six-first-kisses-donghae

Third Kiss: Lee Seungyeon

Donghae menatap pria itu berbaring tenang di hadapannya. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna gelap yang membungkus tubuh kurusnya hingga terlihat berwibawa. Wajah tuanya tampak tampan dengan sapuan bedak tipis yang dengan sukses menutupi garis-garis usia yang biasanya tampak di sudut mata dan bibirnya.

Mata itu dulu selalu menyiarkan sorot penuh ketenangan dan kasih sayang. Bibir itu dulu selalu melengkung membentuk sebuah senyum bangga—senyum yang ditujukan kepada anak kebanggaannya. Sekarang mata itu tertutup tanpa ada kemungkinan akan terbuka lagi. Bibir itu tetap melengkung, tapi senyuman yang ada di sana bukan lagi sebuah senyuman bangga yang bisa dia berikan kepada Donghae. Hanya ada kehampaan yang tersisa di sana.

Donghae menangis tersedu-sedu di sisi peti berpelitur indah tempat pria tua itu terbaring. Di sampingnya, ibu dan kakaknya duduk dengan kesedihan membayang di wajah masing-masing. Sesekali mereka menunduk, mengucapkan terima kasih kepada sanak saudara yang datang berkunjung untuk menyampaikan bela sungkawa. Donghae seharusnya juga duduk di sana, tapi dia masih belum bisa beranjak dari tempatnya saat ini. Dia belum puas menatap wajah tak bernyawa itu.

Bertahun-tahun dia tak melihat wajah ayahnya. Bertahun-tahun dia bertahan untuk hidup di sebuah tempat serba asing tanpa sekali pun berkesempatan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Bertahun-tahun dia harus berada jauh dari rumah demi menghidupkan mimpi sang ayah yang ingin melihatnya menjadi seorang penyanyi. Kini, ketika akhirnya dia berkesempatan pulang, yang dia dapati hanya wajah kaku dari pria yang selama ini menjadi panutan hidupnya.

“Maafkan aku, Abeoji. Maafkan aku,” ratapnya.

Donghae merasa begitu berdosa karena tidak sempat berada di samping ayahnya, bahkan hingga pria itu menghembuskan napas terakhir. Meski kakaknya sudah berulang kali berkata bahwa itu adalah permintaan ayah mereka yang tidak ingin Donghae merasa khawatir, tak pelak pria itu mengutuki dirinya sendiri.

“Kenapa kau pergi begitu cepat, Abeoji? Kau belum sempat melihatku tumbuh menjadi sesuai keinginanmu.”

Grup di mana Donghae bergabung memang belum lama debut. Jangankan mendapat puja-puji dari banyak penggemar, ada orang yang langsung mengenali ketika mereka berjalan di kawasan pertokoan pun sudah sangat mereka syukuri. Jangankan penghargaan dari acara musik, sebagian dari mereka bahkan masih harus menyisihkan uang saku untuk membeli album mereka sendiri untuk meningkatkan jumlah penjualan album. Donghae masih belum setenar yang diimpikan ayahnya, karena itu dia tidak rela ayahnya pergi tanpa memberinya kesempatan menunjukkan bahwa dia juga bisa menjadi seorang yang terkenal.

Seseorang menepuk punggungnya, membuat Donghae menoleh. Jungsoo dan beberapa rekannya yang lain hadir dengan menggunakan pakaian serba hitam sebagai penanda belasungkawa. Mereka memang berjanji akan segera menyusul setelah menunaikan jadwal di sebuah stasiun tv. Pria yang lebih tua itu langsung merangkul Donghae dan berusaha menghiburnya dengan kata-kata bijak, layaknya seorang kakak yang baik. Anggota Super Junior yang lain juga bergantian melakukan hal serupa, kemudian berkumpul di sebuah meja di sudut ruangan setelah mereka semua memberikan penghormatan terakhirnya kepada ayah Donghae.

Saat malam berangsur larut dan tamu-tamu sudah pulang, petugas pemakaman datang untuk membawa jenazah ayah Donghae untuk dikremasi. Ibunya kembali menitikkan air mata. Wanita paruh baya itu merangkul anak tertuanya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Berpisah dengan orang yang puluhan tahun menjadi teman hidup memang bukanlah hal mudah.

Donghae yang biasanya menjadi yang paling cengeng dalam keluarga itu berusaha menguatkan dirinya. Sambil mati-matian menahan air yang menggenang di pelupuk matanya, Donghae membungkuk untuk memberikan kecupan terakhir di wajah sang ayah. Bibirnya yang kering menempel di kening ayahnya yang dingin. Dalam hati, dia berjanji akan berjuang untuk mewujudkan mimpi pria itu. Dia akan menjadi seorang artis terkenal yang karyanya disenangi banyak orang. Dia akan memenangkan banyak penghargaan. Yang paling penting, dia akan memberi tahu semua orang bahwa di balik kesuksesannya, ada seorang ayah yang selalu menjadi sumber kekuatan baginya.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s