photogrid_1475601610863

Zhang Yixing x Bae Joohyun | Oneshot | Romance | G

.

.

Of coffee, cupcakes, and a very special birthday present

***

Bagi Zhang Yixing, kopi adalah sesuatu yang spesial. Kopi bukan hanya sekadar minuman yang ia konsumsi untuk menghilangkan kantuk, bukan juga sesuatu yang ia beli agar terlihat seperti mayoritas masyarakat perkotaan yang menjadikan cairan pahit itu sebagai bagian tidak terpisahkan dari gaya hidup mereka. Karena itulah, ketika kebanyakan teman seumurannya mulai sibuk meniti karier di perusahaan besar, ia lebih memilih menginvestasikan semua tabungannya untuk menyewa sebuah ruko di dekat stasiun, menyulap bangunan tak seberapa luas itu menjadi sebuah kafe bernuansa ungu yang nyaman untuk melepas lelah, dan tentu saja, menjadikan kopi sebagai  sajian utama bagi para pengunjung kafenya.

Ketika tidak sedang sibuk meracik minuman untuk para pelanggan, Yixing senang menghabiskan waktu dengan duduk di balik mesin kasir, mendengarkan lagu yang mengalun melalui pengeras suara yang dipasang di sudut-sudut ruangan, sambil mengamati pelanggannya satu per satu, mencoba membaca apa yang sedang mereka pikirkan. Seperti sekarang.

Kafenya tidak terlalu ramai sore itu. Di sudut ruangan, ada seorang pria berkacamata yang sedang sibuk menekuri laptop, tampak begitu fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Jari-jari pria itu bergerak lincah di atas papan ketik. Alisnya sesekali bertautan, dan tak lama kemudian, tangannya akan bergerak ke kepala, menggaruk dengan kasar hingga rambut cokelatnya jadi semakin acak-acakan. Yang menarik bagi Yixing, setiap kali hal itu terjadi, sang pria berkacamata selalu akan mengakhiri kegiatannya dengan mengembuskan napas panjang dua atau tiga kali, kemudian kembali sibuk dengan apa yang ia kerjakan.

Dua meja dari sana, ada empat orang remaja yang memakai jaket berwarna kelabu, dengan tulisan We Are One tersulam rapi di belakangnya. Keempatnya tampak sedang asyik membahas comeback stage sebuah grup kenamaan. Penuh semangat, mereka memperdebatkan siapa di antara anggota grup kesayangannya yang paling tampan, yang senyumnya paling memikat, serta yang penampilannya berubah paling drastis dibanding saat promo album sebelumnya. Sesekali, obrolan mereka berjalan begitu seru hingga pria berkacamata yang tampak bersusah payah mengumpulkan konsentrasi harus mendesis kasar dan menghadiahi mereka dengan delikan tajam.

Tidak jauh dari pintu masuk, ada pria dan wanita berusia awal dua puluhan yang sepertinya tidak ingin bersusah payah untuk menutupi bahwa mereka sedang dimabuk cinta. Keduanya berbincang begitu akrab; sang gadis bercerita mengenai kegiatannya selama di kampus, sementara sang pria menyimak dengan antusias kemudian balas membagi pengalamannya di tempat kerja. Beberapa kali, mereka bertukar makanan. Sang gadis memberikan potongan strawberry cheesecake-nya sedangkan sang pria membiarkan kekasihnya menyesap espresso yang ia pesan.

Yixing menyukai semua orang yang mendorong pintu masuk kafenya untuk memesan kopi, tapi pasangan yang terlihat saling memperhatikan dan berbagi kasih dengan tulus merupakan favoritnya. Tidak jarang, Yixing memberi mereka kue secara gratis. Layanan untuk konsumen spesial, katanya. Tapi, sebanyak apapun Yixing menyukai pengunjung yang saling mencintai seperti itu, ada satu orang yang lebih disenanginya. Namanya Bae Joohyun.

Yixing mengetahui nama gadis berambut panjang itu saat pertama kali mereka bertemu. Joohyun memesan ice Americano kala itu. Dan selayaknya semua minuman yang dipesan untuk dibawa pulang, Yixing menanyakan nama sang pembeli untuk kemudian ia tulis di gelas pemesannya. Joohyun mengunjungi kafe Yixing hampir setiap hari. Pesanannya hampir selalu sama: segelas caramel latte dan dua buah kue mangkuk dengan krim vanila di atasnya.

Sembari memasang senyum manis, Yixing langsung berdiri ketika gadis itu terlihat mendekat. Hari ini, Bae Joohyun mengenakan sweater rajut berwarna serupa madu, celana jeans hitam yang membungkus tungkainya dengan sempurna, serta sepasang ankle boot cokelat tua yang sukses membuatnya tampak lebih tinggi beberapa senti. Gadis itu menyandang tas kulit bergaya klasik di bahu kirinya. Rambutnya yang ikal keemasan dibiarkan terurai sampai ke punggung. Sambil mengulas sebuah senyum tipis, ia menyapa, “Selamat sore.”

Yixing terkekeh pelan. Seharusnya dialah yang terlebih dulu menyapa pelanggan, bukan sebaliknya. Di situlah salah satu letak perbedaan Joohyun dengan pelanggannya yang lain. “Selamat sore, Joohyun-ssi,” sahut Yixing. “Yang biasa?”

Gadis itu mengangguk. Tanpa menunggu pria di depannya menyebutkan berapa jumlah yang harus ia bayar, gadis itu langsung menyerahkan beberapa lembar uang won. “Seperti biasa,” ujarnya.

Yixing menerima uang itu dengan senyum tipis yang masih setia menghias wajahnya. Setelah itu, Joohyun langsung melenggang menuju meja yang biasa ia tempati—meja kosong di antara pria berkacamata dan keempat remaja berjaket kelabu. Sembari menunggu pesanannya tiba, gadis itu mengeluarkan sebuah buku sketsa dari dalam tas, kemudian langsung hanyut dengan kegiatannya mengguratkan pensil di atas kertas.

Satu hal lain yang membedakan Joohyun dengan pelanggan Yixing yang lain adalah perlakuan pria itu terhadap pesanan sang gadis. Jika pada pelanggan lain Yixing merasa cukup menghias latte mereka dengan gambar hati atau wajah orang tersenyum, maka untuk pesanan Joohyun, Yixing mengeluarkan semua kemampuannya. Kadang ia membentuk rupa kucing, bunga tulip, daun maple, burung hantu, bahkan naga. Namun seringnya, Yixing menggunakan gambar kucing, berpikir bahwa hewan lucu itu terlihat sangat mirip dengan Joohyun.

“Seharusnya kau menulis nomor teleponmu, bukannya malah menggambar kucing.”

Yixing menoleh, hanya untuk mendapati Junmyeon, sahabat sekaligus rekan kerjanya di kafe ini, sedang memamerkan senyum nakal kepadanya. Di antara semua orang, hanya pria itulah yang tahu bagaimana perasaan Yixing terhadap Joohyun. “Hubungan kalian tidak akan pernah ada kemajuan kalau setiap kali dia datang, yang kau lakukan hanya menyapa, memamerkan senyum bodohmu, dan menghias kopinya dengan berbagai bentuk binatang,” tambah Junmyeon.

Tanpa mengacuhkan ocehan sahabatnya, Yixing menaruh pesanan Joohyun di atas nampan dan membawanya ke meja gadis itu.

Di hari biasa, ketika Yixing sudah meletakkan semua pesanannya di atas meja, Joohyun akan langsung menutup buku sketsanya kemudian menatap Yixing sembari mengulas sebuah senyum manis dan berkata terima kasih. Tapi hari ini bukan hari biasa, maka alih-alih tersenyum dan mengucap terima kasih, Joohyun malah berkata, “Apa kau membenciku?”

Yixing, dengan tampang bodoh yang tidak bisa disembunyikan, langsung berujar bingung, “Maksudmu?”

Joohyun menatap latte yang tersaji di atas mejanya, membuat Yixing ikut melakukan hal serupa. Pria itu bertanya-tanya apa yang salah dengan gambar kucing lucu yang ia buat, atau apakah tadi ia salah ingat dan malah menyajikan sesuatu yang bukan caramel sesuai pesanan Joohyun. Yixing bingung, karena sejauh pengamatannya, tidak ada yang salah dengan  minuman yang ia hidangkan.

“Kau membuat gambar hati dan senyum untuk pembeli lain, kan? Kenapa untukku kau hanya menggambar binatang dan daun?”

Yixing bisa mendengar remaja yang duduk di samping mereka menahan diri untuk tidak tertawa cekikikan karena perkataan Joohyun kepadanya. Pria itu mengumpat dalam hati, bertanya-tanya sejak kapan remaja itu mencuri dengar pembicaraan orang lain. Ia ingin mendelik tajam ke arah mereka berempat, tapi selain karena dia bukan orang yang berbakat untuk tampil galak, suara Junmyeon yang menghamburkan tawa puas di balik konter lebih mengusik dirinya. Pria yang lebih setahun darinya itu tertawa seolah ingin berkata, “Kubilang juga apa!”

Berusaha tampak tidak terlalu salah tingkah, Yixing mencoba tersenyum dan berujar, “Maafkan aku. Kau ingin kopimu kuganti?”

Joohyun menggeleng dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. “Tidak usah,” jawabnya. Kali ini, tidak ada senyum tipis di wajah gadis itu.

Setelah itu, ia kembali menekuri buku sketsanya, mengabaikan Yixing yang tiba-tiba ingin mengutuk diri sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.

Junmyeon yang sudah puas tertawa langsung menepuk pelan bahu sahabatnya ketika pria itu kembali ke konter dengan wajah layu. “Apa kau perlu bantuanku?” tawarnya.

Yixing menggeleng. Dalam hati, pria itu mulai menyusun rencana. Kalau Joohyun datang lagi, ia akan mulai memperbaiki kesalahannya dengan menggambar senyum. Kemudian, ia akan memberanikan diri mengajak gadis itu mengobrol lebih banyak. Jika semuanya berjalan lancar, maka tidak lama setelah itu, ia akan mengganti senyum di kopi Joohyun dengan sebuah gambar hati sekaligus menyatakan perasaannya. Rencana itu terasa begitu sempurna di benak Yixing hingga wajahnya yang murung bisa berangsur cerah seperti biasa.

Yixing menunggu selama hampir seminggu untuk melancarkan rencana hebatnya, tapi Joohyun tidak pernah muncul.

Dua minggu, Joohyun masih belum kelihatan.

Tiga minggu, Yixing mulai putus asa.

Hingga sebulan kemudian, tepat di hari ulang tahu pria itu, suara Joohyun kembali terdengar.

“Selamat sore,” sapanya.

Yixing mendongak dari mesin kasir ketika mendengar suara itu menggema, mengetuk indra pendengarannya. Pria itu bertanya-tanya apakah keinginannya untuk bertemu dengan Joohyun sebegitu besar hingga ketika akhirnya gadis itu muncul di depannya, Yixing merasa Joohyun tampak jauh lebih cantik dari biasanya.

Hari ini Joohyun mengenakan turtleneck merah muda yang dipadukan dengan rok sifon selutut bermotif bunga ceri. Ia tampak lebih pendek, maka Yixing langsung menyimpulkan bahwa kali ini kakinya dibungkus sepatu tanpa hak. Gadis itu mengulas senyum tipisnya yang seperti biasa, membuat Yixing tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar seperti orang bodoh.

“Aku bekerja untuk sebuah perusahaan komik di Jepang sekarang,” ujar gadis itu.

Yixing menatapnya dengan mata membulat, dalam hati bertanya-tanya apakah Joohyun punya kemampuan membaca pikiran atau apakah di wajahnya terpampang jelas pertanyaan “Ke mana saja kau selama ini?”

“Ini mungkin akan menjadi kunjungan terakhirku di kafe ini,” beritahu Joohyun.

Ada banyak hal yang ingin diungkapkan Yixing kepada gadis di depannya. Semua bahan obrolan yang sudah ia rancang selama berminggu-minggu bermunculan di kepalanya, menyesaki pikirannya. Pada akhirnya, alih-alih bertanya apakah mereka bisa bertemu lagi selain di kafe ini, atau apakah gadis itu bisa memberikan nomor teleponnya agar ia dan Yixing masih bisa berkomunikasi, pria itu malah berkata, “Hari ini aku berulang tahun.”

Joohyun terkekeh pelan mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari sela bibir pria di depannya. Apalagi karena setelah itu, wajah Yixing mendadak berubah seperti orang bingung, seolah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Tersenyum, Joohyun berujar, “Selamat ulang tahun, Yixing.”

Yixing berdeham kemudian menunduk malu sembari mengusap tengkuknya lantaran salah tingkah, membuat Joohyun tidak bisa menahan tawanya. Sementara di balik pintu dapur, Junmyeon mengusap wajahnya dengan frustasi, tidak habis pikir mengapa sahabatnya bisa bertindak begitu bodoh.

“Pesananku masih seperti biasa,” ujar Joohyun setelah berhasil meredakan keinginannya untuk menertawai Yixing. Gadis itu menyerahkan sejumlah uang kemudian melenggang menuju tempat duduknya yang seperti biasa.

Mengucapkan selamat tinggal kepada Joohyun sama sekali tidak pernah terlintas di benak Yixing. Pria itu selalu berpikir bahwa Joohyun akan selalu datang ke kafenya, mendahuluinya memberikan sapaan selama sore, melayangkan senyum tipis nan manis kepadanya, dan memesan segelas latte serta dua buah kue mangkuk. Seperti biasa.

Sore itu, Yixing tahu bahwa ia tidak akan puas hanya dengan sesuatu yang seperti biasa. Maka alih-alih menjalankan rencana yang sudah ia susun dengan matang sejak sebulan terakhir, pria itu memilih melakukan sesuatu yang lain. Sore itu, Joohyun tidak mendapat latte dengan gambar senyum atau hati di atasnya.

Yixing bisa mendengar Junmyeon bersiul-siul penuh makna di belakangnya ketika melihat kopi yang dibawa pria itu ke meja Joohyun, tapi ia tidak peduli. Yixing juga bisa melihat bagaimana Joohyun langsung mendongak dan menatapnya dengan raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan ketika kopi itu ia sajikan di atas meja, tapi ia hanya tersenyum seperti biasa, seolah apa yang sedang ia lakukan bukan sebuah perkara besar.

Joohyun membuka mulut untuk bicara, tapi Yixing sudah lebih dulu berjalan kembali ke konter. Gadis itu bisa melihat bagaimana Junmyeon langsung memukul pelan bahu Yixing sambil melontarkan seringaian nakal, juga bagaimana Yixing menunduk salah tingkah karena perbuatan sahabatnya. Joohyun menatap ke arah Yixing lebih lama lagi, tapi jelas sekali bahwa pria itu menghindari beradu pandang dengannya.

Gadis itu lantas mengembuskan napas panjang. Ada sedikit rasa geli yang menghampiri dirinya ketika sekali lagi ia menatap latte yang dibawa Yixing. Di atasnya sudah tidak ada gambar kucing atau daun maple seperti yang biasa, tidak pula gambar senyum atau hati seperti yang ia minta. Di krim latte yang masih hangat itu, ada tulisan ‘Date?’ dan Joohyun yakin betul bahwa Yixing tidak sedang menanyakan tanggal kepadanya. Kata itu bermakna lain: Yixing mengajaknya berkencan.

Seperti yang biasa ia lakukan, gadis itu meraih buku sketsa yang selalu dibawanya setiap kali. Tapi karena hari ini bukan hari biasa, maka daripada lagi-lagi menggambar objek favoritnya, gadis itu memilih mengguratkan pensilnya untuk membentuk sesuatu yang lain. Dan karena hari ini bukan hari biasa, maka setelah menghabiskan kopi dan kue pesanannya, Joohyun tidak langsung pulang. Ia menghampiri Yixing yang berdiri di balik mesin kasir, masih menatapnya dengan salah tingkah. Joohyun melayangkan seulas senyum yang lebih lebar dari yang biasa, menyerahkan buku sketsanya, dan langsung melenggang menuju pintu keluar seusai berkata, “Sampai bertemu lagi, Yixing.”

Yixing mengerjap demi membantu otaknya memahami apa yang sedang terjadi. Satu kali. Dua kali.

Joohyun tidak menjawab ajakan kencannya.

Tiga kali. Empat kali.

Gadis itu tidak bilang selamat tinggal. Dia bilang sampai jumpa.

Lima kali. Enam kali.

Joohyun memberinya buku sketsa.

Yixing membuka buku yang ia pegang. Hati-hati, ia membalik lembaran kertas putih yang di atasnya ada sketsa wajah seorang pria yang sedang meracik kopi. Yixing menghitung, dari dua puluh empat lembar yang ia buka, semua objek gambarnya sama—wajahnya. Perbedaan terletak di halaman ke-25, di mana wajahnya tidak lagi tampak. Yang ada di sana adalah sebaris ucapan selamat ulang tahun serta sebuah nomor telepon yang ditulis dengan sangat rapi.

Pria itu serta-merta mengulas sebuah senyum bodoh, menyadari implikasi dari semua yang terjadi. Joohyun menjawab ajakan kencannya!

***

Bagi Zhang Yixing, kopi adalah sesuatu yang spesial. Kopi bukan hanya sebuah minuman yang ia konsumsi untuk menghilangkan kantuk, bukan juga minuman yang ia beli agar terlihat seperti mayoritas masyarakat perkotaan yang menjadikan cairan pahit itu sebagai bagian tidak terpisahkan dari gaya hidup mereka.

Bagi Zhang Yixing, kopi adalah sesuatu yang membawa Bae Joohyun kepadanya. Dan ia menyukai fakta itu.

End.

Author’s Note:

  • Ditulis sebagai entry untuk Lay Birthday Project yang diadakan oleh Exo Fanfiction Indonesia.
  • Cerita ini terinspirasi dari video klip untuk lagu Jason Chen yang berjudul Unexpectedly.
Advertisements

11 thoughts on “As Usual

  1. Demi apa dong kakak ini unyu bangetttt ❤❤
    *kwmudian kabur ke yutub buat ngeliat mv unexpectedlynya jason chen*

    1. Aku udah liat mv nya, unyu bgt ternyata. Dan gara2 itu aku jd ngedengerin lagu jason chen seharian. Hahah… Suaranya dia bagus, lagu2nya juga kece ternyata.

      1. Bagus kaaaaan? 😀
        Aku pertama kali denger lagu2 jason chen gara2 ada fmv haesica yg pake lagunya dia. Trus aku kepoin yutubnya dan kebanyakan lagu dia emg enak didengar. Favoritku tuh unexpectedly sama gravity. Bestfriend, still in love, sama thank you juga juara.

        1. Iya, bener2. Bagus2 emang lagunya. Unexpectedly akhirnya aku masukin playlist, dan tiap denger itu langsung kebayang adegan lay ngasih kopi ke irene. Haha.. Ff mu racun, kak!

  2. Let me kiss you a thousand time for making this cute fiction! Lay ini semacam gak peka apa gmn itu. Berasa lucu aja yang pas dia udah pede sama gambar kucingnya, eh termyata irene malah nanya apa dia benci sm irene, trus lay malah dengan begonya gak ngerti. Hahaha..
    Ngomong2 kak, ff ini dpt juara gak? Dan ngomong2 lagi, kalo utk ultahnya lay kakak bisa bikin ff, utk ultahnya donghae bisa dong yaaa bikin ff juga.. Yang lbh manis dr ini, boleh? 😋😋😋

    1. But I dont wanna be kissed by you 😶😶😶
      Kebetulan kemarin aku emg rencana bikin ff layrene, trus pas liat di exoffi ada event ultahnya lay, jd sekalian aja diikutin lomba. Aku juara 3. Haha.. Krn kemarin terbentur jumlah karakter, naskah yg kuikutin lomba byk yg dipotong dr versi yg dipublish di blog ini. Dan untuk donghae, demi apa dong, pengen bgtlah aku bikin ff juga buat dia. Tp laporanku numpuk. Please pray for me 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s