haesica-the-stories-when

Title: The Stories When…

Author: nchuhae

Main Cast: Lee Donghae, Jessica Jung

Support Cast: Kim Heechul, Lee Hyukjae

Length: Oneshot, 12k words

Genre: Drama, friendship, sad/hurt

Rating: PG-15

Sebelumnya:

At The End Of Their Third MeetingThat WomanThings You Find On Fiction

.

.

Darling, it ain’t romance.

***

Donghae menyandarkan tubuh di pintu apartemennya. Mata pria itu sudah setengah terpejam karena terlalu lelah, tapi masih dia paksa untuk tetap terbuka demi memastikan bahwa tangan kiri yang dia gerakkan dengan sisa-sisa tenaga itu mengetikkan kata sandi yang benar. Setelah terdengar bunyi denting halus yang menandakan bahwa kombinasi enam angka yang dimasukkannya barusan tidak keliru, dia mendorong pintu baja berwarna kelabu yang kemudian bergerak menutup secara otomatis setelah dia berada di dalam ruangan.

Beberapa minggu belakangan ini benar-benar melelahkan baginya. Target untuk pekerjaan terbaru yang diberikan atasannya bukan jenis orang yang mudah dilenyapkan. Pria itu adalah seorang pengusaha yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai walikota di sebuah provinsi di selatan China. Pengamanan yang menyelubungi dirinya benar-benar ketat. Donghae sebenarnya bisa saja bertindak nekat dan memilih jalur pintas dengan menggunakan senjata penembak jarak jauh, tapi itu sama sekali bukan gayanya. Pada akhirnya, dia memutuskan menggunakan keahliannya menyamar dan menyelinap, kemudian membiarkan obat buatan Heechul menuntaskan pekerjaannya kali ini.

Donghae bisa menghitung berapa jam waktu yang dipakainya untuk mengistirahatkan tubuh sejak pertama kali nama target itu diserahkan kepadanya. Jumlahnya sangat sedikit dan tidak efektif. Dia tidak heran jika sekarang tubuhnya berontak karena lelah.

Pria itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas sebuah sofa panjang berwarna putih yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Benda itu adalah benda empuk pertama yang bisa dia jangkau dan Donghae tidak ingin membuang waktunya untuk mencari ranjang. Perbedaan waktu beberapa puluh detik yang harus digunakannya untuk berjalan ke kamar tidur menurutnya terlalu berharga untuk dibuang. Sofa ini pun sudah jauh lebih nyaman dibanding tempatnya tidur belakangan ini yang hanya berupa lantai kotor yang dingin.

Sebelum matanya benar-benar terpejam, Donghae masih sempat mendengar suara teriakan dari apartemen di sebelahnya. Keluarga yang tinggal di sana sepertinya sedang bertengkar lagi malam ini. Di hari-hari biasa, suara teriakan pasangan suami istri paruh baya itu pasti akan membuat Donghae langsung mengetuk pintu apartemen mereka dan meminta agar dua orang itu mengecilkan suara mereka, tapi kali ini dia terlalu lelah untuk itu.

Donghae juga sempat melihat lengan kanannya yang berlumuran darah. Dia tidak yakin sudah seberapa banyak darah yang mengucur dari sana, tapi dia tidak begitu peduli. Dia hanya ingin tidur.

***

“Jessica!”

Gadis yang namanya disebut itu langsung menoleh ke arah laptop yang dibiarkannya terbuka di atas meja di sudut kamar tidurnya. Kim Heechul, dengan wajah ditempeli masker berwarna hijau gelap yang diperkirakan Jessica merupakan pencerah kulit, terlihat sedang tersenyum lebar sambil melambai-lambai dengan antusias di layar selebar 14 inch itu. Jessica segera bangkit dari kasur, meninggalkan kesibukannya mengepak pakaian demi menyapa pria yang belakangan diakrabinya itu.

“Jangan tersenyum, kau bisa merusak maskermu!” ujar gadis itu.

“Wah, kau memang benar-benar wanita luar biasa!” ejek Heechul. Senyum lebarnya langsung hilang karena sapaan Jessica barusan, diganti oleh bibir yang tersungging angkuh dan tangan yang disedekapkan di depan dada. “Biasanya aku akan ikut tersenyum ketika seseorang menyapaku dengan begitu antusias, bukannya malah mengomentari maskernya.”

Menanggapi itu, Jessica tertawa. “Kau masih belum tidur?” tanyanya tidak nyambung, meninggalkan topik mengenai masker. Sekilas dia memperhatikan jendela, memastikan bahwa di luar sana, matahari memang benar sudah mulai meninggi. Memperhitungkan perbedaan waktu antara Seoul dan London, itu berarti di kota tempat tinggal Heechul, saat ini jam sedang menunjukkan pukul tiga pagi.

“Aku tidak bisa tidur sejak tadi karena pusing menyelesaikan sudoku yang dibuat Kibum. Sialan, anak itu benar-benar jago merancang permainan yang mampu memelintir sel-sel otakku. Benar-benar menyebalkan. Kau tahu kan, aku paling tidak bisa dibuat penasaran seperti ini,” beritahu Heechul, serta-merta melupakan rajukan yang beberapa saat lalu dia lontarkan pasca sapaan antusiasnya ditanggapi Jessica dengan tidak sama heboh. Dia menjelaskan kondisinya nyaris tanpa jeda, sehingga di akhir penjelasannya, dia tampak terengah-engah.

Penjelasan Heechul membuat ujung-ujung bibir Jessica kembali tertarik ke samping. Lawan bicaranya itu benar-benar menarik. Di satu sisi dia bisa jadi sangat jenius, tapi tidak jarang sifat kekanakannya membuat dia terlihat bodoh.

“Jadi kau mengajakku mengobrol untuk membujukku membantumu menyelesaikan permainan itu?” Jessica bertanya lagi. Wajahnya sengaja dibuat galak.

Heechul menggeleng. Sebuah cengiran lebar terbit di wajahnya. Ekspresi itu saja sudah memberi penjelasan kepada lawan bicaranya kalau dia melakukan panggilan video itu hanya karena sedang ingin mengganggu orang. “Kulihat kau sedang aktif di Skype, jadi aku memutuskan ingin menyegarkan otak dengan menyita waktumu,” jelasnya. “Lagipula, memangnya kau bisa? Dulu, saat aku memintamu membantuku menyelesaikan teka-teki silang bertema pokemon, kau malah keasyikan menonton anime-nya dan melupakanku.”

Jessica tertawa mengingat kejadian itu. Beberapa minggu yang lalu, tidak lama setelah kunjungannya ke London, Heechul tiba-tiba menghubunginya lewat panggilan video.

Jessica sempat bingung dari mana pria itu bisa mendapatkan kontaknya, berhubung saat mereka bertemu, pembicaraan mengenai akun media sosial dan sejenisnya tidak pernah terlontar dari bibir masing-masing. Tapi bahkan sebelum kebingungan itu sempat dia suarakan, Jessica sudah terlebih dahulu bisa membaca keadaan. Memangnya dengan siapa dia berbicara? Kalau membuat obat yang tidak terdeteksi oleh dokter saja bisa dia lakukan, apa sulitnya mencari identitas seorang di media sosial?

Di panggilan pertama yang seharusnya serba canggung itu, Heechul langsung menyapanya dengan akrab, seolah mereka berdua sudah lama saling mengenal. Pria itu bahkan tidak bertanya kabar dan malah langsung bercerita tentang teka-teki silang yang diberikan Kibum kepadanya. Jessica, meski sedikit bingung, bisa cepat menyesuaikan diri dengan tingkah Heechul yang sejak awal dianggapnya sebagai pria dengan kepribadian lucu. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sepenuhnya akrab. Di ujung panggilan itu, Heechul memberi mandat kepada Jessica untuk membantunya menyelesaikan permainan kata yang pertanyaannya disusun berdasarkan pengetahuan akan pokemon itu, membuat Jessica akhirnya harus menonton anime beratus-ratus episode untuk bisa menjawab pertanyaan dalam permainan tersebut.

“Setidaknya waktu itu aku membantumu menjawab dua pertanyaan,” ujar Jessica tidak terima.

“Terima kasih. Itu sangat membantu,” ejek Heechul lagi. Pandangan pria itu kemudian menangkap gundukan besar di belakang Jessica. Penasaran, dia bertanya, mengalihkan pembicaraan, “Apa yang sedang kau lakukan?”

Gadis itu mengikuti arah pandang Heechul lalu menggeser badannya sedikit, membiarkan pria itu melihat pakaian yang bertumpuk di atas kasurnya. “Aku sedang memilih-milih baju yang akan kubawa besok.”

“Waaah… Kita benar-benar akan jadi tetangga!” seru Heechul dengan mata berbinar. Kedua tangannya bahkan ditepuk-tepukkan penuh semangat saat ia mengucapkan kata tetangga.

“Aku masih gagal paham bagaimana London dan Paris bisa disebut tetangga.”

“Dua kota itu ‘kan dekat. Aku dan Donghae nanti bisa sering-sering datang mengunjungimu.”

Tubuh Jessica mendadak kaku mendengar nama itu disebut. Setelah berkali-kali dia dan Heechul mengobrol, setelah pembicaraan panjang dengan beragam topik yang mereka lewatkan tanpa menyebut-nyebut nama itu, akhirnya nama itu hadir juga kali ini.

“Pria itu… dia… apakah baik-baik saja?” Jessica ragu-ragu bertanya. Dia tidak yakin ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya barusan. Separuh hatinya masih dilingkupi rasa takut mendengar kemungkinan buruk yang bisa saja muncul sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Tapi Heechul sekarang menyebut nama itu dengan sengaja, bukankah berarti dia tahu sesuatu?

Heechul, meski bisa membaca apa yang dipikirkan Jessica dari perubahan ekspresi wajahnya, memilih untuk tidak ikut terbawa suasana. Sebenarnya dia berbagi kekhawatiran yang sama seperti halnya Jessica. Memang tidak seperti biasanya, Donghae yang dulu selalu dengan teratur memberitahu perkembangan hasil kerjanya kini sudah hampir dua bulan tidak bisa dihubungi. Berkali-kali pikiran buruk melintas di kepala Heechul, tapi dia memilih untuk optimis. Donghae pasti baik-baik saja. Mencoba bersikap sesantai mungkin, pria itu lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Kali ini dia melakukannya dengan menguap lebar.

“Membayangkan muka sendu anak itu saja sudah membuatku mengantuk seperti ini,” ujarnya sembari menepuk-nepuk pelan mulutnya yang terbuka lebar.

Sepenuhnya paham akan maksud lawan bicaranya, Jessica memutuskan tersenyum. Tentu saja Donghae saat ini sedang baik-baik saja. Seperti kata Heechul saat mereka bertemu dulu, pria itu saat ini pasti hanya sedang terlalu sibuk menyelesaikan misinya—misi terakhirnya. Pria itu akan segera pulang. Jessica bisa segera menemuinya. Dia bisa menyampaikan kata maaf yang selama ini belum sempat diucapkannya secara langsung. Mereka akan berbincang mengenai banyak hal, sama seperti saat mereka pertama kali berkenalan dua tahun lalu.

Sebelum mengakhiri panggilan video itu, Heechul berujar menenangkan, “Aku yakin dia baik-baik saja. Percayalah, dia hanya sedang jual mahal kepadaku.”

***

Donghae mengayun tungkai menyusuri sebuah jalanan sempit dan ramai yang terletak di dekat pasar, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Seluruh bagian kiri wajahnya terasa sakit setiap kali ia berusaha untuk mengerjap. Sisa-sisa pemukulan yang dilakukan dua orang hyung-nya masih membekas di sana. Kaki kanannya kaku, nyaris tidak bisa ditekuk karena sudah beberapa kali patah dan tidak pernah ditangani dengan baik. Lengan kanannya juga hampir sama. Dia ingat, belakangan nyaris tidak pernah menggunakannya. Lengan itu masih dibebat kain kasa yang kini sudah berubah warna karena tidak pernah diganti sejak pertama kali dipasang oleh pengurus panti, tak lama setelah ia didapati tergeletak di bukit belakang asramanya seminggu lalu. Tapi semua rasa sakit yang dialaminya mendadak hilang saat toko itu sudah tampak olehnya, sebuah toko roti di ujung jalan.

Bangunan itu jauh dari kata luas. Di depannya tampak sebuah boneka setinggi badan, berbentuk serupa koki gendut yang tersenyum lebar sambil mengangkat talang kecil berisi roti. Di bagian dada boneka itu, ada tulisan yang dicetak dengan huruf bersambung, memperlihatkan nama toko dan tahun berdirinya. Bagian depan toko sengaja tidak ditembok, hanya ada dinding dan pintu kaca yang membatasi ruangan tak seberapa luas itu dengan jalan setapak yang biasa dilalui para pejalan kaki.

Mengikuti aroma roti yang sedang dipanggang, Donghae berjalan terpincang-pincang mendekati tujuannya. Di tangan kirinya yang masih berfungsi dengan baik, Donghae menggenggam empat keping uang logam yang tampak sudah kusam karena sudah terlalu sering berganti pemilik. Bagi banyak orang, keping-keping berwarna perak pudar itu mungkin tidaklah berarti, tapi hal sebaliknya berlaku pada Donghae. Sekeping saja uang itu berkurang, maka dia tidak akan bisa memperoleh roti kesukaannya. Pemikiran itu membuat dia mengeratkan genggamannya, menjaga agar keempat benda itu tidak tercecer satu pun.

Ada aroma manis yang menyapa indra penciuman Donghae saat dia sudah berdiri di depan jejeran talang besar di mana puluhan roti beragam rasa dipajang penjual untuk menarik minat para calon pembeli. Ada roti bertabur abon, sayuran, sosis, keju, dan cokelat dengan beragam bentuk di sana, tapi perhatian Donghae tercuri oleh sebuah roti bulat berwarna hijau yang menguarkan aroma pandan. Dia menelan liur yang entah sejak kapan membanjir di mulutnya. Jaraknya dengan makanan itu kini hanya dibatasi oleh kaca tipis etalase toko.

Menempelkan lengan kirinya ke arah pintu kaca, Donghae mendorong pintu itu. Tidak ada ucapan selamat datang yang diterimanya. Yang ada hanya tatapan sinis dari beberapa pengunjung toko, juga tatapan jijik dari beberapa orang sisanya. Donghae tidak peduli. Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu.

Dia menyeret kakinya mendekati satu rak di mana roti pandan kesukaannya terletak. Pria muda yang kira-kira berusia beberapa tahun lebih tua darinya, yang kebetulan berdiri di sana sambil memegang sebuah talang di tangan kiri dan penjepit di tangan kanannya, langsung bergeser dan memandangnya dengan risih. Donghae tidak menghiraukannya. Dia hanya ingin mengambil roti dan menuntaskan lapar yang sudah seharian menggerogoti perutnya.

Roti itu mengembang dengan sempurna. Tepat di bagian tengah, sang koki memotongnya dan mengoleskan krim dari gula mentega putih. Di atasnya, ada serbuk gula yang menempel, juga dua buah cokelat berbentuk pipih yang sekilas seperti mata yang sedang melotot lucu. Dengan melihatnya saja, Donghae sudah bisa membayangkan bagaimana sensasi yang akan dialaminya ketika makanan hijau yang tampak menggiurkan itu beradu dengan indra pengecapnya.

Donghae memindahkan uang logamnya ke tangan kanan. Dia sudah tidak terlalu butuh tenaga lagi untuk menggenggam benda itu. Tangan kirinya yang berfungsi dengan normal lebih baik dia gunakan untuk memegang rotinya. Menjulurkan tangan, Donghae bersiap mengambil makanan itu dan membawanya ke kasir.

Tangan Donghae tidak pernah berhasil menyentuh makanan yang diidamkannya itu. Sepasang tangan lain sudah terlebih dulu hinggap di bahunya, menarik paksa tubuhnya keluar dari toko dan mendorongnya hingga terjerembab di jalan.

“Pergi dari sini, Bajingan! Kau hanya akan membuat semua pembeliku kabur.” Suara berat itu terdengar membentaknya, disusul suara pintu yang dibanting dengan kasar, serta bisik-bisik penuh rasa ingin tahu dari orang-orang yang kebetulan lewat.

Ada gelombang rasa sakit tidak terperikan yang kembali menghantam tubuh kurus Donghae saat itu. Dia terjatuh tepat di bagian di mana tubuhnya terluka paling serius. Tangan dan kaki kanannya yang sebelum ini memang sudah memberinya rasa sakit yang tidak sedikit, kini semakin berdenyut, mendatangkan nyeri tidak karuan yang sempat membuatnya berpikir dia mungkin tidak akan bisa menggunakan bagian itu lagi kelak. Bahkan aroma manis roti sudah tidak lagi bisa menjadi anastesi baginya.

Tapi Donghae tidak ingin menyerah. Dia sudah melakukan perjuangan besar untuk bisa sampai ke tempat ini. Dia hanya ingin membeli roti itu. Dia sudah menabung. Pemilik toko roti tidak perlu tahu betapa susahnya dia mengumpulkan empat keping logam itu, yang jelas dia sudah punya uang sekarang.

Oh, tunggu dulu. Uangnya!

Donghae melemparkan pandangan ke arah tangan kanannya yang tertindih saat jatuh tadi. Tangan itu terbuka, dan uangnya sudah terlepas dari sana. Panik, Donghae menoleh ke kiri dan ke kanan. Matanya menyipit, aktif memindai jalan, berharap bisa segera menemukan kepingan uang logamnya dan kembali ke toko itu untuk membeli roti kesukaannya.

Bukan hal mudah bagi Donghae untuk melakukan itu. Jalanan di sekitarnya sudah kembali ramai setelah sebelumnya saat ia diusir oleh pemilik toko roti, orang-orang sengaja berjalan agak jauh darinya. Dia menemukan keping logamnya yang pertama setelah mencari hampir lima menit. Seseorang kebetulan menyenggol tubuhnya dan membuat pandangannya tertuju pada kisi-kisi saluran air. Logam bulat yang kusam itu tergeletak hanya beberapa senti dari lubang saluran air. Kesadaran dengan cepat menghampiri Donghae, dan di saat yang hampir bersamaan mengiris hatinya. Kepingan logamnya yang lain mungkin sudah menggelinding sedikit lebih jauh hingga akhirnya jatuh ke dalam saluran air. Dia cepat-cepat menyeret tubuh remuknya dan memungut uang itu sebelum seseorang tidak sengaja menendang dan menjatuhkannya ke saluran air. Setidaknya memiliki satu uang logam masih lebih bagus daripada tidak sama sekali.

Seseorang kembali menyenggol tubuh Donghae yang saat itu masih bersimpuh di jalan, membuat rasa sakitnya datang lagi. Tidak ingin terus-terusan seperti itu, Donghae mencoba berdiri, menyingkir dari jalan yang sesak itu.

Donghae sudah terbiasa dipukuli. Di panti asuhan tempatnya dirawat, dia adalah sasaran empuk segala bentuk penyiksaan. Setiap kali sumbangan dari para dermawan berkurang jumlahnya, penjaga panti akan melampiaskan kekesalan tak beralasannya kepada anak-anak yang seharusnya ia jaga. Donghae adalah salah satunya. Setiap kali Kangin dan Shindong—dua orang yang juga tumbuh di panti asuhan itu—merasa ingin memukuli seseorang, mereka akan mencari Donghae.

Mungkin karena Donghae penakut hingga tidak pernah berani melaporkan apa yang dialaminya kepada orang lain, mungkin juga karena dia kadang berharap di ujung pemukulan itu nyawanya bisa melayang dan dia bisa segera lepas dari penderitaan, dia selalu menerima begitu saja setiap kali bilah rotan atau bogem mentah menghantam tubuhnya yang ringkih.

Rasa sakit sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari hari-harinya. Tapi hari ini, rasa sakit yang dialaminya berbeda. Yang sakit bukan hanya tubuhnya, melainkan juga hatinya. Hati yang dikiranya sudah kebas karena terlalu banyak menderita itu ternyata masih bisa tersakiti lebih dalam. Lucunya, ini terjadi karena sepotong makanan dan tiga keping uang yang kini sudah tidak lagi dimilikinya.

Usianya tujuh tahun kala itu, dan yang ia inginkan hanyalah roti yang masih baru. Hanya sepotong roti. Apakah itu terlalu berlebihan?

***

Donghae tidak ingat sudah berapa lama dia berlari hingga paru-parunya kini serasa ingin meledak akibat kekurangan persediaan udara. Dia memutuskan menghentikan larinya, tahu bahwa jika dia memaksa untuk mengayun tungkainya lebih lama lagi, dia akan jatuh tak sadarkan diri karena kelelahan. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya bertumpu di lutut, sementara mulutnya dibiarkan sedikit terbuka untuk memberi jalan pada udara untuk masuk.

Sekitar semenit kemudian, ketika laju napasnya sudah terasa netral, Donghae meluruskan tubuh dan mulai menggerakkan kakinya lagi. Dia berjalan lambat kali ini. Matanya awas mengamati tempat yang sekiranya bisa ia gunakan untuk bersembunyi. Donghae tidak tahu tentang seluk-beluk jalan yang melintang di depannya. Bahkan jika diingat-ingat lagi, dia tidak pernah mendatangi kawasan ini sebelumnya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan jalan saat berlari tadi. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana menjauh dari Kangin yang hari ini sedang marah besar, entah karena apa. Satu yang Donghae tahu, hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah menghilang dari panti jika tidak ingin menjadi sasaran kemarahan hyung-nya itu.

Dia sampai di sebuah lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Lorong itu lebarnya hanya sekitar satu meter. Jika ada dua orang dewasa berjalan bersamaan di lorong itu, bahu mereka pasti akan saling menempel saat berpapasan. Jalanan itu gelap dan bau karena banyaknya sampah yang menumpuk di mulut lorong. Sekilas Donghae juga melihat tikus-tikus got berlarian dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya untuk mencari makanan.

Itu sama sekali bukan tempat yang nyaman untuk dimasuki, tapi bagi Donghae, itu adalah tempat persembunyian yang pas. Kalaupun Kangin berhasil mengejarnya sampai ke sini, Donghae yakin pria yang lebih tua dua tahun darinya itu tidak akan menyangka bisa mendapati dirinya di dalam lorong sempit tersebut.

Donghae melangkah sedikit lebih jauh ke dalam lorong, hendak mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah berlari. Di dekat sebuah tong berwarna biru di mana sampah-sampah plastik biasa dibuang, dia menghentikan langkah. Sebuah botol minuman yang masih terlihat penuh menarik perhatiannya. Donghae mengambil botol plastik berukuran sedang itu, membuka penutupnya, dan tanpa berpikir panjang langsung meneguk isinya. Rasa manis yang berasal dari minuman berwarna keunguan di dalam botol itu langsung memenuhi permukaan lidahnya. Donghae tidak pernah memakan anggur sebelumnya. Pengurus panti tidak pernah memberikan mereka makanan seperti itu. Tapi setelah mencicipi minuman yang baru saja diteguknya, Donghae langsung memutuskan bahwa buah bulat itu ternyata sangat lezat. Suatu saat nanti, jika dia sudah punya banyak uang, dia akan membeli kebun anggur yang luas. Pemikiran demikian berhasil menghadirkan seulas senyum di sudut bibir pemuda tanggung itu.

Donghae melanjutkan langkah sedikit lebih ke dalam. Dengan asal, dia menyambar sekotak kardus bekas di antara tumpukan sampah yang dilaluinya. Kardus itu berisi kertas-kertas yang tidak Donghae pahami isinya. Setelah mengeluarkan semua isinya, Donghae melepas selotip yang melekat pada permukaan kardus itu dan melipatnya sedemikian rupa hingga terlihat seperti tikar.

Di atas tikar barunya, Donghae duduk sambil meluruskan kakinya yang pegal. Punggungnya disandarkan pada dinding bata yang membatasi lorong sempit ini dengan bangunan di sebelahnya sedangkan tangannya disedekapkan di depan dada. Aroma menusuk dari sampah di mulut lorong pun berangsur berkurang. Donghae berpikir itu mungkin karena indra penciumannya sudah mulai terbiasa dengan bau tidak sedap itu. Dia memutuskan bahwa tempat itu ternyata tidaklah terlalu buruk. Memejamkan mata, Donghae melepas lelahnya sambil membayangkan kebun anggur yang kelak akan diilikinya.

Usianya sepuluh tahun kala itu, dan baginya, kenyamanan adalah ketika dia bisa bebas dari ancaman pemukulan oleh Kangin, tidak peduli jika itu harus dibayar dengan tidur dalam lorong bau dan hanya beralas kardus bekas.

***

Kalau bisa memilih, Donghae pasti ingin memiliki hidup yang normal, bersama orang tua dan saudara yang akan selalu melindunginya. Kalau bisa memilih, saat ini dia pasti sedang berada di sekolah layaknya anak-anak lain seusianya, belajar dari guru-guru yang menyayanginya, bermain bersama teman-teman yang baik kepadanya. Dia ingin bisa bebas bemain bola, tanpa takut bajunya kotor dan kena pukulan rotan dari penjaga panti. Dia ingin bisa mengunjungi tempat-tempat indah seperti yang pernah dilihatnya di halaman kalender yang terpasang di ruang kerja pengurus panti. Dia ingin mempunyai teman-teman yang menyenangkan, yang akan bertukar cerita dan candaan bersamanya.

Tapi takdir tidak pernah membiarkan Donghae memilih. Karena seandainya bisa, dia pasti tidak akan terlahir dan tumbuh besar di panti asuhan tanpa tahu siapa keluarganya. Dia pasti tidak akan terperangkap dalam tubuh tak berdaya yang selalu menjadi sasaran empuk pemukulan orang-orang yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Dia juga pasti tidak akan bersusah payah mengusung tumpukan koran di tengah padatnya keramaian stasiun kereta api bawah tanah dan menawarkannya kepada orang-orang yang melintas.

“Koran, Tuan,” ujarnya kepada seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat. Dengan langkah terseok-seok, dia mencoba mengejar calon pembelinya itu. Ketika langkah mereka sudah sejajar, dia mengambil sebuah koran yang terlipat rapi dan menyodorkannya kepada pria itu. “Berita hari ini sangat heboh,” Donghae menambahkan. Wajahnya dibuat semeyakinkan mungkin. “Seorang pengusaha terkenal ditemukan tewas di kediaman istri simpanannya!”

Pria itu menghentikan langkah dan menatap Donghae dengan pandangan tidak bersahabat. “Apa menurutmu aku terlihat seperti seorang penggemar gosip murahan?” bentaknya sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju gerbong kereta.

Donghae menghela napas panjang. Matahari di luar sana pasti sudah meninggi, sementara korannya masih belum terjual satu pun. Kalau keadaannya terus seperti ini, bosnya bisa marah besar seperti kemarin. Lebih parah lagi, pria tua yang sudah kehilangan sebagian besar rambutnya itu bisa benar-benar memecat dirinya. Donghae tidak ingin hal itu terjadi. Meski uang yang diperolehnya dari berjualan koran tidaklah banyak, tapi setidaknya dengan berjualan dia bisa punya alasan untuk meninggalkan panti setiap hari. Apalagi kalau semua korannya sampai habis terjual, dia bisa punya uang lebih untuk ditabung. Dengan uang itu, dia bisa mengontrak sepetak kamar di dekat stasiun. Dia bisa benar-benar meninggalkan panti.

Pemikiran itu membuat Donghae kembali bersemangat menjajakan korannya. Kepada seorang gadis muda yang memakai setelan resmi, dia menyodorkan korannya dan berkata, “Koran, Nona? Indeks saham pagi ini menguat! Beritanya dibahas lebih detail di halaman sebelas koran ini.”

Donghae sebenarnya tidak tahu apa-apa soal apa yang baru saja dia bicarakan. Istilah itu pernah sekilas didengarnya dari tiga orang pegawai kantoran yang kebetulan melintas. Dia ingat betul bagaimana seriusnya ekspresi ketiga orang itu saat membahas perihal saham, maka dia pun menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah hal penting yang akan menarik minat para pegawai kantoran, termasuk noona yang sedang berdiri di depannya ini.

Gadis muda yang ditawarinya koran pun sepertinya menyadari hal itu. Tapi alih-alih membentak Donghae atas sikap sok tahunya, dia malah mengulas sebuah senyum yang sangat manis dan mengambil koran itu dari genggaman Donghae.

“Berapa harganya?”

Donghae menyebutkan sebuah harga yang sedikit lebih murah dibanding yang biasanya dia berikan kepada calon pembeli lain. Baginya, senyum manis yang tadi diberikan gadis di depannya sudah lebih dari cukup untuk menebus semua koran yang dia bawa. Kalau saja dia tidak ingat bahwa bosnya akan memintainya uang setoran sore nanti, dia pasti akan memberikan koran itu secara cuma-cuma kepada gadis di depannya.

Gadis itu tersenyum sekali lagi. Dia merogoh tas, mengambil dompet dari dalam sana, kemudian mengeluarkan selembar uang kertas berwarna hijau terang dengan gambar Raja Sejong di atasnya. “Kembaliannya untukmu,” ujarnya sebelum beranjak meninggalkan Donghae yang hanya bisa memandang uang itu dengan tatapan takjub.

Seumur hidupnya, baru sekali itu Donghae memegang uang yang nilainya begitu besar. Biasanya dia hanya mengantongi uang receh atau lembaran seribu won yang sudah lusuh. Itu pun bukan miliknya. Uang itu hanya akan mampir di tangannya sampai matahari terbenam. Setelah itu, uang tersebut akan berpindah tangan kepada bosnya.

Donghae menatap uang itu sekali lagi. Masih baru dan kaku, tanpa bekas lipatan sedikit pun. Tanpa sadar dia pun membaui uang itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Dalam hati dia mulai berhitung, kalau setiap hari dia seberuntung ini, berapa lama lagi dia harus bekerja hingga bisa membeli sebuah kebun anggur?

“Wah, kau sedang kaya, rupanya!”

Suara itu menghentak Donghae dari angan-angannya yang siap melambung. Pemuda itu membuka mata, hanya untuk mendapati seorang pria bertubuh gempal sedang tersenyum licik kepadanya. Tanpa peringatan, dia merebut uang itu dari genggaman Donghae.

“Ini milikku sekarang.”

Donghae ingin merebut uang itu dan cepat-cepat lari, tapi dengan setumpuk koran di tangannya, dia tahu tidak akan bisa kabur cukup jauh. Dia juga tidak ingin dipukuli lagi. Bekas lukanya tempo hari masih belum sepenuhnya hilang. Pada akhirnya, Donghae hanya bisa mengiba, meski dalam hati tahu usahanya tidak akan berhasil.

Hyung, uang itu bukan milikku. Aku harus menyetorkannya kepada bosku.”

Pria yang dipanggil Donghae dengan sebutan hyung itu menyeringai, tampak sama sekali tidak acuh. “Menurutmu aku peduli?”

Hyung….”

Pria berbadan besar itu berdecak emosi. Matanya melotot tajam, sedangkan tangannya sudah berada di kerah baju kaos longgar yang dikenakan Donghae, menariknya hingga sang pemilik tercekik. “Sekali lagi kau merengek seperti itu kepadaku, bisa kupastikan wajahmu akan kembali babak belur seperti tempo hari. Kau mengerti?”

Takut-takut, Donghae menganggukkan kepalanya.

“Baguslah kalau kau mengerti. Dan ini,” pria itu menjeda kalimatnya demi melemparkan sesuatu kepada Donghae. Dengan satu tangannya yang tidak memegang koran, pria yang lebih muda itu dengan sigap menangkap bungkusan yang dilemparkan kepadanya. Donghae menatap benda di tangannya dengan seksama, diam-diam mulai berusaha menebak apa sebenarnya yang berada di balik kertas tebal berwarna cokelat pudar itu. “Simpan benda itu baik-baik. Nanti siang aku akan mengambilnya.”

Sekali lagi, Donghae hanya bisa mengangguk patuh.

Lawan bicaranya terlihat sudah akan beranjak meninggalkan Donghae ketika dia tiba-tiba mengurungkan niatnya. Menatap tajam, dia memberi peringatan, “Jangan coba-coba membuka bungkusan itu. Kalau sampai nanti aku mendapati ada sedikit saja yang berubah dari bungkusan itu, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi padamu.”

Usianya tiga belas tahun kala itu, dan di usia segitu, Donghae tumbuh menjadi seorang anak yang patuh. Tidak sekalipun tangannya bergerak melepas kertas yang membungkus kotak titipan Shindong, meski pada kenyataannya dia tidak bisa menampik rasa penasaran akan benda yang menimbulkan bunyi kelontang setiap dia mengguncang kotak itu. Seandainya saja dia lancang membuka kotak itu, setidaknya dia akan tahu kenapa beberapa jam setelahnya, dua orang pria mendatanginya dan memukuli tubuh kurusnya hingga ia nyaris mati.

***

Donghae memandang ngeri sosok tinggi besar di depannya. Wajah remaja tiga belas tahun itu sudah lebam di sana-sini akibat pukulan yang diterimanya dari sosok tinggi besar itu. Di beberapa bagian, kulitnya sobek hingga mengeluarkan darah segar yang kemudian menetes, jatuh mengotori baju kausnya yang longgar dan lusuh. Kaki dan tangannya terikat kuat ke kursi kayu di mana tadi dia didudukkan dengan paksa. Jantungnya masih saja berdebar kencang setelah tadi pria berperawakan keras yang duduk di depannya itu menodongkan pisau ke lehernya. Donghae masih bisa mengingat rasa dingin yang melingkupi tubuhnya ketika ujung tajam benda itu menempel di kulitnya. Sedikit saja tekanan diberikan pria di depannya kepada pisau di tangannya, Donghae yakin benda itu akan langsung membuat uratnya putus dan nyawanya pun akan melayang tidak lama kemudian.

Pemuda itu sedang menimbang, apakah harus berterima kasih kepada pria lain yang juga berada di ruangan sama dengannya saat itu. Berbeda dengan pria yang tadi menodongkan pisau ke arah Donghae, pria yang satu ini berkulit bersih dan berbadan kecil. Tubuh kurus dan gaya berpakaiannya yang sedikit rapi membuatnya terlihat jauh lebih bersahabat di mata Donghae. Pria itu jugalah yang tadi sudah berbaik hati mengingatkan rekannya untuk tidak terbawa emosi. Kita tidak akan mendapatkan informasi apa-apa kalau anak ini meninggal, katanya.

Donghae tidak paham informasi apa yang dimaksud kedua orang itu. Sudah sejak tadi mereka menanyainya dengan satu pertanyaan yang sama: di mana bosmu?

Bos apa? Donghae tidak mengerti. Satu-satunya orang yang dia panggil dengan sebutan bos selama ini adalah pria tua berambut kelabu yang koran-korannya harus dia jajakan setiap hari di sekitar stasiun. Tapi rupanya, bukan bos itu yang orang-orang ini maksudkan. Karena jika memang benar, maka mereka tidak usah capek-capek bertanya. Bukankah mereka menyeret Donghae dan membawanya ke gudang kosong ini justru setelah pemuda itu keluar dari rumah bosnya selesai menyerahkan uang setoran korannya hari ini?

“Kau diberi makan apa olehnya, huh?” Pria berperawakan keras itu bertanya lagi, kali ini sambil menggebrak meja untuk yang kesekian kali sejak dua jam terakhir. “Bisa-bisanya kau lebih memilih dipukuli seperti ini hanya demi merahasiakan tempat persembunyiannya!”

“Aku benar-benar tidak mengerti yang Anda maksudkan, Ahjussi.”

Pria berperawakan keras itu menghela napas frustasi. Dia meraih sebuah kursi kayu yang sejak tadi dia duduki dan langsung membantingnya dengan kasar, menyebabkan salah satu kaki kursi itu patah.

“Pria pemilik heroin itu, Bajingan! Di mana dia? Berhenti berpura-pura bodoh!”

Pria berbadan kecil mendekati rekannya dan menepuk pelan bahu pria itu, mengisyaratkannya untuk mundur. Dia melangkah ke arah Donghae yang saat itu sedang gemetar karena ketakutan. Dalam-dalam, dia mengisap rokok yang baru saja dinyalakannya sekitar semenit lalu, kemudian mengembuskan napas panjang, membuat asap tebal beraroma nikotin memenuhi udara di sekitarnya. Dia membungkuk untuk menyetarakan pandangan dengan remaja yang terikat tak berdaya di hadapannya kemudian bertanya dengan dingin, “Kau benar-benar tidak mau memberitahu kami di mana bosmu?”

Donghae hanya bisa diam. Pertanyaan itu lagi. Harus berapa kali dia menegaskan bahwa dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka maksud.

“Kau pikir kami akan percaya kalau kau terus bilang tidak tahu?”

Ditanyai seperti itu membuat Donghae merinding. Nada berbicara pria kurus bermata cekung itu nyaris datar, tapi entah kenapa Donghae justru merasa jauh lebih ketakutan dibanding sebelumnya. Sepertinya dia harus menarik kembali gagasannya tadi. Ahjussi berbadan kecil ini ternyata bisa jauh lebih mengerikan dibanding rekannya yang bertubuh tinggi besar.

“Sudahlah,” si badan besar kembali bersuara, nadanya tidak sabar. “Kita bunuh saja dia. Sejak tadi aku sudah geram karena tingkahnya. Dia juga sepertinya terlalu setia kepada bosnya.”

Demi menanggapi perkataan rekannya, pria berbadan kecil itu menyunggingkan sebuah seringai tipis yang berhasil membuat bulu kuduk Donghae meremang. Ketika dia sudah kembali memusatkan pandangannya kepada Donghae, pria itu berkata, “Kau mendengar apa yang baru saja dikatakan temanku, bukan? Kalau kau masih tidak berniat membuka mulut, aku khawatir kali ini tidak akan bisa membujuknya untuk tidak menggunakan pisaunya. Dan kalau itu sampai terjadi, kujamin kau benar-benar tidak akan bisa menggunakan mulutmu lagi.”

Donghae tidak tahu perkataan itu ditujukan sebagai bujukan atau ancaman. Yang dia tahu, saat itu air matanya sudah mulai luruh. Sering kali menjadi pelampiasan kemarahan Kangin dan Shindong membuatnya kadang berpikir bahwa kematian akan datang kepadanya akibat rusuk yang patah atau organ yang rusak karena dipukuli terlalu keras. Dia pikir dia akan siap ketika saat itu akhirnya tiba. Kematian, maksudnya. Tapi ternyata anak itu salah. Terpikir atau tidak, bayangan bahwa dia akan segera menjadi mayat tetap saja memberinya ketakutan yang jauh lebih besar dibanding yang selama ini akrab dengannya.

“Aku benar-benar tidak paham apa yang kalian bicarakan. Tolong lepaskan aku,” pintanya.

Si badan kecil hanya menjawab permintaan itu dengan tawa mengejek. Dia kembali menghisap rokok yang sebelumnya terkepit di antara dua jari tangan kanannya, menghidupkan nyala api di ujung benda itu setelah tadi sempat redup. Ada bunyi halus yang terdengar ketika api di ujung rokok itu pelan-pelan membakar tembakau di dalamnya.

“Menurutmu apa yang akan terjadi kalau aku menempelkan ujung rokok ini ke wajahmu?” Si pria berbadan kecil berkata lagi. Asap penuh racun lagi-lagi berhembus dari mulutnya ketika dia berbicara, membuat Donghae terbatuk-batuk.

“Yang jelas ini tidak akan sesakit tertusuk pisau. Benar, kan?”

Sebuah kengerian baru  timbul di benak Donghae akibat kata-kata yang baru saja didengarnya. Kengerian itu bertambah ketika si pria berbadan kecil menyibak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, mengusap keningnya, kemudian membebaskan rokok yang terkepit di antara kedua bibirnya, mengangkat benda itu ke depan wajah Donghae. Dalam hati dia berharap pria kurus ini tidak terpikir untuk menempelkan ujung rokok yang menyala itu ke kulitnya. Sudah cukup luka lebam yang didapatinya kali ini. Dia tidak ingin penderitaannya bertambah karena kening yang melepuh akibat terkena api.

“Kau tahu, Nak, aku selalu meninggalkan tanda pada hal-hal yang kusukai,” ujarnya sembari mempermainkan rokoknya di depan wajah Donghae. “Dan kau tahu berita baiknya? Kesetiaanmu pada bosmu membuatku menyukaimu.”

Pria berbadan kecil itu masih sempat mengucapkan satu kalimat lagi, kalimat yang sudah tidak lagi bisa terdengar dengan jelas karena tenggelam akibat teriakan Donghae.

Otak pemuda tiga belas tahun itu berputar cepat, berusaha mencari kata-kata yang sekiranya bisa menghentikan pria di depannya kembali menempelkan ujung rokok di wajahnya. Dia bukannya bangga pada wajah itu. Dia tidak akan pernah terlihat tampan karena akan selalu ada bekas pukulan yang senantiasa hadir di sana. Tapi Donghae tidak ingin menambah buruk wajahnya karena bekas  rokok.

Dia masih belum paham apa hubungan antara dirinya dengan heroin dan seorang bos yang sedang dicari dua pria mengerikan di depannya ini, tapi dia harus mengatakan sesuatu. Sebuah alamat. Ya, dua orang itu menanyakan tempat tinggal seseorang kepadanya. Dan selama bertahun-tahun, hanya ada satu alamat yang dihapalnya di luar kepala. Takut-takut, dia menyebutkan alamat panti asuhan tempatnya tinggal selama ini.

Donghae baru bisa menghela sebuah napas lega saat melihat pria di depannya langsung membuang puntung rokoknya ke lantai yang kotor setelah menghisap benda itu beberapa kali lagi.

Pria bertubuh kecil itu menepuk pundak Donghae, persis seperti yang dia lakukan kepada rekannya beberapa saat lalu. Dengan senyum terulas di sudut-sudut bibirnya, dia berkata, “Aku tahu kau bisa diajak bekerja sama.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia bangkit dan berjalan lurus menuju pintu yang terletak tidak begitu jauh dari tempat mereka berada saat itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Rekannya mengekor, meski dari tatapannya terlihat sekali kalau dia belum puas melampiaskan amarahnya kepada Donghae.

Ahjussi, apa kalian akan meninggalkanku seperti ini?” tanya Donghae yang saat itu masih terikat di kursi. Suaranya bergetar.

Donghae sebenarnya takut mengatakan itu, tapi jika tidak memberanikan diri bersuara, dia tidak  bisa menjamin akan ada orang yang bisa segera datang dan melepaskan ikatan di tubuhnya. Saat melihat pria bertubuh kecil itu menghentikan langkah, harapannya timbul. Mungkin dia memang tidaklah terlalu jahat. Mungkin hanya suara dan sikapnya saja yang dingin. Mungkin di dalam hatinya, dia masih punya sedikit belas kasihan. Lagipula, bukankah Donghae sudah memberikan apa yang mereka inginkan? Tentu saja, alamat yang diberikannya tadi adalah alamat yang salah, tapi orang-orang itu tidak tahu kalau dia berbohong, bukan?

“Apa yang kau lakukan?” pria berbadan kecil menoleh ke samping, mendapati rekannya sedang menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Kau ingin aku melepaskan ikatannya?” si badan besar bertanya tidak yakin.

Pria berbadan kecil itu menghela napas dan sengaja mengembuskannya keras-keras agar lawan bicaranya sadar betapa bodoh pertanyaannya barusan. “Bukankah kita tidak boleh meninggalkan jejak? Habisi anak itu!”

Mendengar perintah itu, si badan besar langsung menyeringai puas, berbanding terbalik dengan Donghae yang wajahnya langsung pias melihat pria di depannya merogoh saku jas dan mengeluarkan pistol dari dalam sana.

Usianya tiga belas kala itu. Dan di usia itu, Donghae harus menerima kenyataan bahwa selongsong peluru ditembakkan kepadanya karena alasan yang sama sekali tidak dia pahami.

***

Heechul mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi, berniat meregangkan tubuhnya yang beberapa jam belakangan hanya duduk kaku demi meracik obat yang rencananya akan dia berikan kepada Hyukjae yang sebentar lagi berulang tahun. Hubungannya dengan pria bermata kecil itu memang tidak pernah akur selama ini, tapi setiap kali dia tidak ada pekerjaan, keinginan memberi hadiah kecil untuk Hyukjae selalu bisa memberinya kesibukan yang menyenangkan.

Meninggalkan tiga buah tabung reaksi berisi cairan merah kelam di atas mejanya, pria itu melangkahkan kaki menuju sebuah meja lain di sudut ruangan, di mana dia menyimpan dua ekor tikus kecil dalam kotak kaca berukuran sedang. Heechul mengambil salah satu dari tikus-tikus itu, menyempatkan diri menyapanya dengan manis, kemudian membawa makhluk putih itu ke meja yang tadi ditinggalkannya.

Ada seulas senyum jenaka yang terbit di sudut-sudut bibirnya melihat tikus yang dia pegang mendadak bertindak hiperaktif setelah disuntik cairan yang baru selesai dibuatnya itu. Senyumnya kemudian berubah menjadi tawa penuh kemengangan ketika dia mengembalikan tikus itu ke asalnya dan langsung menyerang tikus betina yang ada di dalam wadah kaca berbentuk persegi itu. Heechul membayangkan, bagaimana cairan yang sama akan bereaksi jika diberikan kepada Hyukjae. Yang jelas, Heechul pikir, pria yang lebih muda itu pasti akan berterima kasih kepadanya.

Setelah lima belas menit berlalu dan kedua tikus peliharaannya juga sudah tampak kehabisan tenaga pasca bereproduksi, rasa bosan kembali menyerang Heechul. Dia lalu melangkah menuju sisi lain ruang kerjanya, di mana terdapat seperangkat home theater dan satu set sofa berwarna putih.

Heechul menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang yang terlihat empuk itu, duduk malas di sana sambil membuka sebuah aplikasi game di telepon genggamnya ketika terdengar suara pintu ruangannya terbuka. Pria 34 tahun itu langsung mengalihkan pandangan dari layar lima inch yang sempat menyita fokusnya ke arah pintu masuk, di mana seseorang berwajah familiar sedang bersandar sok keren sambil memamerkan senyum mengejek kepadanya. Tamunya itu kemudian melangkah menuju sofa panjang di mana Heechul berada dan ikut duduk di sana tanpa dipersilakan.

“Kau tampak kacau,” komentar Heechul. Dia menatap tajam ke arah tamunya dengan kedua tangan disedekapkan di depan dada. Di wajahnya tampak ekspresi jijik yang terlalu dibuat-buat.

Menanggapi tindakan Heechul, tamunya hanya terkekeh pelan sambil meraba rahang dan bagian atas bibirnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus yang belum sempat dicukur selama beberapa bulan terakhir. “Bos bilang aku terlihat lebih dewasa dengan penampilan seperti ini,” ujarnya membela diri, teringat kembali akan pujian yang diberikan atasannya saat dia menyerahkan laporan kegiatannya beberapa saat lalu.

“Sejak kapan kita sepakat bahwa selera bos kita itu bisa dijadikan patokan? Seperti kau tidak tahu saja gaya berpakaiannya yang lebih mirip koboi tahun 70-an itu.”

“Hyukjae juga bilang aku keren, kok.”

Mendengar nama itu, Heechul mengangkat alis. “Kau menemui bocah ber-eyeliner tebal itu sebelum menemui aku terlebih dulu? Benar-benar keterlaluan!”

Lawan bicara Heechul hanya terkekeh pelan melihat ekspresi kekanakan dari pria yang tiga tahun lebih tua darinya itu. “Kami berpapasan di elevator saat aku mau ke sini,” beritahunya.

Heechul mengerucutkan bibir, sedikit salah tingkah karena telah merajuk untuk alasan yang tidak terlalu penting. Membawa kembali pembicaraan mereka sebelumnya, dia berujar, “Sudah berapa lama kau tidak bercukur?”

“Aku tidak menghitungnya.”

“Mengerikan.”

“Kupikir, setelah sekian lama kita tidak bertemu, kau akan menyambutku dengan pertanyaan yang sedikit lebih bersahabat dibanding urusan rambut di wajah. Ternyata aku menaruh ekspektasiku terlalu tinggi,” tamu Heechul sekali lagi berujar, meninggalkan pembahasan mengenai penampilannya yang diakuinya sekilas memang terlihat mirip gelandangan.

Heechul bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah meja kayu besar yang terletak di dekat jendela. Dia menarik salah satu laci di bagian kanan atas benda itu dan mengeluarkan sebungkus peralatan cukur dari sana. Setelah melemparkan benda itu kepada tamunya yang masih duduk nyaman di atas sofa, dia berujar memerintah, “Bersihkan wajahmu. Aku mau keluar sebentar. Pastikan wajahmu sudah tidak seperti ini ketika aku kembali nanti.”

Pria di depan Heechul tertawa renyah mendengar perintah dari orang yang biasanya dia sapa dengan sebutan hyung itu. Dia mengamati sosok kurus yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak hijau dan celana bahan berwarna senada berjalan meninggalkan ruangan, kemudian ikut berdiri dan berjalan menuju toilet yang terletak tidak jauh dari sana untuk merapikan penampilannya.

***

Heechul kembali ke ruangan kerjanya dengan tangan menenteng sebuah kantung plastik besar berwarna putih bertuliskan nama sebuah toko roti terkenal dan mendapati bahwa tamunya sedang berbaring santai di atas sofa sambil memencet-mencet remote televisi, entah mencari siaran apa. Pria berwajah cantik itu mendekat, menaruh kantung yang tadi dipegangnya ke atas meja, merampas remote yang dipegang oleh tamunya, kemudian tanpa tanggung-tanggung memukulkan benda berbentuk persegi panjang itu ke kepala pria yang kini sudah mencukur habis rambut halus di wajahnya.

“Ya, Lee Donghae, harus berapa kali kuperingatkan, kau dan tangan perusakmu itu harus menjauh dari televisi kesayanganku!”

Donghae mengubah posisinya dan duduk bersandar di sofa sambil bersungut-sungut tanpa suara. Tangannya bergerak mengelus ubun-ubunnya yang baru saja dipukul oleh Heechul. Dia bukannya mengharapkan perubahan drastis dalam sikap hyung-nya itu. Di atas segalanya, dia memang hanya pergi selama beberapa bulan. Bahkan setelah saling mengenal selama bertahun-tahun sekalipun, sikap pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu tetap saja tidak berubah, jadi dia sadar memang tidak seharusnya berharap banyak. Tapi setidaknya, setelah cukup lama tidak saling bertukar kabar, bukankah seharusnya dia sedikit dimanjakan dengan diizinkan memegang kendali remote televisi?

Hyung, kau benar-benar tidak ingin berlaku sedikit istimewa kepadaku yang baru saja memenangkan pertaruhan nyawa melawan tim pengawalan terbaik  di China? Aku bisa saja mati, kau tahu?”

“Kau selalu berada di status hampir-mati setiap kali menjalankan misi. Tidak usah berlagak seperti itu,” sahut Heechul tak peduli.

Cuek, dia menjatuhkan tubuh kurusnya ke atas sofa, tepat di samping Donghae. Pria yang lebih tua itu mengangkat kakinya ke atas meja, menyilangkan kedua tungkai panjangnya sementara tubuhnya dia pasrahkan ke sandaran sofa. Dengan tangan kanan memegang remote televisi, dia mengganti siaran, membuat layar lebar di depan mereka menampilkan sebuah serial komedi.

Tidak butuh waktu lama bagi Heechul untuk memahami jalan cerita dari serial yang ditontonnya itu, hingga ketika si pemeran utama melontarkan kelakarnya, Heechul juga ikut tertawa, meninggalkan Donghae yang mendadak benar-benar merasa tidak diacuhkan oleh hyung-nya itu.

“Sepertinya sia-sia saja aku pulang. Kau bahkan sama sekali tidak peduli padaku.”

Heechul mengembuskan napas panjang sebelum membungkuk untuk meraih kantung plastik yang tadi diletakkannya di atas meja. Tanpa berkata apa-apa, dia melemparkan kantung itu ke atas pangkuan Donghae.

“Ini apa?”

“Sogokan agar kau berhenti merengek,” jawab Heechul sebelum kembali mengalihkan pandangan pada layar televisi.

Sebenarnya, dengan hanya melihat tulisan di kantung itu pun, Donghae sudah bisa menebak isi plastik putih itu apa. Tapi tanpa bisa ditahan, tangannya bergerak mengeluarkan dus berukuran sedang yang ada di dalamnya. Dengan bersemangat, dia membuka dus itu.  Tiga potong roti bulat berwarna hijau yang dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti boneka yang sedang menganga lebar tampak di sana.

“Ini—” pria itu tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

Masih dengan tatapan lekat pada layar lebar di depannya, Heechul menjelaskan, “Aku tidak tahu apakah bentuknya persis seperti roti yang dulu kau inginkan. Beberapa waktu lalu aku teringat ceritamu tentang roti itu dan memesannya ke toko yang ada di dekat sini. Anggap saja itu sebagai sambutan untukmu.”

Tanpa bisa dikendalikan, air sudah menggenang di pelupuk mata Donghae. Pria itu memang gampang sekali terharu. Tapi kali ini, rasa haru datang kepadanya dalam kadar yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya.

Sudah hampir dua puluh tahun berlalu sejak dia menceritakan kisahnya dan roti pandan itu kepada pria di sampingnya. Donghae sama sekali tidak menyangka bahwa dulu Heechul menyimak ceritanya dengan begitu seksama dan bahkan masih mengingat detail roti yang disebutkannya dengan baik.

Hyung….”

“Makanlah,” perintah Heechul. “Dan simpan rasa terharumu yang tidak penting itu.”

Donghae terkekeh pelan mendengar perintah bernada galak itu, kemudian mengambil satu dari tiga roti berbentuk lucu di depannya dan mengunyahnya dengan pelan. Seiring dengan itu, serangkaian kenangan kembali menghampirinya.

***

Donghae mengerjapkan matanya berulang kali sampai akhirnya terbiasa dengan cahaya terang dan hangat yang merambat di dalam ruangan yang ditempatinya. Seseorang pasti telah memindahkannya ke sini, karena seingatnya, sebelum menutup mata, dia sedang berada di dalam gudang yang gelap dan dingin, dengan luka tembak di bahu sebelah kiri.

Pemuda itu menolehkan kepalanya demi mencari tahu di mana dia berada. Sejenak, dia berpikir sudah berada di surga. Memangnya apalagi penjelasan atas ranjang empuk di dalam kamar tidur indah dengan desain mewah yang selama ini hanya bisa dilihatnya di televisi? Dia mengenyahkan pemikiran itu tidak lama kemudian, saat dia berusaha bangkit untuk meraih segelas air minum di atas meja kayu kecil di sisi ranjang dan sekujur tubuhnya langsung diserang rasa nyeri yang seperti tidak akan ada habisnya. Kalau dia benar berada di surga, maka dia harus terlebih dulu mati. Tapi jika dia memang sudah mati, bukankah seharusnya rasa sakitnya kini sudah menghilang?

Donghae melawan rasa nyeri itu karena tenggorokannya yang benar-benar minta dialiri air. Menumpukan tubuh di lengan kanannya yang tidak terluka terlalu parah, dia berusaha bangkit dari posisinya yang semula terbaring. Pikirnya, dengan duduk dia bisa bergerak lebih leluasa dan tentu tangannya bisa pula menjangkau lebih jauh. Tapi ketika dia sudah berhasil mendudukkan tubuh remuknya, dia tahu pemikirannya itu salah. Rasa nyeri datang lagi, kali ini merayapi tubuhnya dengan dosis lebih banyak daripada sebelumnya. Tak tahan menghadapi siksaan itu, tubuhnya jatuh lagi ke kasur. Donghae hanya bisa menatap gelas bening berisi air yang diidamkannya itu sementara desakitan menderanya.

Seorang pria memasuki ruangan tempat Donghae berada tidak lama kemudian. Tubuhnya yang menjulang tinggi dibalut kaus hitam polos dan celana jeans berwarna serupa. Untuk mempertegas kesan maskulinnya, dia juga mengenakan jaket kulit berwarna cokelat gelap serta kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Pria itu setengah berlari menghampiri Donghae yang meringkuk di atas kasur sambil meringis kesakitan. Dengan telaten, dia membantu pemuda itu agar bisa berbaring seperti semula.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya dalam Bahasa Korea yang terdengar aneh.

Donghae menggeleng pelan. Dia memperhatikan pria di dekatnya menanggapi gelengan itu dengan sebuah anggukan paham yang disertai senyum tipis.

Pria yang lebih tua itu kemudian menarik sebuah kursi kayu ke dekat ranjang tempat Donghae berbaring. Dia duduk di sana kemudian melepaskan kacamata yang dia kenakan, mengaitkan satu gagangnya di kerah baju. Sebuah senyum ramah terbit lagi di wajahnya yang bergaris kaukasia. Matanya yang besar menyipit saat tersenyum, tapi Donghae masih bisa melihat bahwa bola mata pria itu berbeda dengannya. Warnanya biru pucat, dan itu seolah menjelaskan kenapa Bahasa Korea-nya tadi terdengar berbeda.

“Minum,” Donghae berujar pelan.

Tanpa berkata apa-apa, pria tinggi itu sigap meraih gelas yang terletak tidak jauh darinya dan membantu Donghae untuk meminum isi gelas tersebut.

“Kau masih mau?” pria itu bertanya lagi setelah melihat Donghae dengan cepat menandaskan air yang dia berikan.

Untuk kedua kalinya Donghae menggeleng.

“Tubuhmu masih sakit?”

“Sedikit.”

“Kalau begitu lanjutkan istirahatmu. Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja.”

Setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh Donghae, pria asing itu bangkit dari duduknya. Dia sudah melangkah sampai di dekat pintu ketika terdengar Donghae memanggilnya dengan ragu-ragu. Pria itu menoleh, dengan sigap menghapiri Donghae dan menatap anak itu dengan sorot khawatir tergambar jelas di matanya. “Kenapa? Apa kau kesakitan lagi?” tanyanya.

Diperhatikan seperti itu membuat Donghae merinding. Selama ini tidak pernah ada orang yang mempedulikan keadaannya seperti pria di depannya ini. Sebuah tawa akhirnya lolos dari bibir anak itu. Tawanya memang membuat nyeri di tubuhnya sedikit lebih parah, tapi Donghae tidak keberatan. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kini dia rasakan.

“Aku tidak apa-apa.”

Pria itu mengerutkan kening. “Lalu, kenapa kau memanggilku?”

“Untuk mengucapkan terima kasih.”

Sorot mata pria itu berubah lembut, sesuatu yang baru Donghae ketahui alasannya belasan tahun kemudian. Saat itu, Donghae hanya tahu bahwa Tuhan mungkin sudah bosan menyiksanya sehingga Dia mengirim seorang asing yang baik hati kepadanya.

Pria itu menepuk pelan pucuk kepala Donghae. Di bibirnya, senyum menyenangkan itu hadir lagi.

“Beristirahatlah.”

***

Butuh waktu tiga minggu bagi Donghae untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya. Rasa sakit yang menggelayuti otot-ototnya perlahan menghilang. Bahu kirinya yang sempat dihinggapi peluru sudah bisa dia gunakan dengan normal. Memar-memar yang nampak di kulitnya juga sudah nyaris tidak terlihat lagi. Hanya saja, bekas sungutan rokok di keningnya masih menolak untuk pergi.

“Kita bisa ke dokter untuk menghilangkannya.” Pria bermata biru yang selama tiga minggu ini telaten merawatnya pernah berkata di satu kesempatan.

Donghae tidak terlalu setuju dengan ide itu. Dia mungkin tidak bisa menyebutkan dengan pasti nominal yang harus dikeluarkan untuk membayar dokter, tapi dia tahu bahwa itu akan sangat mahal. Dia pernah sekilas membaca salah satu artikel di koran yang dijajakannya dan langsung tahu bahwa menghilangkan bekas luka bakar, terutama di wajah, butuh uang yang tidak sedikit.

Dia sudah sangat senang atas kebaikan pria asing yang belum juga dia ketahui namanya itu. Pria itu sudah memperlakukannya dengan begitu baik selama dia berada di tempat ini. Dia memberinya tempat bernaung yang nyaman, makanan yang enak, pakaian yang bersih dan wangi, dan di beberapa waktu tertentu menemaninya mengobrol hingga larut malam. Dengan segala macam perhatian seperti itu, Donghae merasa keterlaluan jika dia merepotkan pria itu lebih banyak lagi, apalagi hanya karena bekas luka bakar di wajahnya.

Donghae berkeliling rumah besar yang sudah ditinggalinya sejak tiga minggu terakhir. Dia memang sering melakukan itu setiap bangun tidur. Pria pemilik rumah itu yang memintanya melakukan hal demikian. Untuk melatih otot-ototnya agar tidak kaku, katanya.

Rumah itu kosong. Donghae tidak tahu ke mana pria baik hati yang setiap pagi selalu menyambutnya dengan senyum menyenangkan itu. Biasanya, setiap dia keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di pekarangan rumah, pria sudah duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi hangat dan koran pagi. Hari itu, Donghae tidak mendapatinya di mana pun. Sempat terlintas di benaknya bahwa pria itu sedang bekerja, tapi ide itu dibantahnya tidak lama kemudian. Pria itu tidak pernah terlihat meninggalkan rumah lebih dari dua jam. Meski Donghae tidak pernah menanyakannya langsung, dia berani  menyimpulkan bahwa pria yang sudah menolongnya itu bukan jenis orang yang menghabiskan sepertiga waktunya dalam sehari untuk bekerja di kantor.

Bosan, Donghae meraih satu dari setumpuk koran yang tergeletak begitu saja di bawah meja di teras rumah. Anak itu memperhatikan, pria penolongnya punya kebiasaan menumpuk semua bacaannya di bawah meja sebelum akhirnya membuang kertas-kertas tersebut di tempat sampah saat akhir minggu.

Ada beragam berita di halaman depan koran itu, tapi perhatian Donghae tercuri oleh satu tulisan besar yang di bawahnya terdapat foto seseorang yang dia kenal. Itu adalah berita penyergapan markas bos gembong narkoba, dan di bawahnya terdapat foto Shindong yang sudah tak bernyawa.

Donghae bukanlah orang dengan otak yang cerdas. Dia bahkan sama sekali tidak pernah mengecap jenjang pendidikan resmi yang memungkinkannya memperoleh pengetahuan-pengetahuan dasar. Tapi dia cukup peka untuk membaca keadaan, menghubungkan petunjuk yang ada, lalu menarik satu kesimpulan atas pertanyaan yang menggerogoti kepalanya. Setelah membaca artikel di koran itu, semua hal yang menimpanya tiga minggu lalu akhirnya terjelaskan.

Bungkusan yang diberikan Shindong kepadanya di terminal. Dua orang tak dikenal yang tiba-tiba muncul dan memukulinya, bertanya tentang sesuatu yang sama sekali tidak dia pahami. Terakhir, berita yang baru saja disaksikannya. Semua itu membantunya untuk sampai pada satu dugaan kuat tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dan betapa konyol kebetulan-kebetulan yang ada hingga dia harus ikut terseret oleh semua itu.

Donghae membuka koran-koran lain yang terbit hari setelahnya, berharap akan mendapatkan berita lain yang bisa memberinya penjelasan lebih mengenai keterkaitan Shindong dengan bos gembong narkoba itu. Dia tahu pria yang dipanggilnya hyung itu seringkali melakukan hal terlarang demi mendapatkan uang yang kemudian akan digunakannya untuk berjudi, tapi tidak pernah sekali pun muncul di pikirannya bahwa nyawa Shindong akan berakhir karena hal itu.

Berita yang dicari Donghae tidak pernah dia dapatkan karena tidak lama kemudian, pria bermata biru pucat itu datang dan dengan kasar merampas koran dalam genggaman Donghae, seolah berusaha menutupi sesuatu. Untuk pertama kalinya, Donghae ketakutan karena sikap pria itu.

“Jangan membaca ini!” serunya galak.

“Kenapa?”

“Aku tidak ingin kau sedih.”

“Karena Shindong hyung?” Donghae bertanya tak yakin.

Eoh!”  Pria itu menjawab cepat. Terlalu cepat hingga Donghae yakin bukan itulah alasan sebenarnya.

Tapi Donghae bukan orang dengan rasa ingin tahu berlebih. Dia sepenuhnya sadar bahwa tidak ada gunanya juga mendesak pria di depannya untuk memberinya penjelasan. Dia sudah cukup senang dengan keadaannya sekarang. Berusaha menghilangkan ketegangan di antara dirinya dan pria di depannya, Donghae berujar, “Kau dari mana?”

Pria itu, seolah paham dengan apa yang coba dilakukan Donghae, langsung memasang senyum menenangkannya yang seperti biasa. Dia menunjuk kantung roti yang tadi diletakkannya dengan asal di atas meja ruang keluarga. “Membeli sarapan.”

Keduanya lalu beranjak menuju ruang keluarga yang hanya berjarak beberapa langkah dari teras samping tempat mereka berada. Donghae dengan semangat membuka bungkusan itu sementara si pria bermata biru menuju dapur untuk mengambil susu untuk mereka berdua. Dia kembali tidak lama kemudian dengan gelas berisi susu rasa vanilla di tangannya kiri dan secangkir kopi di tangan kanannnya. Dia duduk di kursi di samping Donghae setelah meletakkan gelas dalam genggamannya ke atas meja, dan mendapati Donghae masih diam menatap isi bungkusan yang baru saja dibukanya.

“Kenapa?”

Donghae hanya menggeleng. Matanya masih lekat pada makanan yang tersaji di hadapannya. Dia kenal betul dengan makanan bulat berwarna hijau itu. Tampilannya masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya dipajang di etalase toko. Krim putih yang dioleskan di bagian tengahnya masih tampak menggiurkan. Dua keping cokelat yang ditaruh di bagian atasnya juga masih mampu membuat Donghae berpikir bahwa itu adalah roti dengan bentuk paling lucu yang pernah dia lihat.

“Makanlah. Itu  semua untukmu.”

Bola mata Donghae membulat, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia menoleh kepada pria di sampingnya dan bertanya, “Sungguh? Lalu kau?”

“Aku tidak biasa sarapan.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kanan Donghae langsung meraih makanan itu dan mengunyahnya dengan lahap.

Masih sangat jelas dalam ingatannya, ketika suatu sore, sekembalinya dia dari toko untuk membeli barang titipan penjaga panti, dia melihat seorang anak menjatuhkan makanan yang sama di jalan. Anak itu membiarkannya begitu saja, seolah makanan berbentuk lucu itu sudah tidak lagi layak dimakan hanya karena terkena pasir dan debu dari aspal jalan. Donghae memungutnya. Setelah membuang bagian yang kotor, dia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ketika akhirnya roti itu habis, Donghae hanya bisa berangan-angan untuk bisa mencicipinya lagi.

Donghae masih ingat, beberapa tahun yang lalu, dia menangis sepanjang hari karena uang yang dikumpulkannya dengan susah payah selama berminggu-minggu ternyata jatuh ke dalam saluran air hingga ia gagal mencicipi makanan yang diidamkannya itu. Dia juga masih ingat bagaimana setelahnya, ketika dia sudah kembali punya uang, dia kembali ke toko itu dan lagi-lagi diusir dengan kejam oleh sang pemilik toko hanya karena dia berpakaian kumal.

Pria yang duduk di samping Donghae hanya bisa menatap anak itu menikmati sarapannya dengan pandangan lembut. Pemandangan di depannya adalah hal yang sangat dia rindukan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia melihat seseorang menikmati hal sederhana dengan begitu gembira.

“Enak?”

Donghae menoleh, menatap lawan bicaranya, dan menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya dengan sebuah anggukan antusias. Mulutnya terlalu sibuk mengunyah hingga dia merasa hanya akan membuat pria di depannya kebingungan memahami perkataannya jika dia memaksakan diri berbicara.

Pria bermata biru pucat itu tersenyum menenangkan. Tangannya bergerak ke pucuk kepala Donghae. Tanpa peringatan, dia mengacak pelan rambut halus anak itu dan menyuruhnya untuk tidak terburu-buru mengunyah.

“Aku akan membelikannya lagi untukmu kalau kau suka.”

“Benarkah?”

“Kita bisa membelinya saat perjalanan pulang ke tempat tinggalmu nanti.”

Mendengar kata pulang, senyum Donghae langsung luntur. Makanan yang ada di mulutnya mendadak terasa hambar. Mungkin salahnya juga karena terlalu terlena dengan kehidupannya di tempat ini dan lupa di mana dia sebenarnya berasal.

Perubahan sikap anak itu tidak terlepas dari perhatian pria di sampingnya.

“Kau tidak mau pulang?” dia menebak.

Donghae bukan jenis orang yang banyak bicara. Jika diminta menghitung, dia yakin bisa membilang seberapa banyak kalimat yang diucapkannya dalam sehari. Tapi pagi itu, kepada seorang yang bahkan sama sekali tidak dia ketahui namanya, dia menceritakan semua hal yang dia alami. Perlakuan penjaga panti, pemukulan yang dilakukan Kangin dan Shindong, penghinaan yang diterimanya dari orang-orang, bahkan cita-citanya membeli ssebuah kebun anggur. Inti dari cerita panjang itu hanya satu: dia tidak ingin kembali ke panti.

“Aku tidak bisa terus bersamamu di sini,” kata pria bermata biru itu.

“Bawa aku ke mana saja kau pergi. Aku akan setia kepadamu. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Tapi kumohon, jangan bawa aku kembali ke panti.”

Pria bermata pucat itu tersenyum paham. “Sungguh, kau ingin ikut denganku?”

Usianya tiga belas kala itu, dan untuk pertama kalinya Donghae merasa mendapat kesempatan memilih. Dia tidak butuh waktu lama untuk menggunakan kesempatan itu. Baginya, membuat keputusan apakah harus menerima atau menolak tawaran ahjussi di depannya itu sama sekali bukan perkara sulit. Jawabannya sudah jelas. Tidak ada yang lebih buruk dari tempatnya tinggal saat ini. Meninggalkan panti asuhan itu adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan kepada para penghuninya.

Pemuda itu menatap pria di depannya, kemudian mengangguk yakin.

***

“Berita kematian targetmu sudah sampai beberapa minggu lalu. Kenapa kau baru muncul sekarang?”

Heechul, setelah bosan menggonta-ganti saluran tv dan tidak kunjung menemukan hal yang menarik hatinya, memilih mematikan benda elektronik itu dan mengajak Donghae mengobrol. Dia melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati Donghae berada di dekat salah satu  meja eksperimennya, di mana sepasang tikus putih tergeletak lemas di dalam sebuah kotak kaca. Donghae tampak sedang mengetuk-ngetuk satu sisi kotak itu, berniat mengganggu si tikus jantan.

“Aku heran dua tikus ini bisa bertahan hidup padahal kau menyimpannya dalam ruangan yang sama dengan seekor kucing.”

“Enak saja kau bilang begitu,” seloroh Heechul tak terima. “Kucingku itu makhluk beradab, mana mungkin dia memangsa saudaranya sendiri? Lagi pula, dia selalu kutaruh di dalam kandang.”

“Saudara, katamu?”

Ne. Mereka resmi bersaudara setelah aku memutuskan memelihara dua tikus kecil itu.”

“Kalau keduanya benar peliharaanmu, lalu kenapa makhluk ini terlihat begitu menderita?” Donghae menunjuk-nunjuk si jantan yang perutnya kembang-kempis layaknya orang baru habis lari, sementara si betina juga terkapar di sampingnya dengan keadaan tidak jauh berbeda.

“Mungkin pengaruh obat yang baru kuberikan. Entahlah, aku belum benar-benar menguji efek sampingnya.”

“Obat konyol apa lagi yang kau buat kali ini?”

“Kata siapa obat yang kubuat ini konyol?” seru Heechul. Dengan bangga, dia menambahkan, “Obat ini berguna untuk merangsang mereka agar lebih sering bereproduksi. Bayangkan jika mereka beranak-pinak, aku bisa membantu perusahaan menghemat dana untuk membelikanku tikus percobaan.”

Donghae hanya mendengus mendengar satu lagi kekonyolan hyung-nya itu.

“Tapi ngomong-ngomong,” kata Heechul dengan mata yang menyipit curiga ke arah Donghae. “Apa kau sedang berusaha mengalihkan pembicaraan? Aku bertanya kenapa kau baru kembali dan kau malah sibuk mencari tahu apa yang terjadi dengan tikus peliharaanku?”

Donghae mengalihkan pandangan dari kotak kaca di depannya ke arah Heechul yang masih duduk di sofa. “Detektif yang menangani kasus pembunuhan itu cerdik juga. Dia juga begitu bersemangat ingin menangkapku, karena itulah aku tidak bisa langsung pulang,” jelas Donghae. Pria itu berjalan mendekati Heechul, mengambil posisi duduk di atas sofa yang berukuran lebih kecil, membuat dirinya nyaman, dan menambahkan, “Aku harus kabur ke beberapa negara, mengganti identitasku berkali-kali sebelum akhirnya mereka kehilangan jejakku.”

“Jadi kau tinggal menyusun laporan sebelum akhirnya benar-benar menjadi seorang pria biasa?”

Donghae tersenyum mendengar kata terakhir yang diucapkan Heechul barusan, membuat Heechul merasa ingin sekali mencibirnya.

“Kau terlihat bahagia sekali dengan status barumu.”

“Tapi aku heran,” Donghae berujar dengan nada sok misterius. Nada suaranya sengaja dibuat serendah mungkin. Dia bahkan menyempatkan diri mengubah posisi duduk untuk menegaskan perkataannya. “Beberapa kali, aku merasa mereka bisa mengetahui keberadaanku karena ada kebocoran informasi dari kantor pusat. Kau tahu, setiap kali aku melaporkan posisi terakhirku, tidak lama kemudian detektif itu langsung muncul di hadapanku.”

“Apa karena itu kau tiba-tiba memutus kontak dengan semua orang?”

Donghae mengangguk.

“Meninggalkan status sebagai agen lapangan memang tidak pernah mudah, Dongsaeng-ah. Para petinggi tidak akan begitu saja melepaskan siapa saja yang bisa menguntungkan mereka. Aku rasa karena itu jugalah semua agen yang ingin berhenti sengaja diberi misi berbahaya sebagaii tugas terakhir mereka. Kau tahu istilahnya, kan? Satu-satunya cara untuk keluar dari sebuah organisasi adalah dengan mati,” ujar Heechul dengan wajah sok bijak. Sekilas, dia tampak seperti seorang pria tua yang sedang membagi kisah hidup nan inspiratif kepada cucunya. “Dua tahun lalu, Kris bahkan melakukannya dengan berpura-pura mati.”

“Tapi kurasa misi yang diberikan kepadaku kemarin cukup mudah.”

Heechul berdecak meremehkan. “Menurutmu, siapa yang membocorkan keberadaanmu kepada detektif itu?”

Hening sesaat. Donghae terlihat berpikir sebelum akhirnya mencetuskan sebuah nama.

“Bos?” pria itu menjawab dengan balik bertanya, sedikit tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Selama ini pria kulit hitam yang selalu terlihat energik di usianya yang sudah senja itu selalu berbuat baik kepada Donghae. Membayangkan sosok yang dihormatinya melakukan sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan nyawa pria muda itu, rasanya sedikit tidak bisa dipercaya.

Heechul hanya mengedikkan bahu, tidak ingin berspekulasi terlalu jauh.

“Ngomong-ngomong, siapa Kris?” Donghae bertanya lagi, terlihat jelas berusaha menjauh dari pembahasan mengenai orang yang nyaris membahayakan nyawanya. Pria itu tidak ingin membiarkan dirinya teracuni oleh prasangka kepada bosnya.

“Pengawal putri tidurmu itu,” Heechul menjawab acuh.

“Apa kau bilang?”

“Dia mantan agen lapangan juga, sama sepertimu. Dia menyerahkan formulir pengunduran dirinya sejak lima tahun lalu, tapi pihak perusahaan tidak mau melepaskan dia. Akhirnya, saat menjalankan sebuah misi di Ontario tiga tahun lalu, dia memalsukan kematiannya dan baru muncul lagi setahun kemudian dengan identitas berbeda. Bahkan aku curiga dia sempat melakukan sedikit operasi di wajahnya agar tidak mudah dikenali oleh orang dari perusahaan ini.”

Sedikit sulit bagi Donghae untuk mengontrol ekspresinya mendengar penjelasan Heechul. Terbiasa dengan hal-hal tidak terduga, pria itu tetap tidak pernah mengira bahwa terkadang dunia yang ditinggalinya benar-benar sempit. Tapi jika diingat-ingat lagi, wajah Yifan memang terlihat cukup familiar, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Di salah satu pertemuan mereka, Yifan juga pernah dengan terang menanyakan apakah dia dan Donghae saling mengenal. Mungkin saat itu Yifan sudah berusaha memberinya petunjuk, hanya saja Donghae yang tidak begitu peka.

“Bagaimana mungkin kau baru memberitahukan hal seperti itu kepadaku?”

“Aku juga baru ingat saat berbincang dengan Jessica beberapa waktu lalu.”

Donghae langsung tersedak liurnya sendiri saat mendengar Heechul menyebutkan nama itu. “Apa aku tidak salah dengar? Kau dan Jessica? Berbicang?”

“Dia pernah datang ke tempat ini untuk menemuimu.”

“Apa?!”

Heechul terkekeh akibat ekspresi Donghae barusan. Dia terbiasa melihat dongsaeng-nya itu bersikap tenang dengan wajah nyaris tanpa perubahan mimik dari waktu ke waktu. Mendapati pria itu berteriak panik merupakan hal langka yang harus Heechul abadikan dengan kamera.

“Sekarang aku sedikit menyesal tidak membiarkan pihak perusahaan memasang cctv di dalam ruanganku. Ekspresimu tadi bisa membuatku memperoleh banyak uang jika kusebarkan kepada orang-orang kantor,” canda Heechul.

Hyung,” Donghae berujar tidak sabaran. Keingintahuannya belum terjawab.

“Dia pulang karena kau tidak ada.”

“Lalu, kau bilang apa saja kepadanya selama dia di sini?”

“Banyak hal,” Heechul berujar tak acuh. “Aku bahkan memberitahunya alasan kenapa aku meracuni anjing Hyukjae sehari sebelumnya.”

“Jadi dia sudah tahu siapa aku?”

“Oh, kalau tentang itu, dia tampaknya sudah mengetahui banyak hal sebelum bertemu denganku. Kris memberitahunya.”

“APA?!”

Heechul terkekeh lagi. Pria itu terlalu menikmati setiap perubahan ekspresi wajah Donghae setiap kali dia membeberkan hal-hal yang telah dia lewatkan selama beberapa bulan terakhir. Tidak ingin lebih lama mempermainkan dongsaeng-nya itu, Heechul memilih membawa perbincangan mereka ke arah lain.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Kenapa kau masih bertanya? Aku kan sudah membeberkan semua rahasiaku kepadamu sejak awal kita berkenalan.”

“Kebun anggur?”

Donghae mengangguk. “Beberapa tahun lalu Hyukjae membantuku membeli beberapa hektar kebun anggur di pedalaman Perancis. Kurasa sudah saatnya aku mengunjungi kebunku.”

“Kau benar-benar seperti orang tua yang pensiun dari pekerjaannya di kota dan pindah ke desa untuk bertani,” Heechul berkomentar. “Tapi kebetulan sekali. Mulai besok gadismu juga akan ada di Perancis.”

“Jessica?”

“Memangnya kita pernah membicarakan gadis selain dirinya?” tanya Heechul gemas. Dia menjeda ucapannya beberapa detik sebelum menambahkan, “Gadis itu melanjutkan kuliah desainnya di sana.”

Donghae menghela napas pendek mendengar penjelasan itu. Perancis. Desain. Tentu saja.

“Kau tidak bertanya dia kuliah di unversitas mana?”

“Di mana?” Donghae bertanya tidak niat, paham sekali bahwa Heechul memintanya menanyakan ini karena ingin memamerkan aksen perancisnya yang dia banggakan selama ini.

La Sorbonne,” Heechul mengucapkan nama universitas itu dengan suara yang sengaja dibuat sengau demi membuatnya terdengar seperti orang Perancis asli.

“Bagaimana kau tahu?”

“Dia sendiri yang memberitahuku,” ujar Heechul santai, seolah yang baru saja dikatakannya bukanlah hal mengejutkan.

“Dia? Memberitahumu?”

Eoh!”

Donghae mengerutkan kening, lagi-lagi dilanda rasa ingin tahu berlebihan mengenai apa yang telah terjadi antara Heechul dan Jessica. “Sebenarnya apa saja yang kalian bicarakan selama dia ada di sini?”

Heechul menyunggingkan senyum sok miterius setelah menangkap nada cemburu dari cara Donghae bertanya barusan. Dia mengangkat kakinya ke atas meja untuk membuat dirinya terlihat intimidatif. Pria itu bahkan sengaja menyedekapkan kedua lengannya sebelum berujar, “Siapkan dirimu, Dongsaeng-ah! Ceritaku akan sangat panjang.”

***

Jessica berdiri di depan sebuah rumah sakit yang beberapa bulan lalu mengenalkannya kepada Kim Heechul. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya yang masih tampak lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Korea sampai ke tempat ini. Awalnya, dia mau langsung ke Paris, membereskan barang-barang, dan berjalan-jalan di sekitar kampus barunya agar lebih mengenal kawasan itu. Tapi saat perjalanan menuju bandara, dia tiba-tiba mengubah rutenya. Gadis itu berpikir untuk terlebih dahulu mampir ke London, memberi kejutan kepada seorang sahabat yang belakangan ini menjadi satu-satunya orang yang rutin berbagi cerita dengannya.

Rok pendek motif bunga yang dia kenakan berkibar-kibar saat angin musim gugur menyapa dirinya. Tubuhnya sedikit merinding karena terpaan angin itu. Baju hangat dan sepatu boot tinggi yang membungkus tubuhnya juga seolah tidak mampu menjaganya tetap hangat. Gadis itu menatap gerbang rumah sakit tersebut dan layar telepon genggamnya bergantian, menimbang apakah harus menghubungi Heechul atau tidak. Gadis itu sama sekali tidak punya niatan untuk membiarkan dirinya terkena flu akibat terkena angin terus-menerus, tapi di sisi lain, kalau dia menghubungi Heechul maka efek kejutan yang diharapkannya dapat membuat jantung pria itu melonjak karena kaget bisa berkurang, bahkan menghilang.

Jessica awalnya menunggu pria itu keluar kantor sambil duduk santai di atas kursi taman yang ada di depan rumah sakit. Dari sana, dia bisa memantau kapan saja Heechul menampakkan diri. Mengejutkan pria itu dari belakang sekilas terdengar seperti ide yang menyenangkan. Tapi setelah merasakan dinginnya udara London di musim peralihan seperti ini, gadis itu merasa harus mempertimbangkan ulang rencananya. Kesenangan yang mungkin diperolehnya karena mengagetkan Heechul sama sekali tidak sebanding dengan rasa dingin akibat semilir angin yang tidak bersahabat dengan tubuhnya.

Jessica baru saja membulatkan tekadnya untuk menelepon Heechul ketika seseorang menabraknya dari belakang, membuat telepon pintar yang sedari tadi berada dalam genggaman gadis itu terjatuh. Jessica hendak membungkuk untuk mengambil teleponnya, tapi orang yang menabraknya tadi sudah terlebih dahulu memungut benda itu. Dia membungkuk-bungkuk meminta maaf kepada Jessica sembari menyerahkan telepon genggam gadis itu.

“Kau?” ujar Jessica. Dia mengenali orang yang tengah berdiri di hadapannya. Meski dia bukan tipe orang yang bisa dengan gampang mengingat wajah yang baru sekali dilihatnya, tapi Jessica ingat betul dengan pria bermata sipit ber-eyeliner tebal itu.

“Oh? Jessica-sshi!” Pria di hadapan Jessica ikut berseru ketika menyadari siapa yang baru saja ia tabrak. “Kau di sini untuk bertemu Donghae?”

Jessica menggeleng. Sebagian untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya, sebagian lagi untuk menghalau perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya saat mendengar nama Donghae disebut. “Aku datang untuk bertemu Heechul.”

“Oh,” pria yang dikenali Jessica bernama Hyukjae itu membulatkan bibirnya sambil beberapa kali mengangguk paham. Kepalanya bergoyang-goyang seperti boneka yang biasa dipasang di dasbor mobil, membuat Jessica nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak menertawai pria itu.

“Kalau kau, apa yang kau lakukan di luar kantor di saat udara dingin seperti ini?” Jessica balik bertanya.

Hyukjae menggoyang-goyangkan telepon pintarnya di depan wajah Jessica sambil tersenyum lebar. Sekilas, Jessica melihat gambar seekor makhluk kuning bermata kecil dengan ekor berbentuk petir di layar benda dalam genggaman pria di depannya.

“Aku sedang menangkap pokemon,” beritahu Hyukjae. Dengan bangga dia memberitahu lawan bicaranya mengenai sudah berapa banyak pokemon yang berhasil dia tangkap. “Padahal aku baru mulai bermain dua hari yang lalu!” serunya menutup cerita.

“Kau hebat,” Jessica berkomentar. Meski sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang dibicarakan Hyukjae, tapi sorot bangga yang memancar dari mata pria itu ketika bercerita sudah cukup untuk membuat dia yakin bahwa apa yang dilakukan Hyukjae adalah sesuatu yang layak diberi pujian.

Hyukjae mengucapkan terima kasih atas pujian yang baru saja diterimanya kemudian berpamitan kepada Jessica, berkata bahwa dia akan melanjutkan pencarian pokemonnya di tempat lain.

Pria itu baru melangkah beberapa meter ketika dia mendengar Jessica memanggilnya. Berbalik, dia bertanya, bingung. “Ada apa?”

“Sebenarnya, aku ingin memberi kejutan untuk Heechul.” Malu-malu, Jessica menjelaskan keadaan. “Aku berpikir mungkin kau bisa membantuku masuk.”

Hyukjae menelengkan kepalanya, terlihat menimbang.

“Kau tahu kan kalau sistem keamanan di tempat kami sangat ketat?”

Jessica mengangguk, teringat lagi serangkaian pemeriksaan yang dulu harus dijalaninya agar bisa memasuki tempat itu.

“Posisiku tidak sekuat Heechul hyung, jadi sepertinya akan sulit bagiku untuk membawamu masuk.”

“Begitu, ya?” Jessica berujar pelan. Ada sedikit raut kekecewaan tampak di wajahnya, membuat Hyukjae jadi tak enak hati. “Baiklah, aku rasa lebih baik aku menghubunginya saja,” gadis itu melanjutkan. Dia tak lupa menambahkan senyum agar Hyukjae tidak merasa bersalah, lalu sibuk menggerakkan jemarinya di atas layar telepon genggam.

“Tapi,” Hyukjae tiba-tiba berujar, terdengar sedikit tidak yakin.  Lawan bicaranya seketika menghentikan kegiatannya mengetik pesan, mengalihkan pandangannya kembali ke arah Hyukjae. Pria itu melanjutkan, “Karena kau sudah pernah diizinkan masuk sebelumnya, aku rasa sedikit bantuan dari Kibum bisa membuatmu masuk ke tempat itu. Ayo, ikut aku!”

Tanpa aba-aba, Hyukjae langsung menarik pergelangan tangan Jessica, membuat gadis itu tidak punya pilihan selain mengekor di belakangnya. Pria itu baru melepaskan pegangannya setelah mereka tiba di dalam sebuah ruang praktik dokter di dalam rumah sakit yang pernah disebut Jessica sebagai kamuflase untuk menyembunyikan bangunan penting di bawahnya.

Pria berjas putih yang duduk di dalamnya, yang dipanggil Hyukjae dengan nama Kibum—dan juga berulang kali disebutkan Heechul dalam perbincangan mereka—ternyata adalah seorang pria paruh baya dengan postur tinggi dan hidung mancung khas ras Kaukasia. Kulitnya pucat dan ada tahi lalat kecil di keningnya. Manik matanya yang kelabu dilapisi kacamata lensa tebal dengan bingkai warna hitam. Fakta itu jelas bertabrakan dengan dugaan Jessica yang selalu membayangkan seorang pria berwajah oriental setiap kali nama itu disebut.

Kibum, yang memiliki nama asli Richard Schmidth, akhirnya memberi tanda pengenal kepada Jessica setelah Hyukjae menberitahukan identitas gadis itu. “Heechul sering bercerita tentangmu,” ujar pria itu sambil tersenyum sopan.

Jessica balik tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu memohon diri dan berkata bahwa dia pasti akan dengan senang hati menjadi pemandu jika suatu saat Kibum datang ke Korea untuk berlibur. Hyukjae juga sempat berbasa-basi dengan pria yang lebih tua itu. Mereka membahas trik merawat pokemon agar cepat bervolusi dan mengakhiri perbincangan itu dengan sebuah kelakar yang kemudian menghadirkan tawa renyah dari keduanya.

“Kenapa kau dan Heechul memanggilnya Kibum?” tanya Jessica saat ia dan Hyukjae sudah berada agak jauh ruangan pria yang namanya ia sebut. Mereka sedang berjalan menuju elevator khusus yang akan membawa Jessica ke tempat Heechul dan gadis itu seperti tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.

Hyukjae yang saat itu sedang sibuk memperhatikan layar telepon genggamnya hanya tertawa pelan. Dia tahu Jessica pasti akan menanyakan hal itu. Memangnya siapa yang tidak akan salah sangka karena nama itu? Dia pun dulu mengalami hal yang sama.

“Kibum adalah sahabat karib Heechul hyung saat mereka sama-sama mengambil gelar doktor di Stanford. Dan kau tahu sendiri kan, Heechul hyung itu adalah tipe orang yang suka seenaknya. Dia memanggil Richard dengan sebutan Kibum dan sepertinya yang diberi nama juga senang-senang saja dipanggil seperti itu. Akhirnya nama pemberian Heechul hyung melekat sampai sekarang,” jelas Hyukjae. Tatapannya masih lekat pada layar telepon genggam. “Oh iya, kalau kau juga penasaran apakah dia benar-benar bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini, maka jawabannya adalah iya. Dia memegang gelar profesor untuk bidang penyakit organ dalam.”

Jessica menyimak penjelasan itu dan tertawa kecil karenanya.

“Aku hampir berpikir kalau hampir semua orang yang bekerja di tempatmu adalah keturunan Korea.”

“Mana bisa seperti itu,” seru Hyukjae. Ada sedikit kilat keberatan di matanya yang senantiasa dibingkai eyeliner tebal. Dia lalu menambahkan, kali ini dengan intonasi yang tidak lagi terdengar seperti rengekan anak kecil, “Yang bisa menjadi bagian dalam organisasi tempat kami bernaung adalah orang-orang pilihan. Kalau semua orang di Korea bisa melakukannya, aku tidak akan bertahan sampai belasan tahun di sini.”

Jessica menanggapinya dengan sebuah anggukan paham. Di sudut bibirnya, terbit seulas senyum geli karena perubahan nada berbicara Hyukjae barusan.

Pria di samping Jessica berdeham, sedikit salah tingkah. “Orang Korea yang ada di sini hanyalah aku, Heechul hyung, dan Donghae,” beritahunya lagi.

Nama terakhir yang diucapkan Hyukjae menghadirkan desir aneh itu lagi di hati Jessica. Sejenak, dia larut dalam dunianya sendiri. Bunyi denting halus elevator yang bergerak membukalah yang menarik gadis itu kembali ke dunia nyata. Dia segera melangkahkan kakinya memasuki kotak besi itu dan menekan tombol yang bisa membawanya ke lantai paling bawah, di mana ruang kerja Heechul berada.

“Kau tidak masuk?” Jessica bertanya karena Hyukjae tidak juga beranjak dari posisi berdirinya di depan pintu.

Pria itu menyeringai seperti anak kecil yang sedang meminta izin untuk bermain kepada ibunya. “Ada Jigglypuff di toilet lantai empat rumah sakit ini. Aku harus segera menangkapnya,” jelas pria itu.

Dan tanpa berlama-lama lagi, Hyukjae segera melesat menuju elevator lain yang bisa membawanya ke lantai empat, meninggalkan Jessica yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum melihat kelakuan pria itu.

***

“Kau tidak usah cemburu mendengar kedekatanku dengan Jessica,” Heechul dengan usil menggoda Donghae yang jelas-jelas gagal mengontrol ekspresinya setelah mengetahui seberapa akrab hyung-nya dengan Jessica.

“Untuk apa aku cemburu,” pria itu berkilah. “Aku bahkan sama sekali tidak menyukainya.”

Heechul tertawa mendengar sanggahan itu. Nadanya meremehkan. “Bahkan setelah kau tahu bahwa dia datang ke sini, jauh-jauh dari Seoul, hanya untuk meminta maaf karena telah menaruh prasangka buruk kepadamu, hatimu sama sekali tidak tersentuh. Begitu?”

Donghae mengangguk. Terlalu cepat, hingga Heechul merasa semakin bernafsu ingin menyudutkannya.

“Bukankah dia wanita pertama yang membuatmu menangguhkan misi sampai setahun lebih? Bukankah kau pernah bilang bahwa ajakan minum kopinya dulu membuatmu merasa diperlakukan normal untuk pertama kalinya? Bukankah selama dia koma, kau selalu diam-diam mengunjunginya di rumah sakit? Apa aku perlu mengingatkan bagaimana kelakuanmu setelah dia mengusirmu dari rumah sakit? Dan bukankah dia alasanmu meminta berhenti dari pekerjaanmu sekarang? Karena kau merasa tidak akan bisa bersamanya kalau kau masih melakukan hal berbahaya yang bisa merenggut nyawamu setiap saat? Apa kau yakin benar-benar tidak merasakan sesuatu?”

Heechul merasa sangat puas menikmati perubahan wajah Donghae karena kata-katanya barusan. Dongsaeng-nya itu memang selalu pandai menyembunyikan emosinya di balik tatapan yang hampir selalu datar. Tapi Heechul bukan orang yang gampang dibodohi. Mata Donghae selalu berbicara lebih banyak daripada apa yang bisa dilakukan mulutnya, dan Heechul lebih dari sekadar mampu untuk mengerti semua itu.

“Aku bisa melihat bagaimana dia menahan diri untuk tidak menanyakan keadaanmu setiap kali kami mengobrol. Dan kau tahu, sekali pertanyaan itu terlontar, semua kegelisahannya langsung terlihat,” Heechul menambahkan. “Dia menyukaimu. Seharusnya itu sudah cukup untuk memberimu jaminan agar mengakui perasaanmu.”

“Itu urusannya kalau dia benar menyukaiku. Sayangnya aku tidak merasakan yang sama,” elak Donghae.

Heechul mendengus malas. Donghae memang terkadang bisa jadi begitu keras kepala. Alih-alih menimpali pengelakan Donghae, Heechul lebih memilih berjalan menuju sebuah meja di sudut ruang kerjanya, di mana tikus peliharaannya berada. Otaknya tiba-tiba dipenuhi ide untuk memanipulasi formula yang tadi dia berikan kepada tikus peliharaannya. Pria itu meraih sebuah suntikan dari dalam laci kemudian menusukkan ujung tajam jarum itu di tubuh si jantan, mengambil beberapa tetes darah untuk dia teliti.

Hyung, aku bersungguh-sungguh. Aku tidak menyukainya.”

Donghae masih berusaha memulihkan harga dirinya di depan Heechul yang sama sekali tidak punya niat mempercayai apa yang dia ucapkan. Pria yang lebih tua itu justru terlihat lebih asyik memfokuskan perhatian pada tetesan darah di bawah lensa mikroskopnya.

“Aku serius, Hyung.”

“Baiklah. Kau tidak menyukainya. Aku mengerti,” ujar Heechul tak acuh. Matanya masih menempel di ujung mikroskop, sementara tangannya mulai bergerak mencoret-coret di atas selembar kertas.

“Jessica-sshi! Kenapa kau masih berdiri di sini?”

Suara itu terdengar tidak lama kemudian. Dari cara berbicaranya, Heechul langsung bisa menebak bahwa yang berbicara adalah Hyukjae. Dan sejujurnya, dia tidak peduli dengan pria itu. Tapi nama yang Hyukjae sebutkan barusan tidak bisa dia abaikan begitu saja.

Heechul berbalik. Pikirannya yang sempat begitu penuh oleh formula untuk obat terbarunya kini mendadak kosong mendapati bahwa di sela pintu ruang kerjanya yang ternyata tidak tertutup rapat, seseorang dengan wajah yang sangat dikenalnya tampak sedang berdiri kaku dengan sorot mata terluka. Heechul menoleh ke arah Donghae yang juga tengah berdiri kaku di sisi lain ruangan. Pandangan dongsaeng-nya itu lekat pada Jessica.

“Ada apa ini? Kenapa kalian semua diam?” Hyukjae yang tidak tahu apa-apa langsung menyuarakan kebingungan setelah melihat tiga orang di depannya hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.

“Aku hanya ingin menyapamu, Heechul-sshi,” Jessica berujar dengan nada yang berusaha dibuat seceria mungkin. “Tapi sepertinya kau sibuk, jadi—”

Kalimat itu tidak selesai. Tangis Jessica sudah terlanjur pecah. Gadis itu menyudahi ucapannya dengan membungkuk, memohon diri. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, dia berjalan meninggalkan tempat itu.

“Apa yang kau lakukan?” Heechul berteriak gemas kepada Donghae yang masih tidak beranjak dari posisinya. “Kejar gadis itu! Jelaskan kalau apa yang kau katakan tadi tidaklah serius!”

Berlawanan dengan harapan Heechul, Donghae malah menjatuhkan tubuh di atas sofa yang tadi dia duduki. Dia meraih remote televisi dan menyalakan benda itu seolah tidak ada hal serius yang baru saja terjadi. Berusaha tampak tetap tenang, dia berujar, “Gadis itu datang untuk menemuimu. Untuk apa aku mengejar seseorang yang tidak ingin bertemu denganku?”

Emosi Heechul langsung meledak. “Ya! Lee Donghae! Kenapa kau begitu bodoh, hah?”

to be continued…

A/N: Sekali lagi saya mau bilang, cerita ini pasti akan berakhir bahagia, dan sungguh, akhir bahagia itu sudah terbayang. Saya cuma tidak cukup baik hati untuk membuat tokoh utama di cerita ini lebih cepat mendapatkan kebahagiaannya *evil grin*

Chapter ini agak panjang karena saya ingin secara khusus menyiksa Lee Donghae. Bagaimana, sudah cukup kelam kah masa kecilnya? *evil grin, again*

Terima kasih buat Alkindi dari Indo Fanfiction Arts untuk poster cantik di atas 🙂

Advertisements

12 thoughts on “The Stories When…

  1. Kena angin apa kamu kak, sampe dalam seminggu bisa bikin rekor ngepost empat ff. Haha..

    Cerita ini panjang banget. Dan terlalu banyak penderitaan di dalamnya. Itu sumpah ya, lee donghae nyebelin banget pas udah deket2 ending. Eh, to be continued ding! Awal2 aku udah kasian sama dia karena segala penderitaan masa kecilnya, tapi entah kenapa jadi kesel sendiri karena dia dengan jaimnya nolak buat mengakui perasaan sendiri. Donghae sebenarnya udah suka sama jessica sejak cerita pertama kan?
    Next chapter ditunggu ya kak. Dan semoga that-long-awaited-happy-ending bisa segera muncul😇😇😇

  2. Aku jadi ragu kalo kk beneran fansnya donghae. Karena kalo emang ngefans, kok demen banget nyiksa dia di tiap ff mu? 😂😂😂
    Aku kasihan deh sama donghae, masa lalunya menyedihkan begitu. Untung ketemu ahjussi baik hati, jadi dia bisa bebas dr panti asuhan tmpt dia tinggal.
    Aku ngakak deh sama hyukjae yang heboh main pokemon sampe nabrak2 orang segala. Tp ini yang sebenarmya jd korban pokemon, hyukjae apa author ff ini yaaaah? *curious*
    Dengan sabar aku bakalan nungguin kelanjutan ceritanya. Kalo bisa jangan lama2 ya kak.. Hwaiting!

      1. Jadi lee donghae selama ini diam2 kuliah sampe jadi profesor? 😱😱😱
        Udah kak, emang pada dasarnya kamu emang demen nyiksa org kan? Kasian donghae jadi kambing hitam *peluk donghae*

  3. ini sih bukan panjang lagi thor, tapi panjang banget. aku bacanya sampe sejam lebih. tapi ceritanya menarik kok. biarpun aku sempat rada bingung sama flashbacknya, pas udah sampe akhir aku jadi paham tentsng apa yang terjadi. heechul karakternya menarik banget. sejak pertama dia muncul di cerita pertama sampe sekarang karakternya yang jahil itu selalu mencuri perhatian aku. yang dia manggil orang eropa pake nama kibum. trus melihara tikus biar perusahaannya ga usah beliin dia tikus percobaan lagi. hahaha… kocak banget. dan tentang haesica, aku penasaran bagaimana mereka nanti bakalan baikan. dulu pas sica marah dan ngusir donghae dari rumah sakit, ada yifan yang ngelurusin kesalahpahaman. sekarang sica ngambek lagi, apa yifan juga bakalan muncul lagi?

  4. aku selalu suka gimana author bercerita, jadi semakin panjang aku semakin senang bacanya. dan, lagi-lagi ada kejutan di chapter ini. bukan kejutan dalam bentuk mayor sih, cuma fakta kalau kibum itu bukan orang korea. tapi tetep, aku gak nyangka ini akan dibahas. udah sempat mau bertanya juga dulu, kenapa kantornya kayaknya internasional gitu tapi nama anggotanya kok korea semua. eh ternyata ada penjelasan di balik itu.
    aku ikut terbawa sama kisah masa lalu donghae yang penuh penderitaan. tapi ahjussi yang nyelametin dia, apa nantinya bakalan jadi orang yang ngenalin donghae sama dunia bunuh-bunuhan? soalnya dia kayak menyimpan rahasia gitu.
    haesica ini beneran bakalan berakhir bahagia kan? aku ga bisa ngebayangin bagaimana konflik dalam ff ini nanti akan diselesaikan. oh iya. heechul dan sohee udah gak bakalan ada scene lagi ya? pasti seru kalau nanti di endingnya haesica sama soheechul bisa double date. trus yifan juga dpt pasangan.

  5. annyeong, authornim. reader baru di sini. gita imnidaaaa.. 🙂
    glad that I still find a good haesica fanfic, esp after her dating news spread all over the media. it’s a good thing that I find your post on instagram and follow the link so I can land here on your blog. reading your stories was a wonderful journey. ada byk kenangan yg tumbuh karena baca cerita ini.
    butuh waktu seminggu buat aku nyelesein baca ff ini dr part 1. aku jg suka couple2 lain yg dimunculin dlm cerita ini. udah lama bgt rasanya aku gak nemu soheechul di dalam ff. ini couple kesayangan aku pas awal2 kenal dunia kpop.
    ditunggu updatean selanjutnya. and really, I’m anticipating more twists.

  6. Kak ih tega bangetyaa tautau dicut gituu parssss 😩😩
    Btw donghae knp kasiaaan bgt dan itu siapa yg nolongin dia? Bosnya dia yang sekarangkah?
    Lanjuuuut!!

  7. Eon, km demen bgt nyiksa donghae… Hehehehe, gpp sii krn emang aku sangat suka ff bergenre sad angst dan kawan2nya….
    Ditunggu lanjutan’y eon…

  8. Terharu bgt pas si Heechul ngasih roti ijo itu ya ampun, gatau kenapa aku bayangin Donghae kecil dengan wajah Jenoㅋㅋㅋ aku udah baca 3 ff sebelumnya, dan mian baru komen disini😊 and that’s true! Aku suka gaya bahasa author, jujur nyari ff haesica yang bener-bener bahasanya baku dan gak bikin ilfil bacanya tuh susah! Akhirnya nemu blog ini dengan hanya nulis “ff haesica” di search engine. Salam kenal thor aku reader baru dan aku Haesica hard shipper /gananya/✌Aku nunggu banget sequel ini thor, semoga happy ending yaaaa😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s