haesica-donghae-birthday-present

Lee Donghae & Jessica Jung || Oneshot || Romance, Friendship || PG-13

.

.

You got the key to my heart

Baby use it now before it’s too late

.

Sebelumnya: You’ve Got Mail

***

Jadi, Donghae benar-benar pandai memasak. Setidaknya sup ayam buatannya mampu membuat seseorang ketagihan.

Pria itu mematikan kompor. Ketika membuka tutup panci, asap beraroma rempah langsung mengepul, memenuhi udara. Ia meraih sebuah sendok besar dari dalam laci demi memasukkan sup panas itu ke dalam mangkuk yang sudah disiapkan sebelumnya. Seusai melepaskan apron biru muda yang telah berjasa melindungi kemejanya dari noda, Donghae berjalan menuju meja makan di mana Sooyeon sudah menunggu dengan sepasang sendok dan garpu di kedua tangannya.

“Kau benar-benar mempelajari ini saat wajib militer?”

Donghae mengedikkan bahu. Ia meletakkan mangkuk berisi seporsi sup ayam ke atas meja, kemudian berujar santai, “Memangnya ada alasan hingga aku harus berbohong kepadamu?”

Yang ditanya tidak menjawab. Selain karena tidak punya jawaban yang menurutnya tepat, gadis itu juga sudah terlanjur seasyikan menyendok kuah sup yang baru saja dibuat Donghae untuknya.

Yang Sooyeon senangi dari sup buatan Donghae adalah komposisi rasanya yang terasa begitu pas di lidah. Biasanya, setiap kali makan sup atau makanan berkuah lain, gadis itu selalu bolak-balik menambahkan garam atau merica. Tapi untuk sup buatan Donghae, ia merasa tidak perlu melakukan itu.

Awalnya Sooyeon berpikir bahwa rasa sukanya terhadap makanan itu lebih disebabkan karena ia mencicipinya tepat di saat perutnya berteriak minta diisi. Namun ketika Donghae memasak makanan itu lagi—dan waktu itu Sooyeon sengaja makan banyak sebelum pulang demi membuktikan hipotesisnya—gadis itu tahu bahwa ia menyukai sup buatan Donghae karena makanan itu memang pada dasarnya enak.

“Jadi, kapan kau akan melamarku?”

Sooyeon yang baru saja hendak menelan makanannya kontan tersedak mendengar kata itu. Melamar. Sialan, Donghae selalu saja mendapatkan waktu yang pas untuk menggunakan candaan Sooyeon beberapa waktu lalu untuk membuat gadis di depannya itu salah tingkah.

Sambil menyodorkan sekotak tisu agar Sooyeon bisa membersihkan kuah sup yang merembes di tepi bibirnya, Donghae tertawa melihat akibat dari ucapannya. Gadis itu terlihat sangat terintimidasi hanya karena sebuah kata yang dilontarkan tidak sepenuh hati, sungguh pemandangan yang langka.

“Kau benar-benar ingin menikah denganku, huh?” ujar Sooyeon. Ia sengaja membuat wajahnya tampak galak dengan harapan Donghae akan berhenti mengejeknya, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Bukannya kau yang ingin menikah denganku? Dirimu, ‘kan, yang mengutarakan perihal lamaran itu terlebih dulu. Aku bahkan tidak menyinggung apa-apa soal pernikahan,” ejek Donghae. Matanya menyipit nakal, membuat Sooyeon langsung memaki diri sendiri akibat ketololannya karena telah mengirimkan surel berisi kata-kata bodoh.

Gadis itu tahu bahwa Donghae tidak akan termakan oleh alasan apapun, tapi ia merasa perlu membela diri. Dengan wajah yang berusaha dibuat semeyakinkan mungkin, Sooyeon berujar, mengulangi alasan payah yang sudah berkali-kali ia lontarkan, “Aku memang suka mengatakan hal aneh saat sedang lapar.”

Donghae tertawa untuk beberapa lama lagi, menikmati bagaimana Sooyeon menatapnya sambil bersungut-sungut sebal.

“Omong-omong,” Sooyeon kembali bersuara, kali ini menawarkan sebuah topik baru agar pembicaraan mereka beralih dari topik lamaran, “Heechul oppa sedang berada di kota ini. Dia ingin bertemu, katanya.”

“Dia juga sudah mengabariku kemarin,” sahut Donghae. Ia melipat tangan di atas meja, menyaksikan Sooyeon yang sudah kembali menyendok supnya. “Sayangnya aku ada janji main golf dengan Tuan Kobayashi. Kau tahu, ‘kan, pemilik pusat perbelanjaan besar di dekat jalan menuju pelabuhan?” Donghae menunggu gadis di depannya memberi anggukan paham sebelum melanjutkan, “Aku tidak tahu pembicaraan kami bisa selesai sebelum jam makan siang atau tidak.”

Sooyeon mendongak. Ia meraih gelas berisi air putih yang terletak tepat di sebelah kanan mangkuknya, menenggak likuid di dalam silinder bening itu, kemudian menimpali, “Heechul oppa bilang jam tiga sore dia sudah harus ada di bandara.”

“Aku bisa membatalkan janjiku kalau kau takut merasa canggung bertemu berdua saja dengan Heechul hyung.” Donghae menawarkan, teringat bagaimana Sooyeon dulu perlu berkonsultasi ke psikolog agar bisa meredakan sakit hatinya setelah ditinggalkan oleh Heechul.

Berkebalikan dengan apa yang dikhawatirkan Donghae, Sooyeon justru mengulas senyum sombong. “Aku sudah berulang kali memberitahumu, sekarang perasaanku kepada Heechul oppa sudah tidak seperti dulu lagi,” ujarnya penuh kepercayaan diri. “Dan juga, aku rasa meeting-mu jauh lebih penting, jadi kau pergi sajalah sana, nikmati permainan golfmu.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

Donghae mengangguk paham. Ia lalu kembali asyik memperhatikan Sooyeon yang tampak begitu lahap menghabiskan sisa-sisa kuah sup di dalam mangkuknya.

Makan malam yang diisi obrolan ringan seperti itu adalah rutinitas mereka semenjak pindah ke Niigata. Letak apartemen yang bersebelahan membuat Donghae bisa berkunjung ke tempat Sooyeon dan meminta gadis itu menemaninya menonton film sampai jam berapa pun. Sedangkan Sooyeon, selalu memanfaatkan dekatnya jarak tempat tinggal mereka untuk mengetuk pintu Donghae setiap kali ia lapar, meminta pria itu memasak untuknya. Seperti malam ini.

Sooyeon menganggapnya sebagai interaksi wajar dilakukan oleh dua orang yang berstatus sahabat dekat; semacam simbiosis mutualisme. Donghae menganggapnya sebagai sesuatu yang lain.

***

“Kau betul-betul berpikir bahwa aku meminta putus denganmu karena alasan itu?”

Sooyeon jelas bingung mendapati Heechul tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuannya. Apa yang begitu lucu, sebenarnya? Bukankah waktu itu Heechul memutuskan menyudahi kebersamaan mereka karena Sooyeon kurang perhatian dan terkesan tidak pernah menghargai keberadaan pria itu di sisinya? Bukankah karena alasan itu juga hingga Heechul kemudian memutuskan untuk melabuhkan hatinya kepada seorang wanita lemah lembut nan perhatian?

“Kau ini benar-benar tidak peka, huh?”

Kening Sooyeon kontan berkerut. Dia dulu memang tidak cukup peka untuk bisa memahami keadaan dan terus-menerus menyalahkan Heechul atas kandasnya hubungan mereka. Setelah menjalani belasan sesi konsultasi dengan psikolog, ia merasa sudah berubah menjadi orang yang baru sekarang. Dia sudah lebih banyak memandang ke sekitar, berusaha lebih memahami perasaan orang lain. Donghae juga bilang dirinya sudah banyak berubah, jadi bagaimana mungkin Heechul tetap menganggapnya tidak peka?

“Maksudmu?”

“Aku memilih berpisah denganmu bukan karena itu, Bodoh!” beritahu Heechul. Ia mengangkat cangkir kecil berisi espresso double shot yang tersaji di atas meja di depannya, pelan-pelan menghirup cairan pekat tersebut, sengaja membuat Sooyeon menunggu penjelasannya sedikit lebih lama lagi. Pria itu sangat menikmati bagaimana alis gadis itu berkerut, mengkhianati upayanya untuk tetap tampak tenang. Heechul berani bertaruh, saat ini Sooyeon pasti sedang sibuk menebak-nebak segala kemungkinan yang ada, namun tidak juga bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tentu saja, karena alasan Heechul merupakan sesuatu yang tidak mungkin terlintas di benak gadis itu sebelumnya.

“Aku merasa tidak cukup mampu bersaing dengan Donghae.”

Sooyeon benar-benar merasa seperti orang bodoh saat ini. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh mantan kekasihnya itu? Dengan alis yang makin berkerut, gadis itu menyuarakan rasa ingin tahunya, “Kenapa kau harus bersaing dengannya?”

Heechul tersenyum sok misterius. “Menurutmu?”

Oppa!” rengek Sooyeon. Dia paling benci dibuat penasaran seperti sekarang. Terlebih lagi yang melakukannya adalah Heechul, pria yang jelas-jelas mengetahui segala hal yang ia sukai dan tidak.

“Kau ini gadis yang pandai. Kau pasti bisa memahaminya sendiri,” ujar Heechul, masih dengan senyum nakal yang membuat rasa ingin tahu Sooyeon semakin tidak tertahankan. “Tapi aku heran, kenapa sampai sekarang dia masih belum mengatakan apa-apa kepadamu.”

Alis Sooyeon yang sebelumnya berkerut, kini terangkat naik. Dia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Heechul saat ini. Melihat pria di depannya tampak tidak punya niat untuk memberinya penjelasan lebih lanjut, gadis itu dengan sedikit sebal memilih untuk ikut meminum green tea latte yang tadi ia pesan.

“Omong-omong, kapan kau akan melamar Donghae?”

Mendengar pertanyaan bernada jahil itu membuat latte yang belum sempat Sooyeon teguk mengkhianati aturan metabolisme. Bukannya turun ke saluran pencernaan, cairan tersebut malah naik ke hidung, membuat gadis itu terbatuk dengan sangat tidak anggun.

Alih-alih menunjukkan wajah simpati, Heechul malah tertawa renyah hingga rasa sebal Sooyeon kepada pria itu jadi meningkat berkali lipat dibanding sebelumnya. Mendadak, muncul gagasan di kepalanya bahwa kedatangan mantan kekasihnya ke Niigata bukan demi urusan bisnis, tapi hanya untuk menguji kesabarannya.

Sembari menyerbeti sisa cairan di sekitar mulutnya, Sooyeon bertanya, “Donghae memberitahumu?”

Heechul mengedikkan bahu, lanjut meminum sisa cairan pahit yang ada di cangkirnya, kemudian menjawab santai, “Kami tidak pernah saling menyimpan rahasia.”

Sooyeon menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Persahabatan Heechul dan Donghae memang sangat mengerikan hingga hal tidak penting seperti perihal lamaran itu pun tetap mereka bagi.

“Itu hanya bercanda, Oppa. Pertama, karena aku wanita. Memangnya kau pernah melihat wanita melamar duluan? Kedua, kami tidak ada hubungan apa-apa selain berteman. Sahabat, kalau kau mampu membuatnya terdengar lebih intim. Tapi hubungan kami hanya sebatas itu. Bagaimana mungkin aku melamar seseorang yang bahkan tidak menyukaiku?” Sooyeon berusaha memberi penjelasan. “Oh, dan aku juga tidak menyukainya. Tidak dengan cara romantis.”

Sooyeon bisa melihat Heechul menaikkan alis, tampak tidak puas dengan penjelasan yang baru saja diberikan kepadanya. Namun pria itu tidak menuntut penjelasan lebih banyak lagi. Ia lebih memilih mengangguk dan mengalihkan topik pembicaraan mereka kepada hal lain.

Heechul menceritakan kehidupannya setelah menikah. “Kami bertengkar setiap hari, kau tahu. Dia bisa jadi sangat menyebalkan hanya karena aku menaruh dasiku sembarangan. Kurasa tukang perintah seperti dirinya memang bukan padanan yang tepat untuk pria keras kepala sepertiku. Aku benar-benar membencinya,” beritahu Heechul, menekankan kalimatnya pada kata terakhir. Namun Sooyeon melihat dengan sangat jelas bangaimana pria itu tersenyum dengan mata berbinar penuh kasih sayang, hingga ia bisa langsung menyimpulkan bahwa di balik kata benci itu, ada cinta yang begitu besar.

Karena sudah menceritakan semua hal yang dilakukannya setelah mereka putus—termasuk kehidupan barunya selama di Niigata—saat awal pembicaraan mereka, Sooyeon memutuskan membayar cerita Heechul dengan membahas topik menjemukan seperti perubahan cuaca dan fluktuasi nilai saham.

Ketika satu jam lebih berlalu, Heechul memutuskan untuk menyudahi pertemuan itu, berkata bahwa ia harus segera berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. Pria itu menyerahkan kantung kertas kecil yang di dalamnya terdapat kotak yang dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna kuning gading.

“Kado ulang tahun untuk Donghae.”

Sooyeon menerima kotak itu dan berkomentar, “Tapi ulang tahunnya masih sebulan lagi.”

“Kau menghapal hari ulang tahun Donghae,” ujar Heechul. Sekilas ada raut murung di wajah pria itu, namun sebelum Sooyeon sempat menangkap ekspresi kalah yang tergambar di wajah mantan kekasihnya, Heechul sudah terlebih dulu menggantinya dengan senyum jahil yang seperti biasa. Setengah bercanda, ia menambahkan, “Kau tidak pernah ingat hari ulang tahunku.”

“Aku ingat,” tukas Sooyeon. “Biarpun aku selalu lupa memberimu kado, tapi aku bersumpah, aku ingat. Tanggal 1 Juli, kan? Bukan, kurasa yang benar adalah tanggal 10 Juli. Ah, tunggu dulu, Juli atau Juni?”

Heechul hanya bisa tertawa geli melihat Sooyeon sibuk mengingat hari ulang tahunnya. Pria itu mengibaskan tangan di udara, mengisyaratkan Sooyeon agar menghentikan kegiatan tebak-tebakan itu.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju halte terdekat. Heechul sudah berkata bahwa tak apa jika Sooyeon langsung kembali ke kantor, tapi gadis itu bersikeras untuk menemani Heechul menunggu taksi. Layanan dari tuan rumah, katanya.

“Sayang sekali aku tidak punya mobil,” ujar Sooyeon ketika mereka sudah berdiri hampir sepuluh menit di tepi jalan namun belum juga mendapatkan taksi kosong. “Kalau punya, aku kan bisa mengantarmu ke bandara.”

“Kenapa kau tidak membelinya saja? Jangan bilang gajimu tidak cukup,” canda Heechul.

“Donghae yang bodoh itu bilang kami lebih baik naik kereta saja ke kantor agar terlihat lebih memasyarakat.”

“Dan kau menurut begitu saja?”

Sooyeon mengedikkan bahunya. “Mau bagaimana lagi. Tidak etis jika manager sepertiku memakai mobil ke kantor sementara direkturnya saja lebih suka naik kendaraan umum.”

Heechul tertawa ringan. “Sooyeon-ah, beritahu aku, kenapa kau setuju pindah ke Jepang bersama Donghae?”

Gadis itu membuka mulut, hendak mengutarakan alasan yang selama ini ia kemukakan setiap kali ada orang yang menanyakan hal serupa kepadanya. Namun hari itu, di depan mantan kekasihnya yang tengah tersenyum nakal, sesuatu menahan Sooyeon untuk bersuara. Benarkah persetujuannya atas tawaran Donghae untuk pindah ke kota ini semata didasari oleh keinginannya memperoleh suasana baru? Benarkah ia menerima tawaran pekerjaan dari Donghae karena gajinya yang terbilang tinggi? Benarkah tidak ada alasan lain yang belum disadarinya sampai saat ini?

Heechul terkekeh melihat gadis di depannya kehilangan kata-kata. Dengan santai ia mengacak pelan rambut ikal keemasan milik gadis itu. “Kau sangat menggemaskan kalau sedang bingung seperti ini,” ujarnya.

Sooyeon hanya bisa berkedip seperti orang bodoh karena perbuatan pria yang tengah berdiri di sampingnya. Ia ingin berkata sesuatu, apa saja. Tapi bahkan sebelum gadis itu menemukan sesuatu untuk membalas perkataan Heechul, sebuah taksi menepi. Heechul tentu saja tidak ingin berlama-lama lagi berdiri di tepi jalan seperti itu. Setelah saling mengucapkan salam perpisahan, ia masuk ke dalam kendaraan di depannya, meninggalkan Sooyeon dengan sebuah pertanyaan tidak terjawab di kepalanya.

“Kenapa kau setuju pindah ke Jepang bersama Donghae?”

Jawaban dari pertanyaan itu baru Sooyeon ketahui berminggu-minggu kemudian.

***

Kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa selama ini hubungannya dengan Donghae berjalan nyaris sepihak. Semua pembicaraan mereka selalu tentang dirinya. Akibatnya, Donghae mengetahui semua seluk-beluk kehidupan gadis itu, sementara Sooyeon bahkan tidak pernah tahu bahwa pria itu bisa memasak.

Kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa selama ini hubungannya dengan Donghae berjalan terlalu dekat untuk sekadar dinamai persahabatan. Pria itu memperlakukannya dengan sangat baik—terlalu baik—hingga karyawan di kantor mereka ternyata sudah diam-diam menyimpulkan bahwa keduanya terlibat hubungan asmara.

Dengan penampilan yang jauh dari kata buruk, Donghae jelas bisa dengan mudah memperoleh perhatian banyak karyawan wanita. Bukan hanya dua atau tiga kali Sooyeon mencuri dengar percakapan orang-orang saat sedang di toilet mengenai betapa mereka mengagumi direktur bersuara sengau yang gemar memamerkan senyumnya itu.

Kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa selama ini Donghae selalu menjaganya dengan begitu subtil hingga gadis itu terpedaya dan menyangka bahwa Donghae hanya sedang berlaku layaknya seorang gentleman.

Setiap pagi ia selalu dibangunkan oleh telepon dari Donghae. Percakapan mereka tidak pernah lebih dari dua kalimat pendek: Sudah bangun? Mandilah, aku sudah menyiapkan sarapan. Setelah itu Sooyeon akan langsung mandi, bersiap-siap ke kantor, dan tentu saja, singgah di apartemen Donghae untuk sarapan. Gadis itu ingat betul, tidak ada sehari pun yang mereka lewati tanpa sarapan bersama. Makan siang dan makan malam pun, jika Donghae tidak ada janji dengan klien, pasti mereka lakukan bersama.

Sepanjang perjalanan pergi dan pulang kantor, Donghae selalu berjalan di sampingnya, memastikan bahwa gadis itu aman dari gangguan dalam bentuk apapun. Kalau semua bangku di kereta sudah terisi, maka Donghae akan mengupayakan agar Sooyeon bisa berdiri di tempat yang paling dekat dengan dinding gerbong agar gadis itu tidak perlu bersentuhan dengan orang-orang asing.

Ketika keduanya makan bersama di sebuah restoran yang baru mereka kunjungi, Donghae tidak pernah keberatan setiap kali Sooyeon mencuri makanan dari piringnya. Jika gadis itu bingung harus memilih satu di antara dua atau tiga menu, Donghae tidak pernah mengizinkan Sooyeon memesan semuanya. Tidak baik membeli makanan yang tidak akan kauhabiskan, katanya. Meski begitu, ketika Sooyeon sudah menjatuhkan pilihannya pada satu menu, Donghae akan memesan menu lain yang juga masuk ke dalam pertimbangan gadis itu untuk dirinya sendiri agar Sooyeon bisa ikut mencicipinya.

Donghae tidak pernah terang-terangan membantu Sooyeon menyelesaikan pekerjaannya. Tapi meski sedang sangat sibuk pun, pria itu akan selalu mengenyampingkan pekerjaannya demi mendengarkan keluhan Sooyeon atas masalah yang gadis itu hadapi di kantor. Sesekali ia mengutarakan pendapat, namun seringnya ia hanya memposisikan diri sebagai pendengar yang baik karena tahu betul bahwa Sooyeon adalah pekerja yang cerdas. Gadis itu hanya butuh menumpahkan keluh-kesahnya, dan ia bisa kembali lagi ke performa terbaiknya.

Donghae sering sekali mengatai Sooyeon dengan sebutan Bodoh dan mengusili gadis itu dengan cara yang terkadang terlalu kekanakan. Tapi Sooyeon tahu, Donghae bersikap usil seperti itu hanya kepada orang-orang yang dianggapnya akrab, jadi dia tidak pernah benar-benar keberatan setiap kali Donghae memanggilnya dengan sebutan apapun.

Donghae bukan peminum yang baik, tapi dia selalu memastikan dirinya ada di samping Sooyeon setiap kali gadis itu menghadiri acara minum-minum dengan temannya. Tangannya akan senantiasa bergerak mengambil seloki yang sedang dipegang Sooyeon jika pria itu menganggap Sooyeon sudah minum terlalu banyak. Seperti saat ini.

Mereka tengah berada di pesta perayaan ulang tahun Donghae. Para karyawan sengaja mempersiapkan acara itu meski tahu bahwa atasan mereka tidak terlalu menyukai minuman keras. Sooyeon, seperti biasa, minum cukup banyak. Ia tidak segan mengangkat gelasnya setiap kali ada yang mengajak bersulang.

“Aku akan sangat marah kalau sampai kau minum lebih banyak lagi,” ujar Donghae, setengah berbisik.

Kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa selama ini dirinya selalu menuruti kata-kata Donghae tanpa banyak bertanya kenapa ia harus melakukannya. Kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa selama ini ia menuruti segala kata-kata Donghae karena ia mempercayai pria itu lebih dari ia percaya pada dirinya sendiri. Dan kalau bukan karena Heechul, Sooyeon mungkin tidak akan pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa selama ini segala perbuatan Donghae bukan karena pria itu sedang berusaha bersikap selayaknya pria jantan, melainkan karena pria itu menyukainya.

Aku heran, kenapa sampai sekarang dia masih belum mengatakan apa-apa kepadamu.

Donghae tidak pernah mengucapkan kata cinta, tentu saja. Mungkin karena Donghae bodoh. Mungkin karena Donghae menunggu waktu yang tepat. Mungkin juga karena Donghae sebenarnya sudah menunjukkan perasaannya dengan cara lain namun Sooyeon yang tidak pernah cukup peka untuk membaca sinyal yang dikirimkan oleh pria itu.

Sooyeon tidak suka menunggu. Dia juga tidak suka menebak-nebak. Karena itu, di perjalanan pulang menuju apartemen mereka, Sooyeon memutuskan untuk menyudahi segala pergolakan batinnya dengan menyerahkan sebuah kado ulang tahun spesial untuk Donghae.

***

Kereta yang mereka tumpangi untuk pulang sudah nyaris kosong. Hanya ada dua orang remaja yang duduk tidak jauh dari pintu. Keduanya sama-sama mengenakan topi hitam putih yang terdapat gambar burung camar sisi sebelah kirinya, serta baju bisbol longgar dengan angka 88 tercetak di bagian punggung. Mereka tampak begitu bersemangat membicarakan sesuatu. Sooyeon, dengan kemampuan bahasa Jepangnya yang sudah tidak terlalu memprihatinkan, sekilas menangkap apa yang mereka obrolkan dan langsung bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah fans sebuah klub bisbol yang baru saja selesai bertanding.

Sooyeon memilih melangkah ke sisi berlawanan, mencoba sedikit menjauh dari kedua remaja itu. Ia mendaratkan tubuhnya ke kursi yang berjarak beberapa langkah dari pintu, dan seperti biasa, Donghae mengambil tempat tepat di sebelah gadis itu.

Seusai meletakkan tas kerja di atas kursi kosong di sampingnya, Donghae membuka penutup tas kulit berwarna cokelat gelap itu dan mengambil tablet yang biasa ia gunakan untuk bekerja.

“Hei, Pak Direktur,” ujar Sooyeon seraya menyenggol pelan bahu Donghae dengan bahunya. Gadis itu memperhatikan Donghae menggerakkan jari menuju gambar amplop yang terdapat di sudut kiri bawah layar, dan langsung tahu apa yang akan dilakukan pria di sampingnya. “Ini ulang tahunmu, tidak usah bekerja terlalu serius begitu.”

Donghae tidak mengacuhkan perkataan gadis di sampingnya. Jari pria itu sibuk bergerak di atas layar, sedangkan matanya aktif menelusuri isi kotak masuk surelnya, mencari pesan yang dikirim oleh sekretaris dari pengusaha yang siang tadi main tenis bersamanya.

Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk sepenuhnya larut mempelajari proposal kerja sama yang diajukan oleh pemilik salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota yang ditinggalinya ini. Dengan teliti ia membaca poin demi poin perjanjian, mempertimbangkan apakah itu akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, meninggalkan Sooyeon yang merengut karena diacuhkan.

Memutuskan membunuh bosan dengan bermain Candy Crush, gadis itu menyandarkan tubuhnya, memasang posisi malas sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya. Fotonya bersama Donghae menyambut gadis itu ketika ia mengaktifkan benda elektronik tersebut. Itu adalah foto yang mereka mabil saat hari kepindahan Sooyeon ke Niigata beberapa bulan lalu.

Kenapa kau setuju pindah ke Jepang bersama Donghae?

Sooyeon menoleh ke arah Donghae yang masih terpekur di sampingnya sambil membaca tulisan-tulisan dalam huruf kanji yang sama sekali tidak dimengerti oleh Sooyeon.

“Kupikir aku sedang jatuh cinta.” Sooyeon bersuara lagi.

Donghae yang saat itu sedang asyik mengetik balasan untuk surel berisi tawaran kerja sama yang berpotensi mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaannya kontan menghentikan pergerakan jari di atas layar selebar tujuh inch di dalam genggamannya. Pria itu menoleh, hanya untuk mendapati Sooyeon yang tampak santai mengurai earphone yang melilit ke sana-kemari akibat disimpan sembarangan di dalam tas. Donghae melihat gadis di sampingnya begitu larut dengan untaian kabel kecil berwarna putih itu hingga tidak menyadari apa efek kalimat yang barusan dilontarkannya kepada Donghae.

Setelah memasukkan tabletnya ke dalam tas, Donghae bertanya, “Kau kenapa?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Donghae dengan kata-kata, Sooyeon lebih memilih menyelesaikan kegiatannya mengurai earphone. Setelah itu, ia memasang satu di telinga kanannya, tidak lupa memberikan sebelahnya lagi kepada Donghae.

Pria itu menaikkan alisnya, bertanya.

Sooyeon masih menunduk. Tatapannya lekat pada layar ponsel miliknya. Jemari gadis itu bergerak untuk membuka pemutar musik. Ketika sudah menemukan lagu yang diinginkan, ia menekan tanda perintah putar. Kepada Donghae, Sooyeon berujar, “Ini kado ulang tahun dariku, jadi dengarkan saja.”

Lagu itu dibuka oleh suara piano yang mengisi beberapa detik awal durasi lagu. Donghae tidak sempat memperhatikan seberapa indah lantunan piano tersebut karena otaknya sibuk menduga-duga apa sebenarnya yang sedang terjadi. Sooyeon bahkan belum memberi tahu ia jatuh cinta kepada siapa dan sekarang gadis itu malah memperdengarkan sebuah lagu kepadanya.

Every dream that I have is about you

I don’t wanna wake up

“Ini—” Donghae berujar pelan. Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk menyadari siapa pemilik suara yang sedang didengarkannya.

“Suaraku,” beritahu Sooyeon. “Aku merekamnya di studio dekat stasiun.”

Baby I’ll lean on to you when I have to

And I can’t get enough

Gadis itu berusaha membungkam rasa malu yang pelan-pelan menjalari wajahnya dengan menunduk sembari meremas-remas ujung rok yang ia kenakan. Hal itu tentu saja tidak terlepas dari pengamatan Donghae. Pria itu kemudian meraih tangan Sooyeon yang dingin dan lembab oleh keringat, menggenggamnya.

When I hear your voice

Then my heart don’t have a choice

But to give in, give it all or surrender

Give you all of my love

“Sooyeon-ah, kau—”

Perkataan Donghae lagi-lagi terputus. Sooyeon mengeratkan genggaman di tangan pria itu, dan Donghae mengartikannya sebagai isyarat agar dia tidak banyak berkomentar. Akhirnya, alih-alih menyuarakan semua pertanyaan yang mendadak menyesaki kepalanya sejak awal lagu, pria itu kembali menyadarkan tubuh, menikmati nyanyian lembut wanita yang mengalun dari earphone di telinga kirinya.

Kalau saja Sooyeon tidak sibuk menunduk untuk menutupi wajahnya yang merona malu, dia pasti akan melihat Donghae yang setengah mati menahan diri untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh di sampingnya. Dan kalau saja gadis itu tidak terlalu sibuk menarik napas untuk memastikan bahwa degupan jantungnya yang kelewat cepat itu tidak sampai membunuh dirinya, dia pasti akan merasakan bagaimana bahu Donghae menegang ketika mendengar kata cinta muncul di lagu yang sedang mereka dengarkan, juga bagaimana pria itu sampai menahan napas selama beberapa detik karena nyaris tidak percaya terhadap gagasan bahwa Sooyeon sedang menyatakan cinta kepadanya.

Baby tell me what to do

You have always been in my heart from the start

You are the one, you are the one…

Senyum itu akhirnya lolos dari bibir Donghae. Ia menoleh, hanya untuk mendapati Sooyeon masih menunduk malu dengan muka memerah di sampingnya.

There’s something about the way that you smile

Something about the way you hold me

I’m falling babe, I’m falling for you

Falling crazy in love

Donghae meraih bahu Sooyeon, tanpa suara meminta gadis itu agar menatapnya. Malu-malu, Sooyeon menurut. Ekspresi canggung gadis di depannya membuat senyuman nakal hadir lagi di wajah Donghae, dan Sooyeon bersumpah, seandainya saja ia tidak sedang diguyur rasa malu seperti sekarang, gadis itu sudah melayangkan tangan untuk memukul kepala Donghae karena pria itu—tega-teganya!—menampakkan wajah bahagia sementara Sooyeon harus berjuang agar ia tidak terlihat terlalu menyedihkan.

Rona merah sialan! Degup jantung sialan!

You got the key to my heart

Baby use it now before it’s too late

Why can’t you see, you and me, we can do it

There’s no reason to wait

Tentu saja, tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk menunggu. Donghae sepertinya menyadari betul hal itu, karena setelahnya, ia langsung meraih dagu Sooyeon, menarik gadis itu pelan-pelan hingga akhirnya bibir mereka bertemu.

With every breath, I keep falling deeper

Every beat of my heart, it feels stronger

And I’ll never let this feeling go

Now that I found you baby, I won’t let go

Mereka berciuman sepanjang sisa lagu. Donghae sudah tidak lagi memperhatikan syair dari lagu yang masih mengalun manis di telinganya. Dari ekor matanya, ia bisa melihat kedua remaja berseragam bisbol yang berada di dalam gerbong yang sama memperhatikan mereka berciuman. Salah satunya bahkan tanpa ragu mengeluarkan ponsel dari saku dan mengabadikan adegan itu sembari tertawa tertahan, tapi pria itu tidak peduli. Dia terlalu hanyut dalam luapan perasaannya sendiri.

Sedangkan Sooyeon, sejak memutuskan memperdengarkan lagu itu saja, dia sudah merasa perutnya sedang ditonjok benda keras. Rasanya sakit dan menyenangkan di saat bersamaan. Ciuman Donghae memperparah semua itu.

Sampai beberapa minggu lalu, Sooyeon tidak pernah membayangkan keinginan untuk mencumbu Donghae akan hadir di benaknya. Gadis itu juga tidak pernah membayangkan ciuman pertamanya dengan Donghae akan terjadi di atas kereta kosong, dengan lidah yang terasa manis akibat sisa-sisa alkohol yang tadi mereka tenggak saat pesta. Untuk ukuran pecandu film romantis seperti dirinya, ini adalah hal yang mengerikan. Tapi dia tidak keberatan. Bukankah yang terpenting dari sebuah ciuman adalah dengan siapa kau melakukannya?

There’s something about the way that you smile

Something about the way you hold me

I’m falling babe, I’m falling for you

Falling crazy in love

“Jadi, kita menikah?” Donghae, dengan senyumnya yang usil, bertanya setelah menyudahi pertautan bibir mereka.

“Tentu saja, Bodoh!” Sooyeon berseru, membuat dua remaja berseragam bisbol melayangkan pandangan ingin tahu kepada mereka. Sepertinya mereka penasaran mengapa di antara pasangan yang baru saja selesai memamerkan kemesraan itu tiba-tiba malah muncul makian. Sooyeon melotot galak untuk membalas tatapan penuh tanya yang mengarah kepadanya, kemudian ia menatap Donghae yang sedang tersenyum jahil di depannya. Masih mempertahankan ekspresi kesal di wajahnya, Sooyeon berujar, “Aku akan membunuhmu kalau sampai kau menolak lamaranku.”

Donghae terkekeh pelan mendengar ancaman yang bernada tidak niat tersebut. Oh, Jung Sooyeon memang gadis yang kadang bisa sangat menakutkan. Anehnya, pria itu malah tidak sabar menjadikan gadis menakutkan tersebut sebagai istrinya.

End.

Author’s Note:

  • Kalau ada yang penasaran sama lagu dalam cerita di atas, itu tidak lain adalah lagu Jessica Jung, Falling Crazy in Love (Eng. Version).
  • Diselesaikan terburu-buru, di tengah kesibukan mengerjakan laporan, sambil berulang kali mendengarkan satu lagu sampai mabuk, hanya demi memenuhi target memposting satu ff di hari ulang tahun Lee Donghae. This not-so-good fanfic strangely makes me so proud of myself because finally, a happy ending! HAHAHA *tebar bunga* Akhirnya saya bisa menyelesaikan satu ff Haesica yang plain cinta-cintaan begini (setelah sebelumnya cuma berhasil bikin ff yang endingnya sok-sokan ngetwist menjurus gak jelas).
Advertisements

13 thoughts on “Present

  1. aku selalu merasa kalau lagu2 di mini albumnya jessica kemarin itu semacam curhatannya dia untuk byk hal. dan khusus lagu2 cinta, aku entah kenapa yakin banget kalau itu dia tujuin buat tyler kwon. bahkan golden star yg katanya ditujuin buat para fans, kayaknya jauh lebih cocok kalo buat seseorang yg benar2 spesial. dgn adanya falling crazy in love utk ff ini, seenggaknya feel tylersica nya jadi berkurang dan aku bs membayangkan ini ditujuin buat donghae. komentarku kesannya mungkin jadi picik bgt ya, kayak ga bisa menerima kenyataan gitu, hahaha.. maapkeun~

  2. Jessica nunjukin kalau emansipasi memang benar berlaku. Haha. Omongannya heechul jadi semacam racun gitu, mengaruhin jessica dr yang awalnya clueless jadi akhirnya malah nyatain cinta duluan. Biarpun ini hitungannya udah sequel, boleh gak aku minta cerita ini dilanjutin lagi? Masa donghae ga ngomong cinta gitu sih, semacam terima jadi aja dia. Biar bagaimana pun, cowo perlu dong ngeromantisin pasangannya duluan.

  3. Donghae beruntung banget deh dapat kado ulang tahunnya lamaran. Kalo cewek sih biasa, tapi ini cowok. Haha.. Authornya emang kece mikirin ide kayak gini.

  4. Kak.. May I please, just pleaaaaseee minta sekuel? ;;)
    Aku ngerti kakak senengnya bikin ending yang gak biasa, dan adegan cewe ngelamar cowo is indeed gak biasa. Biarpun ini hitungannya sbg kado ultah, dan jessica juga cuma berusaha menepatin ucapannya sendiri (yang dia ucapin gak 100% serius), tapi aku merasa adegan donghae yang cuma ngomong “jadi, kita menikah?” itu agak kurang romantis. Efek keseringan ngeliat adegan lamaran super romantis dr cowo ke cewe. Hehe~

  5. Aku setuju sama beberapa komen di atas. Sbg cowo, donghae harus memperlihatkan sikap gentle dong.. Ga seru kalo mereka beneran nikah tanpa donghae ngasih tahu bgmn perasaan dia sebenarnya ke sooyeon. Apalagi heechul udah bilang, dia heran kenapa donghae belum ngomong apapun ke sooyeon. Berarti seharusnya ada adegan dia ngomong sesuatu ke sooyeon. Iya kan? Iya doooong? 😀

  6. hai… aku datang lagi.
    aku baca ini sampe dua kali. awalnya cuma baca aja, terus abis itu sengaja baca ulang sambil dengerin lagu falling crazy in love dan hasilnya aku jatuh cinta sm lagu ini.
    soal ceritanya, aku merasa ini agak sedikit diburu-buru. mungkin karena authpr lagi sibuk tapi terima kasih, karena di trmgah kesibukan yang mungkin bikin sakit kepala, author masih mnyempatin diri buat publish ff.

  7. Candy crush? ㅋㅋㅋ itu permainan yang menyenangkan buat ngusir bosen btw, kalau bukan karena Heechul, kalau bukan karena Heechul, that’s true! Semua karena Heechul! Bukannya Sicanya gak peka Donghae aja yg lambat! Sampe Sica nyatain duluan, apaan sih lu bang! Donghae awwwh sweet bgt ini cerita gilakkk, suka bgt, gabutuh sequel butuhnya Donghae /eakkk/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s