six-first-kisses-donghae

Fourth Kiss: Min Sunye

Donghae tahu betul rasanya kehilangan, karena itu dia merasa perlu hadir di samping gadis yang baru saja kehilangan ayahnya itu. Donghae sadar kehadirannya bersama Heechul tadi saja sudah cukup untuk memancing tanya banyak orang, mengingat beberapa waktu lalu berita kedekatannya dengan leader Wonder Girls itu sempat menjadi tajuk berita di media-media online selama hampir seminggu penuh. Dia bisa membayangkan spekulasi macam apa yang akan beredar di kalangan para penggemar jika mereka tahu bahwa setelah semua tamu pulang, dia kembali ke rumah duka untuk menemani Sunye.

Tempat itu sudah gelap dan sepi ketika Donghae tiba. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu di ruang tempat penyimpanan abu kremasi yang dibiarkan tetap menyala. Meja-meja yang tadi dikelilingi orang-orang berpakaian serba hitam yang saling bercengkerama kini sudah lengang. Hanya ada beberapa gelas yang tergeletak pasrah di kolong meja—yang sepertinya luput dibereskan oleh petugas kebersihan—serta seorang gadis yang mengenakan hanbok hitam sedang duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya yang ditekuk.

Donghae duduk di samping gadis itu dan menyodorkan dua buah kantung plastik kecil, satu berisi tteokbokki dalam kemasan sterofoam, satunya lagi berisi sebotol air mineral yang dibelinya di minimarket yang terletak tidak jauh dari asramanya.

“Kau pasti belum makan,” tebak Donghae.

Sunye hanya diam, hingga pria di dekatnya harus membuka sendiri makanan yang dibawanya. Suara gemerisik kantung yang beradu dengan lantai kayu memenuhi ruangan tempat mereka berada.

“Kau harus makan. Kalau tidak, kau bisa sakit,” bujuk Donghae. Dia menusuk kue beras pedas itu dengan garpu plastik kemudian mengangsurkannya ke gadis di sampingnya.

Gadis itu masih tak bergeming.

“Sunye-ya….”

Masih tidak ada tanggapan.

Donghae memperoleh dua kali lagi penolakan dari gadis itu sebelum akhirnya mengeluarkan rayuannya yang terakhir. “Aku membeli ini di toko langgananmu.”

Pria itu tahu betapa lemah kalimatnya yang terakhir. Rasa putus asa kadang membuatnya melontarkan kata-kata yang terdengar bodoh. Dia bahkan tidak yakin apakah anak kecil nan polos akan termakan oleh bujukan macam itu.

Tapi Sunye mungkin lebih polos dari seorang anak kecil. Berselang beberapa detik setelah Donghae mengucapkan kalimatnya yang terakhir, gadis itu akhirnya mengangkat kepala dan menoleh ke samping, mendapati Donghae menatapnya dengan penuh sayang, selayaknya kakak yang penuh perhatian. Tangan pria itu menggantung di udara. Jari-jarinya mengepit sebuah garpu putih kecil yang tertancap pada sebuah makanan yang Sunye kenal betul bentuknya.

Gadis itu menyambut kedatangan Donghae dengan sebaris ucapan terima kasih yang berusaha dibuat setegar mungkin. Di wajah yang hari itu sama sekali tidak dilapisi make up, tampak sebuah senyum hambar yang dipaksakan, yang diyakini Donghae juga gadis itu berikan kepada pelayat lain yang datang sebelum dirinya. Sunye menyondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Donghae dan membuka mulutnya untuk mengambil makanan yang disodorkan pria itu.

Sunye mengunyah makanannya sambil dalam hati bersyukur Donghae ada di sampingnya saat ini. Dia benar-benar butuh seseorang untuk dijadikan teman cerita. Dia sadar tidak mungkin meminta rekan-rekan satu grupnya untuk itu. Selain karena mereka harus kembali ke dorm untuk mempersiapkan diri menyelesaikan jadwal yang menunggu keesokan harinya, Sunye merasa dia hanya bisa membagi tangisnya dengan seseorang yang benar-benar mengerti rasanya kehilangan ayah.

Sunye menyadari tatapan penuh perhatian dari pria di sampingnya dan tahu bahwa sebaris kata terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua itu, tapi ketika makanan dalam mulutnya sudah dia telan, dia tetap mengucapkan satu kalimat itu.

“Aku senang kau datang lagi,” ujar gadis itu. Nada suaranya menyiratkan lelah yang diliputi kesedihan.

“Aku tidak akan setega itu meninggalkanmu seorang diri di saat seperti ini,” jawab Donghae. Dia menancapkan garpunya lagi ke dalam kotak makanan yang dia bawa dan menyuapkan isinya kepada Sunye.

Setelah menerima tiga lagi suapan dari Donghae, Sunye menggelengkan kepalanya, memberi tahu bahwa dia sudah tidak ingin makan lagi. Sepenuhnya paham, Donghae hanya memberi seulas senyum perhatian lalu meletakkan kembali tteokbokki-nya ke dalam kotak dan ganti mengangsurkan botol air mineral ke arah Sunye.

Orabeoni, apa rasanya memang semenyakitkan ini?” kata Sunye. Botol minuman dari Donghae sudah dia teguk isinya dan dia letakkan kembali ke lantai.

Donghae paham betul bahwa Sunye tidak sedang membicarakan rasa dari makanan yang baru saja dia cicipi, tidak juga rasa dari minuman yang dia telan.

“Sepertinya memang begitu,” Donghae menjawab. Pria itu meluruskan kakinya yang mulai terasa keram akibat duduk bersila beberapa lama, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menatap langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang. Sebagian ingatannya terbang ke masa ketika dia mengalami hal serupa yang dialami Sunye hari ini. “Ketika ayahku meninggal, semua orang meminta agar aku tegar. Tapi sebanyak apapun ucapan itu kudengar, rasa sedihku tidak juga mau hilang.”

“Ayahku sudah sakit sejak lama. Bukankah seharusnya aku sudah siap ketika dia akhirnya meninggalkanku?”

Donghae tidak menjawab pertanyaan itu, tahu betul bahwa Sunye pun melontarkannya tanpa mengharapkan jawaban. Sebagai ganti, dia hanya menoleh dan mendapati gadis itu sudah ikut bersandar di sampingnya, ikut-ikutan memandangi langit-langit ruangan yang sama sekali tidak terlihat menarik.

Keheningan yang cukup panjang kemudian menghampiri mereka. Donghae tidak tahu berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya dengan duduk bersebelahan tanpa mengucapkan satu kata pun. Untuk alasan yang tidak dia pahami, dia yakin keheningan ini justru lebih bisa menghibur Sunye.

Di ujung keheningan itu, sesuatu yang tidak pernah disangka oleh Donghae terjadi.

Min Sunye selalu berhasil melukiskan dirinya dengan citra gadis baik-baik, tapi malam itu, dia melakukan sebuah tindakan yang terlalu agresif untuk gadis setipe dirinya.

Donghae mengenal Sunye sebagai gadis yang selalu bisa membangun batas tak terlihat antara dirinya dengan para pria yang berusaha mendekatinya. Sejenis penolakan sopan yang membuat orang-orang tidak bisa tidak menghargai keputusannya. Bersama Donghae pun dia seperti itu. Sunye sudah jelas-jelas tahu bahwa pria itu menyukainya lebih dari seorang kakak kepada adiknya, ataupun seorang sunbae kepada hoobae-nya, tapi gadis itu tidak pernah menunjukkan tanda penerimaan. Bukan tanpa alasan gadis itu memilih untuk terus-terusan memanggilnya dengan sebutan orabeoni, bukannya menggunakan sebutan lebih lazim seperti oppa. Yah, di atas segalanya, sebutan yang terakhir itu memang terdengar lebih intim, dan Donghae terlalu memahami Sunye untuk tahu kedekatan seperti itu bukan yang dia inginkan.

Donghae butuh waktu setidaknya tiga detik untuk menemukan kembali kata-katanya yang sempat hilang akibat ciuman yang tiba-tiba dialamatkan Sunye ke pipinya. Hanya di pipi, dan itu jelas-jelas hanya bentuk ucapan terima kasih, tapi rona di wajah Donghae sudah menjelaskan seperti apa efek kontak fisik yang minim itu baginya. Ah, rasa suka yang sedang bersemi memang bisa membuat orang menjadi aneh.

Dengan membaringkan tubuh di lantai dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Donghae, Sunye sekali lagi melangkahi batas yang selama ini dia bangun.

“Aku lelah.”

Donghae tidak menyahut, hanya tangannya yang mulai bergerak membelai rambut gadis itu. Pelan, tenang, dan mendamaikan hati.

“Ini mungkin terdengar egois, tapi bisakah kau menemaniku sampai pagi?” pinta Sunye sebelum dia memejamkan mata.

Donghae tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan permintaan itu. “Tentu saja,” jawabnya ringan.

Managernya pasti akan menyambutnya dengan amarah yang meledak-ledak ketika dia pulang pagi nanti. Jungsoo sebagai seorang leader dan hyung yang baik juga pasti akan dipaksa untuk membungkuk-bungkuk meminta maaf karena telah membiarkan anggotanya meninggalkan dorm demi menginap bersama seorang gadis yang kebetulan sama-sama berstatus idola. Itu masih belum termasuk kemungkinan dia kedapatan kamera wartawan yang mungkin akan memberitakan hal ini dengan dramatisasi berlebihan. Tapi Donghae tidak peduli. Sekali ini saja, demi gadis yang dikasihinya, dia ingin melanggar aturan yang selama ini dia patuhi.

Rasa lelah membuat Sunye langsung menjejak alam mimpi tak lama setelah dia membaringkan tubuhnya. Donghae masih terus membelai rambut gadis itu sambil menggumamkan senandung yang diharapkannya bisa mengantarkan gadis itu pada mimpi indah.

Ketika jam menunjukkan hampir pukul empat pagi, Donghae terbangun. Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Melihat Sunye masih terbaring lelap di pangkuannya, pria itu menebak bahwa dia tidak tidur cukup lama. Mungkin hanya setengah jam, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk menjadi bekalnya menjalani rentetan kesibukan yang menunggunya hari ini.

Donghae memperhatikan wajah di pangkuannya sekali lagi. Dia pernah membaca komentar yang ditinggalkan seorang penggemar pada artikel yang membahas kedekatan dirinya dan Sunye. Katanya, Donghae dan Sunye tidak cocok karena Donghae terlihat begitu imut sementara Sunye terlihat terlalu dewasa. Komentar itu dibenarkan oleh beberapa penggemar lain. Mereka salah besar, pikir Donghae. Mereka belum pernah melihat betapa kekanakan wajah gadis itu ketika sedang tertidur. Gadis sok tegar ini sama sekali tidak bisa menyembunyikan kerapuhannya saat sedang tertidur. Dan untuk alasan itulah, Donghae merasa keinginannya untuk selalu ada di samping Sunye menjadi semakin besar.

Oleh sebuah dorongan yang berasal entah dari mana, pria itu menunduk untuk mencuri satu kecupan dari bibir Sunye, dari bibir seorang gadis yang tidak ingin menganggapnya lebih dari seorang kakak. Sekali ini saja, dia ingin melangkahi batasan itu. Sekali ini saja, dia ingin berhenti memainkan perannya sebagai seorang kakak yang baik. Sekali ini saja, dia ingin berlaku layaknya seorang pria bagi Min Sunye.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s