img_20161007_195638

Kim Heechul & Ahn Sohee || Oneshot || Romance || G

.

.

Mereka pertama kali bertemu di atas pesawat, dalam perjalanan dari Incheon menuju London. Setidaknya seperti itulah yang diketahui Sohee.

***

Kim Heechul adalah tipe orang yang selalu mempertimbangkan masak-masak dampak tindakannya sebelum melakukan sesuatu. Bahkan, untuk urusan remeh seperti memotong rambut—yang bagi kebanyakan orang cukup dilakukan dengan melihat contoh model rambut terkini di majalah atau televisi—dia butuh berkonsultasi berkali-kali dengan pegawai salon langganannya sebelum akhirnya memutuskan akan memotong rambutnya dengan model apa.

Normalnya begitu.

Ada waktu-waktu tertentu di mana Kim Heechul juga penuh spontanitas, seperti hari ini, ketika dia bangun dari tidur, mengecek ponsel, merenung sejenak, dan langsung memutuskan mengambil penerbangan pertama dari London menuju Incheon. Persetan dengan resiko, masa bodoh dengan omongan orang. Yang pria itu inginkan hanya satu: menyudahi masa dua tahun yang dia lewati dengan bertindak layaknya seorang pengecut.

Heechul mengaduk-aduk kopi di dalam cangkirnya sembari menatap kosong ke balik dinding kaca yang membatasi kafe tempatnya berada dengan trotoar serta jalanan sepi yang tampak basah karena baru saja tersiram hujan. Di sana, hanya ada orang-orang tak dikenal, memakai pakaian tebal untuk melindungi tubuh mereka dari dinginnya udara di penghujung musim gugur, sebagian tampak sibuk dengan telepon gengam di tangan masing-masing, sebagian lagi berlalu-lalang seolah sedang dikejar waktu; bukan jenis pemandangan yang akan menarik perhatian pria itu.

Heechul sejatinya sedang menunggu seseorang—seorang gadis yang kepadanya ia akan mengatakan sesuatu yang selama ini hanya bisa dirahasiakan. Pria itu merasa keinginannya untuk menemui gadis itu begitu mendesak hingga begitu ia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya ini, hal pertama yang ia lakukan adalah menekan nomor telepon sang gadis, menanyakan apakah mereka bisa bertemu. Heechul tidak ingin menunda lagi, tidak peduli apapun alasannya. Dia sudah pernah melakukan satu kebodohan dengan menghabiskan waktu terlalu lama untuk menimbang apakah waktu yang tepat sudah tiba, hingga akhirnya waktu berlalu dan dia tidak melakukan apapun. Dia tidak ingin mengulangi hal yang sama untuk kedua kalinya.

Pria berkulit pucat itu mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Masih tersisa sejam lagi hingga waktu yang mereka sepakati. Sebenarnya, merupakan suatu keberuntungan gadis itu setuju menemuinya hari ini. Profesi sang gadis sebagai seorang artis membuat kesibukan mengonsumsi nyaris semua waktu yang dimilikinya dalam sehari. Apalagi, sebelum ini mereka tidak pernah mengobrol terlalu banyak. Pertemuan yang singkat di atas pesawat, tawaran Heechul untuk menemani gadis itu berjalan-jalan selama berada di London, serta obrolan tak seberapa seru yang terjadi di antara mereka beberapa bulan lalu jelas bukan modal yang cukup meyakinkan hingga gadis itu bersedia meluangkan waktu jedanya yang tidak banyak untuk menemui Heechul. Tapi gadis itu melakukannya, dan Heechul tidak pernah merasa seberuntung ini sebelumnya.

Bosan memperhatikan suasana di balik jendela, Heechul ganti melayangkan pandangan ke dalam kafe. Waktu yang menunjukkan jam pulang kantor membuat tempat ini ramai. Beberapa pegawai dari kantor yang letaknya mungkin tidak terlalu jauh tampak mengisi beberapa meja. Ada yang asyik mengobrol dengan rekannya, ada juga yang masih sibuk menekuri laptop dan mengerjakan sesuatu yang sekali lagi, Heechul tidak berminat untuk mengetahuinya.

Pria itu mengembuskan napas panjang lantas merogoh saku celananya, mengambil telepon genggam. Dia memutuskan untuk membunuh waktu dengan bermain game online.

***

“Maaf aku terlambat.”

Heechul mendongak, mengabaikan game yang sedang seru-serunya, saat mendengar suara feminin tersebut mengalun, mengetuk indra pendengarannya. Pria itu langsung tersenyum ketika mendapati seorang gadis berambut panjang berdiri di depannya.

“Ah, Sohee-ssi, duduklah,” sahut Heechul. Ia melirik jam tangannya. Gadis itu terlambat setengah jam. Pria itu kemudian menambahkan, “Kau tidak terlambat. Akulah yang datang terlalu cepat.”

Heechul memperhatikan gadis itu mengembuskan napas lega, meletakkan tasnya di atas meja, melepas jaket tebal berwarna merah terakota yang ia kenakan, dan langsung menarik kursi yang berada tepat di depan Heechul.

“Sudah lama menunggu?”

Oh, Heechul sudah menunggu momen seperti hari ini sejak dua tahun lalu.

Berkebalikan dengan kata hatinya, Heechul memilih menggeleng pelan. “Tidak juga,” dustanya.

Pelayan menghampiri mereka tepat setelah Heechul menyelesaikan kalimat pendeknya. Sohee yang tampaknya sudah sering mengunjungi tempat ini langsung memesan tanpa melihat-lihat menu. Heechul ingat betul, secangkir kopi tanpa gula serta sepotong strawberry cheesecake juga merupakan menu yang dipesan gadis itu saat terakhir kali ia melihatnya berada di kafe ini. Waktu itu Sohee sedang menunggu kekasihnya, dan Heechul hanya bisa memperhatikan gadis itu dari jauh tanpa punya keberanian menampakkan diri di hadapannya.

“Kau masih berhubungan dengan pria itu?”

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari sela bibir Heechul tanpa ia sempat menyadarinya. Ketika pria itu hendak melontarkan pertanyaan lain, berharap Sohee tidak menangkap apa yang ia katakan, Heechul tahu ia sudah terlambat. Di depannya, Sohee tampak mengerutkan alis. Entah karena dia merasa itu adalah pertanyaan yang tidak wajar ditanyakan kepada orang yang sudah lama tidak bertemu atau karena gadis itu menyadari bahwa dia tidak pernah bercerita kepada Heechul perihal keberadaan pria yang tengah dekat dengannya. Heechul berharap kerutan di alis gadis di depannya disebabkan karena kemungkinan pertama.

“Maksudmu?”

Heechul menyeringai, membuatnya tampak seperti orang bodoh. Merupakan sebuah keberuntungan karena ia memiliki otak cerdas yang memungkinkannya mencari alasan secepat mungkin. “Kau tahu, pria yang  waktu itu kau ceritakan kepadaku saat kita berjalan-jalan di seputaran London Eye. Seseorang bernama—” Heechul menjeda kalimatnya selama beberapa detik. Pria itu sebenarnya tahu betul nama yang akan ia sebutkan, tapi menurutnya berpura-pura lupa akan membuat aktingnya terlihat lebih meyakinkan. “—Soohyun! Ya, kalau tidak salah ingat, itulah namanya. Kau masih bersamanya?”

Sohee masih merasa ada yang mengganjal dari ucapan Heechul, karena seingatnya, dia tidak pernah menceritakan mengenai hubungan asmaranya kepada orang selain Sunye. Tapi gadis itu memilih untuk tidak mengacuhkan rasa ingin tahunya yang kadang sedikit berlebih, berpikir bahwa mungkin saja waktu itu dia tidak sengaja menyinggung masalah Soohyun. Dipikir-pikir lagi, ia dan Heechul memang mengobrol tentang banyak hal waktu itu.

“Kami sudah berpisah beberapa bulan lalu,” beritahu Sohee.

Sejenak, gadis itu berhenti bertutur karena pelayan datang membawakan pesanannya. Ia langsung menyeruput cairan hitam pekat dalam gelasnya tidak lama setelah minuman tersebut diletakkan pelayan di atas meja. Heechul merasa geli melihat kelakuan gadis di depannya, tapi memilih untuk tidak berkomentar. Setelah beberapa sesapan, Sohee meletakkan gelasnya kembali ke tempat semula, kemudian melanjutkan penjelasannya yang sempat terputus.

“Kupikir, tidak ada gunanya juga menjalin hubungan kalau kami sama-sama sibuk. Dia juga sepertinya berbagi gagasan yang sama, jadi akhirnya kami kembali menjadi teman,” jelas Sohee.

Heechul mengangguk paham.

“Jadi, apa alasanmu ke Korea?” giliran Sohee yang bertanya. “Karena sekarang sudah memasuki musim dingin, kurasa jalan-jalan bukan bagian dari agendamu.”

Heechul mengedikkan bahu, seolah apa yang akan dia katakan adalah sesuatu yang enteng. Lugas, pria itu berujar, “Aku ingin menyatakan cinta kepada seseorang.”

“Wah, keren sekali!” seru Sohee sembari menepukkan kedua telapak tangannya. Mata gadis itu berbinar cerah, seolah apa yang baru saja dikatakan oleh lawan bicaranya adalah sesuatu yang sangat keren. Gadis itu lantas melanjutkan, “Kau benar-benar seperti pria di dalam drama.”

Heechul tersenyum kecut. “Oh, aku lebih tampan dibanding mereka.”

Sohee terkekeh. Pelan, tapi untuk ukuran seorang yang hampir selalu tampak minim ekspresi seperti dirinya, itu hanya bisa berarti satu hal: dia menganggap perkataan Heechul barusan benar-benar lucu. Sempat terbersit di benak gadis itu untuk mengangguk, membenarkan klaim pria di depannya. Dari sudut pandang gadis itu, Heechul memang lebih tampan dibanding kebanyakan aktor terkenal di negara ini. Namun bagi Sohee, gengsi selalu menang, maka alih-alih melakukan apa yang diinginkan hatinya, dia akhirnya hanya mengulas senyum.

Sohee jadi teringat, saat pertemuan pertama mereka beberapa waktu lalu, pria itu bercerita bahwa ia datang ke Korea demi menemui seorang gadis. Masih terpatri dengan jelas di ingatan gadis itu, bagaimana pria di depannya tersenyum penuh arti kala ia menanyakan apakah gadis itu adalah kekasih Heechul.

“Apa ini gadis yang sama dengan yang waktu itu menjadi alasan kedatanganmu ke Korea?”

Heechul tidak menginyakan. Pria itu hanya melengkungkan bibirnya hingga membentuk sebuah senyum yang seolah berkata kau-tahu-jawaban-dari-pertanyaan-itu. Sohee menyipitkan matanya dan melayangkan senyum nakal kepada Heechul, membuat pria itu jadi salah tingkah. Adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya untuk menggoda orang-orang yang sedang jatuh cinta seperti pria di depannya ini.

“Menurutmu apa yang harus dilakukan seorang pria agar pernyataan cintanya diterima?” tanya Heechul.

“Kebanyakan perempuan suka diberi bunga dan kata-kata romantis.”

“Kalau kau?”

“Kalau aku,” Sohee tampak berpikir sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke permukaan meja, kemudian berujar, “Menurutku pria yang menyatakan perasaannya tanpa banyak embel-embel justru terkesan lebih keren.”

“Dan itu bisa menjadi jaminan untukmu menerimanya?”

Gadis itu mengedikkan bahu. “Kupikir begitu.”

“Aku menyukaimu.”

Mata Sohee membulat mendengar pernyataan yang menurutnya begitu tiba-tiba dan tidak pernah disangka. Dan seolah masih belum cukup raut terkejut yang terpatri di wajah gadis itu, Heechul menambahkan, “Dan aku ingin mencium bibirmu sekali saja.”

Kalimat terakhir Heechul menenggelamkan semua suara di sekitar mereka hingga yang bisa Sohee dengar hanyalah detak jantungnya sendiri. Gadis itu tahu betul ke mana pembicaraan mereka akan mengarah.

Selama dua tahun belakangan, hanya ada satu orang yang akan terpikir olehnya setiap kali kalimat aku ingin mencium bibirmu sekali saja terdengar. Karena hanya ada satu orang, yang selama dua tahun, tanpa jeda sehari pun, selalu memenuhi kotak masuk pesannya dengan kalimat bernada menggoda seperti itu.

Selama dua tahun, Sohee menebak-nebak seperti apa orang yang selama ini begitu rajin mengiriminya pesan. Ia ingin tahu bagaimana orang itu bisa dengan mudah menemukan cara untuk menghubunginya meski selama jangka waktu tersebut, Sohee sudah berulang kali mengganti nomor telepon. Hari ini, Sohee akhirnya tahu bahwa pria itu ternyata adalah Kim Heechul; orang yang dikenalnya di atas pesawat, yang sejak pertama kali bertemu sudah berhasil membuatnya merasa akrab, seolah mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.

“Kau… pria itu?” Gadis itu berujar lemah. Nadanya terdengar tak yakin, meski dalam hati gadis itu sudah bisa memastikan bahwa dia tidak salah orang.

Heechul mengangguk canggung di depannya. Pria itu menyunggingkan sebuah senyum aneh yang tampak terlalu dipaksakan. Bersamaan dengan itu, sebuah kesadaran mengetuk pintu ingatan Sohee. Dulu, dalam keadaan setengah mengantuk, ia pernah membalas pesan yang dikirimkan Heechul, mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan pria itu.

“Waktu itu kau datang karena pesanku.” Sohee berujar pelan, tapi cukup bagi Heechul untuk mendengar apa yang gadis itu katakan.

“Jadi, apa jawabanmu?”

Mata gadis itu menatap Heechul lekat-lekat, sedangkan otaknya sibuk merangkai semua penjelasan yang sudah ditebar pria itu sejak pertemuan pertama mereka.

Aku datang ke sini untuk menemui seorang gadis.

Dia kekasihmu?

“Kau datang ke Korea hanya untuk hal ini?” tanya Sohee. Ia terbayang perjalanan berjam-jam yang harus ditempuh dari London ke Seoul, itu belum termasuk jetlag dan rasa lelah yang mungkin muncul karena harus duduk dalam jangka waktu cukup lama. “Itu melelahkan, tahu.”

Heechul hanya tersenyum “Sebuah anggukan setuju darimu akan membayar semua lelahku.”

Sohee mengerjap, berharap hal itu bisa meredakan degup jantungnya yang makin kencang setelah mendengar ucapan Heechul. Dan sungguh, degupan jantung itu membuatnya menyadari bahwa ia sedang berada dalam situasi yang gawat. Dia tidak mungkin jatuh cinta, kan?

End.

Author’s Note:

  • Side story sekaligus lanjutan dari kisah Soheechul dalam serial You Call It Romance (But It’s Not). Saya tidak tahu apakah bisa memasukkan kisah mereka ke dalam cerita inti yang entah kapan bisa dipublish lanjutannya, jadi untuk jaga-jaga, saya tuliskan closure cerita mereka ke dalam satu postingan tersendiri.
  • I miss my Wonder Junior OTP.
  • Credit for the beautiful poster goes to Xchee from Poster Channel.
Advertisements

2 thoughts on “Saying I Love You

  1. Tuh kan, kita memahami closure aja beda banget. Kalo aku nganggep closure itu selalu yang indah2. Kalo belum indah berarti masih boleh ada lanjutannya. Hehe.
    Aaah.. Aku udah kangen sama si pembunuh bayaran yang udah pensiun buat berkebun anggur di perancis. Yg chapter kemarin itu pas banget lagi kepotong di adegan donghae bego dan jessica salah paham dan heechul mencak2 sendiri. Jadi bertanya2 apakah kedatangan heechul ke korea utk menwmui sohee akan ada hubungannya dengan kisah donghae sama jessica.

    1. Pasti ada dong.. Kan mereka lahir do satu cerita, jadi kisah heasica sm soheechul pasti ada hubungannya (walaupun maksa. Hahaha..)
      Donghae lg sibuk ngurusin benih anggur, jd belum sempat ngelanjutin kisah cintanya sm jessica 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s