rose_blood_book

Red Valentine by nchuhae

..

And everyone who calls on the name of the Lord will be saved.

***

Jessica mengeratkan mantel wol yang ia kenakan. Malam sudah semakin larut dan udara dingin di pertengahan Februari pun semakin tidak bersahabat dengannya yang baru saja sembuh dari sakit. Kalau saja ia tidak mengingat kaleng penyimpanan uang di bawah kasurnya yang kini hanya terisi beberapa keping uang sepuluh sen, Jessica pasti akan lebih memilih menggulung tubuhnya dengan selimut di dalam ruangan berpenghangat.

Tapi, ah, hidup tidak pernah sebaik itu padanya. Pilihannya memang hanya dua: mati kelaparan atau kembali bekerja meski dokter dengan begitu tegas memerintahkannya untuk beristirahat. Jessica memilih opsi pertama. Menurutnya mati kelaparan adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seseorang, semiskin apapun dia.

Wanita itu memasukkan tangan ke dalam saku mantel cokelatnya demi mengeluarkan sebungkus rokok murah. Hanya tersisa satu batang rokok di dalam sana, itu pun sudah mulai sedikit bengkok akibat pengaruh udara dingin. Jessica mengedikkan bahu, memutuskan untuk tidak begitu mempermasalahkan bengkok tidaknya batang berisi tembakau tersebut.

Jessica merogoh mantelnya lagi, kali ini untuk mengambil sebuah pemantik yang isinya juga sebentar lagi akan habis. Benda itu diberikan salah satu pelanggannya sebagai cindera mata, terbuat dari bahan stainless yang di permukaannya terdapat ukiran halus wajah Yesus.

Jessica bukan orang yang religius. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia memutuskan percaya kepada Tuhan. Namun, ia menyukai benda itu. Bukan karena pemantik tersebut mengingatkannya pada sosok yang sudah tak pernah lagi ia sembah, tapi karena jika dibuka, benda itu akan membuat mulut Sang Juru Selamat menganga lebar dan mengeluarkan api. Oh, itu hiburan yang dengan aneh selalu berhasil membuatnya merasa geli.

Sembari menghirup rokok dalam-dalam, Jessica memperhatikan dinding kaca depan sebuah toko kosmetik yang sudah ditutup pemiliknya beberapa jam lalu. Di sana, tampak pantulan dirinya yang tengah berdiri dengan gaun merah dan sepatu bot tinggi berwarna senada dengan mantelnya. Rambut panjang yang juga dicat berwarna merah membuat kulitnya semakin terlihat bercahaya. Riasan di wajahnya sengaja dibuat natural, sama seperti biasa. Dengan penampilan demikian menggoda, ia heran kenapa sampai selarut ini belum juga mendapatkan satu pun pelanggan.

Jessica kembali mengarahkan pandangan ke jalan yang sudah semakin sepi. Sebenarnya malam ini ada banyak calon pengunjung potensial yang datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari kasih sayang yang sejatinya harus dirayakan bersama orang spesial, seringnya hanya berakhir sebagai tagline di media. Bagi sebagian orang, tidak perlu kekasih untuk bisa melewatkan malam penuh cinta. Banyak wanita yang bersedia menukar cintanya hanya dengan beberapa lembar uang. Jessica, misalnya.

Sayang sekali, meski dengan jumlah pria hidung belang yang datang ke kawasan ini tergolong lebih banyak daripada biasa, tidak ada satu pun yang terjerat oleh pesona Jessica. Beberapa orang temannya sudah sejak tadi mendapat pelanggan. Ada yang bahkan sudah pergi lalu kembali lagi ke tempat ini, berdiri memamerkan kaki yang mulus dan senyum yang tidak begitu tulus, dengan harapan bisa memperoleh satu atau dua lagi orang yang bersedia membayar mereka sebagai teman kencan.

Jessica mengembuskan napas panjang, membuat asap beraroma nikotin keluar dari mulut dan hidungnya, mengepul di udara yang dingin selama beberapa detik, kemudian lenyap ditelan angin malam. Wanita itu memperkirakan, tiga atau empat hisapan lagi, rokoknya akan habis. Ia pun mulai membuat janji dengan dirinya sendiri; jika sampai itu terjadi dan dia tidak juga memperoleh pelanggan, ia akan segera kembali ke kamar kontrakannya di pinggiran kota. Urusan perut yang lapar akan ia pikirkan esok. Siapa tahu ia tetap bisa memperoleh pelanggan meski hari masih siang. Nafsu lelaki siapa yang tahu, pikirnya.

Sebut saja Jessica beruntung. Mungkin Yesus di dalam saku mantelnya telah mendengar keinginan wanita itu dan segera mengabulkannya. Sebelum rokoknya betul-betul habis, sebuah mobil sedan hitam menepi tepat di hadapan Jessica. Pemiliknya menurunkan kaca jendela sampai setengah, menampakkan wajah dingin yang—terus terang saja—tampan. Pria itu tidak menoleh sedikit pun, pandangannya lurus ke arah jalan, namun ia jelas sedang berbicara kepada Jessica.

“Naiklah,” perintah sang pria.

“Aku tidak akan naik sampai kita sepakat soal harga,” kata Jessica. Ia memang sangat ingin mendapatkan pelanggan, tapi keinginan itu tidak serta-merta membuatnya bertingkah tolol. Bukan sekali-dua ia tertipu oleh pria berpenampilan perlente seperti pria di depannya ini. Beberapa dari mereka sering curang untuk urusan pembayaran. Kadang hanya setengah dari tarif normal, bahkan jika sedang sial, Jessica bisa dipukuli saat meminta bayaran, kemudian ia akan ditinggalkan begitu saja di kamar hotel tanpa sepeser uang pun.

“Berapa tarifmu?”

Short time? Full time?”

Full.”

“Tiga ratus ribu, dibayar di depan, tunai.”

Pria itu langsung merogoh saku jas dan mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat. Tangannya bergerak mengambil uang yang tersimpan rapi di dalam dompet, kemudian menyerahkan semua lembaran lima puluh ribu won itu kepada Jessica. Wanita itu tidak sempat menghitung, tapi melihat dari ketebalan uang tersebut, jumlahnya minimal satu juta.

Jessica lantas membuang rokoknya ke atas trotoar dan mematikan api yang membakar silinder beracun tersebut dengan ujung sepatu. Setelah itu, ia memasukkan uangnya ke dalam saku mantel dan berjalan riang ke sisi lain mobil, membuka pintu penumpang, membiarkan pelanggannya menentukan tempat.

Ia tersenyum dalam hati. Sepertinya pilihan untuk bekerja malam ini bukanlah sesuatu yang buruk. Ia memperoleh bayaran lebih dan pria yang akan menghabiskan waktu dengannya pun lebih dari sekadar tampan. Kurang sempurna apa lagi malam ini baginya?

***

Pria itu aneh. Dengan penampilan layaknya orang kaya dan pembayaran sekitar tiga kali lipat, Jessica sempat berpikir pria itu paling tidak akan membawanya ke hotel bintang empat, memesan kamar yang cukup luas dan bersih, dengan fasilitas room service memuaskan seperti yang biasa ia lihat di film-film romantis. Namun di sinilah ia sekarang, di kamar hotel yang sempit dan bau, persis di kawasan paling kumuh di Itaewon.

Sang pria menyerahkan sebuah kantung kertas berukuran tidak seberapa besar kepada Jessica. Wanita itu langsung membuka dan mengeluarkan isinya. Sejak tadi ia sudah penasaran apa isi kantung tersebut hingga sang pria repot-repot membawanya.

“Kau ingin aku memakai ini?” tanya Jessica ragu.

Di tangan wanita itu, ada sebuah lingerie merah yang tampak lusuh karena terlalu sering dipakai. Modelnya juga sudah sangat ketinggalan zaman. Belum lagi aroma tidak sedap yang menguar dari kain tipis berenda tersebut, membuat Jessica tidak segan menyimpulkan bahwa benda itu sudah dikenakan berulang kali tanpa pernah dicuci.

Sang pria tidak menjawab pertanyaannya, tapi Jessica mengerti itu memang tidak perlu. Tanpa berkata apa-apa, wanita itu langsung melenggang menuju kamar mandi.

Jessica pernah melakukan sejumlah hal aneh sebelumnya. Belasan tahun hidup dengan menjajakan diri, ia belajar bahwa segelintir orang memang memiliki fantasi yang sedikit tidak umum. Lingerie merah yang diberikan pria itu mungkin milik istri atau kekasih yang sudah lama meninggalkannya. Kalau saja pria di depannya tidak membayar mahal, Jessica pasti akan langsung menolak. Ia mungkin miskin, tapi memakai pakaian bekas adalah pantangan baginya.

Jessica melepas mantel dan gaun merah yang membungkus tubuhnya, lalu menyampirkan pakaian tersebut di belakang pintu. Sepatu bot tingginya juga ikut ia lepas. Wanita itu menyalakan keran, dan sesuai dugaan, air yang keluar dari sana sangat dingin. Jessica menangkup beberapa tetes air dan mengusapkan likuid dingin itu di puncak dadanya, menepuk-nepuknya sebentar hingga bagian tersebut mengeras.

Semua pria sama saja. Mereka senang jika wanita tampak menginginkannya. Dada Jessica memang menegang bukan karena hasrat, tapi pelanggannya tidak akan bisa membedakan hal itu.

Setelah berganti baju dan merapikan penampilannya, Jessica keluar dari kamar mandi. Hal pertama yang ia sadari adalah lampu telah dipadamkan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah lilin yang menyala di sudut ruangan. Dari mana pria itu mendapatkan lilin, Jessica tidak begitu peduli. Di atas segalanya, cahaya lilin berhasil menyamarkan retakan halus di dinding kamar, sekaligus membuat tempat ini menjadi lebih romantis. Pemikiran itu membuat Jessica tidak lagi terlalu mempermasalahkan bau busuk yang meliputi kamar jelek ini.

Jessica menoleh, mendapati pelanggannya tengah duduk di atas sebuah sofa reyot yang diletakkan pemilik penginapan di dekat jendela. Pakaian pria itu masih terpasang rapi. Pandangannya terarah kepada Jessica yang berdiri canggung di depan pintu kamar mandi. Mata pria itu masih sedingin tadi, dan itu membuat Jessica sedikit merasa risih. Tidak biasanya ia mendapat tatapan seperti itu dari seorang pria, apalagi jika ia sudah dalam keadaan setengah telanjang seperti ini. Jessica berusaha mencari hasrat bercinta di kedua bola mata berwarna sepekat malam itu, tapi di sana tidak terpancar gairah sedikit pun. Belum.

“Kemarilah.”

Jessica menurut. Pelan, ia melangkah mendekati sang pria.

Ketika Jessica sudah berada tepat di hadapannya, pria itu ikut berdiri. Ia mengangsurkan tangan ke sela-sela rambut merah Jessica, mempermainkan ujungnya sembari menatap sang pemilik dari atas ke bawah dengan pandangan yang sedikit terlalu tajam daripada seharusnya. Tubuh Jessica seakan terbakar akibat tatapan sang pria. Perutnya bergejolak hebat, seolah ada sekerumunan kupu-kupu yang mengepakkan sayap di dalam sana. Ia berani bersumpah, itu adalah pertama kalinya ia merasakan hal demikian setelah bertahun-tahun. Hanya tatapan, demi Tuhan, dan itu bahkan sudah mampu membuat tubuhnya menegang karena antisipasi. Kalau tahu akan seperti ini, ia tidak perlu bersusah-payah membasahi dadanya dengan air sedingin es.

“Kalungmu indah,” komentar pria itu.

Tangan Jessica refleks bergerak menuju kalung yang menggantung di lehernya. Benda itu terbuat dari besi putih berbentuk rantai-rantai kecil yang terjalin sedemikian rupa. Di ujungnya, ada bandul serupa mawar yang berukuran tidak lebih besar dibanding koin sepuluh sen.

“Ini pemberian seseorang yang sangat kusayangi,” beritahu Jessica.

Ada sedikit rasa terkejut mendapati betapa lugas kalimat itu meluncur dari bibirnya. Selama ini tidak pernah ada orang yang ia beritahu mengenai asal-usul kalung tersebut. Tidak ada yang pernah bertanya. Tidak ada yang peduli. Kecuali pria di depannya.

“Aku menyukai bunga mawar. Kau tahu kenapa?”

“Karena ini melambangkan cinta?”

Sang pria menggeleng. “Mawar merah adalah simbol semangat Yesus, sedangkan mawar putih melambangkan kemurnian Bunda Maria.”

Jessica tersenyum manis demi menunjukkan kekaguman atas secuil pengetahuan yang baru saja diberitahukan pria itu kepadanya. Dalam hati, wanita itu sebenarnya sungguh tidak peduli. Ia dibesarkan di panti asuhan Katolik oleh seorang biarawati, namun tidak sekali pun otaknya mengasosiasikan bunga mawar dan urusan rohani.

Pria itu mungkin seorang yang sangat taat beragama. Terobsesi, malah. Karena setelah mengomentari kalung Jessica, ia merogoh saku jas, mengeluarkan seuntai rosario yang di ujungnya terdapat tanda salib. Butiran berwarna merah darah itu tampak mencolok di keremangan cahaya. Ia mengalungkan benda itu di leher Jessica, menatapnya dengan bangga, dan untuk pertama kali sejak mereka bertemu, Jessica melihat seulas senyum hadir di wajah pelanggannya. Tipis, tapi menurutnya itu merupakan pertanda baik.

“Menarilah untukku,” perintah sang pria, lalu ia kembali melempar tubuhnya di atas sofa reyot bermotif bunga yang tadi ia duduki.

“Tanpa musik?”

“Dengan musik,” tukas pria itu sembari mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya yang kurus dan panjang bergerak di atas layar, kemudian alunan musik dan suara yang tidak begitu Jessica kenal mulai memenuhi ruangan.

Jessica tidak terlalu menyimak lagu apa yang dipilih sang pria untuk mengiringi tariannya, namun dari musik dan lirik yang sepintas ia dengar, Jessica yakin betul itu adalah nyanyian yang biasa orang bawakan saat kebaktian. Tengkuknya tiba-tiba meremang ketika sejumput rasa ngeri melintasi benaknya. Siapa pria di depannya? Seorang rohaniawan gila?

Jessica menggeleng, mengusir pikiran buruk yang tanpa permisi hinggap di kepalanya. Ia tersenyum sekali lagi, namun kali ini senyum tersebut lebih ia tujukan kepada diri sendiri. Sejak bertahun-tahun lalu, Jessica memiliki kebiasaan untuk tersenyum setiap kali hal tidak menyenangkan mulai muncul dan mengusik dirinya.

Wanita itu tidak pandai menari, namun ia memahami pria dengan sangat baik. Ada orang yang memang lebih gemar dirangsang dengan tarian sensual. Mereka menganggap sentuhan bukan sumber kepuasan utama. Maka wanita itu pun mulai menggerakkan tubuh. Pelan dan terukur. Ia memposisikan diri sedemikian rupa agar remang cahaya lilin di sudut ruangan cukup untuk membuat pelanggannya malam ini melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuhnya yang mulus. Dalam hati ia memuji diri sendiri karena sudah lebih dulu menanggalkan pakaian dalamnya saat berganti baju tadi. Setelah sesi tarian ini usai, mereka bisa langsung melompat ke ranjang dan bercinta dengan liar di sana.

“Kau menyukainya?” Sembari membasahi bibir dengan gerakan menggoda, Jessica bertanya beberapa saat kemudian. Ia berpikir sudah saatnya meminta penilaian dari pria itu.

Sang pria lagi-lagi tidak menjawab. Namun dari tempatnya berdiri, Jessica bisa melihat ekspresi sang pria berubah. Tatapan matanya mungkin belum memancarkan sorot mendamba seperti yang selalu dengan mudah Jessica peroleh dari kebanyakan pelanggannya sebelum ini, tapi paling tidak kedua manik gelap itu sudah tidak sedingin tadi.

Jessica tersenyum puas, merasa usahanya meliukkan tubuh tidak sia-sia. Ia melangkah dengan anggun ke tepi ranjang dan duduk di sana sambil menyilangkan kaki. Tanpa mengalihkan pandangan dari wajah tampan pelanggannya, wanita itu melepas satu-satunya pengait di antara kedua dadanya, membuat lingerie merah yang ia gunakan langsung terbuka, menampakkan dadanya yang polos dan menantang. Kulitnya yang putih dan tanpa cacat terpampang menggoda, seolah memanggil sang pria untuk segera mendekat dan menikmati apa yang tersembunyi di antara kedua pahanya.

“Kenapa kau tidak bergabung denganku?” ajak Jessica sembari menepuk pelan ranjang yang didudukinya. Ia mengerling nakal. Tangan kirinya mempermainkan ujung rosario yang tadi dikalungkan sang pria kepadanya.

Dan pria itu pun berdiri. Musik yang mengalun dari ponselnya sengaja tidak dimatikan.  Ia berjalan dalam diam, tatapannya tidak terlepas dari dada Jessica, dan itu sedikit-banyak membuat jantung wanita berambut merah tersebut memompa darah sedikit lebih cepat dari biasa.

“Lepaskan pakaianku,” ujar sang pria ketika jaraknya dengan Jessica hanya tinggal selangkah.

Untuk yang sesekian kalinya malam itu, Jessica tersenyum. Dengan senang hati ia berdiri demi melaksanakan perintah pria itu. Permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai, batinnya.

Menunduk, wanita itu membuka kancing baju sang pria perlahan-lahan, sementara pria yang sama sekali tidak ia ketahui namanya itu memainkan salib di ujung rosario yang menggantung di dada Jessica. Bibir tipis pria itu bergerak-gerak seolah sedang merapal doa tidak terdengar.

Di suatu tempat yang tidak pernah didatangi Jessica, pria di depannya mungkin adalah seorang jemaat gereja. Mungkin juga pria itu adalah seorang pastor yang belum bisa sepenuhnya melepaskan janji kenikmatan duniawi. Tapi bisa juga pria itu memang hanya seorang pria dengan kecenderungan seks sedikit aneh. Jessica memutuskan untuk tidak terlalu peduli, sama seperti ia tidak mempedulikan latar belakang ratusan pria lain yang menjamah tubuhnya selama ini.

Ia melepas jas dan kemeja putih yang dikenakan pelanggannya tanpa kesulitan berarti. Bahu berotot dan dada bidang tanpa lemak menyambutnya, membuat Jessica sejenak merasa bukan sedang melihat tubuh seorang pria, melainkan dinding kuat yang tersusun atas otot-otot kokoh. Ada beberapa bekas luka di tubuh pria itu, entah diperolehnya dari mana. Jessica lagi-lagi memutuskan untuk tidak terlalu peduli.

Wanita itu menelan ludah. Seulas senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Rasa ingin tahu akan identitas pelanggannya dengan cepat tergantikan oleh bayangan mengenai apa yang akan diperbuat pemilik tubuh atletis itu kepadanya beberapa saat lagi. Tubuh wanita itu seketika panas karena sengat antisipasi.

Tangan Jessica bergerak lebih ke bawah. Dengan telaten ia melepaskan ikat pinggang, membiarkan celana bahan yang membungkus tungkai pria itu jatuh ke lantai, menyisakan sehelai kain tipis sebagai satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya.

“Sentuh aku,” perintah pria itu lagi.

Suara dan nada bicaranya yang dingin sama sekali tidak mempengaruhi Jessica. Wanita itu menelusurkan ujung-ujung jemari lentiknya di dada liat sang pria dengan lembut, menimbulkan sensasi menggoda yang tidak terelakkan.

Atau seharusnya begitu.

Tubuh pria itu sempurna. Terlatih dan kuat di semua bagian, kecuali kejantanannya. Bagian itu menggantung lemah di bawah sana, seolah-olah setelah sekian banyak gerakan sensual yang Jessica pertontonkan, pria itu sama sekali tidak terpengaruh.

Jessica tidak kehabisan akal. Ia mengalungkan lengannya di leher pria itu, tanpa suara memintanya untuk sedikit menunduk. Sang pria menurut. Jessica menatap sepasang mata bersorot dingin itu sambil tersenyum. Berjinjit, ia mencium pipi tirus sang pria. “Jadi, apa yang harus kulakukan padamu, Jagoan?”

Pertanyaan itu tentu saja hanya basa-basi. Jessica bukan seorang amatir. Apalah gunanya pengalaman selama belasan tahun jika ia dengan mudah kebingungan hanya karena masalah sepele. Ia hanya harus bekerja sedikit lebih keras.

Pelan tapi pasti, tangannya bergerak ke balik pakaian dalam pria itu, menyentuh seluruh titik-titik erotis yang biasanya dijamin bisa membangkitkan gairah pria. Ia bahkan berlutut dan melakukannya dengan mulut, namun percuma saja. Setelah lututnya nyeri karena menempel terlalu lama di karpet yang kasar, setelah rahangnya kaku karena terlalu lama terbuka, setelah sekian banyak stimulasi hingga ia sungguh kehilangan akal, pria itu tetap tidak terpengaruh. Pertanyaan basa-basi yang tadi ia lontarkan kini menjadi sebuah pertanyaan serius yang urung ia ucapkan karena takut pria itu tersinggung dan mengambil kembali uangnya.

Merasakan pergerakan Jessica di tubuhnya berhenti, pria itu berkata, “Berdirilah.”

Lagi, Jessica menurut.

Pria itu menarik Jessica dengan kasar ke dalam pelukannya. Tangan kanannya memegang rambut merah Jessica agar tak jatuh menutupi wajah, sedangkan yang kiri bergerak meraih rosario yang menggantung di leher wanita itu, mencengkeramnya kuat-kuat hingga ujung butiran tajam tersebut menusuk kulit Jessica, membuatnya kesulitan menarik napas.

Jessica menjerit, tapi suara jerit panik itu teredam ketika sang pria mencium bibirnya dengan kasar, tanpa nafsu. Ketakutan seketika membekukan aliran darah Jessica. Pikiran buruk yang sejak tadi ia dorong ke alam bawah sadar kembali menyesaki kepalanya? Siapa pria itu sebenarnya dan apa yang ia inginkan? Mungkinkah pria ini seorang pembunuh?

Sementara Jessica sibuk dengan ide-ide buruk yang melintasi benaknya, sang pria sudah menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang besi hingga kasur beraroma tengik yang melapisi benda yang sudah layak buang itu sedikit merosot dari ranjang. Tubuhnya yang besar dan kokoh menimpa tubuh mungil Jessica hingga wanita itu semakin kesulitan bernapas. Dengan jarak sedemikian dekat, Jessica bisa merasakan bagian bawah tubuh pria itu akhirnya menegang.

Sebuah kesadaran menghampiri benak wanita itu. Pelanggannya malam ini bukan hanya seorang yang terobsesi seks aneh bertabur unsur keagamaan, tapi juga orang yang hanya bisa terangsang ketika dia memperlakukan partnernya dengan kasar.

Beberapa menit sebelumnya, keadaan dimana tubuh sang pria berada di atasnya mungkin akan membuat Jessica berteriak kegirangan dalam hati. Dengan sukarela ia akan berpura-pura berteriak ketakutan seperti seorang yang sedang diperkosa jika saja ia tahu cara seperti itulah yang akan dengan mudah memancing gairah pelanggannya. Ia juga tidak akan keberatan membuka paha lebar-lebar, membiarkan pria itu memasukinya berkali-kali dengan posisi apapun. Ia bahkan rela bercinta dengan pria itu hingga kakinya mati rasa dan tak bisa lagi berjalan dengan benar keesokan harinya.

Namun sekarang tidak lagi. Ia sudah kepalang ketakutan. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk. Jerat rosario di lehernya juga terlalu kuat untuk diartikan sebagai bagian dari permainan peran.

Wanita itu mencoba berontak meski sadar tubuhnya sudah terperangkap. Ia memukul, mendorong, bahkan mencakar, tapi otot-otot liat yang tadi sempat membuat tubuhnya gerah karena gairah jelas bukan tandingan sepadan untuk dirinya yang mungil dan baru saja sembuh dari sakit.

“Ampuni aku. Kumohon…,” pinta Jessica. Air mulai keluar dari sudut matanya. Tidak ada setitik pun keinginan bercinta yang tersisa di dirinya. Saat ini yang ada di kepalanya hanya rasa takut dan keinginan melepaskan diri.

Sebagai jawaban, pria itu mencengkram rosario yang melilit leher Jessica dengan semakin kuat. Butiran yang dingin dengan ujung-ujung tajam nan mematikan itu mengiris kulitnya, sementara di bawah sana, sang pria tidak berhenti mendesak ke dalam tubuhnya. Mata pria itu menatap Jessica dengan penuh amarah yang entah ditujukan kepada siapa. Oh, astaga, sejauh apa pria ini akan menyiksanya?

Jessica mencoba memohon sekali lagi, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia bahkan sudah tidak bisa bernapas. Paru-parunya seolah terbakar, jantungnya seperti ingin meloncat keluar. Kegelapan pelan-pelan merayap, menutupi penglihatannya yang sudah sejak tadi kabur karena air mata. Bayangan masa kecilnya yang indah melintas dengan cepat.

Panti asuhan tempatnya dibesarkan, tempat ia diajarkan mengenai kebenaran dan dosa, tempat semua bermula; senyum tulus Suster Kim dan pengurus panti asuhan lain; doa-doa yang ia rapalkan hampir setiap kali hendak melakukan sesuatu; sekolah minggu dan nyanyian berisi puja-puji untuk Tuhan; orang-orang kaya yang setiap akhir pekan datang untuk memberi bantuan dana; pria tua yang mengaku donatur, yang disebut-sebut sebagai dermawan, namun ternyata menjadi orang yang merenggut paksa kepolosannya; patung Yesus yang berdiri di atas nakas samping tempat tidur, diam memperhatikan Jessica diperlakukan layaknya binatang; janin yang terpaksa ia buang lantaran malu; Suster Kim yang hanya bisa memeluknya sambil menangis tidak berdaya ketika Jessica menceritakan semua yang telah terjadi.

Oh, betapa Jessica benci menjadi orang lemah. Namun siapa yang menyangka jika justru hal itulah yang kini akan mengantar dirinya kepada malaikat maut.

Jessica dapat merasakan pria di atasnya semakin terangsang, terdengar jelas dari desah liarnya yang parau memenuhi ruangan. Pria itu memasukinya dengan kasar, dan sungguh, Jessica tidak lagi peduli. Di antara kegelapan yang semakin pekat menyelimuti dirinya, sayup-sayup telinganya menangkap nyanyian yang mengalun dari ponsel sang pria.

Have mercy on me, O God,

according to your unfailing love;

according to your great compassion

blot out my transgressions.

Wash away all my iniquity

and cleanse me from my sin.

Itu menjadi hal terakhir yang melintas di pikiran Jessica sebelum ajal menjemputnya.

***

Lee Donghae menggertakkan gigi. Rahangnya mengeras, buku-buku jarinya memutih dan telapak tangannya lecet akibat cengkramannya pada rosario yang melilit di leher wanita berambut merah di bawahnya. Sepasang mata hazel itu menatapnya, memohon belas kasih. Tapi terlambat. Donghae sudah kepalang bersemangat ingin menyelesaikan ritualnya malam ini.

Donghae menemukan wanita itu sedang berdiri di tepi jalan di kawasan ramai Itaewon. Dengan gaun dan rambut merahnya, ia tanpa sadar telah menasbihkan diri sebagai wanita terpilih untuk melengkapi pemujaan yang ingin dilakukan Donghae. Pria itu yakin, korbannya kali ini akan menjadi salah satu selir kesayangan Tuhan. Bukan hanya lantaran rambut merahnya, tapi juga karena ia mengenakan liontin kalung berbentuk bunga mawar yang jelas-jelas disukai Sang Juru Selamat.

Sama seperti pelacur lain yang ia sewa sebelumnya, wanita ini juga cenderung penurut. Ia tidak bertanya macam-macam ketika Donghae memintanya mengenakan lingerie busuk yang tidak pernah dicuci, juga ketika pria itu mengalungkan rosario ke lehernya. Bahkan, ketika Donghae berbasa-basi memintanya menari, ia tanpa ragu langsung meliukkan tubuh dalam gerakan sensual yang berhasil menyulut hasrat pria itu. Ah, uang memang selalu dengan mudah memperbudak para pendosa.

Semua seharusnya berlangsung cepat kalau saja wanita itu tidak berusaha begitu keras untuk membuat Donghae terangsang. Seks sebenarnya bukan bagian dari ritual ini. Menurut gurunya dulu, Donghae hanya perlu memakaikan baju dan aksesoris bernuansa merah kepada para wanita terpilih, lalu mengambil jiwanya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Tapi wanita itu kelewat bersemangat dan Donghae tidak tega membiarkannya begitu saja.

Maka, pada akhirnya pria itu berinisiatif untuk menuntaskan semuanya dengan sekali tindakan. Sembari memenuhi keinginan wanita itu, Donghae menjalankan ritualnya yang biasa—menjerat leher korban dengan rosario merah demi menyucikan jiwa kotor mereka.

Lucu sekali bagaimana permohonan ampun wanita itu justru menyulut nafsunya semakin hebat, pikir Donghae. Bahkan setelah wanita itu berhenti menghembuskan napas sekalipun, Donghae masih enggan menghentikan kegiatannya mencari kesenangan dari tubuh sang korban. Biarlah Tuhan memiliki jiwanya, Donghae memanfaatkan tubuhnya.

Darah mengalir deras, berpacu di kepalanya. Tubuhnya panas dan nyeri karena sengatan nafsu. Sensasi setelah membunuh memang selalu membuatnya merasa lebih hidup, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa menyetubuhi orang yang telah ia bunuh justru jauh lebih menyenangkan dibanding apapun.

Donghae mengerang keras ketika ia sudah sampai pada puncak pelepasan gairahnya. Wanita di bawahnya hanya diam, memandang kosong ke arah pria itu. Sudah sejak tadi sinar kehidupan menghilang dari mata berwarna hazel tersebut. Jiwa pendosa telah disucikan dari raganya.

Donghae bangkit dan berjalan ke kamar mandi demi membersihkan tubuh. Setelah memakai lagi semua pakaiannya dengan rapi, ia berjalan menuju ranjang di mana korbannya terbaring. Ia melepaskan rosario di leher Jessica, juga lingerie merah yang melekat di tubuh tak bernyawa wanita itu, kemudian memasukkannya ke dalam kantung kertas yang tadi ia bawa. Kedua benda tersebut adalah peninggalan gurunya, dan tidak lama lagi akan Donghae gunakan kembali, entah kepada wanita berambut merah yang mana.

Terakhir, Donghae menggigit jari telunjuknya hingga berdarah, menuliskan sesuatu di dinding, kemudian berdiri menghadap tubuh Jessica demi menunaikan tahapan puncak ritual persembahannya.

“Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” kata Donghae sembari menggerakkan tangannya ke tiga titik berbeda, “aku memberikan jiwamu kepada Tuhan.”

***

Dua hari kemudian, pihak kepolisian daerah Itaewon mendatangi sebuah penginapan murah yang terletak jauh di pinggir kota lantaran mendapat laporan mengenai keberadaan mayat wanita tanpa identitas. Seorang detektif bertubuh tinggi langsung melangkah melintasi ruangan demi mendekati mayat yang terbaring kaku di atas ranjang. Mata hitamnya berkilat penuh emosi ketika mendapati sesuatu yang familiar pada tubuh tak bernyawa di depannya. Rambut berwarna merah, jejak jerat di leher, dan sebuah pesan yang ditulis di dinding dengan menggunakan darah.

Truly my soul finds rest in God. My salvation comes from him.

“Ini sama dengan mayat yang kita temukan waktu itu,” tukas sang asisten yang masih ingat betul bahwa kalimat serupa pernah ia dapati di TKP lain, tepat seminggu sebelumnya.

Sang detektif mengangguk. Setengah bergumam, ia berkata, “Sepertinya kita sedang berurusan dengan seorang pembunuh sinting.”

End.

A/N: Donghae and Jessica are just sooo nistain-able. Iya gak sih? Hahaha.

Advertisements

26 thoughts on “Red Valentine

  1. Astaga astaga astagaaaaaa!!
    Bisa-bisanya kamu kak bikin aku nangis karena ff smut. Seriusan gak tega liat Jessica dibunuh, apalagi awalnya mereka kayak baik-baik aja. Donghae whyyyyy? Kakak whyyyyy? 😭😭😭

  2. Apakah status cerita ini sama spt ff haesicamu yg sebelum ini, yg mestinya dibikin berseri tapi akhirnya di-oneshot-in? Karena aku akan dengan senang hati baca ff dimana lee donghae dinistakan bersama female idol lain 😶😂

    1. nggak kok. ini memang cuma diniatin buat jadi oneshot. dan oh, aku juga akan dengan senang hati baca ff yg menistakan lee donghae dengan female idol mana aja 😀

  3. Untuk ukuran ff dengan rating setinggi nc17, kata-kata bernuansa you-know-what di ff ini tergolong suble. Banget, malah, dan itu somehow bikin aku ngerasa ff ini jadi elegan. Dgn panjang cuma 3 ribuan kata, dan latar waktunya pun cuma semalam, cerita ini tergolong padat konflik. Tapi porsinya menurutku sih masih pas. Narasi sepanjang satu atau beberapa paragraf udah lbh dr cukup buat ngejelasin latar belakang tokoh utamanya. Love your writing as always 🙂

  4. Kata valentine di judul dan genre smut udah sempat bikin aku kebayang adegan penuh cinta, setidaknya mirip kisah richard gere sama julia roberts di pretty woman. Tapi ternyata donghae aneh. Dia gila. Author ff ini juga gila. Kasian jessica dijadiin persembahan ritual T____T

  5. meanwhile, our ice princess skrg lagi di hongkong buat event red valentino. kok bisa pas gitu ya sama judul ff ini? haha.
    cerita ini keren banget loh… aku gak nyangka donghae ternyata sesinting itu. kirain emang kecenderungan seksualnya aja yang agak aneh spt yg dipikirin jessica, tapi ternyata donghae gilanya udah kebngetan. sampe jessica udah mati pun dia masih tetep gak berhenti. tegaaaa!!!

  6. awalnya aku panas dingin baca ff ini. hahaha. pas deket-deket ending, yang nyisa cuma panasnya doang. geraaaahhh gara-gara donghae otaknya gesrek kebangetan. apalagi yang bagian “atas nama bapa, putra, dan roh kudus, kuserahkan jiwamu kepada tuhan”. gaaaaaaah!!!
    gak rela, sumpah, kak. kasian banget jessica padahal udah sempat mikir dia beruntung krn dikasih bayaran banyak trus kliennya cakep pula, tapi ternyataaa… hiks.

  7. Damn!! How could you make me hate and love you at the same time? Really, I hate you for making me love this story of yours.
    Lee Donghae kok kamu jadi psycho gini sih, baby?

  8. etya authorrr parah amat ni FF
    KEJAMM AAAKKK XDD

    astaga Donghae kamvret amat yak
    ngomong2 pas baca FF ini ampe lupa kalo main cast nya Donghae -..- soalnya kgk ada dialog yg banyak xXD wkwkwk

    ahh sukak sukak xD next project yg Happy Romance lah thorr~~

    Keep Writing^^

  9. Sensasi setelah membunuh memang selalu membuatnya merasa lebih hidup, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa menyetubuhi orang yang telah ia bunuh justru jauh lebih menyenangkan dibanding apapun.
    Donghae mengerang keras ketika ia sudah sampai pada puncak pelepasan gairahnya. Wanita di bawahnya hanya diam, memandang kosong ke arah pria itu. Sudah sejak tadi sinar kehidupan menghilang dari mata berwarna hazel tersebut. Jiwa pendosa telah disucikan dari raganya.

    why is this ff so bangke, kak? ya tuhan gak sanggup aku sama dua paragraf yg di atas. berasa pengen bejek-bejek donghae. gimana bisa kok dia pengen menyucikan jiwa orang pake cara kotor begitu astaga aku gak habis pikir..

  10. bagus banget ffnya. tapi kok … donghae jadi jahat gini? padahal kalo di ff biasanya dia jadi pria baik-baik yang selalu tersakiti

  11. biasanya aku mampir buat baca ff sestal, trus iseng baca ff ini kerena iming-iming rating nc-17 nya *ditabok* dan jujur, ini di luar ekspektasiku.
    setelah diingat-ingat lagi, aku kayanya gak pernah baca ff nc yang sehalus ini pemilihan katanya. keren banget! semua adegan “itu” disajikan dengan bahasa yang jauh dari vulgar. aku jadi jatuh cinta sama ff ini biarpun castnya sama sekali bukan otpku. bikin lagi yang kaya gini dong, tapi castnya pake sestal. ya? ya? ya? pleaseeee 😉

    1. Rating nc dibilang iming-iming masa 😂😂
      Makasih ya udah baca.. I’m genuinely happy to know that you love this story. Aku jg tipe yg males baca ff kalo pairingnya bukan otpku, soalnya. Dan ttg sestal, well, we’ll see /wink/

  12. Hai, salam kenal…. Aku reader baru di sini. Nemu blog ini setelah iseng ngetik haesica di twitter dan ada link ff ini.
    Aku suka ceritanya. Sinis”nya Sica sama kehidupan berasa cocok aja sama imagenya selama ini. Siapa sangka ternyata di balik kesinisannya sama Tuhan ternyata dia punya masa lalu yang kelam. Aku ngebayangin dia yang masih lugu, diperkosa sama donatur panti asuhannya dan Tuhan yang selalu dia puja seolah gak ngasih pertolongan. Gak heran gedenya akhirnya dia milih jalan buat sekalian aja jadi pelacur.
    Tentang Donghae, aku merasa dia misterius banget. Gak ngerti kenapa dia bisa percaya sama urusan persembahan” itu tapi untuk karakter ini entah kenapa aku malah mikir lebih cocok Siwon yang peranin. Siwon dan urusan agama kan memang sepaket. Hehe.
    Overall, aku suka cara author bercerita. Izin baca ff lain lagi ya? Dan sebelumnya maaf kalau aku gak bisa ninggalin komentar di semua ff yang nanti aku baca. Kadang kalau udah keasikan baca trus ketagihan jadi lupa ninggalin komen. Hehe….

    1. Panjang amat komennya. Udah kayak drabble. Haha.. Aku suka! Aku suka! Dan sebenarnya gak apa2 kok kalau km gak ninggalin komen. Nyantai aja. Ceritaku ada yg baca aja aku udah senang. Makasih udah mampir ke blog ini 🙂
      Sama, aku jg sempat mikir kalau buat karakter cwonya lebih cocok pake siwon. Tp wonsica kedengaran aneh, dan paling utama, mereka bukan otpku. Jadi ya gitu deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s