PhotoGrid_1492610418204

Sebelumnya: Chapter 1

..

“Keadaanmu sudah mulai membaik. Tekanan darahmu sudah kembali normal dan wajahmu juga tidak terlalu sepucat kemarin,” ujar Donghae setelah menyelesaikan pemeriksaan rutinnya. “Kurasa dua atau tiga hari lagi kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini.”

“Aku tidak yakin pengacaraku akan menyetujui ide itu,” imbuh Jessica. Ia meraih telepon genggam yang diletakkannya di nakas samping ranjang, membuka surel yang dikirimkan pengacaranya beberapa jam lalu, kemudian mengangsurkan benda elektronik itu kepada pria di depannya.

Donghae menerima benda itu dan langsung membaca apa yang tertera di sana. Alisnya sedikit terangkat saat mengetahui isi surel tersebut. Sesekali alis itu bertaut seiring pergerakan jarinya menggulir tampilan di layar lima inch dalam genggamannya. Dan di akhir kegiatan membacanya, ia tertawa kecil.

“Sepertinya wawancara kemarin berhasil membuat orang-orang bersimpati kepadamu,” komentar Donghae seraya mengembalikan telepon pintar itu kepada pemiliknya.

Jessica tersenyum nakal, mengambil telepon genggamnya, dan menaruh benda itu kembali ke tempat semula. “Karena itulah, pengacaraku berpendapat bahwa jika aku sedikit lebih lama di rumah sakit, kebencian masyarakat mungkin akan lebih jauh berkurang. Itu juga akan memberi kami alasan untuk menunda jalannya proses pengadilan. Kau ingat kan, aku pernah memberitahumu bahwa perusahaan yang produknya kuiklankan menuntutku karena merasa skandalku mencemarkan citra perusahaan mereka?” beritahu Jessica. Setelah mendapat anggukan dari Donghae, tanda bahwa pria itu menyimak ceritanya, gadis itu dengan berapi-api menambahkan, “Aku heran kenapa mereka keberatan dengan skandal ini. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, di iklan itu aku berperan sebagai wanita penggoda. Bukankah skandal ini justru menguatkan citra wanita penggoda yang kuperankan?”

Donghae tertawa sekali lagi. Dia menarik sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari ranjang Jessica dan duduk di sana. Tidak seperti kunjungannya sebelum ini, yang biasanya hanya diisi obrolan singkat penuh basa-basi layaknya dokter dan pasien, kali ini Donghae merasa perbincangannya dengan Jessica akan berlangsung sedikit lebih lama. Karena tidak seperti kunjungannya sebelum ini, yang biasanya terbatas waktu, kali ini pria itu sudah lepas waktu piket. Dan bagi Donghae, berbicang dengan seseorang yang sejak sepuluh tahun lalu hanya bisa ia pandangi lewat layar televisi jauh lebih bermanfaat dibanding pulang ke rumah dan tidur.

“Yah, seperti itulah. Intinya, pengacara Park meminta aku untuk berlama-lama di rumah sakit agar dia punya lebih banyak waktu menyiapkan pembelaan untuk sidang nanti.”

“Apa dia juga yang menyuruhmu mengatakan hal seperti kemarin? Kau tahu, wawancara itu.”

Jessica mengangguk. “Kau tahu sendiri, kan, bagaimana pria itu menyudutkanku di konfrensi persnya? Alih-alih membantah, pengacara Kim bilang lebih baik aku mengamini tuduhannya dan menempatkan diri di posisi tak berdaya.”

Untuk yang kesekian kalinya, Donghae tertawa. “Pengacaramu itu sungguh licik. Kau juga.”

“Hei,” seloroh Jessica, tidak terima. Ia tahu Donghae tidak serius dengan kata-katanya barusan, tapi gadis itu merasa tetap perlu memberi konformasi. “Untuk menghadapi ular berkepala manusia seperti mereka, kau perlu menjadi lebih licik agar bisa menang.”

“Jadi, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan pria itu?” tanya Donghae. Dia menyedekapkan kedua lengannya di depan dada, berusaha untuk tampil sekasual mungkin. “Melihat bagaimana kau menyebutnya licik, kurasa hubungan kalian tidak sepanas apa yang diumbar media.”

Jessica mengedikkan bahu. “Kami sempat dekat selama beberapa bulan, tapi tidak ada yang benar-benar spesial. Sampai sekarang aku juga bertanya-tanya kenapa aku mau menjalin hubungan dengan pria berengsek itu.”

“Kau berpelukan mesra dengannya di kelab malam.” Donghae berujar lugas, mengingat lagi foto yang beberapa waktu lalu menghias portal-portal berita.

“Aku mabuk berat waktu itu,” kenang Jessica, tidak sadar bahwa suaranya berubah menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Gadis itu bertanya-tanya apakah tidak masalah jika dia menceritakan alasan mengapa malam itu dia minum melebihi batas toleransi alkoholnya. Apakah akan ada yang berubah dari hubungannya dengan Donghae jika pria itu akhirnya tahu semuanya?

“Apa itu juga adalah caramu agar kau punya alasan untuk tidak segera keluar dari rumah sakit ini?” tanya Donghae lagi. Pandangannya merujuk pada piring makan yang tampak tak tersentuh di atas meja. “Kurang makan bukan hal yang baik untuk orang yang pernah menderita gastritis seperti dirimu.”

Jessica menoleh, mengikuti arah pandang Donghae, dan hanya bisa tertawa renyah karena dia tahu bahwa omongan Donghae barusan terlontar bukan karena dia seorang dokter, melainkan karena dia adalah seorang teman yang masih ingat bahwa ada masa di mana Jessica pernah dirawat di rumah sakit karena saluran lendir di lambungnya mengalami peradangan.

Pria itu masih ingat, dan dia peduli.

“Aku bosan dengan makanan rumah sakit.”

“Kau perlu makanan itu agar bisa kembali sehat dan melawan semua orang yang menudingmu dengan tuduhan yang tidak-tidak.”

“Sudah kubilang, pengacaraku belum menginginkan aku keluar dari rumah sakit ini.”

Donghae mendengus karena kelakuan gadis di depannya. Sambil tersenyum nakal, dia berujar, “Kau tahu, aku bisa membelikan ramen untukmu kalau kau mau.”

Ada binar cerah di mata Jessica saat mendengar pria itu mengucapkan kata ramen.

Hal itu tentu saja tidak terlepas dari pengamatan Donghae. Merasa di atas awan, pria itu menambahkan, “Tentu saja, aku tidak akan melakukannya begitu saja.”

Jessica mengerang pelan, tahu betul bahwa Donghae akan memanfaatkan keinginannya makan ramen untuk membuatnya melakukan hal konyol. Dia teringat, dulu, ada masa di mana Donghae melakukan ini kepadanya setiap hari. Dulu, semua ini akan berakhir dengan Jessica yang berujar malu-malu di depan Donghae, mengatakan betapa gadis itu menyukainya. Sekarang, apakah tidak terlalu terlambat untuk mengulangi semua itu lagi?

“Baiklah, apa yang kau inginkan?”

“Katakan sesuatu yang akan membuatku bahagia.”

Gadis itu memutar bola matanya. “Kau tidak berharap aku akan memujimu, kan?”

Donghae mengedikkan bahu. Senyum nakal itu masih tersemat di kedua sudut bibirnya.

Jessica termenung di tempatnya, menimbang jika ia mengatakan apa yang selama ini mengganjal di benaknya, apakah Donghae akan merasa bahagia? Tidakkah Jessica terlalu percaya diri jika ia menganggap bahwa pria itu masih berpegang teguh pada janji yang mereka ucapkan saat masih menjalin hubungan.

“Kau sangat tampan hari ini,” ujar Jessica akhirnya.

Donghae menggeleng. Ia memainkan telunjuknya di udara, menggerakkannya untuk memberi tanda bahwa ucapan Jessica barusan belum cukup untuk memenuhi perjanjian mereka.

“Kau adalah dokter terbaik di dunia.”

Pria itu masih belum tampak puas.

“Aku senang bertemu lagi denganmu,” kata Jessica. Tenggorokannya seolah mendadak kering hanya karena kalimat itu, tapi di saat bersamaan, sebuah beban berat seakan terangkat dari pundaknya begitu kalimat itu meluncur. “Aku selalu berharap bisa punya kesempatan untuk meminta maaf padamu atas apa yang kulakukan sepuluh tahun lalu.”

Donghae mungkin akan menganggapnya hanya bercanda demi mendapatkan ramen yang dijanjikan pria itu, tapi Jessica tidak peduli. Ia berdeham untuk mengembalikan lagi kemampuannya bersuara, kemudian melanjutkan, “Aku sempat mencarimu, kau tahu. Setiap kali aku ke Mokpo, entah untuk kepentingan pekerjaan atau hanya sekadar liburan, aku selalu mencari tahu kau berada di mana. Aku datang ke rumahmu, tapi ternyata kau sudah pindah dan tidak ada tetangga yang tahu alamat barumu. Aku menemui Hyukjae dan Jungsoo oppa, tapi tampaknya apa yang sudah aku lakukan kepadamu membuat mereka sangat membenciku hingga untuk melihat wajahku saja mereka tidak sudi.”

Jessica menjeda ceritanya dan tertawa hampa. Masih sangat lekat di ingatannya bagaimana Hyukjae menutup pintu rumahnya begitu tahu kalau yang mengetuk adalah Jessica, juga bagaimana Jungsoo menyuruhnya langsung pulang karena—mengutip apa yang dikatakan Jungsoo waktu itu—tidak ada yang bisa mereka bicarakan.

“Bertemu denganmu di rumah sakit,” sambung Jessica, “dengan aku sebagai pasien dan kau dokternya, jelas bukan merupakan bagian dari rencanaku. Ditambah lagi dengan adanya skandal itu, sungguh aku malu berhadapan denganmu. Tapi setidaknya dengan begini, kita bisa bertemu dan berbincang seperti dulu lagi. Untuk alasan itu, aku sangat senang. ”

Untuk waktu beberapa detik yang terasa sangat lama, Donghae terpaku di tempatnya. Pria itu menatap Jessica, mencari kesungguhan dari ucapan gadis itu. Betapa dia ingin percaya bahwa yang ia dengar barusan adalah fakta. Betapa dia ingin percaya bahwa gadis itu benar mencarinya. Namun sebesar apapun keinginannya untuk percaya, masih ada rasa sakit yang terpendam selama bertahun-tahun di hatinya karena wanita itu, dan rasa sakit itulah yang melarangnya untuk menganggap serius ucapan Jessica barusan.

Akhirnya, alih-alih memeluk gadis itu seperti yang selama ini ia inginkan, Donghae memilih tersenyum simpul—senyum professional yang sama sekali tidak berasal dari hati.

Nice shot, Nona Jung,” ujarnya.

Setelah itu, Donghae berlalu dari hadapan Jessica, meninggalkan gadis itu dengan satu pertanyaan besar di benaknya. Apakah permintaan maafnya benar-benar sudah terlalu terlambat?

***

Tidak sampai satu jam kemudian, Donghae kembali ke kamar Jessica. Kali ini tidak ada jas putih yang membungkus tubuhnya. Jas putih itu sudah ia tanggalkan ketika tadi kembali ke kantornya dan kini yang tampak adalah kemeja flanel berwarna cokelat yang berpadu dengan celana kain berwarna senada. Tidak ada catatan pasien di tangannya. Yang ada hanya sekantung ramen siap saji, dua gelas ice Americano, dan sekotak kue mangkuk dengan krim rasa permen karet di atasnya.

Jessica beringsut dari tempat tidur, berjalan mendekati Donghae sambil menyeret tiang besi di mana botol infusnya tergantung, dan mengamati pria itu menaruh semua bawaannya di meja panjang di sisi lain ruangan. Sambil mempertimbangkan mana yang akan ia cicipi duluan, gadis itu berseru riang, “Whoa! Apa aku baru saja memenangkan jackpot?”

Donghae tertawa renyah. Ia mengambil posisi duduk di atas sofa panjang yang memang disediakan rumah sakit di setiap kamar VIP, kemudian menatap Jessica dan berujar ringan, “Aku tidak tahu bahwa seorang artis bisa begitu senang hanya karena pemberian tak berharga seperti ini.”

Jessica ikut duduk di samping Donghae. Ia meraih gelas ice Americano di atas meja dengan tangannya yang tidak ditancapi jarum infus. Setelah meminum likuid pahit itu sampai setengahnya, dia menoleh dan berkata kepada Donghae, “Aku ini artis yang terancam bangkrut kalau perusahaan yang menuntutku sampai menang di pengadilan. Kalau itu terjadi, aku ragu bisa punya cukup uang untuk membeli minuman seperti ini.”

Donghae terkekeh. Tanpa sadar, tangannya bergerak ke pucuk kepala Jessica dan mengacak pelan rambut gadis itu lantaran gemas. Ketika kesadarannya kembali, Jessica sudah menatapnya. Tidak diragukan lagi, gestur akrab seperti itu membuat mereka mau tidak mau teringat lagi pada masa lalu.

Dengan cepat Donghae menarik tangannya sendiri dan berdeham untuk mengusir gelombang perasaan yang turut serta bersama datangnya sekelumit kenangan akibat perbuatannya barusan. Dalam hati pria itu mengutuki dirinya sendiri karena telah bergitu terlena pada keakraban yang menurutnya hadir terlalu cepat.

Menyadari bahwa pria di depannya sedang salah tingkah, Jessica lantas tertawa ringan. Gadis itu menyenggol lengan Donghae dengan bahunya sembari melayangkan sebuah delikan nakal. “Jangan kaku begitu. Aku tidak akan salah paham, tenang saja.”

Donghae balik tersenyum. Meski dia masih bertanya-tanya bagaimana sebenarnya definisi salah paham yang dimaksudkan gadis di sampingnya, tapi pertanyaan untuk mengklarifikasi itu semua tidak pernah terlontar dari bibir Donghae.

Seolah sama-sama mengerti, mereka beralih membicarakan hal lain, membiarkan suasana canggung yang sempat hadir karena sentuhan Donghae di rambut Jessica berlalu begitu saja. Donghae bercerita masa-masa sulit ketika ia kuliah, kesibukannya selama masa internship, dan kisah beberapa pasien yang akrab dengannya. Jessica membayar cerita itu dengan mengisahkan kesibukan menggila yang ia jalani setelah debut, artis-artis senior yang bersikap baik dan mendukung perkembangan kariernya selama ini, serta tentu saja, persaingan tidak sehatnya dengan Tiffany.

Mereka bercerita begitu banyak, tapi di sisi lain, keduanya dengan begitu halus menghindari topik mengenai masa lalu.

Donghae tidak menceritakan bagaimana ia begitu patah hati hingga memutuskan untuk meninggalkan mimpinya menjadi seorang pemain musik. Ia memilih untuk melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran, berpikir bahwa kesibukan kuliah di fakultas itu akan membantunya agar tidak terlalu sering memikirkan Jessica. Donghae tidak berkata apa-apa mengenai seberapa banyak waktu yang ia curi di tengah-tengah kesibukan kuliahnya hanya untuk mengantri di depan tempat konser di mana Jessica dan teman-temannya akan tampil, namun pada akhirnya memutuskan untuk segera pergi tanpa menyaksikan mantan kekasihnya itu beraksi di atas panggung. Donghae juga sama sekali tidak  menyinggung keberadaan CD dan produk-produk lain yang ia beli hanya karena benda-benda itu berhubungan dengan Jessica.

Jessica, di sisi lain, juga tidak memberitahu bahwa pria itulah yang ia bayangkan setiap kali menyanyikan lagu cinta. Gadis itu tidak menyinggung keberadaan setumpuk surat dan kado yang tidak pernah luput disiapkannya setiap hari ulang tahun Donghae—surat dan kado itu tidak pernah sampai kepada pemiliknya dan hanya berakhir di dalam sebuah boks besar di kolong tempat tidur gadis itu. Ia juga sama sekali tidak menceritakan bahwa ada saat di mana ia tidak bisa tertidur semalaman karena otaknya terus-menerus memikirkan apa yang saat itu Donghae lakukan. Baju seperti apa yang ia gunakan? Apakah baju itu membuatnya nyaman? Apakah pria itu sesekali masih mengingatnya? Apakah mereka akan bertemu lagi? Apakah tidak terlalu terlambat jika ia meminta maaf dan meminta pria itu menerima hatinya lagi?

Mereka membagi banyak hal, tapi di saat bersamaan juga menyembunyikan lebih banyak cerita. Mereka berdua tertawa bersama ketika cerita yang terlontar merupakan sesuatu yang lucu, saling melempar tatapan mengerti ketika cerita berubah melankolis, hingga akhirnya empat jam terlewati begitu saja.

Donghae-lah yang pertama kali menyadari sudah seberapa lama mereka berbincang. Padahal rasanya baru sebentar, tahu-tahu matahari kini sudah tidak terlihat lagi. Cahaya yang ada hanya berasa dari lampu yang dipasang di langit-langit rumah sakit, dan sepertinya tidak ada satu pun di antara Donghae atau Jessica yang menyadari sejak kapan lampu itu menyala.

“Kau mungkin harus mengunci pintu kamarmu rapat-rapat mulai sekarang,” beritahu Donghae ketika ia sudah akan pergi. Jessica memutuskan mengantarnya sampai ke pintu. Jaraknya memang tidak begitu jauh, tapi setidaknya waktu yang ia habiskan untuk berada di samping pria itu jadi sedikit lebih lama.

“Kenapa?”

“Kudengar salah seorang dokter magang yang baru datang hari ini adalah penggemar beratmu. Aku tidak akan heran jika tiba-tiba dia datang ke sini dan mengganggu istirahatmu.”

Jessica tertawa, cukup keras untuk membuat seorang petugas kebersihan yang kebetulan sedang mengepel di ujung koridor rumah sakit untuk menoleh dengan sorot ingin tahu terpatri di wajahnya. Gadis itu memelankan suaranya dan berujar kepada Donghae, “Sejujurnya, aku sedikit rindu pada penggemarku. Mendapat kunjungan dadakan dari mereka mungkin tidak akan terlalu mengganggu.”

“Terserah kau saja kalau begitu,” sahut Donghae ringan, kemudian tanpa berlama-lama lagi, dia segera mengayun tungkai menuju tempat parkir, bersiap untuk kembali ke rumahnya.

Jessica memandang punggung pria itu menjauh dan berpikir; mungkin perbincangan panjang mereka tadi bisa menjadi pintu untuk memulai sebuah cerita yang baru, mungkin permintaan maafnya belum terlalu terlambat, mungkin masih ada harapan untuk memperbaiki apa yang dulu telah ia hancurkan. Mungkin.

to be continued…

Advertisements

3 thoughts on “How Late is Too Late? – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s