung semakin sengit. Tawaran kedua berasal dari sebuah perusahaan baru yang kantornya saja hanya berwujud bangunan lantai dua yang jauh dari kesan mewah. CEO perusahaan itu menghubunginya tidak lama setelah ia dikeluarkan dari managemennya yang dulu, dan sampai sekarang masih rajin menghubungi untuk membujuk gadis itu. Perusahaan tersebut memang tidak sebesar dan seterkenal tempatnya dulu bernaung, tapi setelah mencari tahu ke beberapa kenalannya, Jessica bisa menarik kesimpulan bahwa perusahaan tersebut lebih menghargai artisnya, termasuk untuk urusan pembagian upah, dan tentu saja, privasi. Menerima tawaran itu sepertinya bukanlah sebuah ide yang buruk, tapi ia tidak mau terburu-buru mengambil keputusan.

Jessica juga memutuskan pindah dari apartemennya di pusat kota Seoul seminggu setelah ia keluar dari rumah sakit. Sebuah rumah sederhana di pinggir kota pun dipilihnya sebagai tempat tinggal baru. Ia mengisi hari dengan lebih banyak membaca buku, menanam bunga, dan sesekali bereksperimen di dapur. Meski pada akhirnya ia selalu mengantuk setelah membaca dua atau tiga halaman, bunga-bunga yang ia tanam juga perlahan membusuk karena terlalu sering disiram, dan hasil eksperimennya di dapur sering kali berakhir di tempat sampah, tapi Jessica tetap merasa terhibur. Semua kegiatan itu mampu mengalihkan pikirannya dari satu pertanyaan yang belakangan selalu menghantui benaknya.

Sebenarnya, bagaimana definisi kata terlambat?

Di saat Jessica sudah berhasil meyakinkan diri bahwa dia punya kesempatan untuk merajut kembali hubungan mereka yang pernah kandas, Donghae pelan-pelan menjauh hingga Jessica merasa harus mempertimbangkan ulang gagasan bahwa kedekatan mereka selama ia dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu adalah sebuah hal yang istimewa. Donghae mungkin melakukan itu kepada semua pasien. Benda-benda yang setiap hari dibawa Donghae mungkin memang benar merupakan pemberian orang lain dan pria itu hanya membantu menyampaikannya kepada Jessica.

Jessica meraih ponsel yang ia geletakkan di atas sofa, sekali lagi hendak mengecek apakah Donghae sudah membalas pesannya atau belum. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, gadis itu selalu dengan rajin mengabarkan kepada sang mantan kekasih apa saja yang ia alami selama sehari, berharap dengan begitu mereka bisa mengobrol panjang dan keakraban yang terjadi di antara mereka selama di rumah sakit bisa terulang. Beberapa dari pesan itu dibalas oleh sang pria, namun kebanyakan hanya berakhir dibaca tanpa dibalas.

Berulang kali Jessica berusaha menyakinkan diri bahwa Donghae melakukan itu karena sedang sibuk, atau karena pesan yang ia kirim memang tidak memerlukan jawaban. Narsismenya bahkan seringkali membuat gadis itu berpikir bahwa Donghae sengaja tidak mengacuhkan pesannya lantaran bingung harus memberi balasan seperti apa. Tapi semakin lama Jessica merasa semakin tampak layaknya orang bodoh yang terus mengelabui diri. Beragam kekhawatiran yang sudah ia tekan dalam-dalam perlahan kembali menyusupi hatinya.

Pesan yang ia kirim kali ini berisi ajakan bertemu. Ini adalah jurus terakhirnya. Jika pesan seperti itu pun tetap tidak diacuhkan oleh Donghae, berarti ia harus cukup tahu diri.

Jessica mengembuskan napas panjang ketika mengaktifkan layar ponsel dan satu-satunya pesan masuk berasal dari tim kreatif sebuah reality show yang menawari gadis itu menjadi bintang tamu di acara mereka. Jessica segera membalas pesan tersebut dengan secara halus menyatakan penolakan, beralasan bahwa ia masih butuh waktu untuk merenung. Setelah itu, sang gadis membaca ulang pesan yang tadi ia kirimkan ke Donghae, sekadar ingin memastikan bahwa kalimatnya tidak ambigu.

JessicaJung: Kapan kau ada waktu? Aku ingin melunasi utang 😀

Terkirim 3 jam lalu. Belum dibaca.

Jessica membaca kalimat itu berulang kali sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Donghae akan mengerti utang apa yang ia maksud. Di atas segalanya, percakapan yang menjadi penyebab munculnya ajakan itu terjadi dua bulan lalu, ketika mereka membicarakan tuntutan perdata yang dilayangkan kepada sang artis. Mungkin saja Donghae dulu hanya bercanda dan sekarang sudah lupa bahwa obrolan seperti itu pernah terjadi.

Lagi, Jessica mendesah panjang sebelum memutuskan untuk mengirim satu pesan tambahan.

JessicaJung: Masih ingat janjiku saat di rumah sakit, kan?

Gadis itu menunggu sampai larut malam, tapi balasan dari Donghae tidak kunjung datang. Pada akhirnya, ia tertidur sambil memeluk boneka lumba-lumba yang dulu diberikan sang mantan kekasih.

to be continued…

Advertisements

2 thoughts on “How Late is Too Late – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s