donghae-sixfirstkisses

Title: Six First Kisses

Author: nchuhae

Cast: Lee Donghae, Sandara Park, Jessica Jung, Min Sunye 

Length: Oneshot, 6.3k words

Genre: Romance, Friendship, Family

Rating: PG-15

***

  1. Sandara Park

Donghae mengepalkan tangannya kuat-kuat, berharap tindakan itu bisa meredakan emosinya meski hanya sedikit. Dia benar-benar marah saat ini, dan penyebab semua itu adalah seorang gadis yang kini tengah menangis di depannya.

Donghae bukannya terang-terangan melihat air mengalir dari sepasang mata indah itu. Sejak dia menginjakkan kakinya di kafe bergaya retro ini beberapa saat yang lalu, gadis di depannya sudah terlihat kacau. Dia menekuk lehernya, menenggelamkan wajah di antara meja dan kedua lengannya, membiarkan helaian rambutnya terurai menutupi wajah. Pria itu bisa berkesimpulan bahwa gadis di depannya sedang menangis karena ini bukan pertama kalinya dia menyaksikan pemandangan serupa.

“Aku heran kenapa kau masih saja mengencani pria seperti itu. Sudah jelas sekali kalau dia itu brengsek,” cibir Donghae.

Dia menarik sebuah kursi di sebelah gadis itu, kemudian duduk diam di sana selama beberapa menit. Melihat sosok di depannya, Donghae tahu perkataannya barusan hanya akan memperburuk suasana hati sang gadis, tapi mengungkapkan isi kepalanya lewat kalimat barusan adalah sebuah keharusan agar gadis itu cepat-cepat sadar.

Pria itu berusaha menenangkan dirinya dengan mengingat-ingat hal indah yang pernah dia alami. Ketika amarahnya berangsur surut, rasa tak rela bercampur kasihan ganti menyeruak. “Kau tidak pantas menerima perlakuan seperti ini, Nuna,” ujarnya sambil meremas pelan bahu sang gadis dengan penuh sayang.

Gadis yang dipanggilnya dengan sebutan nuna itu kemudian bangkit dari posisinya semula. Dia mengusap wajahnya dengan punggung tangan sebelum menoleh ke arah Donghae yang saat itu menatapnya dengan pandangan yang tidak ingin dia artikan sebagai belas kasihan. “Aku benci kalau kau menatapku seperti itu,” katanya. Dia memaksakan sebuah senyum kaku untuk bisa terbit di sudut bibirnya ketika mengatakan hal itu.

Donghae mendengus. “Itu karena aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang sebodoh dirimu di dunia ini.”

Ucapan Donghae membuat lawan bicaranya tertawa. Bukan jenis tawa yang dipaksakan seperti senyumnya barusan, melainkan sebuah tawa lepas yang meski tidak seceria biasanya, tapi sudah cukup untuk membuat siatuasi di antara mereka menjadi tidak terlalu murung seperti sebelumnya.

Wae? Ada yang salah dengan ucapanku barusan?”

Gadis itu tidak langsung menanggapi pertanyaan Donghae. Dia memilih menarik gelas berisi ice lemon tea yang sudah dia anggurkan sejak tadi karena asyik menangisi nasibnya, sambil sesekali melirik Donghae yang masih menunggu jawabannya.

“Dia berulang kali berselingkuh di belakangmu, tapi kau tetap saja memaafkannya dan pada akhirnya dia terus-terusan mengulangi perbuatannya karena tahu kalau kau tidak akan berani menyudahi hubungan kalian,” ujar Donghae lagi, mengemukakan alasan yang mendasari tuduhan bodoh yang sebelumnya dia alamatkan kepada nuna-nya itu. “Menurutmu itu kurang bodoh apa lagi?”

Gadis itu menghentikan kegiatannya menyeruput cairan bening kecoklatan di dalam gelas berembun yang ada di depannya, kemudian mendelik ke arah pria yang duduk di sampingnya. “Kau yakin ucapanmu barusan bukan karena kau cemburu?”

Donghae langsung kehabisan kata-kata. Terlalu tepat sasaran. Perkataan gadis itu mungkin dimaksudkan hanya untuk menggodanya, tapi Donghae tidak bisa menampik adanya kebenaran dalam kalimat itu. Iya, dia memang cemburu.

Bukan hanya sekali dia menyatakan rasa sukanya terhadap gadis itu, namun dia tidak pernah memperoleh penerimaan. Tidak ingin mengencani pria yang lebih muda, dalih gadis itu setiap kali Donghae menawarkan cintanya. Fakta bahwa tidak lama kemudian gadis itu justru mengencani pria yang lebih muda dari Donghae membuatnya sempat sakit hati, namun akhirnya dia bisa bersikap cukup dewasa untuk merelakan gadis itu bersama dengan pria yang disukainya.

“Sampai sekarang aku masih heran mengapa kau begitu sabar menyikapi kelakuan pria itu. Dia jelas-jelas menduakanmu dengan sahabatmu sendiri,” ujar Donghae lagi, berusaha mengabaikan tuduhan cemburu yang dilontarkan kepadanya.

Sang gadis menanggapinya dengan mengangkat bahu. “Molla,” jawabnya santai. Dia kemudian lanjut meminum es teh yang sudah mulai menghangat di gelasnya.

Donghae paham, pria yang dikencani nuna kesayangannya itu bukanlah pria sembarangan. Dia berkharisma, seolah setiap gerak tubuhnya menyiratkan pesona yang selalu dengan mudah memikat lawan jenis. Tapi apa hanya karena itu?

Di sela-sela waktu luangnya, Donghae kadang berusaha menerka-nerka alasan gadis itu bertahan dalam hubungan rusak yang dia jalani. Apa karena namanya dan pria itu sudah begitu ikonik di managemennya hingga dia tidak rela menyudahinya? Sandara dan Jiyong. Kedengarannya memang begitu pas. Bahkan menurut beberapa kabar, para trainee senior di managemen Dara juga memuji betapa serasi gadis itu dengan kekasihnya. Tapi apalah guna semua itu kalau pada akhirnya dia menderita?

Hyukjae, temannya sesama trainee pernah mengusulkan sebuah ide yang konyol, yang belakangan mulai dipertimbangkan kebenarannya oleh Donghae.

“Apa karena dia adalah pria yang mencuri ciuman pertamamu?” cetus Donghae, menyuarakan pendapat yang dikemukakan Hyukjae beberapa waktu lalu. Menurut pria sipit yang usianya tidak jauh lebih tua dari Donghae tapi mengklaim dirinya sangat ekspert tentang masalah percintaan itu, kadang wanita tidak rela mengakhiri sebuah hubungan dengan seseorang yang memberinya sebuah pengalaman baru. Dalam kasus Dara dan Jiyong, itu melibatkan sebuah ciuman.

Dara tergelak karena ucapan Donghae, tanpa sadar menepuk keras bahu pria itu karena gemas akan kepolosannya. “Mana ada yang seperti itu?” katanya sambil terkekeh pelan. “Kau menonton terlalu banyak drama, dongsaeng-ah!”

Donghae hanya terpaku di tempat menyaksikan Dara menertawai kebodohannya. Dalam hati, ada rasa lega yang menyelinap di hatinya setelah melihat tawa gadis itu. Dia tahu bahwa saat kembali ke dorm-nya nanti, gadis itu akan kembali menangisi nasib percintaannya dengan Jiyong, tapi saat ini, meski hanya sementara dan itu pun dia lakukan dengan menunjukkan kebodohannya yang begitu saja mempercayai ucapan Hyukjae, Donghae sudah merasa cukup bahagia karena bisa mengembalikan lekuk indah itu di bibir Dara.

“Kalau ini bisa membantumu menemukan teori baru, kuberi tahu,” ujar Dara setelah berhasil meredakan tawanya, “Jiyong bukan pria pertama yang kucium.”

Fakta itu, meski diucapkan secara santai oleh Dara, berhasil menyedot rasa ingin tahu Donghae hingga ke dasar. Beragam pertanyaan menyerbu otaknya, tapi pria itu memilih meredam semuanya dengan sebuah anggukan dan senyum paham. Tidak ada gunanya bertanya. Alih-alih merasa tenang, rasa cemburunya yang tidak berdasar itu mungkin malah akan semakin berkobar.

Mengalihkan pembicaraan, Donghae mulai bercerita tentang latihan vokal yang tadi dia jalani. Dara menimpalinya dengan balik bercerita tentang latihan tari yang menurutnya hanya bisa membuat tulang-tulangnya sakit.

“Aku tidak masalah dengan latihan vokal. Yah, meski suaraku pun tidak sebagus Bom, tapi setidaknya latihan itu tidak semenyusahkan latihan tari,” ujar Dara.

Sepanjang sisa sore itu, pembicaraan mereka hanya diisi oleh keluhan dan sedikit gosip tentang kehidupan trainee mereka masing-masing. Tidak ada lagi kisah patah hati, tidak ada Kwon Jiyong dan selingkuhan barunya, tapi masih ada banyak sekali pertanyaan tentang ciuman pertama Dara. Yang terakhir itu, hanya disimpan Donghae dalam benaknya. Dia berniat akan menanyakannya suatu hari nanti, ketika waktunya lebih tepat.

Donghae mengantar Dara kembali ke dorm-nya ketika waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh malam. Di depan pintu masuk, pria itu berulang kali meminta Dara berjanji untuk tidak menangis lagi, yang kemudian ditanggapi oleh sebuah anggukan patuh dari sang gadis.

Donghae sudah melangkah cukup jauh ketika dia mendengar derap kaki yang diayun cepat dari belakang. Berbalik, dia mendapati Dara berdiri di belakangnya sambil terengah-engah, tapi masih memaksakan sebuah senyum. Pria itu membuka mulutnya untuk bertanya apakah ada yang terlupa atau tidak, tapi dia tidak sempat menyuarakan pertanyaan itu. Bibir Dara sudah terlebih dulu mendarat di bibirnya.

“Ciuman pertamaku bukan bersama Jiyong, tapi kau,” ujar Dara setelah kecupan itu dia sudahi.

  1. Jessica Jung

Darah muda. Semua yang Donghae lakukan bersama Jessica didasari alasan bahwa mereka sama-sama remaja yang terkekang jadwal latihan super padat hingga nyaris tidak mungkin bersosialisasi dengan orang-orang di luar lingkup manangemen yang menaungi mereka. Mereka berkencan dengan dalih terlalu terbiasa bersama hingga rasa nyaman itu muncul di benak satu sama lain. Mereka berpelukan untuk saling menenangkan rasa frustasi dan jenuh terhadap jadwal tidak manusiawi yang menghimpit. Mereka saling bertukar kecupan di waktu-waktu senggang karena hal itu membantu keduanya untuk terlihat normal, layaknya remaja seusia mereka yang sudah mulai mengenal interaksi dengan lawan jenis. Terkadang, mereka bahkan tidak ingin bersusah payah mencari alasan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan. Keduanya sama-sama ingin, maka terjadilah yang telah terjadi.

Bersama Jessica, Donghae bukan lagi seorang pemalu akut yang untuk sekadar menggenggam tangan saja butuh mengumpulkan keberanian dalam waktu tidak sebentar. Bersama Jessica, rasa sukanya tidak lagi hanya bisa dia ungkapkan lewat sebuah pesan berisi sebaris kata ‘I Love You’ yang dikirim setiap menjelang tidur. Bersama Jessica, Donghae belajar bahwa kaum hawa menyukai hal-hal romatis.

Ada kalanya, dia menulis surat cinta berisi puisi yang sebagian dia comot bebas dari internet, dan sebagian lagi dia karang sendiri—tentu saja setelah berulang kali menanyakan kepada teman sekamarnya mengenai kelayakan puisi ciptaannya itu untuk diberikan kepada seorang gadis. Surat itu kemudian akan dia selipkan di sebuah celah tersembunyi di bagian atap gedung managemen mereka. Jessica selalu membalas suratnya dengan kalimat yang sama manisnya. Terkadang surat balasan itu dituliskannya di atas kertas merah muda bergambar hati, namun tak jarang dia menuliskannya di atas kertas putih polos yang dengan mudah diperoleh dari resepsionis di lantai paling bawah gedung.

Di beberapa kesempatan, Donghae memberikan kado kepada kekasihnya itu. Bentuknya bukan berupa benda mahal dan berkilau. Sekadar boneka atau kalung yang dibeli dengan harga murah di toko kecil pinggiran jalan pun sudah cukup untuk mengembangkan senyum di bibir Jessica. Donghae kadang mendapatkan sebuah pelukan sayang sebagai balasan atas apa yang dilakukannya. Jika beruntung, sebuah kecupan manis akan mendarat di pipinya.

Bersama Jessica, semua terjadi dengan natural dan serba indah.

“Sica-ya, lihat ke mari,” panggil Donghae.

Gadis yang dipanggil itu menoleh, hanya untuk mendapati Donghae sedang berdiri menghadap ke arahnya. Kilauan dari blitz kamera menyusul tak lama kemudian.

Donghae tersenyum puas ke arah kamera digital dalam genggamannya. Di layar benda itu, tampak gambar kekasihnya sedang menatap ke arahnya dengan raut wajah sangat lucu. Matanya sedikit terbelalak, celah bibirnya terbuka agak lebar hingga Donghae yakin kalau saja ada serangga lewat, makhluk itu bisa dengan bebas masuk ke dalam mulut Jessica.

Image-mu sebagai seorang Ice Princess bisa runtuh kalau gambar ini dilihat orang lain,” canda Donghae.

Mendengar itu, Jessica langsung memasang tampang cemberut yang alih-alih membuat Donghae khawatir, justru membuat pria itu tertawa senang.

“Aku akan marah kalau kau tidak menghapusnya.”

Wae? Kau tampak lucu di sini,” sahut Donghae yang kembali tersenyum setelah memperhatikan foto itu sekali lagi.

Oppa!” protes Jessica.

Donghae terkekeh sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk mengalah dan menghapus foto yang baru saja dia abadikan. Rengekan manja Jessica bukanlah hal yang mudah untuk dia tolak.

Pria itu mengangkat kameranya, memastikan Jessica melihat tulisan ‘terhapus’ di layar benda itu. “Kau puas?” tanyanya kemudian.

Jessica menjawabnya dengan sebuah anggukan dan seulas senyum senang.

“Baru?” tanya gadis itu. Dengan dagunya, dia menunjuk benda di tangan Donghae.

Eoh! Ayahku membelikannya untuk ulang tahunku.” Donghae menjelaskan dengan senyuman penuh rasa bangga tersemat di bibirnya.

Bukan rahasia lagi kalau pria itu sangat mengidolakan ayahnya. Donghae bahkan pernah bercerita kepada Jessica bahwa satu-satunya alasan dia berada di Seoul adalah karena ayahnya menginginkan dia menjadi seorang artis. Kalau bukan karena pria itu, Donghae mungkin hanya akan tumbuh sebagai seorang pemuda pesisir yang sesekali akan menghabiskan waktunya dengan memetik gitar di tepi pantai.

Donghae menengadahkan satu tangannya yang bebas di depan Jessica. “Kau belum memberikanku kado,” ujar pria itu. Ada seringai tipis nan jahil yang tampak di wajahnya.

Jessica bukannya lupa. Sejak beberapa bulan sebelumnya, dia sudah memikirkan apa yang akan dia berikan kepada Donghae di hari ulang tahun kekasihnya itu. Seohyun menyarankan agar dia memberikan sebuah syal rajut, yang karena ide itulah dia kemudian nyaris tidak tidur selama berhari-hari. Jessica mengutuki tangannya yang jauh dari kata terampil, karena sampai ulang tahun Donghae sudah lewat pun, kado itu belum juga selesai.

“Aku sibuk, jadi tidak sempat mencarikan kado untukmu.”

“Bahkan Yoona menyempatkan diri untuk mencari kado untukku. Bagaimana mungkin kau tidak?”

Jessica hanya bisa diam. Dia tahu dirinya bersalah.

“Kalau kau mau, masih belum terlambat untuk memberiku kado,” ujar Donghae sok misterius.

“Eh?”

“Tersenyumlah,” perintah Donghae sembari mengarahkan lensa kamera menghadap dirinya dan Jessica.

Klik!

Empat buah pose manis sepasang remaja dimabuk cinta terabadikan oleh kamera saat itu, satu di antaranya menampilkan kedua orang itu berpose lucu dengan bibir saling menempel. Mereka tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian, foto yang diambil karena keisengan itu akan beredar bebas di internet, membangkitkan emosi banyak penggemar, dan membawa hubungan dua orang di dalamnya berujung pada sebuah perpisahan pahit.

  1. Lee Seungyeon

Donghae menatap pria itu berbaring tenang di hadapannya. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna gelap yang membungkus tubuh kurusnya hingga terlihat berwibawa. Wajah tuanya tampak tampan dengan sapuan bedak tipis yang dengan sukses menutupi garis-garis usia yang biasanya tampak di sudut mata dan bibirnya.

Mata itu dulu selalu menyiarkan sorot penuh ketenangan dan kasih sayang. Bibir itu dulu selalu melengkung membentuk sebuah senyum bangga—senyum yang ditujukan kepada anak kebanggaannya. Sekarang mata itu tertutup tanpa ada kemungkinan akan terbuka lagi. Bibir itu tetap melengkung, tapi senyuman yang ada di sana bukan lagi sebuah senyuman bangga yang bisa dia berikan kepada Donghae. Hanya ada kehampaan yang tersisa di sana.

Donghae menangis tersedu-sedu di sisi peti berpelitur indah tempat pria tua itu terbaring. Di sampingnya, ibu dan kakaknya duduk dengan kesedihan membayang di wajah masing-masing. Sesekali mereka menunduk, mengucapkan terima kasih kepada sanak saudara yang datang berkunjung untuk menyampaikan bela sungkawa. Donghae seharusnya juga duduk di sana, tapi dia masih belum bisa beranjak dari tempatnya saat ini. Dia belum puas menatap wajah tak bernyawa itu.

Bertahun-tahun dia tak melihat wajah ayahnya. Bertahun-tahun dia bertahan untuk hidup di sebuah tempat serba asing tanpa sekali pun berkesempatan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Bertahun-tahun dia harus berada jauh dari rumah demi menghidupkan mimpi sang ayah yang ingin melihatnya menjadi seorang penyanyi. Kini, ketika akhirnya dia berkesempatan pulang, yang dia dapati hanya wajah kaku dari pria yang selama ini menjadi panutan hidupnya.

“Maafkan aku, Abeoji. Maafkan aku,” ratapnya.

Donghae merasa begitu berdosa karena tidak sempat berada di samping ayahnya, bahkan hingga pria itu menghembuskan napas terakhir. Meski kakaknya sudah berulang kali berkata bahwa itu adalah permintaan ayah mereka yang tidak ingin Donghae merasa khawatir, tak pelak pria itu mengutuki dirinya sendiri.

“Kenapa kau pergi begitu cepat, Abeoji? Kau belum sempat melihatku tumbuh menjadi sesuai keinginanmu.”

Grup di mana Donghae bergabung memang belum lama debut. Jangankan mendapat puja-puji dari banyak penggemar, ada orang yang langsung mengenali ketika mereka berjalan di kawasan pertokoan pun sudah sangat mereka syukuri. Jangankan penghargaan dari acara musik, sebagian dari mereka bahkan masih harus menyisihkan uang saku untuk membeli album mereka sendiri untuk meningkatkan jumlah penjualan album. Donghae masih belum setenar yang diimpikan ayahnya, karena itu dia tidak rela ayahnya pergi tanpa memberinya kesempatan menunjukkan bahwa dia juga bisa menjadi seorang yang terkenal.

Seseorang menepuk punggungnya, membuat Donghae menoleh. Jungsoo dan beberapa rekannya yang lain hadir dengan menggunakan pakaian serba hitam sebagai penanda belasungkawa. Mereka memang berjanji akan segera menyusul setelah menunaikan jadwal di sebuah stasiun tv. Pria yang lebih tua itu langsung merangkul Donghae dan berusaha menghiburnya dengan kata-kata bijak, layaknya seorang kakak yang baik. Anggota Super Junior yang lain juga bergantian melakukan hal serupa, kemudian berkumpul di sebuah meja di sudut ruangan setelah mereka semua memberikan penghormatan terakhirnya kepada ayah Donghae.

Saat malam berangsur larut dan tamu-tamu sudah pulang, petugas pemakaman datang untuk membawa jenazah ayah Donghae untuk dikremasi. Ibunya kembali menitikkan air mata. Wanita paruh baya itu merangkul anak tertuanya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Berpisah dengan orang yang puluhan tahun menjadi teman hidup memang bukanlah hal mudah.

Donghae yang biasanya menjadi yang paling cengeng dalam keluarga itu berusaha menguatkan dirinya. Sambil mati-matian menahan air yang menggenang di pelupuk matanya, Donghae membungkuk untuk memberikan kecupan terakhir di wajah sang ayah. Bibirnya yang kering menempel di kening ayahnya yang dingin. Dalam hati, dia berjanji akan berjuang untuk mewujudkan mimpi pria itu. Dia akan menjadi seorang artis terkenal yang karyanya disenangi banyak orang. Dia akan memenangkan banyak penghargaan. Yang paling penting, dia akan memberi tahu semua orang bahwa di balik kesuksesannya, ada seorang ayah yang selalu menjadi sumber kekuatan baginya.

  1. Min Sunye

Donghae tahu betul rasanya kehilangan, karena itu dia merasa perlu hadir di samping gadis yang baru saja kehilangan ayahnya itu. Donghae sadar kehadirannya bersama Heechul tadi saja sudah cukup untuk memancing tanya banyak orang, mengingat beberapa waktu lalu berita kedekatannya dengan leader Wonder Girls itu sempat menjadi tajuk berita di media-media online selama hampir seminggu penuh. Dia bisa membayangkan spekulasi macam apa yang akan beredar di kalangan para penggemar jika mereka tahu bahwa setelah semua tamu pulang, dia kembali ke rumah duka untuk menemani Sunye.

Tempat itu sudah gelap dan sepi ketika Donghae tiba. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu di ruang tempat penyimpanan abu kremasi yang dibiarkan tetap menyala. Meja-meja yang tadi dikelilingi orang-orang berpakaian serba hitam yang saling bercengkerama kini sudah lengang. Hanya ada beberapa gelas yang tergeletak pasrah di kolong meja—yang sepertinya luput dibereskan oleh petugas kebersihan—serta seorang gadis yang mengenakan hanbok hitam sedang duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya yang ditekuk.

Donghae duduk di samping gadis itu dan menyodorkan dua buah kantung plastik kecil, satu berisi tteokbokki dalam kemasan sterofoam, satunya lagi berisi sebotol air mineral yang dibelinya di minimarket yang terletak tidak jauh dari asramanya.

“Kau pasti belum makan,” tebak Donghae.

Sunye hanya diam, hingga pria di dekatnya harus membuka sendiri makanan yang dibawanya. Suara gemerisik kantung yang beradu dengan lantai kayu memenuhi ruangan tempat mereka berada.

“Kau harus makan. Kalau tidak, kau bisa sakit,” bujuk Donghae. Dia menusuk kue beras pedas itu dengan garpu plastik kemudian mengangsurkannya ke gadis di sampingnya.

Gadis itu masih tak bergeming.

“Sunye-ya….”

Masih tidak ada tanggapan.

Donghae memperoleh dua kali lagi penolakan dari gadis itu sebelum akhirnya mengeluarkan rayuannya yang terakhir. “Aku membeli ini di toko langgananmu.”

Pria itu tahu betapa lemah kalimatnya yang terakhir. Rasa putus asa kadang membuatnya melontarkan kata-kata yang terdengar bodoh. Dia bahkan tidak yakin apakah anak kecil nan polos akan termakan oleh bujukan macam itu.

Tapi Sunye mungkin lebih polos dari seorang anak kecil. Berselang beberapa detik setelah Donghae mengucapkan kalimatnya yang terakhir, gadis itu akhirnya mengangkat kepala dan menoleh ke samping, mendapati Donghae menatapnya dengan penuh sayang, selayaknya kakak yang penuh perhatian. Tangan pria itu menggantung di udara. Jari-jarinya mengepit sebuah garpu putih kecil yang tertancap pada sebuah makanan yang Sunye kenal betul bentuknya.

Gadis itu menyambut kedatangan Donghae dengan sebaris ucapan terima kasih yang berusaha dibuat setegar mungkin. Di wajah yang hari itu sama sekali tidak dilapisi make up, tampak sebuah senyum hambar yang dipaksakan, yang diyakini Donghae juga gadis itu berikan kepada pelayat lain yang datang sebelum dirinya. Sunye menyondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Donghae dan membuka mulutnya untuk mengambil makanan yang disodorkan pria itu.

Sunye mengunyah makanannya sambil dalam hati bersyukur Donghae ada di sampingnya saat ini. Dia benar-benar butuh seseorang untuk dijadikan teman cerita. Dia sadar tidak mungkin meminta rekan-rekan satu grupnya untuk itu. Selain karena mereka harus kembali ke dorm untuk mempersiapkan diri menyelesaikan jadwal yang menunggu keesokan harinya, Sunye merasa dia hanya bisa membagi tangisnya dengan seseorang yang benar-benar mengerti rasanya kehilangan ayah.

Sunye menyadari tatapan penuh perhatian dari pria di sampingnya dan tahu bahwa sebaris kata terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua itu, tapi ketika makanan dalam mulutnya sudah dia telan, dia tetap mengucapkan satu kalimat itu.

“Aku senang kau datang lagi,” ujar gadis itu. Nada suaranya menyiratkan lelah yang diliputi kesedihan.

“Aku tidak akan setega itu meninggalkanmu seorang diri di saat seperti ini,” jawab Donghae. Dia menancapkan garpunya lagi ke dalam kotak makanan yang dia bawa dan menyuapkan isinya kepada Sunye.

Setelah menerima tiga lagi suapan dari Donghae, Sunye menggelengkan kepalanya, memberi tahu bahwa dia sudah tidak ingin makan lagi. Sepenuhnya paham, Donghae hanya memberi seulas senyum perhatian lalu meletakkan kembali tteokbokki-nya ke dalam kotak dan ganti mengangsurkan botol air mineral ke arah Sunye.

Orabeoni, apa rasanya memang semenyakitkan ini?” kata Sunye. Botol minuman dari Donghae sudah dia teguk isinya dan dia letakkan kembali ke lantai.

Donghae paham betul bahwa Sunye tidak sedang membicarakan rasa dari makanan yang baru saja dia cicipi, tidak juga rasa dari minuman yang dia telan.

“Sepertinya memang begitu,” Donghae menjawab. Pria itu meluruskan kakinya yang mulai terasa keram akibat duduk bersila beberapa lama, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menatap langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang. Sebagian ingatannya terbang ke masa ketika dia mengalami hal serupa yang dialami Sunye hari ini. “Ketika ayahku meninggal, semua orang meminta agar aku tegar. Tapi sebanyak apapun ucapan itu kudengar, rasa sedihku tidak juga mau hilang.”

“Ayahku sudah sakit sejak lama. Bukankah seharusnya aku sudah siap ketika dia akhirnya meninggalkanku?”

Donghae tidak menjawab pertanyaan itu, tahu betul bahwa Sunye pun melontarkannya tanpa mengharapkan jawaban. Sebagai ganti, dia hanya menoleh dan mendapati gadis itu sudah ikut bersandar di sampingnya, ikut-ikutan memandangi langit-langit ruangan yang sama sekali tidak terlihat menarik.

Keheningan yang cukup panjang kemudian menghampiri mereka. Donghae tidak tahu berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya dengan duduk bersebelahan tanpa mengucapkan satu kata pun. Untuk alasan yang tidak dia pahami, dia yakin keheningan ini justru lebih bisa menghibur Sunye.

Di ujung keheningan itu, sesuatu yang tidak pernah disangka oleh Donghae terjadi.

Min Sunye selalu berhasil melukiskan dirinya dengan citra gadis baik-baik, tapi malam itu, dia melakukan sebuah tindakan yang terlalu agresif untuk gadis setipe dirinya.

Donghae mengenal Sunye sebagai gadis yang selalu bisa membangun batas tak terlihat antara dirinya dengan para pria yang berusaha mendekatinya. Sejenis penolakan sopan yang membuat orang-orang tidak bisa tidak menghargai keputusannya. Bersama Donghae pun dia seperti itu. Sunye sudah jelas-jelas tahu bahwa pria itu menyukainya lebih dari seorang kakak kepada adiknya, ataupun seorang sunbae kepada hoobae-nya, tapi gadis itu tidak pernah menunjukkan tanda penerimaan. Bukan tanpa alasan gadis itu memilih untuk terus-terusan memanggilnya dengan sebutan orabeoni, bukannya menggunakan sebutan lebih lazim seperti oppa. Yah, di atas segalanya, sebutan yang terakhir itu memang terdengar lebih intim, dan Donghae terlalu memahami Sunye untuk tahu kedekatan seperti itu bukan yang dia inginkan.

Donghae butuh waktu setidaknya tiga detik untuk menemukan kembali kata-katanya yang sempat hilang akibat ciuman yang tiba-tiba dialamatkan Sunye ke pipinya. Hanya di pipi, dan itu jelas-jelas hanya bentuk ucapan terima kasih, tapi rona di wajah Donghae sudah menjelaskan seperti apa efek kontak fisik yang minim itu baginya. Ah, rasa suka yang sedang bersemi memang bisa membuat orang menjadi aneh.

Dengan membaringkan tubuh di lantai dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Donghae, Sunye sekali lagi melangkahi batas yang selama ini dia bangun.

“Aku lelah.”

Donghae tidak menyahut, hanya tangannya yang mulai bergerak membelai rambut gadis itu. Pelan, tenang, dan mendamaikan hati.

“Ini mungkin terdengar egois, tapi bisakah kau menemaniku sampai pagi?” pinta Sunye sebelum dia memejamkan mata.

Donghae tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan permintaan itu. “Tentu saja,” jawabnya ringan.

Managernya pasti akan menyambutnya dengan amarah yang meledak-ledak ketika dia pulang pagi nanti. Jungsoo sebagai seorang leader dan hyung yang baik juga pasti akan dipaksa untuk membungkuk-bungkuk meminta maaf karena telah membiarkan anggotanya meninggalkan dorm demi menginap bersama seorang gadis yang kebetulan sama-sama berstatus idola. Itu masih belum termasuk kemungkinan dia kedapatan kamera wartawan yang mungkin akan memberitakan hal ini dengan dramatisasi berlebihan. Tapi Donghae tidak peduli. Sekali ini saja, demi gadis yang dikasihinya, dia ingin melanggar aturan yang selama ini dia patuhi.

Rasa lelah membuat Sunye langsung menjejak alam mimpi tak lama setelah dia membaringkan tubuhnya. Donghae masih terus membelai rambut gadis itu sambil menggumamkan senandung yang diharapkannya bisa mengantarkan gadis itu pada mimpi indah.

Ketika jam menunjukkan hampir pukul empat pagi, Donghae terbangun. Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Melihat Sunye masih terbaring lelap di pangkuannya, pria itu menebak bahwa dia tidak tidur cukup lama. Mungkin hanya setengah jam, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk menjadi bekalnya menjalani rentetan kesibukan yang menunggunya hari ini.

Donghae memperhatikan wajah di pangkuannya sekali lagi. Dia pernah membaca komentar yang ditinggalkan seorang penggemar pada artikel yang membahas kedekatan dirinya dan Sunye. Katanya, Donghae dan Sunye tidak cocok karena Donghae terlihat begitu imut sementara Sunye terlihat terlalu dewasa. Komentar itu dibenarkan oleh beberapa penggemar lain. Mereka salah besar, pikir Donghae. Mereka belum pernah melihat betapa kekanakan wajah gadis itu ketika sedang tertidur. Gadis sok tegar ini sama sekali tidak bisa menyembunyikan kerapuhannya saat sedang tertidur. Dan untuk alasan itulah, Donghae merasa keinginannya untuk selalu ada di samping Sunye menjadi semakin besar.

Oleh sebuah dorongan yang berasal entah dari mana, pria itu menunduk untuk mencuri satu kecupan dari bibir Sunye, dari bibir seorang gadis yang tidak ingin menganggapnya lebih dari seorang kakak. Sekali ini saja, dia ingin melangkahi batasan itu. Sekali ini saja, dia ingin berhenti memainkan perannya sebagai seorang kakak yang baik. Sekali ini saja, dia ingin berlaku layaknya seorang pria bagi Min Sunye.

  1. Henry Lau

Peristiwa itu terjadi di atas panggung ketika Super Junior-M mengisi sebuah acara dalam rangka promo album terbaru mereka. Henry bilang, dia melakukannya semata demi menyenangkan penggemar, dan itu semua hanyalah wujud spontanitas, tapi Donghae masih belum bisa menerima alasan itu.

“Demi Tuhan, kau menciumku di bibir!” protes Donghae tak terima. Kedua tangannya disedekapkan di depan dada. Demi menjaga jarak dengan Henry yang duduk tepat di sampingnya, Donghae sengaja memojokkan tubuhnya lebih dekat dengan pintu van. Seolah belum cukup, dia juga melemparkan pandangannya ke arah jendela, mengesankan bahwa dia lebih menikmati menghabiskan waktunya dengan memperhatikan pemandangan jalan yang sama sekali tidak menarik dibanding mendengar permintaan maaf Henry.

Pria keturunan China itu hanya bisa menanggapi tindakan kekanakan hyung-nya dengan terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya yang jelas tidak gatal. Dia sudah kehabisan akal membujuk Donghae agar tidak membuat perbuatannya beberapa waktu lalu terkesan terlalu jahat, tapi Donghae dengan segala efek dramatisasi yang dimilikinya berhasil membuat dia berpikir bahwa keisengan yang dilakukannya adalah pilihan yang salah.

Hyung, itu semua terjadi begitu saja,” ujar Henry membela diri. Dia meraih lengan jas yang dikenakan Donghae dan menarik-narik pelan kain tebal itu.

“Kau tahu,” Siwon yang sejak tadi hanya menyimak drama di hadapannya mulai bersuara, “Donghae bersikap seperti itu demi menjaga perasaan Hyukjae. Kau menciumnya bahkan sebelum Hyukjae sempat melakukan hal itu.”

Candaan Siwon yang sebenarnya tidak lucu itu berhasil memancing tawa anggota Super Junior-M lain yang berada di dalam van. Donghae bahkan sempat mendengar manager mereka yang sebelumnya duduk tenang di bangku pengemudi ikut tertawa bersama yang lain. Hyukjae yang sejak tadi hanya diam karena sibuk bertukar pesan dengan kekasihnya lewat layanan pesan singkat akhirnya mendongak dari layar telepon genggam yang sedari tadi dia tatap karena mendengar namanya disebut-sebut.

“Kenapa kau melibatkan aku?” protesnya.

“Bagaimanapun juga, kau dan Donghae adalah pasangan paling harmonis di grup kita. Dan sekarang Henry menggoda pasanganmu itu di hadapan semua orang. Apa kau tidak cemburu?”

Hyukjae mendengus malas. “Oh, demi Tuhan, Choi Siwon. Kau ini benar-benar tidak lucu,” ujar pria itu lagi. Sesaat kemudian dia kembali sibuk dengan benda elektronik pintar dalam genggamannya, meninggalkan Donghae sendirian dengan dramanya.

“Seingatku tadi kau juga ikut tertawa, jadi kenapa sekarang kau mendadak heboh seperti itu?” Suara lain mulai terdengar. Kali ini berasal dari bangku paling belakang.

Donghae menoleh, mendapati Sungmin menatapnya dengan pandangan bertanya. Pria yang lebih muda itu hanya bisa diam. Dipikir-pikir lagi, yang dikatakan Sungmin memang benar. Sebelumnya, segila apapun candaan yang dilakukan anggota lain, dia selalu bisa menanggapi dengan sama gilanya. Lalu kenapa dia sekarang malah marah-marah?

“Kalian tidak tahu kalau kekasihnya sekarang begitu pencemburu? Donghae seperti itu karena takut kekasihnya marah-marah mendapati dia berciuman di depan orang banyak.” Kali ini giliran Kyuhyun yang bersuara. Dengan percaya diri, si magnae itu membeberkan rahasia yang baru diketahuinya beberapa hari belakangan. “Dia bahkan datang ke lokasi syuting untuk memastikan adegan ciuman Donghae dengan Seung Ah nuna bisa berakhir dengan sekali take.”

Semua perhatian langsung tertuju kepada Kyuhyun karena ucapannya barusan. Dalam hening yang berlangsung tidak terlalu lama, mereka mencari kesungguhan dari mata pria itu. Hyukjae bahkan meletakkan telepon genggamnya lalu menatap Kyuhyun dan Donghae bergantian. Informasi mengenai kekasih baru Donghae adalah hal baru baginya.

“Kau benar-benar berkencan dengan gadis itu?” Suara Hyukjae.

“Kita sedang membicarakan member girlband yang itu, bukan?” Suara Zhoumi.

“Kau tahu dari mana, Kyu?” Suara Sungmin.

“Hei, Kyu, kau yakin dengan apa yang kau katakan?” Suara Hyukjae lagi.

“Tidak kusangka setelah ditolak oleh Min Sunye, kau malah mengarahkan cintamu padanya.” Suara Siwon.

“Whoa! Jadi kau beralih dari satu leader ke leader lainnya?” Suara Zhoumi.

“Memangnya Donghae sudah pernah menyatakan perasaannya pada Sunye? Maksudku, benar-benar menyatakan, bukan hanya sekadar menggoda di acara televisi.” Suara Ryeowook.

“Ah, pantas saja dia bisa muncul menjadi cameo di episode terakhir dramamu. Sudah kuduga, dia tidak mungkin muncul begitu saja di sana.” Suara Siwon lagi.

“Hyung, jadi kau marah bukan karena aku menciummu, bukan?” Suara Henry.

“Ya, Lee Donghae, kau benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kau berkencan dan tidak memberitahukannya kepada kami?” Suara Hyukjae. Lagi.

Seisi van hitam itu bersahut-sahutan membahas tentang Donghae dan kekasih barunya, seakan-akan yang dibicarakan tidak sedang duduk bersama mereka di dalam kendaraan besar itu. Meski tidak ada yang secara jelas menyebutkan nama, mereka seolah sudah sangat paham kepada gadis mana kata dia harus mengacu.

Kecuali Ryeowook. Sampai semua rekannya lelah mengolok Donghae, dia masih belum mendapatkan ide tentang gadis yang berhasil mencuri perhatian hyung-nya itu. “Sebenarnya kita sedang membicarakan siapa?”

Tidak ada yang berbaik hati menjawab pertanyaan polos itu. Bahkan Donghae yang menjadi tokoh utama pun lebih memilih diam.

Salah satu yang unik dari setiap kisah percintaan Donghae adalah dia selalu menyukai seorang wanita jauh sebelum akhirnya berani mengungkapkan perasaannya. Pria itu merencanakan dengan seksama bagaimana kisah cintanya bersama seorang gadis harus berjalan. Bersama kekasih barunya, dia membuat pengecualian. Mereka berkenalan di lokasi syuting sebuah drama, menjalin kedekatan selama beberapa bulan, dan tak lama kemudian memutuskan memperjelas kedekatan itu dengan status kekasih. Hubungan yang nyaris tak direncanakan itu justru menjadi hubungan romantis terlama yang pernah dijalin donghae.

  1. Someone Who Comes Back

Salah satu hal menyenangkan dalam percintaan adalah ketika seseorang dari masa lalu datang kembali dengan rasa cinta yang sama banyak, tapi juga dibarengi oleh kedewasaan yang lebih banyak. Dalam kisah Donghae, seseorang itu menjelma dalam wujud wanita berparas anggun dengan senyum yang selalu tampak menyenangkan.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Meski selama kurun waktu itu mereka tidak sepenuhnya berhenti saling berkirim kabar, namun pertemuan hari ini tetap saja menghadirkan letupan perasaan rindu di hati keduanya. Sang gadis menutupi perasaan itu dengan tanpa henti mempermainkan sedotan dalam gelas berembun di depannya. Minuman bening dalam gelas tinggi itu dia aduk-aduk hingga menimbulkan denting halus kala bongkahan es kecil di dalamnya menabrak lapisan kaca gelas tersebut. Donghae, di sisi lain, melakukannya dengan lebih banyak berceloteh, berharap dengan setiap kata yang diucapkannya, rasa rindu itu bisa menguap sedikit demi sedikit.

“Kudengar kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya,” Donghae membuka percakapan.

Really, Lee Donghae?” gadis itu menautkan alis dan menatap lawan bicaranya tak percaya. “Kita bertemu lagi setelah beberapa tahun dan yang keluar dari mulutmu adalah hal itu?”

Donghae mengangkat bahunya. Tersenyum jahil, pria itu menjawab, “Itu hal yang paling menyita rasa ingin tahuku.”

Gadis itu berdecak. Tatapannya mengejek, mengingatkan Donghae pada Heechul. “Kurasa pertanyaanmu itu tidak lagi membutuhkan jawaban dariku. Kecuali kalau pemberitaan di media kau anggap masih belum cukup,” ujar gadis itu sebelum menundukkan kepala untuk menyeruput minuman yang sejak tadi hanya dia permainkan.

“Kurang puas rasanya kalau tidak mendengarnya langsung darimu.”

Gadis itu mendongak demi menatap Donghae lebih jelas. Pria itu duduk di hadapannya, menunggu jawaban dengan kepercayaan diri yang jauh lebih banyak dibanding yang dulu diingatnya pernah dimiliki oleh pria itu. Donghae yang dulu dia kenal tidak akan pernah membuatnya tersudut seperti sekarang. Dulu, gadis itulah yang selalu menjadi satu-satunya sosok intimidatif dalam hubungan mereka. Tapi sepertinya waktu memang punya banyak daya untuk mengubah seseorang.

Gadis itu melemparkan pandangannya ke arah jendela. Jari-jarinya kembali bergerak memutar mempermainkan sedotan. Dia membiarkan hening berlangsung di antara mereka selama beberapa saat lebih lama sebelum berujar pelan, “Iya, hubungan kami sudah berakhir. Kau bahagia?”

Donghae tertawa renyah. Suara tawanya itu sama sekali tidak bisa mengaburkan rasa bahagia yang dia rasakan. Jahat, memang, karena beberapa orang mungkin akan menganggap dia berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi jika memang bahagianya harus dibangun di atas serpihan hubungan gadis itu dengan mantan kekasihnya, maka Donghae tidak akan berkeberatan meski sedikit.

“Kau mencariku. Itu yang membuatku bahagia.” Pria itu berujar setelah mengakhiri pertunjukan tawanya yang berlangsung sepersekian menit.

Gadis di depan Donghae tidak menjawab. Meski dia tidak bisa menampik kebenaran yang terimplikasi dari kata-kata Donghae barusan, tapi gadis itu masih cukup sombong untuk tidak terang-terangan mengakui isi hatinya.

Dipikir-pikir lagi, kenapa Donghae? Dia bukannya kekurangan penggemar. Gadis itu cukup percaya diri untuk mengklaim sejumlah orang yang akan dengan senang hati menemaninya di kafe ini untuk berbincang. Mereka mungkin akan bertukar candaan, dia akan menampilkan tawa terbaiknya sebagai tanggapan dari kelakar yang dilontarkan lawan bicaranya, dan pada akhirnya dia akan menghabiskan satu lagi hari tanpa memikirkan mantan kekasihnya. Pertanyaannya adalah, kenapa di antara sekian nama yang mungkin muncul di benaknya, dorongan untuk menghubungi seorang Lee Donghae yang tidak terlalu pandai menceriakan suasana justru jadi yang paling kuat? Jawabannya hanya satu, dan gadis itu enggan membenarkannya.

“Hei, kau ingat lagu ini?” Donghae tiba-tiba berujar, membuat gadis itu memfokuskan pendengarannya pada lagu yang sedang melantun dari pengeras suara yang diletakkan di pojok-pojok ruangan.

Kafe tempat mereka bertemu siang ini sedang memutar lagu-lagu lawas sebuah boyband Irlandia yang terkenal lebih dari satu dekade yang lalu. Dulu, setiap kali dia dan Donghae berkesempatan mencuri waktu untuk bertemu di suatu tempat, mereka sangat sering mengiringi obrolan dengan lagu-lagu tersebut melalui pemutar kaset portabel.  Satu earphone berdua, sebelah kiri untuknya dan sebelah lagi untuk Donghae.

Melalui satu lagu, Donghae pernah menyatakan perasaan kepada gadis itu. Lagu yang sama seperti yang dia dengar saat ini.

“Kau bahkan sudah tidak menggunakan bahasa formal saat berbicara denganku,” gadis itu berujar tak nyambung, sama sekali tidak berniat menimpali ucapan Donghae tentang lagu. Matanya masih lekat pada pemandangan yang tersaji di balik jendela kaca yang membatasi kafe tempatnya berada dengan trotoar yang dilalui para pejalan kaki. Hal seperti itu memang sama sekali tidak menarik, tapi setidaknya itu jauh lebih baik dibanding menatap wajah Donghae. Entah kenapa, dia merasa ada rona yang siap-siap merambat di wajahnya jika dia menatap langsung pria yang telah dikenalnya sejak bertahun-tahun lalu itu.

“Tidakkah kau berpikir bahwa cara berbicara seperti itu hanya akan menciptakan jarak antara kita? Bicara formal, maksudku.”

Gadis itu akhirnya menoleh. Sungguh, teori konyol dari mana lagi yang baru saja diucapkan oleh pria itu?

“Jangan bilang kalau Hyukjae yang mengajarimu,” tuduh gadis itu.

Donghae tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dulu dia memang terlalu sering memakan mentah-mentah petuah konyol rekan satu grupnya itu, tapi yang barusan dia ucapkan murni filosofi yang dihasilkan dari otaknya sendiri.

“Memang benar, kan? Gaya bicara formal hanya kau pakai untuk bercakap dengan seorang yang kau anggap tidak terlalu dekat denganmu.”

“Lalu menurutmu kita sedekat apa?”

Pria itu mengangkat bahunya sebelum menjawab, “Setidaknya cukup dekat hingga memungkinkanmu memilihku untuk menghapus bayangan mantan kekasihmu yang brengsek itu.”

Sang gadis mendengus, berusaha menyamarkan rasa malunya dengan melempar tatapan meremehkan ke arah Donghae. Ah, berlaku sombong benar-benar menjadi keahliannya belakangan ini.

“Dan kau berpikir kau akan berhasil?”

Donghae tertawa penuh kemenangan. Ketika tadi pagi dia membuka kotak masuk pesannya dan mendapati ajakan gadis itu untuk bertemu, pemikiran bahwa gadis itu akhirnya akan menawarkannya kesempatan yang dulu selalu diidam-idamkannya—kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar sahabat—memang sempat terlintas di benak Donghae.  Sampai beberapa saat tadi, ide itu hanyalah sebatas pemikiran yang dilambungkan terlalu tinggi oleh harapan. Tapi jawaban gadis itu barusan sudah membenarkan dugaannya.

Tawa Donghae membuat sang gadis menyadari implikasi dari pertanyaan terakhirnya. Dia merasa benar-benar bodoh. Sempat terpikir oleh gadis itu kalau kebodohan Donghae menular kepadanya. Gelagapan, dia mencoba meralat perkataannya. “Maksudku—“

Kalimat yang dimaksudkan sebagai pembelaan diri itu tidak selesai. Donghae keburu berdiri dan meraih tangan feminin gadis itu, mengajaknya untuk ikut berdiri.

“Ayo kita ke Namsan,” ajak Donghae.

“Eh?”

“Aku selalu ingin melakukan kencan pertamaku denganmu di tempat itu.”

“Kencan?” sahut gadis itu. Nadanya merupakan perpaduan bingung dan defensif. “Memangnya sejak kapan kita berkencan?”

“Sejak hari ini,” jawab Donghae. Senyum yang terlukis di wajahnya sangat lebar.

“Apa kau tidak ingin bertanya pendapatku dulu? Bagaimana mungkin kau menyebutnya kencan kalau aku tidak pernah bilang setuju?”

“Aku sudah melakukannya bertahun-tahun lalu, Noona. Dengan lagu tadi, kau ingat?”

Gadis itu mendengus, sekali lagi berusaha menutupi perasaannya dengan mempertahankan kesombongan di wajahnya.

“Dulu aku selalu meminta jawaban. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi butuh kata iya darimu, karena tanpa itu pun aku sudah tahu isi hatimu.”

Gadis yang dipanggil Donghae dengan sebutan noona itu hanya bisa menatap pria di depannya dengan ekspresi yang dibuat seringan mungkin. Donghae-nya yang dulu ternyata benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi Donghae yang bimbang, pemalu, serta peragu. Yang ada sekarang adalah Donghae yang bisa dengan lihai membaca keadaan dan mengambil tindakan atas apa yang diketahuinya. Untuk beberapa alasan, dia menyukai perubahan itu. Menurut, gadis itu meraih tasnya dan melangkah mengikuti Donghae.

Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam di menara tertinggi yang menjadi ikon Kota Seoul itu. Berkali-kali Donghae mendapat gerutuan dan cibiran dari gadis yang secara sepihak telah diklaimnya sebagai kekasih. Donghae terlalu norak lah, Donghae terlalu kekanakan lah, dan berbagai celaan lain yang tidak tanggung-tanggung dia ucapkan secara lantang di depan banyak orang. Tapi meski mulutnya mengeluh, gadis itu tidak bisa menutupi senyum bahagianya saat Donghae membawanya ketembok khusus yang disediakan pihak pengurus gedung, mengaitkan sebuah gembok bertuliskan nama mereka berdua di sana, kemudian melemparkan kuncinya ke udara.

Donghae mengantar gadis itu kembali ke tempat tinggalnya ketika malam beranjak larut. Setelah berjanji akan bertemu lagi keesokan harinya, mereka saling berpamitan.

Donghae teringat, dulu, ada selang waktu di mana di setiap akhir pertemuan mereka, keduanya akan saling bertukar kecupan manis di pipi atau kening, berharap hangatnya perasaan yang diakibatkan oleh kulit yang bersentuhan itu akan bertahan sampai mereka bisa bertemu lagi. Itu terjadi saat mereka masih sama-sama buta akan daya magis yang bisa dibawa oleh perasaan mereka, hingga semua seolah harus dituangkan lewat kontak fisik berlebihan. Kini Donghae sudah tidak sepolos itu. Dia tahu tidak ada gunanya terburu-buru. Ada satu hal yang kini dia yakini pasti: sebuah hal yang istimewa juga butuh dilakukan di waktu yang istimewa. Dan sekarang bukan saatnya.

end.

Author’s Note:

  • Cerita ini terinspirasi dari cerpen berjudul Setengah Lusin Ciuman Pertama yang ada dalam buku Kukila karya M. Aan Mansyur.
  • Awalnya saya berniat menulis cerita ini dengan judul Seven First Kisses, dan di antara nama-nama yang disebutkan di dalam cerita, seharusnya ada satu part khusus untuk Yoon Seung Ah. Afterall, kalau bicara soal kissing, dia satu-satunya orang yang sudah pasti pernah melakukan itu dengan Donghae. Tapi saya tidak dapat feel-nya *author macam apa inii?!!!* Sempat juga saya ingin memasukkan nama Nam Jihyun di sana, because hey, Jihae has happened, hasn’t it? Tapi karena part-nya Henry terlalu pendek, and I’m dying to mention that stolen kiss he did, akhirnya kisah Seung-Ah, Jihyun, dan Henry saya blend di sub-judul kelima. Maaf kalo jadinya malah aneh.
  • Terima kasih banyak buat dyzhetta dari Cafe Poster untuk dua poster cantik ini:sizz
  • siz
Advertisements

5 thoughts on “Six First Kisses

  1. Ff ini mengaduk2 perasaan banget deh. Dari yang sedih sampe bikin senyum2 sendiri ada di sini. Aku paling suka yg cerita donghae sm ayahnya. Yg sama sunye sm jessica juga bagus. Trus kalo dr cara penceritaannya aku suka yang sama dara. Dan part henry.. Aku jadi kebayang gimana absurdnya perbincangan anak2 suju setiap kali mereka kumpul. Bikin kangen..
    Yang terakhir itu, si wanita dari masa lalu… Dara kah? Aku sih kebayangnya dia. Sama2 dipanggil noona pula. Bener gak sih? Haha.. Aku sotoy yah. Haha..

  2. Aduh kak, posternya gitu amat. Lee donghae dengan tatapan nakal seperti itu adalah musibah terbesar buat hatiku yang dirundung rindu ini *apasih*
    Aku baru tahu lho kalau nama bapaknya donghae itu lee seunghyun. Fangirl macam apa aku ini. Pas baca part buat bapak itu, aku jadi ikutan sedih. Kebayang donghae yang nangis2 nyebutin ayahnya pas dapat penghargaan pertama.
    Ini disusun berdasarkan aturan waktu kah? Kalo sama henry settingannya sekitaran tahun 2012, berarti ada kemungkinan someone who comes back itu si mbak sepuluh tahun dong?

  3. Dara! Yang terakhir itu pasti dara deh.. *heboh*

    Sebagai seorang mantan sunhae shipper, aku favoritin bagian yg sama sunye. Yah, pahit gimana gitu kisah mereka.

    Somehow aku ngerasa cerita ini real. Kalaupun ada yang ditambahin, paling cuma dikit. Aku berpikir mungkin kejadian seperti ini, biarpun orangnya tidak persis sama, tapi sepertinya memang pernah terjadi di kehidupan donghae yg sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s