o-school-libraries-facebook

Since The Very First Time by nchuhae

Oh Sehun & Jung Soojung | Oneshot, 7.4k words | Romance, highschool!AU, Slight!Horror | PG-13

.

.

One glance, and he falls

***

Ada sebuah cerita yang beredar di antara siswa SMA Kirin. Cerita itu tersebar dari mulut ke mulut, dari senior ke junior, hingga kemudian tidak ada lagi yang tahu pasti dari mana cerita tersebut berasal, juga apakah cerita tersebut nyata adanya.

Oh Sehun, tanpa mengetahui keberadaan cerita itu, memasuki ruang perpustakaan sambil berusaha menahan keinginannya untuk menguap. Pria yang kini berada di tahun terakhirnya sebagai siswa sekolah itu baru saja memutuskan untuk membolos di jam pelajaran ketiga karena sudah tidak lagi sanggup menahan kantuk.

Sepanjang akhir pekan, dia dan dua orang sahabatnya tidak sempat tidur karena terlalu asyik bermain game online. Jongin dan Kyungsoo sepakat untuk tidak masuk sekolah hari ini. Kyungsoo berpikir bahwa membolos sehari tidak akan terlalu mempengaruhi nilai mereka di akhir semester nanti. Jongin menyetujui gagasan tersebut dan berkata bahwa tidur jauh lebih berguna dibanding mengikuti serentetan pelajaran yang hanya bisa membuat kepalanya pusing. Sehun juga sebetulnya ingin bergabung dengan kedua sahabatnya, tapi setelah dia ingat bahwa dua hari lalu wali kelasnya mengancam akan melayangkan surat pemberitahuan kepada orang tua Sehun karena sudah terlalu sering membolos, pria itu akhirnya meraih seragamnya dan beranjak dengan terkantuk-kantuk ke sekolah yang hanya berjarak dua pemberhentian bus dari tempat tinggal Kyungsoo—tempatnya semalam menginap.

Sehun berpikir segelas kopi yang tadi dibelinya dalam perjalanan menuju sekolah sudah cukup untuk membuat matanya tetap terbuka, setidaknya sampai bel pertanda jam pulang berbunyi. Sayangnya, selepas makan siang, kantuk semakin membabi-buta menyerangnya. Memasuki jam pelajaran ketiga, dia sudah menyerah. Beralasan hendak ke kamar mandi, Sehun meminta izin kepada guru matematika yang saat itu sedang sangat bersemangat menjelaskan di depan kelas.

Sebelum sampai ke perpustakaan, Sehun sempat melangkah ke atap gedung sekolah, berpikir bahwa tempat itu adalah yang paling pas untuknya memejamkan mata. Di hari-hari lain, Sehun bersama kedua orang temannya sering menjadikan tempat itu sebagai tujuan pelarian utama setiap kali mereka bosan dengan suasana kelas. Kadang Bomi dan Naeun, kekasih Kyungsoo dan Jongin, juga bergabung bersama mereka, turut meramaikan suasana. Niat itu akhirnya ia batalkan setelah mendapati ada sepasang siswa tengah asyik bermesraan di sana. Sehun tidak pernah gemar menyaksikan kemesraan orang lain, apalagi di saat kantuk sedang menderanya.

Pegawai perpustakaan—seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan raut wajah lembut—yang saat itu sedang asyik menyusun buku-buku yang baru saja dikembalikan oleh para siswa memerhatikan Sehun melangkah dari balik kacamata berlensa tebal yang ia kenakan. Sehun hanya melemparkan seulas senyum bersahabat kepada wanita itu, tanpa suara memberitahukan bahwa ia datang untuk menumpang tidur. Wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya kepalanya yang menggeleng pelan, seolah sudah sangat paham dengan kelakuan sebagian siswa yang datang ke tempat kerjanya bukan untuk membaca buku, melainkan untuk mencari ketenangan agar bisa tidur siang dengan nyenyak.

Ruang seukuran satu lapangan futsal itu tampak sepi. Ada beberapa siswa lain yang juga terlihat sedang berada di ruangan tersebut, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang berbincang dengan teman di sampingnya. Semuanya asyik menekuni buku di dalam genggaman masing-masing. Sehun mengenali beberapa dari mereka sebagai siswa dengan peringkat atas di sekolah, jenis siswa membosankan yang mendedikasikan semua waktu untuk belajar dan melakukan kegiatan demi memperbaiki spesifikasi untuk pendaftaran di universitas nanti. Ia jadi menduga guru yang seharusnya mengajar di kelas mereka sedang berhalangan hadir, karena itu mereka berinisatif untuk belajar mandiri di perpustakaan.

Sehun berjalan menyusuri koridor sempit yang diapit rak buku tinggi di kedua sisi, mencari lokasi tidur yang paling aman dari gangguan orang-orang. Pilihannya kemudian jatuh kepada sebuah meja panjang di sudut ruangan. Meja tersebut tampak sedikit berdebu, menandakan bahwa bagian perpustakaan yang satu itu memang jarang didatangi orang. Ada enam buah kursi di dekat meja tersebut, tiga di masing-masing sisi. Sehun menarik empat di antaranya, menyejajarkannya demi menjadikan benda itu sebagai alas tidur.

Sehun mengubah nada dering telepon genggamnya ke mode getar agar benda itu tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa membuatnya ditegur petugas perpustakaan. Bukan berarti dia begitu yakin bahwa akan ada yang menghubunginya nanti. Kyungsoo dan Jongin mungkin masih terlelap dalam mimpi indahnya saat ini, sedangkan orang tua Sehun terlalu sibuk untuk menelepon anaknya sendiri. Pria itu hanya berjaga-jaga. Terbangun karena dering telepon adalah hal yang tidak terlalu digemarinya.

Setelah memasukkan benda pintar itu ke dalam saku, Sehun merebahkan tubuhnya di atas kursi yang tadi sudah ia susun. Pria itu memejamkan mata dan terlelap tidak lama kemudian.

***

Sehun terbangun sekitar dua jam kemudian dengan punggung yang pegal karena posisi tidur yang tidak terlalu bagus, namun mata dan wajahnya sudah tampak jauh lebih segar dibanding sebelumnya. Dua jam bukan waktu yang sepadan untuk menebus delapan jam yang semalam seharusnya ia habiskan dengan tidur, tapi Sehun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Dia meraih telepon genggam dalam saku seragamnya untuk melihat waktu. Sehun berencana untuk langsung ke kantin setelah ini. Sudah menjadi semacam kebiasaan baginya untuk langsung makan setelah tidur. Jika setelah itu waktu masih memungkinkan, dia berencana mengikuti pelajaran terakhir. Sehun bukan penggemar sains, tapi berhubung itu diajarkan oleh wali kelasnya, Sehun merasa cukup bijak jika dia memilih untuk memunculkan batang hidungnya.

Di layar telepon genggamnya ada dua pesan, masing-masing dari Bomi dan Naeun.

Aku mengajak Naeun bertaruh bahwa kalian bertiga pasti membolos lagi hari ini, jadi beritahu aku, siapa di antara kami yang menang?

Aku tidak melihat Jongin di kelas hari ini. Teleponnya juga tidak aktif. Aku khawatir dia sakit karena sejak semalam kabarnya juga tidak terdengar. Kalau kalian bersama-sama sekarang, tolong beritahu bahwa Kim Seonsaengnim masih memberinya waktu sampai besok pagi untuk mengumpulkan tugas review jurnal seni musik.

Sebuah senyum terbit di wajah Sehun setelah membaca dua pesan itu. Bomi yang selalu berujar lugas dan Naeun yang gemar berbicara panjang-lebar. Kedua gadis itu, meski memiliki karakter yang berbeda, selalu kompak dalam urusan memperhatikan pasangan mereka masing-masing. Tentu saja, perhatian itu muncul bukan dalam bentuk dan kadar yang sama. Naeun jelas lebih unggul dalam hal ini. Sehun berani bertaruh, gadis itu pasti sudah bersusah payah membujuk guru seni musik mereka agar memberi kelonggaran waktu bagi Jongin untuk mengumpulkan tugasnya.

Kalau boleh jujur, terkadang timbul rasa iri di hati Sehun setiap kali melihat kedua sahabatnya memperoleh perhatian bahkan dalam bentuk sekecil itu. Orang tua Sehun tidak peduli apa yang dia lakukan di sekolah. Selama tidak memperoleh panggilan dari wali kelas, mereka akan selalu menganggap anaknya baik-baik saja. Sehun kadang bertanya-tanya, jika dalam sehari dia tidak masuk sekolah, apakah ada yang diam-diam mencari atau bahkan mencemaskan dirinya?

Rasa iri itu kadang juga berkembang sedikit lebih besar saat melihat Kyungsoo dan Jongin bercanda mesra dengan kekasih mereka, terlebih lagi jika itu dilakukan saat sedang berkumpul bersama seperti yang biasa mereka lakukan di akhir pekan.

Tapi, sejauh ini Sehun belum berniat mengikuti jejak kedua sahabatnya dan menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Kyungsoo sudah pernah mengajaknya ikut kencan buta. Jongin bahkan dengan lancang sudah diam-diam meminta Naeun dan Bomi untuk mencarikan calon pacar potensial untuk Sehun, namun pria itu selalu menolak. Sebut saja dirinya kepalang romantis, tapi Sehun percaya bahwa jika dia memang harus dekat dengan seorang gadis, maka itu akan diawali dengan hati yang jatuh secepat pergerakan jarum detik di jam analog. Dan sejauh ini hal tersebut belum pernah terjadi.

Sehun tidak tahu bahwa siang itu, di sebuah sudut sepi gedung perpustakaan, dia akhirnya akan menemukan apa yang selama ini dicarinya.

Sehun mengetik pesan balasan untuk Bomi dan Naeun sekaligus. Dia yakin mereka pasti sedang bersama saat ini.

Kau kalah. Yang membolos cuma kekasihmu dan Jongin, aku datang ke sekolah. Omong-omong, beritahu Naeun agar jangan cemas. Jongin bukannya sakit, hanya sedang kelelahan akibat bermain game semalam suntuk.

Setelah memperoleh pemberitahuan bahwa pesannya sudah terkirim, Sehun mengembalikan telepon genggamnya ke dalam saku. Berdiri, pria itu bersiap meninggalkan perpustakaan demi menuju kantin.

Gerakan Sehun terhenti ketika dia menyadari ada sosok lain yang saat itu berada di dekatnya, terlihat sedang asyik membaca sebuah buku tak seberapa tebal yang dikenali Sehun sebagai roman karya seorang penulis kenamaan dari Inggris. Sehun bukannya penggemar sastra. Dia bahkan bisa dengan mudah tertidur hanya dengan membaca cerita fiksi sepanjang sekian ratus kata. Terima kasih kepada Naeun yang beberapa hari lalu memperkenalkan bacaan terbarunya kepada Sehun dan teman-teman mereka yang lain hingga pria itu tahu buku seperti apa yang tengah dibaca oleh gadis di depannya.

Sehun tertegun di tempatnya, bukan karena fakta bahwa gadis di depannya membaca buku yang sama seperti yang dibaca Naeun, tapi karena ada sesuatu dari gadis itu yang membuat Sehun seolah lupa untuk mengedipkan mata. Dalam diam, dia memperhatikan sosok feminin itu perlahan menggerakkan tangan kanan demi menyentuh anak rambutnya yang terjatuh, kemudian menyelipkannya di balik kuping agar helaian sepekat malam itu tidak menghalangi kegiatan membacanya. Pendar cahaya yang berasal dari jendela di balik punggung gadis itu menjadi latar belakang yang entah mengapa begitu pas untuk menghadirkan potret seorang gadis penikmat cerita cinta klasik.

Mendadak, Sehun merasa jantungnya memompa darah terlalu cepat. Dia berdeham untuk mengalihkan kesadarannya akan denyut yang tidak normal itu, tapi secepat suara dehamannya menghilang, secepat itu pula suara degup jantungnya kembali terdengar.

Gadis di depannya nampak terlalu larut dalam bacaannya hingga tak sedikit pun bergeming mendengar dehaman Sehun yang sebenarnya agak mengganggu. Alih-alih menoleh, dia lebih memilih menggerakkan tangannya sekali lagi, kali ini untuk membalik halaman dari buku yang dibacanya.

Sehun berdiri selama beberapa lama lagi di tempatnya, menunggu gadis itu mendongak agar dia bisa melihat lebih jelas bagaimana wajahnya. Sebenarnya, sekadar melihat rambut panjang dan seulas senyum tipis yang sesekali muncul di wajah gadis itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat Sehun meloncat pada kesimpulan bahwa gadis di depannya ini cantik. Seragam pas badan yang membalut kulit pucat gadis itu juga telah menjelaskan betapa dia menjaga tubuhnya agar tetap dalam proporsi yang ideal. Oh, bukannya Sehun keberatan dengan gadis berpenampilan sederhana dan bertubuh tidak proporsional, tapi jika yang dirasakannya benar adalah ketertarikan seorang pria kepada lawan jenisnya, maka wajar ‘kan jika Sehun berharap semua berlangsung seklise drama remaja di televisi, di mana seorang cinta pertama selalu merupakan sosok yang menarik secara fisik dan kepribadian?

Suara nyaring bel pertanda jam pelajaran terakhir sudah dimulailah yang akhirnya menarik Sehun dari labirin pikirannya. Dia tidak ingat kapan lamunannya jadi begitu larut hingga tak menyadari bahwa gadis di depannya sudah tidak ada lagi. Seingat Sehun, dia sama sekali belum memejamkan mata maupun menggeser arah pandangnya dari gadis itu.

Sehun mengembuskan napas, mendadak jadi kesal pada dirinya sendiri yang sempat-sempatnya melamun. Padahal tadi dia jelas sedang memperhatikan gadis itu, menunggunya mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya. Dan lebih bodoh lagi, Sehun berpikir, bagaimana mungkin tadi dia lupa mencuri pandang ke arah papan nama gadis itu? Sekarang bagaimana dia mencari tahu gadis itu siswa kelas berapa? Bagaimana mereka akan bertemu lagi?

***

“Kau pasti mau ke perpustakaan lagi,” tebak Kyungsoo. Dia memasukkan sebutir stroberi yang menjadi penutup sajian makan siang mereka kali ini sembari melayangkan seulas senyum nakal ke arah sahabatnya.

Salah tingkah, Sehun menatap Kyungsoo yang tengah asyik mengunyah stroberinya. Padahal Sehun baru membuka mulut, belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, tapi sahabatnya itu sudah mendahuluinya berbicara. Tidak ada yang salah, sebenarnya, karena tebakan Kyungsoo barusan justru mempermudah Sehun berpamitan.

Sejak kejadian siang itu, Sehun jadi pengunjung tetap perpustakaan. Dia selalu menghabiskan makanannya lebih cepat daripada biasa agar bisa menggunakan sisa waktu istirahat makan siangnya untuk mengunjungi ruangan penuh buku yang terletak tidak seberapa jauh dari kelasnya. Terkadang, Sehun malah begitu saja melewatkan makan siangnya demi bisa lebih lama berada di tempat itu.

Sehun belum pernah bercerita kepada siapapun perihal gadis yang waktu itu dilihatnya tampak begitu khusyuk dengan bacaan di tangan. Kedua sahabatnya juga tidak pernah ada yang bertanya. Sehun menduga bahwa Jongin sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sedangkan Kyungsoo yang sepertinya cukup peka untuk bisa mendeteksi bahwa kelakuan Sehun ada hubungannya dengan seorang gadis, memilih untuk tidak banyak bicara sebelum Sehun sendiri yang berinisiatif untuk memberi tahu.

“Kalau kau berniat memperbaiki nilaimu dengan belajar lebih rajin di perpustakaan, kuberitahu saja, kau sudah terlambat,” ujar Jongin, cuek. Pria itu baru saja senandaskan nasi yang tersaji di piring makan siangnya dan kini tengah menenggak likuid dari dalam botol air mineral yang tadi dibelinya. Selepas menandaskan minumannya, pria itu berujar lagi, “Kita ini siswa yang sudah tidak tertolong. Satu-satunya cara agar kita bisa kuliah adalah dengan mencari universitas swasta yang tes masuknya tidak begitu rumit.”

Ucapan Jongin disambut pelototan dari Naeun, anggukan setuju oleh Kyungsoo, serta tawa dari Bomi. Di antara mereka, Jongin memang yang paling pesimis untuk urusan kuliah. Meski Naeun sudah berulang kali menyemangatinya dan sampai saat ini masih mempertahankan impian untuk bisa kuliah bersama kekasihnya itu di salah satu universitas kenamaan, Jongin seolah masih tidak tertarik untuk menginjakkan kaki di bangku kuliah. Sejak awal tujuan utamanya adalah ikut wajib militer seusai menyelesaikan pelajarannya di SMA. Setelah itu, dia berharap bisa membangun karier di bidang militer. Kyungsoo juga tidak jauh berbeda. Meski di antara mereka semua dia yang paling pandai dan paling kaya, urusan kuliah tidak pernah menjadi prioritasnya. Kyungsoo justru berencana melakukan perjalanan ke beberapa tempat terkenal dunia setelah sekolahnya berakhir nanti. Pria itu berharap, di ujung perjalanan itu dia bisa menemukan apa yang benar-benar ingin ia lakukan dengan hidupnya. Dan berhubung pemandangan seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi di antara mereka, Bomi hanya bisa tergelak setiap kali pembicaraan perihal kuliah mengemuka. Selain karena dia juga bukan tipe gadis yang mengutamakan edukasi—Bomi pernah berkata ia hendak menjadi aktris selepas sekolah nanti—menurutnya adegan di mana Jongin mendapat pelototan mengancam dari Naeun selalu tampak menghibur.

Sehun, di lain sisi, dengan mengikuti kemauan orang tuanya, jelas harus menjadi seorang mahasiswa selepas sekolah nanti. Orang tuanya tidak peduli di mana, yang jelas ia harus mengambil kuliah manajemen bisnis agar bisa mewarisi bisnis restoran yang sudah tiga generasi menghidupi keluarganya. Tapi itu bukan alasan bagi pria tersebut untuk rutin mengunjungi perpustakaan. Ah, Sehun bahkan tidak pernah belajar di sana. Yang ia lakukan hanya duduk di salah satu sudut sambil menunggu kemunculan seorang gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu dulu.

Sehun tidak pernah lagi bertemu dengan gadis itu. Dua minggu berturut-turut dia rutin mengunjungi perpustakaan, tapi tak pernah sekali pun dia melihat sosok feminin itu. Sehun bahkan pernah dengan sengaja mencari tahu buku dengan genre serupa seperti yang dibaca gadis itu di pertemuan pertama mereka, menunggu di dekat rak yang menyajikan buku romansa klasik, berharap suatu hari gadis itu akan muncul di hadapannya untuk mengambil salah satu dari sekian banyak buku yang tersaji di rak tersebut.

Gadis itu tidak pernah muncul. Akibatnya, Sehun kebingungan karena ada sebuah rasa rindu aneh yang melingkupi hatinya dan pria itu tidak tahu bagaimana mengenyahkan perasaan asing itu.

“Banyak pengunjung berambut panjang dan berwajah cantik yang datang ke sini,” ujar pegawai perpustakaan ketika Sehun yang sudah putus asa menunggu gadisnya memutuskan bertanya. Wanita paruh baya itu terkekeh pelan melihat bagaimana wajah penuh harap Sehun berubah kecewa karena pertanyaannya tidak bisa mendapat jawaban yang memuaskan. Sembari mengulas senyum keibuan, penjaga perpustakaan tersebut lanjut berujar, “Berikan ciri yang lebih spesifik, dengan begitu mungkin aku bisa membantu.”

“Apa kau bisa memberitahuku siapa saja yang pernah meminjam buku berjudul Persuasion?”

“Persuasion karya Jane Austen?”

“Huh?” Sehun bertanya, bingung.

Wanita itu terkekeh lagi. Memangnya apa yang ia harapkan? Sehun tidak tampak seperti pria yang akan mengenali seorang penulis yang lahir berabad-abad lalu itu. Ada beberapa buku berjudul sama yang disediakan perpustakaan sekolah itu. Wanita tersebut bertanya untuk mempersempit lingkup pencariannya, tapi setelah melihat ekspresi pemuda di depannya, ia merasa harus mencari sedikit lebih lama.

“Waktu peminjamannya?”

“Um, sekitar dua minggu lalu.” Sehun menjawab ragu. Dia lalu mengecek kalender kecil yang dipasang di atas meja kerja wanita di depannya, kemudian menambahkan, “Tanggal 18 Agustus.”

Wanita itu menunduk, tampak melakukan sesuatu dengan komputer di depannya. Sekitar dua menit kemudian, dia kembali menatap Sehun. Senyum yang tersemat di wajah yang mulai menua itu seolah memberitahu Sehun bahwa pencariannya akan segera berakhir.

“Namanya Oh Hayoung, siswa kelas 2-4.”

Sehun langsung membungkuk untuk mengungkapkan terima kasihnya. Setelah itu, dia berlari menuju kelas 2-4, mencari seorang gadis bernama Oh Hayoung.

***

“Jadi, siapa gadis ini?”

Sehun menoleh, mendapati Bomi sedang duduk di sampingnya sembari mengunyah keripik kentang. Sehun tidak tahu sejak kapan gadis itu ada di sana. Pria itu berpikir, sepertinya dia memang terlalu banyak melamun belakangan ini.

Pandangan Bomi lekat pada lapangan, di mana Kyungsoo dan Jongin, serta beberapa siswa lain tengah bermain sepak bola. Biasanya Sehun juga akan ikut bergabung bersama teman-temannya, tapi sore itu ia merasa kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Kalau bukan karena Jongin yang dengan keras kepala memintanya untuk tetap tinggal, Sehun pasti sudah berada di rumahnya untuk tidur.

“Kau tidak bersama Naeun,” Sehun berujar pelan. Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa Bomi dan Naeun selalu bersama ke mana pun. Bahkan, Naeun akhirnya menjalin hubungan dengan Jongin pun berkat Bomi yang mati-matian menjodohkan sahabatnya itu dengan sahabat Kyungsoo. Alasannya sederhana, agar mereka bisa melakukan kencan ganda suatu hari nanti.

“Ada pelajaran tambahan. Kau tahu sendiri bagaimana dia bersikeras ingin masuk Universitas Seoul,” beritahu Bomi. Mulut gadis itu masih terlihat mengunyah keripik sementara pandangannya masih tetap lekat pada apa yang tersaji di lapangan. Matanya terlihat membulat dan tak lama kemudian dia bangkit demi meloncat-loncat kegirangan setelah Jongin melesatkan sebuah tendangan yang membawa bola di kakinya bersarang di gawang lawan. Mengikuti arah pandang Bomi, Sehun menoleh ke lapangan dan ikut bertepuk tangan sebagai ungkapan dukungan bagi sahabatnya. Di sana, Jongin tampak menikmati gol yang baru saja dicetaknya. Pria itu berselebrasi dengan melambai-lambai penuh semangat ke arah bangku penonton yang hanya diisi oleh Sehun dan Bomi.

Setelah permainan berlanjut, Bomi menatap Sehun lagi. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” katanya.

Sehun mengerjap. Tampangnya terlihat seperti orang bodoh ketika dia berujar pendek, “Huh?”

Bomi hanya tertawa melihat kelakuan pria di depannya. “Gadis yang membuatmu melamun seperti tadi, Oh Sehun. Siapa dia?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Kenapa kau heran begitu?”

“Kyungsoo yang bilang?”

Bomi menggeleng. “Aku tidak sebodoh itu hingga tidak menyadari bahwa perubahan sikapmu disebabkan oleh seorang gadis.”

“Jongin dan Naeun tidak sadar.”

“Naeun tahu. Justru dialah yang pertama kali mengemukakan ide bahwa sikapmu berubah. Kalau Jongin, jangan heran kalau sampai sekarang dia masih belum menyadari apa-apa. Kau tahu kan, dia benar-benar bodoh,” sahut Bomi sembari terkekeh pelan. “Jadi, siapa gadis ini?”

“Aku tidak tahu namanya.” Sehun memulai penjelasan. Dia mengembuskan napas panjang, merutuki ketololannya yang hanya bisa mematung saat pertama kali bertemu dengan gadis itu di perpustakaan. “Aku juga tidak tahu dia siswa kelas berapa.”

“Kalian bertemu di mana? Siapa tahu aku bisa membantumu mencarinya. Kenalanku cukup banyak. Mungkin kita bisa meminta bantuan mereka.”

“Di perpustakaan. Di hari yang sama ketika Jongin dan Kyungsoo membolos karena kelelahan bermain game.”

“Sudah mencoba mencari tahu lewat petugas perpustakaan?”

“Sudah.”

“Lalu?”

Namanya bukan Oh Hayoung, rutuk Sehun dalam hati, teringat kembali hal yang dialaminya tadi siang. Padahal tadi dia sudah dengan begitu bersemangat berlari di sepanjang koridor demi menemui Oh Hayoung, berpikir bahwa akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan gadis yang selama dua minggu ini membuatnya resah karena alasan yang begitu tidak masuk akal. Oh Hayoung memang cantik. Rambutnya lurus dan memanjang sampai ke punggung, persis seperti gadis yang waktu itu dilihat Sehun. Terlebih lagi, dia adalah satu-satunya orang yang meminjam buku berjudul Persuasion di hari di mana Sehun bertemu dengan gadisnya. Tapi Hayoung bukan gadis itu.

“Tidak ada petunjuk.”

Bomi terkekeh lagi. Ekspresi putus asa Sehun entah mengapa begitu lucu baginya. Dia menyenggol pelan bahu pria itu seraya tersenyum dengan mata menyipit jenaka. “Uri Sehunnie benar-benar sedang dilanda cinta, huh?”

“Sehun jatuh cinta?!”

Jongin yang entah sejak kapan berada di bangku penonton langsung berseru takjub mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Bomi. Dia mengambil posisi duduk di antara Sehun dan Bomi, memaksa kedua temannya menggeser posisi mereka agar Jongin dengan tubuh besarnya bisa muat berada di antara Sehun dan Bomi. Jongin menatap kedua orang di sisinya bergantian, menunggu penjelasan.

Sehun melempar pandangan ke arah lapangan yang sudah sepi demi menghindari tatapan menuntut dari sahabatnya. Permainan tampaknya sudah berakhir tanpa ia sadari. Kyungsoo, dengan rambut dan pakaian yang basah karena keringat, terlihat berjalan ke pinggir lapangan untuk menghampiri ketiga temannya.

Ya, Do Kyungsoo, apa kau tahu bahwa sahabat kita ini sedang jatuh cinta?” ujar Jongin sembari mengaitkan lengannya ke leher Sehun. Di wajah pria berkulit eksotis itu, tampak sebuah cengiran lebar yang sebenarnya tidak tepat waktu.

Kyungsoo menatap Sehun, seolah meminta persetujuan. Dia tahu bahwa ada alasan mengapa sebelumnya Sehun tidak pernah terang-terangan mengakui perihal keberadaan seorang gadis yang telah mencuri perhatiannya, karena itu dia berhati-hati dalam berbicara.

“Aku sudah tahu.” Kyungsoo menjawab pendek setelah mendapat anggukan pelan dari Sehun. Dia duduk di samping Bomi, dengan santai meraih keripik yang sedari tadi dipegang kekasihnya itu, lalu menambahkan, “Naeun dan Bomi juga sepertinya sudah tahu.”

Jongin refleks melepaskan kaitan lengannya di leher Sehun dan menatap Bomi ingin tahu. Gadis itu hanya menyeringai melihat Jongin yang seperti sudah siap melontarkan protes. “Bagaimana mungkin kalian tidak memberitahuku?”

Kyungsoo mengedikkan bahunya. “Karena tampaknya Sehun belum ingin membahas masalah ini.”

“Kenapa?” tanya Jongin. Nadanya mendesak. Lalu, karena Sehun yang seharusnya menjawab pertanyaan itu tidak juga bersuara, ekspresi Jongin berubah dramatis. Pelan-pelan, dia bertanya lagi, “Kau tidak sedang jatuh cinta pada Naeun atau Bomi, kan? Kau tahu, semacam cinta terlarang seperti di film-film.”

Sehun dan Kyungsoo hanya mengembuskan napas panjang untuk menjawab hipotesis tak beralasan Jongin. Jalan pikiran sahabat mereka yang satu itu memang terkadang terlalu dipengaruhi oleh film yang ditontonnya. Bomilah yang kemudian berinisiatif menjitak kepala Jongin, berharap tindakan itu bisa sedikit memperbaiki frekuensi otak pria tersebut.

Jongin mengaduh dengan dramatis, seolah pukulan Bomi barusan sebegitu kerasnya. Bibir pria itu mengerucut manja, sementara tangannya bergerak mengelus kepalanya.

“Jangan berlebihan, Kim Jongin,” komentar Kyungsoo.

“Jadi siapa gadis istimewa ini?” tanya Jongin lagi. Tangannya sudah turun dari kepala. Urusan dramatisasinya terpaksa ia hentikan karena sepertinya, sekarang bukan waktu yang tepat.

Sehun akhirnya bercerita. Dia mengulangi apa yang tadi diberitahukannya kepada Bomi. Dan seperti yang Sehun duga sebelumnya, Jongin melonjak ketika cerita itu berakhir, setengah kaget setengah girang.

“Seharusnya waktu itu aku tidak membolos!” seru Jongin. Pria itu menepukkan kedua tangannya lantaran gemas. Dalam benaknya, timbul pengandaian. Jika saja ia ikut dengan Sehun, dia pasti bisa melihat seperti apa penampakan gadis yang membuat sahabatnya itu bercerita sambil tersenyum getir layaknya orang bodoh.

“Dan aku berpikir bahwa cinta pada pandangan pertama hanyalah bualan para pujangga,” kata Kyungsoo. Dia menyunggingkan sebuah senyum yang miring sebelah di wajahnya—yang kadang kala Sehun artikan sebagai seringaian nakal. Meski sudah lama mengetahui bahwa Sehun sedang menyukai seseorang, tapi detail cerita itu baru Kyungsoo ketahui sore ini.

“Tapi, Sehun-ah,” ujar Jongin lagi, “apa kau yakin yang kau lihat itu bukan hantu penjaga perpustakaan? Kau pasti pernah mendengar, kan, bahwa di perpustakaan sekolah kita pernah ada gadis yang bunuh diri lalu arwahnya mendiami tempat itu sampai sekarang?”

Sehun mengembuskan napas panjang sekali lagi, Bomi menjitak kepala Jongin dengan lebih keras dibanding sebelumnya, sedangkan Kyungsoo memutar bola mata di sampingnya.

“Tidak ada hantu di dunia ini, Kim Jongin.” Kyungsoo berujar malas, seolah sudah sangat jenuh dengan Jongin dan jalan pikirannya yang tidak beda jauh dari opera sabun murahan yang bisa didapati setiap malam di televisi.

“Cerita seperti itu ada di setiap sekolah,” imbuh Bomi.

Jongin hanya mengedikkan bahu, cuek. “Aku kan hanya mengutarakan pendapatku,” tukas pria itu. “Ah, seandainya Naeun ada di sini, dia pasti akan mendukung ucapanku.”

“Dia tidak akan melakukan itu!” Sehun, Kyungsoo, dan Bomi berujar gemas dalam satu ketukan.

***

Gadis itu muncul lagi. Di tempat yang sama, dengan wajah pucat yang sama, dan dengan tangan menggenggam buku berbeda—tapi sepertinya masih dalam genre yang sama. Kali ini, bukunya lebih tebal. Sampulnya berwarna kuning pudar dan ada gambar sepasang kekasih, berpakaian khas bangsawan Inggris abad ke-18, saling menumpukan kening di sana. Sehun membaca tulisan bersambung yang diyakininya merupakan judul dari buku tersebut. Sense and Sensibility, eja Sehun tanpa suara. Di bawahnya, terdapat nama seorang pengarang wanita—nama yang sama seperti yang mengarang novel yang dibaca gadis itu di pertemuan pertama mereka.

Sehun jadi berkesimpulan bahwa gadis itu adalah seorang penggemar dari penulis bernama Jane Austen. Dalam benaknya, ia berjanji akan mencari tahu lebih banyak tentang pengarang itu saat sudah sampai di rumah nanti. Pengetahuan akan penulis itu mungkin akan menjadi bahan obrolan yang menarik antara dia dengan gadisnya suatu hari nanti. Membayangkan itu saja sudah membuat Sehun tersipu malu.

Pria delapan belas tahun itu duduk di seberang gadis idamannya, masih dalam meja yang sama. Dalam hatinya, Sehun bersorak penuh kegembiraan. Tidak salah dia memutuskan menolak ajakan teman-temannya untuk ke taman hiburan dan malah mengunjungi perpustakaan di akhir minggu seperti hari ini.

Sehun baru tahu bahwa perpustakaan sekolah Kirin adalah satu di antara sedikit fasilitas sekolah yang tetap dibuka saat akhir pekan. Dia memperoleh informasi itu dari Naeun yang semalam mengiriminya pesan singkat, berniat membesarkan hatinya agar tidak kecewa karena tidak juga berhasil menemukan gadisnya. Naeun bilang, tempat itu tetap dibuka sampai sore agar siswa yang ingin belajar bisa punya ruang untuk didatangi, jadi kalau Sehun ingin mencoba peruntungannya sekali lagi, dia bisa datang ke sana.

Seperti kata Naeun, perpustakaan ini memang benar-benar buka. Meski tidak seramai biasanya, tapi menjelang ujian pertengahan semester seperti ini, Sehun rasa tidak mengherankan jika di setiap lorong pasti ada saja siswa yang sedang memilih buku atau duduk bersandar di rak sambil membaca. Setelah mendapat senyum yang seolah berkata kau-pasti-datang-karena-gadis-itu dari penjaga perpustakaan, Sehun memilih untuk langsung melenggang ke sudut di mana ia bertemu gadis itu pertama kali.

Gadis itu mengenakan seragam hari ini, sesuatu yang menurut Sehun agak aneh karena pengunjung lain lebih memilih mengenakan pakaian kasual berupa celana bahan dan kemeja. Sehun bahkan dengan santainya memakai jeans dan baju kaos putih polos yang ia lapisi dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru. Sehun tidak ingin berpikir terlalu jauh. Pria itu cukup puas dengan dugaan bahwa gadis itu mengenakan seragam hanya karena ingin tampak rapi. Di atas segalanya, tempat ini memang berada dalam kawasan sekolah, jadi wajar saja jika seorang siswa datang dengan seragam melekat di badannya.

Sehun tidak ingin mengulangi kebodohannya saat pertemuan pertama mereka. Segera setelah mendaratkan tubuhnya di atas bangku, ia langsung mengarahkan pandangan ke papan nama yang dikenakan gadis itu. Pria itu tersenyum setelah berhasil membaca huruf-huruf yang merangkai nama gadis itu. Tanpa sadar, ia menggerakkan telunjuknya di atas permukaan meja, mengikuti tarikan abjad yang sepertinya akan terus membayangi dirinya sampai berhari-hari kemudian.

Beberapa menit berselang, Sehun memutuskan membuka buku yang tadi secara asal ia sambar dari salah satu rak yang dilaluinya. Sehun tidak punya niat untuk membaca buku yang membahas kiat-kiat beternak sapi tersebut, tapi sesekali ia tetap memelototinya seolah pembahasan di dalam sana sangat menarik minat. Bagi Sehun, ekspresi serius gadis di dekatnya jelas lebih menarik untuk diperhatikan, tapi jika ia terang-terangan memandangi gadis itu, Sehun mungkin akan meninggalkan kesan pertama yang buruk. Sehun berniat untuk sedikit menjaga jarak agar sosok feminin tersebut tidak merasa terganggu dengan keberadaannya.

Ketika Sehun berniat mencuri pandang untuk yang kesekian kalinya, gadis itu sudah tidak lagi tampak. Dengan sedikit terlalu tergesa-gesa, pria itu melonjak dari bangku yang didudukinya dan berlari di sepanjang lorong perpustakaan, berharap masih bisa menemukan gadis itu.

Tapi, sepertinya semua skenario yang sudah ia rancang sepanjang dua jam belakangan tidak akan terlaksana hari ini. Tidak akan ada perkenalan. Tidak akan ada ajakan minum kopi. Tidak akan ada perjalanan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Karena gadis itu tidak tampak di mana pun.

Sehun mendesah kesal. Dia merutuki kobodohan yang lagi-lagi membuatnya melewatkan kesempatan untuk mendekati gadis itu. Tapi setidaknya kekesalannya kali ini tidak sama seperti dua minggu lalu. Dulu dia membiarkan gadis itu berlalu tanpa mengetahui apa-apa tentangnya. Sekarang, setidaknya dia sudah tahu nama gadis itu.

***

“Namanya Jung Soojung,” beritahu Sehun. Di wajah pria itu, terbit raut bangga yang tidak bisa disembunyikan ketika menyebut nama gadisnya.

Jongin refleks mematikan televisi yang sedang menayangkan drama favoritnya, Naeun mendongak dari buku latihan matematikanya, sedangkan Kyungsoo dan Bomi mengalihkan pandangan dari tablet yang menampilkan brosur elektronik tempat-tempat wisata yang rencananya akan dikunjungi Kyungsoo selepas hari kelulusan nanti. Mereka semua serentak menatap Sehun yang baru saja memasuki apartemen Kyungsoo.

Tubuh Sehun masih dibalut kemeja kotak-kotak biru serta celana jeans hitam pudar yang tadi dikenakannya saat ke perpustakaan sekolah, sehingga semua orang langsung menyimpulkan bahwa pria itu baru saja kembali dan langsung menuju tempat ini alih-alih pulang langsung ke rumahnya. Sehun, sambil tersenyum lebar laksana orang bodoh, duduk di atas sofa panjang yang menghadap ke televisi dan menatap teman-temannya yang duduk mengelilingi meja panjang yang mengantarai sofa dengan layar 34 inch di sisi ruangan tak seberapa luas tersebut. Dia memeluk bantalan kursi, menikmati bagaimana keempat temannya kini menghadiahinya dengan tatapan ingin tahu.

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi mereka untuk berkumpul di tempat Kyungsoo setiap akhir minggu. Kadang mereka memesan pizza dan menonton film sampai tengah malam, kadang mereka bermain monopoli—dan selalu berhenti karena Jongin kerap curang setiap kali uangnya tinggal sedikit, beberapa kali mereka bahkan membeli soju dan bernyanyi tidak jelas sampai akhirnya tertidur karena kelelahan. Malam itu, akibat kelelahan selepas mengunjungi taman hiburan, keempatnya memilih untuk tidak melakukan hal yang terlalu mengonsumsi energi.

“Dia benar-benar cantik?” Jongin bertanya antusias, yang langsung mendapat pelototan sarat cemburu dari Naeun.

“Tentu saja.”

“Dia mirip siapa?” tuntut Jongin lagi.

Sehun tampak berpikir sebentar. Dia menggaruk dagu, menimbang sosok terkenal mana yang bisa ia sandingkan dengan gadisnya. “Um… Krystal f(x)?”

Daebak!” seru Jongin sembari menepukkan kedua tangannya. Sudah bukan rahasia lagi kalau pria itu sangat menggemari gadis berambut panjang yang secara resmi memulai debutnya tahun 2009 itu.

“Kalian mengobrol?” tanya Bomi.

Sehun menggeleng.

“Setidaknya kalian pasti berkenalan,” imbuh Naeun.

“Iya, dia kelas berapa? Kami juga ingin melihat gadis itu,” tambah Kyungsoo.

Sehun menggeleng lagi. “Aku hanya menatapnya membaca buku sampai perpustakaan tutup,” beritahunya. Senyum serupa orang bodoh yang tadi melekat di wajah Sehun belum juga mau hilang. Ketika ia membayangkan gadis itu berada di dekatnya selama berjam-jam, senyum di wajah Sehun bertransformasi menjadi tawa ringan yang membuat keempat sahabatnya berdecak pelan.

“Kau pasti bercanda,” seru Jongin.

“Kau benar-benar jadi bodoh karena gadis itu, huh?” seloroh Bomi, yang berhasil membuat Kyungsoo tersenyum membenarkan perkataan kekasihnya.

“Sebenarnya aku berniat mengajaknya berkenalan saat dia sudah selesai membaca,” aku Sehun. “Rencananya, setelah berkenalan aku akan menawarkan diri mengantarnya pulang atau sekadar minum kopi bersama. Selama lebih dari dua jam, aku hanya duduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tapi tiba-tiba saja, dia sudah menghilang.”

“Jangan-jangan dia benar-benar hantu penunggu perpustakaan itu.” Jongin, dengan gaya dramatisnya yang seperti biasa, kembali mencetuskan ide yang berhasil membuat seluruh isi ruangan menatapnya dengan malas.

Wae?” protes Jongin, tidak terima dengan cara teman-temannya menatap dirinya. “Ide itu ada benarnya, kan? Coba kalian pikir lagi, kalau di sekolah kita memang ada gadis yang mirip uri Krystal, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya? Lagi pula, dia selalu menghilang setiap kali Sehun mengalihkan pandangan darinya. Itu jelas seperti hantu!”

Tidak ada yang termakan oleh ucapan Jongin. Bahkan Naeun yang biasanya memilih untuk tidak menggubris setiap kali pacarnya yang gemar bertindak berlebihan itu mulai mengutarakan skenario bodoh yang melintas di kepalanya, akhirnya ikut bergabung dengan Bomi untuk menghadiahi Jongin dengan sebuah pukulan pelan di kepala.

Ya, kenapa kalian malah memukulku?” ujar Jongin sembari mengelus kepalanya yang baru saja kena jitak.

“Setidaknya kita tahu namanya, jadi tinggal bertanya saja ke ruang guru untuk mengetahui dia duduk di kelas berapa,” ujar Naeun, mengabaikan kekasihnya yang sedang bersungut-sungut sebal di sampingnya.

“Iya, hari Senin nanti kita langsung ke ruang guru. Aku sudah penasaran ingin bertemu gadis itu,” tambah Bomi penuh semangat. Di kepalanya, dia sudah memikirkan ledekan macam apa yang akan ia lontarkan di depan Sehun dan gadis itu agar sahabatnya salah tingkah.

Sisa malam itu mereka habiskan untuk menyusun rencana demi mendekatkan Sehun dengan gadis bernama Jung Soojung.

***

“Anda yakin tidak melewatkan sesuatu, Seonsaengnim? Maksudku, aku yakin sekali nama itulah yang tertera di papan nama gadis itu,” kata Sehun kepada salah seorang guru yang berhasil dibujuknya untuk mencari tahu di kelas berapa Jung Soojung ditempatkan.

Park Jungsoo, yang kebetulan merupakan kepala guru di sekolah itu, menggeleng. Ia meletakkan map tebal berisi data semua siswa di sekolah ini ke atas mejanya. Isi map berwarna biru metalik itu baru saja ia telusuri lembar per lembar demi memenuhi keinginan Sehun, tapi hasil pencariannya nihil. “Kau lihat sendiri, kan, kita sudah mengecek data semua siswa di sekolah ini secara manual. Tadi juga aku sudah mencarinya langsung dari database. Tidak ada siswa dengan nama itu di sekolah kita. Sepertinya kau salah mengingat namanya.”

Tidak mungkin. Sehun yakin betul bahwa Jung Soojung adalah yang tertera di papan nama gadis itu. Sehun tidak mungkin salah lihat. Dia sudah memastikannya berkali-kali waktu itu.

“Mungkin dia siswa pindahan?” usul Sehun, masih belum ingin menyerah.

“Justru aku akan semakin mungkin mengingat namanya jika dia baru saja dipindahkan,” sanggah Jungsoo lagi.

Bahu Sehun melorot. Sama seperti ketika ia mendapati bahwa Oh Hayoung bukanlah gadis yang dia lihat di perpustakaan, kali ini pun semangatnya yang sudah sempat melayang tinggi harus terjun bebas menghempas tanah.

“Tapi dia mengenakan seragam sekolah ini.” Sehun berujar pendek. Kepalanya tertunduk lemas sebelum akhirnya tepukan pelan Jungsoo mendarat di bahu pria itu.

Sehun mendongak dan mendapati gurunya itu melayangkan senyum menenangkan ke arahnya, seolah hendak menghibur. Sebagai seorang guru, Jungsoo masih relatif muda. Ia pernah merasakan gejolak jiwa remaja seperti yang dialami Sehun saat ini. Ia juga masih ingat betul betapa di tahun terakhir seseorang sebagai siswa sekolah menengah, setiap momen kecil bisa jadi sangat berarti. Karena itulah, ia tahu bagaimana kecewanya pria itu karena tidak berhasil memperoleh informasi yang ia inginkan.

Sehun membalas senyum Jungsoo sebagai tanda hormat. Dia jelas kecewa, tapi setidaknya gurunya itu sudah melakukan lebih dari yang seharusnya ia lakukan. Setelah berpamitan, dia melangkah ke luar ruang guru. Keempat temannya sudah menunggu dengan penasaran di depan pintu.

“Jadi, gadis bernama Soojung ini duduk di kelas berapa?” Jongin, mewakili ketiga temannya yang lain, bertanya antusias.

Sehun hanya menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan itu, lalu tanpa berkata apa-apa langsung melangkah lesu menuju ruang kelasnya, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa memandang punggung pria itu dengan raut prihatin.

Oh Sehun baru pertama kali jatuh cinta. Cintanya jatuh dalam waktu yang begitu singkat, tapi menemukan gadis yang bertanggung jawab untuk semua itu ternyata memakan waktu yang tidak sebentar. Pria itu bertanya-tanya apakah semua memang harus sesulit ini. Dia mengembuskan napas panjang untuk memperbaiki suasana hatinya yang mendadak suram. Upaya pencariannya harus dimulai dari nol lagi. Dia harus kembali menunggu dengan sabar di perpustakaan, tanpa tahu kapan gadis itu akan menampakkan diri lagi.

***

Sehun selalu percaya bahwa di balik setiap hal tidak menyenangkan, akan ada hal baik yang mengikutinya. Hari itu, kepercayaan Sehun terbukti. Setelah dihukum karena lupa membawa tugas sains yang seharusnya dikumpulkan hari itu—Sehun terlalu bersemangat memikirkan percakapan yang akan ia lakukan dengan gadis itu saat mereka bertemu hingga tidak lagi memperhatikan tugas sekolahnya, setelah mencari ke ruang guru dan gadis itu ternyata belum bisa ia temukan, setelah seragamnya ditumpahi sup saat makan siang di kantin karena dia terus mengkhayal, setelah ia terpaksa menghabiskan semua uang di dalam dompetnya untuk membeli seragam baru, akhirnya ia bertemu dengan gadis itu.

Sehun, yang sepanjang siang hanya melamun, akhirnya memilih melewatkan makan siang. Sebagai ganti, dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan menyendiri di perpustakaan. Senyum akrab petugas perpustakaan menyambut pria itu tepat ketika dia baru saja melangkahkan kaki melewati pintu. Sehun menganggapinya dengan sebuah senyum sopan yang terlihat dipaksakan. Tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung mengayun tungkai menuju sebuah lokasi yang selama dua minggu belakangan akrab dengannya.

Gadis itu ada di sana. Duduk di tempatnya yang biasa, pucat seperti biasa, dan di wajahnya terdapat ekspresi larut yang sama seperti yang dilihat Sehun di setiap pertemuan mereka. Di tangan gadis itu ada sebuah novel tebal dengan gambar wanita berpakaian khas Inggris zaman dulu. Sehun memperhatikan, lagi-lagi ada nama Jane Austen di sampul buku itu.

Ada senyum yang merekah di bibir Sehun begitu menyadari fakta yang kini tersaji di hadapannya. Sebuah keberuntungan bahwa sepanjang minggu kemarin dia menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang penulis novel best seller itu. Dia tahu akan tiba masa di mana pembicaraan mengenai Austen dan novel-novelnya akan menjadi topik obrolan antara ia dan gadis di depannya, tapi Sehun tidak menyangka sekaranglah waktunya.

Gadis itu tampak begitu larut dengan bacaannya hingga tak menyadari bahwa Sehun sedang melangkah menuju dirinya. Dia bahkan tidak bergeming ketika Sehun menarik bangku yang terletak tepat di seberang tempat duduk gadis itu dan duduk di sana sembari melipat kedua tangan di dada.

“Austen, huh?” Sehun, dengan kepercayaan diri yang didongkrak hingga menyaingi Gunung Himalaya, berujar akrab kepada gadis di depannya. “Aku juga salah satu penggemarnya.”

Gadis itu mendongak demi menatap Sehun yang saat itu sedang tersenyum sok asyik di depannya. Sesekali dia menengok ke balik bahu, hendak memastikan bahwa pria itu benar-benar berbicara kepadanya. Menunjuk wajahnya sendiri, ia bertanya, “Kau berbicara padaku?”

Suara gadis itu ringan, tipis, dan seolah mengambang begitu saja di udara, membuat Sehun mendadak merasa ada hawa panas dan dingin yang secara bergantian menghantam dirinya. Lucu sekali, pikir Sehun, bagaimana tubuhnya bisa menggigil hanya oleh fakta bahwa dia sekarang sedang berbicara dengan gadis pujaannya. Pria itu tidak berhenti bertanya-tanya, apakah semua ini memang wajar? Apakah ketika pertama kali Kyungsoo bertemu Bomi atau Jongin bertemu Naeun, mereka juga merasakan hal serupa seperti yang dialaminya saat ini?

Sehun memamerkan senyum terbaiknya seraya menjawab pertanyaan gadis itu dengan singkat. “Tentu saja.”

Alis gadis itu serta-merta bertaut, seakan-akan apa yang sedang terjadi adalah sesuatu yang tidak seharusnya. Sekali lagi, dia mengulang pertanyaannya. “Kau benar-benar berbicara padaku?”

Senyum Sehun berubah menjadi sebuah tawa ringan yang berhasil mengundang desis sinis seorang siswa yang tengah asyik membaca buku tidak jauh dari tempatnya duduk. Sehun secara kasual mengangkat tangannya ke sisi wajah, pertanda bahwa ia meminta maaf, lalu kembali melayangkan pandangan ke arah gadisnya.

Buku dalam genggaman gadis itu sudah tidak lagi mendapat perhatian. Sang gadis, kini dengan kepala sedikit dimiringkan ke sebelah kanan, menatap Sehun dengan raut tidak yakin.

Sehun jadi bertanya-tanya apa yang begitu spesial dari seorang siswa yang mengajak teman sekolahnya mengobrol hingga gadis itu tampak begitu kebingungan.

“Siapa lagi kalau bukan kau, Nona—” Sehun menjeda kalimatnya sebentar. Pandangan pria itu mengarah ke papan nama yang menempel di seragam gadis di depannya. Senyumnya jadi semakin lebar ketika dia menyadari bahwa nama yang dulu diingatnya ternyata tidak keliru. “—Jung Soojung. Aku memang sedang berbicara kepadamu.”

“Kau… bisa melihatku?” gadis itu bertanya patah-patah, tampak tak yakin dengan apa yang diucapkannya.

Kebingungan yang sebelumnya tergambar jelas di wajah Soojung akhirnya menular kepada Sehun. Dia sama sekali tidak punya ide mengenai maksud gadis itu. Melihatnya? Tentu saja dia bisa melihat gadis itu.

Alih-alih menunjukkan kebingungannya, Sehun memilih tertawa ringan.

“Tentu saja aku bisa melihatmu. Memangnya kau ini semacam makhluk yang seharusnya tidak terlihat?” canda Sehun.

Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya membatu di tempatnya sembari menatap Sehun dengan raut menyelidik, membuat pria itu sedikit salah tingkah.

Berniat mengusir atmosfir aneh di antara mereka akibat perkenalan yang sama sekali tidak sesuai rencana itu, Sehun bertanya lagi, mengembalikan topik yang tadi ia ajukan saat awal perbincangan mereka. “Jadi, novel Austen yang mana yang paling kau suka?”

Gadis itu masih tidak mengatakan apa-apa. Pandangan awas yang dialamatkannya kepada Sehun masih melekat di wajahnya yang nyaris seputih kapas. Tapi, tangannya perlahan mengangkat novel yang sedang ia baca hingga Sehun bisa melihat dengan jelas judulnya.

Sehun sudah bersiap mengemukakan semua yang ia ketahui mengenai Pride and Prejudice; tentang bagaimana karakter Fitzwilliam Darcy yang angkuh berpadu apik dengan karakter Elizabeth Bennet yang penuh prasangka, juga bagaimana selama bertahun-tahun Sehun menghabiskan waktu luang untuk membaca ulang novel itu hingga rasanya ia bisa menghafalnya kata per kata. Yang terakhir tentu saja adalah sebuah kebohongan, tapi Sehun berpikir tidak ada salahnya membumbui percakapan mereka dengan sedikit hiperbola agar gadis itu terkesan.

Sehun sudah benar-benar membuka mulutnya. Semua kata yang saat itu melintas di kepalanya sudah berada di ujung lidah, hanya tinggal sepersekian detik hingga kalimat-kalimat panjang yang sudah dilatihnya berulang kali itu akhirnya terlontar. Tapi semua gagal karena Jongin tiba-tiba muncul dari belakang sambil mengaitkan lengannya ke leher Sehun, membuat Sehun alih-alih berbicara, malah tersedak seperti orang bodoh.

Jongin, dengan senyum yang sama sekali tidak menyiratkan rasa bersalah, langsung melepaskan lengannya dari leher Sehun dan memilih duduk di samping sahabatnya itu. “Ayo kita bolos,” ujarnya ceria. Jongin menjaga volume suaranya agar tetap rendah hingga orang lain tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. “Kyungsoo dan yang lain sudah menunggu di gerbang belakang.”

“Aku tidak ingin ke mana-mana.” Sehun berujar malas.

Wae?” tanya Jongin. “Kami membolos agar bisa menghiburmu, kau tahu. Bahkan Naeun yang paling rajin di antara kita, juga memutuskan untuk ikut.”

Sehun tersenyum tipis. Meski kesal karena kedatangan Jongin sudah merusak momen berharganya dengan Soojung, tapi Sehun jelas tersentuh akan kepedulian teman-temannya.

“Kalian tidak perlu melakukan ini,” beritahu Sehun. Dia melayangkan pandangannya ke seberang meja, di mana Soojung duduk dengan ekspresi tak terbaca. Dengan degup jantung yang lagi-lagi memburu, dia berujar pelan, “Aku sudah menemukan gadis itu.”

Jongin menoleh, mengikuti arah pandang sahabatnya. Dia bolak-balik menyejajarkan pandangannya demi memastikan bahwa ia melihat ke arah yang benar, tapi tetap saja yang didapatinya tidak berubah. Hanya ada bangku kosong di sana.

“Di mana dia? Di balik jendela?”

Sehun mendesis sebal. Apakah sikap jahil Jongin harus muncul sekarang? Sahabatnya itu benar-benar merusak momen romantis Sehun bersama Soojung. “Di kursi di depan kita, Bodoh!”

“Tidak ada siapa-siapa di sana,” sahut Jongin.

Sehun mengenali betul intonasi itu. Jongin mungkin jahil. Dia juga mungkin manusia paling bodoh yang pernah Sehun kenal, tapi Jongin selalu tahu kapan ia harus berbohong.

Secepat cintanya jatuh, secepat getaran aneh itu menghinggapi jantungnya, maka secepat itu pula kesadaran menghantam benak Sehun.

Demi membuktikan prasangkanya, dia menatap intens sosok Soojung yang tampak masih duduk di tempatnya semula. Mata pria itu aktif memindai penampakan gadis di depannya dari atas ke bawah. Rambutnya yang hitam dan memanjang hingga ke punggung, keningnya yang tertutup poni lurus dan nyaris menutupi mata, manik matanya yang cokelat dan kosong, hidungnya yang mancung, bibirnya yang pucat, dan kulitnya yang nyaris seputih kapas. Tidak ada yang begitu salah dengan itu semua.

Tapi ketika pandangan Sehun berangsur ke bawah, dia mendapati dada yang tidak kembang-kempis akibat bernapas. Ketika pandangannya bergerak ke arah lain, ada luka iris yang menganga pergelangan tangan kanan Soojung.

Otak Sehun merangkum semua pecahan petunjuk itu—yang sebenarnya sudah terpampang sejak awal mereka bertemu tapi selalu terabaikan olehnya—dan merangkainya dengan petunjuk-petunjuk lain yang diperolehnya sebelum ini. Tiba-tiba, semua jadi terasa masuk akal.

Soojung yang selalu tiba-tiba menghilang tanpa diketahui ke mana rimbanya. Cerita Jongin tentang hantu penunggu perpustakaan. Jungsoo yang tidak menemukan data gadis itu padahal ia sudah menelusuri semua dokumen dan database yang memuat informasi semua siswa di sekolah ini. Pertanyaan Soojung tentang apakah Sehun benar-benar bisa melihatnya. Terakhir, Jongin yang ternyata tidak mendapati apa-apa selain bangku kosong di depan mereka—padahal Sehun dengan jelas melihat ada sesosok gadis cantik sedang duduk sambil memegang buku di sana.

Seharusnya Sehun ketakutan. Seharusnya ia lari dan tidak kembali lagi ke tempat itu sampai kapan pun. Tapi ada sesuatu dari tatapan Soojung yang membuatnya enggan meninggalkan tempat itu begitu saja. Entah bagaimana, Sehun bisa begitu yakin bahwa gadis itu kesepian. Dan entah mengapa, timbul dorongan yang begitu kuat dari dalam dirinya untuk menghilangkan rasa sepi yang menyelimuti gadis itu. Akhirnya, alih-alih mengambil langkah seribu dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin, Sehun justru berbisik pelan, “Aku akan kembali lagi nanti.”

Soojung masih tidak menjawab, tapi seulas senyum muncul di wajahnya. Itu bukan senyum yang bisa menyaingi Miss Universe, namun senyum itu sudah cukup untuk merekahkan sesuatu yang aneh di hati Sehun.

Jongin sebenarnya bingung dengan apa yang dilakukan sahabatnya. Dia bingung dengan apa yang sedang terjadi. Alih-alih menyatakan kebingungannya, dia memutuskan untuk menganggap itu semua sebagai bentuk lelucon dari Sehun. Lelucon yang sebenarnya tidak lucu, namun setidaknya Sehun sudah tidak cemberut lagi, jadi dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.

“Jadi, kalian mau membawaku ke mana?” tanya Sehun dengan senyum nakal menghiasi sudut bibirnya.

“Karena ini dimaksudkan untuk menghiburmu, jadi Kyungsoo bilang kau bebas memilih mau ke mana.  Dia yang akan membayar semuanya.”

Sehun bangkit dari duduknya. Dia ganti mengaitkan lengannya di leher Jongin, kemudian melangkah ringan meninggalkan sudut perpustakaan di mana Soojung berada.

***

Ada sebuah cerita yang beredar di antara siswa SMA Kirin. Cerita itu tersebar dari mulut ke mulut, dari senior ke junior, hingga kemudian tidak ada lagi yang tahu pasti dari mana cerita tersebut berasal, juga apakah cerita tersebut nyata adanya.

Konon kabarnya, di perpustakaan sekolah itu, ada seorang gadis yang pernah bunuh diri dengan mengiris nadi di pergelangan tangan kanannya. Gadis tersebut dulunya adalah pengunjung tetap perpustakaan itu. Semua waktu luangnya selama di sekolah ia habiskan di salah satu sudut ruangan tak seberapa luas itu. Terkadang ia mengambil sebuah novel klasik dari salah satu rak untuk menemaninya menghabiskan waktu, namun seringnya dia menumpuk dua atau tiga buku pelajaran di depannya, membiarkan suasana hatinya memutuskan buku mana yang akan ia pelajari sampai tiba waktu petugas menyuruhnya pulang.

Gadis itu tidak terlalu mencintai buku, namun ia mencintai ruangan penuh buku tersebut. Suasana sepi yang ditawarkan tempat itu adalah alasannya untuk senantiasa datang setiap kali ada kesempatan. Gadis itu terlalu mencintai ruangan tersebut, hingga setelah mati pun ia masih menjadikan tempat tersebut sebagai favoritnya, tak ingin meninggalkannya.

End.

Author’s Note:

  • Maaf kalau endingnya geje tidak sesuai harapan. Hahaha.
  • Thanks to PutrisafirA255 from IndoFanfictionsArts for this beautiful poster:

since-the-very-first-time-sestal-hunstal

Advertisements

11 thoughts on “Since The Very First Time

  1. Untung aku sempat baca ada slight horror di genrenya, jadi udah siap menghadapi kenyataan kalo ternyata soojung itu bukan manusia. Awalnya aku pikir soojung ini vampir, haha.. Efek kebanyakan baca cerita vampir2an kayaknya.

    Mas sehun udahlah, daripada sama mbak soojung yang udah beda dunia, kenapa gak sama aku aja yg jelas2 nyata ini? Aku juga bisa kok bikin kamu degdegan sejak pandangan pertama *kedip kedip manis* ❤

  2. Dedek sehun harusnya udah curiga liat org hari libur dtg ke sekolah kok pake seragam. Untung kali ini aku jeli ngeliat deskripsinya soojung yg pucat dan suka ngilang. Haha..
    That callback tho~
    Aku rasa tulisanmu banyak pake callback gitu ya kak. Aku ingat bgt yg third meeting itu pake beginian juga, dan rasanya menggigit bgt. Seprtinya next time kalo aku baca tulisanmu lagi, selain tidak mengharapkan happy ending *uhuk* aku juga mesti jeli ngeliat apa yg ditulis di awal2. Biar ga ketipu2 bgt gitu kalo tetiba di ending malah nemu twist yg ngeselin 😂😂😂

  3. Aku senang sama bagian sehun bilang ke soojung kalau dia bakalan kembali lagi. Kesannya dia jadi gentle gitu….
    Tp ngomong2, peran jongin di sini jadi yg semacam ngelawak gitu. Kirain bakalan ada cinta segitiga, tp ternyata dia dipasangin justru sama naeun.
    Author kayaknya senang sama couple exopink ya? Sehun aturan udah sama hayoung aja tuh, biar ff ini jadi ff exopink sejati. Tp sestal juga gak apa2 sih. Kadang aku merasa krystal sama jessica tuh cocok bgt sama peran2 jadi hantu begitu. Hahah….

    1. Hihi.. Iya, aku suka baca ff yg castnya exopink. Gak sampe ngeship juga sih, tp berasa lucu aja masangin mereka. Awalnya juga pengen sekalian hayoung aja yg jadi pemeran utama di sini, tp belakangan aku ngerasa makin cinta sama sestal, akhirnya hayoung kebagian jadi cameo doang.

  4. Makasih byk udah nulis ff sestal lagi. Sejak kaistal dikonfirmasi pacaran, rasanya makin dikit aja ff sestal yg bermunculan. Makanya aku senang banget krn ada author yang nulisnya bagus dan idenya selalu anti mainstream yg masih setia sama couple ini *ehem, ini aku lagi menjilat, biar authornya terpanggil buat bikin ff sestal lagi*

    Ada rencana buat bikin sequel cerita ini gak? 🐶🐶🐶

    1. Hai, terima kasih juga udah berkunjung lagi ke blog ini. And you’re welcome, the pleasure is mine, actually. Aku emg kayaknya punya kecenderungan buat suka sm crackship seperti ini, jd ga usah pake penjilatan(?) juga aku usahain nulis ff sestal lagi.
      Soal sequel, kayaknya nggak deh. Aku ga ada ide bgmn interaksi mereka nanti bakal berjalan setelahnya. Hihi..

  5. Aku coba ngebayangin gimana penampakan soojung pas pertama kali sehun ngeliat dia. Rambut panjang, kulit pucat, lagi nunduk buat baca buku, trus backgroundnya cahaya matahari.. Udah kayak scene di film2. Pantesan aja sehun ajtuh cinta pada pandangan pertama.
    Dan sejujurnya aku sama sekali ga menaruh kecurigaan apapun. Org korea kan biasanya emg kulitnya putih pucat gitu. Trus cerita2 jongin, krn pada dasarnya dia emg dikarakterin jadi drama king, jadi aku pikir itu ga ada hubungannya sama siapa soojung sebenarnya. Gak taunya ternyata itu hint.
    Good writing, as always, kak! Keep up the good work ya.. Aku tunggu ff selanjutnya 😊😊😊

  6. FFnya keren thor. Ku pikir itu hanya roh soojung dan tububnya masih terbaring di rumah sakit karena koma dan meminta bantuan sehun untuk bisa mengembalikan roh soojung ke dalam tubuhnya. Sepertinya khayalanmu terlalu jauh wkwkwkk

  7. Keren keren! Kasian Soojung bunuh diri TT^TT Ngomong-ngomong, kalo dulu Soojung sekolah di situ, bukannya harusnya datanya dia masih ada di database ya? Cuma mungkin ada keterangan “sudah meninggal” gitu?

    1. Berhubung sehun gak kepikiran gadisnya itu ternyata udah lama meninggal, jd dia nyarinya cuma di lingkup siswa kelas 1-3 aja, gak sampe nyari ke data alumni /ngeles/ 😄😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s