soheechulhaesica

Title: That Woman

Author: nchuhae

Main Cast: Kim Heechul, Ahn Sohee, Lee Donghae, Jessica Jung

Support Cast: Min Sunye, Kim Soohyun

Length: Oneshot, 8K words

Genre: Drama, (mild) Romance, Friendship

Rating: G

A/N: Cerita ini masih ada hubungannya dengan At The End Of Their Third Meeting. Sejenis sequel, mungkin? 😀

***

“Aku baik-baik saja, Unnie,” Sohee berujar kepada lawan bicaranya di telepon. Ada tawa pelan terselip di ujung kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu, sebuah tawa yang menurutnya wajar hadir karena pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya—yang membuat dia harus mengeluarkan keterangan bahwa dirinya sedang baik-baik saja—sungguh sangat berlebihan.

Lawan bicaranya yang berada di ujung telepon terdengar menghela napas panjang. “Bisa-bisanya kau tertawa seperti itu sementara aku di sini khawatir setengah mati,” gerutunya.

Sohee tersenyum lagi. Unnie-nya yang satu ini memang tidak pernah berubah. Di satu sisi dia begitu dewasa, tapi tidak jarang hal kecil saja bisa membuatnya bersikap seperti bocah lima tahun. “Jangan berbicara seperti itu kepadaku, Unnie. Apa yang akan dipikirkan Eunyoo jika mendengar ibunya menggerutu seperti yang kau lakukan ini?” canda Sohee, sangat tahu bahwa di seberang sana, Sunye sedang cemberut karena kekhawatirannya kepada gadis yang lebih muda tiga tahun darinya itu malah ditanggapi dengan begitu santai.

Bukan salah Sunye sebenarnya jika tiba-tiba dia panik mendapati berita bahwa mantan rekan satu grupnya, yang dianggapnya seperti adik sendiri, sedang menderita penyakit serius. Dan bukan salah Sohee juga jika pertanyaan unnie-nya itu dia jawab dengan nada geli. Untuk yang kesekian kalinya hari itu, telepon dengan pertanyaan serupa datang kepadanya. Salahkan para pembuat berita yang bisa-bisanya berkesimpulan bahwa dia sedang menderita sebuah penyakit parah hanya karena dia berulang kali terlihat mengunjungi rumah sakit dalam waktu beberapa minggu terakhir.

Sohee mendudukkan dirinya di atas sofa panjang berwarna peach di ruang tamunya. Gadis itu meraih remote untuk memelankan volume mp3 player yang sejak tadi melantunkan lagu lawas Celine Dion untuk mengusir hening di apartemennya. Dia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa itu, mencari posisi yang nyaman untuknya menikmati guyuran salju yang berjatuhan di balik kaca jendela, kemudian melanjutkan obrolannya.

“Aku baik-baik saja, Unnie,” ujarnya mengulang perkataannya beberapa saat lalu, kali ini dengan nada menenangkan yang sepertinya diharapkan Sunye saat awal dia menelepon. Sohee merasa dirinya seperti sebuah kaset rusak karena harus mengulang penjelasan yang sama berkali-kali, tapi meski merasa sedikit bosan, dia tetap berkata, “Ini untuk proyek film terbaruku. Aku ditawari sebuah peran yang membuatku merasa harus berkonsultasi dengan seorang prefesional. Dan dalam hal ini, orang itu adalah dokter ahli saraf. Sungguh, Unnie, yang sakit itu hanyalah karakter yang akan kumainkan. Sohee yang sebenarnya masih baik-baik saja.”

“Kau yakin sedang tidak berbohong demi menenangkanku? Hanya itu yang kau lakukan di rumah sakit? Hanya berkonsultasi untuk peran?”

“Aku juga sekaligus menjenguk Nona Jung,” beritahu Sohee. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba pemberitahuan tidak perlu itu dia kemukakan, tapi rasanya semua mengalir begitu saja. Dia mengenal Sunye sejak usianya masih sangat muda. Mereka menjalani masa trainee yang panjang bersama-sama. Saling berbagi cerita sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Dan Sohee, gadis itu tidak pernah bisa merahasiakan hal sekecil apapun kepada Sunye.

Di seberang sana, Sunye hanya terdiam. Sohee tiba-tiba merasa bisa membayangkan alis lawan bicaranya itu terangkat karena tidak punya ide tentang seorang bermarga Jung yang baru saja disebutkan Sohee. Merasa keterangannya masih belum cukup, gadis itu menambahkan, “Kau tahu, kan, Jessica Jung, desainer yang waktu itu pingsan di acara peragaan busana miliknya dan belum sadar sampai sekarang? Dia dirawat di rumah sakit yang sama, jadi sekalian saja aku berkunjung.”

“Ah, aku ingat kepadanya,” seru Sunye akhirnya. “Aku membaca berita tentangnya beberapa waktu lalu. Sayang sekali gadis semuda dengan karier secemerlang dirinya harus mengalami hal seperti itu.”

Sohee mengangguk meski tahu Sunye tidak akan bisa melihat gesturnya itu. Dia hanya merasa perlu melakukan sesuatu untuk menyatakan pembenarannya atas ucapan Sunye barusan.

“Bicara tentang peragaan busana waktu itu, aku jadi teringat pada pria yang pernah kau ceritakan kepadaku. Apakah dia masih sering mengirimimu pesan-pesan aneh?”

Sohee tidak langsung menjawab. Pertanyaan Sunye barusan entah kenapa membuatnya mendadak kesal. Bukan kepada Sunye, tentu saja. Pria yang mereka bicarakan itu—ah, Sohee bahkan tidak yakin kalau itu adalah pria. Di atas segalanya, dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mendengar suara pengirim pesan yang dimaksudkan Sunye—memang masih saja rajin memenuhi kotak masuk pesannya dengan sebuah kalimat konyol. Satu kalimat yang selalu sama, dikirim berkali-kali, dan tetap saja datang meski gadis itu sudah mengganti nomor teleponnya.

Gadis bermata eksotis itu masih ingat detil kalimat yang pertama kali datang kepadanya beberapa saat setelah dia berjalan melintasi catwalk demi memamerkan busana musim semi rancangan Jessica Jung, tepat di hari ketika desainer muda itu jatuh tak sadarkan diri di hadapannya.

Kau terlihat sangat imut dengan baju yang kau kenakan di catwalk tadi.

Ingin rasanya aku mencium bibirmu sekali saja.

Awalnya Sohee berpikir itu hanyalah perbuatan iseng penggemarnya. Teman-temannya yang lain juga berbagi pikiran yang sama. Akhirnya pesan itu hanya dia hapus tanpa berniat mencari tahu siapa pengirimnya. Tapi pesan yang sama terus saja menyapanya setiap hari, dan lama-kelamaan dia merasa tidak nyaman. Soohyun, kekasihnya, sempat menyarankan agar dia melapor ke polisi. Dan sungguh, jika saja pemberitaan konyol tentang dirinya yang menderita penyakit serius tidak menghiasi portal berita hari ini, dia mungkin akan mempertimbangkan usulan kekasihnya itu. Dipikir-pikir, sudah setahun lebih berlalu sejak insiden yang menimpa Jessica Jung, dan Sohee melewatkan periode waktu yang sama dengan mendapati pemberitahuan bahwa ada seseorang di luar sana, yang sama sekali tidak dikenalnya, ingin mencium bibirnya sekali saja.

“Sohee-ya, kita sambung pembicaraan kita nanti saja, ya. Eunyoo tiba-tiba menangis,” Sunye memberi tahu, dan tanpa menunggu jawaban dari Sohee, ibu muda itu mematikan telepon demi menenangkan anaknya.

Gadis yang lebih muda itu hanya berdecak melihat kelakuan unnie-nya. Jika mengingat bagaimana dia bertanya dengan nada cemas mengenai keadaan Sohee beberapa saat lalu, tindakannya yang mematikan telepon begitu saja terasa sangat bertolak belakang. Sohee bahkan belum menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan Sunye untuknya. Gadis itu jadi bertanya-tanya, apakah Sunye menelepon karena benar-benar khawatir terhadap kesehatannya, ataukah hanya untuk mengingatkannya pada pengirim pesan misterius itu. “Tadi mencemaskanku setengah mati dan sekarang malah tidak menghiraukanku, uh?” ujar gadis itu dengan senyum kekanakan menghias sudut bibirnya.

Tepat ketika Sohee ingin menaruh telepon genggamnya di meja kecil di sebelah sofanya, benda pintar berteknologi tinggi itu kembali berbunyi. Bukan deringan panjang pertanda panggilan masuk, hanya sebuah bunyi bip pelan yang menjadi penanda pesan masuk. Entah keyakinan dari mana, gadis itu merasa tahu pesan seperti apa yang akan menyapanya saat dia menekan tanda amplop yang berkedip-kedip itu.

Dan dugaannya sama sekali tidak keliru. Pesan itu datang lagi.

Aku ingin mencium bibirmu sekali saja.

***

“Apakah aku sudah pernah bilang kalau kau terlihat bodoh dengan senyum seperti itu, Hyung?”

Pria yang dipanggil hyung itu sama sekali tidak punya niat menimpali komentar yang baru saja ditujukan kepadanya. Dia tahu senyuman hanya akan membuat dirinya terlihat lebih tampan dan berkharisma. Sebuah komentar yang bahkan tidak terdengar serius tidak akan mengurangi keyakinannya itu.

Lagipula, bagaimana mungkin dia sekarang tidak akan tersenyum jika tahu bahwa di suatu tempat di belahan dunia berbeda, seorang gadis baru saja menerima pesan cinta darinya? Ah, betapa Heechul merasa begitu bahagia hanya dengan membayangkan gadis itu akan mengerutkan kening setelah mendapati pesan yang baru saja dia kirim.

“Dia bahkan tidak pernah mengacuhkan satu pun pesanmu.”

Kali ini pria itu berbalik, hanya demi mendapati pria lain yang berusia tiga tahun lebih muda darinya sedang duduk malas di sofa ruang kerjanya sambil menekan-nekan remote televisi secara acak, entah sedang mencari siaran seperti apa.

“Ya, Lee Donghae, kau berencana merusak televisi baruku, huh?” bentaknya sambil merebut benda panjang berwarna hitam yang sejak beberapa saat lalu ditekan-tekan Donghae tanpa tujuan yang jelas. Dia meletakkan benda itu di saku jas kerjanya yang berwarna putih, memastikan benda itu aman dari tangan perusak Donghae, sebelum akhirnya ikut duduk di samping dongsaeng-nya itu. “Aku harus menunggu dua bulan sampai akhirnya pihak perusahaan setuju memasangkan benda ini di ruanganku,” jelasnya.

Donghae mengembuskan napas panjang karena sikap kekanakan hyung-nya itu. “Aku masih tidak habis pikir kenapa pihak managemen mau mengabulkan permintaan konyolmu. Home theater di dalam sebuah laboratorium kimia organik terdengar sangat tidak pas,” komentar Donghae, masih dengan tatapan lekat pada layar lima puluh inch di hadapannya.

“Itulah hebatnya seorang Kim Heechul,” ujar pria berjas putih itu sambil mengibaskan rambut cokelatnya yang sudah mulai panjang. “Lagipula, aku kan butuh penyegaran. Seharian berurusan dengan peralatan lab membuat kepalaku sakit, dan sepertinya perusahaan sepenuhnya menyadari bahwa aset penting seperti diriku tidak boleh sakit.”

Donghae mengembuskan napas panjang sekali lagi. Memang bukan Kim Heechul jika berbicara tanpa memberi kesan betapa hebat dirinya. Orang yang tidak mengenalnya pasti sudah bosan mendengarnya terus-menerus berceloteh random tentang hal tidak penting tentang hidupnya yang begitu sempurna. Tapi Donghae berbeda. Meski jarang menunjukkannya lewat tawa, dia selalu merasa bahwa celotehan Heechul itu sangat menghibur. Lagipula, di atas segalanya, Donghae merasa ucapan pria yang dipanggilnya hyung itu sama sekali tidak keliru. Perusahaan tempat mereka bekerja memang mempekerjakan orang-orang dengan kemampuan terbaik di berbagai bidang, tapi Heechul adalah sebuah pengecualian. Dia meraih gelar doktornya di bidang kimia organik saat usia 14 tahun dan melakukan terobosan-terobosan berdaya jual tinggi sejak saat itu. Seorang jenius seperti dirinya adalah sesuatu yang tidak mungkin bersedia dikecewakan oleh pihak perusahaan. Bukan tanpa alasan dia disediakan laboratorium pribadi yang bebas didekorasinya seperti apapun. Seperangkat home theater adalah hal sepele.

“Aku tidak peduli dia membalasnya atau tidak,” ujar Heechul, menjawab pertanyaan Donghae beberapa saat lalu sambil mengangkat kakinya ke sofa, duduk bersila sambil meneguk bir dalam kaleng hijau yang sedang digenggamnya.

Betapa Donghae ingin mempercayai kata-kata itu, tapi dia tidak pernah berhasil.

“Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menemuinya langsung.”

Heechul hampir saja tersedak oleh minumannya sendiri ketika mendengar apa yang diucapkan Donghae. Pria yang lebih tua itu segera menoleh ke arah kanan, tempat di mana Donghae duduk, kemudian melemparkan pandangan mengejek kepada dongsaeng-nya itu. “Kau butuh waktu setahun lebih sampai akhirnya berani menampakkan dirimu di depan Jessica Jung.”

Mendengar nama yang baru saja diucapakan Heehul membuat satu titik sensitif di hati Donghae seolah mencelos. “Kenapa kau jadi membawa nama gadis itu?”

Heechul mengedikkan bahunya. “Entahlah. Rasanya belakangan ini tidak ada hal lain yang bisa aku asosiasikan denganmu kecuali nama itu.”

Donghae hanya diam. Alih-alih menimpali perkataan Heechul yang juga tidak dia ketahui harus dijawab seperti apa, pria yang kini memotong pendek rambutnya itu lebih memilih menyaksikan siaran kartun yang tersaji di hadapannya. Tanpa minat, dia menatap ulat berwarna merah dan kuning di dalam layar itu bergerak-gerak dengan mimik lucu. Otaknya sibuk berkutat dengan ingatan tentang gadis yang baru saja Heechul sebutkan namanya.

Jessica Jung. Donghae mengenal gadis itu setelah terlibat dalam suatu tugas yang diberikan petinggi perusahaan tempatnya bekerja. Semua akan berakhir seperti halnya tugas lain yang sebelumnya dibebankan kepadanya jika saja kali ini pria itu tidak terlibat hubungan lebih dengan targetnya.

Di balik sorot matanya yang lembut, Donghae adalah seorang professional dalam hal ‘membungkam’ orang-orang tertentu yang masuk ke dalam daftar yang diserahkan atasannya. Dia kadang bisa dengan mudah menghilangkan nyawa targetnya dengan bantuan obat-obatan yang diracik Heechul di laboratoriumnya. Tapi Jessica adalah sebuah pengecualian baginya. Gadis itu hanya secara tidak sengaja menyaksikan sebuah tindak kriminal yang dilakukan seorang politisi terkenal hingga melibatkan dirinya pada skandal hukum terbesar Korea sejak lima tahun terakhir. Gadis itu hanya berada di tempat yang salah di waktu yang terlalu tepat, tidak seharusnya nyawanya melayang hanya karena hal itu. Lagipula, berbeda dengan target Donghae yang lain—yang latar belakang hidupnya begitu kelam hingga seringkali Donghae tidak ragu untuk memakai sejatanya dan menembakkan timah panas dalam benda itu ke tempurung kepala mereka—Jessica adalah orang yang baik. Masa remajanya akrab dengan kegiatan sosial di sana-sini. Bahkan setelah menjadi seorang terkenal pun, dia tetap rajin menyumbangkan pendapatannya untuk kegiatan amal. Donghae merasa tidak ada alasan untuk menghabisi nyawa gadis itu begitu saja.

Hyung, kau mau membuat sebuah kesepakatan konyol denganku?” ujar Donghae setengah berbisik. Sebagian dari dirinya masih tidak yakin dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

Donghae menoleh setelah menunggu beberapa menit dan tidak juga mendapat tanggapan dari Heechul. Benar saja, pria itu tidak lagi berada di sampingnya. Pria bermata sendu itu mengedarkan pandangannya ke arah lain demi mencari keberadaan Heechul yang pada akhirnya tetap tidak terlihat di sudut mana pun di ruangan luas itu. Sejak kapan pria itu pergi?

Bosan, akhirnya Donghae memutuskan mengayun tungkainya ke sudut lain ruangan lab serbaguna itu. Dia menatap kepulan asap yang keluar dari cairan hijau muda dalam tabung reaksi yang dibiarkan Heechul begitu saja di atas meja bersama peralatan eksperimen lain. Entah apa kegunaan cairan itu, Donghae tidak berani menebak. Otak liar Heechul kadang membuatnya melakukan beberapa percobaan aneh hanya demi menghasilkan obat yang bisa membantunya menjahili orang. Donghae masih ingat ketika pria yang lebih tua itu sengaja menghabiskan waktunya sehari penuh di dalam lab untuk membuat sebotol ramuan untuk mengerjai Hyukjae, rekan mereka dari divisi teknologi digital, pada hari April Mop tahun lalu. Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, tapi berhasil membuat Hyukjae tidak mampu menggerakkan tubuhnya selama seminggu. Cerdas, tapi konyol. Donghae sama sekali tidak heran jika setelah itu Hyukjae membalas dendam, menggunakan keahliannya dengan komputer untuk mengubah semua lagu di iPod Heechul menjadi suara belalang.

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mendekati meja itu tanpa memakai masker,” sebuah suara menyapa indra pendengaran Donghae, tepat ketika dia ingin melangkah menuju meja lain tempat sejumlah tabung reaksi lain diletakkan. Pria itu menoleh ke arah sumber suara, mendapati Heechul melangkah dari arah pintu menuju sofa empuk di dekat home theater barunya dengan tangan membawa sekotak besar cupcake.

Donghae memutar arah setelah mendapat peringatan dari Heechul. Pria itu melangkah kembali ke sofa tempatnya dan Heechul tadi mengobrol tanpa bertanya lebih lanjut mengapa dia harus memakai masker untuk mendekati meja yang disebutkan Heechul barusan.

“Sudah selesai dengan sesi melamunmu?” Heechul bertanya ketika Donghae sudah duduk di sampingnya.

“Huh?”

“Kau melamun sejak tadi,” jelas Heechul sambil membuka sepatunya dan menaikkan kakinya lagi ke atas sofa. Dia menyelonjorkan kakinya dan menyaksikan siaran televisi yang kini menampilkan berita selebriti. Pria itu lalu meraih sepotong kue yang dihias menyerupai wajah boneka-boneka lucu di Sesame Street dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, dia menambahkan, “Kau begitu sering melamun belakangan ini. Kau bahkan tidak menyadari ketika aku meninggalkan ruangan ini, kan?”

Donghae tidak menjawab, merasa pertanyaan Heechul barusan sudah sangat jelas jawabannya. Pria itu justru memutuskan untuk mengulangi pertanyaannya yang tadi tidak sempat didengar Heechul. “Hyung, kau mau membuat sebuah kesepakatan konyol denganku?”

Heechul menaikkan alisnya, hendak meminta penjelasan lebih lanjut. Donghae tidak mengerti sinyal itu, hingga Heechul terpaksa menyuarakan pertanyaannya dalam bentuk lain, masih dengan mulut penuh cupcake. “Apakah ini akan menyenangkan?”

Donghae mengedikkan bahu. “Aku tidak yakin kau akan menganggapnya seperti itu.”

Pria yang lebih tua itu tersenyum simpul. Setelah menelan kuenya, dia berkata, “Baiklah, Dongsaeng-ah, katakan padaku, sekonyol apa kesepatakan yang ada di benakmu sekarang?”

“Gadis itu,” ujar Donghae pelan, “jika dia membalas pesanmu, berjanjilah kau akan membuatkan penawar untuk Jessica.”

***

Sohee mengetuk-ngetuk layar selebar lima inch dalam genggamannya berkali-kali. Tubuhnya sangat lelah setelah aktivitas padat yang harus dia jalani sejak pagi. Yang dia inginkan saat ini hanyalah tidur. Sudah sejak sejam lalu dia berbaring di atas ranjang empuk berukuran king yang dilapisinya dengan bedcover lembut produksi Milan, mencoba membuat badannya rileks agar kantuk lebih cepat datang menghampiri, tapi matanya sepertinya sedang tidak ingin diajak bekerja sama.

Sohee sudah mencoba menghubungi Soohyun, kekasihnya. Dia pikir mengobrol tentang kegiatan yang mereka jalani hari ini bisa membuatnya mengantuk, tapi setelah tiga kali mencoba, yang didengarnya hanyalah nada tunggu. Sohee berkesimpulan bahwa pria yang dipacarinya sejak setahun lalu itu sudah tertidur saat ini.

Gadis itu akhirnya malah mendapati dirinya menggerakkan jari dengan asal di atas layar, membuka galeri foto dan memperhatikan foto-foto yang ada di sana. Sohee tidak terlalu suka berfoto, maka kebanyakan foto yang tampak olehnya adalah fotonya bersama Soohyun—yang diambil atas inisiatif pria itu—saat mereka berkencan. Ada senyum tipis yang merekah di bibirnya melihat betapa lucu ekspresi yang bisa muncul di wajah kekasihnya itu. Ah, dia merindukan pria itu.

Dia kesepian.

Dia bosan.

Sohee kemudian menutup galerinya dan ganti membuka sejumlah aplikasi lain yang terpasang dalam telepon pintar miliknya. Gadis itu beralih ke salah satu social messenger, mendapati bahwa Sunye tadi mengirim foto anaknya ke grup obrolan berisi teman-teman trainee mereka dulu. Sohee mengamati betapa lucu bocah kecil itu dan dalam hati bertanya-tanya seperti apa rupa anaknya nanti.

Ah, dia mulai melantur.

Semakin bosan, dia membuka kotak pesannya, membaca kembali pesan dari manager berisi jadwal kegiatan untuk beberapa hari ke depan. Besok siang dia ada jadwal wawancara live di sebuah talkshow, lalu ada pertemuan dengan kru dan pemain drama terbaru yang akan dibintanginya, dan setelah itu jadwalnya kosong. Dia berharap bisa bertemu Soohyun besok. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu. Tapi mengingat bahwa pria itu masih berada di Taipei untuk jumpa penggemar, rasanya keinginannya itu sedikit tidak masuk akal.

Sohee memutus rantai pikirannya tentang Soohyun di sana, menutup pesan dari managernya, dan bertekad akan melanjutkan usahanya untuk tidur. Semakin malam pikirannya semakin tidak karuan saja.

Tepat ketika dia akan menutup kotak pesan, pandangannya tercuri oleh satu pesan yang dikirim nomor tak dikenal dan sebaris kalimat di dalamnya.

Aku ingin mencium bibirmu sekali saja.

Mendadak, beragam rasa bercampur di dalam dirinya.

Dia memang kesal, dan itu sangatlah wajar. Tapi dia tidak bisa menampik rasa penasaran yang kadarnya semakin lama semakin tinggi. Siapa juga yang tidak akan bertanya-tanya mengenai identitas seorang tak dikenal—Sohee bahkan ragu itu adalah penggemarnya—yang setiap hari, tanpa bosan mengiriminya sebuah pesan konyol.

Apa aku mengenalmu?

Sohee menghapus sebaris kalimat yang baru saja diketiknya nyaris tanpa sadar itu. Jawaban dari pertanyaannya sudah sangat jelas.

Gadis 25 tahun itu sempat berpikir bahwa itu dilakukan orang terdekatnya. Memangnya siapa lagi yang bisa mendapatkan akses mengenai kontak pribadinya jika bukan orang yang dia kenal? Gadis itu selalu berhati-hati dan memilih dengan seksama siapa saja yang akan dia beritahu nomor ponselnya. Selain manager, teman, dan keluarga terdekatnya, Sohee tidak bisa lagi membayangkan orang lain yang mungkin menghubunginya meski dia sudah mengganti nomornya berulang kali sejak setahun terakhir. Tapi belakangan, dia semakin yakin bahwa pengirim pesan itu adalah seseorang yang lain, seseorang yang tidak bermaksud jahat, karena jika memang benar ada niatan buruk dari orang itu, saat ini pasti sudah terjadi sesuatu pada dirinya.

Tanpa disadari, sebuah senyum tipis perlahan terbit dari sudut bibir gadis itu. Keinginan untuk melapor ke polisi yang beberapa jam lalu sempat terpikir olehnya mendadak terasa sangat konyol. Sekarang dia merasa satu-satunya alasan kenapa ide itu muncul adalah karena dia hanya ingin meminta bantuan polisi untuk mencari tahu pengirim pesan itu. Hanya ingin tahu. Itu saja. Sohee tidak pernah benar-benar ingin mengirim orang itu ke balik jeruji besi.

Lagipula, jika harus jujur—dan sungguh, Sohee tidak ingin mengakui ini—di satu sudut di hatinya, entah kenapa ada perasaan hangat yang begitu aneh setiap kali pesan itu masuk. Gadis itu sendiri tidak bisa memastikan sejak kapan perasaan seperti itu muncul.

Sejak kecil Sohee tidak terlalu akrab dengan kedua orang tua dan keluarganya yang lain. Satu-satunya orang yang bisa dia percaya untuk mendengarkan semua isi hatinya adalah Sunye yang sejak dulu memang selalu memperlakukannya sebagai adik kandung. Semenjak gadis yang lebih tua itu memutuskan untuk meninggalkan kehidupan keartisannya dan berkeluarga, Sohee merasa ada jarak yang muncul antara mereka. Tentu saja Sunye masih tetap menjalin komunikasi dengannya. Setiap hari dia menelepon hanya demi mengetahui perkembangan dongsaeng kesayangannya itu, tapi Sohee merasa harus cukup tahu diri untuk tidak menyita terlalu banyak waktu Sunye yang semakin lama semakin sibuk dengan kehidupan barunya. Sedangkan Soohyun, pria yang sejak beberapa waktu belakangan dekat dengannya, adalah seseorang yang sangat sibuk. Sohee sudah cukup berbahagia jika pria itu bisa menemuinya sekali seminggu. Mengetahui bahwa ada orang lain di luar sana yang memikirkannya setiap hari adalah sebuah hal yang menyenangkan hatinya, tidak peduli meski itu adalah seseorang yang tidak dia kenal.

Kau siapa?

Aku ingin bertemu denganmu.

***

Donghae berjalan tergesa-gesa membelah kerumunan orang yang berlalu-lalang di terminal keberangkatan Bandara Heathrow. Kalau bukan karena tadi pagi-pagi sekali Heechul menelepon dan menyuruhnya segera ke tempat ini, pria itu pasti masih berada di dalam gulungan selimut tebal yang mampu menghangatkan tubuhnya di cuaca dingin seperti ini.

Temui aku di bandara. Penting!

Singkat dan bossy seperti biasa, tapi Donghae tidak pernah bisa mengabaikan perkataan Heechul. Dia yakin pasti ada sesuatu yang penting hingga pria yang lebih tua itu tega membuatnya harus ikhlas merelakan jam tidur paginya hari ini.

Donghae menggerakkan jari di atas layar telepon genggamnya, mencari nama Heechul di sana. Ketika tombol perintah panggil sudah menyala, dia menempelkan benda mungil berwarna putih itu ke telinga kirinya, sementara matanya masih aktif memindai sekitarnya, berharap di antara sekian banyak orang yang hadir di hadapannya, ada sosok hyung yang dia kenal.

“DONGHAE-YAAAA!”

Pria yang dipanggil namanya itu menoleh ke kanan dan kiri, merasa sangat yakin suara teriakan itu berasal tidak jauh dari tempatnya berdiri. Telepon yang menyala di kupingnya masih mengeluarkan nada tunggu hingga pria itu memilih mematikannya dan fokus mencari sumber suara yang tadi memanggilnya. Pencariannya berakhir sekitar semenit kemudian, ketika dia mendapati Heechul sedang berada di depan sebuah kedai kopi ternama, berdiri dalam balutan busana musim dingin bernuansa kelabu dan dengan satu tangan menggenggam satu cup besar kopi yang di kemasannya tertera logo seorang gadis berambut panjang bergelombang sementara tangan yang lain melambai-lambai ke arah Donghae.

Pria yang hari itu memutuskan memakai kacamata untuk menutupi matanya yang bengkak karena kurang tidur melangkah mendekati Heechul yang masih dengan bersemangat melambaikan tangan ke arahnya, meski sadar bahwa Donghae sudah melihat dirinya. Ketika akhirnya mereka berdua sudah berdiri berhadapan, Heechul merogoh saku mantelnya, kemudian tanpa aba-aba melemparkan benda yang baru saja diraihnya dari dalam sana kepada Donghae.

Donghae mungkin masih mengantuk, tapi pelatihan yang diberikan pihak perusahaan kepadanya membuat instingnya terasah hingga jadi begitu tajam. Dengan gerak refleks yang berhasil membuat Heechul kagum, dia menangkap benda yang dilemparkan hyung-nya itu hanya dengan satu tangan, bahkan tanpa berkedip atau sedikitpun mengeluarkan ekspresi kaget. Untuk beberapa saat, pria itu mengamati benda cair berwarna merah muda dalam botol mungil yang kini sudah ada di genggamannya, lalu bertanya, “Apa ini?”

“Sesuatu yang dibutuhkan Jessica Jung untuk terbangun dari tidur panjangnya.”

Donghae berkedip tidak percaya. Rasa kantuk yang sebelumnya bergelayut di matanya kini hilang karena kesadaran yang tiba-tiba menghampiri. Obat ini hanya bisa berimplikasi pada satu hal. “Gadis itu membalas pesanmu?” tanyanya setengah tak percaya.

Heechul hanya menanggapi pertanyaan itu dengan sebuah senyum jenaka yang membuat Donghae langsung memeluk pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.

“Kau memelukku karena senang mendengar kabar bahwa gadis itu membalas pesanku, atau karena aku memberikanmu obat yang kau minta?” tanya Heechul setelah Donghae melepaskan rangkulannya dari tubuh kurus pria itu.

Yang ditanya hanya bisa menggeleng asal, menunjukkan ketidaktahuannya atas jawaban dari pertanyaan itu. Senyum masih belum hilang dari wajahnya.

Heechul mendengus melihat ekspresi dongsaeng-nya itu, semakin curiga kalau Donghae tadi memeluknya benar-benar karena kemungkinan kedua. Oh, baiklah, kesembuhan Jessica Jung memang jauh lebih penting, tapi Heechul merasa tetap wajib memamerkan isi kotak masuk pesannya. Dia meraih benda itu dari dalam saku mantel tebalnya dan menunjukkannya kepada Donghae dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.

“Dia ingin bertemu denganku,” ujar Heechul bangga.

Sekali lagi Donghae berkedip tidak percaya. “Jangan bilang kau berencana untuk segera terbang ke Korea hanya karena pesan itu.”

Heechul tidak segera menjawab pertanyaan Donghae. Pria itu memilih duduk terlebih dahulu, menyesap kopinya yang sudah mulai dingin, membiarkan Donghae menunggunya dengan raut penasaran.

Hyung, kau serius akan berangkat ke Korea?” Donghae yang kini ikut duduk di depan Heechul kembali bertanya.

“Bukan hanya aku. Kau juga akan ikut bersamaku,” beritahu Heechul.

“Aku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri, mengeluarkan ekspresi yang membuat Heechul berpikir itu adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan seseorang.

Heechul merogoh sakunya sekali lagi, mencari benda lain dari dalam sana. “Kupikir kau ingin menggunakan obat yang kuberikan padamu sesegera mungkin,” jelasnya sembari mengangsurkan selembar kertas berukuran kecil ke arah Donghae.

Donghae kembali dibuat terkejut ketika mendapati bahwa kertas berwarna putih itu adalah tiket penerbangan komersil jurusan London-Incheon yang dipesan atas namanya—untuknya. Dia menerima lembaran kertas tipis itu dengan mata berkaca-kaca. Kim Heechul memang tidak pernah bisa berhenti membuatnya takjub.

“Kacamatamu bagus,” komentar Heechul setelah membiarkan hening cukup lama menyelimuti mereka. Dia sudah menandaskan caramel macchiato dalam gelasnya, sedangkan Donghae masih saja sibuk memperhatikan tiket yang tadi dia berikan. Ah, dongsaeng-nya yang satu itu memang kadang bisa jadi terlalu melankolis.

Pria yang lebih muda itu mendongak, menatap Heechul dari balik kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya. Heechul terlihat sedang bertopang dagu sambil menatap orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka dengan pandangan tidak minat. “Cukup bagus untuk menutupi kantung mataku,” ujar Donghae.

“Dan tangis terharumu saat tahu aku memberikanmu tiket.”

“Eh? Bagaimana kau tahu?”

“Jangan bercanda. Sejak kapan kau bisa menutupi sesuatu dariku?”

***

Sohee nyaris menjerit ketika pagi itu dia melihat telepon genggamnya dan mendapati dua baris kalimat yang tertera di layar benda digital itu. Gadis itu masih ingat semalam di tengah-tengah usahanya untuk tertidur, dia melakukan banyak hal dengan benda pintar itu. Dia bahkan mengetik sejumlah pesan yang segera dia hapus tak lama setelah dia selesai mengetik. Dua kalimat itu, kalimat memalukan itu, seingatnya juga sudah ia hapus sebelum akhirnya jatuh ke alam mimpi.

Gadis itu menarik napas panjang berulang kali, mencoba menenangkan dirinya yang tiba-tiba merasa sangat bodoh. “Tenanglah, Ahn Sohee, ini bukan hal yang perlu dipersoalkan,” ujarnya pada diri sendiri. “Semua akan baik-baik saja.”

***

Hari sudah kembali gelap ketika Heechul dan Donghae menginjakkan kaki mereka keluar dari pintu terminal kedatangan Bandara Incheon. Semilir angin malam menyapa wajah mereka, meniup-niup anak rambut Heechul yang sudah mulai memanjang. Udara musim dingin yang suhunya sedikit lebih rendah dibanding London membuat jaket tebal yang mereka kenakan seolah tidak memberi pengaruh apa-apa.

Donghae merapatkan jaket cokelat yang dia kenakan sambil menatap butiran salju yang berjatuhan tidak jauh dari hadapannya. Gumpalan putih nan lembut itu kembali mengingatkannya pada hari ketika terakhir kali dia melihat Jessica. Tanpa sadar pria itu merogoh sakunya, meraba botol mungil yang diberikan Heechul sebelum mereka berangkat. Sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya yang hampir selalu terlihat sendu. Membayangkan bahwa tidak lama lagi gadis itu akan tersadar dari tidur panjangnya entah kenapa memberi rasa bahagia yang aneh di dalam dirinya.

“Tunggu sebentar,” Heechul tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Donghae yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. Pria yang lebih muda itu menatap heran ke arah Heechul yang memicingkan mata kepadanya penuh curiga. “Gadis itu benar-benar membalas pesanku, kan? Ini bukan ulahmu yang meminta bantuan Hyukjae untuk melakukan sesuatu dengan komputernya, entah dengan cara apa itu, untuk memberi kesan bahwa gadis itulah yang membalas pesanku padahal sebenarnya gadis itu tidak pernah melakukannya?” tanya Heechul.

“Hyukjae masih marah padamu setelah kau mengerjainya saat April Mop tahun lalu. Jangankan membantuku dengan cara seperti itu, mendengarku menyebut namamu saja sudah bisa membuat dia tega mengusirku dari hadapannya.”

“Benarkah?”

“Terakhir kali aku menemuinya adalah ketika aku memintanya mencarikan nomor telepon gadis itu,” beritahu Donghae.

“Kau yakin?”

“Kau bisa kembali ke London kalau tidak percaya padaku,” Donghae berujar acuh, memutuskan untuk menyetop taksi yang kebetulan melintas di hadapannya, dan segera masuk ke dalam kendaraan itu.

Mata Heechul kembali berbinar. Senyum yang sempat hilang karena terlalu khawatir kini hadir lagi menghias bibirnya. Setengah berlari, dia menyusul Donghae yang sudah menunggunya di dalam taksi.

“Hei, kau mau tahu satu rahasia?” tanya Heechul ketika taksi yang ditumpanginya sudah melaju, siap membawa mereka ke apartemen Donghae yang terletak di jantung kota Seoul.

“Apa?” Donghae balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip lampu di balik kaca jendela di sebelah kanannya.

“Aku menciptakan obat itu sudah lama.”

Kali ini Donghae menoleh. Keterkejutan bercampur rasa ingin tahu nampak di wajahnya. Desakan untuk meminta Heechul memberikan penjelasan lebih tergambar jelas di matanya.

Heechul mengibaskan rambut pirangnya penuh percaya diri. “Meski aku tidak tahu kapan, tapi aku tahu kau pasti akan memintaku membuatnya.”

“Jadi sebenarnya sudah berapa lama kau mulai meracik obat itu?”

“Aku tidak pernah membuat sesuatu tanpa memikirkan penawarnya, Dongsaeng-ah. Sejak awal kau memintaku membuat obat khusus untuk gadismu itu, aku sudah merancang formula penawarnya, tapi baru benar-benar meramunya saat mendengar berita kematian klien yang menyewamu waktu itu,” terang Heechul.

Donghae selalu percaya bahwa di balik sikap cuek dan kekanakan yang selalu diperlihatkan Heechul kepada semua orang, ada kepedulian yang teramat dalam di dalam diri pria itu. Tapi semua itu baru benar-benar diketahuinya hari ini.

Seperti kata Heechul, orang yang waktu itu menyewa jasanya sudah terbunuh dalam sebuah kecelakaan pesawat, tidak lama setelah dia dinyatakan tidak bersalah oleh hakim karena pihak jaksa penuntut tidak bisa menghadirkan saksi untuk memberatkannya. Ketika mendengar berita kematian orang itu, Donghae sudah berniat meminta Heechul membuatkan penawar untuk obat yang diberikannya kepada Jessica, tapi tidak pernah menemukan cara yang tepat untuk mengajukan permintaannya itu. Siapa sangka bahwa tanpa Donghae meminta pun, Heechul sudah melakukannya sejak jauh hari.

“Kalau kemarin kau tidak menyinggung soal obat itu, aku pasti sudah lupa pernah membuatnya,” Heechul menambahkan.

Donghae hanya bisa tersenyum. Terlalu banyak hal  tak terduga yang terjadi padanya sejak dua belas jam terakhir, dan semua itu bersumber dari satu orang: Kim Heechul.

***

“Itu hanya untuk pendalaman karakter,” beritahu Sohee kepada MC acara talkshow yang saat itu sedang dibintanginya. “Aku tidak paham bagaimana rekan-rekan wartawan bisa sampai pada kesimpulan bahwa kunjunganku ke rumah sakit beberapa waktu lalu adalah karena aku menderita penyakit serius, tapi sungguh, itu adalah sebuah kekeliruan besar,” jelasnya sambil tersenyum sopan.

“Aku tidak tahu dia pernah diberitakan menderita penyakit,” ujar Heechul, setengah berteriak agar Donghae yang saat itu sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di dapur mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya.

“Itu karena kau hanya sibuk mengiriminya pesan konyol setiap hari,” komentar Donghae, juga setengah berteriak.

Heechul hanya mengedikkan bahunya, lalu kembali sibuk memperhatikan dengan seksama layar televisi di depannya. Dia tadi sedang iseng menyalakan benda elektronik itu ketika wajah Sohee tiba-tiba muncul di sana. Gadis itu sedang menjadi bintang tamu sebuah acara talkshow yang kebetulan membahas kabar tentang dirinya, yang beberapa hari sebelumnya heboh diberitakan media online dan menjadi topik perbincangan hangat para pengguna internet.

“Bodoh sekali,” pikir Heechul. “Wartawan itu pasti sudah kehabisan bahan berita hingga mengarang hal tidak masuk akal seperti itu.”

Pria itu mengeluarkan begitu banyak kata-kata celaan sepanjang acara itu berlangsung. Terlalu banyak pertanyaan tidak penting, menurutnya. Dia yakin jika dirinya diberikan waktu setengah jam berada berhadap-hadapan dengan gadis itu dan bisa menanyakan apapun, dia akan menanyakan hal lain yang lebih berbobot. Heechul baru berhenti mengoceh ketika pria paruh baya berbadan kurus yang mewawancarai Sohee terlihat sudah akan menutup acara.

“Kau belum pernah memberitahuku apa yang membuatmu menyukai gadis itu,” ujar Donghae yang saat itu baru datang dengan sepiring sandwich di tangannya. Dia meletakkan makanan itu di sebelah dua gelas susu cokelat yang sudah terlebih dulu dia letakkan di atas meja di hadapan Heechul, sebelum akhirnya duduk di sofa lain yang ukurannya lebih kecil dibanding yang diduduki hyung-nya itu.

“Kata siapa aku menyukainya?” elak Heechul. “Aku bahkan baru tahu nama lengkapnya setelah menyaksikan acara talkshow tadi.”

“Kalau kau tidak menyukainya, kenapa kau memaksaku meminta bantuan Hyukjae untuk mencari nomor teleponnya, mengiriminya pesan setiap hari, dan langsung mengambil penerbangan pertama ke Korea setelah akhirnya  dia membalas pesanmu?”

Heechul hanya mengedikkan bahu.

“Lalu kapan kau akan menemuinya?”

“Entahlah,” jawab Heechul, berusaha mengesankan ketidakpedulian dengan caranya menjawab. Pria itu lalu asyik mencomot makanan di hadapannya, mengunyah roti gandum berlapis sayuran dan keju itu dengan lahap untuk menegaskan ketidakpeduliannya.

“Kau gugup?” Donghae bertanya lagi, mendadak merasa ingin mengusili Heechul.

Heechul tidak menjawab apapun, tapi dia menghadiahi Donghae sebuah tatapan sialan-kau-Lee-Donghae yang alih-alih membuat yang ditatap merasa terintimidasi, justru menghadirkan gelak tawa dari pria berwajah sendu itu.

“Nikmati waktumu, Hyung. Tapi ingat, jangan terlalu lama. Perusahaan hanya memberi kita cuti selama seminggu.”

Heechul hanya bisa mengerang malas. Tanpa diingatkan pun dia sudah tahu akan hal itu. Hanya saja, setelah kemarin dia begitu menggebu-gebu ingin berangkat ke Korea dan menemui gadis itu, rasanya dia tiba-tiba mati akal sekarang. Bagaimana dia harus menampakkan dirinya di hadapan gadis itu? Apa yang akan dia katakan saat mereka bertemu nanti? Dan kemungkinan terburuk, yang bodohnya baru terpikir olehnya semalam, bagaimana jika sebenarnya bukan gadis itu yang membalas pesannya? Bagaimana jika itu hanya ulah iseng orang lain—dan sungguh dia berharap ini bukan ulah Hyukjae dan komputer sialannya—yang berusaha mempermainkan dia?

Sialan, dia bahkan sudah melantur sekarang.

Heechul menatap Donghae yang saat itu sedang asyik dengan segelas susu cokelat di tangannya. Dia baru sadar bahwa pria yang lebih muda itu sudah tampak rapi dengan polo shirt berwarna putih dan celana jeans biru gelap melekat di tubuhnya, berbanding terbalik dengan Heechul yang masih menggunakan piyama bergambar karakter Anna dari film animasi Frozen.

“Kau mau ke mana?”

Donghae meneguk susunya sebelum menjawab, “Membangunkan putri tidur kita.”

Heechul langsung berseru riang sambil bertepuk penuh semangat. “Keren sekali, Prince Charming penikmat susu cokelat!” komentarnya. “Kau benar-benar tidak mau mengulur waktu, huh?”

Donghae menangkap candaan sinis di balik ucapan Heechul barusan, tapi memilih tidak mengacuhkannya. Setelah menandaskan sarapannya, dia berdiri, meraih jaket tebal yang tersampir di dekat pintu. Pria itu mengenakan jaketnya sambil berbalik ke arah Heechul yang memperhatikannya dari arah sofa.

“Dia sudah cukup lama menderita, Hyung,” kata Donghae sebelum meninggalkan Heechul sendirian di apartemennya.

***

Ruangan putih berukuran luas itu tampak sepi ketika Donghae melangkahkan kaki ke dalamnya. Dia berjalan ke tengah ruangan, tempat di mana seseorang yang sudah setahun lebih tidak dilihatnya, kini terbaring dengan mata tertutup.

Donghae menatap sosok feminin di hadapannya dengan penuh kerinduan. Wajah gadis itu masih secantik dulu. Bedanya, kali ini tidak ada senyum hangat di sudut bibir gadis itu untuknya. Dia di sana terbaring damai, tanpa ekspresi, nyaris mati. Selain layar monitor di sisi tempat tidur yang secara berkala menunjukkan informasi mengenai frekuensi detak jantung dan tekanan darahnya, tidak ada tanda kehidupan lain yang didapatkan Donghae dari tubuh yang terbaring tanpa tenaga itu.

Donghae mengalihkan pandangannya ke botol infus tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tangan pria itu ada di dalam saku jas putih yang tadi ‘dipinjamnya’ dari salah seorang dokter di rumah sakit ini. Di dalam sana, dia menemukan obat yang diberikan Heechul, obat yang akan membawa gadis itu kembali dari alam bawah sadarnya.

Menurut Heechul, dia hanya perlu menyuntikkan obat itu ke tubuh Jessica dan setelah beberapa belas menit, gadis itu akan terbangun. Hanya dengan pemikiran bahwa sebentar lagi dia bisa membuat gadis itu sadar dari koma panjang yang dialaminya, jantung di balik rongga dada Donghae mendadak berdegup begitu kencang—sesuatu yang seingatnya terakhir kali terjadi ketika dia nyaris mati saat melakukan sebuah misi di Budapest tiga tahun lalu.

Penuh kehati-hatian, pria itu menyuntikkan cairan merah muda dalam botol di genggamannya ke botol infus yang menyuplai energi ke tubuh Jessica sejak setahun terakhir. Dia menyaksikan bagaimana liquid berwarna itu bercampur dengan benda serupa yang sudah terlebih dulu ada di dalam botol, lalu perlahan mengalir ke dalam tubuh gadis di depannya.

Hampir setengah jam berlalu dan semua masih tampak sama. Gadis muda itu masih diam, tidak bergerak, lumpuh, mati.

Ada sejumput kerisauan yang sempat mendera Donghae ketika waktu yang dijanjikan Heechul berlalu dan tidak ada hal menarik yang terjadi. Benda-benda elektronik yang menunjang hidup Jessica tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Sama sekali tidak muncul reaksi dari tubuh gadis itu.

Tapi Donghae segera menghalau kekhawatirannya, percaya bahwa hyung-nya yang hebat itu tidak akan pernah gagal mengkreasi ramuan apapun. Dia hanya harus sedikit lebih sabar. Mungkin Heechul hanya salah mengalkulasi waktu agar obatnya itu beraksi sepenuhnya.

Donghae berdiri di sana selama setengah jam lebih lama, mematung, menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya tanda-tanda kehidupan hadir kembali dari sosok lemah di hadapannya.

***

“Kau sudah sadar?”

Suara itu terdengar oleh Jessica sebelum dia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Dia sudah membuka matanya sejak tadi, tapi pandangannya masih kabur. Yang bisa tertangkap olehnya hanyalah figur seseorang yang berdiri di sisinya, menatapnya.

“Jessica….”

Suara itu terdengar lagi. Suara yang terasa familiar baginya. Siapa orang itu? Kenapa orang itu memanggil namanya dengan suara bergetar?

Jessica mengedipkan matanya dengan lemah. Ada daya yang kuat yang seolah menghalanginya untuk menggerakkan kelopak matanya, tapi gadis itu tidak mau menyerah. Dia butuh cahaya. Dia sudah lelah membiarkan kegelapan menyelubunginya. Percobaan pertama, semua nyaris sama. Percobaan kedua, dia merasa begitu lelah hanya karena berusaha melihat. Gadis itu menutup matanya lebih lama, merilis lelah tak beralasan yang menggelayutinya, menghimpun kekuatan, berharap, berdoa agar bisa segera melihat dengan normal dan mencari tahu siapa pemilik suara yang baru saja didengarnya.

“Jessica,” orang itu menyentuh lengan Jessica, panik. “Kau baik-baik saja, kan?”

Percobaan ketiga, retinanya perlahan bisa memproses cahaya yang masuk dengan lebih normal.

“Kau?” gadis itu berujar lemah.

Jessica mengenal wajah pria di depannya. Dia mengenal tatapan sendu serta senyuman yang tersungging di sudut bibir tipis dan kemerahan itu dengan sangat baik. Itu adalah wajah terakhir yang dia tatap sebelum kegelapan yang panjang memerangkapnya. Oh, betapa dia merindukan pemilik wajah itu.

Rindu, sekaligus benci.

Masih begitu segar di ingatannya tentang apa yang sudah diperbuat pria itu kepadanya. Pria itulah yang bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi kepadanya. Pria itu adalah orang yang dengan tega memanfaatkan persahabatan yang Jessica tawarkan hanya agar dia bisa membuat gadis itu tampak seperti orang bodoh yang dengan suka hati meminum sendiri racun untuk dirinya. Pria itu pembunuh yang ditugaskan untuk menghabisi nyawanya.

Pria itu menggenggam erat tangan Jessica, membuat gadis itu merasakan hangat yang berbeda di kulit tangannya. “Kau kembali,” kata pria itu.

Jessica berharap dia salah. Ya, dia pasti salah karena mengira baru saja melihat mata pria itu berkaca-kaca dan menatapnya penuh haru. Pria itu dulu ingin membunuhnya. Tidak mungkin kesadaran gadis itu malah membuatnya menangis haru.

Oh, kecuali kalau dia lagi-lagi sedang berpura-pura. Pria itu ahli dalam hal menipu.

Tapi Jessica tidak akan membiarkan pria itu menipunya lagi.

“Pergi,” usirnya. “Aku tidak ingin melihatmu.”

***

“Hai, Prince Charming,” sapaan itu menyambut Donghae ketika dia membuka pintu apartemennya. “Bagaimana kabar putri tidur kita?”

Pria itu menoleh, mendapati Heechul masih ada di posisi yang sama seperti saat dia meninggalkan tempat ini. “Dia terbangun sebelum aku sempat mencium bibirnya,” jawab Donghae sembari melepas jaketnya dan menggantung benda itu di dekat pintu. Dia lalu bergabung dengan Heechul yang saat itu sedang duduk di atas sofa panjang yang menghadap ke arah tv tanpa berkata apa-apa lagi.

“Kupikir setelah dia terbangun, kalian akan hidup bahagia selamanya. Kau tahu, seperti dongeng.”

Donghae tersenyum hambar. “Kisah kami bukan dongeng, Hyung.”

Heechul menangkap dengan jelas siratan kepedihan dari kalimat Donghae barusan, dan dia sudah terlalu mengenal Donghae untuk tahu bahwa pria itu tidak ingin membahas masalah ini lagi. Yah, setidaknya Jessica sudah terbangun dari koma panjangnya. Itu berarti obatnya berhasil.

“Kau tidak ke mana-mana seharian ini?” kali ini giliran Donghae yang bertanya. Melihat piyama Frozen yang sama masih melekat di tubuh hyung-nya, dia sebenarnya sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Pria itu bahkan ragu kalau Heechul sudah mandi. Meski begitu, dia tetap bertanya, dalam hati berharap nasib Heechul hari ini jauh lebih baik daripada dirinya.

“Tuduhanmu tadi terbukti,” kata Heechul, tersenyum salah tingkah sambil menggaruk belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal. “Aku terlalu gugup untuk bertemu dengannya.”

Donghae mengembuskan napas pelan yang panjang. Mereka berdua ternyata sama saja. Kalau dia sedang dalam mood yang baik, dia pasti sudah membalas dendam dan membalikkan kata-kata Heechul yang dulu selalu mengejeknya karena selama setahun hanya bisa mengikuti Jessica dari jauh tanpa berani mendekati gadis itu. Tapi dia sedang tidak ingin menggoda Heechul. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya hanyalah cara untuk melupakan tatapan penuh kebencian Jessica kepadanya.

Hyung, ayo kita minum,” ajak Donghae. “Aku tahu tempat yang menjual soju enak.”

Heechul menatap Donghae dengan raut keterkejutan tergambar jelas di wajahnya, tidak percaya pria yang lebih muda itu akan mengajaknya minum sesuatu yang memabukkan. Seingatnya, Donghae tidak menyukai minuman beralkohol jenis manapun. Setelah melihat bahwa Donghae bersungguh-sungguh dengan ajakannya, Heechul jadi penasaran akan apa yang terjadi di rumah sakit hingga membuat Donghae bertindak seperti bukan dirinya.

“Baiklah,” ucap Heechul yang segera berdiri untuk berganti baju yang lebih pantas. “Tapi ingat, aku tidak akan menggendongmu pulang kalau kau mabuk.”

Donghae tersenyum. Kali ini senyumnya sudah tidak terlalu hambar lagi, tahu bahwa Heechul dan sarkasmenya yang keterlaluan itu tidak akan pernah benar-benar terwujud. “Kau boleh meninggalkanku di jalan kalau kau mau.”

***

Sohee mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk yang berada di kamar tidurnya. Satu lagi hari yang melelahkan berhasil dilaluinya. Ada jadwal pemotretan di dua lokasi berbeda sejak pagi, kemudian berlanjut ke  pertemuan dengan para kru yang akan menjadi rekan kerjanya setidaknya selama proses syuting drama terbarunya berjalan. Hari ini mereka sudah menuntaskan proses script-reading, sementara pengambilan gambar akan mulai dilakukan tiga hari lagi. Sohee, meski bukan menjadi pemeran utama, tetap punya peranan besar dalam rangkaian cerita itu hingga di beberapa episode awal, dia kebagian cukup banyak scene. Itu akan memaksanya berada di lokasi selama seharian penuh. Belum lagi dia harus terbang ke London akhir minggu ini untuk syuting video klip seorang penyanyi pendatang baru. Selama seminggu ke depan, dia bisa membayangkan hari-harinya akan berlangsung penuh kegiatan melelahkan.

Gadis itu meraih telepon genggamnya dan mengetik pesan untuk kekasihnya yang diyakininya sudah tertidur. Meski sangat sibuk, pria itu menjaga waktu tidurnya dengan sangat baik, jadi Sohee berkesimpulan bahwa mengirim pesan jauh lebih baik dibanding telepon atau video call. Setidaknya pesannya akan terbalas saat pria itu bangun besok pagi.

Akhir minggu ini aku akan ke London.

Kau ada waktu untuk bertemu sebelum aku berangkat?

***

Bukan sekali-dua kali Heechul mengejek Donghae mengenai betapa kecil nyalinya untuk menampakkan diri di hadapan Jessica saat menjalani misinya tahun lalu. Menurutnya, sekedar menampakkan diri di depan seorang gadis sama sekali bukan tindakan yang sulit. Kau datang, menegurnya, dia menjawabmu, lalu kalian terlibat perbincangan ringan, dan masalah selesai. Tapi ternyata semua tidak pernah sesederhana itu.

Atas bantuan Donghae, Heechul memperoleh alamat apartemen Sohee. Dan seperti halnya yang dilakukan Donghae terhadap Jessica, pria berkulit pucat itu juga hanya bisa mengikuti Sohee diam-diam, dari jauh, setiap hari.

Sudah enam hari berlalu sejak kedatangan Heechul di Korea, tapi hal yang menjadi tujuan kedatangannya tidak juga bisa dia lakukan. Padahal jika diingat lagi, ini adalah kesempatan terakhirnya. Besok siang dia dan Donghae sudah harus kembali ke London, pada pekerjaan mereka yang tidak biasa itu.

Heechul sepenuhnya menyadari bahwa seharusnya hari ini dia memanfaatkkan semua waktu yang dia miliki untuk akhirnya memberanikan diri menyapa Sohee, dan di sinilah dia sekarang, di sebuah kedai kopi terkenal yang terletak di antara jejeran toko barang-barang bermerek di kawasan Gangnam, diam-diam memperhatikan seorang gadis berwajah paling imut yang pernah dia lihat, tanpa punya sedikit pun keberanian untuk menampakkan dirinya di depan gadis itu.

Gadis itu duduk seorang diri di bangku di tepi jendela, tidak jauh dari tempat Heechul berada. Dia mengenakan baju hangat berwarna serupa madu dengan celana jeans dan sepatu boot hitam sebagai bawahan. Mantel dan syal berwarna cokelat yang tadi dikenakannya di luar ruangan kini tersampir di sandaran kursinya. Rambut panjang berwarna sepekat langit malamnya diikat tinggi hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sekilas dia tampak sibuk dengan novel urban fantasi di tangannya, tapi Heechul sudah berada cukup lama di dekatnya untuk tahu bahwa novel tebal itu hanyalah pengalihan dari rasa bosannya. Entah siapa yang ditunggu oleh gadis itu, Heechul tidak berani menebak. Yang jelas, gadis itu sudah menanti kedatangannya sejak dua jam lalu.

Heechul kemudian teringat lagi pada pertanyaan yang dilontarkan Donghae kepadanya beberapa hari lalu. Apa yang membuatnya menyukai Ahn Sohee? Sekarang Heechul tahu jawabannya: karena gadis itu membuatnya teringat pada dirinya sendiri yang selalu kesepian. Bedanya, jika Heechul menyalurkan rasa sepinya lewat rekayasa obat dan tindakan-tindakan menyebalkan yang membuat hampir semua rekan kerjanya membencinya, Sohee hanya bisa memancarkan itu lewat tatapannya yang tenang dan wajahnya yang nyaris selalu tanpa ekspresi.

Heechul menghabiskan satu jam lagi di tempatnya duduk, bersikap seolah sibuk dengan telepon pintar di tangannya, menikmati secangkir frappucino yang tersaji di depannya, sambil mencuri pandang ke arah Sohee setiap kali ada kesempatan.

Orang yang ditunggu oleh gadis itu tidak pernah datang, sementara Heechul tidak pernah mendapatkan dorongan yang cukup kuat untuk menarik kursi di depan gadis itu dan mulai mengajaknya mengobrol.

***

Sohee mengecek barang-barangnya sekali lagi sebelum berangkat menuju bandara demi mengejar penerbangan yang akan membawanya menuju ibukota negeri Ratu Elizabeth. Meski hanya akan berada di sana selama tiga hari, kopernya yang besar itu tetap saja penuh sesak oleh pakaian-pakaian tebal yang dia andalkan untuk menghangatkan tubuhnya selama berada di sana. Musim dingin di Inggris seingatnya memang tidak pernah begitu dingin, tapi tetap saja dia membawa lebih dari setengah lusin baju hangat untuk dikenakan.

Setelah urusan dengan kopernya beres, dia mengecek telepon genggamnya, memeriksa kembali jadwal penerbangan di tiket yang sudah dipesankan managernya, mencocokkan waktu yang tertera di sana dengan waktu yang ditunjukkan oleh jam tangannya. Kurang dari dua jam lagi. Kalau dia tidak bergegas, bisa-bisa dia terlambat.

Ketika akan mengunci tombol telepon genggamnya, Sohee mendapati dirinya menekan tanda amplop yang ada di layar. Dia membuka kotak masuk pesan, mencari sesuatu yang sudah kepalang akrab dengan pagi harinya, sebuah pesan berisi sebaris kalimat yang sudah seminggu tidak masuk ke nomornya. Gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepala, berpikir dia mungkin sudah gila karena merindukan sesuatu yang dulu dianggapnya mengganggu.

Setelah memasukkan telepon genggam, paspor, dompet, dan beberapa kebutuhan lain ke dalam sebuah tas Chanel berwarna merah yang diberikan Sunye saat ulang tahunnya beberapa waktu lalu, dia menarik kopernya keluar dari apartemen.

Tepat ketika Sohee membuka pintu, sebuah wajah yang sangat familiar menyapanya. Wajah yang kusut karena kurang (atau malah tidak) tidur, tapi pemiliknya tetap berusaha memberi kesan manis dengan memunculkan senyum di sana.

Itu wajah kekasihnya. Kekasih yang kemarin berjanji akan menemuinya tapi hanya membuatnya menunggu tanpa kepastian selama berjam-jam.

“Penerbanganku ditunda karena cuaca buruk,” jelasnya tanpa menunggu Sohee berkata apa-apa.

Gadis itu melipat tangannya di depan dada. “Baguslah kalau kau tahu apa kesalahanmu. Tapi kau tahu, alasanmu itu sungguh lemah. Kau bisa menghubungiku kalau kau memang berhalangan hadir. Setidaknya aku tidak perlu menghabiskan waktuku untuk menunggu orang yang tidak pernah datang.”

“Kuakui itu salahku. Aku minta maaf.”

“Maaf diterima,” jawab Sohee ketus. Dia lalu meraih kopernya dan menarik benda itu menuju lift.

Soohyun mengejar gadis itu dan berhasil menghentikannya beberapa langkah kemudian. “Kau marah.”

“Kau tidak mendengarku tadi, aku sudah memaafkanmu. Apa lagi yang kau inginkan? Menyingkirlah. Aku bisa ketinggalan pesawat kalau kau terus menghalangi jalanku.”

“Biarkan aku mengantarmu ke bandara.”

“Tidak perlu. Taksi yang kupesan sudah menunggu di bawah. Lebih baik kau pulang dan beristirahat.”

“Sohee-ya,” panggil Soohyun. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu dan mengayunkannya pelan, persis seperti anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan permen oleh ibunya.

Raut wajah Sohee melembut. Dia memang tidak pernah bisa mempertahankan amarahnya jika pria itu sudah berlaku manja seperti ini kepadanya. “Pulanglah. Aku sudah memaafkanmu.”

“Tapi….”

“Kenapa kau begitu keras kepala?” gerutu Sohee. “Aku bisa marah lagi kepadamu kalau kau tetap seperti ini.”

Soohyun akhirnya memilih menyerah. Menarik gadis itu mendekat, dia tersenyum lalu berujar, “Kau sangat menyeramkan saat sedang mengomel.”

Sohee ikut tersenyum di dalam pelukan pria yang sudah hampir dua minggu tidak ditemuinya itu. Dia merasakan Soohyun membelai rambut dan mengecup puncak kepalanya sebelum mendengar pria itu berbisik, “Aku merindukanmu.”

Sohee hanya diam, tahu bahwa Soohyun akan memahami perasaannya tanpa dia perlu menyuarakan isi hatinya lewat kata-kata.

Soohyun menyudahi pelukan mereka setelah ingat bahwa kekasihnya itu harus berangkat.

“Aku akan menghubungimu saat sampai di sana,” kata Sohee.

Soohyun mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan.”

***

“Jadi hanya seperti ini saja?” tanya Donghae kepada Heechul yang sedang duduk malas sambil mengisi teka-teki silang di sampingnya.

Mereka sedang berada di ruang tunggu Bandara Incheon, menghabiskkan waktu sebelum petugas bandara mempersilakan mereka memasuki badan pesawat British Airlines, pesawat yang akan membawa mereka kembali ke London.

“Siapa nama penulis novel Pride and Prejudice? Ada huruf U di tengah-tengah namanya,” tanya Heechul yang masih belum mengalihkan pandangan dari teka-teki silangnya.

Donghae mendengus. Ternyata menyelesaikan sebuah permainan lebih penting bagi Heechul dibanding menimpali ucapannya. Donghae tergoda untuk tidak menjawab, agar Heechul tahu bahwa tidak diacuhkan, bahkan saat ucapanmu tidak benar-benar penting, rasanya tidak terlalu mengenakkan. Namun pada akhirnya pria itu tetap memberikan jawaban pertanyaan yang diajukan Heechul. “Jane Austen.”

Donghae mendengar Heechul mengeja nama itu sambil menggoreskan penanya di atas kertas berisi pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi menyita perhatiannya.

“Selesai!” Heechul berseru puas tidak lama kemudian. Dia menghempaskan kertas dan bolpoin yang tadi dia pegang ke bangku kosong di hadapannya, kemudian berujar kepada Donghae, “Sepertinya kedatangan kita kali ini memang tidak ditakdirkan berjalan mulus. Bahkan untuk kepulangan kita saja, kita mendapatkan tempat duduk yang berjauhan.”

Donghae terkekeh pelan mendengar kata-kata itu, teringat lagi bagaimana beberapa saat lalu Heechul berdebat dengan petugas di counter check-in seusai melihat boarding pass dan menyadari bahwa tempat duduknya dan Donghae berbeda baris. Heechul bukan tipe yang suka berdekatan dengan orang asing di dalam pesawat. Setidaknya setelah beberapa tahun lalu dia terbang dari London ke Madrid dan gadis kecil yang duduk di sampingnya muntah lalu mengotori baju Heechul, pria itu tidak mau lagi duduk di samping orang yang tidak dia kenal.

“Aku tidak akan memaafkan petugas bandara itu kalau sampai yang duduk di sampingku nanti adalah orang yang menjengkelkan,” ujar Heechul yang masih tidak menerima kenyataan kalau dia bahkan tidak bisa mengganti posisi tempat duduknya hanya karena masalah prosedur yang dia yakin sangat sepele.

“Tenanglah, Hyung. Kita nanti bisa meminta langsung kepada orang di sampingku agar dia mau bertukar posisi denganmu,” kata Donghae menenangkan.

“Baiklah, begitu juga bisa. Tapi ingat, aku harus duduk di samping jendela.”

***

Sohee menutup sambungan teleponnya setelah suara pemberitahuan bahwa penumpang pesawat untuk penerbangan menuju London sudah dipersilakan memasuki kabin pesawat. Dia baru saja menerima panggilan dari managernya yang sekali lagi memastikan bahwa dia sudah berada di bandara. Sohee berangkat sendirian kali ini. Managernya sibuk mendampingi rekan semanagemennya yang lain yang akan melakukan showcase tunggal keesokan harinya, sementara penyanyi dan kru pembuatan video klip yang akan dibintanginya sudah terbang ke London dua hari sebelumnya.

Gadis itu bersyukur bisa sampai tepat waktu. Dia bisa membayangkan omelan seperti apa yang akan dihadiahkan managernya kalau sampai dia melewatkan penerbangan kali ini. Sambil menenteng tas tangannya, dia berjalan tergesa-gesa menuju gate pemberangkatan dan langsung memasuki pesawat.

Senyum ramah pramugari menyambutnya. Sohee menyempatkan diri untuk balik tersenyum sebelum dia melangkah menuju kursinya di barisan keempat, tepat di samping jendela.

***

“Permisi,” suara lembut itu menyapa indra pendengaran Heechul, membuatnya membuka mata yang berusaha dia pejamkan sejak memasuki pesawat ini.

Pria itu masih kesal karena wanita paruh baya yang duduk di samping Donghae tidak bersedia bertukar tempat dengannya. Ditambah lagi penumpang lain memperhatikannya yang begitu ribut hanya karena masalah tempat duduk, pria itu merasa semakin kesal. Memejamkan mata adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan hatinya saat ini. Dia bersumpah, kalau suara yang baru saja didengarnya itu adalah suara pramugari yang menyuruhnya menggeser posisi duduk, dia akan mengomel saat itu juga. Kalau dia harus duduk di samping orang asing, setidaknya dia harus duduk di sebelah jendela. Titik.

“Ah, maaf aku sudah mengganggu istirahatmu, tapi sepertinya kau duduk di tempatku,” ujar gadis yang saat itu berdiri di depan Heechul.

Gadis itu tersenyum canggung kepadanya. Tapi bagi Heechul, senyum itu begitu manis. Terlalu manis hingga dia lupa pada keinginannya untuk duduk di kursi di sebelah jendela. Tanpa berkata apa-apa, dia ikut tersenyum canggung, lalu berdiri untuk mempersilakan gadis itu duduk di tempatnya.

***

Sohee merasakan ada kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya ketika melihat pria di depannya. Dia sangat yakin bahwa ini adalah pertama kalinya mereka bertemu, tapi ada sebuah perasaan akrab yang menjalari tubuhnya ketika pria itu menatap dan memberikan sebuah senyum canggung kepadanya.

“Tidak, akulah yang harusnya meminta maaf. Ini memang benar tempat dudukmu,” pria itu berdiri dan mempersilakan Sohee duduk di tempat yang tadi didudukinya.

Gadis itu tertawa, kali ini lebih bersahabat dibanding sebelumnya. “Tidak apa,” katanya, “aku hanya memastikan kalau ini benar tempatku. Kau bisa duduk di sana kalau kau mau.”

***

Beberapa baris di belakang Heechul, Donghae memperhatikan adegan itu sambil tersenyum senang. Dalam hati, dia yakin Heechul tidak akan keberatan menghabiskan waktu berjam-jam di atas pesawat bersama orang asing yang baru saja duduk di sampingnya itu.

THE END

Advertisements

9 thoughts on “That Woman

  1. The End? THE END?!!!
    Gak ikhlaaaaaaas sumpah kalo ceritanya smpe sini aja. Itu soheechul gmn kelanjutannya? Mereka ngobrolin apa aja selama di pesawat? Heechul beneran serius mau nyium sohee apa itu cuma buat lucu2an aja, biar pesan yg dia kirim jd remarkable?
    Trus haesicanya kenapa dibiarin marahan gitu? Pas di cerita pertama jessica dibikin koma, skrg pas udah sadar, dia malah ngusir donghae. Aaaaah… Minta sekuel, pleaaase 😦

    Anyway, karakter heechul di sini lucu deh. Somehow ngingetin aku sm barney di himym. Cuek2 lucu tp gmn gitu. Suka bgt adegan2nya sm donghae. DAN AKAN LEBIH SUKA LAGI KALO ADA DIALOG ANTARA DIA SM SOHEE.. Ehwm, ini kode, ehem…
    #teteup #gamaunyerah #hidupsequel #happyendingseeker

    1. iya, the end. udah cukup segitu aja ceritanya soheechul. kan sohee di dunia nyata masih jalan sama kim soohyun, masa aku tega bikin mereka putus demi nyatuin dia sm heechul di ff :p
      kalo haesica… emang ada rencana buat bikin lanjutan kisah mereka lagi, karena gak tega juga ngeliat mereka terus2an menderita di ff ku, tp mengingat urusan kerjaan yg kadang bikin pusing dan mood nulis yang timbul tenggelam, gak tau deh bakalan bs dipublish apa nggak. hahaha *kemudian ditabok*
      dan barney… ah, krn kamu nyebut2 dia, jadi berasa pengen nonton himym lagi. it’s gonna be legend… wait for it… dary! 😀
      sebenarnya sih pas nulis, sama sekali gak kebayang buat nyamain heechul ama dia. idk, rasanya kepribadian heechul emang udah random dari sananya

  2. yaaaaaa kenapaaa the end?!?!?!?!
    haesicanyaa bikin lagii dongggg kasiaaan merekaa marahaan:(:(
    seengganya donghae harus jelasin ke jessica kenapa dia begitu sama jessica huhuhu
    pleaseeee lanjuuut haesica lagii;(:(
    dann ituu sohee gatau ya kalo sebenernya yg di sampingnyan itu sosok pengirim pesan misteriuss wkwk

  3. lapor. aku sudah baca dua cerita lainnya, tapi karena udah kebanyakan komen di cerita lain jadi aku milih ninggalin jejak di sini aja. aku suka romancenya. gak yang pake kata-kata yang lebay gitu, tapi tetap berasa feelnya. dan entah kenapa aku semakin yakin kalau penulisnya udah cukup dewasa karena bisa melukiskan kisah romantis dengan cara seperti ini, jadi gak salah dong ya, aku tadi sok-sok akrab gitu manggil kakak. hahhaha. karakternya donghae tuh kaya jaim-jaim gitu deh. dia beneran suka sama jessica, kan? tapi gak mau ngaku. heh! beda banget ama heechul yang dengan pedenya kirim-kirim sms pengen nyium orang. di bibir pula. aduh oppa, sohee tuh udah ada yang punya. sini sama aku aja.

    1. reader yang lain juga pada manggil kak atau eonni kok. aku kelahiran tahun 90. kayaknya sih emang lebih tua dari kebanyakan fangirl yang masih aktif nge-wp sekarnag ini. tapi kalau dibilang dewasa, ah, aku malu. kadang aku mikir aku ini gak ada dewasa-dewasanya sama sekali

      1. wah.. salam kenal, sunbaenim! aku feli dari garis 98 (masih bocah banget ya? hahaha). seriusan lho, aku ngerasa tulisan-tulisan di sini gaya nulisnya emang terkesan dewasa. bukan karena aku nemuin beberapa nc rated fanfic (uhuk…), tapi karena emang penyajiannya gak se-cheesy ff yang beredar kebanyakan. tetep semangat nulis ff ya, kak. will definitely read it, whenever you have time to write and publish one (or more).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s