how-is-late-is-too-late-1

Jessica Jung & Lee Donghae || Twoshots || Romance, Angst, AU || G

.

.

I know that I let you down

Is it too late to say I’m sorry now?

***

“Benar sekali, kami memang sangat dekat. Aku bahkan sudah menganggap Jessica unnie sebagai saudara kandungku.”

Jessica merasa ada dorongan untuk segera memuntahkan isi perutnya mendengar kalimat itu begitu lugas meluncur dari bibir Tiffany. Tapi Jessica adalah seorang artis profesional, dan kemampuan aktingnya jelas lebih baik dibanding Tiffany. Karena itu, alih-alih menunjukkan kebenciannya pada mantan rekan satu grupnya itu, dia langsung memasang senyum terbaiknya dan meraih pergelangan tangan Tiffany, menggenggamnya erat.

“Tiffany selalu baik kepadaku sejak awal kami berkenalan. Masa-masa trainee yang melelahkan jadi selalu lebih berwarna karena dirinya,” ujar Jessica sembari tersenyum ramah kepada wartawan yang sejak tadi sibuk merekam kebersamaan dua idola itu.

Jessica dengan santai memperkuat perkataannya dengan menceritakan lelucon-lelucon payah yang sering dilontarkan Tiffany untuk membuatnya tertawa, bagaimana dirinya dan Tiffany dulu sering berbagi makanan saat sedang latihan, serta bagaimana mereka menangis sambil berpelukan ketika tiba malam di mana mereka benar-benar rindu kepada keluarga.

Seolah bisa membaca keadaan, Tiffany menimpali cerita itu dengan tertawa malu-malu sambil sesekali menepuk pelan pergelangan tangan Jessica, tepat di mana jarum infus menancam. Jessica berani bersumpah bahwa Tiffany melakukan itu dengan sengaja. Mengingat bagaimana mereka saling membenci satu sama lain, kegiatan saling menyakiti seperti itu terasa sangat wajar bagi keduanya.

Kisah yang diceritakan Jessica tentu saja tidak pernah terjadi. Jessica sudah menaruh rasa tidak suka terhadap gadis yang lebih muda setahun darinya itu tidak lama setelah perkenalan mereka. Sikap Tiffany yang suka mencari perhatian para sunbae membuat Jessica muak padanya sejak awal. Bagi Jessica, gadis di depannya itu tidak lebih dari seekor ular berkepala dua yang siap menikammu kapan saja demi kepentingan pribadinya. Jessica merasakan betul hal itu saat Tiffany dengan lidah berbisanya mempengaruhi pihak perusahaan untuk memecat Jessica dari grup hanya karena gadis itu terlibat skandal kencan dengan seorang politisi yang sudah berkeluarga.

“Apa yang begitu salah dari perbuatan Jessica unnie?” sahut Tiffany ketika pertanyaan wartawan mulai beralih dari topik masa pradebut ke alasan utama mereka melakukan wawancara ekslusif ini. Wajah gadis itu tampak defensif ketika dia menambahkan, “Kalau kau jatuh cinta, bukankah semua hal yang tidak masuk akal bisa kau lakukan begitu saja tanpa banyak pertimbangan? Kurasa, kalau suatu saat aku menemukan pria yang benar-benar bisa membuatku tergila-gila, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jessica unnie dengan pria itu.”

Jessica benar-benar merasa mual mendengar pernyataan gadis di sampingnya. Kalau bukan karena pengacaranya memaksa untuk melakukan wawancara ini demi memperbaiki citranya yang terlanjur rusak di mata masyarakat, Jessica tidak akan pernah sudi lagi berada di dalam frame yang sama dengan mantan rekannya itu. Kalau ucapan seseorang bisa mendatangkan kanker, Jessica yakin dirinya sekarang sudah mati karena mendengar semua kebusukan dalam perkataan Tiffany. Satu-satunya alasan dia bersyukur telah dipecat dari grup yang membesarkan namanya adalah karena dia bisa menjauh dari omong kosong gadis yang terkenal dengan eye smile-nya itu.

Sambil memamerkan senyum dingin yang menjadi trademark-nya, Jessica menambahkan perkataan Tiffany dengan mengutip sebaris kalimat dari drama yang pernah ia tonton, bahwa siapapun, tidak peduli jabatan atau profesi, bisa mendadak jadi tolol hanya karena sebuah perasaan cinta. Dia berhasil membuat suasana di ruangan itu mendadak melankolis dengan menunduk selama beberapa lama, seolah menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Menyadari bahwa perhatian kini tertuju kepadanya, Jessica kembali mendongak, menatap kamera sambil memaksakan seulas senyum, kemudian berkata, “Aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan bersama Tuan Kim. Kalau aku tahu hubungan kami akan merusak karier politiknya, aku pasti akan lebih memilih memendam perasaanku dan terluka seorang diri.”

Wartawan yang awalnya tampak sedikit skeptis kini mulai tersentuh dengan perkataan Jessica. “Lalu kariermu? Kita tahu betul bagaimana perjuanganmu hingga akhirnya bisa debut sebagai seorang idola.”

Jessica tertawa kecil. “Karierku tidak ada apa-apanya dibanding apa yang harus terenggut dari Tuan Kim karenaku.”

Tiffany mengeratkan genggamannya di tangan Jessica, seolah ingin menguatkan gadis itu. Kenyataannya, genggaman itu terlalu kuat hingga Jessica harus menahan diri untuk tidak meringis.

Demi memuluskan sandiwaranya, alih-alih mendelik sebal, Jessica justru tersenyum ke arah Tiffany. “Setidaknya, meski perusahaan kini memutuskan untuk tidak lagi mempekerjakanku dan masyarakat menilaiku begitu buruk, tapi aku bersyukur masih punya seorang sahabat yang akan selalu mendukungku apapun yang terjadi,” ujarnya sembari membuka lebar tangannya demi merangkul bahu Tiffany yang duduk di atas bangku kayu di sampingnya.

Wartawan yang meliput tentu saja tidak ingin kehilangan momen itu dan langsung menyorot kedua gadis di depannya demi mengabadikan adegan yang menurutnya mengharukan itu. Dia sudah memutuskan bahwa gambar inilah yang akan dipasang di halaman pertama korannya besok.

“Persahabatan kalian sungguh membuat orang lain iri,” wartawan itu berkomentar setelah kegiatan saling memeluk itu selesai.

Wawancara itu kemudian berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain seputar skandal yang melibatkan Jessica.

Sebulan sebelumnya, media mendadak dihebohkan oleh foto Jessica yang sedang berada di dalam mobil yang sama dengan seorang pria yang belakangan diketahui sebagai seorang politisi muda. Pria itu digadang-gadang akan mencalonkan diri sebagai walikota di salah satu provinsi pada pemilihan umum dua tahun lagi. Masalah ini sebenarnya tidak akan begitu rumit jika saja dia tidak berstatus sebagai suami orang lain.

Secepat berita beredar, maka secepat itu pula masyarakat bereaksi. Ada yang menganggap bahwa foto itu hanya rekaan untuk menjatuhkan popularitas politisi tersebut, mengingat betapa masyarakat mengidolakan dirinya. Tapi munculnya foto lain yang menampilkan dirinya dan Jessica sedang berpelukan mesra di dalam kelab malam membuat amarah semua orang tersulut. Kalau sebelumnya sebagian orang masih menaruh prasangka baik terhadap mereka berdua, maka setelah foto itu beredar, semua orang seolah menganggap mereka sebagai sampah.

Pria itu terpaksa mengundurkan diri dari partai, digugat cerai oleh istrinya, dan terancam menjadi gelandangan karena uang yang sudah terlanjur ia gelontorkan untuk biaya kampanye ternyata berasal dari pinjaman bank—yang jelas sudah tidak bisa lagi ia kembalikan mengingat elektabilitasnya yang menukik tajam. Sedangkan Jessica, dia dipecat secara tidak hormat dari perusahaan yang menaunginya selama ini, tepat di saat dia akan merilis album solo perdananya. Semua kontrak iklannya dibatalkan, bahkan beberapa perusahaan yang produknya sudah terlanjur diiklankan dengan Jessica sebagai model, menuntut ganti rugi kepada gadis itu.

Jessica cukup beruntung karena selama tergabung dalam grup yang sama dengan Tiffany, dia berhasil membangun citra yang memungkinkannya mempunyai sejumlah fans fanatik. Jessica menduga, fans itulah yang membawa Tiffany ke tempat ini.

Memang bukan rahasia lagi di kalangan para penggemar kalau persaingan antara keduanya adalah yang paling ketat dibanding anggota grup mereka yang lain. Ketika Jessica mendapat kesempatan membintangi sebuah drama musikal, Tiffany akan mengusahakan segala cara agar bisa mendapatkan peran dengan level serupa di dalam drama berbeda. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Ketika Tiffany mendapat tawaran iklan untuk sebuah produk ternama, Jessica membujuk—kalau tidak mau dikatakan mendesak—pihak perusahaan untuk mengikutkannya dalam syuting iklan tersebut. Dia tidak terlalu peduli dengan penghasilan, sebenarnya. Yang utama adalah menunjukkan dominasinya atas Tiffany.

Maka, ketika akhirnya Jessica terlibat skandal ini, para penggemar mau tidak mau menuding bahwa Tiffany-lah yang membocorkan berita itu kepada wartawan. Dengan mencocokkan segala macam foto dan artikel, mereka berhasil menggiring opini sebagian orang untuk percaya bahwa gadis ber-eye smile itulah yang menjadi dalang di balik berita heboh ini. Puncaknya adalah beberapa hari yang lalu, ketika beberapa remaja yang merupakan penggemar garis keras Jessica menyerang Tiffany yang sedang syuting sebuah video klip untuk proyek solo album terbarunya. Pihak perusahaan pasti menganggap itu sebagai sesuatu yang serius karena akhirnya di sinilah Tiffany, menemani Jessica melakukan wawancara, memamerkan persabahatan palsu mereka dengan harapan orang-orang akan lagi-lagi tertipu.

Jessica menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan wartawan sesuai dengan apa yang diperintahkan pengacaranya. Dia membuat dirinya tampak lemah hingga orang-orang merasa ingin melindunginya. Riasan minimalis yang tadi disapukan ke wajahnya—dia sengaja mengundang seorang make-up artist profesional demi memperkuat citra menyedihkan yang ingin ia bangun—juga membantu gadis itu untuk tampil sangat rapuh hingga wartawan yang mewawancarai mereka merasa harus berdeham demi mencairkan atmosfir aneh yang melingkupi mereka setelah Jessica menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

Faktanya, gadis itu memang tidak perlu riasan dalam bentuk apapun untuk membuat dirinya terlihat lemah. Jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kanannya saja sudah menjelaskan bahwa gadis itu memang benar tidak dalam keadaan fisik yang baik-baik saja. Stress akibat semua masalah yang menderanya membuat Jessica harus dirawat intensif di rumah sakit. Dokter mendiagnosa bahwa dia terlalu lelah hingga mengalami gangguan psikosomatik ringan.

“Salah satu kebiasaan buruk Jessica unnie adalah memaksakan diri untuk selalu tampak tegar,” imbuh Tiffany ketika wartawan meminta pendapatnya mengenai penyakit yang diderita Jessica. Gadis itu melayangkan sebuah senyum penuh kasih kepada gadis yang dipanggilnya dengan sebutan unnie, kemudian menambahkan, “Kadang menjadi tidak baik-baik saja itu juga perlu. Kau tahu, kan, seperti lagu yang biasa kita nyanyikan—”

Tiffany lalu menyambung perkataannya dengan menyanyikan sebaris lirik dari lagu Who You Are milik Jessie J sembari menatap lembut ke arah unnie-nya. Lagi-lagi, tidak pernah ada kisah dia dan Jessica menyanyikan lagu itu bersama, tapi lagi-lagi, keduanya terlalu pandai bersandiwara hingga tanpa skenario pun, Jessica bisa langsung membaca keadaan. Dia, dengan suaranya yang sedikit parau karena pengaruh obat, ikut bersenandung mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan gadis di sampingnya itu.

Jessica akhirnya memilih untuk pura-pura batuk karena sudah terlalu muak dengan sandiwara ini. Dia memiringkan wajahnya sedikit, membelakangi kamera yang masih tampak berkedip-kedip menyorotnya, mengabadikan semua perbuatannya. Saat itulah dia menangkap keberadaan seorang pria yang berdiri sambil bersedekap di depan pintu kamarnya. Jessica tidak tahu sejak kapan pria itu berada di sana, tapi melihat senyum nakal yang tersungging di bibirnya, dia pasti sudah berada cukup lama untuk bisa menyaksikan jalannya sandiwara Jessica.

Pria yang mengenakan jaket putih itu mengetuk pintu kayu yang sejak tadi memang sengaja dibiarkan terbuka, membuat tiga orang lain yang berada di ruangan yang sama dengan Jessica turut menyadari keberadaannya. Sambil menenteng papan berpenjepit yang menjadi alas bagi kertas-kertas yang diyakini Jessica sebagai catatan kesehatan pasien, pria itu melangkah menuju ranjang yang terletak dekat dengan jendela.

“Saya mohon maaf, tapi sepertinya Nona Jung sudah harus beristirahat sekarang,” ujarnya kepada dua orang wartawan yang ada di depannya. Pria itu tidak lupa menambahkan seulas senyum basa-basi untuk mengakhiri kalimatnya.

Sepenuhnya paham, wartawan itu memilih menyudahi wawancaranya dengan meminta Jessica dan Tiffany berfoto bersama. Buket bunga lili yang tadi dibawa Tiffany menjadi latar yang cantik untuk foto itu.

Sebelum meninggalkan ruangan, Tiffany lagi-lagi berujar manis kepada Jessica, meminta gadis itu untuk menjaga kesehatannya. Adegan itu tentu saja sudah tidak terekam kamera, tapi wartawan yang mewawancarai mereka tadi masih belum melangkah terlalu jauh dan ia memperkirakan perkataannya barusan masih akan terdengar oleh setidaknya satu dari wartawan itu. Terlebih lagi, dokter yang menangani Jessica ada di ruangan itu. Dia tidak ingin mengambil resiko apapun.

“Tolong rawat Jessica unnie baik-baik,” ujar Tiffany kepada dokter yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu melirik papan nama yang terpasang di jaket sang dokter, mendapati huruf-huruf yang membentuk kata Lee Donghae di sana. Sembari memamerkan senyum manisnya, dia berujar, “Hubungi aku kalau ada sesuatu, Dokter Lee.”

“Tentu saja, Nona Hwang.”

Setelah itu, Tiffany berlalu, meninggalkan Jessica dan dokternya di dalam ruangan tak seberapa luas yang didominasi warna putih itu.

Bagi Jessica, Lee Donghae bukan hanya seorang dokter. Pria itu adalah seorang teman lama sekaligus cinta pertama. Mereka sudah saling mengenal sisi buruk masing-masing. Karena itu, begitu rekan mantan satu grupnya menghilang dari balik pintu, Jessica langsung berujar sinis, “Cih, dia meminta dihubungi tapi tidak meninggalkan kartu nama. Wanita itu benar-benar pandai mencari muka.”

Donghae tertawa kecil mendengar umpatan penuh kebencian itu. Rasanya seperti nostalgia ke masa sepuluh tahun lalu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat sisi Jessica yang pemarah seperti ini.

“Aku tidak tahu kalau kau sehebat itu dalam berakting,” ujar Donghae sembari memperhatikan botol cairan infus yang tergantung di sisi ranjang Jessica. Tangannya bergerak mengatur volume cairan yang dialirkan ke tubuh pasiennya. Tampak jelas nada mengejek dari ucapan pria itu barusan, tapi Jessica memilih tidak menghiraukannya. Sambil mencatat sesuatu di atas kertas yang tadi dibawanya, ia menambahkan, “Seharusnya kau tidak didebutkan sebagai penyanyi. Akting akan sangat cocok denganmu.”

Jessica hanya mendengus. Donghae dan sarkasme memang merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Setidaknya bagi Jessica yang sudah mengenal pria itu sejak lama, tidak ada hari tanpa mendengar Donghae mengejeknya.

Gadis itu membetulkan posisi dan berbaring di atas ranjangnya, membiarkan Donghae yang kemudian sibuk mengukur tekanan darahnya. Dia merasa begitu lelah. Padahal, jika diingat-ingat lagi, yang dia lakukan seharian ini hanya berbaring sembari menonton televisi. Sesekali dia berbicara dengan pengacaranya lewat telepon untuk mencari tahu perkembangan kasusnya, tapi itu sama sekali tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang melelahkan, apalagi jika dibandingkan dengan kesibukannya sebelum kasus ini mencuat ke permukaan. Jessica menyalahkan wawancara yang baru saja dilakukannya sebagai penyebab kelelahannya kali ini. Di atas segalanya, menekan keinginan untuk mencakar wajah Tiffany memang selalu berhasil menguras banyak tenaga.

“Aku berhutang padamu karena telah menyelamatkanku dari wawancara sialan itu,” ujar Jessica kepada Donghae yang masih tampak sibuk mencatat.

“Tenang saja,” sahut Donghae. Untuk beberapa waktu yang singkat, pandangan pria itu masih lekat pada tulisan di atas kertas di tangannya, sekadar memastikan apakah semua informasi yang diperlukan sudah ia catat. Setelah itu, dia tersenyum nakal dan berujar, “Aku pasti akan menangih utangmu suatu saat nanti. Tapi omong-omong, apakah uang di rekeningmu masih cukup untuk membelikanku secangkir kopi di kafetaria rumah sakit?”

Jessica hanya tersenyum kering menanggapi lelucon pria itu. Satu lagi yang tidak berubah dari seorang Lee Donghae adalah selera humor satirnya yang di bawah rata-rata. Jessica yakin kalimat barusan bisa saja terdengar lucu jika orang lain yang melontarkannya. Tapi berhubung lelucon payah itu meluncur dari orang sepayah pria di depannya, maka Jessica merasa tidak perlu bersusah payah tertawa. Itu hanya akan membuang terlalu banyak energinya.

“Melihatmu seperti ini, aku jadi bertanya-tanya apakah semua artis berbohong seperti itu di depan kamera,” ujar Donghae.

Jessica mengedikkan bahu. “Kecuali hal yang menyangkut Tiffany, aku selalu jujur di depan kamera.”

“Termasuk saat kau berkata di sebuah variety show bahwa kau masih menyimpan perasaan terhadap kekasih yang kau putuskan sebelum debut?” goda Donghae.

Ia menyaksikan acara tersebut saat tahun pertamanya menjadi seorang residen di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini. Waktu itu dia mendapat jatah istirahat dan alih-alih tidur, dia lebih memilih menonton televisi bersama seorang pasien.

Tayangan yang disaksikannya waktu itu adalah variety show yang dipandu pembawa acara ternama dan kebetulan bintang tamunya adalah Jessica dan rekan-rekan grupnya yang sedang mempromosikan album kedua mereka. Topik perbincangan yang mengemuka di acara itu tidak sedikit, dan Tiffany mencuri spotlight dengan berbagai cerita lucu tentang masa kecilnya saat masih tinggal di luar negeri. Jessica tidak mendapat banyak kesempatan bicara. Gadis itu lebih banyak diam. Sesekali dia menimpali dengan singkat candaan teman-temannya. Lalu ketika pembawa acara dengan bercanda menanyakan apakah ada sesuatu yang mereka sesali, Jessica menjelma menjadi bintang utama acara itu. Di saat semua rekannya memilih cerita-cerita klise tentang persahabatan dan keluarga, Jessica menceritakan keberadaan seorang pria yang menjalin hubungan dengannya sebelum debut.

“Kami berkencan selama dua tahun tapi aku menyia-nyiakan semua perhatiannya. Aku tahu ini salahku dan meski aku sangat ingin memperbaiki semuanya, sekarang sudah terlalu terlambat untuk memintanya kembali. Aku sudah terlalu menyakiti hatinya,” ujar Jessica saat itu.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa berpacaran bagi para idola adalah sebuah hal tabu. Kau mungkin akan memperoleh banyak dukungan karena hubunganmu, tapi seringnya pamormu malah turun karena hal itu. Jessica memilih bertaruh, dan dia memenangkan pertaruhan karena sejak saat itu, penggemarnya bertambah dalam jumlah yang tidak sedikit.

Donghae menyaksikan acara tersebut dan langsung tahu bahwa dialah yang dimaksud oleh Jessica. Pria itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa Jessica mengatakan itu semua hanya demi kepentingan keartisannya semata, tapi waktu itu, di tengah himpitan kejenuhan akan suasana rumah sakit dan keinginan untuk dicintai sekali lagi, sebagian dari dirinya berharap bahwa apa yang diucapkan gadis itu adalah kebenaran. Karena jika memang itu adalah kenyataan, maka Donghae tidak akan berpikir dua kali untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Jessica tahu bahwa jika dia butuh momentum yang tepat untuk meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya kepada Donghae sepuluh tahun lalu, maka inilah saatnya. Dia tahu bahwa pria itu hanya butuh sebuah anggukan ringan untuk menjawab pertanyaannya barusan, dan semua hal yang tidak terselesaikan di antara mereka selama ini bisa mencapai ujungnya—dan dari situ mereka mungkin akan mendapat kesempatan untuk memulai sebuah cerita baru yang lebih baik, lebih dewasa, dan tentu saja lebih indah.

Tapi Jessica, dengan gengsinya yang setinggi langit, melewatkan kesempatan itu begitu saja, berharap bahwa kesempatan lain akan tiba kepadanya suatu hari nanti. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Donghae, berulang kali dia membayangkan bagaimana dia akan meminta maaf kepada pria di depannya itu, dan kamar rawat serta dirinya yang mengenakan piyama dan tampak lusuh bukan merupakan bagian dari rencananya. Maka, alih-alih mengatakan apa yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun, gadis itu malah berujar, “Oh, sialan kau, Lee Donghae. Kau benar-benar senang melihatku salah tingkah, huh?”

Jessica menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu, membuat Donghae mau tak mau tersenyum melihat tingkah konyol gadis di depannya itu. Pria itu lantas berpamitan kepada Jessica, berkata bahwa dia masih harus mengecek keadaan pasien lain. Dia berlalu begitu saja, membiarkan pertanyaannya tetap tak mendapat jawaban.

***

“Keadaanmu sudah mulai membaik. Tekanan darahmu sudah kembali normal dan wajahmu juga tidak terlalu pucat seperti kemarin,” ujar Donghae setelah menyelesaikan pemeriksaan rutinnya. “Kurasa dua atau tiga hari lagi kau sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini.”

“Aku tidak yakin pengacaraku akan menyetujui ide itu,” imbuh Jessica. Ia meraih telepon genggam yang diletakkannya di nakas samping ranjang, membuka surel yang dikirimkan pengacaranya beberapa jam lalu, kemudian mengangsurkan benda elektronik itu kepada pria di depannya.

Donghae menerima benda itu dan langsung membaca apa yang tertera di sana. Alisnya sedikit terangkat saat mengetahui isi surel tersebut. Sesekali alis itu bertaut seiring pergerakan jarinya menggulir tampilan di layar lima inch dalam genggamannya. Dan di akhir kegiatan membacanya, ia tertawa kecil.

“Sepertinya wawancara kemarin berhasil membuat orang-orang bersimpati kepadamu,” komentar Donghae seraya mengembalikan telepon pintar itu kepada pemiliknya.

Jessica tersenyum nakal, mengambil telepon genggamnya, dan menaruh benda itu kembali ke tempat semula. “Karena itulah, pengacaraku berpendapat bahwa jika aku sedikit lebih lama di rumah sakit, kebencian masyarakat mungkin akan lebih jauh berkurang. Itu juga akan memberi kami alasan untuk menunda jalannya proses pengadilan. Kau ingat kan, aku pernah memberitahumu bahwa perusahaan yang produknya kuiklankan menuntutku karena merasa skandalku mencemarkan citra perusahaan mereka?” beritahu Jessica. Setelah mendapat anggukan dari Donghae, tanda bahwa pria itu menyimak ceritanya, gadis itu dengan berapi-api menambahkan, “Aku heran kenapa mereka keberatan dengan skandal ini. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, di iklan itu aku berperan sebagai wanita penggoda. Bukankah skandal ini justru menguatkan citra wanita penggoda yang kuperankan?”

Donghae tertawa sekali lagi. Dia menarik sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari ranjang Jessica dan duduk di sana. Tidak seperti kunjungannya sebelum ini, yang biasanya hanya diisi obrolan singkat penuh basa-basi layaknya dokter dan pasien, kali ini Donghae merasa perbincangannya dengan Jessica akan berlangsung sedikit lebih lama. Karena tidak seperti kunjungannya sebelum ini, yang biasanya terbatas waktu, kali ini pria itu sudah lepas waktu piket. Dan bagi Donghae, berbicang dengan seseorang yang sejak sepuluh tahun lalu hanya bisa ia pandangi lewat layar televisi jauh lebih bermanfaat dibanding pulang ke rumah dan tidur.

“Yah, seperti itulah. Intinya, pengacara Kim meminta aku untuk berlama-lama di rumah sakit agar dia punya lebih banyak waktu menyiapkan pembelaan untuk sidang nanti.”

“Apa dia juga yang menyuruhmu mengatakan hal seperti kemarin? Kau tahu, wawancara itu.”

Jessica mengangguk. “Kau tahu sendiri, kan, bagaimana pria itu menyudutkanku di konfrensi persnya? Alih-alih membantah, pengacara Kim bilang lebih baik aku mengamini tuduhannya dan menempatkan diri di posisi tak berdaya.”

Untuk yang kesekian kalinya, Donghae tertawa. “Pengacaramu itu sungguh licik. Kau juga.”

“Hei,” seloroh Jessica, tidak terima. Ia tahu Donghae tidak serius dengan kata-katanya barusan, tapi gadis itu merasa tetap perlu memberi konformasi. “Untuk menghadapi ular berkepala manusia seperti mereka, kau perlu menjadi lebih licik agar bisa menang.”

“Jadi, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan pria itu?” tanya Donghae. Dia menyedekapkan kedua lengannya di depan dada, berusaha untuk tampil sekasual mungkin. “Melihat bagaimana kau menyebutnya licik, kurasa hubungan kalian tidak sepanas apa yang diumbar media.”

Jessica mengedikkan bahu. “Kami sempat dekat selama beberapa bulan, tapi tidak ada yang benar-benar spesial. Sampai sekarang aku juga bertanya-tanya kenapa aku mau menjalin hubungan dengan pria berengsek itu.”

“Kau berpelukan mesra dengannya di kelab malam.” Donghae berujar lugas, mengingat lagi foto yang beberapa waktu lalu menghias portal-portal berita.

“Aku mabuk berat waktu itu,” kenang Jessica, tidak sadar bahwa suaranya berubah menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Gadis itu bertanya-tanya apakah tidak masalah jika dia menceritakan alasan mengapa malam itu dia minum melebihi batas toleransi alkoholnya. Apakah akan ada yang berubah dari hubungannya dengan Donghae jika pria itu akhirnya tahu semuanya?

“Apa itu juga adalah caramu agar kau punya alasan untuk tidak segera keluar dari rumah sakit ini?” tanya Donghae lagi. Pandangannya merujuk pada piring makan yang tampak tak tersentuh di atas meja. “Kurang makan bukan hal yang baik untuk orang yang pernah menderita gastritis seperti dirimu.”

Jessica menoleh, mengikuti arah pandang Donghae, dan hanya bisa tertawa renyah karena dia tahu bahwa omongan Donghae barusan terlontar bukan karena dia seorang dokter, melainkan karena dia adalah seorang teman yang masih ingat bahwa ada masa di mana Jessica pernah dirawat di rumah sakit karena saluran lendir di lambungnya mengalami peradangan.

Pria itu masih ingat, dan dia peduli.

“Aku bosan dengan makanan rumah sakit.”

“Kau perlu makanan itu agar bisa kembali sehat dan melawan semua orang yang menudingmu dengan tuduhan yang tidak-tidak.”

“Sudah kubilang, pengacaraku belum menginginkan aku keluar dari rumah sakit ini.”

Donghae mendengus karena kelakuan gadis di depannya. Sambil tersenyum nakal, dia berujar, “Kau tahu, aku bisa membelikan ramen untukmu kalau kau mau.”

Ada binar cerah di mata Jessica saat mendengar pria itu mengucapkan kata ramen.

Hal itu tentu saja tidak terlepas dari pengamatan Donghae. Merasa di atas awan, pria itu menambahkan, “Tentu saja, aku tidak akan melakukannya begitu saja.”

Jessica mengerang pelan, tahu betul bahwa Donghae akan memanfaatkan keinginannya makan ramen untuk membuatnya melakukan hal konyol. Dia teringat, dulu, ada masa di mana Donghae melakukan ini kepadanya setiap hari. Dulu, semua ini akan berakhir dengan Jessica yang berujar malu-malu di depan Donghae, mengatakan betapa gadis itu menyukainya. Sekarang, apakah tidak terlalu terlambat untuk mengulangi semua itu lagi?

“Baiklah, apa yang kau inginkan?”

“Katakan sesuatu yang akan membuatku bahagia.”

Gadis itu memutar bola matanya. “Kau tidak berharap aku akan memujimu, kan?”

Donghae mengedikkan bahu. Senyum nakal itu masih tersemat di kedua sudut bibirnya.

Jessica termenung di tempatnya, menimbang jika ia mengatakan apa yang selama ini mengganjal di benaknya, apakah Donghae akan merasa bahagia? Tidakkah Jessica terlalu percaya diri jika ia menganggap bahwa pria itu masih berpegang teguh pada janji yang mereka ucapkan saat masih menjalin hubungan.

“Kau sangat tampan hari ini,” ujar Jessica akhirnya.

Donghae menggeleng. Ia memainkan telunjuknya di udara, menggerakkannya untuk memberi tanda bahwa ucapan Jessica barusan belum cukup untuk memenuhi perjanjian mereka.

“Kau adalah dokter terbaik di dunia.”

Pria itu masih belum tampak puas.

“Aku senang bertemu lagi denganmu,” kata Jessica. Tenggorokannya seolah mendadak kering hanya karena kalimat itu, tapi di saat bersamaan, sebuah beban berat seakan terangkat dari pundaknya begitu kalimat itu meluncur. “Aku selalu berharap bisa punya kesempatan untuk meminta maaf padamu atas apa yang kulakukan sepuluh tahun lalu.”

Donghae mungkin akan menganggapnya hanya bercanda demi mendapatkan ramen yang dijanjikan pria itu, tapi Jessica tidak peduli. Ia berdeham untuk mengembalikan lagi kemampuannya bersuara, kemudian melanjutkan, “Aku sempat mencarimu, kau tahu. Setiap kali aku ke Mokpo, entah untuk kepentingan pekerjaan atau hanya sekadar liburan, aku selalu mencari tahu kau berada di mana. Aku datang ke rumahmu, tapi ternyata kau sudah pindah dan tidak ada tetangga yang tahu alamat barumu. Aku menemui Hyukjae dan Jungsoo oppa, tapi tampaknya apa yang sudah aku lakukan kepadamu membuat mereka sangat membenciku hingga untuk melihat wajahku saja mereka tidak sudi.”

Jessica menjeda ceritanya dan tertawa hampa. Masih sangat lekat di ingatannya bagaimana Hyukjae menutup pintu rumahnya begitu tahu kalau yang mengetuk adalah Jessica, juga bagaimana Jungsoo menyuruhnya langsung pulang karena—mengutip apa yang dikatakan Jungsoo waktu itu—tidak ada yang bisa mereka bicarakan.

“Bertemu denganmu di rumah sakit,” sambung Jessica, “dengan aku sebagai pasien dan kau dokternya, jelas bukan merupakan bagian dari rencanaku. Ditambah lagi dengan adanya skandal itu, sungguh aku malu berhadapan denganmu. Tapi setidaknya dengan begini, kita bisa bertemu dan berbincang seperti dulu lagi. Untuk alasan itu, aku sangat senang. ”

Untuk waktu beberapa detik yang terasa sangat lama, Donghae terpaku di tempatnya. Pria itu menatap Jessica, mencari kesungguhan dari ucapan gadis itu. Betapa dia ingin percaya bahwa yang ia dengar barusan adalah fakta. Betapa dia ingin percaya bahwa gadis itu benar mencarinya. Namun sebesar apapun keinginannya untuk percaya, masih ada rasa sakit yang terpendam selama bertahun-tahun di hatinya karena wanita itu, dan rasa sakit itulah yang melarangnya untuk menganggap serius ucapan Jessica barusan.

Akhirnya, alih-alih memeluk gadis itu seperti yang selama ini ia inginkan, Donghae memilih tersenyum simpul—senyum professional yang sama sekali tidak berasal dari hati.

Nice shot, Nona Jung,” ujarnya.

Setelah itu, Donghae berlalu dari hadapan Jessica, meninggalkan gadis itu dengan satu pertanyaan besar di benaknya. Apakah permintaan maafnya benar-benar sudah terlalu terlambat?

***

Tidak sampai satu jam kemudian, Donghae kembali ke kamar Jessica. Kali ini tidak ada  jas putih yang membungkus tubuhnya. Jas putih itu sudah ia tanggalkan ketika tadi kembali ke kantornya dan kini yang tampak adalah kemeja flanel berwarna cokelat yang berpadu dengan celana kain berwarna senada. Tidak ada catatan pasien di tangannya. Yang ada hanya sekantung ramen siap saji, dua gelas ice Americano, dan sekotak kue mangkuk dengan krim rasa permen karet di atasnya.

Jessica beringsut dari tempat tidur, berjalan mendekati Donghae sambil menyeret tiang besi di mana botol infusnya tergantung, dan mengamati pria itu menaruh semua bawaannya di meja panjang di sisi lain ruangan. Sambil mempertimbangkan mana yang akan ia cicipi duluan, gadis itu berseru riang, “Whoa! Apa aku baru saja memenangkan jackpot?”

Donghae tertawa renyah. Ia mengambil posisi duduk di atas sofa panjang yang memang disediakan rumah sakit di setiap kamar VIP, kemudian menatap Jessica dan berujar ringan, “Aku tidak tahu bahwa seorang artis bisa begitu senang hanya karena pemberian tak berharga seperti ini.”

Jessica ikut duduk di samping Donghae. Ia meraih gelas ice Americano di atas meja dengan tangannya yang tidak ditancapi jarum infus. Setelah meminum likuid pahit itu sampai setengahnya, dia menoleh dan berkata kepada Donghae, “Aku ini artis yang terancam bangkrut kalau perusahaan yang menuntutku sampai menang di pengadilan. Kalau itu terjadi, aku ragu bisa punya cukup uang untuk membeli minuman seperti ini.”

Donghae terkekeh. Tanpa sadar, tangannya bergerak ke pucuk kepala Jessica dan mengacak pelan rambut gadis itu lantaran gemas. Ketika kesadarannya kembali, Jessica sudah menatapnya. Tidak diragukan lagi, gestur akrab seperti itu membuat mereka mau tidak mau teringat lagi pada masa lalu.

Dengan cepat Donghae menarik tangannya sendiri dan berdeham untuk mengusir gelombang perasaan yang turut serta bersama datangnya sekelumit kenangan akibat perbuatannya barusan. Dalam hati pria itu mengutuki dirinya sendiri karena telah bergitu terlena pada keakraban yang menurutnya hadir terlalu cepat.

Menyadari bahwa pria di depannya sedang salah tingkah, Jessica lantas tertawa ringan. Gadis itu menyenggol lengan Donghae dengan bahunya sembari melayangkan sebuah delikan nakal. “Jangan kaku begitu. Aku tidak akan salah paham, tenang saja.”

Donghae balik tersenyum. Meski dia masih bertanya-tanya bagaimana sebenarnya definisi salah paham yang dimaksudkan gadis di sampingnya, tapi pertanyaan untuk mengklarifikasi itu semua tidak pernah terlontar dari bibir Donghae.

Seolah sama-sama mengerti, mereka beralih membicarakan hal lain, membiarkan suasana canggung yang sempat hadir karena sentuhan Donghae di rambut Jessica berlalu begitu saja. Donghae bercerita masa-masa sulit ketika ia kuliah, kesibukannya selama masa internship, dan kisah beberapa pasien yang akrab dengannya. Jessica membayar cerita itu dengan mengisahkan kesibukan menggila yang ia jalani setelah debut, artis-artis senior yang bersikap baik dan mendukung perkembangan kariernya selama ini, serta tentu saja, persaingan tidak sehatnya dengan Tiffany.

Mereka bercerita begitu banyak, tapi di sisi lain, keduanya dengan begitu halus menghindari topik mengenai masa lalu.

Donghae tidak menceritakan bagaimana ia begitu patah hati hingga memutuskan untuk meninggalkan mimpinya menjadi seorang pemain musik. Ia memilih untuk melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran, berpikir bahwa kesibukan kuliah di fakultas itu akan membantunya agar tidak terlalu sering memikirkan Jessica. Donghae tidak berkata apa-apa mengenai seberapa banyak waktu yang ia curi di tengah-tengah kesibukan kuliahnya hanya untuk mengantri di depan tempat konser di mana Jessica dan teman-temannya akan tampil, namun pada akhirnya memutuskan untuk segera pergi tanpa menyaksikan mantan kekasihnya itu beraksi di atas panggung. Donghae juga sama sekali tidak  menyinggung keberadaan CD dan produk-produk lain yang ia beli hanya karena benda-benda itu berhubungan dengan Jessica.

Jessica, di sisi lain, juga tidak memberitahu bahwa pria itulah yang ia bayangkan setiap kali menyanyikan lagu cinta. Gadis itu tidak menyinggung keberadaan setumpuk surat dan kado yang tidak pernah luput disiapkannya setiap hari ulang tahun Donghae—surat dan kado itu tidak pernah sampai kepada pemiliknya dan hanya berakhir di dalam sebuah boks besar di kolong tempat tidur gadis itu. Ia juga sama sekali tidak menceritakan bahwa ada saat di mana ia tidak bisa tertidur semalaman karena otaknya terus-menerus memikirkan apa yang saat itu Donghae lakukan. Baju seperti apa yang ia gunakan? Apakah baju itu membuatnya nyaman? Apakah pria itu sesekali masih mengingatnya? Apakah mereka akan bertemu lagi? Apakah tidak terlalu terlambat jika ia meminta maaf dan meminta pria itu menerima hatinya lagi?

Mereka membagi banyak hal, tapi di saat bersamaan juga menyembunyikan lebih banyak cerita. Mereka berdua tertawa bersama ketika cerita yang terlontar merupakan sesuatu yang lucu, saling melempar tatapan mengerti ketika cerita berubah melankolis, hingga akhirnya empat jam terlewati begitu saja.

Donghae-lah yang pertama kali menyadari sudah seberapa lama mereka berbincang. Padahal rasanya baru sebentar, tahu-tahu matahari kini sudah tidak terlihat lagi. Cahaya yang ada hanya berasa dari lampu yang dipasang di langit-langit rumah sakit, dan sepertinya tidak ada satu pun di antara Donghae atau Jessica yang menyadari sejak kapan lampu itu menyala.

“Kau mungkin harus mengunci pintu kamarmu rapat-rapat mulai sekarang,” beritahu Donghae ketika ia sudah akan pergi. Jessica memutuskan mengantarnya sampai ke pintu. Jaraknya memang tidak begitu jauh, tapi setidaknya waktu yang ia habiskan untuk berada di samping pria itu jadi sedikit lebih lama.

“Kenapa?”

“Kudengar salah seorang dokter magang yang baru datang hari ini adalah penggemar beratmu. Aku tidak akan heran jika tiba-tiba dia datang ke sini dan mengganggu istirahatmu.”

Jessica tertawa, cukup keras untuk membuat seorang petugas kebersihan yang kebetulan sedang mengepel di ujung koridor rumah sakit untuk menoleh dengan sorot ingin tahu terpatri di wajahnya. Gadis itu memelankan suaranya dan berujar kepada Donghae, “Sejujurnya, aku sedikit rindu pada penggemarku. Mendapat kunjungan dadakan dari mereka mungkin tidak akan terlalu mengganggu.”

“Terserah kau saja kalau begitu,” sahut Donghae ringan, kemudian tanpa berlama-lama lagi, dia segera mengayun tungkai menuju tempat parkir, bersiap untuk kembali ke rumahnya.

Jessica memandang punggung pria itu menjauh dan berpikir; mungkin perbincangan panjang mereka tadi bisa menjadi pintu untuk memulai sebuah cerita yang baru, mungkin permintaan maafnya belum terlalu terlambat, mungkin masih ada harapan untuk memperbaiki apa yang dulu telah ia hancurkan. Mungkin.

to be continued…

 

Author’s Note:

  • Saya sedang membuat project Seven Melodies of Haesica, yang isinya adalah fanfic yang terinspirasi dari lirik lagu tertentu dan semua castnya—of course—adalah Haesica. Prompt pertama diambil dari lagu Sorry milik Justin Bieber. Awalnya project ini mau saya buat dalam format oneshot seperti Six First Kisses, tapi beberapa draft cerita ternyata berubah jadi sedikit lebih panjang dari rencana. Akhirnya saya memutuskan untuk mempublikasi cerita ini dalam tujuh sub judul berbeda. Next stories will be published soon 🙂
  • Untuk cerita ini, sejujurnya sudah saya tulis sampai akhir, tapi daripada ditimpuk secara virtual karena lagi-lagi ngasih ending yang menyebalkan, saya mau ngasih kesempatan buat pembaca untuk merayu saya. Kasih alasan kenapa tokoh utama di cerita ini harus bersama di akhir nanti?
  • Sama sekali tidak ada niat untuk menjelek-jelekkan Tiffany di sini. Kisah yang ditulis murni hanya imajinasi penulis.
  • Credit for the beautiful poster goes to Kyoung from Poster Channel.
Advertisements

22 thoughts on “[Part 1 of 2] How Late Is Too Late?

  1. Gimana ceritanya kak kalo ini awalnya mau dibikin kyk 6 first kisses, org baru part pertama dr cerita pertama aja udah panjang gini.
    I VOTE FOR HAPPY ENDING!! Because pleaseee kak, hujan2 begini, baca cerita yg sedih pasti bakalan bikin mood makin gloomy. Udah cukup langit aja yg galau, haesica jangan.

    1. hahaha.. iya nih. padahal niatnya setiap cerita mau dibikin drabble aja, eh ternyata jari ini berkhianat dan jadinya malah sampe 10rb-an kata. Hm, happy ending, ya? We’ll see… 😉

      1. Ya ampun.. Dari drabble yang cuma berapa ratus kata bisa beranak sampe 10rb, entah jarimu berkhianat atau emang pada dasarnya kamunya aja kak yang suka nulis panjang2 😶😶😶 not that I complain, selama ceritanya membahagiakan, mau sepanjang apapun bakalan aku baca pastinya *ehem, ini kode, ehem, happy ending, ehem*

  2. Langsung meluncur ke sini begitu dpt email kalo ada postingan baru. And yesssss, haesica! More haesica!
    Apalah aku ini kak, aku bukan perayu ulung jadi ga tau mesti ngomong apa biar cerita ini dikasih ending bahagia. Dan honestly, aku gak yakin definisi bahagia kita sama. Aku udah pasti ngebayangin adegan super manis yg bikin diabetes, tp mungkin kamu menganggap adegan saling pegangan tsngan di taman aja udah cukup buat dibilang romantis. Intinya sih, happy ending juseyoooo~~~

  3. Well, gak pernah ada kata terlambat buat memperbaiki kesalahan dan memulai semua dr awal lagi, kan? Aku berharap mereka bisa saling jujur aja. Donghae mengakui betapa dia patah hati, Jessica juga mengakui kalau dia merasa bersalah dan pengen balikan lagi. Seandainya pun author memilih buat bikin mereka gak bersama di akhir, aku rasa gak apa2 asalkan masalah mereka yg dulu bisa dapat semacam closure yg proper lah..

  4. Kalau aku sukanya ending yg semi ngegantung gitu lho, thor.. Yang kita dibikin nebak2 sebenarnya tokoh utamanya balikan lagi apa nggak.

  5. ff ini bikin aku langsung kebayang masa2 jessica baru didepak dr snsd. mulai dr orang2 banyak yang ngejudge dia macem2, sampe fansnya jessica yang nuding member lain sbg alasan jessica smpe dikeluarin. trus persaingan jessica sm tiffany juga, aku kebayang ini real aja. apalagi mereka kemarin ngeluarin album hampir bersamaan gitu waktunya.
    aku juga ingat waktu itu pernah baca di mana gitu, kalau donghae ngomongin soal mantannya di strong heart, trus jessica semacam nulis balesan gitu di akun weibo atau apanya gitu. intinya dia minta maaf dan menyesal udah nyakitin donghae. gak tahu juga sih postingan itu bener apa nggak, tapi ff ini berasa terlalu real aja, apalagi dengan fakta2 yg aku sebutin tadi.
    tapi skandalnya jessica di sini lebih parah sih.. untungnya ada dokter (cinta) kayak lee donghae yg nemenin. aku berharap mereka bisa balikan lagi. karena kalau di dunia nyata gak bisa balikan, setidaknya di ff ini mereka bisa punya kesempatan buat memulai semuanya dari awal lagi.

  6. Annyeong.. Aku reader baru. Salam kenal…
    Udah lama gak nemu ff haesica yg well written seperti ini, so yessss, aku pilih happy ending. Keliatannya mereka masih sama sama saling suka, jadi kenapa gak dikasih kesempatan kedua buat memperbaiki

    1. Duh, keburu kepencet send. Haha.. 😂😂
      Maksud aku begitulah kak(?)
      Telat sepuluh tahun gak apa apa, yang penting donghae masih belum nikah atau punya pacar.

  7. harusnya tuh pas donghae nanya apa jessica serius pas dia bilang kalau dia menyesal ninggalin mantannya, dia udah langsung jujur aja, gak perlu gengsi segala. aku malah curiganya nanti di part selanjutnya donghae malah udah punya pacar. atau jessica dikejar2 sama dokter magang yang katanya ngefans banget sama dia dan donghae entah untuk alasan apa memutuskan mengalah dan akhirnya donghae sama jessica gak jadi balikan.
    tolonglah author, jangan jahat2 sama reader. jamgan sampe kecurigaanku trrbukti. pengen banget ngeliat mereka bersatu, setidaknya di dalam ff.

  8. Hmmmm sbner’y aku lbh suka sad ending, entah salah satu dr mereka udh punya calon pndamping. Tapi kali ini saya akui klo pengen happy ending, kasian sma sica, hehehehe…
    FIGHTING eonni…

  9. salam kenal kak, ga sengaja ngobrak ngabrik mbah google cari ff haesica akhirnya nemu ini blog.seneng bgt deh.pengen bgt ngeliat haesica bersatu setelah mereka melalui perjalanan cinta yg sulit, pengen liat sica minta maaf ke hae n mengakui perasaan nya yg sebenarnya krna aku yakin pasti masing masing mereka msh saling cinta

  10. entah kenapa aku merasa ff ini bagusnya dikasih sad ending aja. yah, gak perlu yang nyesek juga sih. mereka saling memaafkan dan saling jujur temtang perasaan masing-masing, tapi untuk apasan tertentu mereka memilih untuk gak melanjutkan cinta lama mereka. aku rasa yang seperti itu justru lebih berkesan. tapi balik lagi, semua tergantung authornya.

  11. Haiii semua, aku membaca baru nihh wkwkkw
    Penasaran sama cerita selanjutnya thorr 😂
    Haesica semoga ada keajaiban biar jadi real 😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s