left-unspoken1

Oh Sehun & Jung Soojung || Oneshot, 3k words || AU, Slice of Life, Sad Romance || G

.

.

What’s left unspoken says it all.

***

Soojung dengan malas menggulir layar ponsel yang menampakkan halaman percakapan sebuah sosial messenger. Tidak ada yang begitu menarik di sana. Sejak tadi yang ia lakukan hanya membaca pesan yang dikirim teman-temannya ke grup tanpa ada niat sama sekali untuk ikut menimpali topik yang tengah dibicarakan di sana. Soojung melakukan itu semata karena bosan dan tidak tahu lagi harus melakukan apa sembari menunggu pesawatnya take-off.

“Jung Soojung?”

Gadis itu kontan mendongak ketika sebuah suara mengetuk indra pendengarannya. Mengabaikan ponsel yang sejak tadi dipandanginya tanpa minat, perhatian gadis berambut panjang itu lalu tertuju pada seorang pria bertubuh tinggi yang tengah berdiri kurang dari satu meter dari tempatnya berada.

Soojung kenal betul pada pemilik wajah itu. Waktu mungkin mengubah postur pria itu secara hampir menyeluruh. Pemuda kurus dengan kulit pucat yang dulu dikenal Soojung selalu tampak nyaman dengan dandanan serampangan, kini telah berubah menjadi pria dewasa dengan tampilan yang rapi dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.

Tubuh pria itu lebih berisi sekarang. Dada yang bidang serta perut yang jauh dari kata buncit membuat Soojung meyakini bahwa pria itu melakukan olahraga rutin di sebuah pusat kebugaran untuk menjaga penampilannya tetap prima. Tubuh atletis itu dibalut kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Tungkainya yang sejak dulu panjang kini tidak lagi dilapisi celana jeans sobek yang warnanya memudar karena sudah terlalu sering dicuci. Kini yang membungkus tungkai panjang itu adalah sebuah celana bahan berwarna hitam yang Soojung yakini dibeli di salah satu toko pakaian bermerek dengan harga mahal. Kakinya juga sudah tidak lagi dialasi sepatu kets yang talinya diikat asal-asalan. Yang membungkus kaki pria itu saat ini adalah sepasang sepatu kulit berwarna serupa celananya. Perpaduan semua itu dengan jelas meneriakkan satu kata: kemapanan.

Yang tidak benar-benar berubah dari pria itu adalah kulitnya yang pucat akibat jarang terkena sinar matahari, serta ketampanan yang menurut Soojung tidak berkurang sedikit pun. Usia mungkin membuat kerut di sekitar mata dan bibir pria itu terlihat lebih jelas dibanding saat terakhir kali mereka bertemu, tapi binar jenaka dari iris berwarna cokelat madu itu tidak akan pernah berubah, dan itu saja sudah cukup untuk membuat Soojung sampai pada kesimpulan bahwa pria di depannya masih setampan dulu.

Cara pria itu memanggilnya juga masih sama. Nada bicaranya yang kelewat akrab, seolah mereka tidak pernah putus komunikasi selama bertahun-tahun, membuat Soojung sejenak merasa tidak nyaman, tapi gadis itu tidak melakukan apa-apa untuk menyuarakan hal tersebut. Alih-alih menampakkan wajah ketus seperti yang biasa ia lakukan terhadap orang yang dengan sok akrab menegurnya, gadis itu memilih ikut tersenyum, menirukan gestur serupa yang diberikan sang pria kepadanya.

“Halo, Sehun.” Soojung berujar pendek, menyebutkan nama pria itu.

“Ternyata benar ini kau!” seru Sehun. Tanpa menunggu persetujuan lawan bicaranya, ia mendaratkan tubuh di bangku tepat di sebelah Soojung. Senyum ceria yang sejak awal melekat di wajahnya tetap bertahan di sana, seolah ia sama sekali tidak ingin menyembunyikan kegembiraannya bertemu dengan gadis itu lagi. Memang tidak ada yang mengalahkan serunya bertemu teman lama, apalagi jika teman lama itu sempat berstatus sebagai kekasih. “Bagaimana kabarmu?”

Soojung melirik tampilan layar ponselnya sekali lagi hanya demi memberi kesan bahwa dirinya tidak terlalu kurang kerjaan, kemudian memasukkan benda itu ke dalam tas mungil berwarna gading di dalam pangkuannya. Kembali memusatkan perhatian pada sosok maskulin di depannya, Soojung menjawab tak kalah antusias, “Kabarku baik. Kau?”

Sehun mengedikkan bahu, santai. Kedua tangannya lantas bergerak menuju kerah kemeja putih yang ia kenakan. Tersenyum sombong, ia menarik kerah kemejanya sedikit ke atas, kemudian berkata penuh percaya diri, “Seperti yang kaulihat, tetap mempesona seperti dulu.”

Soojung menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Ia lebih memilih berdecak pelan dan berkomentar dengan wajah sinis yang dibuat-buat, “Kepercayaan dirimu ternyata masih berada di level mengerikan.”

Sehun tertawa. Ia memajukan badan, berbisik usil tepat di telinga Soojung, “Makin mengerikan, sebenarnya.”

Tawa Soojung akhirnya pecah. Selain penampilannya yang berubah lebih rapi, hal lain dari pria di depannya ini ternyata masih sama seperti yang Soojung ingat.

“Masih di advertising?” tanya Sehun kemudian.

Soojung menggeleng pelan. “Editor,” jawabnya pendek. Lalu karena merasa itu belum cukup menjelaskan sesuatu, gadis itu menambahkan, “Majalah fashion.”

“Jadi kau sedang dalam perjalanan dinas?”

Soojung mengangkat bahu, ringan. “Sort of. Kau?”

“Aku memulai bisnis kecil-kecilan sejak dua tahun lalu. Pengepakan makanan, tepatnya. Kepergianku kali ini adalah untuk bertemu klien.”

“Kelihatannya kita punya penafsiran berbeda mengenai kata ‘kecil-kecilan’,” sahut Soojung. Dengan dagunya, ia menunjuk penampilan Sehun yang tampak lebih mirip CEO sebuah perusahaan besar dibanding hanya sekadar pemilik sebuah bisnis pengepakan makanan sederhana.

“Mau bagaimana lagi,” ujar Sehun, “sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk senantiasa terlihat keren meski sebenarnya buku keuanganku sudah berteriak-teriak karena defisit pemasukan.”

Ucapan Sehun berhasil membuat Soojung menghadiahinya sebuah cubitan gemas di tangan kanan, kemudian tanpa tahu apa benar-benar lucu dari percakapan itu, mereka tertawa bersama selama beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ketika akhirnya tawa itu selesai, keduanya menyadari bahwa obrolan yang menghangat terlalu cepat itu telah mengundang tatapan risih beberapa calon penumpang yang juga berbagi ruang tunggu yang sama dengan mereka.

Soojung menatap pria di sampingnya menundukkan kepala beberapa kali sebagai permintaan maaf karena telah berbuat gaduh. Sorot mata gadis itu penuh nostalgia.

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu dan mengobrol seperti ini?” Soojung berujar pelan, nyaris tanpa suara.

Sehun mendengar kalimat itu. Ia diam sejenak, tampak menghitung di dalam benak. “Enam tahun, mungkin?”

“Wah, sudah lama juga, ternyata,” tukas Soojung tanpa bersusah payah ikut menghitung. “Bagaimana istrimu? Anak kalian ada berapa sekarang?”

Masih satu,” jawab Sehun.

“Perempuan?”

Sehun mengangguk. “Perempuan. Cantik seperti ibunya, dan nakal seperti ayahnya,” beritahu Sehun. Ada senyum bangga yang samar-samar mengembang di wajah pria itu ketika membayangkan wajah putrinya yang tahun ini sudah menginjak usia empat tahun, juga kenakalan-kenakalan yang selama ini diperbuat oleh gadis kecil itu. “Kau tahu,” lanjutnya, “saat berumur tiga tahun, dia jatuh ke saluran air hingga harus mendapat jahitan di kepalanya. Istriku sampai harus berhenti bekerja agar bisa memberikan perhatian penuh kepada anak kami. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak itu saat besar nanti.”

Sehun mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada ringan, tapi Soojung menangkap kekhawatiran membayang di sana. Dia mengabaikannya.

“Apa kau bisa membayangkan aku yang dulu hidup nyaris tanpa tujuan sekarang punya anak?”

Soojung tertawa ringan, seolah bayangan bahwa pria itu akhirnya menikah dan punya anak merupakan hal paling mustahil sedunia.

“Omong-omong, kau sendiri bagaimana? Sudah menikah?”

Soojung menghentikan tawanya, kemudian menggeleng lembut. Ia mengangkat kedua tangannya ke sisi wajah. Tidak ada satu pun cincin tersemat di sana. “Sepertinya tidak ada yang bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersamaku,” candanya.

“Mungkin sesekali kau harus mendatangi paranormal agar ada pria yang khilaf jatuh cinta padamu,” sahut Sehun, yang langsung dijawab dengan sebuah cibiran oleh Soojung.

Sehun ingat betul, memajukan bibir saat sedang merajuk seperti itu merupakan kebiasaan Soojung sejak dulu. Gadis itu memang agak manja, tapi bukan ingin dimanja. Dulu, sewaktu mereka masih menjadi sepasang kekasih, kalau kebetulan sedang di tempat sepi, dia akan mencuri kecupan dari bibir yang dimajukan itu. Sehun menyadari sesuatu lalu senyumnya berubah arti, matanya penuh cinta. Sekarang, satu-satunya tempat ia mencuri kecupan adalah di bibir istrinya. Lucu sekali cara perasaan berubah, pikirnya.

“Seharusnya kau mengenalkanku pada temanmu yang belum menikah, bukannya mengejekku seperti itu.”

“Sepertinya sulit,” ujar Sehun. Wajahnya sengaja dibuat prihatin. “Kebanyakan kenalanku yang kira-kira memenuhi standarmu sudah menikah dan beberapa malah sudah punya anak. Kecuali kalau kau bersedia menjadi istri kedua—”

Ucapan Sehun terhenti di situ. Soojung sudah terlebih dulu menghadiahinya tatapan kesal yang entah kenapa malah membuat pria itu merasa geli. Ia tertawa begitu lepas hingga kepalanya terdongak ke belakang. Setelah puas menertawai teman lamanya, Sehun berujar, kali ini jauh lebih serius dibanding sebelumnya, “Tapi tenang saja, aku pasti akan berdoa semoga pernikahan impianmu bisa secepatnya terlaksana.”

Soojung tersenyum, dan untuk sesaat itu, Sehun benar-benar mendoakan kebahagiaan gadis di sampingnya.

Dering telepon yang kemudian hadirlah yang menyela obrolan mereka. Gadis itu merogoh tasnya, meraih benda elektronik yang melantunkan lagu lawas milik seorang penyanyi wanita berkebangsaan Perancis yang sejak dulu diidolakan Soojung. Sekilas Sehun menangkap wajah seorang pria berwajah Asia menghias layar selebar lima inch tersebut, dan dalam hati ia mulai menduga-duga hubungan si penelepon dengan Soojung.

Gadis itu menempelkan ponselnya di telinga kiri. Ia menatap Sehun sembari menunjuk ponselnya, tanpa suara berpamitan untuk menjawab panggilan itu, kemudian berjalan menuju salah satu sudut ruang tunggu di mana tidak terdapat banyak orang yang kemungkinan terganggu oleh obrolannya. Senyum yang merekah di bibir Soojung begitu si penelepon mulai berbicara seolah memberitahu Sehun bahwa siapapun dia, penelepon itu pasti punya tempat yang istimewa di hati Soojung.

Soojung kembali lagi ke hadapan Sehun tidak lama kemudian, bersamaan dengan suara dari intercom yang memberitahukan bahwa penumpang pesawat menuju San Fransisco sudah dipersilakan memasuki kabin.

Soojung membungkuk demi meraih tas yang ia geletakkan di atas bangku, lantas menyampirkan benda mungil tersebut ke bahu. “Aku sudah harus berangkat,” beritahunya.

Sehun ikut berdiri. “San Fransisco?”

Gadis itu terkekeh pelan. “Kenapa kau begitu terkejut? Ini ‘kan memang ruang tunggu untuk penerbangan internasional.”

Sehun mengedikkan bahu. “Kau terlihat terlalu santai untuk orang yang akan menempuh perjalanan belasan jam.”

“Aku tinggal dan bekerja di sana sekarang,” jelas Soojung. Mereka terdiam sesaat dan tepat sebelum suasana di antara mereka jadi sepenuhnya hening, gadis itu menambahkan, “Kepulanganku ke Korea hanya untuk mengurus beberapa dokumen di kantor imigrasi.”

“Perpanjangan visa?” tebak Sehun, yang langsung dijawab gelengan pelan oleh Soojung.

“Pindah kewarganegaraan,” beritahunya.

Sejujurnya, Soojung dan San Fransisco bukanlah perpaduan yang asing di telinga Sehun. Di tahun ketiga mereka kuliah, gadis itu ikut program pertukaran pelajar selama enam bulan di sana. Lalu, enam tahun lalu—-tidak lama setelah pria itu menikah—Soojung kembali ke San Fransisco. Ia menerima tawaran kerja dari salah satu perusahaan periklanan dan akhirnya menetap di sana. Tapi tetap saja, fakta bahwa gadis itu memutuskan berubah kewarganegaraan merupakan sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Sehun.

Salah satu hal yang turut serta bersama datangnya kedewasaan adalah kemampuan untuk mengontrol diri. Sehun cukup pandai melakukan itu. Ia menutupi keterkejutannya dengan begitu subtil hingga Soojung tidak menyadari apa-apa. Tersenyum, pria itu mengulurkan tangan kanan dan berujar lugas, menyudahi reuni singkat yang tidak direncanakan itu, “Sampai jumpa lagi, Soojung. Kuharap ini bukan pertemuan terakhir kita.”

Soojung ikut tersenyum. Ia menjabat uluran tangan Sehun lalu berkata, “Senang bertemu denganmu lagi, Sehun.”

Setengah bercanda, Sehun menyahut, “Aku juga senang bertemu dengan teman lama, apalagi yang cantik dan pernah berstatus sebagai kekasih sepertimu.”

Soojung mendengus, dalam hati mengutuki selera humor pria di depannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan menuju badan pesawat yang akan membawanya meninggalkan Korea.

Sehun memperhatikan Soojung berjalan menjauh darinya. Sekilas mata pria itu menelusuri penampilan gadis cantik berdandan sempurna tersebut. Kecantikannya dewasa. Kalau Sehun pernah ragu kenapa dulu ia mati-matian melakukan segala hal demi menjadikan gadis itu sebagai kekasih, sekarang dia menemukan jawabannya. Memang perbedaan pendapat dan kerasnya sikap mereka masing-masing kemudian memberinya alasan tidak bersama gadis itu lagi, tapi sebagai pria normal dia mengakui, mantan kekasihnya itu memang punya sesuatu yang membuatnya bisa dengan mudah menarik hati lawan jenis.

Di atas pesawat, Soojung duduk bersebelahan dengan sepasang suami-istri berusia sekitar tujuh puluh tahun. Sang istri dengan manja memeluk lengan sang suami sembari mengobrol tentang anak bungsu mereka yang kini tengah bekerja di salah satu toko elektronik di San Fransisco. Mereka tampak sederhana, tapi siapapun bisa melihat bahwa mereka berpasangan, yang satu milik yang lain. Dan paling penting, mereka berbahagia. Cinta yang menurut penelitian akan menghilang setelah beberapa tahun bersama, nyatanya tetap hadir di antara mereka meski setelah keduanya sama-sama sudah menginjak usia yang tidak lagi muda.

Soojung ingat, beberapa tahun lalu, ia juga sangat sering memeluk manja lengan Sehun setiap kali mereka bersama. Menyandarkan kepala di bahu pria itu dan menghirup aroma tubuhnya yang maskulin merupakan hal favorit Soojung. Ia bahkan masih ingat aroma parfum murah yang selalu digunakan Sehun—yang anehnya tetap terkesan memikat hanya karena fakta bahwa pria itulah yang memakainya. Sayang sekali, nasib cintanya dengan Sehun tidak seindah pasangan berbahagia di sampingnya ini. Hanya dua tahun, lalu cinta di antara mereka menguap hingga akhirnya hubungan yang mereka jalin bermuara pada sebuah perpisahan.

Soojung menggigit bibir bawah, kebiasaannya yang lain lagi saat ada sesuatu yang dipikirkannya. Gadis itu terkejut saat lidahnya mengecap sesuatu yang asin, kemudian dia tersenyum sedih sambil mengalihkan pandangan menuju jendela, memastikan bahwa tidak ada orang yang tahu bahwa ada sungai kecil yang terbentuk di pipinya.

Iya, dia menangis. Akting sempurnanya ia sudahi karena tahu bahwa Sehun sudah tidak ada lagi di sampingnya. Ia tidak perlu lagi berpura-pura senang bertemu dengan pria itu. Ia perlu lagi berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, karena kenyataannya, ia jauh dari kata itu.

“Makin mengerikan, sebenarnya.”

Dia ingat betapa kencang degupan jantungnya saat hangat napas pria itu beradu dengan kulit pipinya. Tentu saja, pria itu makin percaya diri, makin tampan, dan karenanya juga makin mengerikan karena setelah bertahun-tahun, ia tetap saja tidak pernah gagal membuat Soojung lupa bagaimana cara menarik napas dengan benar.

Sudah berapa lama kita tidak bertemu dan mengobrol seperti ini?

Itu pertanyaan basa-basi. Soojung ingat betul kapan terakhir kali mereka bertemu. Enam tahun, delapan bulan, empat belas hari yang lalu; tepat di hari pernikahan pria itu. Ia juga ingat betul kapan terakhir kali mereka mengobrol dengan hangat, tanpa disertai pertengkaran. Tujuh tahun, dua bulan, sembilan hari yang lalu; beberapa minggu sebelum Soojung berangkat ke San Fransisco untuk menjalankan program pertukaran pelajar selama setengah tahun.

“Perempuan. Cantik seperti ibunya, dan nakal seperti ayahnya.”

Lucunya, Soojung tahu betul bagaimana rupa anak yang dibicarakan pria itu. Bagaimana tidak? Hampir setiap kali ia tidak bisa tertidur, tangannya akan lancang membuka aplikasi instagram, lalu tanpa ia sadari, jari-jarinya sudah mengetikkan nama akun pria itu di kolom pencarian. Gadis itu biasanya akan tertidur dengan mata yang basah setelah ia puas melihat satu per satu foto yang mengungkapkan perkembangan kehidupan mantan kekasihnya; istrinya, anaknya, rumah barunya, liburan musim panas mereka di Jejudo, pesta ulang tahun anaknya, serta foto-foto lain yang seolah ingin memberitahukan kepada dunia betapa mereka bahagia karena memiliki satu sama lain.

Soojung tidak pernah mengikuti akun pria itu di sosial media mana pun, tapi setiap kali ia diserang sepi, nama Oh Sehun adalah yang pertama kali terpikirkan olehnya. Ia ingin tahu bagaimana perkembangan hidup pria itu. Ia ingin tahu bagaimana pria itu bisa dengan mudah melabuhkan hatinya pada wanita lain, padahal Soojung sudah mengupayakan hal yang sama selama bertahun-tahun namun tetap saja gagal.

Tidak adil sekali, pikirnya. Bagaimana mungkin pria itu bisa menjalani hidup dengan begitu mulus, padahal di seberang benua, Soojung menderita karena tidak pernah bisa melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki pria itu lagi.

“Apa kau bisa membayangkan aku yang dulu hidup nyaris tanpa tujuan sekarang punya anak?”

Gadis itu mengembuskan napas keras-keras, mengelap ingusnya ke tisu, mengabaikan pandangan ingin tahu dari wanita tua yang duduk di sampingnya. Tentu saja bisa. Soojung dulu senang sekali menghabiskan waktu luang dengan membayangkan bagaimana jika pria itu memiliki anak. Tapi hanya jika anak itu lahir dari rahimnya, bukan wanita lain.

Omong-omong, kau sendiri bagaimana? Sudah menikah?

Bagaimana dia bisa menikah kalau hatinya sudah terlanjur beku akibat seseorang yang tidak mungkin kembali? Bagaimana dia bisa menikah kalau setiap pria yang datang di hidupnya setelah kepergian Sehun selalu kalah dalam perbandingan dengan sosok pria itu? Bagaimana dia bisa menikah kalau bayangan masa lalu masih belum juga bisa lenyap dari pikirannya meski ia sudah melarikan diri hingga ke seberang benua?

“Sepertinya tidak ada yang bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.”

Terbalik. Dia yang tidak bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersama pria yang bukan Sehun.

“Tenang saja, aku pasti akan berdoa semoga pernikahan impianmu secepatnya terlaksana.”

Oh, seandainya pria itu tahu seperti apa pernikahan yang diimpikan Soojung.

“Aku juga senang bertemu dengan teman lama, apalagi yang cantik dan pernah berstatus sebagai kekasih sepertimu.”

Soojung tidak senang. Dia tidak ingin bertemu lagi. Dia berharap pertemuan tadi adalah pertemuan mereka yang terakhir.

Deru mesin mulai terdengar, pertanda bahwa pesawat milik maskapai Asiana Airlines yang berkapasitas lebih dari tiga ratus penumpang itu tidak lama lagi akan lepas landas. Setelah memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, Soojung sekali lagi mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil di sebelah kirinya. Pikirannya penuh oleh berbagai macam kemungkinan.

Mungkin pertemuan mereka tadi sengaja diatur oleh takdir agar Soojung mendengar betapa ringan pria itu membicarakan masa lalu mereka, seolah kebersamaan selama dua tahun itu hanyalah sebatas kisah lama yang tidak lagi layak dikenang lebih dari sekadar kisah asmara dua orang lugu yang baru belajar mengenal cinta.

Mungkin obrolan tak seberapa panjang itu merupakan bagian dari rencana Tuhan agar Soojung sadar betapa ia terlalu terperangkap di masa lalu. Menyaksikan secara langsung betapa bahagia mantan kekasihnya bertutur mengenai kehidupannya saat ini seharusnya sudah cukup untuk membuat gadis itu sadar bahwa dunia Sehun tidak lagi berputar di sekitarnya. Pria itu sudah menemukan poros baru untuk hidupnya, dan dia bahagia atas perubahan itu. Sangat. Dengan kebahagiaan demikian besar, bagaimana mungkin Soojung masih diam-diam berharap bahwa mereka—entah dengan cara apa—bisa kembali bersama?

Mungkin telepon dari Jongin tadi adalah sebuah kebetulan agar sandiwaranya di depan Sehun terlihat lebih meyakinkan. Gadis itu sengaja mengatur agar Sehun melihat identitas pria yang meneleponnya, juga sengaja memasang senyum laksana orang kasmaran saat dia menjawab telepon dari Jongin. Tujuannya hanya satu, agar Sehun mengira dirinya baik-baik saja. Kenyataannya, Jongin hanya seorang rekan kerja yang kebetulan tahu bahwa gadis itu pulang ke Korea. Satu perusahaan, beda divisi, dan mereka hanya bertemu jika kebetulan bertemu di lift atau kafetaria kantor. Jongin menelepon untuk meminta dibawakan oleh-oleh agar kerinduan pada tanah kelahirannya bisa sedikit terobati. Itu saja, tidak lebih.

Mungkin kenaikan jabatan yang diberikan kantornya—yang harus ia bayar dengan mengubah kewarganegaraan—merupakan jalan agar Soojung semakin sibuk hingga tidak ada lagi waktu untuk memikirkan Oh Sehun.

Menenggelamkan diri dalam kesibukan mungkin membuatnya terdengar seperti pengecut, tapi Soojung tidak keberatan. Sejak dulu tindakan seperti itu adalah keahliannya. Ketika baru putus dari Sehun, dia kabur ke San Fransisco dengan dalih mengikuti program pertukaran pelajar, padahal selama enam bulan ia hanya tinggal di rumah orang tuanya—yang kebetulan memang berdomisili di sana. Ketika akhirnya Sehun menemukan wanita lain dan memutuskan menikah, Soojung lagi-lagi melarikan diri ke tempat itu, berkata kepada orang-orang bahwa ia mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan periklanan, padahal sesampainya di sana ia harus hidup luntang-lantung selama berbulan-bulan hingga akhirnya benar-benar mendapat pekerjaan. Sekarang ia melakukannya lagi, dan kali ini, ia berjanji akan melakukannya dengan penuh totalitas.

Pesawat mulai bergerak, dan tidak sampai sepuluh menit kemudian, besi raksasa itu sudah berada di atas ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut. Tanah Korea yang menjadi saksi kebersamaannya dengan Sehun pelan-pelan mengecil hingga kemudian lenyap, tertutup awan. Soojung mengembuskan napas panjang, kemudian menarik penutup jendela dan mengalihkan pandangannya ke depan. Gadis itu sudah memutuskan, ia tidak akan lagi menoleh ke belakang.

End.

Author’s Note:

  • Lama gak nulis. Semoga tulisan ini gak jelek-jelek amat.
  • Unbetaed. Typo harap dimaklumi.
  • Kalau ada yang punya rekomendasi ff SeStal, kasih tau ya… I’ll be very happy to check your recommendation out 😀
  • Credit for the marvelous poster goes to Sfxo from Poster Channel.

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Left Unspoken

  1. Aku gak nyangka bakalan kayak gitu akhirnya. Sejak awal baca cuma mikir ini cerita dua org yg pernah pacaran dan mereka ketemu lagi trus nyeritain apa yg dulu gak sempat mereka bahas pas baru atau menjelang putus. Siapa yg bakalan kepikiran kalau ternyata “their unspoken words” malah bikin baper gini *pukpuk soojung*

  2. sumpah ini nyesek abis. aku udah baca semua ff sestal yg ada di sini, dan kebanyakan emang sad ending, tp yang ini bikin bapernya sampe level keterlaluan. hiks 😦

  3. Awalnya sih biasa aja. Dua orang yang pernah saling suka, trus mereka ketemu lagi setelah masing2 udah ngejalanin hidup di jalan yg berbeda. Aku tuh ngebayangin orang yg ga sengaja ketemu mantan pas masih sekolah/kuliah setelah sekian lama, trus mereka ngobrol, semi reuni, and that’s it. Tapi pas menjelang ending.. Kakaaaaaakkkk…. You really have a talent to break reader’s heart, eh? Untung soojung di pesawat nangis ga sambil dengerin someone like you-nya adele 😂😂

    1. Not sure about talent, but I do love to break my reader’s expectation. Haha..
      Dan adele, yah, bayangin aja ada malam2 di mana soojung ngestalk sosmednya sehun sambil nangis2 dengerin someone like you.

  4. entah kenapa aku berharap soojung mau membuka hati buat jongin. di kepalaku udah ada skenario kalo sebenarnya jongin itu ada hati sama soojung, tapi soojungnya entah gak oeka atau memang ga mau nanggepin krn hatinya msh penuh sama sehun.

    nice wtiring, as always, kak! I love you for making this bittersweet fanfic, and I’ll love you more if you make a sequel for this #kode

  5. Me reading this fanfic be like 😶👉😱👉😣👉😭 (semoga emotnya kebaca)
    Ikutan sedih buat soojung dan aku benar benar berharap dia bs cepetan move on. Udah atuh sama jongin aja~

  6. sedih!! astaga, krystal gak bisa move on sampe segitunya. kebayang dia stalking ig sehun, liat foto sehun bahagia sama keluarganya, sementara dia sendiri cuma bisa nangis ngarepin sehun kembali. atuhlah krystal sama jongin aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s