sestal-always-had-never-will

Title: Always Had, Never Will

Author: nchuhae

Main Cast: Oh Sehun, Jung Soojung, Oh Hayoung

Length: Oneshot, 13k words

Genre: Friendship, Romance, Angst, Hurt

Rating: G

Sebelumnya: Always Had, Never Will

***

If I would have known that you wanted me the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms

***

“Apa aku benar-benar harus memakai benda ini?” gerutu Sehun. Dia mengempaskan dasi yang sejak tadi berusaha ia lilitkan di lehernya ke atas ranjang. Sudah beberapa kali percobaan, tapi upayanya belum juga bisa menghasilkan dasi yang tersimpul rapi. “Tutorial sialan! Pesta sialan!” makinya.

Soojung, yang sejak tadi berada di ruangan yang sama namun lebih memilih duduk santai sambil memandang ke luar jendela daripada membantu, akhirnya bangkit dari posisi malasnya. Wanita yang tampak matang di usianya yang menginjak 34 tahun itu langsung melangkah ke arah Sehun yang masih tampak kesal, terbukti dari mulutnya yang belum berhenti mencebik. Tanpa ragu, Soojung memukul kepala pria itu. “Apa kau mau membuatku malu?” bentaknya.

Tangan Soojung langsung meraih dasi yang tergeletak di atas ranjang dan mengalungkannya di leher Sehun. Dengan terampil, dia melilitkan kedua ujung dasi itu sambil berkata, kali ini dengan nada lebih lembut, “Itu pesta besar. Semua keluarga dan kolegamu akan datang. Mana mungkin aku membiarkanmu tampil hanya dengan kaus polos dan jas yang tidak dikancing?”

Eomma saja tidak banyak perintah sepertimu,” protes Sehun, masih tidak terima dengan Soojung yang dengan semena-mena memaksanya mengenakan setelan formal untuk acara malam ini. Padahal, pria itu sudah sejak awal berniat hanya akan mengenakan jeans yang dipadukan dengan kemeja kotak-kotak atau baju kaos polos dan jas semi formal. Tapi Soojung, dengan sikap bossy-nya yang seperti biasa, berhasil memaksa Sehun untuk mengikuti perintahnya.

“Nah, selesai!” seru Soojung begitu dasi Sehun sudah terpasang rapi. Wanita itu sempat melayangkan senyum puas melihat penampilan Sehun sebelum ia menggeser tubuhnya sedikit agar pria itu bisa langsung melihat pantulan dirinya di cermin setinggi badan yang dipasang di salah satu sisi ruangan. “Bagaimana? Kau tampak lebih tampan, bukan?”

Mengikuti arah pandang Soojung, Sehun ikut memperhatikan bayangan dirinya di cermin. Benar kata wanita itu, dia memang terlihat jauh lebih sedap dipandang sekarang. Abaikan unsur tampan. Sehun cukup percaya diri untuk menyebut dirinya tampan meski tanpa jas dan dasi senilai jutaan won. Tapi ada sesuatu yang lain yang datang bersamaan dengan penampilan barunya malam ini: wibawa. Kalau setiap hari dia memperkenalkan dirinya di depan orang-orang dengan gaya seperti ini, mungkin tidak akan ada lagi orang yang menatap ragu ke arahnya setiap kali dia memperkenalkan diri sebagai seorang direktur sebuah perusahaan kontraktor ternama.

Dipikir-pikir lagi, gaya berpakaiannya yang sehari-hari memang tergolong terlalu santai. Soojung bahkan pernah bilang kalau dengan penampilan seperti itu, dirinya terlihat lebih mirip seorang pengantar jajangmyeon. Tapi mau bagaimana lagi, gaya kasual membuatnya jauh lebih nyaman. Dengan baju santai seperti itu, dia juga bisa meninjau langsung lokasi konstruksi tanpa takut baju mahalnya akan kotor.

“Kalau cuma demi terlihat tampan, tanpa pakaian merepotkan ini pun orang-orang sudah memanggilku seperti itu.” Sehun berujar penuh percaya diri, membuat Soojung tergoda untuk memukul kepala pria itu lagi.

Tangan Soojung sudah benar-benar berada di udara. Jaraknya mungkin hanya tinggal sepuluh sentimeter dari puncak kepala Sehun ketika seorang anak yang tampak cantik dengan gaun putih selutut berlari dengan riang ke dalam ruangan. Akhirnya, demi memberi contoh yang baik kepada anak itu, alih-alih memukul, Soojung malah mengelus pelan rambut Sehun sambil menyeringai ke arahnya.

Tanpa mempedulikan tingkah dua orang dewasa di depannya, gadis kecil itu menghambur ke arah Sehun. Kedua tangannya direntangkan, dan seolah bisa membaca dengan jelas gestur itu, Sehun membungkuk dan ikut membuka lebar kedua lengannya demi memerangkap si gadis kecil dalam sebuah pelukan hangat. Ketika dia bangkit lagi, sosok mungil nan menggemaskan itu sudah berada di dalam gendongannya.

“Wah, uri Dayoungie terlihat seperti malaikat hari ini,” puji Sehun. Dengan penuh sayang, dia mendaratkan sebuah kecupan di pipi gadis dalam pelukannya. Dia lalu berujar bangga, “Tidak salah lagi, anak secantik ini memang anak Appa!”

Dipuji seperti itu membuat seulas senyum langsung merekah di bibir Dayoung. “Appa juga terlihat tampan sekali. Seperti pangeran di dongeng Cinderella.”

“Benarkah?” tanya Sehun, pura-pura terkejut mendengar dirinya disamakan dengan seorang pangeran. Setelah mendapat anggukan persetujuan dari Dayoung, pria itu mendelik bangga ke arah Soojung. Di wajahnya seolah terpasang stiker bahkan-anakmu-saja-mengakui-ketampananku, tapi wanita itu malah membalasnya dengan menjulurkan lidah.

Appa,” panggil Dayoung lagi, mengembalikan fokus Sehun kepada dirinya. “Halmeoni menyuruh agar Appa segera turun. Katanya kita harus segera berangkat agar tidak terlambat.”

“Begitu, ya?”

Sekali lagi Dayoung mengangguk dengan antusias, membuat Sehun yang gemas dengan tingkahnya kembali menghadiahi gadis itu dengan sebuah kecupan sayang. Pria itu kemudian melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Waktu ternyata sudah menunjukkan lewat pukul lima sore. Hanya tersisa kurang dari dua jam lagi sebelum acara pentingnya malam ini—yang mengharuskannya mengenakan jas dan dasi—dimulai.

Dengan Dayoung masih berada di dalam gendongannya, pria itu hendak melangkah demi menemui ibunya di lantai bawah. Tapi belum juga kakinya terayun, Soojung sudah menghentikannya. Dengan lembut, wanita itu meminta anaknya agar turun dari gendongan Sehun, berkata bahwa jika berlama-lama menggendong dirinya, pakaian Sehun akan jadi kusut dan itu akan membuat pria tersebut terlihat jelek.

“Dayoung tidak mau Appa jadi jelek.” Gadis itu berujar penuh perhatian.

Dayoung lalu dengan sukarela meminta Sehun untuk menurunkannya ke lantai. Padahal, di hari-hari biasa, anak yang penurut itu bisa jadi sangat rewel setiap kali ibunya memisahkan dirinya dengan pria yang dia panggil dengan sebutan Appa tersebut.

Sambil tersenyum keibuan, Soojung menyuruh anaknya agar turun duluan. Dia juga tidak lupa menitipkan pesan agar Dayoung berhati-hati di tangga. Dayoung, tanpa banyak kata, langsung menuruti perintah ibunya. Dia berlari dengan ceria menuju lantai bawah, membuat ujung gaunnya yang mengembang jadi bergerak naik-turun seperti kepakan sayap burung.

Ketika Dayoung sudah menghilang dari pandangan, Soojung menatap Sehun lagi. Tanpa peringatan, dia kembali melayangkan tangannya ke kepala Sehun. “Sudah kubilang jangan mengajari anakku untuk memanggilmu seperti itu,” omelnya. Meski di wajahnya tidak tampak ekspresi marah, tapi dia jelas keberatan dengan apa yang dilakukan Sehun.

“Sampai sekarang aku masih heran bagaimana otakku masih belum juga bergeser dari posisinya, mengingat kau memukulku hampir setiap hari.” Sehun, sambil mengelus kepalanya yang sepanjang sore ini sudah kena jitak sebanyak dua kali, bersungut-sungut tidak terima atas perlakuan Soojung kepadanya.

“Salahmu sendiri.”

“Dayoung saja tidak keberatan.” Sehun berkilah.

“Itu karena dia masih belum mengerti apa-apa,” balas Soojung tak mau kalah. “Tahu tidak, kau sudah membuat banyak orang salah paham karena kelakuanmu itu.”

“Salah paham? Siapa? Kau?”

Ada ekspresi tak terbaca yang sempat melintas di wajah Soojung mendengar perkataan Sehun, tapi wanita itu dengan cepat menggantinya dengan pura-pura tersenyum meledek. “Apa gunanya aku mengenalmu sekian lama kalau sampai sekarang masih saja tidak bisa paham betapa konyol dirimu itu?”

Sehun langsung tersenyum kecut karena apa yang dikatakan Soojung barusan. “Benar sekali, kau memang mengenalku dengan baik,” ujarnya nyaris tanpa suara.

Hening yang sama sekali tidak diharapkan tiba-tiba menyerang kedua orang itu tanpa peringatan. Suasana hangat yang sebelumnya hadir kini tergantikan oleh atmosfir aneh yang membuat Soojung merasa tidak nyaman.

Setelah beberapa detik berlalu, wanita itu berdeham dan dengan salah tingkah menggerakkan tangannya di bahu jas Sehun. Dia menepuk-nepuk pelan bagian itu, berkata bahwa bekas bedak tabur yang digunakan Dayoung menempel di sana. Sehun, meski paham betul bahwa jasnya baik-baik saja, memutuskan ikut ke dalam skenario Soojung dan berkata canggung, “Ah, benarkah?”

Soojung memberikan sebuah anggukan yang tidak kalah canggung sebagai jawaban. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, kedua orang itu sama-sama melangkah ke luar kamar tidur, menyusul Dayoung yang sudah menunggu di lantai bawah bersama ibu Sehun.

***

“Apa kau benar-benar anakku?”

Nyonya Oh, yang sejak tadi sudah duduk manis di kursi ruang tamu bersama Dayoung sembari menunggu Sehun selesai bersiap-siap, langsung bangkit dan menghadiahi anaknya dengan tatapan kagum setelah melihat betapa berbeda penampilan Sehun sore ini. Pandangan wanita paruh baya itu lalu beralih ke Soojung yang berdiri dengan gaun merah selutut, hanya satu langkah di belakang Sehun. Sambil tersenyum, dia mengacungkan jempolnya ke arah wanita yang lebih muda itu dan berkata tanpa suara, “Good job!”

Soojung menanggapi pujian itu tanpa berkata apa-apa, hanya jempol tangannya yang ikut terangkat ke udara, menirukan gestur serupa yang dilakukan ibu Sehun. Seulas senyum tipis juga merekah di wajahnya yang sore itu disapu riasan sedikit lebih tebal dibanding biasanya.

Melihat keakraban kedua wanita di dekatnya, Sehun berujar, “Aku yang terlihat berbeda, kenapa yang dipuji malah Soojung?”

“Karena ibumu lebih menyukaiku,” Soojung berkata jahil.

Sejak dulu Sehun memang selalu cemburu melihat ibunya yang selalu bersikap baik dan penuh perhatian kepada Soojung, sementara dirinya yang jelas-jelas berstatus anak kandung malah selalu dicela. Bahkan saat mereka kecil, setiap kali keduanya bertengkar, ibu Sehun pasti lebih membela Soojung, bukannya anak bungsunya sendiri. Sampai dewasa pun, kebiasaan itu masih terbawa. Soojung senang sekali menggoda Sehun, berkata bahwa ibunya tidak sayang kepada dirinya.

Mengharap pembelaan dari ibunya, Sehun menoleh ke arah Nyonya Oh yang terlihat sedang sibuk merapikan ikatan hanbok merah muda yang ia kenakan. “Eomma, kau dengar apa yang dikatakan wanita ini?”

Nyonya Oh langsung mendelik ke arah putranya. Wajahnya jelas menggambarkan ketidaksetujuan atas sikap Sehun yang menuding Soojung dan menyebutnya dengan panggilan ‘wanita ini’. Berkebalikan dengan apa yang diinginkan anaknya, Nyonya Oh malah berkata, “Tentu saja aku memuji Soojung. Kalau bukan dia yang menyeretmu ke sana-ke mari untuk mencari jas, aku yakin akan melihatmu datang ke pesta nanti malam hanya dengan celana jeans dan kemeja lusuh kesayanganmu.”

Sehun langsung berdecak sebal karena ucapan ibunya barusan. Kedua wanita itu memang benar-benar kompak. Salah besar karena dia sempat berharap ibunya akan membela dirinya di hari istimewa ini.

Lagi pula, apa yang begitu salah dari gaya berpakaiannya yang biasa sampai-sampai kedua wanita itu tidak berhenti mencecarnya sejak kemarin? Sehun tidak mengerti. Dia hanya berpikir, mungkin karena dia pria, makanya dia tidak bisa paham mengapa para wanita terkadang bisa jadi begitu cerewet karena hal tidak penting.

Appa tampan dengan penampilan seperti apapun, kok!”

Dayoung, seolah tidak ingin ketinggalan, ikut mengomentari penampilan Sehun. Anak itu turun dari kursi dan langsung berlari kecil ke arah Sehun yang berdiri hanya sekitar semeter darinya. Dia memeluk kaki pria itu seperti hendak berkata bahwa Sehun bisa tenang karena meski dua wanita lain di rumah itu mencelanya, Dayoung akan selalu ada untuk membela pria itu.

Kelakuan polos Dayoung langsung menuai tawa dari tiga orang dewasa di dekatnya. Sehun bahkan langsung mengangkat tubuh mungil anak itu dan kembali memerangkapnya dalam pelukan, tidak peduli kalau Soojung lagi-lagi memelototinya dan bilang kalau perbuatannya itu akan benar-benar membuat jasnya kusut.

“Baiklah, karena semua sudah siap, ayo kita berangkat sekarang.” Nyonya Oh berseru mengingatkan. Hanya tinggal sebentar lagi sampai acara yang akan mereka datangi malam ini dimulai. Dan Sehun, sebagai bintang utama dalam acara itu, wajib datang sebelum pesta dimulai.

Mereka berempat lalu berjalan menuju halaman, di mana sebuah Fortuner hitam milik Sehun terparkir, sementara Mazda merah milik Soojung berada di belakangnya.

Nyonya Oh sudah duduk manis di mobil putranya, sementara Dayoung yang baru saja didudukkan Sehun di kursi penumpang bagian depan juga terlihat sedang mengenakan sabuk pengaman ketika Soojung ragu-ragu mengutarakan niat mengajak anak itu untuk ikut bersamanya di mobil lain.

“Kau tidak ikut dengan kami?” tanya Nyonya Oh dari kursi penumpang bagian belakang. Wanita paruh baya itu melongokkan kepalanya di antara dua kursi di bagian depan mobil, menumpangkan tangannya di bahu kursi yang akan diduduki Dayoung, dan menatap Soojung dengan heran.

“Kau tidak tahu kalau pemerintah sekarang menyuruh kita untuk menghemat bahan bakar? Kalau bisa berangkat bersama, kenapa harus menggunakan mobil berbeda?” kata Sehun mengutarakan pendapatnya.

“Dayoung ingin bersama Appa.” Gadis kecil itu ikut merengek.

Soojung menatap ketiga orang di depannya bergantian, lalu pandangannya berhenti pada ibu Sehun. Dari ketiga orang itu, hanya ibu Sehun-lah yang Soojung yakini bisa memahami sikapnya.

Eomoni….” Soojung berujar minta pengertian.

Sehun memperhatikan kedua wanita itu bertukar pandang, dan langsung bisa membaca apa yang terjadi. “Kalau ini tentang Hayoung, aku berjanji, dia tidak akan marah lagi,” ujarnya tegas, meyakinkan.

“Sehun-ah,” Soojung memanggil nama pria itu. Suaranya terdengar sedikit putus asa. Topik ini sudah mereka bahas berulang-ulang, dan sering kali, semua itu berakhir dengan keduanya saling berdiam diri selama berhari-hari.

Sehun mengembuskan napas panjang. “Baiklah, kalau kau memang tidak ingin ikut denganku, terserah kau saja,” ucapnya dingin. “Tapi Dayoung tetap bersamaku.”

Tidak ingin memperpanjang masalah lagi, Soojung akhirnya mengangguk patuh. Dia memberikan sebuah kecupan sayang di kening anaknya, berpesan agar ia jangan rewel selama perjalanan. Wanita itu juga masih menyempatkan diri berpamitan kepada Sehun dan Nyonya Oh, berkata bahwa ia akan bertemu mereka lagi di parkiran gedung tempat acara diselenggarakan. Setelah itu, Soojung melangkah menuju mobilnya sendiri.

***

Selama lebih dari dua puluh tahun mengenal Oh Sehun, tidak terhitung sudah berapa kali Soojung membayangkan seperti apa kehidupan asmara mereka akan berjalan. Soojung pernah berangan-angan melakukan kencan ganda dengan Sehun dan pasangan mereka masing-masing, tapi semua itu tidak pernah terwujud. Setiap kali Soojung memiliki kekasih, pria-pria itu hanya bertahan di sampingnya selama beberapa minggu. Berulang kali Soojung berganti kekasih, namun Sehun tetap saja betah sendiri. Lalu, ketika Soojung akhirnya bertemu dengan Choi Minho, pria baik yang mencintainya sepenuh hati, Sehun selalu tampak sibuk dengan kariernya yang mulai menanjak. Jangankan memiliki pacar dan melakukan kencan ganda, memiliki waktu luang untuk bertemu Soojung saja Sehun nyaris tidak bisa.

Selama lebih dari dua puluh tahun mengenal Oh Sehun, tidak terhitung sudah berapa kali Soojung membayangkan siapa di antara mereka yang akan terlebih dulu menikah. Soojung selalu berkata di tiap kesempatan, bahwa jika salah satu di antara mereka menikah, maka yang lain harus menjadi seksi sibuk yang mengurusi segala macam keperluan pemberkatan dan resepsi. Setelah setahun lebih mengenal Choi Minho, Soojung akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Dirinyalah yang akan mendahului Sehun dalam hal pernikahan.

Sayang sekali, kenyataan datang dengan wujud yang kadang tidak terduga sama sekali.

Sebulan menjelang hari pernikahannya, Soojung mendapat kabar bahwa Sehun memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkenal di ibukota Negeri Ratu Elizabeth. Soojung tidak tahu sejak kapan Sehun yang sibuk punya waktu untuk mengurus beasiswa dan mempersiapkan studi lanjutan. Jangankan mendaulat Sehun untuk jadi seksi sibuk di acara pernikahannya nanti, Soojung terlalu marah untuk sekadar meluangkan waktu demi menemui pria itu dan bertanya mengapa kepergian Sehun terkesan terlalu tiba-tiba. Pada akhirnya, Oh Sehun, sahabatnya sejak kecil, tidak menghadiri pernikahannya karena harus segera berangkat ke London untuk mengurus tempat tinggal dan melengkapi berkas-berkas lain yang diminta pihak universitas.

Selama lebih dari dua puluh tahun mengenal Oh Sehun, tidak pernah sekali pun Soojung membayangkan bahwa persahabatannya dengan pria itu akan renggang. Meski sempat marah besar, Soojung akhirnya bisa berkompromi dengan keadaan dan memaafkan Sehun yang tidak hadir di pesta pernikahannya. Tapi wanita itu merasa Sehun sudah benar-benar keterlaluan karena selama berada di London, tidak pernah sekali pun dia membalas pesan yang Soojung kirim. Perkembangan hidup pria itu hanya bisa Soojung ketahui dari Nyonya Oh yang sesekali mengunjungi tempat tinggal baru Soojung—yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah orang tuanya. Dua tahun berlalu, Soojung akhirnya lelah bertanya. Komunikasi antara dirinya dan Sehun benar-benar terputus.

Dan sungguh, kenyataan itu memang sering datang dalam wujud tak terduga.

Soojung mengira pertemuannya dengan Choi Minho di sebuah kedai es krim adalah awal dari setumpuk kebahagiaan yang menunggu di masa depan. Ketika pria itu melamarnya di tempat mereka pertama kali bertemu, Soojung benar-benar yakin bahwa Choi Minho adalah alasan di balik kandasnya sejumlah hubungan yang berusaha ia jalin dengan pria-pria lain sebelum pria itu datang. Resepsi pernikahan mereka berlangsung meriah, meski Soojung merasa semua itu kurang lengkap tanpa kehadiran Sehun. Di usia pernikahan yang menginjak tahun kedua, Soojung mendapati bahwa Tuhan telah menitipkan sebuah bibit kehidupan di dalam rahimnya. Berita itu membuat orang tua Minho yang sejak awal sudah baik menjadi semakin menyayanginya. Sedangkan suaminya, yang setiap hari menghujaninya dengan kasih sayang, jadi semakin mencintainya lebih dari apapun. Semua skenario romantis yang pernah terlintas di benak Soojung terwujud setelah dia bersama pria itu. Bahkan, adegan dalam drama Pride and Prejudice yang selama ini selalu membuat Soojung iri kepada sosok Elizabeth Bennet mendadak terasa tidak ada apa-apanya dibanding apa yang Soojung alami sehari-hari bersama suaminya. Bersama Choi Minho, Soojung bisa melupakan bagian dari dirinya yang hilang karena ketiadaan Sehun di sisinya. Jadi, bagaimana mungkin wanita itu tidak merasa hidupnya sempurna?

Tapi bukankah kesempurnaan adalah hal yang fana?

Di usia kandungan belum genap delapan bulan, Soojung harus menghadapi kenyataan bahwa suami yang sangat dicintainya mengalami kecelakaan saat meninjau sebuah proyek di pinggiran kota. Sebatang besi jatuh menghantam belakang kepalanya yang hanya dilindungi helm standar pekerja. Dalam keadaan lemah karena hamil besar, Soojung harus menunggui suaminya yang koma selama berminggu-minggu di rumah sakit. Lelah yang berkepanjangan membuat bayi dalam kandungannya harus terlahir prematur. Wanita itu melewati sakitnya proses melahirkan tanpa seorang suami yang mendampingi di sisinya. Lalu, seolah semua itu belum cukup, Soojung kemudian mengetahui bahwa selama proses melahirkan, ayah dari anaknya ternyata telah mengembuskan napas terakhir.

Kebahagiaan yang diperoleh Soojung dalam waktu yang begitu cepat, juga berakhir dengan sama cepatnya.

Selama lebih dari dua puluh tahun mengenal Oh Sehun, tidak pernah sekali pun Soojung membayangkan bahwa pria itulah yang akan menjadi ayah bagi anaknya. Oh Sehun, yang kembali dari Inggris dengan gelar master di belakang namanya, tidak bisa menyembunyikan rasa prihatin ketika mendapati bahwa Jung Soojung yang selama empat tahun lebih tidak pernah ditemuinya ternyata sudah menjadi seorang ibu tunggal dari seorang anak sakit-sakitan . Oh Sehun, yang datang dengan seorang kekasih di sampingnya, tidak berpikir dua kali untuk menggendong anak Soojung yang saat itu baru belajar bicara dan meminta anak itu memanggilnya dengan sebutan Appa. Oh Sehun, tanpa mempedulikan perasaan kekasihnya sendiri, terus-terusan memperlakukan anak sahabatnya dengan begitu baik hingga tidak jarang orang lain salah paham karenanya.

Selama lebih dari dua puluh tahun mengenal Oh Sehun, tidak terhitung sudah berapa kali Soojung membayangkan wanita seperti apa yang bersedia berlama-lama berada di sisi pria itu sebagai seorang kekasih. Sikap Sehun yang terlalu sering tidak acuh kepada wanita-wanita yang mendekatinya membuat Soojung sempat curiga kalau sahabatnya itu akan selamanya hidup melajang.

Saat pertemuan pertamanya dengan Sehun setelah empat tahun berlalu tanpa saling bertukar kabar, kekhawatiran Soojung terjawab. Sehun datang kepadanya tidak seorang diri. Dia membawa serta seorang gadis bertubuh tinggi dengan garis wajah anggun yang senyumannya terlihat begitu meneduhkan. Gadis itu, yang diperkenalkan Sehun dengan nama Oh Hayoung, merupakan teman satu kampusnya selama di London. Bedanya, jika Sehun mengambil jurusan arsitektur, Hayoung menekuni bidang desain interior. Beberapa kali, mereka terlibat proyek yang sama, dan kebersamaan selama bekerja itulah yang akhirnya menumbuhkan perasaan berbeda di hati keduanya.

Ketika Sehun memperkenalkan gadis itu kepada keluarga dan kenalannya yang lain, Hayoung langsung merebut perhatian semua orang dengan begitu mudah. Sikapnya yang ceria, cara berbicaranya yang menyiratkan kesan cerdas, serta kepribadiannya yang menarik membuat Soojung langsung menyukainya sejak pertama kali bertemu. Belakangan, mereka bahkan menjadi sahabat akrab. Di waktu senggang, mereka biasa bertemu untuk belanja bersama atau sekadar minum kopi di kafe-kafe terdekat. Hayoung biasa mengisi obrolan mereka dengan menceritakan saat-saat yang ia lalui bersama Sehun ketika mereka masih sama-sama kuliah di London, sementara Soojung akan membayar cerita itu dengan mengungkapkan aib-aib masa lalu Sehun. Mereka kemudian akan bersama-sama menertawakan pria itu, tanpa menyadari bahwa akan tiba suatu masa di mana persahabatan yang mereka mulai karena seorang pria bernama Oh Sehun, juga akan renggang karena pria yang sama.

***

Unnie, kau sudah datang!”

Oh Hayoung, yang saat itu tampak anggun dengan balutan gaun malam rancangan seorang desainer ternama Perancis, langsung mengangkat kaki gaun putih gadingnya dan berlari kecil ke arah pintu masuk gedung begitu melihat Soojung datang. Wanita yang lebih muda dua tahun dari Soojung itu langsung mengedarkan pandangannya ke balik bahu Soojung, mencari sesosok pria yang malam ini akan resmi menjadi tunangannya.

“Mana Sehun oppa?”

Soojung menggeleng. “Kami berangkat menggunakan mobil berbeda. Kupikir justru dia yang akan lebih dulu sampai. Kau tahu sendiri kan, dia selalu mengemudi seperti orang kesetanan.”

Hayoung langsung tertawa mendengar candaan Soojung. Sejak pertama kali mengendarai mobil yang sama dengan Sehun, Hayoung sudah langsung tahu bahwa pria itu adalah tipe pengemudi yang gemar menginjak pedal gas mobilnya terlalu dalam. Demi menghemat waktu, katanya. Meski begitu, Hayoung tetap saja selalu merasa terhibur mendengar bagaimana Soojung memilih kata untuk menggambarkan kebiasaan sahabatnya. Mengemudi seperti orang kesetanan jelas bukanlah perumpamaan yang akan terpikirkan oleh Hayoung.

“Mungkin dia harus berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar.”

Soojung mengangguk, menyetujui gagasan tersebut. Mengalihkan pembicaraan, wanita itu lalu berujar, “Ngomong-ngomong, kau cantik sekali hari ini.”

Dipuji seperti itu, Hayoung refleks tersenyum simpul. Sepertinya, pujian semacam itu sudah terlalu sering ia dengar hingga tanpa dikomando pun tubuhnya akan memberikan respon dengan sendirinya. Wanita itu menyondongkan tubuhnya ke arah Soojung dan berbisik pelan seolah apa yang hendak dikatakannya adalah hal yang sangat rahasia.

“Aku hanya makan apel sejak dua hari lalu agar gaun ini terlihat bagus di badanku,” beritahunya.

Kedua wanita itu lantas tertawa berbarengan, tahu betul bagaimana penderitaan yang harus dialami demi tampil menarik di acara-acara penting. Dulu, menjelang pernikahannya, Soojung bahkan dipaksa melakukan diet ketat selama seminggu penuh oleh kakaknya karena gaun yang dia pesan ternyata sempit di bagian pinggang dan perombakannya akan mengubah bentuk gaun itu secara keseluruhan.

Hayoung kemudian mengajak Soojung ke dalam ruangan yang tampak megah itu. Gedung tersebut adalah salah satu tempat yang dipilih banyak orang untuk melangsungkan pernikahan karena desainnya yang unik dan letaknya yang strategis. Banyak selebriti papan atas dan anak konglomerat memilih tempat ini untuk menyelenggarakan hari besar mereka. Tidak tanggung-tanggung, orang kadang harus memesan berbulan-bulan sebelum akhirnya bisa menggunakan gedung ini. Menurut kabar, Sehun terlibat dalam proses pembangunan gedung ini sebelum melanjutkan kuliahnya di Inggris. Lalu, lima tahun kemudian, saat interior gedung ini hendak direnovasi, Hayoung secara kebetulan menjadi orang yang ditunjuk untuk mengerjakannya. Alasan itulah yang membuat Hayoung rela mengulur rencana pertunangannya selama hampir setahun hanya demi menunggu reservasi gedung ini kosong dan ia bisa merayakan hari bahagianya di tempat bersejarah ini.

Setelah menemukan tempat duduk yang disediakan panitia untuk dirinya, Soojung menyuruh Hayoung untuk meninggalkan dirinya dan menyapa tamu lain yang baru datang. Dia merasa tidak enak jika terus-terusan menahan Hayoung dengannya. Apalagi, wanita itu tahu betul kalau beberapa hari sebelum pesta ini diselenggarakan, Hayoung dan Sehun bertengkar hebat karena dirinya. Hayoung mungkin bisa dengan mudah menutupi kecanggungan itu dengan sikapnya barusan, tapi Soojung tidak bisa melakukan hal yang sama. Rasa bersalahnya membuat itu semua terasa sangat sulit.

Butuh waktu lebih dari setengah jam bagi Soojung untuk menunggu hingga Sehun tiba ke tempat itu. Soojung langsung membelalak ketika dia mendapati pria itu muncul di pintu masuk gedung dengan Dayoung berada di dalam gendongannya. Wanita itu nyaris terjatuh karena tidak lagi memperhatikan langkah dan hanya fokus untuk segera mengambil anaknya dari dekapan Sehun. Padahal dia sudah menelepon untuk meminta Sehun memberitahu jika dirinya sudah sampai, dengan begitu Soojung bisa menjemput Dayoung di tempat parkir dan Sehun tidak harus memasuki gedung dengan seorang anak kecil di sisinya.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Soojung. Suaranya dibuat serendah mungkin, tapi Sehun tetap tersinggung karenanya. Terlebih lagi karena wanita itu langsung mengambil Dayoung dari rangkulan pria di depannya, membuat gadis kecil itu sempat meringis.

Soojung melirik ke sekeliling dengan tidak enak hati. Dari ekor matanya, ia  mendapati beberapa tamu mulai berbisik, mungkin penasaran dengan identitas anak yang digendong Sehun. Wanita itu lalu berdesis sebal ke arah sahabatnya, “Kau mau membuat semua orang menggosipkanmu?”

Sehun, meski jelas-jelas tidak menyukai sikap Soojung, memilih meredam emosinya dan hanya mengedikkan bahu dengan cuek. “Aku tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan.”

Menyadari siatuasi yang mulai memanas di depannya, Nyonya Oh berinisiatif melerai. Wanita paruh baya itu langsung meremas pelan bahu Soojung dan berujar menenangkan, “Sudahlah. Kau tidak usah khawatir.”

Hayoung menghampiri mereka beberapa detik kemudian. Wanita itu sebenarnya sudah menyadari keberadaan Sehun sejak awal pria itu berdiri di depan pintu, tapi tidak bisa segera menghampirinya. Selain karena gaun yang ia kenakan membuatnya tidak bebas bergerak, ia juga butuh waktu untuk mengatur ekspresinya agar tidak terlihat kesal dengan apa yang dilakukan calon tunangannya itu.

“Kau terlambat,” ujarnya dengan bibir mengerucut sebal.

“Macet.” Sehun menyahut pendek.

Soojung sepenuhnya tahu bahwa apa yang dikatakan Sehun adalah sebuah kebohongan. Hanya ada satu rute yang bisa ditempuh dari kediaman Sehun ke tempat ini. Soojung tadi melewati rute itu tanpa mendapati tanda bahwa akan ada macet parah yang membuat Sehun tiba tiga puluh menit lebih lama darinya. Tapi demi menjaga agar Sehun tidak bertambah marah kepadanya, wanita itu memutuskan untuk diam saja.

“Benar-benar keterlaluan,” ujar Hayoung. Di wajahnya terlihat ekspresi sebal yang sama sekali tidak berusaha ditutup-tutupi. Dia lalu mengaitkan kedua tangannya di lengan Sehun dan menarik pria itu untuk bertemu dengan orang tuanya. Sambil melangkah, dia lanjut menggerutu, “Kalau tahu akan macet, seharusnya kau berangkat lebih cepat. Tamu-tamu sudah berdatangan sejak tadi, dan aku harus menyapa mereka seorang diri.”

Nyonya Oh sempat melemparkan senyum simpul ke arah Soojung sebelum ikut melangkah untuk menemui calon besannya yang juga tampak tidak terlalu suka dengan apa yang dilakukan Sehun tadi.

Setelah ditinggal berdua dengan anaknya, Soojung lalu menuntun Dayoung menuju meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Beberapa orang masih tampak memperhatikan anak itu sambil berbisik-bisik ingin tahu, tapi Soojung memilih untuk tidak mengacuhkannya. Dia berpikir, dengan bersikap cuek, keingintahuan orang-orang itu juga akan lenyap dengan sendirinya.

***

Sehun memasuki kamarnya dan langsung merebahkan diri di kasur. Pria itu merasa benar-benar lelah hari ini. Padahal, sejak pagi dia hanya berada di rumah. Dia baru keluar sore tadi untuk menghadiri pesta pertunangannya. Di pesta itu pun, Sehun tidak terlalu banyak bergerak—tidak seperti Hayoung yang meski direpotkan oleh gaun panjangnya tetap penuh semangat menghampiri para tamu dan berbincang dengan mereka. Jika dibandingkan dengan kesehariannya yang penuh kesibukan sejak matahari terbit hingga tengah malam, apa yang Sehun kerjakan hari ini tidak ada apa-apanya.

Sehun berpikir, dirinya mungkin lelah karena pesta yang dihadirinya tadi menguras terlalu banyak emosi. Soojung terus saja memarahinya. Pertama, karena Sehun menolak menggunakan setelan resmi. Wanita itu tidak berhenti mengomel perihal masalah ini sejak beberapa hari yang lalu dan puncaknya adalah kemarin, ketika Soojung memutuskan bolos kerja setelah jam makan siang demi menyeret Sehun dari satu toko ke toko lain untuk mencari jas yang cocok untuknya. Kedua, dan yang menurut Sehun paling tidak masuk akal, karena pria itu memilih menggendong Dayoung ke dalam gedung tempat acara diselenggarakan dan mengabaikan peringatan Soojung agar sebisa mungkin menjauh dari anak itu selama pesta berlangsung. Sehun mengerti, Soojung melakukan itu karena tidak ingin membuat orang-orang yang tidak tahu akan hubungan mereka jadi salah paham dan akhirnya menimbulkan gosip yang nantinya akan merusak hubungan pria itu dengan tunangannya. Tapi di sisi lain, Sehun merasa perbuatan Soojung sudah sedikit keterlaluan.

Hayoung juga tidak berhenti mengomel kepadanya. Sehun benar-benar tidak mengerti ada apa dengan kedua wanita itu. Sepanjang pesta, Hayoung memang selalu berusaha tampak ceria. Tapi jika dia sudah berdua saja dengan Sehun, Hayoung kembali menggerutu, berkata bahwa Sehun sama sekali tidak menghargai perasaan kedua orang tuanya. Sehun tidak ambil pusing dengan gerutuan wanita itu. Belakangan Hayoung memang terlihat sangat pemarah. Pria itu sempat curiga bahwa perubahan sikap tunangannya disebabkan karena ia terlalu banyak bergaul dengan Soojung, tapi segera mengusir ide bodoh itu tidak lama setelah ide tersebut melintas di kepalanya. Sikap pemarah bukan sesuatu yang menular.

Sehun menarik napas panjang-panjang dan mengembuskannya perlahan, berharap dengan begitu lelahnya bisa sedikit berkurang dan kantuk bisa segera datang menyapa. Tapi, sampai dia bosan melakukan kegiatan tersebut, matanya masih tetap enggan terpejam. Pria itu lantas meraih telepon genggam dari saku jasnya. Dia menggulir tampilan kontaknya dari atas ke bawah, mempertimbangkan siapa yang bisa diajaknya mengobrol. Syukur-syukur kalau di ujung obrolan itu dia bisa langsung mengantuk. Bagaimanapun juga, besok pagi dia tetap harus masuk kerja.

Sehun menjatuhkan pilihannya pada Soojung. Dengan lincah jari-jari kurusnya bergerak di atas layar demi mengetik sebuah pesan.

OhSehun: Sudah tidur?

Balasan dari Soojung datang tidak lama berselang.

SoojungKrystal: Belum. Kenapa?

Sebuah senyum tersungging di bibir Sehun karena jawaban itu. Tanpa menunggu lama, dia langsung menekan gambar gagang telepon di sudut kanan atas layar. Soojung menerima panggilan tersebut di dering pertama.

“Sebelum kau bertanya, aku akan memberitahukan alasanku menelepon. Aku malas mengetik.” Sehun berujar cepat, tahu betul bahwa Soojung pasti akan menanyakan hal tersebut.

“Ada yang ingin kaubicarakan?”

“Tidak juga.” Sehun berujar enteng. “Aku hanya sedang bosan.”

Di seberang telepon, Soojung terdengar mengembuskan napas panjang dan berdecak pelan. “Seharusnya kau menelepon Hayoung.”

“Aku lebih suka mengganggumu,” sahut Sehun sambil terkekeh pelan.

“Entah mengapa aku tidak terkejut mendengar jawaban itu,” Soojung menjawab sewot. Mengalihkan pembicaraan, dia bertanya, “Bagaimana pestamu?”

“Membosankan,” beritahu Sehun. “Aku heran kenapa begitu banyak orang yang harus diundang hanya untuk menyaksikanku dan Hayoung saling menyematkan cincin di jari masing-masing.”

Kalau saja Sehun saat itu sedang berdiri di dekatnya, Soojung pasti tidak akan berpikir panjang untuk segera melayangkan tangannya ke kepala pria itu agar ia segera menyadari betapa penting seremonial seperti itu bagi seorang gadis. Soojung tidak habis pikir bagaimana Sehun bisa begitu tidak peka dan malah mengatakan hal seperti yang diucapkannya barusan.“Bodoh!” umpatnya.

Sehun tidak mempedulikan makian itu. Telinganya seolah sudah kebal dengan segala macam kata-kata kasar dari Soojung. Alih-alih protes, pria itu malah berkata, “Aku tidak melihatmu pulang tadi.”

“Aku merasa tidak terlalu nyaman di sana.”

Mendeteksi kesedihan dalam nada bicara wanita itu, Sehun bertanya penasaran, “Kau cemburu melihatku bertungan dengan wanita lain?”

“Bodoh!” Soojung memaki lagi.

“Lalu?”

Soojung menarik napas panjang sebelum menjelaskan, “Ada banyak kenalanmu yang ternyata juga mengenal Minho oppa. Beberapa dari mereka menghampiriku dan berbasa-basi menanyakan bagaimana hidupku setelah dia pergi. Aku hanya merasa—”

“Tidak usah dilanjutkan,” sergah Sehun. “Aku mengerti.”

Hening datang menyelimuti mereka selama beberapa saat. Soojung memerlukan jeda itu untuk mengatur kembali suasana hatinya yang mendadak keruh mengingat suaminya yang sudah meninggal, sedangkan Sehun juga perlu waktu untuk memaki dirinya yang terlalu ingin tahu. Pria itu kini paham, betapa rasa ingin tahunya yang kadang tidak bisa dibendung itu bisa membuat orang lain terluka. Seharusnya dia tadi tidak perlu bertanya macam-macam.

“Jadi, kapan tanggal pernikahannya?” Suara Soojung kembali terdengar.

“Akhir bulan ini.”

“Oh.”

“Kau akan datang, kan?”

“Tentu saja,” Soojung berujar santai. “Meski sebenarnya aku masih kesal karena kau dulu tidak menghadiri pesta penikahanku, tapi setidaknya aku ini bukan tipe pendendam.”

“Aku akan memaafkanmu kalau kau tidak datang karena alasan harus ke luar negeri untuk meneruskan kuliah.”

Soojung berdecak pelan. “Sudahlah, aku mau tidur. Besok pagi aku harus ke kantor,” ujarnya menyudahi pembicaraan.

Sehun hanya bisa menatap layar telepon genggam miliknya sambil bersungut-sungut tidak jelas setelah Soojung memutus sambungan telepon begitu saja. Pria itu kemudian berguling bosan di atas kasur. Alih-alih mengantuk seperti yang diharapkannya, mengobrol dengan Soojung justru membuatnya kesal hingga matanya semakin enggan terpejam. Pria itu lalu mengangkat tangan kirinya ke udara, menghalau berkas cahaya lampu yang memancar dari atap kamar agar tak mengenai matanya. Sebuah cincin polos yang terbuat dari platina tampak melingkar di salah satu jarinya.

Pria itu tiba-tiba teringat, beberapa tahun lalu, jauh sebelum ia bertemu dan jatuh cinta kepada Hayoung, dia juga pernah membeli sebuah cincin yang hampir sama dengan yang dikenakannya saat ini. Sehun tertawa kecil mengingat hal itu. Dia mengejek dirinya sendiri yang begitu pengecut karena tidak pernah bisa menemukan keberanian untuk menyerahkan cincin itu kepada gadis yang disukainya.

Sehun mengembuskan napas panjang sekali lagi, kemudian bangkit dan berjalan menuju meja kerja yang terletak di salah satu sudut kamarnya. Dia menarik laci terbawah meja itu, mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang di mana dia menyimpan beberapa barang yang dianggapnya berharga.

Ada senyum yang tersimpul di ujung bibir pria itu saat matanya mendapati sebuah foto yang dibingkai sederhana. Foto itu diambil saat hari kelulusannya dari sekolah menengah. Di dalam foto tersebut, tampak dirinya dan seorang gadis berambut panjang sedang tersenyum lebar sambil memegang sebuket bunga di tangan masing-masing. Sehun memandangi foto itu cukup lama, membiarkan kepalanya dipenuhi kenangan bersama gadis di dalam foto itu. Sesekali ia tertawa kecil jika yang menghampirinya adalah kenangan menyenangkan, selebihnya ia hanya mematung dengan ekspresi tidak terbaca. Setelah bosan membiarkan dirinya diselubungi kenangan, pria itu meletakkan foto tersebut kembali ke dalam kotak.

Sehun kemudian meraih sebuah kotak kecil berlapis beludru merah. Menggunakan tangan kanannya, dia membuka penutup kotak itu dengan mudah. Ada sebuah cincin di dalam sana. Benda itu adalah benda mahal pertama yang Sehun beli dengan uang hasil kerjanya sendiri. Dia ingat betul, berapa lama ia harus menabung dan pekerjaan paruh waktu apa saja yang harus ia tekuni agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli cincin polos itu. Pria itu bertanya-tanya, bagaimana ekspresi gadis yang disukainya waktu itu jika Sehun sekarang tiba-tiba datang ke hadapannya sambil menyodorkan cincin dan menyatakan perasaan yang sudah bertahun-tahun ia pendam. Sehun jadi terkekeh sendiri menyadari betapa bodoh ide tersebut.

Perhatian Sehun lalu tercuri oleh sebuah novel tebal yang di sampulnya terdapat gambar bunga matahari. Novel itu adalah pemberian si gadis di dalam foto sebagai kado di hari kelulusan mereka. Sampai sekarang, Sehun tidak pernah menamatkan novel tersebut. Beberapa kali, dia mencoba membaca dan membuat dirinya terlibat dengan perasaan tokoh utama di dalam cerita itu, tapi pencapaian terjauhnya hanyalah sampai pertengahan bab kedua. Dia selalu diserang kantuk setelah membaca satu atau dua halaman, dan seringnya, Sehun menyerah pada godaan tidur yang muncul. Ketika terbangun, dia sudah lupa pada niatnya membaca.

Merasakan kantuk masih belum menyapanya sama sekali, Sehun memutuskan membaca buku itu lagi malam ini. Dia meletakkan kotak cincin kembali ke asalnya, menyandarkan tubuh di dinding, dan mulai fokus membaca kalimat demi kalimat yang tercantum di atas beratus-ratus halaman buku dalam genggamannya.

Empat jam kemudian, dengan kecepatan membaca yang menurut Soojung berada di level mengerikan, Sehun menyelesaikan kegiatannya. Beberapa kali pria itu menguap lebar, tapi seolah ada dorongan tidak terjelaskan dari dalam dirinya yang tidak mengizinkan kantuk kembali menghalanginya untuk membaca buku tersebut sampai halaman terakhir.

Sehun tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Ketika dia menutup buku itu, seolah ada sebuah gelombang kesedihan yang datang entah dari mana, menghantam dirinya dengan begitu keras hingga tangisnya tiba-tiba tumpah. Pria itu, di usianya yang sudah kepala tiga, menangis seperti orang bodoh setelah membaca sebuah novel yang berakhir bahagia.

Mungkin karena dia sudah terlalu mengantuk hingga mudah sekali terbawa emosi. Mungkin karena kisah pemeran utama di dalam cerita itu mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Mungkin juga karena sebaris kalimat yang ada di halaman terakhir—yang Sehun yakini ditulis sendiri oleh gadis yang memberikan buku itu kepadanya—membuatnya sadar bahwa cinta pertamanya, yang selama ini dia pikir selalu berjalan sepihak karena Sehun terlalu pengecut dan sang gadis tidak pernah peka, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Gadis itu menyukainya jauh sebelum Sehun mengerti perasaannya sendiri, dan dia baru mengetahui kenyataan itu belasan tahun kemudian.

***

Sudah menjadi bagian dari keseharian Nyonya Oh untuk membantu Soojung mengurus Dayoung sementara wanita yang lebih muda itu bekerja. Kedua orang tua Soojung hampir selalu sibuk mengurus bisnis mereka di luar kota, sementara kakak perempuannya memilih untuk ikut suaminya ke luar negeri setelah menikah dua tahun lalu. Keluarga mantan suaminya juga seolah menjaga jarak dengan Soojung sejak pria itu meninggal. Boleh dikata, Soojung membesarkan anaknya nyaris seorang diri. Karena itulah Nyonya Oh dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu Soojung merawat anaknya.

Wanita paruh baya itu menikmati setiap waktu yang ia habiskan dengan mendengarkan celotehan Dayoung mengenai hal-hal yang terjadi di sekolahnya. Baginya, keceriaan seorang anak kecil merupakan hiburan tersendiri. Bersama Dayoung, wanita itu merasakan bagaimana serunya merawat seorang cucu. Kedua kakak Sehun tinggal jauh di luar kota sehingga Nyonya Oh hanya bisa melihat cucunya di waktu-waktu tertentu saja. Keberadaan Dayoung menjadi sebuah pelipur kesendirian di hari tuanya yang lebih banyak dihabiskan di rumah.

Siang itu, ketika menjemput Dayoung di taman kanak-kanak dekat rumah, Nyonya Oh langsung panik. Dayoung yang biasanya ceria kini menangis tersedu-sedu. Gurunya bilang, anak itu tidak berhenti menangis sejak selesai istirahat makan siang, padahal gurunya sudah melakukan segala upaya yang biasa ia tempuh untuk menenangkan murid-murid yang menangis. Semua orang kebingungan karena Dayoung tidak mau menceritakan alasan dia menangis. Satu-satunya kata yang keluar dari mulut anak itu hanya Appa.

“Kami mohon maaf, Nyonya, tapi sebaiknya Dayoung dibawa pulang,” ujar seorang guru yang terlihat masih muda. Wanita itu terlihat tidak enak hati, seolah dirinya telah melempar tanggung jawab atas anak didiknya, tapi ia benar-benar bingung harus melakukan apa selain menelepon Nyonya Oh selaku wali murid. Guru itu mengenal Dayoung sebagai anak yang fisiknya lemah, karena itu ia khawatir jika terlalu lama menangis, anak itu akan jatuh sakit.

Nyonya Oh mengangguk paham. Setelah mengurus masalah perizinan, ia membawa Dayoung pulang. Di perjalanan, wanita itu tidak lupa mengabari Soojung dan Sehun.

***

“Apa kau mau menjelaskan mengapa sedari tadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu?”

Hayoung, yang sudah sejak setengah jam lalu hanya diam memperhatikan tunangannya menggerak-gerakkan garpu di atas piring tanpa sekali pun menyuap makanan di dalamnya, akhirnya bersuara. Wanita itu tadi ada urusan di dekat kantor Sehun, karena itu ia memutuskan mampir dan mengajak pria itu makan siang bersama. Masih ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan terkait resepsi yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Melihat keadaan pria di depannya, Hayoung merasa pembicaraan mengenai persiapan pernikahan mereka tidak akan menjadi topik pengisi makan siang kali ini.

Bertahun-tahun mengenal Sehun, Hayoung belajar bahwa pria itu bukan tipe orang yang banyak bicara. Dia lebih suka memperhatikan keadaan di sekitarnya dalam diam. Sesekali, jika topik yang dibicarakan orang di dekatnya dia anggap menarik, maka Sehun akan ikut mengutarakan pendapat, itu pun dengan intonasi yang hampir selalu datar. Alasan itulah yang membuat Hayoung berpikir bahwa ia dan Sehun adalah pasangan yang cocok. Sehun yang lebih suka mendengarkan merupakan pria tepat untuk mendampingi Hayoung yang gemar bercerita. Bertahun-tahun mengenal Sehun, Hayoung tidak pernah merasa sikap diam pria itu sebagai sesuatu yang salah. Tapi siang ini, dia tahu bahwa ada alasan lain di balik sikap pria itu.

Hayoung melipat tangannya di atas meja, memilih tidak berkata apa-apa lagi. Hanya matanya yang menatap Sehun dengan sorot ingin tahu.

Sehun menoleh, mendapati Hayoung sedang menatapnya dengan pandangan yang mengingatkan pria itu akan masa kecilnya. Dulu, setiap kali ia berbuat nakal, setelah mengomelinya panjang lebar, ibunya pasti duduk sambil melipat tangan seperti itu, menunggu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Tidak ada alasan khusus,” jawab Sehun. Dia lalu menyuap spaghetti carbonara yang sedari tadi hanya ia pelintir dengan ujung garpu dan mengunyah makanan itu tanpa niat.

“Kau tidak mengharapkan aku mempercayai kata-katamu, bukan?”

Masih sambil mengunyah, Sehun menggelengkan kepala.

“Ada masalah di kantor?” Hayoung masih belum ingin menyerah.

“Tidak ada.”

“Lalu?”

“Aku lelah.”

“Karena?”

“Apa kita sedang melakukan wawancara?”

“Anggap saja begitu.”

“Aku sedang tidak ingin diwawancara.”

“Karena kau lelah,” ujar Hayoung, menutup pembicaraan. “Kalau begitu habiskan makananmu, lalu pulang. Kau perlu beristirahat. Aku tidak ingin melihat calon suamiku jatuh sakit.”

Perhatian Hayoung membuat Sehun merasa bersalah telah mendiamkan wanita itu nyaris sepanjang siang. Pria itu mengulas sebuah senyum tipis untuk membalas gestur serupa seperti yang sedang diberikan Hayoung kepadanya.

Dulu, perhatian kecil dan kata-kata manis seperti itulah yang membuat Sehun berpikir bahwa menjalin hubungan romantis dengan wanita itu bukanlah ide buruk. Hayoung memenuhi semua hal yang diinginkan Sehun dari seorang lawan jenis; pintar, pengertian, dan mencintai kerapian. Fakta bahwa wanita itu berparas cantik dan merupakan pewaris tunggal dari sebuah perusahaan multinasional Sehun anggap sebagai bonus. Meski kadang Hayoung suka marah karena hal-hal kecil, Sehun menganggap itu adalah hal yang wajar. Dua wanita yang paling dekat dengan Sehun—ibunya dan Soojung—adalah orang yang sering sekali mengomel. Dibandingkan mereka, Hayoung tampak seperti wanita paling sabar sedunia.

Dulu, perhatian kecil dan kata-kata manis dari Hayoung selalu cukup bagi Sehun untuk membantunya melupakan bahwa di laci meja di sudut kamarnya, pria itu menyimpan sebuah cincin untuk seorang gadis yang tidak pernah menyadari bahwa Sehun memendam perasaan kepadanya.

Sekarang, setelah Sehun tahu bahwa gadis yang disukainya dulu ternyata juga merasakan hal yang sama dengannya, perhatian Hayoung justru membuat pria itu tersiksa. Sehun tidak berhenti bertanya-tanya, bagaimana mungkin niat untuk menikahi wanita di depannya bisa tiba-tiba goyah hanya karena sebaris kalimat. Gadis yang disukainya dulu mungkin sudah tidak ingat kalau dia pernah mengutarakan perasaan kepada Sehun dengan cara menuliskannya di atas lembaran terakhir sebuah novel. Kalaupun ingat, memangnya apa yang pria itu harapkan? Cinta pertamanya itu kini sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya, dan Sehun juga sudah memiliki seorang wanita hebat di sisinya. Membayangkan sebuah adegan konyol di mana sang pria meninggalkan calon istrinya demi mengejar cinta pertamanya membuat Sehun merasa sangat bodoh.

“Hayoung-ah,” panggil Sehun, membuat wanita yang namanya dipanggil langsung mengalihkan tatapan dari telepon genggam yang dimainkannya sembari menunggu Sehun selesai makan.

Hayoung memperhatikan makanan di piring Sehun tampak belum berkurang sedikit pun. Padahal ia berpikir kalau pria itu memanggil karena sudah selesai makan dan ingin mengajaknya pulang. Wanita itu menaikkan alisnya, bertanya.

“Kau masih ingat pada cinta pertamamu?”

Hayoung langsung tertawa, merasa pertanyaan yang dilontarkan Sehun barusan sangat lucu. “Ada apa ini? Jangan bilang kalau sekarang kau tiba-tiba cemburu pada pria dari masa laluku?”

“Kau masih ingat pada cinta pertamamu?” Sehun mengulangi pertanyaannya.

Hayoung berusaha mengontrol ekspresinya, tahu bahwa Sehun mengajukan pertanyaan barusan karena benar-benar ingin tahu jawabannya. Wanita itu tidak bisa memastikan kalau rasa cemburulah yang mendorong munculnya pertanyaan tersebut, tapi dia cukup senang karena Sehun bertanya. Ini adalah kali pertama pria itu berinisiatif untuk menggali masa lalunya.

“Namanya Lee Donghae,” ujar Hayoung membuka cerita. Sekilas, ada senyum kekanakan yang menghiasi wajah wanita itu ketika menyebutkan satu nama yang ia klaim sebagai cinta pertamanya. “Dia lebih tua sepuluh tahun dariku. Sewaktu kuliah, kakak pertamaku punya band. Donghae oppa adalah gitaris untuk band itu. Setiap kali aku melihat Donghae oppa dengan gitarnya, aku merasa dia adalah pria paling tampan di dunia.”

Hayoung menjeda ceritanya selama beberapa detik untuk menertawai dirinya sendiri. Setelah dipikir-pikir lagi, dia baru sadar betapa naïf dirinya dulu, bisa dengan mudah jatuh cinta hanya karena diperlakukan dengan baik oleh seseorang yang pada dasarnya memang selalu berlaku baik kepada siapa pun.

“Aku ingat, dulu sering sekali meminta dia menyanyikan lagu-lagu romantis untukku, dan dia selalu dengan senang hati melakukannya. Dia juga selalu bersikap manis kepadaku. Setiap aku berulang tahun, dia pasti akan memberikanku cokelat. Menurutmu, remaja mana yang tidak akan jatuh cinta pada pria seperti itu?”

“Kalian sempat pacaran?”

Hayoung menggeleng. “Aku pernah menyatakan cinta kepadanya, tapi dia menolakku.”

“Kalau pria itu tiba-tiba datang dan menyatakan cinta kepadamu, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku pasti akan langsung curiga bahwa ada kamera tersembunyi yang sedang merekamku. Kau tahu kan, belakangan ini ada banyak reality show untuk mengetahui reaksi orang terhadap hal-hal tertentu?” Wanita itu menjawab sambil terkekeh pelan.

Mendapati Sehun ternyata tidak menganggap leluconnya barusan layak untuk ditertawakan, dia jadi salah tingkah sendiri. Hayoung lantas memperbaiki posisi duduk, merapikan rambut yang sama sekali tidak berantakan, dan menatap pria di depannya dengan pandangan serius. Dia kemudian menjawab mantap, “Akan kutolak.”

“Tanpa berpikir panjang kau bisa langsung bilang begitu?”

“Tentu saja.”

“Kenapa?”

“Karena cinta pertama itu adalah hal konyol yang muncul karena kenaifan masa muda, dan aku tidak ingin terperangkap oleh hal seperti itu.” Hayoung dengan lugas mengemukakan alasannya. Mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Sehun yang terkepal kaku di atas meja, ia melanjutkan, “Aku punya kau sekarang. Kau adalah pria yang kupilih di saat pikiranku sudah benar-benar dewasa, di saat aku tahu betul mana yang baik dan tidak baik untuk masa depanku.”

Di dalam diri Sehun ada sejumlah perasaan yang bergejolak karena jawaban Hayoung. Senang dan terharu, tentu saja. Siapa juga yang tidak akan terharu melihat seorang wanita mengatakan kalimat indah itu sambil menatap dengan penuh ketulusan. Tapi di dasar hatinya, ada riak-riak yang membuat pria itu semakin penasaran, apakah semua wanita berpendapat sama seperti tunangannya?

“Tapi Oppa, apa aku boleh tahu siapa cinta pertamamu?”

Sehun tersentak dari pikirannya sendiri akibat pertanyaan Hayoung barusan. Menjaga dirinya tetap terlihat tenang, dia bertanya, “Untuk apa?”

“Aku sudah memberitahukan segala hal tentang cinta pertamaku padamu. Tidakkah kau merasa harus melakukan yang sama agar kita impas?”

“Kalau begitu anggap saja aku berhutang padamu. Tagihlah lain kali, dengan cara selain menanyakan tentang cinta pertamaku.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kau malu?”

“Tidak.”

“Dia tahu kau menyukainya?”

“Tidak.”

“Apa kisahmu dengan wanita itu tidak berakhir bahagia?”

“Tidak juga.”

“Kau masih sering memikirkannya?”

“Menurutmu?”

“Apa wanita itu adalah Soojung unnie?”

“Kau pikir wanita di dalam hidupku hanya Soojung?”

Hayoung mengangkat bahu. “Kau menjawab empat pertanyaanku sebelumnya dengan kata tidak, jadi kupikir pertanyaan terakhir juga akan kau jawab sama.”

Sehun berdecak geli. Di balik kecerdasannya, Hayoung sering kali mengakhiri pembicaraan dengan melompat pada konklusi tidak masuk akal.

“Berhenti membicarakan hal ini. Ayo kita pulang.”

Sehun bangkit dari kursinya setelah meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Ia membiarkan makanan yang sudah ia acak-acak di atas piring tetap tidak berkurang, hanya minumannya yang sempat ia seruput sampai tandas. Hayoung mengekor di belakang pria itu tanpa berkata apa-apa lagi. Kepalanya mendadak penuh oleh keingintahuan akan hubungan tunangannya dengan Soojung di masa lalu.

***

Soojung menidurkan anaknya di atas ranjang di dalam kamar yang sengaja dipersiapkan Nyonya Oh untuk Dayoung. Anak itu akhirnya berhenti menangis setelah Soojung mengendongnya berkeliling rumah sambil menyanyikan beragam lagu anak-anak yang biasa didengarkan Dayoung. Kepada ibunya, anak itu bercerita alasan ia menangis. Soojung menyimak penjelasan yang diucapkan dengan terbata-bata itu dengan hati yang hancur. Ingin sekali ia ikut menangis bersama anaknya, tapi Soojung tahu dia harus tegar. Akhirnya, wanita itu hanya bisa menepuk-nepuk pelan pundak anaknya sambil meyakinkan gadis kecil itu bahwa alasannya menangis adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan.

Penuh sayang, Soojung membelai wajah anaknya yang memerah karena terlalu lama mengeluarkan air mata. Mulutnya masih tidak berhenti menggumamkan lagu sebagai pengantar tidur untuk Dayoung.

Nyonya Oh memperhatikan adegan tersebut dari depan pintu. Hatinya ikut sakit menyaksikan kejadian itu. Ia tidak tahu siapa yang patut disalahkan untuk hal ini. Satu-satunya yang dia inginkan adalah memukul kepala anak bungsunya hingga pria itu sadar betapa bodoh dirinya.

***

Sehun memarkir mobilnya dengan asal di depan rumah dan langsung berlari ke dalam bangunan bertingkat dua tersebut seperti orang kesetanan. Tadi, dalam perjalanannya kembali ke kantor selepas makan siang bersama Hayoung, ibunya menelepon dan dengan panik menyuruhnya segera pulang, berkata bahwa Dayoung sedang menangis karena dirinya. Mendengar nama anak itu disebut sudah lebih dari cukup untuk membuat Sehun membanting setir dan melajukan mobilnya di atas kecepatan seratus kilometer per jam dengan harapan bisa segera mendekap Dayoung dan menghentikan tangisnya.

Sehun berhenti ketika melihat Soojung yang duduk di atas kursi panjang yang menghadap ke arah balkon sambil berulang kali mengembuskan napas panjang. Pria itu menatap pintu kamarnya dan wanita itu bergantian, kemudian memilih untuk menunda niatnya menemui Dayoung yang sepertinya sudah tertidur karena terlalu lelah menangis.

Pria 34 tahun itu ikut duduk di samping Soojung. Matanya mengikuti arah pandang wanita itu, mencari-cari hal menarik yang membuat Soojung tampak begitu terlena dengan apa yang ditatapnya, tapi tidak menemukan apapun selain cabang pohon yang bergerak-gerak diterpa angin sepoi.

“Dayoung bercerita kepada temannya bahwa semalam ia menghadiri acara pertungan Appa-nya.” Soojung, tanpa mengalihkan pandangan kepada Sehun, mengungkapkan alasan anaknya menangis.

Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Sehun bisa langsung menebak apa yang terjadi. Teman-teman Dayoung pasti mengejek anak itu karena orang yang ia sebut Appa ternyata akan menikah dengan wanita yang bukan ibunya. Sehun juga bisa membayangkan bagaimana kepolosan anak-anak terkadang bisa membuat mereka mengeluarkan kata-kata yang tanpa sadar menyakiti teman mereka sendiri. Pria itu tidak tahu persis apa saja yang dikatakan teman-teman Dayoung, tapi anak itu pasti begitu terluka karenanya.

“Aku minta maaf.” Pria itu berujar pelan. “Seharusnya aku mempertimbangkan hal-hal seperti ini sebelum mengajari Dayoung untuk memanggilku ayahnya.”

Tidak ada yang lucu dari ucapan Sehun barusan, tapi Soojung merasa sangat ingin tertawa. Mendengar kata maaf yang dilontarkan pria itu barusan membuat Soojung merasa sangat bodoh. Selama ini, meski selalu menunjukkan rasa keberatan atas perlakuan Sehun terhadap Dayoung, diam-diam Soojung berterima kasih kepada pria itu karena telah mengizinkan Dayoung memanggilnya dengan sebutan ayah. Ia sadar yang dilakukan Sehun adalah sesuatu yang salah. Pria itu juga pasti melakukannya karena rasa kasihan, tapi mungkin, tanpa disadari, Soojung tidak pernah bisa sepenuh hati melarang Sehun karena terlalu senang melihat anaknya punya seorang Appa yang bisa bermain bersamanya, bukan sekadar Appa yang wajahnya hanya bisa ia pandangi lewat foto setiap ingin tidur.

Apa yang terjadi di sekolah Dayoung hari ini membuat Soojung sadar bahwa seharusnya dia berusaha cukup kuat untuk mengajarkan kenyataan kepada anaknya. Seharusnya dia cukup memberikan pengertian bahwa ayah Dayoung hanya satu. Pria itulah yang selalu Dayoung pandangi wajahnya sebelum tidur, dan ia sudah meninggal.

Soojung mendadak merasa ingin menyumpahi takdir yang begitu kejam kepadanya. Tapi alih-alih mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang diinginkannya, wanita itu justru menitikkan air mata yang kemudian jatuh membanjiri wajahnya.

Sehun hanya memandangi Soojung tanpa bisa berkata apa-apa. Ada keinginan untuk mengusap air mata yang menitik membasahi wajah wanita itu, tapi pikiran Sehun terlalu sesak oleh berbagai macam hal hingga tangannya tidak bisa ia gerakkan. Dia ingin merangkul wanita itu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, tapi bagaimana mungkin dia melakukan itu jika jalan keluar untuk masalah ini saja masih belum terpikirkan olehnya.

“Jangan meminta maaf,” ucap Soojung sembari mengusap air matanya dengan punggung tangan. Dia berusaha melayangkan senyum kepada pria di depannya, memberikan kesan bahwa ia bisa mengatasi semua kesalahpahaman ini seorang diri. “Bagaimana mungkin kau menyalahkan dirimu sendiri padahal yang sebenarnya bersalah adalah aku?”

“Soojung-ah….”

“Tidak apa, Sehun-ah. Sungguh.”

***

Sehun melambai-lambai ke arah Dayoung yang digiring ibunya masuk ke dalam mobil. Mata anak itu masih tampak sembab, tapi wajahnya sudah kembali dihiasi senyum.

Dayoung tadi tampak sangat senang karena saat terbangun dari tidur siangnya, ia mendapati Sehun di depannya sambil memegang sebuah boneka berbentuk penguin yang ukurannya hampir sama dengan tubuh anak itu. Sehun tidak pandai membujuk orang, tapi ia tahu bahwa anak kecil akan sangat senang jika diberi hadiah, karena itulah tadi sambil menunggu Dayoung bangun tidur, ia bergegas ke toko mainan terdekat. Sembari bermain dengan boneka barunya, Dayoung bercerita mengenai apa yang terjadi di sekolah.

“Minji bilang Appa menikah karena sudah tidak menyayangi Dayoung lagi. Lalu Dayoung juga akan memiliki eomma baru yang akan menyiksa Dayoung tiap hari,” ceritanya. Mulut anak itu mengerucut manja, membuat Sehun yang melihatnya jadi tertawa geli dan akhirnya menjawil pelan pipi anak itu.

“Bagaimana mungkin Appa tidak menyayangi anak baik seperti Dayoung?”

Eomma juga tadi tampak sedih waktu Dayoung bercerita. Bukankah itu berarti apa yang Minji bilang memang benar?”

Seketika, Sehun kehabisan kata-kata. Senyum di wajahnya luntur begitu saja. Dia tidak menyangka anak sekecil itu bisa begitu peka dengan keadaan di sekitarnya. Pria itu berdeham sambil mencari-cari alasan yang bisa dimengerti oleh Dayoung.

Eomma sedih karena tidak suka melihat Dayoung menangis.” Soojung, yang baru muncul setelah mengambil minuman di dapur ikut bersuara, membantu Sehun meyakinkan anaknya.

Sehun memperhatikan wanita itu menaruh dua gelas kosong dan sebotol air minum di atas meja, kemudian ikut duduk di atas karpet. Mengalihkan pandangannya kembali kepada Dayoung, Sehun menambahkan, “Nah, Dayoung dengar, kan?”

Gadis kecil itu lalu bangkit dan menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Soojung. Ia menangkupkan kedua tangan mungilnya di sisi wajah Soojung. Sambil menatap ibunya dengan penuh perhatian, Dayoung berkata, “Mulai sekarang Dayoung tidak akan menangis lagi. Dayoung tidak mau Eomma sedih.”

Tapi bagaimana mungkin Soojung tidak menangis jika anaknya yang masih kecil bisa begitu dewasa dan mengatakan hal yang demikian mengharukan kepadanya?

Eomma….” Panggil Dayoung yang kebingungan karena ibunya malah menitikkan air mata, padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.

Sehun meraih anak itu dan menggendongnya menuju taman yang hanya dibatasi oleh dinding kaca dengan ruangan tempat mereka bermain, membiarkan Soojung yang tampak masih belum akan berhenti menangis. Sambil berbisik sok misterius, pria itu berusaha meyakinkan Dayoung bahwa Soojung menangis karena ia terharu melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang begitu pandai. Dayoung tidak mengerti terharu itu apa, tapi karena Sehun mengatakannya seolah itu adalah sesuatu yang hebat, maka anak itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia lalu asyik bermain petak umpet dengan Sehun hingga malam tiba.

“Sekarang kau lihat sendiri kan, bagaimana kebodohanmu bisa menyakiti orang lain,” ujar Nyonya Oh kepada anaknya yang masih belum berhenti melambaikan tangan meski mobil Soojung sudah tidak terlihat lagi.

Sehun menurunkan tangan, ganti menyelipkannya di saku celana jeans biru yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan sehari-harinya. Pria itu menoleh kepada ibunya. Berbeda dengan dugaan Sehun, ibunya ternyata tengah menatapnya sambil tersenyum prihatin, bukannya dengan ekspresi marah seperti yang biasa ia tampakkan setiap kali Sehun berbuat kesalahan.

Eomma yakin kau pasti tahu harus berbuat apa. Dan apapun keputusanmu nanti, ketahuilah bahwa Eomma akan selalu mendukungmu.” Wanita itu menepuk pelan bahu anaknya, kemudian melangkah memasuki rumah, meninggalkan Sehun yang berdiri mematung di depan pintu dengan pikiran yang kacau.

***

“Maaf mengganggumu malam-malam begini,” ujar Hayoung sambil memasang senyum sungkan.

Wanita itu sedang berdiri di depan pintu apartemen Soojung, masih dengan blus putih polos dan rok ketat selutut yang sejak pagi dikenakannya untuk bekerja. Seharusnya mereka bertemu tadi siang di salah satu kafe di dekat kantor Soojung, tapi karena ada masalah di lokasi proyek yang sedang Hayoung tangani, pertemuan mereka terpaksa ditunda.

“Tidak apa. Masuklah,” kata Soojung sembari tersenyum manis. Dia menggeser tubuhnya, memberi jarak antara dirinya dengan pintu sehingga Hayoung bisa masuk.

“Dayoung sudah tidur?” Sambil membuka alas kakinya, Hayoung berujar hati-hati. Dia menjaga suaranya tetap dalam frekuensi rendah agar kedatangannya tidak membuat apartemen Soojung jadi ribut.

“Tenang saja, Dayoung tidak gampang terbangun dari tidurnya.”

Mereka berjalan menuju sofa panjang yang terletak di ruang tamu. Soojung mempersilakan tamunya duduk, sementara dia mengambilkan sekaleng minuman ringan dari dalam kulkas.

Hayoung meletakkan tasnya di atas meja pendek di depan sofa yang ia duduki. Di atas benda itu, ada sebuah laptop yang masih menyala, menampilkan halaman Microsoft Word penuh kata yang Hayoung duga sebagai naskah buku yang sedang diedit Soojung.

Wanita yang lebih tua itu muncul dari dapur sekitar semenit kemudian, dengan sekaleng minuman dingin di tangan kanannya. “Maaf, hanya ada ini,” ujar Soojung sembari menyodorkan silinder berwarna hijau terang itu kepada Hayoung.

Hayoung mengambil minuman tersebut dan langsung meneguk isinya sampai habis, berkata bahwa ia kehausan setelah tadi marah-marah di lokasi proyek.

“Entah mengapa aku merasa belakangan ini tidak ada yang berjalan dengan benar dalam hidupku,” keluh wanita itu. Ia mengembuskan napas panjang untuk menunjukkan rasa frustasinya.

Soojung hanya menanggapi keluhan itu dengan tawa kecil. Semalam Hayoung sudah menceritakan keadaan yang ia hadapi dan bagaimana pusingnya wanita itu mengatur agar segalanya tetap bisa terlaksana dengan baik.

Hayoung sedang menangani sebuah proyek renovasi hotel, tapi menjelang batas waktu yang dulu disepakati dengan klien, sejumlah meja kayu yang rencananya akan digunakan ternyata belum selesai dipelitur oleh tukang yang ditunjuk. Hujan menyebabkan udara jadi lembab sehingga cat susah kering. Memakai pengering buatan juga bukan pilihan menguntungkan karena warna yang dihasilkan akan berubah dan Hayoung berpikir bahwa itu akan merusak keindahan rancangannya.

Soojung yang bekerja sebagai editor kantor penerbitan mungkin tidak akan bisa memberi jalan keluar untuk masalah itu, tapi ia merasa bisa menawarkan solusi untuk masalah Hayoung yang lain. Itulah alasan mereka tadi berjanji untuk bertemu.

Soojung lantas ikut duduk di samping Hayoung dan menarik sebuah album foto dari bawah meja di depan mereka kemudian menyodorkannya kepada wanita yang lebih muda itu. Benda tersebut terlihat berat. Bentuknya yang memanjang dengan warna gelap membuatnya terlihat seperti sekotak keramik lantai. Hayoung mengambil benda itu dan menaruhnya di atas pangkuan.

“Padahal tanggal pernikahannya hanya tinggal beberapa hari lagi. Bisa-bisanya fotografer itu membatalkan janji!”

Masih dengan senyum tersemat di kedua ujung bibirnya, Soojung menepuk pelan bahu Hayoung, bermaksud menenangkannya.

Unnie, apa menjelang pernikahanmu dulu, semua hal mendadak jadi kacau begini?”

“Sehun tidak menghadiri pesta pernikahanku karena harus berangkat ke Inggris. Dan kau tahu, dia memberitahukan perihal kepergiannya hanya beberapa minggu sebelum aku menikah. Aku marah sekali waktu itu.”

“Ah, pria itu memang menjengkelkan.” Hayoung ikut-ikutan menjelekkan tunangannya, seolah tidak lagi heran akan kelakuan pria itu. “Kau tahu, sejak kemarin aku berusaha menghubunginya untuk membahas pengganti fotografer sialan itu, tapi teleponku tidak pernah diangkat. Aku mengerti kalau dia harus memburu deadline beberapa proyek agar nantinya kami tidak terganggu selama masa bulan madu, tapi tetap saja, kelakuannya membuat aku pusing. Dia bahkan tidak mendampingiku saat mencoba gaun kemarin. Kalau saja aku tidak malu pada ibunya, aku pasti sudah mendatanginya di rumah untuk marah-marah.”

“Tenang saja, nanti aku akan mewakilimu untuk menghajarnya,” canda Soojung.

Sembari memperhatikan Hayoung melihat-lihat foto di dalam album tersebut, Soojung berujar, “Aku ingin kau melihat hasil kerja orang ini dulu. Bukan professional, memang, tapi kupikir dia melakukan tugasnya dengan baik. Kalau kau suka, aku bisa langsung menghubunginya. Dia tidak akan menolak permintaanku.”

“Aku suka angle yang dia gunakan di tiap foto.” Hayoung berkomentar setelah melihat belasan foto. Pernah bergabung di klub fotografi saat masih kuliah membuat ia bisa menilai mana foto yang baik dan tidak. Foto-foto pernikahan Soojung, meski sepertinya diambil dengan kamera yang tidak begitu mahal, tapi hasilnya unik. “Dia temanmu?”

“Seorang penulis di tempatku bekerja. Dia menghabiskan waktunya dengan mengunjungi tempat-tempat bagus, mengambil foto, dan sesekali menulis,” beritahu Soojung.

“Hidup orang itu terdengar sangat bebas, nyaris tanpa beban.”

“Begitulah.”

“Kau sangat cantik saat menikah dulu.” Hayoung kembali berkomentar. Wanita itu masih asyik membolak-balik halaman di dalam album yang diberikan Soojung kepadanya. Sesekali ia menatap beberapa foto cukup lama untuk memerhatikan sejumlah detail, kemudian tersenyum simpul seolah menangkap alasan mengapa foto-foto itu diambil dari sudut yang sekilas terlihat agak ganjil. Dia menambahkan, “Senyummu di foto ini terlihat sangat cerah, seolah, bahkan jika kebahagiaan semua orang di dunia digabungkan, tetap tidak ada apa-apanya dibanding yang kau rasakan.”

Hayoung mendengar suara tawa renyah Soojung, karena itu ia menghentikan kegiatannya melihat-lihat foto dan ganti memperhatikan wanita yang dua tahu lebih tua darinya itu. “Perumpamaan yang buruk, ya?” ujarnya sambil menertawai diri sendiri. “Aku tidak terlalu pandai merangkai kata.”

“Aku tertawa bukan karena pilihan kata yang kau gunakan, tapi karena aku merasa pujianmu sedikit berlebihan. Menurutku semua wanita yang bisa menikahi pria yang dicintainya pasti akan menunjukkan senyum serupa. Kau juga akan seperti itu nanti.”

“Entahlah, Unnie.” Hayoung berujar putus asa. “Aku ragu bisa menatap Sehun oppa seperti kau menatap suamimu. Melihat foto-foto ini saja, orang sudah bisa melihat betapa kau mencintai suamimu. Sedangkan aku, belakangan ini justru merasa selalu kesal setiap kali mendengar nama pria itu.”

“Itu hanya karena kau sedang banyak pikiran, dan itu wajar. Di atas segalanya, kita, para wanita, memang selalu jadi yang paling pusing ketika sudah dihadapkan pada pernikahan. Kita memikirkan segala hal, mempertimbangkan setiap kemungkinan, menjaga agar hari besar kita berjalan sesempurna mungkin. Sedangkan para pria, kupikir mereka bahkan bisa dengan santainya menonton pertandingan sepak bola hingga larut malam menjelang hari pemberkatan.”

Hayoung menyimak perkataan Soojung dan membenarkan semua yang diucapkan wanita itu. Ia menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan untuk menghilangkan kekesalannya pada Sehun, kemudian menatap Soojung dan melayangkan senyum penuh terima kasih kepada wanita itu. “Menyenangkan sekali bisa memilikimu di sisiku.”

Sebagai anak tunggal dari dua orang tua yang selalu sibuk, Hayoung merasa keberadaan Soojung adalah sebuah anugrah. Dia seperti mendapatkan sosok kakak yang selama ini selalu ia idamkan. Soojung mendengarkan semua keluh-kesahnya dengan sabar. Sesekali wanita itu akan menanggapi ocehan panjangnya dengan candaan ringan yang anehnya, bisa begitu saja mengangkat beban pikiran Hayoung. Sekarang pun, jika tidak ada Soojung, Hayoung tidak akan tahu di mana ia bisa mendapatkan seseorang untuk mengabadikan momen-momen berharga di hari pentingnya nanti. Mencari seorang yang hasil kerjanya bisa memuaskan Hayoung bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, membuat janji dengan fotografer professional selalu memakan waktu lama. Itu belum termasuk negosiasi harga dan hal lain yang perlu dicocokkan. Seolah sangat paham dengan selera Hayoung, Soojung menawarkan jalan keluar.

“Bukankah itu gunanya teman?”

Hayoung mengangguk, membenarkan perkataan Soojung. Ia kemudian lanjut memerhatikan foto lain di halaman selanjutnya. Beberapa kali ia kembali mengomentari foto Soojung, terkadang bahkan ia berseru jika yang muncul dalam foto adalah orang yang ternyata dikenalinya. Hayoung juga menyelingi kegiatannya membolak-balik lembaran album dengan bertanya banyak hal; tanggal pernikahan Soojung, ke mana mereka berbulan madu, apa saja yang mereka lakukan jika mereka bertengkar, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan kehidupan pernikahan.

Sudah sejak lama Hayoung memendam keingintahuannya akan kehidupan pernikahan Soojung, tapi karena takut malah membuat wanita itu bersedih mengingat suaminya yang sudah meninggal, ia memutuskan akan menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua. Kalau tahu bahwa Soojung akan dengan senang hati menceritakannya sambil tersenyum bahagia, Hayoung tidak akan berlama-lama menahan pertanyaannya.

Ketika akhirnya menutup album foto itu, Soojung sudah selesai membagi semua pengalamannya menjalani pernikahan bersama Choi Minho dan Hayoung sampai pada keputusan bahwa fotografer di hari pernikahannya nanti adalah orang yang sama dengan yang mengabadikan momen berharga Soojung delapan tahun lalu.

***

Soojung mengedipkan matanya berulang-kali, dengan konyol berharap gerakan itu akan membantunya memahami keadaan. Di depannya sekarang ada Oh Sehun, duduk dengan kedua tangan menangkup secangkir kopi hangat, sementara pandangannya lekat pada sosok feminin yang masih tampak kaget itu.

“Kau tidak sedang mengerjai aku, kan?” Wanita itu akhirnya bisa menemukan suaranya.

Sehun menanggapi pertanyaan Soojung dengan tawa mengejeknya yang seperti biasa. Pria itu mengangkat cangkir kopinya ke dekat mulut. Sebelum menyesap cairan pekat di dalam wadah bulat berwarna putih itu, Sehun berkata, “Aku benar-benar ingin berkencan denganmu. Besok. Seharian.”

Tanpa pikir panjang, Soojung langsung bangkit dari duduknya. Tangan kanannya ia layangkan ke kepala Sehun yang sedang meminum kopinya, membuat pria itu terbatuk keras dan cairan yang belum sempat ditelannya keluar dari mulut, jatuh membasahi meja kayu serta kemeja flanel kotak-kotak biru yang Sehun kenakan.

“Ya, Jung Soojung, apa yang kau lakukan?” Sehun berteriak, protes. Suaranya cukup lantang untuk membuat beberapa orang di meja seberang melirik ke arahnya. Menyadari bahwa tindakannya barusan menuai keingintahuan orang lain, Sehun hanya membungkuk untuk meminta maaf. Ia segera meraih tisu yang terlipat rapi di dekat cangkirnya dan membersihkan pakaiannya sambil bersungut-sungut. Tisu itu tadi diberikan pelayan saat mengantarkan pesanan, berjaga-jaga jika kopi yang disajikan mengotori bibir pemesannya. Untuk kasus Sehun, kopinya tidak hanya mengotori sudut bibir, tapi juga kemeja yang diberikan Hayoung saat ulang tahunnya beberapa bulan lalu.

“Kau akan menikah tiga hari lagi, tunanganmu pusing karena kau tidak pernah bisa dihubungi, dan sekarang kau di sini untuk mengungkapkan omong kosong seperti tadi?” ujar Soojung setelah melihat Sehun sudah agak tenang. Wanita itu melipat tangannya di depan dada, menunjukkan ketidaksenangannya atas perbuatan Sehun.

“Yang aku katakan tadi serius.”

“Kau mau mati, hah?” Kali ini giliran Soojung yang menaikkan volume suaranya.

Menyadari Soojung tidak akan menerima ajakannya begitu saja, Sehun akhirnya membuka tas kerjanya. Ia mengambil sebuah buku tebal dari dalam tas kulit berwarna cokelat gelap itu dan mendorong buku tersebut di atas meja, cukup kuat untuk membuatnya sampai tepat di depan Soojung.

Soojung meraih benda yang disodorkan Sehun kepadanya, sejenak memerhatikan gambar bunga matahari yang ada di sampul, dan langsung membelalak kaget setelah mengerti apa yang sedang terjadi. Ia mengecek halaman terakhir untuk memastikan sesuatu. Mendapati bahwa sebaris kalimat memalukan yang ia tulis enam belas tahun lalu masih tercetak rapi di sana membuat Soojung mendadak merasa harga dirinya ternoda hingga tak bisa diselamatkan lagi.

Saat Soojung dan Sehun masih duduk di bangku sekolah menengah, wanita itu jatuh hati kepada sahabatnya sendiri. Berbekal pengetahuan akan segala macam adegan romantis yang dilihatnya di dalam drama, Soojung menghabiskan waktu berminggu-minggu di perpustakaan sekolah untuk mencari sebuah buku yang ia anggap bisa menjadi representasi kisahnya dengan Sehun—kisah cinta antara dua orang sahabat. Di halaman terakhir buku itu, dia menuliskan sebaris kalimat berisi pengharapan agar kisahnya dan Sehun juga bisa berakhir manis seperti tokoh utama dalam cerita itu.

Soojung memberikan buku itu di hari kelulusan. Ia sudah memperhitungkan segalanya dengan matang. Orang tuanya mengajak dia liburan selama dua minggu di Jeju sebagai hadiah kelulusan. Soojung memperkirakan, dengan kecepatan membaca Sehun yang memprihatinkan, waktu sepanjang itu sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan bacaan setebal empat ratus halaman yang dia berikan. Lalu, saat kembali ke rumah, dia bisa langsung memperoleh jawaban atas pernyataan cintanya.

Tapi takdir terlalu gemar mempermainkan wanita itu. Saat bertemu dengan Sehun seminggu kemudian, sikap pria itu sama sekali tidak berubah. Soojung jadi beranggapan bahwa itu terjadi karena Sehun tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya dan pria itu bersikap seperti biasa karena tidak ingin membuat suasana di antara mereka menjadi canggung. Soojung yang patah hati memilih meladeni permainan Sehun, berpura-pura bahwa di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa, tanpa tahu kalau pria itu memang sama sekali tidak pernah membaca buku yang ia berikan.

“Kalau kau mau menyatakan cinta, seharusnya kau langsung bilang. Untuk apa menuliskan perasaanmu di dalam sebuah novel? Kau pikir aku pasti akan membacanya?”

“Ah, aku malu sekali mengingat hal ini,” kata Soojung. Dia menutup mukanya dengan kedua tangan, mendadak berharap atasannya menelepon dan memerintahkannya untuk segera kembali ke kantor sehingga wanita itu bisa segera kabur dari hadapan Sehun.

“Tulisanmu tanganmu sangat jelek, sudah seharusnya kau malu.”

Soojung menjauhkan kedua tangannya dari wajah demi menatap Sehun yang masih tersenyum penuh kemenangan di depannya. Dari raut wajahnya saja, Sehun sudah terlihat siap menggunakan pernyataan cinta itu untuk membalas dendam atas pukulan yang tadi dilayangkan Soojung ke kepalanya. Ragu, wanita itu bertanya, “Kau benar-benar membaca buku ini?”

“Kubaca sampai akhir.”

“Apa kau bisa berpura-pura tidak mengetahui kalau aku pernah menyukaimu?”

“Kenapa aku harus melakukan itu? Aku sangat senang bisa menggunakan hal ini untuk mencelamu suatu saat nanti.”

Soojung mengembuskan napas panjang, tampak sangat putus asa dengan apa yang dialaminya. Urusan cinta monyet yang terlambat terungkap ini benar-benar membuatnya malu.

“Kau tidak sedang berpikir untuk meninggalkan Hayoung demi bisa bersamaku, kan?” Soojung mendelik curiga.

“Menurutmu kenapa aku mengajakmu berkencan besok?”

***

Hayoung dengan gelisah membolak-balik badan di atas kasurnya. Sudah hampir dua jam ia berada di atas ranjang, tapi matanya yang selalu dengan mudah mengantuk setiap ia menyentuh bantal kini seolah mengkhianatinya. Pikiran wanita itu penuh oleh hal-hal buruk yang ditimbulkan imajinasinya sendiri, sehingga untuk memejamkan mata saja rasanya ia tak tenang.

Pernikahannya dengan Sehun hanya tinggal tiga hari, tapi pria itu sama sekali tidak pernah bisa dihubungi. Beberapa kali Hayoung menelepon ibu Sehun, bertanya apakah pria itu sedang sakit hingga tidak pernah ada kabar, namun jawaban yang dia peroleh sama sekali tidak bisa memuaskan rasa penasaran yang merajai pikirannya. Hayoung merasa bahwa ibu Sehun sedang menutupi sesuatu, tapi tidak bisa menebak sesuatu itu apa. Dia bertanya pada Soojung, satu-satunya orang yang ia percaya untuk menampung segala keluh-kesahnya tentang kelakuan Sehun, tapi wanita itu juga tampak tidak bisa membantu. Sekali waktu, di tengah segala kesibukan yang mencekiknya, Hayoung menyempatkan diri menyambangi kantor Sehun yang terletak jauh di pinggiran kota, tapi pria itu juga tidak ada di sana. Sekertarisnya bilang, Sehun sudah hampir seminggu tidak pernah masuk kantor. Hayoung bingung, tapi yang bisa dilakukannya hanya menunggu.

Tadi siang, pertanyaan Hayoung seolah mendapat titik cerah. Setelah merampungkan semua pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya, Hayoung menemui fotografer yang diperkenalkan Soojung kepadanya. Mereka bertemu di salah satu kafe di dekat kantor Soojung untuk membicarakan lebih rinci tentang keinginan Hayoung mempekerjakan pria itu sebagai fotografer di pernikahannya nanti. Pria bernama Kang Minhyuk itu tampak menyenangkan. Dia menyimak semua permintaan Hayoung tanpa banyak protes sehingga Hayoung merasa tidak perlu lagi pusing memikirkan masalah dokumentasi.

Seusai pertemuan itu, Hayoung berniat untuk langsung pulang, tapi langkahnya tertahan ketika dia mendapati dua orang yang dikenalnya ternyata berada di dalam kafe yang sama. Kedua orang itu tampak begitu serius membicarakan sesuatu hingga tidak menyadari keberadaan Hayoung yang berdiri hanya beberapa meter dari tempat mereka duduk.

Hayoung yang tidak bisa menampik rasa penasarannya memilih untuk menunda rencana kepulangannya. Ia menarik sebuah kursi, pura-pura memesan seolah dia baru saja datang, dan berusaha mencuri dengar pembicaraan kedua orang itu. Sayangnya, suasana kafe yang ramai membuat usaha Hayoung sia-sia. Hampir sejam berada di sana, yang dia dapati hanya fakta bahwa Sehun, tunangan yang sudah berhari-hari menghindarinya, sedang menggenggam erat tangan wanita lain sambil tertawa bahagia.

Hayoung tidak akan berpikir dua kali untuk menghampiri kedua orang itu dan meluapkan emosinya seandainya saja wanita yang bersama Sehun bukanlah Soojung. Pemandangan itu membuat kesadaran yang entah sejak kapan mengendap di dalam pikiran Hayoung jadi beriak, menampar dirinya yang selama ini terlalu naïf menanggapi hubungan kedua orang itu.

Petunjuk bahwa Sehun menyimpan perasaan kepada seseorang sudah tampak sejak pertama kali Hayoung bertemu dengan pria itu di Chatsworth House beberapa tahun lalu. Sehun mungkin tidak menyadari kalau pertemuan pertamanya dengan Hayoung berlangsung di bangunan peninggalan abad pertengahan itu, tapi Hayoung ingat betul setiap detailnya. Di bawah terpaan sinar matahari bulan Agustus, Sehun memandangi salah satu sudut bangunan sambil sesekali tersenyum hampa. Ketika Hayoung mendekatinya untuk bertanya mengapa Sehun memandangi tempat itu seperti orang yang tengah memendam luka, pria itu hanya tersenyum kecut kemudian menjawab tanpa menoleh, berkata bahwa tempat itu mengingatkannya pada seorang wanita yang ia cintai, wanita yang telah menjadi milik orang lain. Hayoung baru menyadari bahwa tempat di mana dia pertama kali bertemu dengan Sehun adalah lokasi syuting sebuah film yang sangat disukai Soojung, dan hari itu adalah hari di mana pernikahan Soojung dengan Choi Minho berlangsung.

Beberapa kali saat mereka mengerjakan proyek pembangunan atau renovasi sebuah bangunan selama berstatus sebagai mahasiswa di London, Hayoung sering mendengar Sehun melontarkan kalimat seperti, “Oh, kau sangat rapi. Beda sekali dengan seseorang yang kukenal.” Dulu, ia menganggap bahwa itu adalah pujian tulus yang muncul karena pria itu benar menghargai sifat Hayoung yang menomorsatukan kerapian dalam bekerja. Dia tidak sadar kalau di saat yang sama, Sehun sedang membandingkannya dengan seseorang.

Di saat Sehun mengenalkannya kepada Soojung, Hayoung merasa seolah mereka sudah lama saling mengenal. Segala hal tentang Soojung mulai dari penampilan, cara berbicara, bahkan bahan obrolan yang selalu dipilihnya, semua persis dengan apa yang diceritakan Sehun. Pria itu sudah mendeskripsikan Soojung dengan begitu detail dan Hayoung baru menyadari bertahun-tahun kemudian, bahwa di balik deskripsi selengkap itu, ada seorang pria yang tidak bisa melupakan bayangan seorang wanita meski wanita itu jauh di seberang benua.

Semua perhatian yang dilimpahkan Sehun kepada Dayoung, selama ini Hayoung menganggapnya sebagai perwujudan rasa kasihan karena anak itu lahir tanpa sempat merasakan kasih sayang seorang ayah. Sebagai seorang pria yang mengenal Soojung sejak lama, sudah sewajarnya rasa ingin melindungi tumbuh di hati Sehun. Bukankah itu memang hal yang harus dilakukan seorang sahabat? Hayoung mengabaikan kemungkinan bahwa bisa saja penyebab semua itu bukan rasa kasihan, melainkan pengalihan rasa cinta yang tidak pernah terungkap.

Hayoung juga ingat pembicaraannya dengan Sehun beberapa hari lalu saat mereka makan siang bersama dan pria itu menanyakan perihal cinta pertama. Hayoung dengan polosnya menceritakan apa yang diminta Sehun, menjawab semua pertanyaan pria itu, tanpa sedikit pun menaruh kecurigaan bahwa mungkin saja pria itu sedang merencanakan sesuatu bersama cinta pertamanya—yang tidak lain adalah Soojung.

Hayoung merasa begitu bodoh karena baru berhasil merangkai potongan-potongan kejadian itu di saat semuanya mungkin sudah terlambat. Akhirnya, alih-alih membuat Sehun dan Soojung menyadari keberadaannya, Hayoung memilih mengambil tasnya dan pulang. Dia mengurung diri di kamar selama berjam-jam, mengabaikan pelayan yang memanggilnya ketika jam makan malam tiba, menghiraukan telepon dari orang tuanya yang mungkin ingin bertanya perihal persiapan pesta pernikahannya nanti.

Lelah membiarkan kepalanya sesak oleh prasangka buruknya sendiri, wanita itu lantas bangun dari posisi tidurnya. Ia menendang selimut dengan kasar hingga benda itu jatuh ke lantai, mengembuskan napas panjang yang menyiratkan perpaduan rasa marah dan frustasi, kemudian meraih telepon genggam yang diletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang dan langsung menekan nomor Sehun. Pria itu berhutang banyak penjelasan kepadanya, dan Hayoung akan menagihnya sekarang.

Belum juga Hayoung selesai menekan nomor telepon Sehun secara lengkap, pria itu sudah lebih dulu menghubunginya. Hayoung melirik informasi waktu yang ditunjukkan oleh telepon genggamnya. Sudah lewat tengah malam. Tampaknya yang malam ini tidak bisa tidur bukan hanya dirinya.

“Belum tidur?” tanya Sehun setelah telepon diangkat.

“Bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau pria yang tidak lama lagi akan menikah denganku malah meninggalkanku tanpa kabar selama berhari-hari?” Hayoung menjawab sengit, tidak ingin repot-repot menyembunyikan kekesalannya.

“Aku ada di depan rumahmu,” beritahu Sehun. “Ada yang ingin kusampaikan.”

Hayoung tidak ingin menunggu lama. Dia segera memutuskan panggilan tersebut dan bersiap-siap menemui Sehun.

***

Udara saat itu dingin. Waktu yang menunjukkan bahwa malam sudah larut membuat Hayoung tidak heran jika jalanan di depan rumahnya lengang. Beberapa buah mobil dibiarkan pemiliknya tetap terparkir di tepi jalan, dan Hayoung mengenali satu di antaranya.

Wanita itu melangkah mendekati sebuah Fortuner hitam sembari merapatkan mantel kelabu yang ia kenakan. Sang pemilik langsung membuka pintu ketika menyadari bahwa Hayoung tengah melenggang ke arahnya. Dengan sebuah senyum kaku tersemat di sudut bibirnya, pria itu menyapa, “Hai.”

Di hari biasa, setiap kali ada orang yang tersenyum kepadanya, Hayoung akan menirukan gestur tersebut demi alasan kesopanan. Malam itu, ia merasa sedang tidak ingin bersopan-santun. Alih-alih tersenyum, dia hanya berujar datar, “Di dekat jalan masuk kompleks ini ada warung tenda yang menjual soju. Kita bicara di sana.”

Tanpa menunggu jawaban Sehun, wanita itu langsung melangkah menuju tempat yang disebutkannya. Beberapa kali, selama perjalanan yang memakan waktu kurang dari sepuluh menit itu, Hayoung ingin berbalik demi menampar Sehun yang mengekor di belakangnya, tapi ia selalu berhasil mengurungkan niat tersebut. Jika ada yang harus disalahkan atas kejadian yang ia lihat di kafe siang tadi, maka itu adalah dirinya yang terlalu lamban membaca keadaan.

Hayoung sebenarnya ingin sekali bisa melakukan tindakan seperti wanita-wanita di dalam film dan melepaskan Sehun untuk bersama Soojung, tapi ia merasa masih terlalu egois untuk itu. Wanita itu sadar dirinya tidak cukup dewasa untuk bisa melepaskan tunangannya di saat ia tahu betul bahwa dirinya masih begitu mencintai Sehun. Belum lagi pernikahan mereka juga hanya tinggal menghitung hari. Dia tidak bisa membayangkan rasa malu yang harus ia dan orang tuanya tanggung jika sampai pernikahan yang sudah direncanakan sejak bertahun-tahun lalu itu harus batal.

Di sisi lain, ia juga tidak ingin menghabiskan sisa hidup bersama orang yang pikirannya akan selalu terbagi. Hayoung tidak ingin Sehun bersama dirinya tapi di kepala pria itu, ia terus berandai-andai bagaimana jika Soojunglah yang ada di posisi Hayoung.

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Sehun membuka pembicaraan.

Ia dan Hayoung sudah berada di warung tenda yang tadi disebutkan oleh wanita itu. Di depan mereka juga sudah terhidang beberapa botol soju dan sepiring besar makanan berbahan dasar daging.

“Aku juga,” sahut Hayoung. Dia meraih botol berwarna hijau terang di depannya, menuang minuman itu ke dalam sebuah gelas kecil, dan langsung menenggak isinya. Wanita itu merasa butuh kekuatan dari alkohol untuk membantunya menyuarakan isi pikirannya saat ini.

“Izinkan aku mengucapkannya duluan.”

Hayoung berdecak. “Apa kau sudah lupa pada konsep ladies first?”

“Apa itu pernah berlaku untuk hubungan kita?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, aku duluan?” Sehun bertanya, memastikan. Setelah mendapat anggukan persetujuan dari wanita di depannya, pria itu melanjutkan, “Yang akan aku katakan ini mungkin tidak akan enak didengar.”

Hayoung menenggak minumannya sekali lagi. Entah bagaimana, dia merasa sudah sangat tahu Sehun akan mengatakan apa kepadanya. Berusaha tetap santai, dia berujar, “Aku ini wanita yang tegar.”

“Aku mencintaimu.”

Hayoung langsung tersedak mendengar pernyataan cinta itu. Sisa alkohol yang belum sempat ia telan kini mengalir naik ke hidungnya, membuat Hayoung merasa upayanya untuk tetap terlihat keren jadi sia-sia. Untuk pertama kalinya dia mendengar Sehun mengucap cinta kepadanya, tapi kenapa waktunya terasa begitu salah? Apa ini semacam ucapan perpisahan sebelum akhirnya pria itu menyatakan niat untuk meninggalkan dirinya?

“Aku mencintaimu, Oh Hayoung.” Sehun mengulang kalimat itu lagi. Kali ini lebih jelas, lebih tegas.

Hayoung menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. “Apa ini semacam lelucon?”

“Bukan, ini bukan lelucon,” tukas Sehun. “Ini adalah hal yang sudah seharusnya diucapkan pria kepada wanita yang dicintainya.”

“Kau bilang yang mau kau katakan adalah hal yang tidak enak didengar.”

“Memang tidak enak, kan?” kata Sehun. “Aku harus berlatih lagi agar nada bicaraku bisa terdengar seperti pria-pria dalam drama.”

“Bodoh!”

Pria itu menyunggingkan senyumnya yang dulu membuat Hayoung jatuh cinta: senyum yang tipis dan berat sebelah. Dia mengulurkan tangan demi meraih jemari Hayoung yang dingin. Sambil menatap lurus ke manik mata wanita di depannya, Sehun berujar tulus, “Aku mencintaimu, Oh Hayoung. Dan aku minta maaf. Maaf karena terlambat mengatakan ini. Maaf karena mengabaikan semua panggilan dan membuatmu khawatir. Maaf karena—“

“Sudahlah, aku pusing mendengarmu mengucapkan terlalu banyak kata maaf,” sergah Hayoung. Wanita itu memasang tampang tidak peduli, berusaha menutupi jantungnya yang masih berdebar-debar setelah mendengar pernyataan cinta Sehun. Pemikiran bahwa kalimat yang terdengar terlalu indah itu adalah cara Sehun menyenangkan hatinya sebelum mengucapkan salam perpisahan masih merajai benak Hayoung. Apalagi Hayoung tadi memotong perkataan maaf terakhir pria itu. Sekarang ia jadi menyesal terlalu cepat menyuruh Sehun berhenti, karena yang tersisa di kepalanya hanyalah gagasan bahwa kata maaf yang terakhir itu diikuti oleh keinginan Sehun untuk berpisah.

“Jadi, kau akan meninggalkanku?” Dengan ragu, Hayoung akhirnya mencetuskan isi kepalanya, tidak ingin lebih lama lagi tersiksa oleh pemikiran buruknya sendiri.

Sehun tertawa melihat kelakuan wanita di depannya. Jarang sekali dia bisa melihat Hayoung tampak ketakutan dan ragu akan ucapannya sendiri. Mengetahui bahwa wanita itu ternyata bisa merasakan dua hal itu di saat yang bersamaan karena takut kehilangan dirinya membuat Sehun merasa tersanjung.

“Kenapa aku harus meninggalkanmu?”

“Kau tahu, Soojung unnie….” Hayoung berujar patah-patah. Semua kalimat yang sudah ia rangkai sebelum memutuskan menghubungi Sehun sudah lenyap tak berbekas di kepalanya. Ia bahkan sudah tidak sanggup meneruskan kata-kata hanya setelah mengucapkan nama wanita itu.

“Aku sudah menemuinya,” beritahu Sehun.

Takut-takut, Hayoung bertanya, “Lalu?”

“Kami memutuskan untuk tetap menjadi sahabat.”

Itu bukan jawaban yang terpikirkan oleh Hayoung. Bukan berarti ia tidak senang dengan hal tersebut, tapi…. “Kenapa?”

“Karena tidak ada cukup alasan untuk menjadi lebih dari itu.”

“Kupikir—”

Hayoung tidak sempat melanjutkan ucapannya. Sehun sudah terlebih dahulu mengeratkan genggaman di jemari wanita itu, menguapkan semua kata yang siap terlontar dari mulut Hayoung. Sebagai ganti, Sehunlah yang berbicara. Pria itu mengungkapkan semua hal yang tidak pernah ia beritahukan kepada Hayoung; perasaannya kepada Soojung, kecemburuannya, patah hatinya, kebimbangannya, pernyataan cinta Soojung yang terlambat diketahui olehnya, juga alasan sepasang sahabat itu tidak mengambil kesempatan untuk mencari tahu lebih jauh apakah di antara mereka masih ada sisa-sisa perasaan. Sehun tidak ingin membiarkan Hayoung terus-menerus berprasangka dan ragu untuk menanyakan kecurigaannya langsung.

“Tapi Hayoung-ah, kau tidak keberatan kalau aku tetap menemui Soojung dan Dayoung setelah kita menikah, kan?” tanya Sehun setelah ia menyudahi penjelasan panjangnya. Ada kekhawatiran yang nampak jelas di wajah pria itu karena teringat pertengkaran-pertengkaran kecil yang pernah mereka alami karena masalah itu.

Hayoung mendengus keras. “Kau pikir aku ini wanita macam apa?” tanyanya tak terima. “Tentu saja aku tidak akan marah.”

“Dulu kau marah,” goda Sehun.

“Itu karena aku terus berpikir bahwa kau akan meninggalkanku demi mereka.”

“Bodoh!” Kali ini, giliran Sehun yang mengumpat tunangannya dengan kata itu.

Dikatai demikian, Hayoung bukannya marah. Ia justru tertawa, lega karena kekhawatiran yang mencekiknya sudah tidak ada lagi. Terlepas dari semua alasan yang bisa membawa Sehun kembali terjatuh pada cinta lamanya, pria itu ternyata memilih dirinya. Fakta itu saja sudah membuat Hayoung bahagia luar biasa.

Sudah lama sekali rasanya tawa tidak hadir di antara Sehun dan Hayoung. Ketika akhirnya tawa itu datang lagi, ia kembali bersama sebuah kesadaran bahwa mereka berdua punya waktu sepanjang sisa hidup untuk menikmati tawa-tawa yang lain.

Malam itu, semua tanya yang bersarang di benak Hayoung selama bertahun-tahun akhirnya terjawab. Semua bimbang yang menyelimuti hati Sehun juga telah berakhir. Yang tersisa hanyalah Soojung yang sekali lagi harus merelakan perasaannya kepada Sehun untuk patah tanpa sempat berbunga.

***

“Menurutmu kenapa aku mengajakmu berkencan?”

Ada sesuatu dari perkataan Sehun serta cara pria itu menatapnya yang membuat Soojung mendadak kehilangan kosakata. Padahal tadi dia hanya bertanya asal. Pikirnya, dia bisa menghindari rasa malu dengan balik mengusili Sehun. Soojung tidak menyadari bahwa pertanyaan itulah yang akan membawa mereka pada inti dari pertemuan siang ini.

“Aku tidak ingin terus-menerus penasaran akan perasaanku sendiri,” ungkap Sehun. Suaranya dalam dan tenang, membuat suasana di antara mereka seketika berubah melankolis. Pria itu melanjutkan, “Aku menyukai Hayoung, tapi aku tidak bisa menikahinya sebelum memastikan bahwa perasaanku kepadamu saat ini tidak lagi melampaui kasih sayang seorang sahabat.”

Soojung membatu di tempatnya. Ia berusaha membuka mulut untuk menanggapi ucapan Sehun, tapi tidak ada kata yang keluar dari sana. Seluruh daya dalam tubuhnya seolah menghilang sehingga untuk berbicara saja ia tidak bisa.

Dalam diamnya, Soojung menangkap dengan jelas implikasi yang terkandung dari kalimat Sehun barusan. Ada masa di mana pria itu menganggapnya lebih dari seorang sahabat, dan hal itu mungkin masih berlangsung sampai sekarang. Soojung jadi bertanya-tanya, apakah perlakuan Sehun kepada Dayoung juga ada hubungannya dengan perasaan itu? Apakah kebaikan Sehun selama ini bukan didasari atas rasa kasihan seperti yang Soojung kira, melainkan karena pria itu masih menyukainya?

“Aku menyukaimu sejak dulu. Alasan aku tidak pernah dekat dengan wanita selain dirimu adalah karena aku menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku kepadamu. Aku menenggelamkan diri begitu dalam pada pekerjaan karena aku tidak senang membiarkanmu menjadi satu-satunya hal yang terus mengusik pikiranku. Aku tidak menghadiri pernikahanmu dengan Minho hyung karena aku cemburu melihat kemesraan kalian. Aku tidak menghubungimu selama aku berada di Inggris karena aku masih begitu patah hati melihatmu menikah dengan seseorang yang bukan aku. Aku baru bisa pulang setelah memiliki seorang kekasih karena aku butuh seseorang untuk melindungi diriku agar tidak tidak kembali lagi terjatuh kepadamu. Aku sengaja mengajak Hayoung saat menemuimu karena aku ingin kau tahu bahwa aku juga sudah menemukan pasangan yang dengannya aku bisa meraih kebahagiaan.”

Pengakuan Sehun membuat suasana di antara mereka jadi sentimental. Soojung merasa ada aliran listrik berdaya rendah yang tiba-tiba menyengat dirinya melihat Sehun yang beberapa saat lalu masih menatapnya dengan raut siap mem-bully seperti biasa, kini sudah berubah serius.

“Aku sungguh membencimu, Jung Soojung. Kenapa setelah sekian lama, kau masih saja punya daya untuk membuatku bimbang? Kenapa di saat aku merasa sudah bisa terlepas dari keinginanku untuk memilikimu, aku justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata kau juga pernah menyukaiku? Kenapa di saat aku sudah yakin bisa berbahagia dengan Hayoung, kau justru muncul sebagai sosok yang rapuh dan membuatku begitu ingin melindungimu?”

“Aku tidak butuh perlindunganmu,” ujar Soojung akhirnya. Suaranya dingin dan datar.

Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, bermaksud menghindari tatapan Sehun. Ia ingin menjaga dirinya tampak tegar. Tangannya mencengkeram kuat novel tebal dalam genggamannya, berharap dengan begitu tubuhnya yang gemetar karena luapan perasaan bisa jadi lebih tenang.

“Aku tahu. Aku juga tidak ingin melakukannya,” tukas Sehun. “Tapi melihatmu membesarkan anakmu seorang diri membuatku begitu tersiksa. Aku ingin berada di sampingmu agar kau tidak lagi merasa sendirian menghadapi semuanya. Aku ingin jadi orang yang menghapus air matamu jika kau menangis. Aku ingin kau punya seseorang yang bisa menggantikan posisi Minho hyung dalam hidupmu. Aku ingin Dayoung punya ayah.”

“Dan kau sudah menjadi ayah yang baik untuknya,” sergah Soojung. Dia kembali mengarahkan tatapannya kepada Sehun yang menunduk dengan tangan terkepal di atas meja. Soojung meraih tangan pria di depannya dan menggenggam jari-jari kurus pria itu. Raut muka wanita itu berubah lembut ketika dia berujar, “Kau akan selalu menjadi ayah bagi Dayoung. Kau bisa tetap melakukan itu meski status kita tetap seperti sekarang.”

Sehun mendongak demi menatap Soojung. Pria itu berusaha mengartikan apa yang tersembunyi di balik tatapan Soojung kepadanya, tapi sadar bahwa dirinya tidak pernah cukup pandai untuk memahami sesuatu. Dia bahkan tidak bisa memahami di mana batas antara rasa kasihan dan cinta. Dia tidak tahu alasan di balik tindakannya sendiri.

Sehun balik menggenggam tangan Soojung. Matanya menatap wanita itu lekat-lekat, seolah mencari sebuah jawaban di sana.

“Apa perasaanmu kepadaku benar-benar sudah mati?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?” tuntut Sehun.

“Kau terlambat enam belas tahun, Oh Sehun,” ujar Soojung, setengah mati berusaha tetap tenang menghadapi gejolak perasaan yang terasa begitu menyiksa dirinya. Dia tidak boleh goyah. Sehun yang sedang bimbang akan semakin kehilangan arah jika dirinya juga ikut terbawa perasaan. “Aku paham bahwa tujuanmu mengajakku berkencan adalah untuk mencari tahu apakah di antara kita masih ada cinta atau tidak, juga apakah dengan sisa-sisa perasaan itu kita bisa menemukan kebahagiaan. Aku tahu betapa penting jawaban dari pertanyaan itu untukmu. Dan sungguh, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerima ajakan itu kalau saja kau bukan seorang pria yang tiga hari lagi akan menjadi suami orang lain.”

Sehun hanya bisa diam.

“Lagi pula, apa yang kau harapkan dari acara kencan itu? Kalaupun akhirnya kita sama-sama menyadari bahwa rasa cinta itu masih ada, bukankah untuk bisa menyatukannya kita harus menyakiti Hayoung? Bagaimana mungkin kau menawarkan kebahagiaan kepadaku padahal kita tahu bahwa kebahagiaan itu hanya bisa dibangun di atas kehancuran seseorang?”

“Soojung-ah….”

Soojung menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Kemudian, setelah merasa emosinya sudah cukup stabil, dia berujar lembut. Suaranya pelan dan penuh perhatian, persis seperti ketika dia berbicara dengan Dayoung setiap kali anak itu butuh diberi pengertian.

“Aku memahami kebimbanganmu. Kau tidak ingin terus-menerus berpikir bahwa kau menjalani hidup di atas pilihan yang salah. Tapi bagiku, satu-satunya pilihan salah yang mungkin kau tempuh saat ini adalah jika kau menyakiti tunanganmu.”

“Tapi aku—”

“Berhentilah bimbang dan berbahagialah. Jangan biarkan rasa kasihanmu kepadaku membuatmu malah menyakiti orang lain.”

Kata-kata Soojung berhasil membungkam Sehun. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi hingga beberapa menit kemudian. Sambil menatap hampa ke arah cangkir kopinya yang sudah nyaris kosong, ia larut dalam pikirannya sendiri.

Soojung, di sisi lain, dengan sabar menunggu di depan Sehun, menunggu kabut perasaan yang beberapa hari belakangan menyelimuti logika pria itu perlahan memudar.

“Kau sudah dewasa, rupanya,” puji Sehun ketika akhirnya dia berhasil menemukan suaranya kembali. Di sudut bibir pria itu, terbit senyum lega yang menandakan kebimbangannya selama ini sudah berakhir.

“Tentu saja,” ujar Soojung bangga. Dia sengaja mengibaskan rambut panjangnya ke balik bahu, menirukan gaya wanita-wanita sombong yang biasa ia lihat di dalam drama.

Sehun memperhatikan tingkah Soojung dan tertawa. Bukan jenis tawa terbahak-bahak yang muncul karena sesuatu yang lucu, melainkan tawa yang darinya terlihat jelas bahwa Sehun melakukan itu agar atmosfer berat yang melingkupi dirinya dan Soojung karena pembicaraan barusan bisa berubah lebih ringan. Soojung juga ikut melakukan hal serupa. Sepertinya mereka sudah sepakat untuk menyudahi perihal cinta tidak sampai di antara keduanya dengan tertawa bersama. Soojung ingat, dulu, mereka sering kali menyudahi pembicaraan berat yang seperti tidak akan berujung hanya dengan tertawa tanpa alasan yang jelas seperti itu.

“Jadi, kita teman?” tanya Sehun saat mereka berdua sudah lelah tertawa seperti orang bodoh.

Soojung mengangguk mantap. “Selamanya.”

 End.

Author’s Note:

  • Ini mungkin bukan jenis sequel yang disukai banyak pembaca, tapi saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan untuk mengetik cerita ini. HAHAHA *ditimpuk berjamaah sama reader yang minta sequel demi ngeliat Sestal bersatu* Sestal are lovely, but aren’t our Oh-Magnae couple lovelier?
  • Just in case ada yang bingung sama timeline cerita ini. Latarnya diambil 10 tahun setelah cerita pertama. Jadi, tidak lama setelah pertemuan di kafe waktu itu, Minho sama Soojung jadian dan mereka menikah dua tahun kemudian, pas umur Soojung 26 tahun. Dayoung lahir waktu Soojung berumur 28 tahun (dia hamil di tahun kedua pernikahan, plus hitungan mengandung yang kurang lebih sembilan bulan). Sehun pulang ke Korea setelah empat tahun kuliah di Inggris (well, kuliah master di Inggris sebenarnya bisa selesai setahun sih, tapi berhubung Sehun galau, jadi kuliahnya lama. Hahaha). Pas pulang, Sehun sama Soojung sudah berumur 30 tahun.
  • Dayoung adalah anak yang diasuh MBLAQ di program Hello Baby. Kalau mau lihat penampakan bocah lucu ini, bisa diintip di sini.
  • Kalimat di bagian paling atas diambil dari lirik lagu Ariana Grande ft. Nathan Sykes, Almost Is Never Enough.
  • Credit for the beautiful poster above goes to Blackangel from Indo Fanfiction Art.
Advertisements

15 thoughts on “Always Had, Never Will [Sequel]

  1. Berasa pengen bikin gerakan baper berjamaah abis baca ini. Selalu sedih kalo baca cerita beginian. Urusan sahabat jadi cinta, cinta terpendam, cinta yang lambat ketahuan itu selalu jadi komposisi penguras emosi yang paling tokcer buat pemilik hati lemah spt aku.

  2. yah, judulnya aja always had never will. harusnya dari situ udah ketahuan jalan ceritanya bakalan berakhir seperti apa. tapiiiii… kok aku masih aja terkejut? kok aku masih gak rela? hiks.

  3. Ige mwoyaaaaaaa? Kenapa malah makin sedih ceritanya. Aku pikir dengan adanya sequel, cerita yg awalnya berakhir sedih buat sehun bisa dibikin bahagia. Tapi ini apa kakaaaaak 😥

    *nangis di pojokan sambil meluk soojung*

  4. Jadi, kita berteman?

    Selamanya.

    Apa apaan ini 😂😂😂

    Udah kak.. Fix kamu benar benar demen matahin hati pembaca. Bhay~

    *pungutin serpihan hati yang hancur abis baca adegan terakhir*

  5. aku suka sama penyelesaian konfliknya. biarpun sejujurnya ini bukan alur yang terbayang di kepalaku saat ngeliat kata sequel, tapi aku gak merasa ini jelek kok. dan lagunya ariana grande juga pas banget buat dijadikan pengiring cerita ini. always had never will. almost is never enough. dua-duanya adalah pilihan judul yang bisa menggelitik sisi baper pembaca. terima kasih utk ff ini. keep writing, thor! 🙂

  6. itu sumpah ya, adegan di awalnya serius menipu sekaleeeeeeeh… aku pikir mereka akhirnya menikah dan sehun mau ke pesta penghargaan apa gitu, tapi ternyata…

    aku ga terlalu merhatiin couple2 exopink sih, tapi pernah baca fakta sehun sm hayoung. dan setelah baca ff ini jadi pengen baca lebih banyak tentang mereka.

    oiya, setelah baca ff ini aku juga naru tahu kalau di inggris termyata kuliah s2 bisa setahun. kirain di semua univ kuliah s2 makan waktu 2 tahun atau lebih. hihi..

    bikin sestal lagi yak! 😀

    1. hai, terima kasih udah mampir lagi. kalo mau baca yang couple seyoung, kamu bisa mulai dari ff ini http://www.asianfanfics.com/story/view/809117/530-hyeri-hayoung-kai-naeun-sehun-seyoung . seriously, aku suka banget sama cerita itu. authornya jg bikin banyak ff lain yang castnya exopink, jadi kamu cari aja mana yang genrenya sesuai selera kamu (jadi promo gini jadinya. hahaha)

      tentang kuliah s2 di inggris, di sana memang kita dibolehin milih mau master by course atau by research. masing2 waktunya 1 tahun. as a consequence, kurikulumnya jadi padat banget, beda sama di indo yang setahun teori setahun riset.

      1. wah, lengkap bgt infonya. gamsahamnidaaaa xD

        iya, selama ini memang gak terlalu merhatiin couple exopink. selalu nyari yang sestal atau kalo nggak yang sama OC. bahkan kadang yang yaoi juga diembat. wakkakak… sekali lagi makasih infonya, authornim! *bow*

  7. Aku ingat Dayoung ini yang anak kesayangannya GO pas Hello Baby. Iya, kan?

    #menolakfokuskeceritaaslinya
    #soojungyangsabarya

  8. aku ngalamin yang namanya patah hati berlapis karena ff ini. waktu bagian pertama, yg mereka masih muda, aku patah hati krn alih2 jatuh cinta sama sehun, soojung malah lebih tertarik sama minho yang baru sekali itu dia lihat. di bagian kedua ini, aku patah hati lagi karena adegan awalnya udah bikin aku berpikir kalau soojung akhirnya menikahi sehun. apalagi anaknya manggil sehun pake panggilan appa. aku bertanya2 apa yg terjadi sama minho dulu, dan apa perannya hayoung di sini. ternyata settingnya meloncat jauh ke 10 tahun kemudian dan yg terjadi di adegan awal itu sepertinya mmg sengaja disajikan author buat mempermainkan emosi pembaca. ketika akhirnya ketahuan kalau soojung juga pernah naksir sehun, dan sehun juga bimbang memilih antara soojung dan hayoung, aku pikir hayounglah yg akhirnya bakalan mengalah, dan sejujurnya aku sempat kasihan juga sama dia, tapi ternyata (again!) emosi pembaca sedang dipermainkan oleh authornya. aku ingat perasaan kayak gini pas baca ffmu yg the vow itu. dr awal terus mikir tokoh utamanya bakalan sama siapa, dan selalu berubah pikiran setiap ada scene. great job, authornim! aku suka sekali sama cerita ini. gak mainstream dan bahasanya jg bagus. keep writing ya.. waiting for your next project! fighting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s