six-first-kisses-donghae

First Kiss: Sandara Park

Donghae mengepalkan tangannya kuat-kuat, berharap tindakan itu bisa meredakan emosinya meski hanya sedikit. Dia benar-benar marah saat ini, dan penyebab semua itu adalah seorang gadis yang kini tengah menangis di depannya.

Donghae bukannya terang-terangan melihat air mengalir dari sepasang mata indah itu. Sejak dia menginjakkan kakinya di kafe bergaya retro ini beberapa saat yang lalu, gadis di depannya sudah terlihat kacau. Dia menekuk lehernya, menenggelamkan wajah di antara meja dan kedua lengannya, membiarkan helaian rambutnya terurai menutupi wajah. Pria itu bisa berkesimpulan bahwa gadis di depannya sedang menangis karena ini bukan pertama kalinya dia menyaksikan pemandangan serupa.

“Aku heran kenapa kau masih saja mengencani pria seperti itu. Sudah jelas sekali kalau dia itu brengsek,” cibir Donghae.

Dia menarik sebuah kursi di sebelah gadis itu, kemudian duduk diam di sana selama beberapa menit. Melihat sosok di depannya, Donghae tahu perkataannya barusan hanya akan memperburuk suasana hati sang gadis, tapi mengungkapkan isi kepalanya lewat kalimat barusan adalah sebuah keharusan agar gadis itu cepat-cepat sadar.

Pria itu berusaha menenangkan dirinya dengan mengingat-ingat hal indah yang pernah dia alami. Ketika amarahnya berangsur surut, rasa tak rela bercampur kasihan ganti menyeruak. “Kau tidak pantas menerima perlakuan seperti ini, Nuna,” ujarnya sambil meremas pelan bahu sang gadis dengan penuh sayang.

Gadis yang dipanggilnya dengan sebutan nuna itu kemudian bangkit dari posisinya semula. Dia mengusap wajahnya dengan punggung tangan sebelum menoleh ke arah Donghae yang saat itu menatapnya dengan pandangan yang tidak ingin dia artikan sebagai belas kasihan. “Aku benci kalau kau menatapku seperti itu,” katanya. Dia memaksakan sebuah senyum kaku untuk bisa terbit di sudut bibirnya ketika mengatakan hal itu.

Donghae mendengus. “Itu karena aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang sebodoh dirimu di dunia ini.”

Ucapan Donghae membuat lawan bicaranya tertawa. Bukan jenis tawa yang dipaksakan seperti senyumnya barusan, melainkan sebuah tawa lepas yang meski tidak seceria biasanya, tapi sudah cukup untuk membuat siatuasi di antara mereka menjadi tidak terlalu murung seperti sebelumnya.

Wae? Ada yang salah dengan ucapanku barusan?”

Gadis itu tidak langsung menanggapi pertanyaan Donghae. Dia memilih menarik gelas berisi ice lemon tea yang sudah dia anggurkan sejak tadi karena asyik menangisi nasibnya, sambil sesekali melirik Donghae yang masih menunggu jawabannya.

“Dia berulang kali berselingkuh di belakangmu, tapi kau tetap saja memaafkannya dan pada akhirnya dia terus-terusan mengulangi perbuatannya karena tahu kalau kau tidak akan berani menyudahi hubungan kalian,” ujar Donghae lagi, mengemukakan alasan yang mendasari tuduhan bodoh yang sebelumnya dia alamatkan kepada nuna-nya itu. “Menurutmu itu kurang bodoh apa lagi?”

Gadis itu menghentikan kegiatannya menyeruput cairan bening kecoklatan di dalam gelas berembun yang ada di depannya, kemudian mendelik ke arah pria yang duduk di sampingnya. “Kau yakin ucapanmu barusan bukan karena kau cemburu?”

Donghae langsung kehabisan kata-kata. Terlalu tepat sasaran. Perkataan gadis itu mungkin dimaksudkan hanya untuk menggodanya, tapi Donghae tidak bisa menampik adanya kebenaran dalam kalimat itu. Iya, dia memang cemburu.

Bukan hanya sekali dia menyatakan rasa sukanya terhadap gadis itu, namun dia tidak pernah memperoleh penerimaan. Tidak ingin mengencani pria yang lebih muda, dalih gadis itu setiap kali Donghae menawarkan cintanya. Fakta bahwa tidak lama kemudian gadis itu justru mengencani pria yang lebih muda dari Donghae membuatnya sempat sakit hati, namun akhirnya dia bisa bersikap cukup dewasa untuk merelakan gadis itu bersama dengan pria yang disukainya.

“Sampai sekarang aku masih heran mengapa kau begitu sabar menyikapi kelakuan pria itu. Dia jelas-jelas menduakanmu dengan sahabatmu sendiri,” ujar Donghae lagi, berusaha mengabaikan tuduhan cemburu yang dilontarkan kepadanya.

Sang gadis menanggapinya dengan mengangkat bahu. “Molla,” jawabnya santai. Dia kemudian lanjut meminum es teh yang sudah mulai menghangat di gelasnya.

Donghae paham, pria yang dikencani nuna kesayangannya itu bukanlah pria sembarangan. Dia berkharisma, seolah setiap gerak tubuhnya menyiratkan pesona yang selalu dengan mudah memikat lawan jenis. Tapi apa hanya karena itu?

Di sela-sela waktu luangnya, Donghae kadang berusaha menerka-nerka alasan gadis itu bertahan dalam hubungan rusak yang dia jalani. Apa karena namanya dan pria itu sudah begitu ikonik di managemennya hingga dia tidak rela menyudahinya? Sandara dan Jiyong. Kedengarannya memang begitu pas. Bahkan menurut beberapa kabar, para trainee senior di managemen Dara juga memuji betapa serasi gadis itu dengan kekasihnya. Tapi apalah guna semua itu kalau pada akhirnya dia menderita?

Hyukjae, temannya sesama trainee pernah mengusulkan sebuah ide yang konyol, yang belakangan mulai dipertimbangkan kebenarannya oleh Donghae.

“Apa karena dia adalah pria yang mencuri ciuman pertamamu?” cetus Donghae, menyuarakan pendapat yang dikemukakan Hyukjae beberapa waktu lalu. Menurut pria sipit yang usianya tidak jauh lebih tua dari Donghae tapi mengklaim dirinya sangat ekspert tentang masalah percintaan itu, kadang wanita tidak rela mengakhiri sebuah hubungan dengan seseorang yang memberinya sebuah pengalaman baru. Dalam kasus Dara dan Jiyong, itu melibatkan sebuah ciuman.

Dara tergelak karena ucapan Donghae, tanpa sadar menepuk keras bahu pria itu karena gemas akan kepolosannya. “Mana ada yang seperti itu?” katanya sambil terkekeh pelan. “Kau menonton terlalu banyak drama, dongsaeng-ah!”

Donghae hanya terpaku di tempat menyaksikan Dara menertawai kebodohannya. Dalam hati, ada rasa lega yang menyelinap di hatinya setelah melihat tawa gadis itu. Dia tahu bahwa saat kembali ke dorm-nya nanti, gadis itu akan kembali menangisi nasib percintaannya dengan Jiyong, tapi saat ini, meski hanya sementara dan itu pun dia lakukan dengan menunjukkan kebodohannya yang begitu saja mempercayai ucapan Hyukjae, Donghae sudah merasa cukup bahagia karena bisa mengembalikan lekuk indah itu di bibir Dara.

“Kalau ini bisa membantumu menemukan teori baru, kuberi tahu,” ujar Dara setelah berhasil meredakan tawanya, “Jiyong bukan pria pertama yang kucium.”

Fakta itu, meski diucapkan secara santai oleh Dara, berhasil menyedot rasa ingin tahu Donghae hingga ke dasar. Beragam pertanyaan menyerbu otaknya, tapi pria itu memilih meredam semuanya dengan sebuah anggukan dan senyum paham. Tidak ada gunanya bertanya. Alih-alih merasa tenang, rasa cemburunya yang tidak berdasar itu mungkin malah akan semakin berkobar.

Mengalihkan pembicaraan, Donghae mulai bercerita tentang latihan vokal yang tadi dia jalani. Dara menimpalinya dengan balik bercerita tentang latihan tari yang menurutnya hanya bisa membuat tulang-tulangnya sakit.

“Aku tidak masalah dengan latihan vokal. Yah, meski suaraku pun tidak sebagus Bom, tapi setidaknya latihan itu tidak semenyusahkan latihan tari,” ujar Dara.

Sepanjang sisa sore itu, pembicaraan mereka hanya diisi oleh keluhan dan sedikit gosip tentang kehidupan trainee mereka masing-masing. Tidak ada lagi kisah patah hati, tidak ada Kwon Jiyong dan selingkuhan barunya, tapi masih ada banyak sekali pertanyaan tentang ciuman pertama Dara. Yang terakhir itu, hanya disimpan Donghae dalam benaknya. Dia berniat akan menanyakannya suatu hari nanti, ketika waktunya lebih tepat.

Donghae mengantar Dara kembali ke dorm-nya ketika waktu sudah menunjukkan lewat pukul tujuh malam. Di depan pintu masuk, pria itu berulang kali meminta Dara berjanji untuk tidak menangis lagi, yang kemudian ditanggapi oleh sebuah anggukan patuh dari sang gadis.

Donghae sudah melangkah cukup jauh ketika dia mendengar derap kaki yang diayun cepat dari belakang. Berbalik, dia mendapati Dara berdiri di belakangnya sambil terengah-engah, tapi masih memaksakan sebuah senyum. Pria itu membuka mulutnya untuk bertanya apakah ada yang terlupa atau tidak, tapi dia tidak sempat menyuarakan pertanyaan itu. Bibir Dara sudah terlebih dulu mendarat di bibirnya.

“Ciuman pertamaku bukan bersama Jiyong, tapi kau,” ujar Dara setelah kecupan itu ia akhiri.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s