keep-calm-and-watch-kdrama-14

An utterly biased list, made by a girl who was struck so hard by boredom at 2 am

.

.

.

Beberapa tahun belakangan ini demam K-Drama menyebar dengan sangat pesat di Indonesia. Tidak mengherankan, sebenarnya. Selain karena kurangnya tontonan produksi dalam negeri yang bisa memanjakan mata dan otak, kualitas drama Korea sendiri memang mengalami perkembangan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode sekitar satu dekade lalu. Sekarang K-Drama tidak hanya sekadar adegan nangis-nangis di depan kamera, tapi lebih pada sajian komplit yang kadang-kadang kelewat cerdas sampai bikin penontonnya stress.

Tentu saja, meski terdapat beberapa perubahan, tetap ada yang tidak berubah dari drama Korea sejak dulu. Aktor serta aktrisnya masih enak dipandang, jalan ceritanya masih menarik, fashionnya masih layak dipertimbangkan untuk ditiru, dan landscape-nya juga masih bikin orang tergoda untuk segera memesan tiket tujuan Bandara Internasional Incheon agar bisa menyaksikan sendiri pemandangan yang menjadi latar adegan favorit di dalam drama yang kita tonton.

Maka, setelah bertahun-tahun mengonsumsi semua itu dengan dosis mingguan (kadang harian sih, kalo lagi suntuk), akhirnya saya dengan pedenya akan menulis sebuah (so-called) artikel yang isinya rekomendasi drama-drama yang menurut saya paling keren.

Here’s the list:

1. Reply Series (My Personal Rating: 9/10)

replyseries

Serial Reply sejauh ini terdiri dari tiga drama (Reply 1997, 1994, 1988) dengan jalan cerita berbeda, latar berbeda, dan tentu saja pemeran yang berbeda. Namun karena formula yang digunakan cenderung sama, jadi saya memutuskan untuk meringkas ketiganya dalam satu poin.

Ada enam orang sahabat (entah itu satu sekolah, bertetangga, atau malah satu rumah) dan di antara mereka ada yang saling menyukai. Di ketiga seri, keenam orang tersebut selalu terdiri dari empat pria dan dua wanita.

Tidak seperti kebanyakan drama Korea di mana tokoh utamanya sudah jelas akan bersama siapa, di ketiga drama ini penonton selalu akan dibuat menebak-nebak, tokoh utama wanitanya akan memilih siapa di akhir nanti. Dalam perjalanan menuju ending, kehidupan mereka akan disajikan dalam balutan drama persahabatan dan keluarga yang sangat kental. Tentu saja, elemen-elemen yang sedang popular di tahun yang dipasang menjadi judul akan muncul sepanjang cerita.

Secara personal, Reply 1997 adalah yang paling saya sukai. Diceritakan Sung Siwon, seorang anak SMA yang juga merupakan fangirl dari boyband H.O.T. Semua yang dilakukan tokoh utama di drama ini mengingatkan saya pada diri sendiri; mulai dari urusan heboh mengobrol perihal Oppa bersama teman, mengantri berjam-jam untuk menonton konser, menulis fanfiction yang kadang menistakan sang idola, bahkan bertengkar dengan orang tidak dikenal hanya untuk pembuktian grup favorit siapa yang lebih hebat (yeah, I used to be that immature. Fanwar, usually with Cassie and  VIP, was like my daily dose of fangirling. Huhu). Selain itu, meski terdapat perbedaan cukup besar antara kehidupan di Korea Selatan dan Indonesia, tapi saya tetap merasakan adanya efek nostalgia setiap kali menonton drama ini. Berinternet dengan menggunakan sambungan telepon rumah hingga kalau teleponnya mau dipakai aktivitas di dunia maya otomatis terhenti, merekam suara dengan kaset berpita, menggunakan pager sebagai pengganti telepon genggam, dsb membuat adegan-adegan di drama ini terasa sangat dekat dengan kehidupan pribadi saya. Menonton Reply 1997 membuat saya seolah berkaca, and really, I’m still waiting for my Yoon Yoon Yoon Jae. Ha!

Reply 1994 juga lucu. Bahkan, di beberapa episode saya merasa drama ini lebih lucu daripada pendahulunya. Alasan saya menempatkan ini di urutan kedua adalah karena setelah nge-baper selama beberapa episode, saya harus menerima kenyataan kalau pemeran utama wanitanya tidak berakhir bersama pria yang saya dukung T_T

Reply 1988, biarpun secara rating merupakan yang paling popular, menurut saya justru masih kalah dibanding dua serial sebelumnya. Mungkin karena unsur nostalgia yang berusaha dihadirkan tidak membuat saya merasa relate, tidak seperti di 1997 atau 1994. Closing romance-nya pun, seolah tidak terlalu menyorot tokoh utama (pemeran utamanya siapa, yang dikasih scene menikah malah siapa). Meski tidak membuat saya sebaper saat menonton Reply 1994, tidak serta-merta membuat nilai drama ini mengalahkan dua seri sebelumnya. Yang patut di-highlight dari instalmen Reply yang satu ini adalah drama keluarga dan persahabatannya yang terasa lebih kental dibanding Reply 1997 atau 1994.

2. Baker King: Kim Tak Goo (My Personal Rating: 8.5/10)

bread01

Baker King, atau lebih dikenal dengan judul Bread, Love, and Dreams merupakan drama (yang katanya) based on true story. Mengambil latar di tahun 80-an, drama ini menceritakan perjalanan seorang pria bernama Kim Tak Goo untuk menjadi pembuat roti tersukses di Korea.

Drama ini benar-benar membuat saya jatuh cinta sampai-sampai setiap ke mall yang saya lakukan adalah membeli roti di salah satu toko dan berpura-pura bahwa itu adalah roti Bong seperti yang ada di dalam drama ini. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, ceritanya klise banget. Yah, khas opera sabun kebanyakan. Tapi buat saya, mengikuti perjalanan Kim Tak Goo menjadi pembuat roti professional adalah sebuah pengalaman menyenangkan. 30 episodenya semua menarik bagi saya.

3. Jewel in the Palace (My Personal Rating: 9.5/10)

sieubfbp

Kisah dokter wanita pertama di Korea.

Saya rasa, di antara semua kisah bertema serupa, perjalanan Jang Geum-lah yang paling menarik. Dimulai dari menjadi dayang, perawat, nyaris menjadi selir, kemudian akhirnya dikukuhkan menjadi dokter. Drama ini, indeed, panjang. Tapi jangan khawatir, drama sepanjang itu tidak akan terasa membosankan karena setiap konflik disajikan dengan rapi dan didukung pula oleh pengetahuan-pengetahuan tambahan akan kuliner dan kedokteran herbal yang dijamin berguna.

4. Full House (My Personal Rating: 8/10)

7e1baebe55b8b63e5f0bf10fdf8d4df1

Drama ini bercerita mengenai kisah cinta Han Ji Eun, seorang penulis cerita online, dengan Lee Young Jae, seorang aktor ternama. Perkenalan mereka diterjadi di atas pesawat yang membawa keduanya berlibur ke Cina. Ketika kembali ke Korea, Ji Eun terpaksa menerima kenyataan bahwa rumah peninggalan orang tuanya—yang ia namai Full House—telah menjadi milik orang lain, dan ternyata pemilik baru dari rumah itu adalah Young Jae. Akibat sebuah kesalahpahaman, keduanya lalu terlibat dalam pernikahan kontrak, dan dari situlah sebuah cerita menarik tercipta.

Saya rasa semua penonton drama di Indonesia tahu betul dengan judul satu ini. Di tahun 2004, drama ini seolah menjadi pembuka jalan bagi drama-drama Korea lain untuk ditayangkan di stasiun tv nasional, menyudahi dominasi drama Cina dan Taiwan yang sejak akhir tahun 90-an menempati banyak slot waktu tayang di jam prime time.

5. Ghost (My Personal Rating: 9/10)

ghost_korean_drama-p1

Ghost berkisah mengenai perjalanan kelompok polisi cyber crime dalam menginvestigasi kasus kematian seorang aktris, yang nantinya bermuara pada terungkapnya sebuah skandal politik yang melibatkan petinggi-petinggi kepolisian.

Alasan saya begitu menyukai drama ini adalah karena ini merupakan drama Korea pertama yang membuat saya betah menonton meski tidak ada kisah cinta nan romantis di dalamnya. Saya adalah penonton dengan prinsip sesederhana, “Kalau mau cari serial dengan konflik rumit dan tokoh utamanya punya kelebihan/keunikan yang jarang bisa ditemukan di serial lain, maka tontonlah serial produksi Hollywood. Tapi kalau mau cari drama dengan balutan kisah cinta manis, maka serial dari Korea-lah jawabannya.”

Drama ini muncul sebagai sebuah anomali untuk prinsip sederhana saya, karena meski secara subtil diperlihatkan beberapa karakter menyimpan rasa suka terhadap karakter lain, sutradara dan penulis naskah sepertinya enggan mengeksplor itu semua terlalu dalam. Fokus cerita adalah memperkenalkan bagaimana seorang polisi cyber crime bekerja, dan itulah yang ditampilkan sepanjang 20 episode.

6. Dream High (My Personal Rating: 8.5/10)

드림하이 메인포스터세로형_No staff

Ini mungkin satu-satunya drama bertabur idol yang sukses secara kritik dan rating. Dan saya rasa memang pantas, karena drama ini merupakan sajian yang bisa membuat orang betah berlama-lama di depan layar hanya untuk mengetahui bagaimana kelanjutan cerita keenam tokoh utamannya.

Sebenarnya, kalau diperhatikan sedikit lebih dalam, drama Korea yang menceritakan perjalanan tokoh utamanya meraih mimpi cenderung punya formula serupa. Beberapa karakter dikumpulkan dalam satu akademi; si jenius, si katro, si sombong, si pekerja keras, si dia yang kelihatan baik-baik saja tapi sebenarnya punya masalah keluarga, si I’ll-do-anything-to-get-what-I-want, dll. Karakter-karakter itu kemudian akan berinteraksi, timbul persaingan, terjalin persahabatan, dan tentu saja, timbul perasaan saling suka. Yang menjadikan drama ini terasa spesial? Entahlah…. Mungkin karena cara berceritanya yang saya anggap tidak terlalu didramatisasi. Perjalanan keenam tokoh utama dalam meraih cita-cita sebagai seorang penyanyi terkenal terasa seperti sesuatu yang alami dan masuk akal, tidak ada konflik yang terlalu berlebihan. It’s beautiful with it’s simplicity.

7. Winter Sonata (My Personal Rating: 8.5/10)

693_wintersonata_nowplay_small_1

Saya ingat pernah melihat meme yang diunggah salah satu akun di instagram. Di meme itu, pembuatnya mengatakan bahwa drama korea yang pertama kali menjeratnya adalah Boys Before Flower, which is released in 2009, and I was like, “Kid, how old are you?”

Jika pertanyaan yang sama diajukan kepada saya, maka jawabannya adalah Winter Sonata, dan sepertinya kurang pas kalau saya berbicara mengenai drama Korea tanpa menyinggung drama satu ini.

Winter Sonata, sebagaimana statusnya sebagai cinta pertama bagi sebagian pecinta drama, juga berkisah mengenai cinta pertama. Adalah Jung Yoojin, sang tokoh utama wanita, yang menjelang hari pernikahannya bertemu dengan seorang pria yang mirip dengan cinta pertamanya. Pertemuan ini kemudian menggoyahkan hati Yoojin, karena meski dia tahu bahwa cinta pertamanya sudah meninggal, tapi perasaan terhadap pria itu tetap belum hilang meski kenyataannya sudah ada pria lain di sisinya.

Ini melodrama yang benar-benar mempermainkan emosi. Selain karena jalan ceritanya yang menggemaskan, juga karena lagu-lagunya yang menyayat hati. Kalau ada yang kebetulan sedang-ingin-menangis, drama ini sangat saya rekomendasikan.

8. School 2013 (My Personal Rating: 10/10)

school-2013-poster-3

Saya menonton drama ini tiga tahun setelah perilisannya di Korea, itu pun cuma karena ingin melihat bromance antara Lee Jongsuk dan Kim Woobin yang melegenda itu. Tidak butuh waktu lama hingga fokus saya berubah. Latar berupa lika-liku kehidupan seorang guru dalam mengatasi murid-muridnya menjadikan drama ini menarik perhatian saya lebih dari seharusnya.

Kelas 2-4 yang menjadi sorotan utama drama ini dipenuhi murid dengan masalah masing-masing. Dan tidak hanya murid, karakter guru, kepala sekolah, dan orang tua yang terlibat dalam cerita ini menurut saya merupakan gambaran umum dari kondisi di banyak sekolah. Berlatar belakang sebagai seorang tenaga pendidik, saya merasa belajar banyak dari drama ini. Tidak hanya dari segi menangani murid bermasalah, tapi juga bagaimana memandang satu persoalan dengan sudut pandang yang lebih luas.

Ini adalah drama yang kompleks dalam kesederhanaannya. Sangat saya rekomendasikan untuk para pendidik, orang tua, dan mereka yang pernah bersekolah. Watching this drama brings you a taste of nostalgia, because whoever you are, you sure can see the portrait of your younger self here.

9. Scarlet Heart: Ryeo (My Personal Rating: 9/10)

scarlet-heart-moon-lovers

Perlukah saya menjelaskan kenapa saya merekomendasikan drama gila ini? Hahaha.

Review lengkap bisa dibaca di sini.

10. Adolescence Medley (My Personal Rating: 8/10)

poster-puberty-medley

Saya adalah jenis orang yang sangat mencintai masa putih abu-abu, karena itu drama berlatar belakang kehidupan anak sekolah selalu dengan mudah menarik perhatian saya.

Drama ini adalah miniseri sebanyak empat episode yang menceritakan kehidupan Choi Jong Woo sebagai seorang murid pindahan di SMA Namil. Terbiasa berpindah-pindah sekolah sejak kecil membuat Jong Woo memilih untuk tidak dekat dengan siapa-siapa di kelasnya. Tapi, sejumlah kejadian membuat dia akhirnya justru menjadi siswa populer. Jong Woo yang selama bertahun-tahun hidup sebagai siswa yang cenderung invisible, di sekolah barunya justru menjadi kekasih siswi terpandai di sekolah. Tidak hanya itu, ia juga dianggap pahlawan setelah dengan berani menantang sang preman sekolah untuk adu tinju demi membela teman sebangkunya, serta menjadi perwakilan untuk mengikuti lomba menyanyi tingkat nasional.

Ini drama yang lucu dan heartwarming hampir di saat bersamaan. Serunya kehidupan masa sekolah yang penuh dengan keluguan tersaji dengan apik di drama ini. Tokoh utama pria yang hampir selalu digambarkan sebagai sosok nyaris sempurna di kebanyakan drama, tidak akan didapati di sini. Jong Woo tampil sebagai karakter kompleks yang cenderung pecundang. Oh, dan endingnya, sungguh tipikal ending favorit saya. Tidak ada kata-kata manis nan lebay atau quotable di sini, hanya sebuah senyum tipis dan mata yang berbinar bahagia.

.

.

.

Mungkin ada yang bertanya, mana judul-judul populer seperti Goblin dan Descendant of The Sun yang tahun lalu happening banget itu?

Tenang, karena list ini tidak akan berhenti di sini. Kalau saya diserang kebosanan yang teramat sangat seperti malam ini lagi, part selanjutnya juga akan segera diterbitkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s