julie-hawkins-2016-art

Jadi, 2016 sudah resmi berakhir.

Ini adalah tahun dimana saya cukup aktif sebagai seorang fangirl. Yah, tidak seaktif beberapa tahun lalu sih, tapi setidaknya, setelah sempat memasuki mode on-off sejak awal 2013, tahun ini saya mendapati diri mulai menemukan jalan pulang ke hati Oppa /huek/

And here’s the highlight….

Writing Fanfiction

Saya menulis 20 fanfiksi tahun ini. Bukan angka yang patut dibanggakan—because there was a time when I could write more than that—tapi saya merasa tulisan saya mengalami peningkatan dari segi diksi, ketepatan penggunaan tanda baca, perancangan alur, dan pemilihan genre. Tidak signifikan, tapi ada.

Tahun ini saya juga sempat mengikuti lomba menulis fanfiksi di sebuah blog dan diganjar dengan juara ketiga. Hadiahnya jaket EXO, tapi secara pribadi reward terbesar yang saya peroleh dari lomba ini adalah kemampuan untuk lebih bijak mengatur jumlah kata dalam tulisan. Kedengarannya remeh, tapi ini selalu jadi kelemahan saya sejak dulu. Menulis ya menulis saja. Semua berakhir ketika ia berakhir. Sebuah cerita oneshot yang normalnya berkisar dua sampai empat ribuan kata, bagi saya kadang bisa sampai belasan ribu karena idenya terlalu banyak untuk diringkas dan terlalu sedikit untuk dibagi dalam beberapa bagian.

Jumlah kata dalam sebuah tulisan itu perlu diperhatikan lho, karena kehidupan profesional selalu membatasi hal seperti ini. Jurnal penelitian tidak boleh terlalu panjang. Bayangkan bagaimana meringkas karya ilmiah yang tebal itu menjadi lima atau enam halaman saja tanpa menggerus esensinya. Buku yang hendak diterbitkan penerbit mayor seringnya tidak boleh lebih dari sekian ratus halaman. Tulisan yang diikutkan lomba berskala nasional juga selalu memberi ketentuan yang jelas seberapa panjang sebuah naskah sampai naskah tersebut layak masuk dapur penjurian. Ketika semua terasa penting, memilih mana yang mau dimasukkan dan mana yang harus dibuang itu kadang sangat sulit, jadi pembiasaan diri adalah hal yang penting.

Selain itu, saya juga kembali bergabung menjadi kontributor tetap di beberapa blog fanfiksi. Ini tujuannya hampir sama dengan yang di atas: kepentingan manajerial. Semua blog dimana saya bergabung memperbaharui daftar kontributor tetap mereka secara berkala. Mendaftar lagi bukan masalah yang sulit, sebenarnya, tapi saya sedang berusaha menjaga diri agar tidak lagi-lagi kena writer’s block. Dengan adanya semacam tenggat waktu seperti itu, saya berharap akan ada lebih banyak motivasi untuk rutin menulis.

Reading Fanfiction

Saya lupa ada berapa banyak fanfiksi yang saya baca tahun ini. Kebanyakan oneshot, sih, karena saya tidak cukup sabar  menunggu cerita yang tidak jelas kapan lanjutannya akan dipublish.

Tahun ini saya menjadi sangat pemilih dalam hal membaca. Cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama akan dengan cepat menggerus minat saya. Cara bercerita yang kelewat asyik hingga mengabaikan kaidah bahasa juga membuat saya enggan membaca, tidak peduli seberapa bagus review yang dituliskan orang-orang. Ini membuat banyak sekali novel di rak buku saya terancam tidak akan pernah dibaca dan hanya berakhir sebagai hiasan. Dalam hal membaca fanfiksi secara khusus, hal yang sama juga berlaku. Dan pilihan jadi semakin sempit karena saya merasa selalu gagal membangun ketertarikan pada cerita yang tokoh utamanya bukan OTP favorit saya.

Saya gagal menemukan fanfic HaeSica yang bagus tahun ini. Well, memang sudah tidak banyak juga author yang memasangkan kedua idol ini dalam cerita mereka. Selain karena couple ini tergolong sudah cukup jadul, tidak adanya interaksi antara mereka berdua setelah Jessica resmi dikeluarkan dari SM Entertainment, popularitas Donghae yang saya akui menurun karena banyaknya fangirl yang beralih dan lebih fokus ke idola baru mereka, serta hubungan Jessica yang tampaknya makin lengket aja sama si abang Kwon, membuat shipper untuk pasangan ini berkurang dan itu jelas berdampak pada berkurangnya cerita yang memasangkan mereka sebagai tokoh utama.

YongSeo, SoheeChul, SunHae, JaeNana, dan HaeRa juga nihil.

KrisSica ada beberapa, tapi tidak memenuhi kriteria saya.

Sebagai pelarian, saya membaca banyak sekali fanfic SeStal dan random couple dari ExoPink (uh, have I told you that ExoPink is my new Super Generation?).

Saya mengintip hampir semua cerita yang memakai tag sestal dan exopink di asianfanfic, membaca sejumlah judul, dan jatuh cinta pada beberapa di antaranya. Saya mencari di situs livejournal, tapi tidak banyak yang bisa saya temukan di sana. Saya juga berkunjung ke sejumlah blog fanfiksi berbasis wordpress, tapi lagi-lagi, tidak ada yang memenuhi kriteria saya.

Mungkin tahun depan saya perlu sedikit melonggarkan kriteria?

Fan-edit (both video and photo)

Blame my poor editing skill for my lack photo and video editing this year. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, sekarang saya cukup sadar diri bahwa bakat mengedit saya berada di level memprihatinkan. Saya sudah tidak mau lagi memaksakan diri untuk mengikuti jejak beberapa penulis fanfic yang membuat sendiri poster dan trailer untuk cerita mereka.

Alih-alih mengunggah foto hasil editan yang cringe-worthy itu, saya lebih suka melihat-lihat hasil karya orang. Di tumblr dan instagram ada banyak sekali yang seperti ini. Untuk kebutuhan publish cerita, daripada mengedit sendiri, saya lebih suka memesan poster di situs penyedia jasa pembuatan poster fanfiction. Kalau hasilnya tidak sesuai ekspektasi, ya tinggal mencomot gambar di google yang sekiranya bisa mewakili feel dalam cerita saya. Sedangkan untuk urusan video, saya lebih memilih untuk menonton video buatan orang saja. Untungnya, untuk couple seperti SeStal dan ExoPink, saya menemukan banyak akun youtube yang rajin mengunggah fmv bagus. Beberapa di antaranya bahkan mendatangkan terlalu banyak feel sehingga membuat saya harus menahan teriakan heboh saat menonton. Ha!

Konser

Tidak ada konser tahun ini.

Kalau dulu satu-satunya alasan saya menghalangi saya menonton konser K-Pop adalah kurangnya biaya—yang berakibat pada kegalauan selama berhari-hari—maka tahun ini penyebab utamanya adalah diri saya sendiri. Saya sibuk, iya betul, tapi alasan seperti itu tidak pernah cukup untuk menghalangi niat saya menonton konser. Dulu, di tengah-tengah kesibukan menyelesaikan tesis pun, saya masih sempat mengalay seharian di venue konser demi melihat Lee Donghae yang muka tololnya kelewat mempesona itu. Tahun ini, karena Super Junior sedang ada dalam masa rehat, maka rehat pulalah saya dari kegiatan menonton konser. Awal tahun ada KRY sih, tapi apalah arti sebuah konser K-Pop kalau tidak ada Donghae di atas panggung?

K-Drama

Oh, ada banyak sekali K-Drama yang saya tonton tahun ini sampai-sampai saya sempat tergoda untuk membuat postingan berisi rekomendasi drama terbaik tahun 2016. Kalau sedang stress dan butuh pelarian, saya bisa mengonsumsi drama dalam dosis harian. Bahkan, beberapa judul bisa saya selesaikan hanya dalam satu hari /kibas rambut, bangga/.

Banyak menonton drama membuat list artis kesayangan saya bertambah panjang. Setelah selama bertahun-tahun hanya Lee Jongsuk satu-satunya aktor yang sanggup menembus daftar bias saya, maka tahun ini ada Ji Soo (dan sepertinya juga Park Bogum).

Ji Soo masuk ke dalam daftar ini setelah saya menonton Sassy Go Go. Ini sebenarnya drama tahun 2015, tapi karena tahun lalu saya benar-benar jauh dari hal-hal berbau Korea, maka drama ini pun terlewatkan dan baru sempat saya tonton pertengahan tahun ini. Awalnya saya menonton karena Jung Eunji, tapi setelah melihat dedek manis ini, hati noona yang lemah jadi tidak sanggup untuk tidak jatuh cinta /huek/.

Park Bogum mencuri hati saya lewat perannya sebagai Choi Taek di drama Reply 1988. Ketika banyak orang patah hati karena Duk Seon memilih Taek dibanding Jungpal (eh, bener gak sih ini namanya?), saya bahagia-bahagia aja tuh waktu nonton episode terakhirnya. Tidak ada yang namanya baper bercampur kesal, yang ada hanya senyum-senyum gemas untuk adegan yang melibatkan Duk Seon dan Taek serta nangis-nangis unyu(?) saat adegan pernikahan Bora.

Karena rasa suka yang sedikit berlebihan kepada dua makhluk manis itulah saya akhirnya menghabiskan waktu seminggu untuk menonton semua drama yang ada Ji Soo serta Park Bogum-nya >///<

.

.

Terakhir, bukankah menulis review tidak akan lengkap tanpa menulis harapan untuk tahun berikutnya?

So here are my wishes….

  • Menulis lebih banyak fanfic oneshot dengan genre yang lebih beragam.
  • Membuat satu fanfic multichapter (atau setidaknya menyelesaikan fanfic yang rencananya akan dibuat bersambung tapi mentok di part awal).
  • Tidak gampang tergoda hingga akhirnya menonton terlalu banyak drama. It consumes too much time T_T
  • Ketemu langsung sama Lee Donghae (entah lewat konser, entah terbang langsung ke Korea)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s