six-first-kisses-donghae

Sixth Kiss: Someone Who Comes Back

Salah satu hal menyenangkan dalam percintaan adalah ketika seseorang dari masa lalu datang kembali dengan rasa cinta yang sama banyak, tapi juga dibarengi oleh kedewasaan yang lebih banyak. Dalam kisah Donghae, seseorang itu menjelma dalam wujud wanita berparas anggun dengan senyum yang selalu tampak menyenangkan.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Meski selama kurun waktu itu mereka tidak sepenuhnya berhenti saling berkirim kabar, namun pertemuan hari ini tetap saja menghadirkan letupan perasaan rindu di hati keduanya. Sang gadis menutupi perasaan itu dengan tanpa henti mempermainkan sedotan dalam gelas berembun di depannya. Minuman bening dalam gelas tinggi itu dia aduk-aduk hingga menimbulkan denting halus kala bongkahan es kecil di dalamnya menabrak lapisan kaca gelas tersebut. Donghae, di sisi lain, melakukannya dengan lebih banyak berceloteh, berharap dengan setiap kata yang diucapkannya, rasa rindu itu bisa menguap sedikit demi sedikit.

“Kudengar kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya,” Donghae membuka percakapan.

Really, Lee Donghae?” gadis itu menautkan alis dan menatap lawan bicaranya tak percaya. “Kita bertemu lagi setelah beberapa tahun dan yang keluar dari mulutmu adalah hal itu?”

Donghae mengangkat bahunya. Tersenyum jahil, pria itu menjawab, “Itu hal yang paling menyita rasa ingin tahuku.”

Gadis itu berdecak. Tatapannya mengejek, mengingatkan Donghae pada Heechul. “Kurasa pertanyaanmu itu tidak lagi membutuhkan jawaban dariku. Kecuali kalau pemberitaan di media kau anggap masih belum cukup,” ujar gadis itu sebelum menundukkan kepala untuk menyeruput minuman yang sejak tadi hanya dia permainkan.

“Kurang puas rasanya kalau tidak mendengarnya langsung darimu.”

Gadis itu mendongak demi menatap Donghae lebih jelas. Pria itu duduk di hadapannya, menunggu jawaban dengan kepercayaan diri yang jauh lebih banyak dibanding yang dulu diingatnya pernah dimiliki oleh pria itu. Donghae yang dulu dia kenal tidak akan pernah membuatnya tersudut seperti sekarang. Dulu, gadis itulah yang selalu menjadi satu-satunya sosok intimidatif dalam hubungan mereka. Tapi sepertinya waktu memang punya banyak daya untuk mengubah seseorang.

Gadis itu melemparkan pandangannya ke arah jendela. Jari-jarinya kembali bergerak memutar mempermainkan sedotan. Dia membiarkan hening berlangsung di antara mereka selama beberapa saat lebih lama sebelum berujar pelan, “Iya, hubungan kami sudah berakhir. Kau bahagia?”

Donghae tertawa renyah. Suara tawanya itu sama sekali tidak bisa mengaburkan rasa bahagia yang dia rasakan. Jahat, memang, karena beberapa orang mungkin akan menganggap dia berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi jika memang bahagianya harus dibangun di atas serpihan hubungan gadis itu dengan mantan kekasihnya, maka Donghae tidak akan berkeberatan meski sedikit.

“Kau mencariku. Itu yang membuatku bahagia.” Pria itu berujar setelah mengakhiri pertunjukan tawanya yang berlangsung sepersekian menit.

Gadis di depan Donghae tidak menjawab. Meski dia tidak bisa menampik kebenaran yang terimplikasi dari kata-kata Donghae barusan, tapi gadis itu masih cukup sombong untuk tidak terang-terangan mengakui isi hatinya.

Dipikir-pikir lagi, kenapa Donghae? Dia bukannya kekurangan penggemar. Gadis itu cukup percaya diri untuk mengklaim sejumlah orang yang akan dengan senang hati menemaninya di kafe ini untuk berbincang. Mereka mungkin akan bertukar candaan, dia akan menampilkan tawa terbaiknya sebagai tanggapan dari kelakar yang dilontarkan lawan bicaranya, dan pada akhirnya dia akan menghabiskan satu lagi hari tanpa memikirkan mantan kekasihnya. Pertanyaannya adalah, kenapa di antara sekian nama yang mungkin muncul di benaknya, dorongan untuk menghubungi seorang Lee Donghae yang tidak terlalu pandai menceriakan suasana justru jadi yang paling kuat? Jawabannya hanya satu, dan gadis itu enggan membenarkannya.

“Hei, kau ingat lagu ini?” Donghae tiba-tiba berujar, membuat gadis itu memfokuskan pendengarannya pada lagu yang sedang melantun dari pengeras suara yang diletakkan di pojok-pojok ruangan.

Kafe tempat mereka bertemu siang ini sedang memutar lagu-lagu lawas sebuah boyband Irlandia yang terkenal lebih dari satu dekade yang lalu. Dulu, setiap kali dia dan Donghae berkesempatan mencuri waktu untuk bertemu di suatu tempat, mereka sangat sering mengiringi obrolan dengan lagu-lagu tersebut melalui pemutar kaset portabel.  Satu earphone berdua, sebelah kiri untuknya dan sebelah lagi untuk Donghae.

Melalui satu lagu, Donghae pernah menyatakan perasaan kepada gadis itu. Lagu yang sama seperti yang dia dengar saat ini.

“Kau bahkan sudah tidak menggunakan bahasa formal saat berbicara denganku,” gadis itu berujar tak nyambung, sama sekali tidak berniat menimpali ucapan Donghae tentang lagu. Matanya masih lekat pada pemandangan yang tersaji di balik jendela kaca yang membatasi kafe tempatnya berada dengan trotoar yang dilalui para pejalan kaki. Hal seperti itu memang sama sekali tidak menarik, tapi setidaknya itu jauh lebih baik dibanding menatap wajah Donghae. Entah kenapa, dia merasa ada rona yang siap-siap merambat di wajahnya jika dia menatap langsung pria yang telah dikenalnya sejak bertahun-tahun lalu itu.

“Tidakkah kau berpikir bahwa cara berbicara seperti itu hanya akan menciptakan jarak antara kita? Bicara formal, maksudku.”

Gadis itu akhirnya menoleh. Sungguh, teori konyol dari mana lagi yang baru saja diucapkan oleh pria itu?

“Jangan bilang kalau Hyukjae yang mengajarimu,” tuduh gadis itu.

Donghae tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dulu dia memang terlalu sering memakan mentah-mentah petuah konyol rekan satu grupnya itu, tapi yang barusan dia ucapkan murni filosofi yang dihasilkan dari otaknya sendiri.

“Memang benar, kan? Gaya bicara formal hanya kau pakai untuk bercakap dengan seorang yang kau anggap tidak terlalu dekat denganmu.”

“Lalu menurutmu kita sedekat apa?”

Pria itu mengangkat bahunya sebelum menjawab, “Setidaknya cukup dekat hingga memungkinkanmu memilihku untuk menghapus bayangan mantan kekasihmu yang brengsek itu.”

Sang gadis mendengus, berusaha menyamarkan rasa malunya dengan melempar tatapan meremehkan ke arah Donghae. Ah, berlaku sombong benar-benar menjadi keahliannya belakangan ini.

“Dan kau berpikir kau akan berhasil?”

Donghae tertawa penuh kemenangan. Ketika tadi pagi dia membuka kotak masuk pesannya dan mendapati ajakan gadis itu untuk bertemu, pemikiran bahwa gadis itu akhirnya akan menawarkannya kesempatan yang dulu selalu diidam-idamkannya—kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar sahabat—memang sempat terlintas di benak Donghae.  Sampai beberapa saat tadi, ide itu hanyalah sebatas pemikiran yang dilambungkan terlalu tinggi oleh harapan. Tapi jawaban gadis itu barusan sudah membenarkan dugaannya.

Tawa Donghae membuat sang gadis menyadari implikasi dari pertanyaan terakhirnya. Dia merasa benar-benar bodoh. Sempat terpikir oleh gadis itu kalau kebodohan Donghae menular kepadanya. Gelagapan, dia mencoba meralat perkataannya. “Maksudku—“

Kalimat yang dimaksudkan sebagai pembelaan diri itu tidak selesai. Donghae keburu berdiri dan meraih tangan feminin gadis itu, mengajaknya untuk ikut berdiri.

“Ayo kita ke Namsan,” ajak Donghae.

“Eh?”

“Aku selalu ingin melakukan kencan pertamaku denganmu di tempat itu.”

“Kencan?” sahut gadis itu. Nadanya merupakan perpaduan bingung dan defensif. “Memangnya sejak kapan kita berkencan?”

“Sejak hari ini,” jawab Donghae. Senyum yang terlukis di wajahnya sangat lebar.

“Apa kau tidak ingin bertanya pendapatku dulu? Bagaimana mungkin kau menyebutnya kencan kalau aku tidak pernah bilang setuju?”

“Aku sudah melakukannya bertahun-tahun lalu, Noona. Dengan lagu tadi, kau ingat?”

Gadis itu mendengus, sekali lagi berusaha menutupi perasaannya dengan mempertahankan kesombongan di wajahnya.

“Dulu aku selalu meminta jawaban. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi butuh kata iya darimu, karena tanpa itu pun aku sudah tahu isi hatimu.”

Gadis yang dipanggil Donghae dengan sebutan noona itu hanya bisa menatap pria di depannya dengan ekspresi yang dibuat seringan mungkin. Donghae-nya yang dulu ternyata benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi Donghae yang bimbang, pemalu, serta peragu. Yang ada sekarang adalah Donghae yang bisa dengan lihai membaca keadaan dan mengambil tindakan atas apa yang diketahuinya. Untuk beberapa alasan, dia menyukai perubahan itu. Menurut, gadis itu meraih tasnya dan melangkah mengikuti Donghae.

Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam di menara tertinggi yang menjadi ikon Kota Seoul itu. Berkali-kali Donghae mendapat gerutuan dan cibiran dari gadis yang secara sepihak telah diklaimnya sebagai kekasih. Donghae terlalu norak lah, Donghae terlalu kekanakan lah, dan berbagai celaan lain yang tidak tanggung-tanggung dia ucapkan secara lantang di depan banyak orang. Tapi meski mulutnya mengeluh, gadis itu tidak bisa menutupi senyum bahagianya saat Donghae membawanya ketembok khusus yang disediakan pihak pengurus gedung, mengaitkan sebuah gembok bertuliskan nama mereka berdua di sana, kemudian melemparkan kuncinya ke udara.

Donghae mengantar gadis itu kembali ke tempat tinggalnya ketika malam beranjak larut. Setelah berjanji akan bertemu lagi keesokan harinya, mereka saling berpamitan.

Donghae teringat, dulu, ada selang waktu di mana di setiap akhir pertemuan mereka, keduanya akan saling bertukar kecupan manis di pipi atau kening, berharap hangatnya perasaan yang diakibatkan oleh kulit yang bersentuhan itu akan bertahan sampai mereka bisa bertemu lagi. Itu terjadi saat mereka masih sama-sama buta akan daya magis yang bisa dibawa oleh perasaan mereka, hingga semua seolah harus dituangkan lewat kontak fisik berlebihan. Kini Donghae sudah tidak sepolos itu. Dia tahu tidak ada gunanya terburu-buru. Ada satu hal yang kini dia yakini pasti: sebuah hal yang istimewa juga butuh dilakukan di waktu yang istimewa. Dan sekarang bukan saatnya.

end.

Author’s Note:

  • Cerita ini terinspirasi dari cerpen berjudul Setengah Lusin Ciuman Pertama yang ada dalam buku Kukila karya M. Aan Mansyur.
  • Awalnya saya berniat menulis cerita ini dengan judul Seven First Kisses, dan di antara nama-nama yang disebutkan di dalam cerita, seharusnya ada satu part khusus untuk Yoon Seung Ah. Afterall, kalau bicara soal kissing, dia satu-satunya orang yang sudah pasti pernah melakukan itu dengan Donghae. Tapi saya tidak dapat feel-nya *author macam apa inii?!!!* Sempat juga saya ingin memasukkan nama Nam Jihyun di sana, because hey, Jihae has happened, hasn’t it? Tapi karena part-nya Henry terlalu pendek, and I’m dying to mention that stolen kiss he did, akhirnya kisah Seung-Ah, Jihyun, dan Henry saya blend di sub-judul kelima. Maaf kalo jadinya malah aneh.
Advertisements

5 thoughts on “Six First Kisses – Chapter 6 [END]

  1. Ff ini mengaduk2 perasaan banget deh. Dari yang sedih sampe bikin senyum2 sendiri ada di sini. Aku paling suka yg cerita donghae sm ayahnya. Yg sama sunye sm jessica juga bagus. Trus kalo dr cara penceritaannya aku suka yang sama dara. Dan part henry.. Aku jadi kebayang gimana absurdnya perbincangan anak2 suju setiap kali mereka kumpul. Bikin kangen..
    Yang terakhir itu, si wanita dari masa lalu… Dara kah? Aku sih kebayangnya dia. Sama2 dipanggil noona pula. Bener gak sih? Haha.. Aku sotoy yah. Haha..

  2. Aduh kak, posternya gitu amat. Lee donghae dengan tatapan nakal seperti itu adalah musibah terbesar buat hatiku yang dirundung rindu ini *apasih*
    Aku baru tahu lho kalau nama bapaknya donghae itu lee seunghyun. Fangirl macam apa aku ini. Pas baca part buat bapak itu, aku jadi ikutan sedih. Kebayang donghae yang nangis2 nyebutin ayahnya pas dapat penghargaan pertama.
    Ini disusun berdasarkan aturan waktu kah? Kalo sama henry settingannya sekitaran tahun 2012, berarti ada kemungkinan someone who comes back itu si mbak sepuluh tahun dong?

  3. Dara! Yang terakhir itu pasti dara deh.. *heboh*

    Sebagai seorang mantan sunhae shipper, aku favoritin bagian yg sama sunye. Yah, pahit gimana gitu kisah mereka.

    Somehow aku ngerasa cerita ini real. Kalaupun ada yang ditambahin, paling cuma dikit. Aku berpikir mungkin kejadian seperti ini, biarpun orangnya tidak persis sama, tapi sepertinya memang pernah terjadi di kehidupan donghae yg sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s