sestal-nchuhae-sweetheart

Jung Soojung & Oh Sehun || Oneshot || Romance, Friendship || PG-17

.

.

Be mine, will you?

***

Suara dentuman musik keras mengalun di seluruh penjuru kelab malam itu. Beberapa orang sudah bergerak tak menentu di atas lantai dansa, selebihnya memilih untuk tetap duduk di dekat meja bartender, menikmati minuman yang mereka pesan. Jung Soojung salah satunya.

Gadis itu menatap hampa ke arah gelas tequila slammer-nya yang kelima kemudian meneguk habis minuman itu dalam waktu singkat. Dia butuh pelampiasan untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya meski sebetulnya dia tahu, sebanyak apapun alkohol yang ia minum, ketika terbangun esok pagi, dia akan teringat lagi dengan kejadian yang hari ini telah berhasil menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping.

Lidah dan tenggorokan Soojung seolah terbakar oleh minuman yang baru saja ia tenggak. Kepalanya sudah terasa begitu pusing, tapi tangannya masih saja bergerak menyodorkan gelas kosongnya kepada seorang pria yang bertugas meracik minuman di balik konter, tanpa suara menyampaikan keinginannya agar pria berambut cokelat gelap itu menuang minuman lagi ke gelasnya.

“Kau sudah minum terlalu banyak, Nona.”

Gadis berambut panjang itu ingin protes. Dia ingin memarahi pria di depannya karena sudah ikut campur. Dia ingin minum sampai puas malam ini, tidak ada orang yang boleh melarangnya.  Namun ketika Soojung baru akan menyuarakan keberatannya, alkohol sudah terlebih dulu mengambil alih kesadarannya. Ia pingsan.

***

Tidak ada yang lebih dibenci Sehun selain orang yang mengganggu tidurnya, terlebih lagi di saat ia sedang sangat mengantuk seperti sekarang. Pria itu sedikit menyesali kenapa sebelum tidur tadi dia lupa mematikan telepon genggamnya. Sekarang dia harus menanggung akibatnya. Sehun tidak tahu saat itu jam sudah menunjukkan pukul berapa, tapi dia merasa yakin bahwa dia belum tertidur cukup lama ketika benda itu mulai berbunyi dan berhasil mengusik tidurnya.

Sehun mengerang. Setelah menggulingkan badannya sedikit, menggapai-gapai meja kecil di sisi tempat tidur, mencari sebuah benda yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Dengan asal dia menggerakkan tangannya di layar benda tipis itu kemudian menempelkannya di telinga.

“Tuan Oh? Aku bersama teman Anda.” Seorang pria di ujung telepon berujar, setengah berteriak karena suara musik yang mengalun di belakangnya benar-benar memekakkan telinga.

Sehun, dengan kesadaran yang masih belum penuh, menjauhkan telepon itu dari kupingnya demi lihat nama yang tertera di layar. Ada sebuah daya magis yang seketika mengusir kantuk yang menggelayuti matanya ketika mendapati nama Jung Soojung di sana.

“Ada apa dengan Soojung?” Sehun berujar dingin, berusaha menyembunyikan panik yang mendadak menyerang dirinya. Bagaimana mungkin, di saat malam sudah selarut ini, Soojung masih ada di luar rumah? Terlebih lagi, teleponnya dipegang oleh seorang pria.

“Dia mabuk dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain menghubungi temannya. Kau tahu sendiri—”

Sehun tidak ingin membiarkan lawan bicaranya berlama-lama lagi menjelaskan keadaan. Ia sudah langsung bisa membayangkan kemungkinan paling buruk yang mungkin terjadi pada seorang gadis yang mabuk tanpa seorang terpercaya yang menemaninya. “Berikan aku alamatnya. Aku akan segera ke sana.”

***

“Oh, tidak perlu!”

Pria yang sebelumnya menelepon Sehun untuk memberitahukan keadaan Soojung langsung mengangkat kedua tangannya ke depan dada begitu Sehun menyodorkan beberapa lembar uang yang dimaksudkannya sebagai ucapan terima kasih. Sehun sempat bertanya-tanya apakah uang yang ia tawarkan kurang banyak untuk mengungkapkan terima kasih kepada pria berwajah sendu yang kini tengah berdiri di depannya sambil tersenyum. Di atas segalanya, pria itu telah berbaik hati membawa Soojung yang tengah mabuk berat ke ruang khusus pegawai, memposisikan gadis itu di atas sofa panjang di salah satu sisi ruangan, membuatnya senyaman mungkin. Sehun yakin butuh niat serta usaha besar untuk itu semua, dan di zaman seperti sekarang, memangnya masih ada orang baik yang dengan senang hati melakukan hal demikian tanpa mengharapkan imbalan?

“Kau tidak perlu melakukan itu,” ujar seorang wanita yang berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka. Wanita itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari cermin besar yang dipasang di sisi ruangan, tampak sedang sibuk merapikan riasannya. Dilihat dari pakaian yang dikenakan wanita tersebut, Sehun memperkirakan bahwa ia adalah pelayan di tempat ini. Sambil menyapukan blush-on di wajahnya yang terlihat dingin, ia menambahkan, “Pria itu memang selalu melakukan ini setiap melihat pelanggan wanita yang mabuk sendirian.”

Sehun menoleh lagi arah pria itu. Ia memasukkan uang di dalam genggamannya kembali ke dalam dompet. Sebagai ganti, ia menyodorkan kartu nama. Kali ini, raut curiga yang melekat di wajah Sehun sudah luntur. Dan kali ini, pria di depannya menerima apa yang diberikan pria itu.

“Aku harap kau tidak segan menghubungiku jika butuh sesuatu, Tuan—” Sehun sengaja menjeda bicaranya, menunggu pria yang telah membantu Soojung untuk menyebutkan nama.

“Donghae. Lee Donghae.”

“—Tuan Lee,” sambung Sehun. “Kau harus tahu betapa aku menghargai apa yang kau lakukan terhadap Soojung.”

Donghae mengangguk. Senyum ramah masih setia menghias wajahnya. Setelah memastikan bahwa Soojung berada bersama orang yang tepat, ia memohon diri, berkata bahwa ia tidak bisa meninggalkan bar terlalu lama. Sehun mengucapkan terima kasih sekali lagi padanya, kemudian beralih menatap Soojung yang sudah tidak sadarkan diri.

Kepala gadis itu terkulai lemas di sandaran sofa, sebagian rambutnya jatuh menutupi wajah, dan wajahnya tampak kusut. Sehun tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu jika saja ia tidak bertemu dengan seorang yang baik hati seperti bartender tadi. Pria itu bahkan sengaja mencarikan kain panjang—sejenis syal yang entah diperolehnya dari mana—untuk menutupi kaki Soojung yang hanya dibalut rok pendek.

Tanpa berpikir lama, Sehun memapah tubuh Soojung menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar. Didudukkannya gadis itu di kursi penumpang, selanjutnya ia mengambil posisi di jok pengemudi. Mobil tak segera ia jalankan karena dia sendiri tak tahu harus membawa gadis ini ke mana. Ditepuknya pelan pipi gadis di sampingnya, berharap kesadaran gadis itu bisa sedikit kembali. “Soojung-ah, kau bisa mendengarku?” tanyanya nyaris berbisik.

Tak ada jawaban dari Soojung, sehingga yang bisa dilakukan Sehun hanya menatap penuh arti wajah yang begitu dia rindukan. Seketika rasa itu datang lagi, rasa yang dipikir sudah dilupakannya.

Gadis itu adalah orang yang pernah sangat dicintainya. Mereka adalah teman semasa sekolah. Ketika kuliah, mereka berpisah karena Soojung memilih untuk menekuni dunia hukum sementara Sehun lebih tertarik pada arsitektur. Meski begitu, mereka masih terus berhubungan. Sama sekali tidak sulit bagi Sehun untuk jatuh cinta pada Soojung. Bagi sebagian orang wajah dingin gadis itu mungkin menjadikannya tidak terlalu atraktif, tapi dia baik dan sangat cerdas, membuat orang bisa terpukau padanya hanya dengan sekali melihat. Dia sempat memimpikan akan menjadikan Soojung sebagai pendampingnya suatu saat nanti, jika hidupnya sudah jauh lebih mapan. Tapi dia tahu harapannya sia-sia saat setahun yang lalu undangan pertunangan Soojung sampai di kediamannya. Sejak saat itu sebisa mungkin dia tidak menemui Soojung, berusaha sekuat tenaga untuk melupakan perasaannya. Malam ini semua usaha itu dia akhiri. Soojung tidak bahagia dan entah kenapa dia yakin ada keterlibatan tunangannya dalam hal ini.

Tanpa sadar tangan Sehun sudah membelai pipi Soojung yang mulus, sesuatu yang tidak bisa dia lakukan ketika gadis itu sedang terjaga. Degupan jantungnya terasa begitu nyata, apalagi saat matanya menangkap bibir Soojung yang sedikit terbuka. Sudah sejak lama dia selalu ingin tahu bagaimana rasanya jika bibir mereka bertemu. Dia ingin mencobanya. Dia mendapat kesempatan sekarang, meski itu lebih terkesan seperti mencuri. Berulang kali  dia menarik napas panjang untuk menetralkan perasaan yang membuncah di dadanya, tapi semua itu sia-sia. Setelah sekian lama, pengaruh Soojung terhadap sistem kerja organ pria itu masih tetap sama.

Sehun terkejut ketika tiba-tiba pergerakan jarinya di pipi Soojung terhenti akibat genggaman gadis itu di tangannya.

“Aku lelah, Sehun-ah…. Aku ingin tidur,” ucap Soojung lemah.

“Kau ingin kuantar ke rumahmu?”

“Aku sedang tidak ingin pulang.”

Sehun mengembuskan napas panjang. Tidak ada tempat lain yang terpikir olehnya selain rumahnya sendiri.

***

Tempat tinggal Sehun adalah rumah bergaya minimalis yang didominasi oleh warna biru laut. Sehun cukup bangga menyebutnya sebagai rumah karena meski jauh dari kesan mewah, bangunan itu adalah hasil rancangannya sendiri. Rumah ini sederhana, tapi tatanannya rapi. Letaknya yang berada di pinggir kota membuat suasana di sini begitu nyaman dan tenang.

Tanpa berusaha membangunkan Soojung lebih dulu, Sehun langsung menggendong tubuh gadis itu ke dalam rumah. Setelah sampai di kamar tidur, diletakkannya tubuh Soojung di atas sebuah ranjang berukuran single kemudian menyelimutinya dengan penuh kasih. Ditatapnya sosok di depannya. Gadis itu terlihat begitu rapuh, sebuah pemandangan yang tidak pernah dilihat pria itu sepanjang mereka saling kenal. Setahunya Soojung adalah gadis mandiri. Dia tidak cengeng. Tapi yang didapatnya sekarang adalah hal yang berbanding terbalik dengan apa yang diketahuinya selama ini.

Pria itu memutuskan untuk tidak tidur. Dia terus duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari ranjang tempat Soojung berbaring sambil menatap wajah lelap gadis di depannya. Selama itu terjadi, bayang-bayang kebersamaan mereka di masa lalu kembali berputar. Sesekali dia tertawa sendiri jika mengingat betapa gadis itu memberi warna cerah dalam hari-harinya. Dia sangat merindukan Soojung ternyata.

***

Soojung menggeliat pelan di atas kasur, berusaha mengumpulkan kesadaran sembari membiasakan matanya dengan cahaya silau yang berasal dari jendela besar tak jauh dari tempatnya berada. Kepalanya pusing dan badannya pun begitu lengket karena keringat. Lalu tiba-tiba ingatan tentang peristiwa hari sebelumnya kembali dalam memorinya. Rangkaian kejadian itu berputar cepat bagai video rekaman di otaknya. Seketika hatinya menjadi seolah diremas. Rasa sakitnya begitu jelas terasa. Hasilnya, air mata gadis itu mengalir lagi, memperparah sakit di kepalanya akibat mabuk semalam.

“Selamat pagi,” sapa sebuah suara. Suara pria yang sangat dikenal Soojung meski hampir setahun belakangan sudah sangat jarang didengarnya.

Soojung segera mengusap matanya, berusaha menghapus air mata yang sempat mengalir. Pria itu melihatnya, tapi dia mengartikan kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang lain. Dipikirnya Soojung hanya sedang menggosok matanya, hal wajar yang dilakukan kebanyakan orang saat baru bangun tidur. Setelah merasa air matanya sudah mengering, gadis itu mengedarkan pandangan menyapu seluruh sudut ruangan yang nampak asing baginya.

“Kau di kamarku.” Seolah bisa membaca kebingungan yang ditunjukkan gadis di depannya, Sehun menjelaskan sebelum Soojung sempat mengeluarkan pertanyaan. “Aku tak tahu harus membawamu ke mana, jadi kuputuskan membawamu ke sini,” tambahnya.

“Kepalaku pusing, Sehun-ah,” ujar Soojung manja. Gadis itu sedikit terkejut mendapati kenyataan bahwa nada manja yang biasanya hanya dia keluarkan saat berbicara dengan kekasihnya, kini dia gunakan di depan sahabatnya, Oh Sehun.

Pria itu terkekeh pelan. “Tentu saja, Nona Jung. Kau mabuk berat semalam. Sekarang mandilah, segarkan dirimu. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua,” ujar Sehun seraya meninggalkan Soojung sendirian di kamar.

Dalam keadaan normal, ketika seorang gadis terbangun di pagi hari dan mendapati seorang pria berada di dekatnya, terlebih lagi setelah malam sebelumnya ia mabuk dan kehilangan kesadaran, gadis itu pasti akan langsung memeriksa keadaan dirinya apakah masih berpakaian atau tidak, sekadar antisipasi jika sang pria berbuat macam-macam padanya. Tapi Soojung merasa dia tidak perlu melakukan itu. Dia percaya bahwa Sehun tidak akan pernah mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaannnya.

Sedikit terhuyung, dia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur tempatnya berada. Ketika selesai, dia membuka lemari pakaian Sehun dan mengambil dengan asal selembar kaos berwarna putih yang ukurannya terlalu besar hingga saat dipakai baju itu terlihat menelan tubuhnya. Ujung kaos itu menjuntai sampai di atas lutut, membuat Soojung membatalkan niat untuk memakai bawahan. Tubuhnya sudah cukup tertutup.

Soojung tersenyum tipis melihat pantulan bayangannya di cermin sedang mengenakan kaos bergambar kucing tersebut, teringat sebuah momen saat Sehun berulang tahun ke-17. Baju ini adalah kado dari Soojung. Saat itu ia tidak tahu ukuran baju yang biasa sahabatnya pakai, jadi daripada pilihannya nanti sempit dan malah tidak berguna sama sekali, Soojung memilih memberinya baju dengan ukuran yang paling besar. Waktu itu Sehun mengomel dan berkata akan membuang baju pemberiannya. Tak disangka, kado darinya malah masih menempati rak baju pria itu.

Soojung melangkahkan kakinya meninggalkan kamar, mencari Sehun yang katanya sedang membuat sarapan. Soojung ingin membantu, tapi niatnya batal ketika melihat Sehun sudah berada di sebuah sofa di depan tv dengan roti bakar dan secangkir minuman yang diyakini Soojung adalah teh. Gadis itu ikut duduk di sofa, tepat di samping Sehun. Tangannya meraih cangkir di hadapannya dan meniupnya perlahan. Dihirupnya teh dari cangkir di tangannya dengan hati-hati sementara Sehun hanya bisa menatap lekat dirinya, menunggu gadis itu bersuara.

“Ini teh melati,” ujar Soojung.

“Kesukaanmu,” sambung Sehun.

Soojung hanya tersenyum tipis mendapati bahwa pria itu masih mengingat minuman kesukaannya, terlebih pada kenyataan bahwa ada minuman ini di rumah Sehun dan bahkan terhidang di hadapannya sekarang. Setahu Soojung, Sehun tidak begitu menyukai teh.

Sehun menangkap pemandangan ketika gadis di sampingnya tersenyum. Melihat itu, entah kenapa dia jadi ingin menatap wajah Soojung lebih lama lagi. Sayang sekali hal tersebut tidak bisa berlangsung sesuai keinginanannya karena di mata Sehun, Soojung terlihat terlalu seksi pagi ini, apalagi dengan bagian leher yang terlalu longgar dari baju yang dipakai gadis itu, membuat bahu sebelah kirinya terekspos bebas. Soojung sebenarnya menyadari hal itu, tapi dia tidak peduli. Dia tidak sadar kalau ketidakpeduliannya secara tidak langsung sedang menguji pengendalian diri pria di sampingnya.

“Kenapa kau menghilang?” tanya Soojung.

“Maksudmu?”

“Jangan bersikap seolah kau tidak tahu maksudku, Sehun-ah. Kau pikir aku tidak sadar kalau selama setahun belakangan kau mencoba menghindariku?”

“Bukan maksudku untuk melakukan itu. Hanya saja aku merasa tidak enak jika kita masih sering bertemu sementara kau sudah bertunangan.” Sehun berusaha mengklarifikasi.

“Bohong.”

“Aku berkata yang sebenarnya, Jung Soojung.”

Kedua orang itu kembali larut dalam keheningan. Sehun memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke layar televisi, menggerutu dalam hati karena begitu bodoh tidak bisa memberi jawaban yang dapat mayakinkan gadis di sampingnya. Dia tahu Soojung tidak akan percaya begitu saja.

Soojung ingin bertanya lagi, dia sama sekali tidak bisa menerima alasan seperti itu. Hanya karena dia bertunangan, apakah itu cukup menjadi penyebab dia harus kehilangan sahabat terbaiknya?

Gadis berambut panjang itu menatap Sehun yang berusaha berkonsentrasi menikmati tayangan di televisi. Tanpa sadar dia mendekatkan tubuhnya dan memilih untuk bersandar di bahu pria itu. “Jangan harap aku akan mempercayai perkataanmu tadi, Sehun-ah. Suatu saat kau harus menjelaskan alasanmu padaku,” ujar Soojung sambil mengalihkan tatapan ke layar selebar 34 inch di depannya, mencari tahu apa yang begitu spesial dari tayangan yang sedari tadi diperhatikan Sehun hingga pria itu tidak menatapnya.

Siaran TV pagi itu sebenarnya sama sekali tidak menarik menurut Sehun. Hanya ada berita pagi dan kartun yang sudah diulang berkali-kali. Dengan asal dia memencet-mencet tombol di remote, berharap degupan jantungnya yang tiba-tiba menggila karena jaraknya yang terlalu dekat dengan Soojung bisa agak mereda. Sebut saja nasib pria itu sial, karena secara tidak sengaja dia menekan tombol untuk menghubungkan DVD player dengan televisi, membuat kaset yang berada di dalam benda elektronik itu berputar dan layar TV menayangkan sesuatu yang tidak seharusnya.

Program berita kini sudah berganti dengan adegan sepasang manusia yang sama-sama tak berpakaian, saling berangkulan sambil menautkan lidah. Panik, Sehun memilih mematikan televisi. Dalam hati dia merutuki kebodohannya yang lupa mengamankan kaset seperti itu setelah menontonnya. Di sampingnya, pandangan Soojung yang awalnya biasa saja kini jadi berbeda. Tayangan itu singkat, tapi sudah cukup untuk membuatnya bisa menebak kelanjutan dari adegan yang ia saksikan. Bayangan tentang tunangannya kembali mengisi otaknya. Semua pria sama saja ternyata.

“Sehun-ah, aku boleh bertanya sesuatu padamu?” ujar Soojung akhirnya.

“Tentu saja.” Sehun menjawab canggung.

“Kau pernah tidur dengan seorang wanita?”

Mata Sehun melebar mendengar pertanyaan gadis itu. Setahunya Soojung adalah tipe wanita yang menganggap topik seperti itu sebagai sesuatu yang tabu dibicarakan antara lawan jenis yang belum menikah. Sehun masih ingat bagaimana ketika kuliah dulu Soojung pernah menyumpal mulutnya dengan bungkus roti karena tidak suka mendengar Sehun dengan gamblangnya membahas hal seperti itu.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya?” tanya Sehun. Sebisa mungkin dia mengontrol suara yang dikeluarkannya agar tetap terdengar biasa saja, meski sebenarnya ada rasa penasaran yang begitu besar untuk mengetahui alasan Soojung bertanya demikian.

“Itu bukan jawaban yang kuminta.”

Pernah. Sekali. Bersama wanita asing yang kebetulan kutemui di bar.

Sehun ingin menjawab demikian. Dia ingin memberitahu bagaimana pertunangan Soojung setahun lalu membuatnya patah hati hingga dia melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

“Pernah.” Akhirnya hanya kata itu yang terucap di bibir Sehun.

Hening untuk sesaat. Dua orang itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Bagaimana rasanya? Apakah menyenangkan?” tanya Soojung lagi, tidak ada nada antusias dalam ucapannya, berbanding terbalik dengan matanya yang menatap Sehun dengan sorot ingin tahu.

“Kalau tidak menyenangkan, bisa kujamin populasi manusia sudah lama punah dari muka bumi ini,” jawab Sehun setengah bercanda, berharap akan ada senyum dari wajah Soojung.

“Kau menikmatinya?” Soojung kembali bertanya penuh keingintahuan, mengabaikan upaya Sehun membuat suasana di antara mereka jadi ringan dengan leluconnya yang sama sekali tidak lucu.

“Kurasa hal seperti itu akan selalu bisa dinikmati bahkan jika kalau melakukannya tanpa cinta. Manusia punya nafsu, kau tahu, kan? Itu saja sudah cukup. Tapi tetap saja, itu akan sangat bermakna jika kau melakukannya bersama orang yang kau cintai.”

Lagi-lagi hening. Soojung jadi terlalu sibuk memperhatikan cairan kecoklatan di dalam cangkirnya, seolah ada sesuatu yang sangat menarik di sana. Di sampingnya, Sehun hanya bisa menatap canggung ke arah gadis itu.

“Bagaimana kalau kau melakukannya denganku? Apakah akan bermakna?”

Soojung menyunggingkan senyum saat menanyakan itu. Sebenarnya dia hanya ingin mengikuti apa yang dilakukan Sehun. Pikirnya, dengan bercanda seperti itu, ia bisa mencairkan kekakuan yang hadir akibat topik ini.

Di mata Sehun, senyuman tipis itu terlalu misterius, hingga dia berpikir bahwa Soojung tengah mempermainkan dirinya. Ia mulai tidak sabar mendengar pertanyaan aneh yang bertubi-tubi meluncur dari bibir Soojung. Dengan suara yang tanpa disadari meluncur sedikit lebih tinggi dari yang ia harapkan, pria itu bertanya, “Kau ini kenapa?”

“Tunanganku menghamili wanita lain.” Soojung memulai cerita dengan suara yang sangat pelan. Terdengar jelas kesan sakit hati yang mendalam dari ucapannya, tapi gadis itu memutuskan untuk melanjutkan ceritanya. “Selama kami berhubungan, dia memang pernah beberapa kali memintanya dariku, tapi aku tidak pernah mau. Di depanku, dia menerima keputusanku dan berkata akan menghargainya. Aku pikir dia akan bersabar. Kenyataannya kami juga sudah merencanakan untuk menikah, hanya tinggal masalah waktu untuk hal itu. Sayangnya harapanku terlalu tinggi. Di belakangku, dia menjalin hubungan dengan wanita lain. Dan kemarin, saat kami baru saja pulang dari butik untuk fitting gaun pengantin, wanita itu datang.”

Sehun hanya bisa menatap Soojung dengan prihatin. Dia tahu betul bagaimana Soojung bahagia dengan pertunangannya, bagaimana senyumnya begitu lebar saat mengenalkan pria itu kepadanya, serta bagaimana mukanya merona setiap kali membicarakan pria itu.

“Aku ingin mengabaikannya. Aku bisa saja mengabaikan wanita itu, tapi aku tidak bisa mengabaikan janin dalam kandungannya.”

“Jadi?”

Tidak ada jawaban verbal yang di dapatkan pria itu. Hanya air mata yang menggenang di pelupuk mata Soojung yang menjawab pertanyaannya.

Tanpa ragu Sehun mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, merangkul bahunya dengan erat, dan sesekali mengelusnya pelan, berharap hal sederhana ini bisa sedikit meredakan sakit hati yang diderita Soojung.

Air mata Soojung jatuh lagi, hatinya pedih, tapi sentuhan lembut pria di sampingnya memberi rasa tenang tersendiri bagi gadis itu. Dalam pelukan Sehun, dia mendapatkan rasa aman, seolah beban akibat pertunangannya yang batal terangkat secara perlahan. Lalu tiba-tiba sesuatu hinggap di pikirannya. Sesuatu yang gila, namun lolos begitu saja dari mulutnya.

“Lakukan padaku, Hun-ah,” pintanya. Berbeda dengan saat pertama kali dia mengatakan hal itu, kali ini matanya juga ikut berbicara. Tatapan itu dengan jelas menyatakan bahwa Soojung serius dengan ucapannya.

Refleks Sehun melepaskan pelukannya, mendorong pelan bahu gadis itu hingga tubuhnya terhempas ke sandaran sofa.

“Kumohon jangan menolakku, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya,” ujar Soojung. Air matanya yang sempat mengering karena rangkulan Sehun kini kembali mengalir.

Sebetulnya memenuhi permintaan Soojung bukanlah sebuah hal yang sulit bagi Sehun. Dia mencintai gadis itu, lahir batin dia menginginkan Soojung menjadi miliknya. Bahkan untuk malam yang pernah dilaluinya bersama wanita lain, Soojung-lah yang dia bayangkan. Kini gadis itu sendiri yang datang padanya, memintanya melakukan sesuatu yang memang diinginkannya. Terlalu sulit baginya untuk menghindar.

Tapi pemikiran bahwa Soojung sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja membuat Sehun mati-matian menahan diri. Akan sangat berdosa jika dia mengambil kesempatan di tengah keputusasaan yang melanda gadis itu.

Sehun ingin sekali berseru kencang, mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak pernah bermaksud dan tidak akan pernah berniat menolak gadis itu. Alih-alih bersuara, yang ada justru tangannya bergerak pelan ke mata Soojung yang sembab. Diusapnya air mata Soojung dengan ibu jarinya. Lembut dan penuh kasih, itulah kesan yang didapatkan Soojung dari sentuhan Sehun.

“Kau wanita baik. Kau pantas bahagia. Berhentilah menangis,” bujuk Sehun.

Perkataan Sehun barusan menyadarkan Soojung pada satu hal yang tidak pernah dilihatnya dari pria itu sebelumnya. Soojung tidak tahu harus menyebutnya apa, yang jelas mendadak ada sesuatu yang aneh dengan aliran darahnya, dan dia yakin itu akibat dari jantungnya yang berdetak tidak normal. Ditatapnya wajah Sehun, seolah mencari sesuatu dalam tatapan pria itu. Sehun balas menatapnya. Mata mereka bertemu, tangan merekapun saling menggenggam kini.

Soojung merasa tatapan pria di depannya begitu mengikat sehingga dia tak mampu untuk mengalihkan pandangan dari sepasang mata teduh itu. Genggaman tangan mereka yang erat dan hangat membuat Soojung seakan bisa mendengar suara debaran jantungnya sendiri.

Sehun bisa saja langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya kemudian menciumnya dengan posesif, mencurahkan segara rasa dan hasrat yang selama ini dipendamnya. Namun dia lebih memilih mendekatkan wajahnya perlahan, memberikan waktu pada Soojung jika gadis itu ingin menolaknya.

Sampai kedua bibir tersebut bertemu, tanda penolakan itu sama sekali tidak muncul. Ciuman mereka terasa asin karena bekas air mata Soojung. Tapi bukannya melepaskan pertautan bibir mereka, Sehun malah menciumi Soojung lebih dalam. Dia tak berkata apa-apa lagi, pengendalian dirinya terlepas sudah.

Tangan kanannya yang tadi menggenggam tangan Soojung sudah beralih ke bagian pinggang, sementara yang kiri berada di pundak Soojung. Sebenarnya ia ingin memegang tengkuk gadis itu. Hal demikianlah yang biasanya dia lakukan pada wanita lain yang pernah diciumnya. Baginya memegang tengkuk seorang gadis sama saja dengan sebuah cara untuk mengekang agar yang kau cium tidak menghindar dengan tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia bisa melakukan hal itu lagi, namun dengan Soojung berbeda. Dia memberikan kebebasan sepenuhnya bagi Soojung untuk mengakhiri ciuman mereka kapan saja gadis itu menginginkannya.

Alih-alih berhenti, gairah Soojung malah tersulut akibat ciuman Sehun. Ciuman itu lembut dan tidak menuntut, manis sekaligus menggairahkan, membuat Soojung menginginkan lebih. Sebisa mungkin dia menahan diri agar desahannya tidak terdengar. Itu memalukan, pikirnya.

Bayangan beberapa ciuman yang pernah dia lakukan sebelum ini berkelebat di benak Soojung. Itu dia lakukan dengan orang yang menurutnya dia cintai tapi kenapa rasanya tidak sama? Kali ini detak jantungnya lebih tidak terkendali. Dia juga teringat bagaimana tangan tunangannya dulu akan bergerak liar menjelajahi tubuh Soojung ketika ciuman seperti ini berlangsung serta bagaimana dia dengan halus akan menepis tangan tunangannya itu. Sekarang bersama Sehun yang bahkan tak menggerakkan tangan dari pinggang dan pundaknya, gadis itu malah menginginkan sentuhan yang lebih intim. Dituntunnya tangan Sehun menuju dadanya dan Sehun menuruti keinginan Soojung. Lagi-lagi kesan sabar dan tidak tergesa-gesa yang didapatkan gadis itu.

Soojung merasa otaknya sedang tidak beres. Baru kemarin dia mengalami patah hati. Sampai beberapa menit lalu, air matanya masih mengalir akibat pengkhianatan tunangannya. Sekarang dia sudah berciuman dengan pria lain, seseorang yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat. Sama sekali bukan hal yang wajar. Dan munculnya keinginan untuk merasakan lebih membuatnya mantap dengan kesimpulan yang ditariknya. Dia sudah tidak waras.

Di lain pihak, Sehun menyadari dirinya sudah mulai hanyut dalam keadaan. Soojung benar-benar menguji pengendalian dirinya. Awalnya dia pikir Soojung akan meminta berhenti dengan sendirinya setelah ciuman mereka berlangsung cukup lama, tapi yang dia dapati malah gadis itu memberinya kesempatan untuk berbuat lebih jauh. Dia salah karena sempat lupa bahwa Soojung bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan apa yang dikatakannya.

Pertautan bibir antara keduanya terhenti setelah Sehun memutuskan mengalihkan ciumannya ke daerah di sekitar kuping Soojung. Dibauinya bagian itu, membuat Soojung menggelinjang kegelian. Desahan yang sempat ditahannya kini terlepas, menghasilkan suara yang begitu indah di telinga Sehun. Dia puas dengan respon yang diberikan gadis itu atas perlakuannya dan memutuskan untuk bermain lebih lama di sana. Soojung ingin menghindar ketika lidah Sehun menyapu kulit lehernya, tapi lagi-lagi rasa ingin tahunya menang. Dia percaya tidak akan ada perlakuan kasar dari pria yang sedang mencumbunya itu. Sebagai gantinya, dia mencengkram pundak Sehun, seakan mencari tempat bertumpu karena tubuhnya semakin merosot ke dudukan sofa.

Tubuh Sehun sudah berada di atasnya kini. Sehun sibuk menenggelamkan kepalanya di bahu Soojung, menghisap satu titik di sana sementara tangannya ditumpukan di kedua sisi tubuh Soojung. Saat ini Sehun belum berani menggerakkan tangannya ke bagian lain. Pada dirinya sendiri, dia berjanji sebisa mungkin tidak melakukan hal yang terlalu berlebihan seperti yang biasa dilihatnya di film-film. Ini pertama kalinya bagi Soojung. Dia ingin semua berjalan indah bagi gadis itu.

Bau sabun yang menyeruak dari tubuh yang sedang dicumbunya membuat otak Sehun tidak bisa bekerja dengan baik untuk sementara waktu. Soojung pun demikian. Sentuhan-sentuhan Sehun membuat dia merasa hilang.

Sehun asyik menelusuri tubuh Soojung dengan bibir dan tangannya sementara gadis itu cuma bisa menggerakkan kepalanya untuk meredam sistem kerja tubuhnya yang sudah sangat menggila. Soojung ingin menggerakkan tangannya ke bagian lain selain pundak dan punggung Sehun, tapi rasa ragu serta malu menyelimuti benaknya. Karena itu, dia memutuskan untuk menjadi pasif, membiarkan hanya Sehun saja yang berinisiatif. Dia akan menerima apapun itu.

“Sehun-ah, sebenarnya ada apa dengan diriku?” tanya Soojung setelah bersusah payah mengendalikan napasnya.

Tentu saja kening Sehun berkerut karena mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan itu tidak butuh jawaban dari orang lain. Bukankah hanya Soojung sendiri yang bisa menjawabnya?

Soojung terlalu sibuk berputar dalam kebingungan ketika ia menyadari bahwa kaos yang digunakannya sudah tertarik hingga ke perut, membuat paha polosnya terpampang dengan jelas. Hanya sebuah kain tipis yang membatasi tangan Sehun dengan daerah paling pribadinya.

Sehun merutuki tangannya yang begitu lancang, tapi bukankah gadis di depannya yang memintanya melakukan itu? Bagaimanapun dia cuma pria biasa. Dia bisa saja menghindar, menipu keinginannya untuk menjamah Soojung jika saja Soojung tidak memberinya kesempatan berbuat sejauh ini. Sedari tadi dia sudah memberi Soojung kesempatan untuk menghentikannya, namun penolakan itu sama sekali tak muncul. Dia sudah sampai di sini, haruskah dia berhenti?

“Lakukanlah,” Soojung berkata pelan, seolah bisa membaca keraguan yang melintas di benak Sehun.

Suara itu lembut dan merdu, nadanya lebih terkesan memohon daripada sekadar berujar. Namun alih-alih melanjutkan apa yang tengah ia lakukan, kalimat Soojung justru membuat akal sehat Sehun perlahan berbicara. Pengendalian dirinya yang sempat terlepas sudah kembali kini. Dia tidak ingin meneruskan apa yang sedang diperbuatnya sekarang. Dia terlalu menyukai gadis itu hingga tidak tega merusaknya.

Ditatapnya sosok pasrah di depannya. Soojung sudah berbaring setengah telanjang di atas sofa. Satu hentakan bisa membuat kaos longgarnya terlepas dengan mudah. Sehun tahu, apapun yang dia lakukan saat ini, gadis itu tidak akan berontak. Tapi hatinya melarang dia melakukan itu.

“Kenapa kau berhenti?” Soojung bertanya kebingungan di tengah helaan napasnya yang terasa berat. Susah payah dia mengontrol koordinasi antara pita suara dan bibirnya agar mampu berbicara.

“Aku tidak bisa melakukan ini padamu,” jawab Sehun sembari berjalan menjauh dari sofa. Dia mendekati jendela, menatap kosong pemandangan yang muncul di hadapannya.

Soojung mengikuti arah pandangan Sehun namun tak menemukan sesuatu yang menarik di sana. Dia kembali merasa tertolak. Padahal mereka sudah sejauh ini. Ataukah Sehun bosan karena sedari tadi Soojung tidak melakukan apa-apa? Mendadak dia gelisah merutuki keputusan yang diambilnya. Tahu begini dia beranikan saja dirinya untuk balas meraba Sehun tadi.

“Kenapa?” Soojung kembali bertanya dengan penasaran, menuntut penjelasan lebih dari lelaki berbadan tegap di hadapannya. Ada  rasa takut yang melintas di benaknya, bahwa sebagai wanita dia begitu payah, bahwa sentuhan-sentuhan yang baru saja didapatkannya hanya wujud rasa kasihan dari Sehun dan sahabatnya itu tidak bisa mengasihaninya lebih.

Sehun menangkap raut aneh dari wajah gadis di depannya, maka sebelum pikiran Soojung melayang lebih jauh, dia putuskan membelai pipinya dengan lembut, memberi tanda bahwa dia tidak berniat menolak gadis itu. “Aku tidak bisa, Soojung. Bukan karena aku tidak menginginkanmu, tapi karena kau terlalu berharga untuk diperlakukan seperti ini.”

Soojung menatap Sehun dan hanya bisa diam. Dia tidak bisa menangkap inti dari ucapan pria itu. Kalau Sehun menginginkannya, kenapa dia berhenti? Kalau bagi Sehun dirinya memang berharga, kenapa berulang kali pria itu membuatnya merasa tidak diinginkan?

“Kalau kau mengizinkan, aku ingin mengambilnya di saat yang tepat dan dengan cara yang lebih layak.”

Soojung mengerjap pelan, berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.

“Jadilah wanitaku,” ujar Sehun kemudian, memberi penegasan atas apa yang dia ucapkan sebelumnya.

Di tengah pikiran yang masih kacau, Soojung memberanikan diri menatap pria itu lagi. Dia percaya bahwa mata tak pernah berbohong, dan di mata Sehun, Soojung seakan melihat masa depannya. Dia bisa menangkap ketulusan dalam ucapan pria itu.

Dadanya  berdebar semakin tak menentu dan perutnya bergejolak. Sistem kerja organnya jadi tak terkendali, akibatnya air mata lolos begitu saja membasahi pipinya. Seketika bayangan menua bersama seorang Oh Sehun berkelebat begitu jelas di kepalanya dan dia tersenyum karena itu.

Sehun heran dengan ekspresi gadis di depannya. Dia menangis lagi, tapi di saat bersamaan dia juga tersenyum. Sehun ingin mengartikan air yang menetes dari mata indah Soojung sebagai air mata bahagia, namun dia tidak berani berharap. Yang bisa dia lakukan hanya kembali mengusap air mata Soojung dengan ibu jarinya. “Uljima,” ucapnya lembut.

Babo!” ujar Soojung sambil terisak. Tangannya meraih tangan Sehun yang berada di wajahnya. Diraba dan ciuminya tangan itu, tangan yang selalu ada untuk menghapus air matanya, tangan dari seorang pria yang begitu menghargainya. “Jeongmal baboya!” Soojung berkata lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Kenapa Sehun-ah? Aku sudah menyerahkan diriku padamu, kenapa kau malah berkata seperti tadi? Kenapa pria jahanam itu tidak bisa sesabar kau?” Gadis itu kembali berujar, seolah ingin menumpahkan semua perasaan yang terpendam dalam hatinya.

“Lupakan dia, pria itu tidak pantas untukmu.”

Soojung membatin. Apalagi yang dia harapkan? Jika dia menginginkan orang yang bisa memahaminya, Sehun-lah orangnya. Pria itu menghargainya. Pria itu menawarkan masa depan yang indah untuknya. Soal rasa cinta yang belum dia yakini keberadaannya? Sepertinya jatuh cinta pada seorang Oh Sehun bukanlah sebuah perkara sulit. Dia hanya tidak pernah mencoba. Sepanjang pagi ini Sehun tidak henti-hentinya membuat aliran darah Soojung jadi tak biasa. Pria itu bahkan bisa membuatnya merasa bahagia saat dikiranya sakit di hatinya akan berlangsung berhari-hari. Hanya tinggal menunggu waktu sampai rasa cinta itu menjadi nyata dan Soojung sepenuhnya yakin bahwa hal tersebut tidak akan lama.

Pemikiran seperti itu membuat Soojung tak ragu untuk menganggukkan kepala, memberikan jawaban untuk dua permintaan Sehun sebelumnya. Ya, dia bersedia  menjadi pendamping Sehun dan melupakan pertunangannya yang kandas.

Anggukan itu membuat Sehun refleks tersenyum dan melingkarkan lengannya di tubuh Soojung. Dada mereka penuh sesak oleh perasaan yang butuh diluapkan, maka detik selanjutnya bibir keduanya kembali menyatu. Tidak lama. Hanya sebuah sentuhan singkat tapi berdampak sangat besar bagi mereka.

“Sehun-ah…,” panggil Soojung.

Sehun menjawabnya dengan gumaman.

“Terima kasih,” ujar gadis itu. Tampak jelas ketulusan di matanya.

Sehun ingin menjawab, tapi ia tak tahu harus berkata apa. Sama-sama? Menurutnya itu sama sekali tidak tepat. Baginya, justru dialah yang harus berterima kasih atas penerimaan gadis itu. Pada akhirnya justru tubuhnyalah yang kembali bertindak. Diberikannya senyum terbaik yang bisa dia lakukan kemudian dikecupnya puncak kepala Soojung dengan penuh kasih.

“Aku sudah tak sabar ingin menyematkan margaku di depan namamu.”

End

Author’s Note:

  • Recycle. Ditulis pertama kali dengan judul Naui Yeoja dengan cast Lee Donghae x OC. Ditulis ulang dengan cast Oh Sehun x Jung Soojung because I’m madly in love with SeStal and lately I can’t find any good SeStal fanfic and I’m dying to see them being lovey dovey even just in a fanfic (because we all know they can’t do it in real life). They’re just too adorable, aren’t they?
  • This is a total crap, I know, but who cares? 😀
  • Ada pengurangan dan penambahan adegan dari versi asli yang ratingnya NC-17 /plak/
  • And I also had Wafer Crush  from Poster Channel made me this beautiful poster.let-me-call-you
Advertisements

9 thoughts on “Let Me Call You Sweetheart

  1. aaaaaaaaaa sehun baik banget. manly banget pokoknya waktu jawab pertanyaan dari soojung. beruntung banget soojung. makin cinta deh. thor, pesan satu yang kayak sehun boleh? hehehe

  2. Kalau yg kaya gini aja kamu bilang total crap, gimana yang non crap, kak? Asli sehun sweet bgt di sini. Semacam nikahinable bgt. Siapa aja pasti mau jadi soojung. Gak apa2 lah pertunagan putus gara2 si tunangan ngamilin cewe lain. Kalau dpt gantinya kayak sehun juga pasti ikhlas~ ❤

  3. HOW COULD YOU MAKE OH SEHUN THIS SWEEEEET AND LOVABLE AND NIKAHINABLE, KAK!! #gaknyante
    Aku juga mau, Hun, nyelipin margamu di depan namaku 😍😍😍

  4. Setelah di ff sebelumnya sehun dan krystal gak pernah dpt semacam ending bahagia, akhirnya di sini mereka dapat ending berbunga-bunga. Itu sehun padahal udah tinggal dikit lagi bisa jadi ‘yang pertama’ buat krystal, tapi bisa-bisanya dia nahan diri karena pengen mengambilnya di waktu dan saat yang tepat. Damn! Ada gitu ya cowo macam sehun di dunia. Krytal udah nyerahin diri gitu padahal. Cintaaaaaa bgt sm sehun di sini.

  5. Donghae be like, “kalo gue gak bisa eksis jadi pemeran utama di ff mu, jadi cameo juga gak apa2.”

    Tulisan-tulisanmu yang lama emang indah gitu ya kak ceritanya. Membahagiakan hati bgt abis baca cerita ini. Coba deh kak ff lamamu di recycle aja semua, pasti yang baca jadi gemes.

    1. Iya dong.. Aku nanti bisa dipecat jd calon istri idaman kalo bikin ff gak masuki nama donghae biarpun jadi cameo. Itu saking niatnya pengen bikin dia ngeksis, aku tambahin adegan yg sebelumnya sama sekali gak ada.
      Ah, setelah dipikir2, memang ff lamaku itu manis gimana gitu. Aku juga gak nyangka pernah punya imajinasi seindah itu. Haha.. Tp penulisannya masih ancur bgt. Kalo direcycle juga sama aja bikin baru saking ancurnya 😂😂😂

  6. aw… just aw… because oh sehun why so sweeeeet????!
    aku suka closurenya. soojung gak yang tiba2 langsung cinta, tapi dia menerima sehun karena sadar bahwa cowo itu yang terbaik.
    aku menunggu sekuel, pengen tahu masa si mana soojung udah benar2 jatuh cinta sama sehun. pasti makin unyu aja mereka berdua.

  7. seharusnya di author notenya ditambahin kalimat kaya gini: ff ini bisa mengakibatkan diabetes saking manisnya >///<
    jadi makin cinta aja sama sehun abis baca ff ini. coba makhluk kaya gini dijual bebas di minimarket, udah aku beli pasti. hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s