haesica-the-vow-poster

a fanfiction by nchuhae

Jessica Jung, Kim Heechul, Lee Donghae

Chaptered | Drama, romance, family | PG-13

.

.

I vow to love you

and no matter what challenges might carry us apart

we will always find a way to get back to  each other

..

WHAT IF

Heechul tidak pernah membayangkan akan tiba di hari di mana Lee Donghae mendatanginya untuk meminta dia melakukan sesuatu yang begitu konyol. Tapi di sinilah dia sore ini, di sebuah kafe dengan interior ala Eropa di Abad Pertengahan, memenuhi ajakan pria yang beberapa jam tadi mendatanginya di kantor dan bersikeras agar dia bersedia meluangkan waktu istirahatnya karena pria itu ingin membicarakan sebuah hal penting.

Hyung, aku ingin kau menjadi bestman-ku,” pinta Donghae.

Heechul yang terlihat mendengarkannya dengan malas. Pria yang lebih tua itu tampak lebih tertarik pada potongan tiramisu cheesecake yang tersaji di depannya. Dengan mulut mengunyah potongan kue yang lebih kecil, dia bertanya, “Kenapa aku? Kenapa bukan salah satu anggota bandmu?”

Donghae mengembuskan napas panjang. Pertanyaan itu memang sangat wajar ditanyakan, tapi menceritakan alasannya dengan lengkap berarti memberi tahu bahwa vokalis sekaligus gitaris bandnya mengancam akan mogok latihan jika posisi pendamping pengantin diserahkan kepada anggota selain dirinya, drummernya sudah menyiapkan pidato dan secara tidak langsung berharap dirinya ditunjuk menjadi pendamping agar kata sambutan sepanjang tiga lembar yang sudah disusunnya itu tidak berakhir sia-sia di tempat sampah, sementara si magnae yang bertugas memainkan saxophone bersikeras bahwa tampang menarik dan kepandaian berbicaranya adalah modal yang menjadikannya paling cocok untuk menjadi seorang pendamping pengantin.

“Mereka semua berebut. Aku tidak bisa memilih salah satu,” jelas Donghae.

Heechul menyeruput kopi yang tadi memang dia pesan sebagai pasangan tiramisu cheesecake-nya. Cuek, pria itu berkata, “Aku masih belum paham apa yang begitu istimewa dari seorang pembawa cincin hingga mereka semua memperebutkan posisi itu.”

Donghae juga sebenarnya tidak paham. Satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa hal terbaik yang bisa dia lakukan demi tidak terlalu mengecewakan teman-temannya adalah memilih orang lain yang lebih patut dihormati. Dan dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan Heechul?

Sang calon pengantin itu membuka mulutnya untuk meminta kepastian dari Heechul, tapi kemudian mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya Donghae memilih diam saja, membiarkan Heechul mempertimbangkan tawarannya, dan menunggu pria yang dipanggilnya hyung itu memberinya jawaban sambil menyendok brownies kukus rasa pandan yang tadi dia pesan.

Tapi Donghae salah sangka. Heechul diam bukan karena sedang mempertimbangkan permintaannya untuk menjadi pendamping mempelai. Pikiran pria itu sedang melayang ke masa beberapa tahun yang lalu.

Ayah Heechul adalah seorang pengusaha dengan bisnis yang berkembang semakin pesat dari tahun ke tahun. Dan bagi seorang pria dengan pencapaian hidup gemilang seperti itu, menjalin hubungan dengan banyak wanita adalah sebuah hal yang lumrah.

Heechul kecil mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa hal yang dilakukan ayahnya itu digolongkan buruk, juga kenapa orang-orang bilang bahwa itulah alasan kenapa pada suatu hari ibunya tiba-tiba pergi dari rumah. Dia pernah mendengar para pembantu mengatakan bahwa ibunya pergi karena sudah bosan menghadapi omongan orang tentang perselingkuhan ayahnya. Heechul tidak paham apa arti kata-kata itu. Bagi bocah itu, tidak masalah jika ayahnya melakukan apapun, selama pria itu tetap rajin membelikannya mainan apapun yang dia minta dan mengajaknya ke tempat-tempat bagus setiap liburan.

Ketika dia sudah beranjak dewasa dan cinta kepada lawan jenis sudah menjadi bagian dari hidupnya, dia baru sadar betapa kebiasaan selingkuh ayahnya itu ternyata memang adalah hal buruk.

Usianya 19 tahun kala itu. Dia baru saja memasuki sebuah kafe dengan niat untuk bersantai di sana ketika pandangannya tertumbuk pada sesosok pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Heechul hanya melihat pria itu dari belakang, tapi dia sudah terlalu mengenal pria itu hingga bisa mengenalinya tanpa perlu melihat wajah. Pria yang sangat dikenalnya itu sedang duduk bersama seorang wanita cantik dan seorang anak gadis yang entah kenapa dia rasa juga tidak begitu asing baginya.

“Kau oppa pemberani itu, kan?” gadis kecil itu berseru, membuat dua orang dewasa yang duduk di meja yang sama dengannya langsung menoleh ke arah Heechul.

Sang pria—yang memang sudah sejak awal Heechul yakini sebagai ayahnya—membelalak kaget, sementara sang wanita yang sepertinya masih belum tahu apa yang terjadi, bertanya kepada gadis kecil di sampingnya, “Sooyeon-ah, kau mengenal oppa itu?”

Gadis itu mengangguk mantap. Dia tidak mungkin melupakan wajah orang yang sudah menyelamatkannya. Gadis itu berdiri, lalu berlari kecil ke arah pahlawannya dan menggamit lengan pria itu sambil mengumumkan dengan bangga, “Oppa inilah yang waktu itu menolongku saat dimintai uang oleh siswa sekolah lain.”

“Ah, jeongmalyo?” seru wanita itu. “Kalau begitu kau harus bergabung dengan kami. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menolong anakku.”

Heechul tidak mengerti kenapa waktu itu dia menurut saja ketika gadis kecil yang dipanggil Sooyeon itu dengan begitu bersemangat menariknya ke meja yang sama dengan meja tempat ayahnya berada. Mungkin dia tidak tega membiarkan gadis kecil itu kecewa. Mungkin juga karena dia menikmati ekspresi salah tingkah ayahnya yang kedapatan sedang berkencan dengan seorang wanita beranak satu.

“Kau tampak cukup akrab dengan adikmu,” kata ayahnya malam itu.

“Siapa yang kau maksud?”

“Siapa lagi kalau bukan gadis yang makan siang bersamamu hari ini?”

Heechul diam, masih belum begitu mengerti ke mana ayahnya ingin membawa pembicaraan ini.

“Aku dan ibunya adalah rekan kerja,” pria yang lebih tua itu menjelaskan. “Dia wanita yang menarik. Dia memiliki semua hal yang diharapkan seorang lelaki untuk ada dalam diri seorang wanita. Cantik, pintar, dan bergaya hidup modern.”

“Yang saking modernnya sampai sudi diajak berkencan oleh seorang pria beristri,” sambung Heechul. “Kenapa kau tidak menikahinya saja kalau memang sebaik itu nilainya di matamu?”

“Karena dia tidak ingin meninggalkan suaminya.”

Heechul hanya menanggapi penjelasan itu dengan sebuah anggukan pelan yang terkesan tidak tulus. Dia jadi penasaran pria seperti apa yang begitu bodoh tidak mengetahui istrinya berselingkuh di belakangnya selama bertahun-tahun dan malah menerima anak hasil perselingkuhan itu sebagai bagian dari keluarganya. Ataukah selama ini pria itu tahu dan memilih untuk tidak peduli?

“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Hanya ingin kau berjaga-jaga saja. Orang bijak mengatakan bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Darah brengsek dari ayahmu ini mengalir juga di dirimu. Dan Nak, kau tahu kan, menjalin hubungan dengan saudara sendiri jauh lebih tidak bermoral dibanding menjalin hubungan dengan istri orang lain.”

Heechul merasa mungkin itulah yang dinamakan feeling seorang ayah. Sejak dulu ayahnya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Pria yang bahkan tidak pernah berlaku bijaksana di mata Heechul itu ternyata sudah melakukan tindakan paling bijaksana dalam hidupnya ketika memperingatkan agar putranya tidak jatuh cinta kepada Sooyeon.

Heechul jadi mulai berandai-andai. Seandainya waktu itu dia mendengarkan nasihat ayahnya dan tidak keras kepala mendekati Sooyeon hanya demi membuktikan kalau ayahnya itu salah, seandainya dia tidak terlanjur menyayangi gadis itu dan mulai menjauh sebelum perasaanya jadi lebih dalam lagi, seandainya dia tidak begitu munafik pada dirinya sendiri dan langsung menerima saja saat Sooyeon menyatakan cinta kepadanya—di atas segalanya, bukankah waktu itu Sooyeon menyatakan cinta juga dengan kesadaran penuh bahwa mereka berdua adalah saudara?

Hyung, bagaimana? Kau bersedia?”

Seandainya waktu itu dia memiliki keberanian yang sama besarnya seperti Sooyeon… apa yang akan terjadi pada mereka sekarang?

“Aku tahu kita tidak begitu akrab. Tapi aku rasa, ini adalah win-win solution bagi kita berdua.”

Seandainya dia dan Sooyeon tidak terikat hubungan darah, akankah dia tiba di hari di mana seorang pria datang kepadanya, meminta dia menjadi seorang pendamping di acara pernikahan yang akan membawa gadis yang disukainya ke dalam sebuah ikatan sakral yang tidak mungkin bisa dia wujudkan bersama gadis itu?

“Apa maksudmu dengan win-win solution?” Heechul akhirnya menanggapi ucapan Donghae setelah tadi terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ya, seperti yang sudah aku jelaskan padamu, aku tidak ingin membuat temanku saling iri satu sama lain, karena itu aku merasa harus memilih orang lain yang juga berhak untuk berperan serta di acara ini. Dan siapa lagi yang lebih berhak selain kakak dari mempelai wanita?”

Donghae memang akhirnya tahu bahwa pria yang dulu dilihatnya menemui Sooyeon di hari kelulusan bukanlah kekasihnya, melainkan kakak tiri yang kebetulan begitu akrab dengannya. Gadis itu sendiri yang memberi tahu status Heechul padanya ketika suatu hari Donghae menyinggung kejadian itu. Pengetahuan itu pulalah yang semakin memantapkan niatnya untuk segera melamar Sooyeon waktu itu. Selama ini dia ragu melakukan itu karena tidak ingin terburu-buru mengajak gadis itu menikah sementara gadis itu mungkin masih menyimpan rasa untuk pria yang ditatapnya penuh kasih di hari kelulusannya itu. Tapi setelah tahu apa yang terjadi dan yakin bahwa batasan-batasan yang dibuat Sooyeon dengan dirinya bukan karena gadis itu sedang mengencani pria lain, Donghae semakin yakin pada niatnya.

“Sebagai kakak, tentu kau ingin mengambil peranan penting di pernikahan adikmu, bukan?”

Iya, Heechul memang ingin mengambil peran penting dalam pernikahan Sooyeon, tapi bukan sebagai pendamping pengantin pria.

“Baiklah, aku terima tawaranmu. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti istrimu malah jatuh cinta kepadaku,” ujar Heechul tanpa niat bercanda sedikitpun.

Donghae hanya tertawa menanggapi hal itu.

..

THE VOW

Ruangan itu bernuansa putih. Pencahayaan yang berasal dari lampu-lampu kristal lebih dari cukup untuk membuat helaian kain-kain satin berwarna gading yang menggantung artistik di langit-langit terlihat jelas. Di dalam situ juga terdapat bunga-bunga berwarna senada yang ditata sedemikian rupa hingga orang-orang yang melihat tidak akan bisa menampik kesan elegan muncul. Soojung layak mendapat apresiasi untuk hasil kerjanya ini. Seleranya memang bagus.

Ruangan itu ramai. Mungkin ada ribuan orang di dalamnya. Semua berpakaian menarik, entah berapa nominal yang harus mereka keluarkan untuk pakaian itu. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil berisi teman-teman yang mereka kenal, berbincang mengenai hal-hal yang mereka anggap menarik. Beberapa pelayan berpakaian seragam mondar-mandir membawa nampan, mendekati setiap yang ada di ruangan itu tanpa terkecuali, menawarkan sajian yang mereka bawa. Di sudut ruangan luas itu ada seorang orang pianis berusia pertengahan 40 tahun yang nyaris tidak berhenti menekan tuts pianonya sejak acara dimulai sejam lalu. Lantunan piano itulah yang menjadi pengiring semua kegiatan yang ada, mesti tak semua yang ada di dalam sana menyimak lagu apa saja yang dimainkannya.

Sooyeon termasuk salah satu yang tidak menikmati berada di dalam ruangan itu. Dia memilih menyingkir meski tahu bahwa dialah tokoh utama dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan hari besar dalam hidupnya itu. Gadis itu masih sempat melihat Donghae, suaminya, berbincang dengan temannya sebelum melangkah menuju balkon, satu-satunya tempat sepi yang bisa dia jangkau saat itu.

Pesta pernikahannya ini diselenggarakan di lantai teratas sebuah hotel mewah dan menghabiskan dana yang membelalakkan mata. Kalau ada yang berpikir bahwa pesta semewah itu bisa terlaksana karena karier Donghae sebagai penyanyi sudah begitu maju hingga bisa membayar semua biaya yang dibutuhkan, itu salah besar. Pesta ini adalah kado dari ayahnya—ayah Heechul—yang tampaknya begitu senang melihat dia menikah dengan pria yang bukan saudaranya.

Pria yang kini berada di usianya yang sudah menjelang senja itu memang sejak dulu menaruh kecurigaan bahwa gadis itu dan Heechul menjalin hubungan asmara terlarang seperti yang dia lakukan bersama ibu Sooyeon, tapi tidak pernah berhasil membuktikan kecurigaannya. Melihat gadis itu menikah dengan pria lain membuatnya yakin bahwa kecurigaannya tidak bisa lebih keliru lagi. Seandainya saja pria itu tahu seberapa kuat feeling-nya selama ini, Sooyeon yakin dia pasti sudah terkena serangan jantung saat itu juga.

Angin malam yang bertiup cukup kencang meniup-niup rambut Sooyeon yang ditata dalam jalinan longgar dan dipermanis dengan hiasan berbentuk bunga yang dipasang di sisi kepalanya. Dengan gelas wine di tangan kanannya, dia mendekati pagar pembatas dan menyandarkan tubuhnya di sana. Pemandangan malam kota Seoul menyambutnya.

“Apa kabar, Pengantin Baru?” Sapaan itu terdengar tidak lama kemudian.

Sooyeon merasa tidak perlu menengok untuk tahu siapa pemilik suara itu.

“Masih mencintaimu,” gadis itu menjawab dan diikuti oleh tawa halus dari lawan bicaranya.

Gadis itu menoleh, mendapati Heechul berdiri di sampingnya. “Kenapa kau tertawa? Kata-kata itu mengingatkanmu pada sesuatu?”

Heechul tidak akan pernah lupa pada kata itu—kata yang dibisikkan Sooyeon kepadanya sebagai jawaban atas pernyataan cintanya beberapa waktu lalu dan akhirnya bermuara pada kesepakatan mereka menjalin sebuah hubungan terlarang seperti yang mereka lakukan sekatang. Memutuskan tidak membahas masalah itu lagi, Heechul mengganti topik pembicaraan mereka, “Sepertinya abeoji bahagia sekali melihat kau menikahi Donghae, bukannya aku. Lihat saja bagaimana dia tertawa begitu lepas menyambut tamu-tamunya.”

Sooyeon tidak tahu apa yang begitu lucu dari kalimat itu, tapi dia tidak bisa menahan tawanya. Ah, mungkin dia sudah gila. Dan jika benar itu yang terjadi, sepertinya dia tahu siapa yang paling layak dia salahkan: ibunya.

Gadis itu berpikir, seandainya dia tidak terlahir dari rahim wanita itu, seandainya dulu wanita itu tidak berselingkuh dengan ayah Heechul dan akhirnya melahirkan dirinya, mungkin hubungan darah yang konyol antara dirinya dan pria itu tidak harus ada.

Di malam ketika Heechul menyatakan cinta kepadanya, Sooyeon tahu bahwa hidupnya tidak bisa lebih sempurna lagi. Oppa yang selama ini disukainya, yang memahaminya lebih dari apapun, ternyata berbagi kegilaan yang sama dengannya. Pria itu membalas cintanya meski tahu bahwa hubungan mereka jauh dari kata wajar. Mau diapakan lagi, perasaan suka itu berkobar begitu saja di hati mereka tanpa bisa dipadamkan. Sooyeon sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dia rasakan terhadap Heechul bukanlah cinta, tapi pada akhirnya selalu saja gagal. Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan pria itu untuk melakukan hal yang sama sebelum menyerah dan mengakui kalau dia merasakan hal yang sama seperti Sooyeon. Bukan salah mereka kan, jika ternyata perasaan itu lahir dalam kondisi yang tidak tepat?

Dari ibunya, Sooyeon tidak pernah belajar banyak. Sampai akhir hayatnya pun, wanita itu masih terlalu sibuk menikmati statusnya sebagai wanita modern yang tidak pernah punya cukup banyak waktu untuk mengajari anaknya ini-itu. Tapi setidaknya, dari wanita itu Sooyeon belajar bahwa untuk menjalin sebuah hubungan terlarang, kau hanya perlu mencari seorang suami baik hati yang tidak akan pernah curiga kalau kau dekat dengan pria lain, juga yang akan tetap memaafkanmu meski kau telah jelas-jelas ketahuan bersalah.

Ibunya telah membuktikan itu. Dia menikahi lelaki yang begitu baik hingga rela memberikan marganya kepada anak hasil perselingkuhan istrinya. Sooyeon merasa hanya harus mencari pria seperti itu untuk menjaga kelangsungan hubungannya dengan Heechul. Dan siapa lagi yang lebih memenuhi kriteria selain Lee Donghae?

Di saat Sooyeon butuh sosok kekasih untuk memanas-manasi Heechul, pria itu muncul. Waktunya terlalu tepat. Dan seiring kebersamaan mereka, dia tahu bahwa keberadaan Donghae di sampingnya punya fungsi yang jauh lebih besar dibanding hanya sekedar membuat Heechul cemburu. Sooyeon jadi bertanya-tanya, apakah posisi Im Yoona bagi Heechul juga sama seperti posisi Donghae bagi dirinya?

“Mana Yoona? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” gadis itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip cahaya di depannya.

“Kau merindukannya?”

Sooyeon menggeleng pelan. “Hanya ingin membuktikan dugaanku saja.”

“Dugaan?”

“Bahwa kalian sudah putus.”

Heechul tertawa. “Tidak adil sekali,” ujarnya. “Kau sudah memiliki Lee Donghae sebagai tameng untuk melindungimu dari kecurigaan abeoji, jadi bukankah sudah seharusnya aku juga menyimpan Yoona untukku?”

“Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah marah besar karena kau tinggalkan begitu saja di malam di mana kalian seharusnya merayakan peringatan 500 hari kebersamaan kalian. Tapi wanita itu, hanya dengan alasan bahwa kau tiba-tiba mendapat ide untuk menyelesaikan pekerjaanmu, langsung percaya dan memaafkan kelakuan burukmu begitu saja,” komentar Sooyeon, mengenang kembali saat ketika Heechul meninggalkan Yoona untuk menyatakan cinta kepada dirinya. “Sepertinya dia benar-benar menyukaimu.”

“Lebih besar dari yang kau rasakan padaku?”

Who knows?”

Hening menyelimuti mereka setelah itu. Masing-masing larut dalam pikirannnya sendiri.

Heechul menemukan kesadarannya lebih dulu. “Mau sampai berapa lama lagi kau berdiri di sini?” tanyanya.

Sooyeon menatap Heechul dan tersenyum sambil menyesap cairan berwarna merah darah yang ada di gelas di tangannya. “Entahlah,” jawabnya setelah cairan itu dia teguk, “sampai kau menyuruhku masuk, mungkin?”

“Kau begitu menyukaiku hingga lebih memilih berlama-lama denganku di sini daripada bersama suamimu, huh?”

Sooyeon hanya mengangkat bahu dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah lampu-lampu mobil yang dari jauh terlihat seperti lampu hias.

“Masuklah, jangan sampai suamimu panik mencarimu.”

“Baiklah,” jawabnya, “tapi setelah kau berjanji menyusulku ke Jepang.”

“Untuk menyaksikanmu berbulan madu? No way!”

Sooyeon berbalik agar bisa berhadapan dengan Heechul. Sambil menunduk mempermainkan ujung dasi pria itu dengan tangan kanannya, dia memberitahu, “Donghae ke Jepang bukan hanya untuk berbulan madu denganku. Sebagaian besar waktunya akan dihabiskan untuk promo album bersama teman-temannya. Kau tidak akan tega melihat dongsaeng kesayanganmu ini menghabiskan masa bulan madu sendirian di hotel menunggu suaminya pulang konser, kan?”

Tawa renyah pria itu memenuhi indra pendengaran Sooyeon sesaat setelah dia menyelesaikan penjelasan mengenai situasi bulan madunya. “As bitchy as your Mom, eh?” komentar Heechul.

“Bukankah wanita jalang memang tipemu?”

Heechul mengangguk, membenarkan pernyataan Sooyeon barusan sekaligus menyatakan persetujuan atas tawaran gadis itu kepadanya. Di atas segalanya, dia dan gadis itu memang lahir dari hubungan yang tidak sehat, jadi apa salahnya meneruskan tradisi yang orang tua mereka ciptakan dengan cara mereka sendiri? Rasanya itu bukan ide yang begitu buruk.

Sebelum kembali masuk ke ruang resepsi dan meninggalkan Heechul di balkon sendirian, sebuah sumpah diucapkan Sooyeon pada dirinya sendiri. Tidak peduli tantangan apa yang memisahkan dirinya dan pria itu, dia akan selalu mencari jalan untuk kembali ke pelukan Heechul.

end.

Advertisements

11 thoughts on “The Vow – Chapter 4 [END]

  1. hm, sepertinya ada yang (lagi-lagi) gagal move on dari dunia fangirling nih! haha.. kak, welcome back to fanfiction world! akhirnya nulis ff lagi!! *tebar confetti*

    well, what should I say? yang jelas ff ini sukses bikin gue pengen nimpuk orang. dont know, kak, lo selalu punya kecenderungan buat bikin orang gemes sama karakter di cerita lo. kayaknya kelamaan gak nulis ff bikin kegilaan lo makin jadi. awalnya gue kira ini cuma cerita cinta segitiga yang has korea banget. cinta tidak terbalas, jealousy, dan akhirnya ada satu yang harus berkorban biar tokoh utamanya bahagia. sampe pertengahan, gue masih yakin sama sangkaan awal gue. apalagi pas adegan di gereja itu, sudut pandang heechul bener2 menipu. pas nemu nama lee donghae di dialog aku-bersedia itu, awalnya gue pikir cuma typo aja. eh ternyataaaaa…. jessica ama heechul ini sama-sama sakit! kasian deh ama donghae.

    ini kepanjangan sih buat dijadiin oneshot. ada kali ya 10rb-an kata? tapi bagusan gini sih.. daripada lo akhirnya ngepost satu part dan langsung ngilang dr dunia fangirling lagi. hahaha.. *kabur ke narnia*

  2. Jahat banget jessica sama heechul 😦

    Pantesaaann jessica mau nikah sama donghae ..

    Monolog nya heechul tipu bangett Sumpahh aku kira dia jd groom nya tnyata ohh trnyata. .

    Thor ff haesica nya knpa ga pernah happy end huhuhu
    Tpl tetep daebaakk cerita mu selalu menipu XD

    Gokillllzzzz

    1. hai.. terima kasih udah mampir dan ninggalin komentar. iya, haesica emang ga pernah berakhir bahagia di ff2 buatanku, sama kayak kisah mereka di kehidupan nyata 😦 *kemudian baper*

  3. wow. ide dan cara berceritanya kok bikin aku berasa pengen nyumpah-nyumpah ya, kak? not in a bad way, lho. tapi ini tuh smooth banget penyampaiannya. sama kayak yang koemntar di atas, awalnya aku juga berpikir kalau ini cuma cerita cinta segitiga biasa di mana second lead male-nya harus mengalah dan melepaskan ceweknya untuk bisa bersama dengan pria yang dia suka sejak awal. di bagian pembuka, yang adegan di ruang rias itu, aku udah berpikir kalau yang menikah adlaah heechul sama jessica. terus pas adegan di gereja juga, kejadiannya kan diceritain seolah heechul menyaksikan semua itu karena emang dia pengantinnya. apalagi aku liat di sini donghae bukan cast utama. pengalaman sih, di banyak ff dia kalau gak jadi cast utama pasti kebagian peran tersakiti. makanya aku udah yakin banget sama dugaan cinta segitiga yang oh-so-cheesy itu. TAAAAAAPIIIII semua dugaanku terbantahkan di bagian-bagian akhir. kayaknya emang udah khas author, ya, menggiring pembaca buat mengira alur akan bergerak dengan pola A, tapi tiba-tiba di akhir bikin cerita berbelok tajam. oh iya, kak, kalau aku bisa kasih saran, sejujurnya aku berpikir kalau cerita ini alih-alih kepanjangan, malah sebetulnya masih bisa diperpanjang di beberapa bagian. jadinya nanti bakalan jadi cerita bersambung gitu. mungkin lebih seru. apalagi kan di cerita ini aja udah dibagi-bagi tuh kayak sub-sub cerita dan ada judulnya pula. sekedar saran aja sih. bukan maksud menggurui, karena apalah aku ini, cuma pembaca yang kalau disuruh bikin cerita sendiri pasti stuck di tengah-tngah.

    1. aku seneng deh kalau baca komentar panjang-panjang kayak gini. dan terima kasih banyak buat sarannya. ide seperti itu bukannya tidak pernah terlintas, cuma karena di beberapa sub judul aku kesulitan mengembangkan ide, jadi akhirnya aku tulis seperti ini. ada sih, rencana buat nulis ulang ff ini, tapi kalau nanti bener terwujud, mungkin bentuknya udah bukan fanfiction lagi.

      1. hihi.. aku juga hobi nulis komen panjang-panjang. mungkinkah kita jodoh? *kemudian dikeplak karena geje gak ketulungan*
        mau dinovelin kah? aku dukung, kak! idenya aku suka banget, soalnya. dan kalo mempertibangkan delivery yang udah kakak lakuin di ff buatan kakak, kayanya cerita ini bakalan bagus banget jadinya. fighting!!!

  4. aku baca ini di blog sebelah, terus karena penasaran sama endingnya jadi aku cari blog authornya. gak nyangka ternyata di sini malah udah dipublish lama dan langsung sampe ending lagi, gak kayak yang di sebelah yang dichapter-chapterin. dan endingnyaaaaa.. sumpah aku gak nyangka banget bakalan kaya begini kejadiannya. aku pikir sica nya nikah ama heechul. terus pas ending part 3 yang di blog sebelah itu, heran kok malah sama donghae nikahnya. eh ternyata pas baca sampe benar2 selesai, terjelaskanlah semua. daebak!

  5. Gila ya, ff ini bikin aku merasa beneran ketipu. Udah awalnya ngira jessica bakalan sama heechul. Udah keburu kasian aja liat donghae lagi2 kebagian peran jadi cowo yg mesti mengalah. Trus pas liat adegan pernikahannya, aku udah seneng karena donghae gak jadi patah hati. Tapi ternyata yg dia alami justru lebih parah dari patah hati. Ih, tega amat jessica manfaatin donghae kayak gitu. Hiks 😦

  6. Aaaah… Kenapa begini endingnya??? Udah bolak balik mutusin jessica bakalan sama siapa. Awalnya aku kira sama heechul, trus pacarannya sama lee donghae, eh tiba tiba ada heechul yg cemburu trus menyatakan cinta dan mereka udah tatap tatatapan di depan pendeta, tapi kok nikahnya ternyata sama donghae. Lalu dijelasin sebenarnya apa yang terjadi dan booooommm!! Aku sedih karena merasa dibodohi sama cerita ini 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s