haesica-things2

Title: Things You Find On Fiction

Author: nchuhae

Main Cast: Jessica Jung, Lee Donghae

Support Cast: Wu Yifan, Kim Heechul, Lee Hyukjae

Length: Oneshot

Genre: Drama, Mild!Romance

Rating: G

***

Merupakan kelanjutan dari At The End Of Their Third Meeting dan That Woman.

***

“Aku senang kau bersedia menemuiku,” pria berdagu runcing yang sekarang telah memangkas pendek rambutnya itu berujar kepada gadis di depannya. Ada senyum yang samar-samar nampak di sudut bibir tebal pria itu, membuat lawan bicaranya mau tak mau ikut tersenyum.

“Aku tidak punya alasan untuk menolak bertemu denganmu, kau tahu.” Gadis itu mengibaskan tangannya di udara, memberi tanda bahwa pertemuan mereka sama sekali bukanlah sebuah hal yang spesial. Pria itu bukanlah orang yang harus dia hindari, jadi tidak ada yang aneh dengan keputusannya menerima pria itu di ruang tamunya. Dengan santai, dia meraih cangkir berisi teh hijau yang beberapa saat lalu diletakkan pelayan di atas meja berlapis kaca di hadapannya, kemudian mengisyaratkan tamunya untuk melakukan hal yang sama.

Ditawari seperti itu, sang pria hanya menyunggingkan senyum sopan dan memilih untuk melanjutkan percakapan mereka. “Kupikir kau tidak ingin membuang waktu untuk menemui bodyguard gagal sepertiku,” ujarnya setengah bercanda.

Gadis itu meletakkan cangkirnya ke tempat semula setelah menyesap cairan hangat di dalamnya sebanyak dua kali. “Kau salah untuk dua hal, Yifan. Pertama, aku tidak menganggap bahwa menemuimu sama dengan membuang waktu. Kedua, aku tidak berpikir bahwa kau telah gagal menjalankan tugasmu. Seingatku kau melakukan banyak hal untuk memenuhi kewajibanmu waktu itu,” dia menjelaskan dengan nada bersahabat yang dulu sangat jarang ditujukannya kepada pria berdarah China yang dipanggilnya dengan sebutan Yifan itu. “Dan berbicara soal membuang waktu, aku benar-benar akan menganggapmu membuang waktuku kalau kau memaksaku menjelaskan jawabanku barusan.”

Yifan mengangguk paham. Di beberapa kesempatan, gadis berambut panjang di depannya itu memang sudah menjelaskan kepada media perihal penyakit yang membuatnya harus mengalami koma selama setahun lebih. Tidak ada faktor kelalaian seorang pengawal di sana. Waktu itu dia terlalu memaksakan fisiknya, mengabaikan tubuhnya yang butuh istirahat dan malah mencecokinya dengan bergelas-gelas kopi serta obat penambah tenaga. Gadis itu akhirnya jatuh tak sadarkan diri karena saraf-sarafnya sudah tidak mampu lagi dia ajak bekerja sama untuk menuruti kehendak hatinya yang saat itu menganggap waktu dua puluh empat jam sehari tidak cukup untuknya mempersiapkan peragaan busana tunggal pertamanya. Setidaknya itulah yang dikatakan dokter, dan itu pulalah yang dipercaya semua orang—termasuk Jessica, lawan bicaranya.

“Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang, Nona Jung?”

Jessica melemparkan pandangan ke arah wanita paruh baya berpakaian serba putih yang terlihat sedang membereskan barang-barangnya. Yifan mengikuti arah pandang Jessica dan langsung mengerti apa maksud gadis itu.

“Dia masih harus datang dua kali seminggu untuk membantuku menjalani fisioterapi,” Jessica menjelaskan sambil mengarahkan pandangannya kembali ke arah Yifan. “Tubuhku sudah terlalu lama tidak digerakkan, jadi butuh bantuan seorang profesional untuk melatih otot-otot dan persendianku yang kaku agar bisa kembali difungsikan seperti dulu. Selebihnya, aku rasa baik-baik saja. Setidaknya, ayahku sudah tidak seprotektif dulu lagi.”

“Aku ikut senang untukmu,” ujar Yifan.

Hening menghampiri kedua orang itu selama beberapa saat. Jessica tahu, ucapan terima kasih bukanlah hal yang dibutuhkan Yifan untuk membalas ucapan yang diyakini Jessica hanya basa-basi itu. Justru, mengingat karakter pria di hadapannya saat ini, Jessica curiga kalau kedatangannya bukan semata untuk beramah-tamah menanyakan kabar.

Di sisi lain, persis seperti yang dipikirkan Jessica, Yifan sedang berusaha untuk mencari cara yang tepat untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Lawan bicaranya mungkin tidak akan menyukai apa yang akan dia katakan, tapi Yifan merasa perlu memberitahukan satu hal itu kepadanya.

“Kau tahu, Yifan,” ujar Jessica, yang berhasil membuat yang dipanggil kembali memfokuskan perhatian kepadanya. Dengan senyum jenaka tersemat di ujung bibirnya, gadis itu menambahkan, “Basa-basi sangat tidak cocok denganmu.”

Ada rasa lega bercampur malu yang bergejolak dalam diri pria itu setelah mendengar perkataan Jessica. Yifan lega karena dengan begitu dia tidak usah bersusah payah mencari kalimat pembuka hingga akhirnya dia bisa menyampaikan maksud kedatangannya, tapi dia juga malu karena ucapan Jessica barusan membuat dia merasa kesan misterius yang sudah sejak lama melekat pada dirinya seolah sudah tidak berlaku lagi. Sepertinya waktu setahun yang mereka lewati telah membuat Jessica mengenal kepribadiannya yang tak pandai berbasa-basi hingga bisa dengan mudah mengetahui maksud dari gelagat pria itu hanya dengan sekali melihat.

“Tidakkah kau berpikir bahwa waktu bisa mengubah seseorang?” Yifan mencoba menghindar.

Senyum di wajah Jessica semakin lebar, dan beberapa detik kemudian, berubah menjadi sebuah tawa mengejek. “Kau juga tidak pandai mencari alasan.”

Salah tingkah, Yifan memilih meraih cangkir teh yang tadi sempat ditolaknya, lalu menenggak isinya sampai hanya tersisa separuh. Setelah berhasil menemukan kembali dirinya, dia berujar, membenarkan tebakan Jessica. “Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan apa-apa darimu, Nona.”

“Jadi, hal penting apa yang membawamu ke mari?” tanya Jessica. Gadis itu melipat tangannya di depan dada dan menatap Yifan penuh rasa ingin tahu.

Yifan terdiam sesaat, kemudian berkata, “Sebelum itu, kau tidak ingin memberitahukan sesuatu kepadaku? Sesuatu yang aku rasa belum pernah kau ceritakan kepada siapapun.”

Raut wajah Jessica seketika berubah setelah mendengar apa yang dikatakan Yifan. Tidak ada lagi senyum kekanakan apalagi seringai penuh ejekan yang sempat dia lontarkan kepada Yifan. Yang tersisa hanyalah tatapan awas dan rasa benci.

“Aku datang karena pria itu, Nona Jung,” tambah Yifan.

Jessica melempar pandangannya ke arah pintu masuk demi menghindari kontak mata langsung dengan Yifan. Dia sepenuhnya sadar bahwa lawan bicaranya itu pasti tahu dia sedang berbohong, tapi tetap saja berujar, “Aku tidak tahu siapa yang kau maksud.”

“Aku yakin kita sedang memikirkan pria yang sama, Nona,” balas Yifan, tak mau menyerah.

Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Jessica bahkan merasa mampu mendengar detak jantungnya sendiri karena kesunyian yang hadir di antara dirinya dan Yifan begitu pekat.

Jessica memang tahu betul siapa yang dimaksud oleh Yifan. Gadis itu hanya merasa enggan membicarakan pria yang dulu pernah dianggapnya teman itu. Dan persis seperti yang dikatakan Yifan, fakta bahwa pria itulah yang pertama kali dilihatnya saat terbangun dari koma tiga bulan lalu memang tidak pernah dia beritahukan kepada orang lain. Untuk apa? Siapa yang akan percaya bahwa sebenarnya pria yang dimaksudkan mantan pengawalnya itulah yang telah meracuninya dan membuatnya jatuh koma? Dokter saja tidak menemukan adanya indikasi racun dalam dirinya. Tubuhnya kolaps dan dia jatuh koma karena kelelahan serta overdosis multivitamin, hanya itu saja yang dikatakan dokter.

“Jadi karena ini kau tadi menyebut dirimu telah gagal melaksanakan tugas?” tanya Jessica akhirnya, yang dijawab oleh sebuah anggukan oleh yang ditanya.

Gadis itu lalu memilih menyerah, berpikir tidak ada gunanya beradu keras kepala dengan Yifan yang sepertinya mengetahui lebih banyak hal dibanding yang gadis itu pikirkan.

“Katakan padaku, Yifan, apakah sejak awal kau sudah tahu bahwa dia adalah orang jahat?”

“Kau tidak akan senang mendengar jawabanku, Nona.”

“Bukankah itu tujuanmu ke mari?”

Berkebalikan dengan apa yang dipikirkan Jessica, Yifan menimpali perkataan gadis itu barusan dengan sebuah gelengan.

“Jangan bilang kau datang ke mari untuk meminta keterangan dariku agar kau bisa mencari pria itu dan menebus kesalahanmu,” kata Jessica. Nadanya mengejek.

Lagi-lagi hanya gelengan yang diperoleh Jessica.

Gadis itu mendengus, tidak mampu lagi bersopan-santun seperti yang tadi dilakukannya saat awal Yifan datang. Waktu mungkin memang bisa mengubah banyak hal, tapi Jessica merasa itu tidak berlaku pada Yifan. Selain tidak mampu berbasa-basi, pria itu tetap semengesalkan dulu. Mengempaskan punggung ke sandaran kursinya, gadis itu berkata pelan, “Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan pria itu lagi.”

“Kenapa?”

Kenapa, katanya? cibir Jessica dalam hati. Emosi yang beberapa saat lalu berusaha ia tenangkan kini menyeruak kembali. Dia menghentakkan kakinya ke lantai, sedemikian rupa menjaga tindakannya agar tidak terkesan terlalu kasar, kemudian mendelik ke arah lawan bicaranya. “Dia ingin membunuhku, Yifan. Menurutmu untuk apa aku membicarakan orang seperti itu?”

Yifan menanggapi sikap Jessica dengan santai—terlalu santai. Pria itu hanya tersenyum tipis sambil sekali lagi meraih cangkir tehnya, membuat Jessica curiga akan makna yang tersembunyi di balik senyum yang muncul di wajah yang seingatnya terlalu sering terlihat tanpa ekspresi itu. Tadi, senyum basa-basi yang dia tunjukkan dianggap wajar oleh Jessica. Tapi kali ini, senyum Yifan seolah mengesankan bahwa ada banyak rahasia yang akan terungkap kepadanya.

Sebelum menyesap tehnya, Yifan berujar, “Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, Nona Jung.”

***

Jessica menatap gedung di depannya sambil mengembuskan napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Sudah hampir setengah jam gadis itu berdiri di sana tanpa sedikit pun keyakinan untuk melangkah lebih jauh. Padahal, jika dipikir lagi, jarak yang membentang antara tempatnya berpijak dan pintu besar di depannya sama sekali tidak sebanding dengan jarak antara Seoul dan London yang sudah dia tempuh demi menemui seseorang yang menurut Yifan, berada di gedung itu.

Dia memperhatikan suasana gedung itu baik-baik. Orang-orang berlalu-lalang di depannya dan semua tampak begitu normal. Gedung ini tampak seperti rumah sakit pada umumnya, di mana nuansa putih mendominasi dari segi arsitektur dan semua orang selalu tampak tergesa-gesa melintasi pintu besar yang di atasnya tertulis sebaris kalimat yang sepertinya menjadi semboyan rumah sakit ini.

Jessica meraih telepon genggamnya, hendak mengecek apakah Yifan sudah membalas pesannya.

Nihil.

Beberapa waktu lalu pria itu datang menemuinya dan mengatakan sesuatu yang sampai saat ini masih sulit dia percayai. Apalagi setelah datang ke alamat yang diberikan Yifan dan apa yang dia dapati sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan, rasanya dia patut mempertanyakan kembali keputusannya untuk mempercayai ucapan Yifan waktu itu.

“Hei, aku mengenalmu,” sebuah suara terdengar menyapanya dalam Bahasa Inggris dengan aksen yang cukup aneh. “Kau desainer itu, bukan? Jessica Jung?”

Gadis yang disebut namanya itu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria berwajah khas Asia dengan kulit pucat serta rambut cokelat tergerai panjang sampai bahu sedang tersenyum ke arahnya. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang biru bermotif kotak putih yang dipadukan dengan celana katun berwarna senada. Satu tangannya terlihat menenteng kantung belanjaan bertuliskan nama sebuah toko donat terkenal, sementara satu tangannya yang lain memegang segelas kopi dengan gambar seorang wanita berambut panjang bergelombang sebagai logonya. Pria ini pun tampak normal. Kalau ada yang aneh dengan penampilan pria di depannya, maka itu berasal dari sandal jepit dengan hiasan berbentuk salah satu karakter dari film animasi Frozen yang seolah menyeret level ketampanannya ke bawah rata-rata.

Jessica mengerutkan alisnya tanpa sadar, bukan hanya karena penampilan ajaib pria di depannya itu, tapi juga oleh fakta bahwa pria yang tak pernah ditemuinya itu ternyata mengenal dirinya. Jessica memang cukup terkenal di negaranya, tapi untuk bisa dikenali di tempat seperti ini rasanya terlalu luar biasa mengingat kariernya belum begitu matang untuk memungkinkannya dikenali seperti seorang selebriti. Apa mungkin pria ini juga berasa dari negara yang sama dengannya?

“Apa aku mengenalmu?” Jessica memilih bertanya dalam Bahasa Korea.

Pria itu menggeleng. “Donghae tidak pernah mengenalkan kita secara langsung.”

Mendengar nama itu disebut, pupil mata Jessica melebar tanpa bisa dia kendalikan. Ada sebuah debaran akibat gelombang aneh yang mendadak menghantamnya, membuat kakinya sejenak seperti akan hilang keseimbangan. Orang itu benar mengenalnya dan itu berarti Yifan memberikannya alamat yang tepat. Sepertinya hanya masalah waktu hingga ucapan Yifan yang lain—yang sebelumnya tidak bisa dipercayainya—terbukti.

Pria cantik di depan Jessica tertawa melihat ekspresi gadis di depannya. Tanpa persetujuan, dia meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya melintasi pintu besar yang sejak tadi hanya ditatap Jessica penuh keraguan.

“Ayo kita masuk. Cuaca di luar cukup panas hari ini, tidak baik untuk kulitmu.”

***

“Kau sudah puas melihat-lihat?” pria yang mengenalkan dirinya sebagai Heechul tersenyum tipis melihat Jessica yang sejak tadi tidak pernah berhasil menutupi rasa tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Dia menyodorkan sekaleng minuman yang diambilnya dari kulkas di dalam ruang kerjanya kepada gadis itu dan menambahkan, “Seperti di film-film, bukan?”

Jessica mengalihkan pandangannya dari salah satu sudut ruangan tempat beberapa meja dan peralatan laboratorium dipajang ke arah Heechul yang saat itu berdiri di dekatnya sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin. Jessica meraih minuman itu dan memperhatikan Heechul melangkah ke sisi lain ruangan, di mana seperangkat home theater terpasang, lengkap dengan satu set sofa berwarna pastel yang kelihatannya sangat nyaman.

Heechul langsung mengambil tempat duduk di sofa terdekat yang bisa dia jangkau dan meletakkan kantung belanjaannya di atas meja. Jessica mengikuti pria itu dan membuka kaleng minumannya tidak lama setelah menemukan tempat untuknya duduk.

“Aku tidak percaya bisa menemukan home theater di dalam sebuah laboratorium,” komentar Jessica. Tatapannya lekat pada layar lebar dan dua set sound system masing-masing di sisi kiri dan kanan benda itu.

Suara tawa renyah Heechul terdengar memenuhi ruangan. “Kau tahu, Donghae juga selalu mengomentari benda itu setiap kali dia datang ke sini,” ujarnya sambil menyalakan layar televisi di depan mereka. Siaran musik yang menampilkan video klip lagu seorang penyanyi pendatang baru tampak di sana.

“Rumah sakit itu benar-benar rumah sakit, bukan?” Jessica bertanya. Dia tahu ini akan terdengar bodoh di telinga lawan bicaranya, dan sebagian dari dirinya merasa bahwa dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi dia tetap memilih menyuarakan keingintahuannya tersebut.

Heechul tertawa lagi, membuat Jessica mendadak merasa benar-benar bodoh karena telah bertanya.

“Menurutmu?” pria itu balik bertanya.

“Sekadar kamuflase?” Jessica menjawab, tak yakin.

Heechul tidak langsung menjawab. Dia terlihat lebih asyik membuka kantung belanjaan di atas meja di depan mereka dan mengeluarkan sekotak donat yang langsung dibukanya dengan penuh minat.

“Itu rumah sakit yang difungsikan seperti halnya rumah sakit lain pada umumnya,” beritahu Heechul. Pria itu masih sibuk menggerakkan jarinya di atas selusin donat yang masing-masing dihias dengan taburan berbeda, seolah sedang memilih mana yang akan dia cicipi pertama kali. “Tapi kalau kau berpikir bahwa itu sekadar kamuflase, sepertinya juga tidak sepenuhnya keliru. Di atas segalanya, tempat itu dibangun agar jika ada agen kami yang terluka, mereka bisa langsung ditangani tanpa menarik perhatian orang lain,” Heechul menambahkan.

Jessica mengangguk paham. Meski yang dilihat gadis itu sejauh ini lebih mirip setting sebuah film dibanding kenyataan, tapi semua sesuai dengan penjelasan Yifan; rumah sakit, laboratorium bawah tanah, penjaga bersenjata lengkap, dan orang-orang yang sekilas terlihat eksentrik namun punya keahlian masing-masing. Mungkin Heechul dan sifat kekanakannya itu adalah satu di antara orang-orang yang disebutkan Yifan.

Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya, menyapu semua hal yang bisa dia jangkau dengan indra penglihatannya. Masih belum hilang keterkejutannya saat mengetahui bahwa rumah sakit yang tadi dia masuki ternyata memiliki beberapa lantai lagi di bawah basement yang dimanfaatkan sebagai ruang kerja oleh sekitar ribuan orang berpakaian serba putih. Menurut pemberitahuan Heechul ketika mereka melewati petugas keamanan beberapa saat lalu, sebagian besar kegiatan organisasi mereka dilakukan di sini. Entah apa itu, Jessica tidak berani menebak apalagi bertanya lebih jauh. Kedatangannya ke tempat ini memang bukan untuk menyelidiki apa yang dilakukan orang-orang itu.

“Jadi, kau sudah tahu siapa Donghae?”

Jessica mengarahkan pandangannya kembali ke arah Heechul, setelah sebelumnya tertarik memperhatikan tabung-tabung berasap di sudut ruangan.

“Seseorang memberitahuku,” beritahu Jessica.

“Sepertinya dia cukup hebat,” Heechul berkomentar. Dia memutuskan donat yang paling menarik baginya tidak lama kemudian dan langsung memasukkan setengah dari makanan bertabur gula halus itu ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, dia menambahkan, “Tidak banyak orang yang tahu soal tempat ini.”

Ucapan Heechul membuat Jessica penasaran tentang siapa sebenarnya Yifan. Kenyataan bahwa dia mengetahui banyak hal tentang Donghae dan organisasi tempatnya bekerja mengindikasikan bahwa Yifan bukan sekadar bodyguard biasa. Apalagi sejauh ini, semua yang dikatakan Yifan tentang latar belakang Donghae terbukti benar.

“Dia tidak ada di sini sekarang,” ujar Heechul sebelum memasukkan sisa donat di tangannya ke dalam mulut.

Jessica memperhatikan Heechul mengunyah makanannya dan membersihkan serbuk-serbuk gula yang jatuh di sudut bibirnya dengan ujung lidah. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya bagaimana Heechul bisa bekerja di tempat seserius ini dengan kelakuan seperti itu. Ditambah lagi jika dia mengingat beberapa saat sebelumnya, ketika dia dengan mudah melewati pos penjagaan yang sepertinya dijaga ketat hanya karena Heechul berkata, “Dia temanku”. Sepertinya pria itu punya posisi penting di tempat ini.

“Kalau dia tidak di sini, lalu kenapa kau membawaku ke mari?”

“Aku tidak mau kulitmu terbakar sinar matahari karena terlalu lama berdiri di depan pintu. Matahari London saat menjelang musim panas agak tidak bersahabat.”

“Bukankah tempat seperti ini seharusnya rahasia? Kau benar-benar mengajakku masuk karena alasan itu?”

Heechul hanya mengangkat bahunya sambil melemparkan sebuah senyuman jenaka kepada Jessica.

Jessica mengangkat alisnya, heran. Dia pikir tadi Heechul mengatakan hal konyol itu hanya agar dirinya tidak perlu memberi penjelasan yang terdengar lebih serius. Di atas segalanya, mereka baru saja saling mengenal, rasanya agak aneh membicarakan hal yang terlalu serius dengan seseorang yang baru dikenal. Tapi sekarang gadis itu sudah mulai mempertimbangkan bahwa Heechul cukup kekanakan dan alasan yang diucapkannya tadi memang benar merupakan hal yang mendorongnya mengajak Jessica ke tempat ini.

“Aku ingin menemuinya,” ujar Jessica.

“Aku tahu,” kata Heechul, kali ini sambil menyodorkan sebuah donat dengan taburan cokelat kepada Jessica. “Tapi kau tidak bisa melakukannya sekarang.”

Jessica menatap makanan yang disodorkan Heechul, agak ragu menerima benda itu, meski pada akhirnya dia tetap mengambilnya karena takut Heechul tersinggung. Untuk alasan sopan santun pula, dia mengabaikan kebiasaannya yang tidak pernah mau memakan makanan yang sudah disentuh orang lain dan memasukkan makanan pemberian Heechul itu ke dalam mulutnya. Mungkin ini salah satu cara pria itu untuk mengakrabkan diri dengan orang lain.

“Yang terjadi di antara kami, apa dia menceritakan semuanya kepadamu?” Jessica bertanya setelah menghabiskan donatnya. Gadis itu meraih tisu yang terletak di atas meja untuk membersihkan tangannya sambil menatap Heechul, menunggu jawaban.

Alih-alih menjawab pertanyaan Jessica, Heechul malah balik bertanya, “Kau menyukai dongsaeng-ku, tidak?”

Yang ditanya kontan mengerutkan kening. Apakah di tempat ini keinginan untuk bertemu dan meminta maaf kepada seseorang sudah beralih makna menjadi rasa suka?

“Aku—” Jessica mencoba menjawab, tapi setelah beberapa detik berselang, dia tidak juga menemukan kata lain untuk mengikuti satu kata yang sudah terlebih dahulu diucapkannya. Gadis itu bisa saja membantah perkataan Heechul, dan sungguh, keinginan itu adalah yang pertama kali terlintas di benaknya, tapi sesuatu di dalam dirinya melarang dia melakukan itu. Dia sudah pernah mengucapkan hal yang pada akhirnya dia sesali. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya.

“Dia sedang bekerja,”  kata Heechul, menekankan ucapannya pada kata terakhir. Dia memutuskan untuk tidak mengusili Jessica dengan menuntut jawaban dari pertanyaannya barusan. Ekspresi salah tingkah yang tergambar jelas di wajah tamunya itu sudah cukup memberinya kepuasan tersendiri. “Biasanya dia selalu punya waktu membantuku menyelesaikan game Sudoku yang dirancang khusus oleh Kibum untuk para pegawai, tapi tiga minggu terakhir kami benar-benar kehilangan kontak,” pria itu melanjutkan.

Ada banyak pertanyaan yang muncul di benak Jessica karena penjelasan Heechul barusan. Apa tadi Heechul menanyakan tentang perasaannya terhadap Donghae hanya agar membuatnya salah tingkah? Siapa Kibum dan apa hubungan game Sudoku yang dirancangnya dengan pekerjaan Donghae? Di mana Donghae sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Tanpa penjelasan lebih lanjut pun, Jessica sudah bisa mengerti apa yang ingin diberitahukan Heechul. Gadis itu tidak tahu seperti apa detail pekerjaan Donghae kali ini, tapi berkaca dari apa yang dilihatnya di film-film dan ditambah dengan penjelasan yang diberikan Yifan, kemungkinan besar itu adalah sesuatu yang membahayakan nyawa.

Jessica menunduk, berharap perasaan gundah yang tiba-tiba hadir di dirinya bisa sedikit berkurang. Gadis itu berdoa agar Donghae baik-baik saja. Pria itu tidak boleh mati sebelum memberikan maaf kepadanya.

“Tenanglah, dia pasti baik-baik saja,” ujar Heechul menenangkan. “Dibandingkan denganmu, aku yakin targetnya kali ini jauh lebih mudah.”

Untuk yang kesekian kalinya ucapan Heechul membingungkan Jessica. Bagaimana mungkin dirinya digolongkan target yang sulit? Seingatnya, Donghae hanya mendekatinya dengan berpura-pura sebagai seseorang yang ingin berteman dengannya, lalu memberikannya minuman yang akhirnya membuat dirinya koma selama setahun lebih. Memang waktu itu ada Yifan yang mengawal dirinya ke mana-mana, tapi selain mengamankan Jessica dari kejaran wartawan, pria itu tidak melakukan apa-apa lagi.

“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?” Heechul bertanya lagi.

Jessica hanya diam sambil memperhatikan pria itu menyeruput sisa kopi dari dalam gelasnya.

“Pria yang kau jadikan pengawal dulu itu adalah mantan agen, sama seperti Donghae,” beritahu Heechul. “Bisa kau bayangkan kalau orang seperti dia turut campur dan merusak rencana yang sudah disusun dengan matang oleh Donghae?”

Jessica berkedip, berharap gerakan itu akan membantu otaknya mencerna penjelasan Heechul. Bukankah justru bagus jika Yifan turut campur? Setidaknya dia tidak akan jatuh koma.

“Klien yang meminta kau dibunuh adalah kolega bos kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka di masa lalu, tapi rumor mengatakan bahwa bos kami punya hutang budi pada politisi yang menjadi tersangka pada kasusmu itu. Dia meminta agar kami mengirimkan agen terbaik untuk melenyapkan semua orang yang dijadikan saksi untuk kasusnya, dan karena kau masuk di dalam daftar saksi, jadi kau juga termasuk dalam daftar target,” jelas Heechul sembari menyeruput tetes-tetes penghabisan dari cairan hitam di dalam gelas karton yang digenggamnya, menimbulkan bunyi yang.tidak enak didengar.

Heechul menjeda ceritanya sejenak untuk membuang gelas yang sudah kosong itu ke tempat sampah di sudut ruangan. Gayanya persis seorang atlet basket yang ingin memasukkan bola ke dalam keranjang, tapi dalam versi gagal. Alih-alih mendarat mulus di dalam tempat sampah, gelas kosong itu justru jatuh jauh dari tempat seharusnya. Heechul menggerutu sendiri, lalu dengan setengah hati bangkit untuk memasukkan sampah itu ke tempatnya.

Ketika sudah kembali ke tempat duduknya, dia melanjutkan, “Agen kami tidak sembarangan membunuh orang, kau tahu? Donghae butuh waktu setahun lebih agar bisa memutuskan membunuhmu atau tidak. Dia menundanya berkali-kali sampai bos kami harus memberinya peringatan langsung. Dan seperti yang kau tahu, dia tidak melakukannya. Dia berpikir tidak seharusnya mengakhiri hidupmu hanya karena ketidaksengajaanmu terlibat masalah itu, maka dia memintaku, Kim Heechul yang hebat ini, untuk membuatkanmu obat agar jatuh koma hingga tidak bisa bersaksi untuk memberatkan klien kami. Ini memang melanggar perintah karena klien kami jelas-jelas memintamu dibunuh, dan bos kami terpaksa menghukumnya karena ulahnya itu. Tapi setidaknya kau tidak jadi mati, klien kami tetap dibebaskan karena tidak ada saksi yang bisa memberatkannya, dan setelah kasusnya ditutup karena klien kami mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal, dia memberikanmu penawar yang sekali lagi kutegaskan, akulah yang membuatnya.”

Ada kebanggan berlebih yang bisa ditangkap Jessica dari nada bicara Heechul, apalagi pria itu membubuhi penjelasannya dengan dua kali penekanan bahwa dia membuat sebuah obat yang sepertinya hebat dan menyudahi aksi pamer itu dengan kibasan pelan pada rambut cokelatnya. Sepertinya obat yang disebutkannya itu bisa menjelaskan keberadaan tabung-tabung berasap yang tadi diperhatikan Jessica.

Alis Heechul berkerut, lalu dia tiba-tiba tersentak, seolah teringat sesuatu. “Setelah dipikir-pikir, sepertinya aku tidak pernah memberitahu Donghae bahwa aku mengenal pengawalmu itu,” ujarnya, setengah berbisik. Pria itu memegang dagunya, persis seperti di cerita-cerita fiksi ketika tokohnya sedang sibuk membuka peti-peti ingatan di dalam kepalanya. Mengangguk-angguk, pria itu menambahkan, “Ya, ya… Sepertinya memang tidak pernah.”

“Jadi Yifan juga pernah bekerja di tempat ini dan kau mengenalnya tapi Donghae tidak,” Jessica menyimpulkan.

Heechul mengangguk, lalu mulai kembali sibuk memilih donat keduanya.

“Baiklah, fakta ini mengejutkan, tapi aku masih tidak mengerti bagaimana campur tangan Yifan bisa menggagalkan rencana Donghae.”

“Kau memanggilnya Yifan?”

Kali ini giliran Jessica yang mengangguk. “Memangnya dia punya nama lain?”

“Kami memanggilnya Kris,” beritahu Heechul. Tidak seperti sebelumnya, dia tidak butuh waktu lama untuk memutuskan donat dengan garnish seperti apa yang menarik seleranya kali ini. Pria itu meraih donat yang di atasnya diolesi selai cokelat bertabur serbuk gula berwarna merah muda dan langsung memakannya. Lagi-lagi sambil mengunyah, dia berujar, “Kadang-kadang juga Kevin.”

Jessica menunggu pria itu selesai makan sampai pertanyaannya terjawab.

“Kalau Kris benar-benar melakukan tugasnya sebagai pengawal, aku yakin Donghae tidak akan punya kesempatan mendekati dan memberikanmu obat itu, atau dengan kata lain dia harus membunuhmu dari jarak jauh, dan itu sama saja dengan memasukkan selongsong peluru ke dalam tempurung kepalamu. Aku sudah bilang ‘kan, kalau klien kami ingin kau mati? Tapi Kris membiarkannya. Membiarkan Donghae mendekatimu, maksudku. Sepertinya dia mengenal Donghae dan tahu apa yang dia rencanakan. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran anak itu. Intinya, dia menjalankan tugasnya sebagai pengawal dengan tidak mengawalmu.”

Jessica kembali diam. Terlalu banyak fakta mengejutkan yang didapatinya hari ini. Setelah Yifan menemuinya beberapa saat lalu, Jessica memang sudah merasa bahwa pria itu bukan sekadar pengawal biasa. Didorong oleh kesadaran itu pula hingga dia memutuskan datang ke tempat ini, berharap bisa bertemu Donghae dan menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka. Setelah sampai di tempat ini, perkataan Heechul membuatnya lebih terkejut lagi. Yifan tahu semuanya, tapi dia sengaja menyembunyikan sebagian fakta itu. Kenapa?

“Hei, tidakkah kau berpikir bahwa kata-kataku barusan cukup keren?”

Pertanyaan Heechul menghentak Jessica kembali dari labirin pikirannya. Gadis itu menaikkan alis, bertanya.

“Menjalankan tugas sebagai pengawal dengan tidak mengawalmu,” Heechul mengulang kalimat yang diucapkannya beberapa saat lalu. “Itu terdengar keren, bukan? Ah, aku merasa seperti seorang penulis sekarang! Haruskah aku mulai menulis novel? Hm, apa yang sebaiknya kutulis? Kau punya ide?”

Gadis itu menggeleng, tahu bahwa itu adalah jawaban paling aman untuk pertanyaan Heechul. Lagipula, pria itu tidak mungkin benar-benar berpikir untuk menulis novel hanya karena berhasil menyusun sebaris kalimat berima, bukan?

“Aku berhutang maaf padanya,” Jessica berujar pelan, membawa kembali percakapan mereka pada intinya.

“Apa maaf Donghae sebegitu pentingnya hingga kau menempuh jarak panjang dari Seoul ke London hanya demi itu?”

Jessica tidak bisa memikirkan jawaban yang dikiranya tepat, karena itu dia memutuskan untuk lagi-lagi menggeleng kemudian diam. Pertanyaan Heechul memang bukanlah sesuatu yang asing baginya. Sebelum ini, dia sudah berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri. Seberapa penting maaf pria itu baginya? Jessica tidak tahu. Dia sadar bahwa tanpa maaf dari Donghae pun, dia masih tetap bisa melanjutkan hidupnya dan menganggap bahwa kejadian yang menimpanya selama dua tahun terakhir tidak pernah terjadi; kasus itu tidak pernah ada, sidang-sidang tidak penting itu tidak pernah dia hadiri, Donghae tidak pernah muncul di hadapannya, dan dia tidak pernah mengalami koma dalam jangka waktu cukup panjang. Tapi Jessica terlalu peduli untuk bersikap tidak acuh seperti itu. Dia tidak mungkin bisa memaafkan dirinya karena telah menyakiti perasaan orang lain, terlebih karena orang itu sudah menyelamatkan nyawanya.

“HYUNG, APA LAGI YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ANJINGKU?” teriakan bernada protes yang didahului oleh suara pintu didorong kasar itu tiba-tiba terdengar dan menginterupsi pembicaraan Heechul dan Jessica tanpa bisa dihindari.

Menoleh ke arah sumber suara, gadis itu mendapati seorang pria berwajah oriental sedang menggendong seekor anjing kecil berbulu cokelat. Sorot marah yang sempat hadir di mata pria ber-eyeliner tebal itu mendadak surut setelah menyadari keberadaan Jessica, digantikan oleh raut bodoh saat menyadari aksi protesnya dia lakukan di waktu yang salah.

“Kau ada tamu, rupanya,” pria itu berujar sambil tersenyum salah tingkah dan menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan satu tangan yang bebas. Volume suaranya pun sudah jauh lebih rendah dibanding sebelumnya. “Apa aku mengganggu?”

Heechul memijat keningnya dengan gaya yang didramatisasi. “Kau benar-benar tidak asyik, Lee Hyukjae,” ujar pria itu.

Hyukjae yang menyadari nada mengancam yang terselip dari ucapan Heechul barusan buru-buru berpamitan, lupa bahwa dia datang untuk marah-marah.

“Aku memberikan sedikit cokelat kepada anjingnya yang jahat itu.” Tanpa diminta, Heechul menjelaskan keadaan setelah Hyukjae menutup pintu. “Kemarin dia menyerang kucingku hingga  kena cakar, karena itu aku memberinya cokelat agar dia tahu rasa.”

Jessica tidak tahu banyak soal binatang peliharaan, tapi dia pernah mendengar bahwa cokelat bukanlah makanan yang cocok untuk diberikan kepada anjing. Gadis itu kini benar-benar merasa penasaran akan kepribadian Heechul yang sebenarnya. Bukankah urusan hewan peliharaan itu adalah hal sepele, kenapa dia menganggapnya begitu serius hingga harus membalas dendam segala? Lalu pria ber-eyeliner tebal itu juga tak kalah anehnya. Jessica yakin usia pria itu lebih dewasa dibanding dirinya, lalu mengapa dia sama sekali tidak menunjukkan kedewasaan dari caranya berbicara? Ah, benar kata Yifan, tempat ini memang diisi oleh orang-orang aneh.

Meski merasa apa yang baru saja disaksikannya itu tergolong absurd, tapi Jessica berterima kasih karena kedatangan pria bernama Lee Hyukjae itu sudah berhasil menyelamatkannya dari keharusan menjawab pertanyaan Heechul. Pertanyaan itu tidak akan bisa dijawabnya.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?” Heechul bertanya lagi, membawa kembali percakapan mereka sebelumnya.

“Aku tidak tahu.”

“Kau berencana tinggal di sini sampai Donghae kembali?”

Jessica tidak tahu. Dia baru menyadari betapa tergesa-gesanya dia datang ke mari. Ucapan Yifan sudah berhasil memprovokasinya untuk segera mengambil penerbangan pertama yang bisa mengantarkannya melintasi lautan yang memisahkan Korea Selatan dan Inggris. Dia tidak tahu akan menginap di mana malam nanti. Dia mendatangi tempat ini seperti orang kerasukan. Di satu waktu dia bertemu Yifan di ruang tamu rumahnya, dan di waktu selanjutnya dia sudah berada di zona waktu berbeda, di bawah basement rumah sakit yang ternyata difungsikan sebagai tempat kerja rahasia oleh sebuah organisasi entah apa. Gadis itu bahkan baru sadar kalau dia tidak membawa apa-apa selain kartu identitas dan telepon genggamnya.

Raut wajah kebingungan Jessica tidak lepas dari pengamatan Heechul yang tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi gadis di depannya. Untuk alasan tertentu, dia merasa mereka punya kesamaan. Beberapa waktu yang lalu dia juga seperti itu, tanpa pikir panjang menempuh perjalanan berjam-jam di atas pesawat demi menemui Ahn Sohee, namun ketika sampai tujuan Heechul justru menyadari dirinya tidak tahu harus melakukan apa.

“Sepertinya aku akan langsung pulang,” beritahu Jessica.

Dia benar-benar merasa bodoh saat ini. Keinginan untuk tinggal dan menunggu Donghae sempat terlintas di benaknya, tapi tidak ada yang tahu kapan pria itu akan kembali. Sementara jika dia pulang ke Korea, maka itu berarti kedatangannya kali ini hanya akan berakhir sia-sia. Dia datang untuk menemui Donghae, rasanya konyol jika dia pulang sebelum tujuannya tercapai.

Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilakukan gadis itu di Korea. Setelah sadar dari koma beberapa waktu lalu, dia jauh lebih sibuk mengikuti terapi ini-itu untuk memulihkan kembali fungsi organnya dibanding mengurusi bisnis yang dulu menyita waktunya. Terapi-terapi itu sudah memasuki sesi-sesi terakhirnya, sedangkan bisnisnya juga sudah diambil alih untuk sementara oleh adiknya, jadi meski dia tinggal lebih lama pun itu bukan masalah besar. Tapi tidakkah itu konyol jika dia menunggu seseorang yang tidak dia ketahui kapan akan kembali?

Ini sama sekali berbeda dengan apa yang biasa dia dapatkan di kisah-kisah fiksi. Di cerita yang dibacanya, ketika akhirnya sang gadis menemukan keberanian untuk menemui sang pria, mereka akan bertemu dan akhir yang bahagia akan menyambut mereka. Di film yang pernah disaksikannya, kisah melintasi benua demi menemui seseorang selalu berakhir dengan happily ever after. Lalu kenapa nasibnya tidak bisa sama dengan tokoh-tokoh utama di cerita itu?

Jessica berpamitan setelah meraih tas tangan yang tadi dia letakkan di sofa. Dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Heechul atas perbincangan singkat mereka. Setidaknya, dengan bertemu pria itu, kedatangannya ke London jadi tidak terlalu sia-sia. Meski bukan dia tujuan utama Jessica datang, tapi penjelasan Heechul sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tidak lagi perlu bertanya-tanya akan kebenaran kata-kata Yifan.

Heechul mengantar tamunya itu sampai ke depan pintu rumah sakit, tak jauh dari tempat mereka tadi bertemu. Pria itu memperhatikan Jessica berjalan menuju taksi dengan satu pertanyaan di kepalanya. Jika dulu takdir membuat dia dan Ahn Sohee akhirnya bertemu dan terlibat percakapan panjang di atas pesawat menuju London, apakah takdir juga akan berlaku manis terhadap Jessica?

“Jessica,” panggil Heechul sesaat sebelum gadis itu naik ke taksi.

Gadis itu menoleh, mendapati Heechul menatapnya dengan senyum penuh arti.

“Ini adalah misi terakhirnya. Setelah ini, dia kembali menjadi pria biasa.”

Jessica ingin berkata bahwa itu tidak ada hubungan dengannya. Dia ingin menemui Donghae hanya untuk meminta maaf. Fakta bahwa pekerjaan yang sedang dikerjakan pria itu kali ini adalah misi terakhirnya sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya. Tapi dia menelan semua ucapan itu, menyimpannya untuk dirinya sendiri, karena ada sesuatu dalam dirinya yang berbisik bahwa apa yang diberitahukan Heechul barusan adalah berita baik.

to be continued…

A/N: Saya berhutang sebuah happy ending kepada Haesica, karena itu cerita ini pasti akan ada lanjutannya. Kapan? Ah, lagi-lagi itu bergantung pada kesibukan saya di dunia nyata. Semoga dalam waktu dekat.

 

Advertisements

11 thoughts on “Things You Find On Fiction

  1. Demi apa coba thor, akhirnya ada juga ff di sini…mianhae thor sebelumnya saya silent read mu kkk~~ thor lanjut ya ff nya…aku suka gaya penulisan mu…., lain dr pada yang lain.. Baru kali ini baca ff penuh dengan kejutan setiap part nya… Paling suka dengan ff mu yang melting ice princess ngena banget thor tu ff nya .. Ini juga keren lanjut thor…fighting ne… Kapan pun lanjutnya aku selalu menunggumu… Gomawo thor udah share ff lagi kkk~~

    1. berhubung kamu udah ninggalin komentar, berarti udah gak silent lagi dong.. yang melting ice princess itu kayaknya emang mencuri sedikit lbh banyak perhatian dibanding ff lain di blog ini. mianhae juga kalo bagian kedua ff itu malah bikin feel romantisnya ilang gk berbekas. haha..
      all in all, makasih buat kunjungan, komentar, dan dukungannya. it means a lot! 🙂

  2. maafkan saya karena di antara semua cerita yang saya baca, komentar cuma saya tinggalkan di sini. saya kadang tidak tahu mau nulis komentar seperti apa *cengengesan biar ga dikeplak authornya*
    salam kenal. sora imnida.. fyi, saya udah baca semua ff yang ada di sini. and by saying semua, I mean literally semua. dan yang bikin saya suka adalah karena cerita di sini kebanyakan one shot, jadi tidak perlu bikin pembaca menunggu. ini pun, biarpun hitungannya berkelanjutan, tapi tetap bisa dianggap bacaan yang stand alone. tetap semangat menulis ya.. I know the combination of writer block and real world sometimes lead to a very long hiatus, but I sincerely hope that you are not on your hiatus mode.

    1. hi, sora. it’s ok for leaving only one comment. I even think that it’s alright for you to leave none. I, myself, sometimes being a silent reader too. but if you want to say something and dont konw what to say, cukup tulis aja: cerita ini sudah saya baca. and yes, I think real world is just an excuse sometime. it’s my lack on writing tht makes my productivity soooo low. please pray for me. lol.

    1. iya, di aff kebanyakan castnya member grup2 baru, itu juga dipasanginnya rata2 ama OC. welcome to my blog. there’re some haesica fanfics you can find here 🙂

  3. kakkk aku udah duga bakalan ngegantunggg huhuh
    cepet di update yaa kelanjutannyaa
    aku suka banget sm ff buatanmuuu
    laffyaaa!!!

    1. Ini udah ada lanjutannya kok. Coba cek yg judulnya the stories when. Tp itu jg masih bersambung lagi sih. Haha..
      Terima kasih sudah mampir. Love you too 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s