haesica-nchuhae-youve-got-mail

Title: You’ve Got Mail

Author: nchuhae

Main Cast: Lee Donghae, Jessica Jung

Support Cast: Kim Heechul, Jung Soojung

Length: Oneshot, 5.5k words

Genre: Friendship, (slight) romance

Rating: PG-15

***

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Saipan, huh?

Kupikir Heechul hyung bercanda ketika dia memberitahu bahwa kau tiba-tiba meminta berhenti dari pekerjaanmu. Maksudku, kau mengincar perusahaan itu bahkan di saat kita baru saja menginjak bangku kuliah. Aku bahkan masih ingat betapa senangnya dirimu saat diterima magang di tempat itu, terlebih lagi ketika akhirnya mereka menyatakan bahwa kau diterima sebagai karyawan tetap. Ah, tubuhku seolah masih bisa merasakan sakit setiap kali aku terbayang betapa kuat pelukanmu saking senangnya kau waktu itu.

Aku paham, tekanan kerja di sana memang sangat tidak manusiawi, tapi mendengarmu selalu membanggakan tempat itu seolah tidak ada yang salah, membuatku selalu berpikir bahwa satu-satunya alasan kau tidak lagi berstatus sebagai pegawai di sana adalah karena perusahaan itu yang memberhentikanmu, bukan sebaliknya.

Kupikir kau juga hanya sedang mengerjaiku ketika dua hari lalu, di saat matahari kuyakini bahkan belum menampakkan diri, kau mengganggu tidur pagiku—yang sekali lagi kuberitahu, merupakan kemewahan yang hanya bisa kuperoleh saat akhir minggu—demi berpamitan dan memintaku jangan mengkhawatirkanmu. Dengan sifatmu yang memang suka mengerjaiku sejak dulu, rasanya aku sudah terlalu kebas dengan pemberitahuan seperti itu hingga tidak ada lagi alasan bagiku untuk menanggapi dengan serius ucapan perpisahanmu.

Melihat foto yang kau unggah di akun instagrammu membuatku merasa harus mengakui bahwa pemikiranku selama ini telah keliru. Kau memang makhluk penuh kejutan.

Jadi, Jung Sooyeon, katakan padaku, kenapa Saipan? DAN SIAPA PRIA BERWAJAH MENYEBALKAN YANG BERFOTO BERSAMAMU?!

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Re: Saipan, huh?

Izinkan aku membuka surat ini dengan sebuah pemberitahuan bahwa aku tertawa terbahak-bahak membaca apa yang kau tulis di suratmu sebelumnya. Tidak ada yang begitu lucu, sebenarnya. Aku hanya tidak bisa menerka apa yang melintas di kepalamu hingga kau memilih surel sebagai media untuk menyalurkan keingintahuanmu atas identitas pria di foto itu. Kenapa kau tidak langsung saja meninggalkan komentar di instagramku? Kemungkinan aku melihat komentarmu di sana lebih besar daripada kalau kau menuliskannya lewat surat elektronik, kau tahu.

Hm, pria itu. Kau benar-benar penasaran, huh?

Anggap saja sifat jahilku sedang kambuh, karena saat ini aku sama sekali tidak berniat menjelaskannya kepadamu. Membayangkan wajah penasaranmu selalu mendatangkan rasa senang yang aneh bagiku.

Tapi karena aku baik, maka aku akan menjawab pertanyaanmu yang satu lagi.

Aku memilih Saipan bukan karena aku benar-benar ingin ke tempat ini pada awalnya. Saipan hanya satu di antara sekian banyak destinasi yang terpikir olehku.

Jadi, di malam setelah menyerahkan surat pengunduran diriku, aku dengan asal mengocok kartu yang di masing-masing sisinya tertulis nama tempat wisata pantai. Kebetulan, Saipan-lah yang terpilih.

Yang benar-benar kuinginkan hanya sebuah daerah tropis di mana aku bisa mengenakan bikini dan memamerkan tubuh indahku. Mungkin di tempat ini aku juga bisa memperoleh seorang pria tampan yang bisa membuatku jatuh cinta. Pria di foto itu, misalnya.

Doakan aku beruntung dengan misi pencarian summer love ini. Aku berjanji, saat pulang nanti, aku akan membawakan banyak oleh-oleh khas Saipan untukmu.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Ck!

Jadi, ini tentang pembuktian ucapanmu saat resepsi pernikahan Heechul hyung dulu, bahwa kau juga akan menikah dengan cara yang sama seperti pria itu? Aku tidak mengerti logika apa yang mendasari ketololanmu ini, kalau memang betul hipotesisku tadi benar. Tapi kuingatkan, sadarlah! Kegilaanmu harus dibatasi. Membalas dendam—atau apapun tajuk yang kau sematkan untuk tindakanmu kali ini—sangat sinting dan konyol.

From: jungjessica@coridel.kr

To: leedonghae@superjunior.kr

Re: Ck!

Baiklah, aku tertawa lagi. Aku sedang membayangkan kau, dengan wajah sewotmu, menasihatiku sembari berdecak kasar layaknya ahjumma cerewet yang emosinya sedang labil karena sebentar lagi menopause. Kupikir aku harus memberimu penghargaan. Surel yang kau kirimkan memecahkan rekor, kau tahu. Empat ungkapan penghinaan dalam empat kalimat. Tolol, gila, sinting, dan konyol. Biasanya kau menghindari (atau setidaknya membatasi) umpatan seperti itu saat berbicara langsung kepadaku. Hahaha.

Omong-omong, aku gagal memahami dasar hipotesismu. Pernikahan Heechul oppa tidak ada hubungannya dengan liburanku.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Ingatanku sangat tajam, Nona Jung!

Masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku apa yang terjadi saat kita bertemu di pesta pernikahan Heechul hyung beberapa bulan lalu. Kau, dengan segelas cocktail di tanganmu, menghampiriku dan mengatakan bahwa suatu hari nanti akan menemukan cinta dan menikah dengan cara yang sama seperti mantan kekasihmu itu; berwisata ke daerah tropis saat liburan musim panas tiba, jatuh cinta dengan seseorang yang kau temui di sana, dan sekembalinya kalian ke kehidupan masing-masing, akan tetap melanjutkan cinta yang kalian semai selama masa liburan, tidak peduli apapun yang terjadi.

Waktu itu aku sempat berpikir bahwa ucapan tersebut lahir karena kau sudah setengah mabuk. Demi Tuhan, aku menghitung berapa gelas yang sudah kau minum sepanjang malam itu. Dan sebagai informasi untukmu, jumlahnya tidak cukup jika hanya dihitung dengan satu tangan. Sempat juga aku tergoda untuk menyimpulkan bahwa itu disebabkan oleh sakit hatimu yang harus merelakan Heechul hyung meninggalkanmu demi mewujudkan cinta dengan si summer love-nya itu. Tapi, pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa kau mengucapkan itu hanya untuk bercanda—aku juga masih ingat tawamu saat mengucapkan niat itu.

Bukankah itu sudah cukup menjadi dasar bagiku untuk berkesimpulan bahwa kau ke Saipan hanya demi menunjukkan kepada Heechul hyung bahwa kau juga bisa melakukan hal yang sama sepertinya?

Bagaimana, masih mau mengelak?

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Sedikit tambahan

Kau tahu, aku mendadak diserang kecurigaan bahwa kau melakukan ini karena ingin membuatnya cemburu, berharap setelah melihatmu dengan pria lain, dia menyesal kemudian meminta kembali kepadamu. Semoga aku salah, karena kalau ini benar, maka kurasa kau perlu sesi konsultasi dengan seorang psikolog.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Hei!

Beritahu aku bahwa ini semua hanya kebetulan. Kau berhenti karena memang sudah tidak betah dengan suasana kantor, bukan karena ingin mewujudkan rencana sinting seperti yang kuduga. Kau pergi murni karena ingin melepas penat dari pekerjaanmu yang nyaris tanpa libur, bukan karena musim panas yang akan tiba beberapa minggu lagi. Beritahu aku bahwa kecurigaanku salah, bahwa kau tidak sedang patah hati, bahwa kau benar-benar bisa menerima keputusan Heechul hyung seperti yang selama ini kau ucapkan kepada semua orang. Karena sungguh, kali ini aku tidak menyukai jika tebakanku benar.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Kau marah?

Melihat kau dengan aktif mengunggah fotomu bersama pria itu, aku bisa berkesimpulan bahwa kau sama sekali tidak sedang terdampar di tempat tak bersinyal. Berangkat dari fakta itu, aku jadi ngasumsikan bahwa kau tidak membalas surat-suratku karena sedang marah.

Oh, Jung Sooyeon, kau ini sudah nyaris menginjak umur kepala tiga, ada apa dengan segala tingkah konyolmu ini? Kalau memang apa yang kukatakan dulu keliru, kenapa kau tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Jangan membuatku khawatir, eoh?

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Heechul

Baiklah, kau masih marah. Dan karena kau tidak menyanggah apapun yang kutuliskan sebelum ini, maka aku akan terus mempertahankan ide bahwa kepergianmu ada hubungannya dengan Heechul hyung.

Omong-omong, tadi siang kami berdua bertemu di acara launching produk terbaru perusahaanmu. Dia menghampiriku dan bertanya tentangmu. Sepertinya bukan hanya aku yang penasaran dengan identitas pria yang sedang bersamamu di Saipan saat ini, jadi dengan lancang kujawab saja bahwa itu kekasih barumu. Aku tidak akan bilang bahwa dia terlihat cemburu, tapi bisa kupastikan bahwa kalimat wah-itu-berita-baik dan senyumnya saat itu terlihat dipaksakan.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Heechul (2)

Dia menanyakanmu. Lagi. Dan kali ini, dia juga menyatakan kekhawatirannya.

Rupaya kami berbagi gagasan yang sama. Kukutip kata-katanya tadi, “Entah mengapa aku merasa bahwa Sooyeon melakukan ini karena sengaja ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang tidak kuketahui apa.”

Aku hanya menimpali kalimatnya dengan sebuah tawa ambigu.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Heechul (3)

Sedikit berjaga-jaga saja, jangan sampai pemberitahuanku membuatmu kepalang melayang dan berpikir tidak-tidak. Heechul hyung bukannya cemburu. Yang ada, dia malah mengasihanimu.

Jadi, kami bertemu lagi tadi siang. Dia sengaja datang ke kantorku dan meminta waktu agar bisa bicara berdua denganku. Katanya, dia mencoba menghubungimu tapi tidak pernah mendapat jawaban. Uh, aku tahu ini tidak patut dibanggakan, apalagi di saat seperti ini, tapi kau tahu, aku sedikit berbahagia karena setidaknya dua surelku mendapat jawaban darimu—yang sepertinya sedang sibuk dengan kenalan barumu.

Baiklah, kembali ke masalah Heechul hyung.

Dia memintaku menasihatimu—atau apalah itu namanya. Yang jelas, dia ingin aku mengingatkanmu agar tidak memulai sesuatu yang tidak bisa kau hentikan. Pria itu, kalau kalian memang saling menyukai, maka lanjutkan saja hubungan entah-apa-namanya yang sedang kalian jalin saat ini. Tapi jika itu masih dalam rangka membuat Heechul hyung cemburu, maka sebaiknya kau menghentikan semuanya.

Sepertinya saling mengenal selama bertahun-tahun membuatnya bisa membaca jalan pikiranmu dengan begitu mudah. Sudah kubilang, kan, kalau tindakanmu itu terlalu kentara? Setidaknya bagi kami yang sudah mengenalmu sekian lama, jalan pikiranmu bisa dengan begitu jelas dibaca.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Pria itu

Aku akan membuat sebuah pengakuan.

Pria yang sedang bersamamu itu memang tampan. Yah, tidak setampan aku atau Heechul hyung, tapi somehow, dia punya charm-nya sendiri. Kurasa dia juga cukup romantis—setidaknya videonya saat menyanyikan lagu Phil Everly untukmu terkesan sangat romantis.

Aku sebenarnya tidak ingin terlalu cerewet dan bertanya macam-macam, tapi sungguh, aku ingin tahu ada apa dengan pria itu hingga kau tidak pernah lagi mengunggah foto bersamanya? Kau bahkan tidak pernah lagi memperbarui postinganmu di media sosial mana pun, padahal sebelumnya kau dengan begitu norak mengabarkan pada dunia tentang apa saja yang kau lakukan bersama pria itu di sana.

Kalian bertengkar?

Dan kau… kau baik-baik saja, kan? Kulitmu yang pucat itu tidak terbakar karena terlalu lama berjemur, kan?

P.S: Sepertinya aku merindukanmu.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Akhir Musim Panas

Hebat sekali, kau ternyata bisa benar-benar bertahan tidak menghubungiku. Padahal, di hari-hari biasa, kau bisa meneleponku tanpa tahu waktu hanya untuk menceritakan hal-hal tidak penting.

Musim panas sudah resmi berakhir di Korea. Sakura yang ada di depan gedung apartemenku sudah mulai rontok. Hawa dingin sudah pelan-pelan menyelimuti udara. Departemen store tempatku bekerja juga sudah mulai sibuk memasang busana-busana musim gugur di etalase.

Bagaimana dengan misi pencarian summer love-mu? Kapan kau kembali ke sini? Aku tidak sabar ingin menagih oleh-oleh khas Saipan yang pernah kau janjikan.

 

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Hei…

Tadi sore aku bertemu Soojung di sebuah apotik di dekat stasiun. Setelah kupaksa memberitahukan tentang keadaanmu, akhirnya dia memberitahuku bahwa kau sudah kembali ke Korea dua hari lalu. Aku mencoba menghubungimu lewat telepon tapi sepertinya kau masih belum berniat mengaktifkan ponselmu. Tadi aku juga ke apartemenmu tapi niat bertemu denganmu masih juga belum bisa terwujud, entah kau sedang tidak ada di tempat atau kau memang tidak ingin membukakan pintu untukku. Kuharap jawaban pertamalah yang benar.

Kau pulang bersama siapa? Pria berwajah menyebalkan itu ikut denganmu? Atau dia memang sudah sejak dulu tinggal di Seoul?

Hei, aku merindukan celotehan dan suara melengkingmu. Telepon aku, oke? Atau setidaknya balas pesanku.

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Re:  Hei…

Baiklah, aku akan jujur.

Pertama-tama, aku tidak marah kepadamu. Aku hanya malu. Dan sungguh, Lee Donghae, untuk menulis pengakuan ini pun aku masih dilingkupi ragu karena tidak ingin kau melihat betapa aku merasa sudah melakukan ketololan yang akhirnya membuat hidupku berantakan hingga aku tidak tahu lagi harus memulai dari mana untuk memperbaikinya.

Bisakah kau membayangkan bagaimana hancurnya perasaan seorang wanita yang ditinggalkan oleh kekasih yang sudah dipacarinya selama bertahun-tahun hanya karena si pria menemukan sosok lain yang dianggapnya lebih perhatian? Aku akui bahwa kesibukanku di kantor memang terlalu menggila hingga untuk berkencan dengan Heechul oppa yang bekerja di perusahaan yang sama pun rasanya begitu sulit. Aku akui bahwa adalah salahku jika dia kecewa karena saat gastritisnya kambuh beberapa waktu lalu dan ia harus dirawat intensif di rumah sakit selama seminggu penuh, aku hanya bisa menjenguknya dua kali, itu pun hanya sebentar.

Tapi apakah itu alasan yang masuk akal untuk membuat dia berpikir bahwa sah-sah saja memutuskan hubungan denganku? Apakah dia pernah melihat semua ini dari sudut pandangku dan mencoba memahaminya sedikit saja? Apakah dia tidak tahu bahwa untuk pertemuan kami yang singkat itu, aku harus mencuri waktu di sela-sela kesibukan yang mencekikku? Apakah semua ini murni kesalahanku? Aku juga berusaha untuk menjaga agar hubungan kami tetap berjalan baik-baik saja, kau tahu.

Betapa aku mengutuk kebijakan perusahaan yang mengizinkan Heechul oppa mengambil gap year yang kemudian digunakannya untuk berlibur—dan akhirnya menemukan wanita itu. Seandainya saja mereka tidak bertemu, apa dia tetap akan meninggalkanku?

Dan iya, kau benar sekali. Huh, memangnya apa yang bisa kusembunyikan darimu? Bagimu aku ini memang tidak lebih dari sebuah buku yang terbuka lebar, kan? Menyebalkan sekali. Padahal aku selalu menunggu masa di mana aku bisa menyembunyikan sesuatu darimu.

Seperti yang kau bilang, semua ini terjadi memang karena dirinya. Bahkan, kalau mau dirunut sedikit lebih jauh ke belakang, just in case kau tidak tahu, aku berhenti bekerja juga karena dirinya. Rasanya aku bisa mendadak sesak hanya karena fakta bahwa kami berada di bawah atap yang sama, dan sekadar informasi, itu sangat menyiksa.

Kau pernah mendengar ungkapan bahwa setinggi apapun pendidikan dan karier seorang wanita, ia tetap bisa terpuruk jadi orang paling bodoh hanya karena urusan hati? Aku lupa pernah membaca itu di mana, yang jelas hal seperti itulah yang terjadi kepadaku.

Aku ke Saipan karena ingin melihat semua ini dari sudut pandangnya. Aku ingin tahu apa memang sebegitu mudahnya perasaan tumbuh antara dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal hanya karena mereka tiba-tiba bertemu di sebuah tempat asing? Aku ingin berbikini sampai puas. Aku ingin memamerkan tubuhku agar dia menyesal telah meninggalkanku karena hei, jika dia memang ingin meninggalkanku demi wanita lain, bisakah dia memilih seseorang yang tidak seperti istrinya yang sekarang ini? Dia meninggalkanku demi wanita bertubuh gendut seperti itu membuatku tiba-tiba merasa buruk. Aku ingin dia tahu bahwa aku juga bisa dengan mudahnya mendapatkan pria lain. Aku ingin dia sadar dan akhirnya meminta kembali kepadaku.

Tentang pria itu, lupakan saja dia. Pria itu hanya satu dari sekian banyak pria berengsek yang bisa dengan mudah kau dapati di bar-bar murah di pinggir pantai. Dia menghampiriku saat aku makan malam di sebuah kafe saat hari pertamaku berada di Saipan. Kami berbincang cukup akrab. Dia bilang dia seorang pemusik dan tujuannya ke tempat itu adalah untuk mencari inspirasi. Muse, dia menyebutnya. Oh, bahkan mendengar kata itu saja aku sudah jijik.

Dibalik semua sikap berlebihannya, dia—surprisingly—ternyata cukup menyenangkan. Bersamanya, aku bisa mengobrol banyak hal; mulai dari The Police sampai One Direction, dari Stanley Kubrick sampai Christopher Nolan. Dia bahkan dengan mudah menjeratku dengan ceritanya tentang buku-buku Tolkien yang membosankan itu.

Apa kau melihat video yang kuunggah beberapa waktu lalu, di mana pria itu terlihat bernyanyi di sebuah kafe untukku? Kau membaca caption yang kutulis, kan? Ah, aku yakin kau melihat semuanya. Di atas segalanya, kau ini stalker sejatiku, kan? *grin*

Saat itu aku benar-benar bahagia. Untuk beberapa saat yang panjang, aku merasa bisa benar-benar merelakan kenyataan bahwa Heechul oppa meninggalkanku demi wanita lain. Kupikir segala yang terjadi adalah takdir agar aku bisa bertemu pria itu. Kupikir aku akhirnya bisa memahami perasaan Heechul oppa. Kau berada di negara asing, jiwamu kosong, dan sebuah kebetulan yang aneh membuatmu bertemu dengan seorang yang seolah bisa melengkapimu. Bukankah itu komposisi yang sempurna untuk menjalin sebuah kisah romantis? Ditambah fakta bahwa aku ke sana karena memang dalam misi untuk jatuh cinta, aku merasa sah-sah saja jika akhirnya aku bersedia tidur dengannya.

Dan di situlah kesalahanku dimulai.

Pria itu sakit jiwa. Garis bawahi kata sakit jiwa, karena yang kumaksud di sini benar-benar sebuah kelainan yang membuat perilakunya bisa mendadak sangat menyeramkan. Pria romantis nan menyenangkan yang kukenal, yang menjadikan hati-hariku selama di Saipan menjadi bak di surga, mendadak jadi seorang maniak di tempat tidur.

Kurasa tidak perlu kujelaskan bagaimana kelanjutannya. Kau bisa membayangkan apa yang terjadi kemudian. Sekadar informasi saja bagimu, semua yang terjadi sangat menjijikkan hingga aku merasa begitu kotor dan bodoh dan ingin bumi segera menelanku.

Aku kabur setelah menjalani malam bersama si bangsat itu. Aku memutus semua komunikasi dengannya. Aku sengaja pindah hotel demi menghindarinya. Tapi Saipan ternyata begitu kecil. Tidak sampai dua hari, dia kembali muncul di hadapanku. Dia bahkan mendatangi hotel tempatku menginap, menungguiku di depan pintu, dan terus-terusan mendesak agar aku mau kembali padanya.

Kau selalu mengataiku bodoh, bukan? Aku rasa tuduhanmu itu benar-benar terbukti karena aku dengan kesadaran penuh mengangguk ketika dia memohon agar aku memberinya kesempatan. Dan oh, sampai sekarang aku masih belum bisa mengetahui setan apa yang merasukiku ketika itu.

Kau pasti membaca surel ini sambil menyumpahi aku. Bertahun-tahun mengandalkan otakku untuk bekerja mungkin membuat semua kebodohan mengendap di alam bawah sadarku. Ketika akhirnya kebodohan itu menyeruak, dia menghancurkan hidupku.

Awalnya kupikir memberinya kesempatan kedua bukanlah hal yang buruk. Pria menyenangkan yang kukenal sudah kembali lagi. Dia bahkan membuatku takjub ketika dengan bercanda aku menawarinya untuk tidur di kamarku dan dia menolak dengan sebuah senyum yang sialnya sangat menawan.

Aku lagi-lagi luluh pada senyum itu hingga akhirnya akulah yang menariknya melewati pintu.

Dan kejadiannya berulang. Aku menderita karena ulahnya, dia minta maaf, aku menghindar, dia tidak berhenti muncul di depanku, dan begitu seterusnya hingga tiga bulan terlewati.

Katakan padaku, sebenarnya seberapa besar peluang seseorang mendapatkan pasangan yang menyenangkan selama masa liburan musim panas? Kau tahu, pasangan seperti yang diperoleh Heechul oppa, yang meski tidak menonjol dari segi fisik—aku masih tidak bisa menggunakan kata cantik untuk menggambarkan wanita itu—tapi membuatmu yakin untuk mengakhiri hubungan yang sudah terjalin hampir delapan tahun. Kalau memang peluangnya besar, kenapa aku tidak mendapatkan apa yang kucari? Kalau pun peluangnya kecil, kenapa Heechul oppa bisa? Kenapa dunia ini begitu tidak adil?

Aku kapok, Hae-ya….

Aku pulang dengan ketakutan karena pria itu terus mencariku. Aku pulang sebagai seorang pecundang yang alih-alih mendapatkan pria baik seperti yang kuinginkan, justru mendapatkan seorang stalker yang lebih berbahaya dibanding dirimu. Aku kembali dengan status sebagai seorang pengangguran yang mendadak terlalu takut keluar rumah untuk sekadar mencari pekerjaan baru karena terus-menerus dihantui kekhawatiran bahwa pria gila itu bisa saja melihatku di jalan. Seolah itu belum cukup, aku juga mendapati bahwa Heechul oppa malah mengasihaniku atas semua yang kulakukan, bukannya ingin kembali kepadaku.

Oh, sebagai informasi tambahan untukmu, aku juga perlu melakukan beberapa sesi konsultasi dengan psikolog dan ahli ginekologi karena semua kejadian ini.

How fucked up someone’s life could be?

P.S: Aku tidak lupa membeli oleh-oleh untukmu.

P.P.S: Tadi aku ke dokter. Mana mungkin aku tidak membukakan pintu jika yang mengetuk adalah kau?

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Bingung

Jadi, aku tidak mengerti akan banyak hal di sini.

Kenapa kau tiba-tiba muncul di depan pintuku, tak lama setelah aku mengirim pesanku yang sebelumnya? Jangan katakan bahwa kau kebetulan sedang ada urusan di sekitar sini, karena sungguh, aku tidak percaya dengan alasan itu. Kawasan ini bukan tempat yang menyediakan banyak kafe, restoran, atau noraebang yang bisa kau gunakan sebagai lokasi meeting dengan klienmu. Aku juga tahu betul bahwa kau tidak punya kenalan yang tinggal di sekitar sini.

Kenapa kau tadi tidak bertanya apa-apa tentang apapun? Maksudku, kau tadi terlalu tenang, terlalu tidak mirip dengan dirimu yang selama ini selalu bawel mengomentari setiap sisi kehidupanku. Aku jadi merasa ada yang aneh, kau tahu?

Lalu ada apa dengan setumpuk DVD yang kau bawa tadi? Kita tidak bertemu selama lebih dari tiga bulan, dan selama kurun waktu itu kau selalu bertanya bagaimana kabarku, tapi ketika kita akhirnya bertemu, kau malah lebih memilih menonton sambil makan ramyeon bersamaku? Aku tidak merasa pilihan filmmu jelek. Sebaliknya, serial ini justru adalah salah satu favoritku sepanjang masa. Aku juga tidak sedang diet sehingga mengonsumsi junk food di atas jam 10 malam bukanlah perkara besar. Tapi, tidakkah kau menyadari bahwa yang tadi itu sangat aneh? Kau datang, kita mengobrol sebentar lalu menonton dua installment Star Trek, dan akhirnya kau pulang begitu saja.

Apa memang otakku sudah kepalang bodoh hingga tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi?

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Re: Bingung

Sama seperti kau tidak bisa berbohong kepadaku, kurasa hal yang sama berlaku sebaliknya, huh?

Kau benar, aku memang berada di sana bukan karena kebetulan. Aku menunggu di depan rumahmu selama hampir satu jam, bimbang memutuskan apakah harus memencet bel di depan pintumu atau tidak. Di saat aku sudah hendak pulang karena memilih untuk tidak mengganggu, pesanmu masuk.

Oh, kuharap aku bisa menuliskan semua pertanyaan yang melintas di kepalaku sejak kepergianmu tiga bulan lalu. Terlalu banyak, Jung Sooyeon. Rasanya aku bisa membuat novel hanya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi kemudian suratmu datang dan tumpukan pertanyaan yang mengendap di otakku perlahan sirna. Kau menjelaskan jauh lebih banyak daripada yang sebelumnya kubayangkan akan kau bagi kepadaku, jadi bagaimana mungkin aku dengan tega melontarkan pertanyaan yang hanya akan mengorek lukamu?

Lagi pula, kupikir, setelah apa yang terjadi, bertanya macam-macam kepadamu bukanlah langkah tepat. Kupikir, kita—terutama kau— lebih baik melupakan saja apa yang telah terjadi beberapa bulan belakangan dan melanjutkan hidup tanpa banyak kekhawatiran tidak perlu.

Mengenai DVD itu, aku hanya mencomotnya dengan asal di salah satu rak penyewaan film di ujung jalan. Menonton akting Leonard Nimoy jauh lebih menyenangkan dibanding melakukan sebuah percakapan panjang yang isinya tidak mengenakkan hatimu, kan?

P.S: Aku baru ingat, aku belum mengambil oleh-olehku.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Bruno Mars

Aku memperoleh dua tiket konser Bruno Mars dari Direktur Choi. Mau nonton bersamaku?

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Re: Bruno Mars

Sepertinya sekarang kita jadi lebih sering berkirim surel dibanding pesan singkat di social messenger. Entah mengapa aku merasa ini seperti adengan di film-film romantis dan tidak lama lagi kau akan mengajakku berkencan. Hahaha.

Tentang Bruno Mars, TENTU SAJA AKU MAU! Jemput aku dua jam sebelum konser dimulai, oke? Kita perlu datang cepat untuk mengamankan tempat yang strategis.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Foto

Sesuai permintaan Anda, Nyonya, foto-foto kita selama konser kemarin kukirim via surel agar resolusinya tetap terjaga. Omong-omong, di beberapa foto kau terlihat sangat jelek.

Mengenai adegan dramatis yang terbayang di kepalamu akibat kegiatan saling berkirim surel ini, kuberitahu saja, aku bukan Tom Hanks dan kau bukan Meg Ryan. Bisa kupastikan ajakan berkencan itu tidak akan pernah ada.

P.S: Aku lagi-lagi lupa mengambil oleh-olehku saat menjemputmu kemarin.

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Konsultasi

Tadi siang aku ke psikolog lagi, sekadar memastikan bagaimana stabilitas emosiku karena kejadian yang sudah lewat. Dia bilang, emosiku sudah perlahan membaik. Dia menyarankan agar aku mulai menulis di sebuah buku harian berisi kegiatanku selama sehari serta apa saja yang kurasakan. Tulisan di buku itu untuk nantinya akan ia evaluasi, dan dari situ dia bisa memutuskan apakah aku sudah bisa menyudahi sesi konselingku atau belum.

Sebenarnya, aku lebih bersemangat memperlihatkan obrolan kita. Kurasa apa yang kutulis di sini sudah cukup mewakili semua hal yang perlu ia tahu. Di atas segalanya, menulis buku harian membuatku teringat saat aku masih seorang remaja yang baru mengalami pubertas. Waktu itu yang kulakukan hanyalah menulis, menumpahkan semua perasaanku di atas buku, dengan kata-kata yang oh-sungguh-menjijikkan. Tapi karena serel ini berhubungan dengan privasimu juga, jadi kurasa menulis buku harian adalah satu-satunya pilihan yang kupunya.

Selain menulis, psikolog itu juga menyarankan beberapa hal lain. Berkebun dan memelihara binatang, misalnya. Dia bilang merawat tanaman bisa membantuku merilis stress dan di saat yang bersamaan, membantu mengontrol emosiku. Sedangkan memelihara binatang, menurutnya, membantuku agar tidak merasa kesepian. Dia menganjurkan agar aku berbicara dengan binatang itu jika aku merasa ingin menumpahkan isi hatiku.

Aku tidak tahu dasar teori untuk semua hal itu, tapi aku sudah membuat daftar tanaman apa saja yang akan kupelihara nanti. Soal binatang peliharaan, entahlah, kurasa berbicara denganmu sudah cukup. Di atas segalanya, aku selalu bisa menghubungimu kapan saja, tanpa takut kau akan mengabaikan panggilanku, kan? Kau juga sering menyimbolkan dirimu dengan ikan, jadi kurasa aku sudah mendapatkan ikanku jauh sebelum psikolog itu meminta.

Baiklah, agendaku besok hanya berburu tanaman. Kalau besok kau tidak sibuk, temani aku, oke? Sekalian kubawakan oleh-olehmu.

 

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Oleh-oleh

Ketika kau berkata oleh-oleh, yang terbayangkan olehku adalah baju kaos murah bertuliskan I LOVE SAIPAN atau mug kecil yang sekali banting langsung pecah berhamburan. Kau tahu, kan, seperti itulah standar oleh-oleh bagi kebanyakan orang. Tapi ternyata kau memang makhluk penuh kejutan, huh? Ketika tadi aku menjemputmu dan melihatmu menenteng satu koper besar di pinggir jalan, kupikir kau sedang berniat pindah rumah. Oh, aku bahkan membayangkan bahwa pria itu mencarimu sampai ke Seoul dan kau perlu mencari tempat tinggal lain untuk menjauhkan diri darinya.

Aku baru saja membuka koper itu dan menilik isinya satu per satu. Kau yakin semua benda itu untukku? Maksudku, aku tidak keberatan menerima semuanya, tapi siapa tahu saja kau salah memasukkan beberapa benda yang semestinya untuk orang lain.

Ah, aku jadi ingin ke tempat itu juga. Apalagi di cuaca yang semakin dingin seperti sekarang, bayangan sebuah daerah tropis benar-benar menggodaku.

 

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Re: Oleh-oleh

Sebelumnya, terima kasih sekali lagi karena telah mengkhawatirkanku. Setidaknya aku bisa menjamin bahwa pria itu tidak akan bisa mendapatiku di sini. Sewaktu berada di sana, dia hanya tahu aku berasal dari Korea. Tidak ada pembicaraan lebih detail mengenai tempat tinggal. Dan terima kasih juga atas bantuanmu mengangkat sekian banyak pot berisi tanaman dari garasi sampai ke teras apartemenku. Sayang sekali kau harus segera kembali ke kantor, kalau tidak, kau pasti sudah kupaksa membantuku mengatur pot-pot itu.

Aku baru selesai mengatur semuanya. Kuakui ini salahku karena tergoda pada tanaman-tanaman itu tanpa sadar bahwa teras apartemenku tidak seberapa luas. Terima kasih pada kemampuan manajerialku yang hebat ini, pot-pot itu sudah tertata dengan rapi sekarang.

Punggungku sakit dan aku merasa harus membuat janji dengan salon langgananku besok. Aku perlu di-massage agar otot-ototku tidak kaku. Tenang saja, untuk kegiatan ini, aku tidak akan meminta kau menemaniku.

Bagaimana dengan oleh-oleh yang kuberikan? Kau suka semuanya, kan? Aku akan sangat marah kalau sampai aku ke rumahmu dan patung-patung kayu yang kubeli tidak kau pasang. Baju kaosnya juga. Memang harganya tidak sebanding dengan pakaian mahal yang kau jual di tempatmu bekerja, tapi itu adalah kualitas terbaik yang bisa kudapatkan, jadi jangan sampai baju-baju itu hanya mengendap di sudut lemarimu tanpa pernah kau pakai, mengerti?

Soal jumlahnya yang banyak, aku juga tidak tahu. Setiap kali aku mengunjungi suatu tempat dan melihat sesuatu, aku pasti teringat padamu. Pada akhirnya, aku selalu kembali ke hotel dengan tangan menenteng oleh-oleh untukmu. Untuk Soojung saja aku hanya membeli sebotol parfum.

Kalau nanti kau ke Saipan, ajak aku bersamamu, oke? Tiga bulan berada di sana membuatku cukup hapal seluk-beluk tempat itu. Aku bisa berguna sebagai pemandu wisatamu nanti.

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Norak!

Aku memang memintamu memakai baju yang kuberikan, tapi sungguh aku tidak ingat memintamu mengenakan semua baju itu dan mengunggahnya ke sosial media. Kau terlihat seperti seorang model online shop.

Sebagai informasi, aku sedang tertawa sekarang. Kau benar-benar norak!

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Re: Norak!

Hentikan tawamu. Melawak adalah hal terakhir yang ingin kulakukan dengan foto-foto itu. Aku hanya ingin menunjukkan rasa senangku. Tidak semua orang mendapat sekoper oleh-oleh dari temannya yang sedang berlibur, kan?

Omong-omong, baju bergambar bintang laut berwarna merah muda itu lucu juga. Aku mendapat banyak like karena baju itu. Hahaha… Bahannya juga enak. Aku akan memakainya untuk tidur.

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Heechul

Tadi siang aku bertemu Heechul oppa di salon. Kuulangi. Heechul oppa. Di salon.

Dan kau tahu untuk apa? Dia mengantar istrinya melakukan perawatan rutin. Kami mengobrol sebentar. Sekadar basa-basi. Entahlah… Aku juga tidak terlalu menyimak apa yang ia katakan selama kurun waktu kurang dari dua menit itu. Kepalaku penuh oleh hal lain.

Aku benar-benar marah, kau tahu? Tentu saja, di depannya aku tersenyum seolah semuanya biasa saja, tapi sialan, apa dia benar-benar menyukai istrinya hingga rela meluangkan waktu untuk mengantar wanita itu ke salon? Kami berpacaran selama delapan tahun tapi tidak pernah sekali pun dia menemaniku ke salon.

Kurasa semua sesi konsultasi dengan psikolog itu tidak ada gunanya sekarang. Tanaman-tanaman itu tidak bermanfaat sama sekali untuk meredakan kecemburuanku. Buku harianku baru saja kucorat-coret karena aku begitu kesal. Kau juga tidak mengangkat teleponku. Sedang meeting? Ah, aku butuh mengobrol denganmu. Hubungi aku setelah kau membaca pesan ini, oke?

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Heechul (2)

Baiklah, sepertinya kau benar-benar sibuk sekarang. Kuharap kau tidak kepalang panik saat melihat belasan missed calls dariku. Maafkan aku. Sepertinya aku benar-benar gila sekarang.

Aku baru saja selesai melakukan sesi menangisku. Iya, kau tidak salah baca. Aku menangis. Ah, rasanya sudah terlalu lama aku tidak menumpahkan air mata hingga tadi begitu air mataku luruh, aku tiba-tiba saja teringat semua hal menyebalkan yang kualami, dan itu memperparah semuanya. Seolah-olah, semua tangis yang kutahan selama ini terangkum dalam sesi tangis-tangisan tadi.

Aku menghubungi psikolog itu dan menceritakan semuanya. Kupikir kami akan melakukan sesi terapi rumit, tapi nyatanya dia hanya menyuruhku untuk tidak menahan tangisku. Jadi aku menangis sampai rasanya kepalaku sakit. Tidak usah kau tanyakan bagaimana wajahku saat ini. Semuanya terlihat menyedihkan.

Kau tahu, anehnya aku merasa lebih baik sekarang. Dan sungguh, kesadaran seolah menghantamku begitu kuat. Aku teringat saat masih menjadi kekasih Heechul oppa, betapa sering aku tidak mengacuhkan panggilan atau pesannya karena terlalu lelah bekerja seharian. Padahal sekadar menjawab dan balik mengatakan selamat malam pasti tidak ada salahnya. Aku juga dulu ternyata begitu asyik dengan diriku sendiri hingga tidak menyadari betapa dia sudah bersabar menghadapiku. Aku mengakui bahwa aku salah, karena selama delapan tahun menjalin hubungan, aku selalu terlalu sibuk bekerja hingga tidak ada di sampingnya di saat dia mungkin sedang benar-benar membutuhkan aku.

Perihal aku yang tidak merawatnya saat ia sakit, meski kuakui aku salah, tapi sempat terlintas di kepalaku bahwa alasan itu terlalu konyol untuk ia jadikan alasan meminta putus. Akhirnya aku menyadari bahwa itu hanya sebuah kulminasi dari tindakan-tindakanku sebelumnya—yang salah dan tidak pernah kusesali. Ah, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali meminta maaf kepadanya. Aku ini terlalu angkuh, kan?

Dan mengenai urusan salon itu, ah sialan, aku baru sadar kalau selama ini terlalu mandiri hingga tidak pernah memintanya menemaniku ke mana-mana. Bukankah pria senang kalau mereka merasa dibutuhkan? Bodohnya aku baru menyadari semua hal itu sekarang.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Re: Heechul (2)

Kau harus tahu bahwa aku tersenyum membaca suratmu. Bukan karena aku membayangkan mukamu yang kusut sehabis menangis berjam-jam—well, itu memang terjamin lucu, tapi menertawai tampangmu bukan hal yang menarik minatku saat ini. Aku turut senang karena akhirnya kesadaran itu datang kepadamu. Sungguh, tidak apa jika kau harus menangis. Sesekali kita memang harus cengeng agar terlihat lebih manusiawi, bukan?

Meeting-ku baru selesai dan aku yakin kau pasti sudah tertidur saat balasanku ini terkirim, tapi aku berani bertaruh bahwa tidurmu malam ini pasti nyenyak.

Jadi, besok aku akan mendapati seorang Jung Sooyeon yang baru, kan?

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Sudah bosan jadi pengangguran?

Aku senang melihat perubahan di dirimu beberapa minggu belakangan ini. Kau jadi lebih banyak tersenyum dan aku menyukainya. Tampaknya sesi menangismu waktu itu membawa banyak hal baik, huh?

Aku hampir tidak percaya ketika tadi kita bertemu dengan Heechul hyung dan istrinya di restoran dan kau menghampiri mereka, menyapa dengan ramah—bisa kupastikan keramahan ini tidak dibuat-buat—dan menawari mereka untuk bergabung bersama kita. Aku yakin Heechul hyung juga merasakan perubahan sikapmu karena pembicaraan kita tadi benar-benar sudah bebas dari kontaminasi rasa canggung.

Sepertinya tidak salah psikolog itu menyudahi sesi konseling denganmu. Kau benar-benar terlihat tanpa beban lagi sekarang.

Omong-omong, bukankah sesi konseling selama hampir setahun dengan seorang psikolog memakan biaya tidak sedikit? Aku tahu tabunganmu banyak dan sungguh, aku tidak berniat mencampuri urusan keuanganmu, tapi sekadar informasi saja, perusahaan tempatku bekerja akan membuka cabang di Niigata dan aku ditunjuk menjadi direkturnya. Kami membutuhkan beberapa tenaga kerja baru yang profesional karena tidak semua pegawai di kantor pusat akan dengan senang hati dipindahkan ke luar negeri. Aku rasa posisi sebagai manager pemasaran akan cocok untukmu. Aku menyertakan lampiran berisi rincian gaji, persyaratan, dan deskripsi pekerjaanmu nanti.

Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini saat kita makan malam tadi, tapi tiba-tiba aku merasa waktunya kurang pas. Aku benar-benar berharap bisa bekerja di bawah atap yang sama denganmu, jadi pertimbangkanlah tawaran ini baik-baik, oke?

Download attachment

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Subject: Niigata

Aku senang kau akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan yang kuajukan. Sudah lama sekali aku bermimpi bisa bekerja sama denganmu. Kujamin pekerjaan kita nanti akan menyenangkan.

Akan ada banyak hal yang menunggu untuk dikerjakan sesampainya kita di sana, tapi kuyakin kau siap dengan semua itu. Pengalaman bertahun-tahun memanajeri perusahaan sebesar tempatmu dulu bekerja pasti akan mendatangkan banyak kemudahan bagimu.

Sesuai rencana, aku akan berangkat besok pagi untuk mengecek keadaan kantor. Mungkin aku juga akan langsung meninjau tempat tinggal kita nanti. Pakaianku sudah kukemas dan sebagian barangku sudah kukirim via ekspedisi. Mungkin sisanya akan aku biarkan tetap di apartemenku yang sekarang.

Bagaimana dengan persiapan keberangkatanmu?

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Re: Niigata

Aku jauh lebih senang lagi karena kau memberikanku kesempatan untuk bekerja bersamamu. Aku merasa tawaranmu sangat pas untukku. Yang kubutuhkan adalah tempat yang benar-benar baru, dan kau tidak hanya menawarkan pekerjaan di bawah naungan perusahaan berbeda dari tempatku dulu bekerja, tapi juga lokasi yang berada jauh di negara seberang.

Aku tidak membawa banyak barang. Koperku hanya berisi beberapa lembar pakaian dan tiga pasang sepatu. Sisanya akan kubeli saat tiba di sana, jadi kuingatkan sejak awal, kau harus menemaniku berbelanja. Aku memerlukanmu sebagai penerjemah untukku nanti. Kau tahu sendiri kan, kemampuan Bahasa Jepangku masih berada dalam level mengerikan.

Mengenai tempat tinggal, aku tidak keberatan tinggal di mana pun. Asalkan kita bisa jadi tetangga, itu sudah cukup.

To: leedonghae@superjunior.kr

From: jungjessica@coridel.kr

Subject: Sup ayam

Perjalanan dari Seoul ke Niigata ternyata cukup melelahkan. Setelah kau pulang tadi, alih-alih merapikan barang, aku langsung mencari kasur dan tidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul tiga dinihari dan aku kelaparan. Senang sekali mendapati ada makanan di dapur. Kau memang sangat perhatian, huh? Seolah-olah kau bisa tahu bahwa aku akan terbangun di jam yang tidak pas dengan perut yang keroncongan karena tidak diisi selama belasan jam.

Sup ayam ini enak. Entah karena aku memang lapar atau karena ini dibuat berdasarkan resep rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang jelas aku sudah menghabiskan dua mangkuk—dan ada keinginan untuk menambah seporsi lagi. Jangan bilang kau yang memasaknya, karena jika benar, aku akan segera melamarmu.

To: jungjessica@coridel.kr

From: leedonghae@superjunior.kr

Re: Sup ayam

Sepertinya kau benar-benar memandang rendah kemampuan memasakku hingga kau begitu berani memakai lamaran sebagai sebagai bahan candaan. Kuberitahu, aku memang payah dalam hal memasak, tapi untuk urusan sup ayam, aku bisa diandalkan.

Jadi, kapan kau akan melamarku? Apa setelah menemanimu membeli pakaian nanti siang, kita juga akan ke toko perhiasan untuk mengukur cincin?

End(?)

Author’s Note:

  • I wish I could make it longer ><
  • Credit for the beautiful poster above goes to Deypratiwi from IndoFanfictionsArt
  • Comments will be really appreciated!
Advertisements

11 thoughts on “You’ve Got Mail

  1. Sebenarnya aku pengen minta sequel kak. Tapi melihat track recordmu yg selalu bikin sequel mwnyakitkan hati, jadi gausah deh. Biarkan aku membayangkan kelanjutan masalah sup ayam ini sendiri 😂😂😂

  2. aku udah sering liat ada adegan kirim2an email dlm ff, tapi baru kali ini baca yang full email doang sepanjang ff. spt biasa, aku suka sama bahasanya, kayak lagi baca novel terjemahan.

  3. Uyeeee… Akankah cinta mereka bersemi karena sup ayam? Hahaha.. Udah semacam judul ftv aja. Judulnya lamaran sup ayam atau kalo nggak, cinta dalam semangkuk sup ayam. #apasihfeligejedeh

    Aku suka sama format cerita ini. Somehow berasa lagi diam2 baca isi email orang dan ngeliat semua rahasianya. Hahaha… Tapi ngomong2, jessica diapain sama cowo yg dia kenal di saipan sampe harus ke ginekolog segala? Aku kebayang adegan 50 shades of gray masa -_______-* trus karena nama cowonya ga disebutin, masa yang kebayang di kepalaku tuh tyler kwon.

    Kakakkkkkk yang manis dan baik hati, aku minta sequel dooong… Tapi yg manis2 unyu gitu, jangan yg jleb nan bikin galau. Boleh yaaaa 😉😉😉

  4. Aku perlu buka kamus buat mencari tahu apa arti kulminasi 😂😂😂
    Donghae sama jessica ini semacam teman lama gitu ya? Kayaknya akrab banget, sampe donghae seolah udah tahu semua isi kepala jessica biarpun jessicanya sendiri gak ngomong apa apa.
    Dan selesainya kenapa nanggung gitu? Mereka balas balasan dua atau tiga email lagi buat mengkonfirmasi(?) perasaan masing masing kayaknya seru tuh.

  5. Lama gak berkunjung, kakak kembali nulis yeayy kangenn banget..
    Seperti biasa tulisan kakak selalu bikin errr apa yaa? Gemes gemes manja gitu, nanggung ngeettt..

    Duhh itu kenapa di end disitu?? Sequel pliss tp happy ending dong kak..
    Baper nihh selama ini disakitin kk terus krna ending yg gak biasa kalo gak gantung, nyesek 😦 *cry
    Hahhahahahaha
    .
    Semangat nulis kakk jgn berhenti.. tulisan mu baguss, bikin nagih ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s