the-vow

Title: The Vow

Author: nchuhae

Main Cast: Jung Sooyeon, Kim Heechul

Support Cast: Lee Donghae, Jung Soojung, Im Yoona

Length: (kinda long) oneshot

Rating/Genre: PG-13/Drama, romance, family

***

1. BEAUTIFUL BRIDE

Heechul tidak tahu bagaimana cara yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya sendiri melihat pemandangan di depannya. Akhirnya hari ini tiba juga, hari yang sudah lama ditunggu oleh banyak orang, termasuk dirinya.

Pria itu sedang menimbang, apakah perlu berterima kasih kepada perias pengantin yang sudah begitu lihai menyapukan make-up ke wajah gadis di depannya hingga wajah yang sehari-hari dianggapnya sudah begitu mempesona meski tanpa polesan make-up, ternyata bisa tampak lebih mempesona lagi. Ataukah rasa terima kasih itu lebih patut dia sampaikan kepada perancang gaun berwarna gading yang kemewahan detailnya berhasil membuat gadis itu tampak glamor?

Oppa!” Soojung, adik sekaligus penata rias gadis itu melonjak kaget mendapati Heechul bersandar di ambang pintu. Dia sama sekali tidak menyangka pria itu bisa ada di tempatnya sekarang berdiri. “Sejak kapan kau ada di sini?”

“Baru beberapa saat yang lalu,” pria itu menjawab santai, sama sekali tidak berniat mengindahkan tatapan Soojung yang seolah ingin menyeretnya keluar dari ruangan saat itu juga.

“Kau tidak seharusnya berada di sini,” gadis muda itu memberitahu. Atau dia sedang mengusir? Ah, Heechul tidak peduli.

“Aku hanya tidak sabar ingin melihat sang calon pengantin.”

Soojung memutar bola matanya, berpikir apakah semua orang di rumah ini berbagi rasa penasaran yang sama seperti pria itu, ataukah memang hanya Heechul saja yang sedang berada dalam masa di mana kata sabar menghilang dari kamus hidupnya. “Kau kan bisa melihatnya nanti saat pemberkatan,” ujarnya.

“Kau tahu adegan di kebanyakan film drama di mana pintu gereja dibuka dan sang gadis melangkah pelan melintasi jalan kecil di antara deretan tamu undangan menuju tempat pendeta dan calon mempelainya berdiri, sementara sang pria menatapnya dengan pandangan yang seolah memperlihatkan ekspresi terkejut di detik pertama dan dilanjutkan dengan tatapan memuja di detik-detik setelahnya?” Heechul bertanya sambil menatap Soojung yang terlihat menyimak perkataannya dengan wajah tidak sabar. Setelah mendapat sebuah anggukan malas dari gadis itu, Heechul melanjutkan, “Aku tidak akan membiarkan diriku menunjukkan wajah bodoh seperti itu. Itu sangat tidak keren!”

Kali ini Soojung mendengus. Alasan macam apa yang baru saja didengarnya? “Oppa, kalau kau hanya ingin melihat penampilan Sooyeon unnie, bukankah beberapa menit lalu aku sudah mengirimimu fotonya segera setelah dia selesai kudandani? Apa itu masih belum cukup?”

Perkataan itu membuat Heechul meraih ponsel yang dia simpan di saku celananya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan benda itu sejak pagi. Urusan pernikahan ini terlalu menyita waktunya.

Pria itu menekan tombol kecil di sisi ponselnya. Ketika layar benda tipis berwarna putih itu menyala, notifikasi dari sebuah social messenger langsung menyapanya. Heechul membuka aplikasi itu demi mencari foto yang disebutkan Soojung barusan. Benar saja, ada foto seorang calon pengantin yang diterimanya beberapa belas menit lalu.

Dia memperhatikan foto itu selama beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah cermin di dalam ruangan. Benda itu memantulkan bayangan Sooyeon, sang objek foto, yang duduk membelakangi pintu dengan senyum tersungging tipis di bibirnya. Mereka saling menatap melalui benda itu, bertukar pesan-pesan tersirat melalui tatapan diam, nyaris lupa bahwa ada seorang gadis lain yang lebih muda sedang berada di ruangan yang sama dan memperhatikan mereka. Ketika akhirnya gadis itu berdeham pelan untuk menunjukkan eksistensinya, Heechul mengakhiri kegiatan saling tatapnya dengan Sooyeon dan melemparkan senyum tipis kepada Soojung. “Tidak, foto ini sama sekali tidak cukup,” ujarnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Soojung beberapa saat lalu.

“Lalu, karena sekarang kau sudah melihat langsung hasil kerjaku,” gadis yang lebih muda itu melipat tangannya di depan dada dan menatap Heechul dengan pandangan menantang, “kenapa kau tidak mengatakan padaku pendapatmu?”

Heechul menatap Sooyeon sekali lagi. Dengan senyum kekanakan terlukis di wajahnya, dia menjawab, “Tidak buruk.”

Sooyeon, sang pengantin yang sejak Heechul datang hanya diam membelakangi pria itu akhirnya bangkit dari duduknya demi menghadap langsung ke arah Heechul. Gadis itu tersenyum sinis. “Bahkan di hari pernikahanku sekalipun, kau tetap tidak bersedia mengakui kalau aku cantik?”

“Bukankah kita pernah sepakat bahwa kalau aku berdandan seperti wanita, aku bisa tampil lebih cantik darimu?” Heechul menjawab, tidak mau kalah.

Soojung mendengus untuk yang kedua kalinya pagi ini karena ulah Heechul. Dia tahu betul bahwa dengan narsisme akut yang diderita pria itu, adalah sebuah hal mustahil mendengar dia memuji orang lain. Tapi bukankah ini adalah hari pernikahan Sooyeon? Semua pengantin berhak menerima pujian bahwa dia cantik di hari seistimewa ini.

Gadis berusia 22 tahun itu membuka mulut, hendak mendahului Sooyeon yang juga ingin membalas ucapan Heechul, tapi telepon genggamnya berdering saat kata pertama bahkan belum sempat terucap. Gadis itu berbicara beberapa saat di telepon, sementara Sooyeon dan Heechul memilih diam, tidak ingin mengganggu Soojung yang sepertinya terlibat pembicaraan serius dengan lawan bicaranya.

Soojung menutup telepon itu beberapa menit kemudian demi berpamitan pada dua orang di dekatnya. “Oppa, Unnie, aku harus pergi ke ruang resepsi. Ada sesuatu yang harus kuurus,” beritahunya.

Dua orang yang dipanggil Soojung dengan sebutan oppa dan unnie itu serempak mengangguk. Dari pembicaraan yang mereka dengar tadi, keduanya bisa mengetahui bahwa ada masalah dengan dekorasi yang seharusnya sudah rampung sekarang.

“Pergilah. Selesaikan semuanya dengan baik, jangan sampai tamu-tamu yang datang nanti mencela dekorasi ruang resepsi pernikahan unnie kesayanganmu,” ujar Heechul yang disambung tawa kecil Sooyeon.

Soojung memang memegang peran sebagai seksi sibuk di pernikahan kakaknya ini. Bukan karena mereka tidak bisa menyewa jasa wedding organizer ternama, tapi gadis itu sendiri yang menawarkan diri untuk diberi kepercayaan mengurus semuanya. Sooyeon adalah satu-satunya saudara yang dia miliki. Dan baginya, memastikan hari bahagia kakaknya berlangsung sesempurna mungkin adalah kado terbaik yang bisa dia berikan. “Ya Tuhan, kenapa segala sesuatu harus aku yang mengurus? Harusnya saat ini aku sudah mendandani diriku sendiri agar tampil cantik dan bisa memukau banyak pria lajang yang akan datang di acaramu nanti, Unnie,” candanya sembari berjalan meninggalkan ruangan.

Sooyeon menunggu adiknya benar-benar pergi untuk melontarkan cibiran yang sudah sejak beberapa menit lalu ingin dilontarkannya kepada Heechul. “Kau benar-benar bangga pada kecantikan wajahmu, huh?”

Heechul memutuskan menutup pintu setelah Soojung keluar ruangan. Dia lalu berjalan ke arah Sooyeon dan hanya mengangkat bahu serta tersenyum jahil untuk menanggapi ucapan gadis itu.

“Dengan sikap seperti itu, aku yakin hanya gadis bodoh yang sudi menikahimu.”

Pria itu berhenti tepat di depan Sooyeon. Dia mengganti senyum jahilnya dengan tatapan hangat lalu membelai sisi wajah Sooyeon dengan tangan kanan dan menghentikan pergerakannya di dagu gadis itu. “Kau benar, hanya gadis bodoh yang sudi melakukannya,” ujar Heechul.

Heechul masih sempat melihat Sooyeon menanggapi perkataannya dengan senyum mengejek sebelum akhirnya dia mengangkat dagu gadis itu dan mempertemukan bibir mereka dalam satu kecupan singkat.

Mencuri-curi waktu untuk sekedar berbagi sebuah kecupan seperti itu adalah kegiatan favorit mereka. Atau kalau ada yang mau menyebutnya sebagai sebuah keahlian, itu juga tidak ada salahnya.

“Sampai bertemu di depan pendeta,” bisik Heechul sebelum meninggalkan Sooyeon sendirian di dalam ruang riasnya.

2. FIRST LOVE

Jika ditanya sejak kapan Sooyeon mencintai pria itu, dia juga tidak bisa benar-benar memastikannya.

Mungkin perasaan itu berawal ketika Heechul datang pertama kali di hadapan Sooyeon sebagai seorang asing yang dengan heroik membantunya saat dipalak oleh geng siswa sekolah sebelah. Sooyeon kemudian mengenali Heechul sebagai tetangga yang tinggal beberapa blok dari rumahnya. Dan bagai sebuah kebetulan, Heechul juga ternyata adalah anak dari salah seorang teman kerja ibunya. Fakta itulah yang membawa mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya di mana pada satu kesempatan, Heechul dengan bossy meminta gadis itu memanggilnya Oppa.

Mungkin itu terjadi di sebuah malam saat usianya 16 tahun, ketika dia masuk rumah sakit untuk operasi usus buntu ringan dan Heechul sengaja tidak pulang ke rumah demi bisa menemaninya semalaman, mengklaim diri sedang melakukan kewajibannya sebagai seorang kakak yang baik. Heechul melakukan banyak hal dalam ruangan putih berukuran 3 x 4 meter itu, mulai dari menceritakan hal-hal lucu tentang orang-orang yang mereka kenal sampai menirukan gerakan dance lagu-lagu dari girlband terkenal, membuat Sooyeon tertawa terpingkal-pingkal hingga gadis itu lupa pada rasa sakit yang dialaminya.

Mungkin itu saat usianya 18 tahun, ketika kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja dan Soojung juga sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kenaikan tingkat, hingga Heechul menjadi satu-satunya orang yang ingat untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Pria yang lebih tua 6 tahun darinya itu rela melewatkan kuliah siangnya dan menempuh jarak sejauh belasan kilometer dari kampus menuju sekolah tempat Sooyeon belajar demi bisa memberikan ucapan selamat ulang tahun tepat di jam kelahiran gadis itu: jam 1.16 siang. Sooyeon sempat bertanya dari mana Heechul mengetahui detail seperti itu, tapi yang didaparkannya bukan jawaban, melainkan hanya sebuah seringaian kau-tidak-perlu-tahu yang dikamuflasekan Heechul dengan kalimat, “Karena aku Kim Heechul. Aku tahu semua hal.” Sebagai kado, pria itu memberikan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf S yang dibelinya dari hasil bekerja sambilan sebagai pelayan sebuah pusat perbelanjaan selama setengah tahun, yang dipakaikannya dengan canggung di depan sekerumunan siswa tingkat akhir yang kebetulan lewat, yang kemudian tidak pernah lepas sedetik pun dari leher Sooyeon.

Sooyeon juga pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa perasaan itu mulai tumbuh ketika Heechul menemuinya pada suatu siang di depan kampus dengan seragam tentara lengkap membungkus tubuhnya, hanya demi memenuhi sebuah janji yang dia ucapkan sebelum memasuki camp wajib militer, bahwa ketika gadis itu lulus kuliah, dia akan datang memberikan selamat, tanpa peduli bahwa ketika kembali ke barak pelatihannya, pria itu pasti mendapat hukuman berat atas tindakan indisipliner yang dilakukannya.

Terlalu banyak hal menyenangkan yang dilakukan pria itu untuknya, hingga suatu hari, Sooyeon memutuskan; perasaan itu muncul tanpa disadari, tumbuh pelan-pelan, sedikit demi sedikit, bertunas dari rasa terima kasih dan berujung pada apa yang terjadi sekarang.

3. THREE SIMPLE WORDS

Sooyeon menyatakannya lebih dulu. Dia sepenuhnya sadar betapa gila hal itu, tapi itu bukan masalah baginya.

Itu terjadi pada suatu malam di penghujung musim semi ketika Heechul mengantarnya pulang setelah mereka selesai makan malam dalam rangka perayaan diterimanya pria itu bekerja di sebuah kantor periklanan ternama. Heechul menemani Sooyeon berjalan dari perhentian bus terdekat sampai ke depan pintu rumahnya sambil menceritakan hal-hal menarik tentang orang-orang yang dia kenal di kantor barunya.

Sooyeon tidak memperhatikan cerita pria itu sedikitpun. Dalam hati, dia sibuk berbantah sendiri, bingung ingin mengutarakan isi hatinya. Iya atau tidak? Sekarang atau nanti?

Pada akhirnya, ketika pintu rumahnya hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempatnya berdiri, kalimat itu lolos dari bibirnya.

Oppa, aku menyukaimu.”

Heechul yang sama sekali tidak menyangka cerita tentang betapa seorang hyung yang disebutkannya barusan memperlakukan dia dengan baik, yang disampaikannya dengan begitu antusias, malah ditanggapi dengan sebuah pernyataan mengejutkan oleh gadis itu. Dia menghentikan langkah dan berbalik demi memandang Sooyeon yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di bawah remang lampu jalan, dia mendapati gadis berambut panjang itu menatapnya, menunggu jawabannya.

Pria itu mungkin tidak begitu cemerlang dalam banyak hal, tapi memang tidak butuh otak sejenius Einstein untuk bisa membaca keseriusan gadis di depannya itu. Meski demikian, Heechul memilih menanggapinya dengan sebuah senyum jenaka, berharap dia hanya salah mengartikan moment ini. Dia menarik Sooyeon mendekat dan mempermainkan rambut gadis itu dengan mengacaknya pelan sambil berseru, “Aigoo, Dongsaeng-ah… aku juga begitu menyukaimu!”

Sooyeon menghentikan pergerakan tangan pria itu di kepalanya bahkan sebelum Heechul benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Selain karena tidak suka rambutnya dibuat berantakan, dia juga tidak suka pada cara pria itu menjawab dengan menekankan kalimatnya pada kata dongsaeng. Dia membenci kata itu.

“Kau tahu aku tidak pernah suka kau memanggilku seperti itu.”

Heechul pelan-pelan menarik tangannya dari kepala gadis di depannya dan ganti memasukkannya ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan, sadar bahwa gadis itu sedang tidak bisa diajak bercanda saat ini. Menirukan keseriusan Sooyeon dalam berbicara, dia berujar, “Aku yakin kau juga tahu bahwa perkataanmu tadi mempertaruhkan sebuah hal besar. Apapun jawabanku, akan ada hal yang berakhir karenanya.”

Hubungan kakak beradik yang mereka jalin sejak usia begitu muda? Sooyeon sudah mempertimbangkannya, dan dia tidak peduli. Justru, satu-satunya hal yang paling dia inginkan sekarang adalah menghancurkan hubungan bodoh itu.

“Aku lelah menjadi adikmu.”

Gadis itu bukannya bertindak tanpa pertimbangan matang. Dia tahu bahwa ada kemungkinan Heechul akan menjauhinya setelah ini. Pernyataan cintanya mungkin akan ditolak. Tapi setidaknya dia tidak lagi harus terperangkap dalam keingintahuannya dan menghabiskan hari dengan sibuk menerka-nerka apakah pria di depannya berbagi perasaan yang sama dengannya.

Entah sejak kapan, harapan itu muncul. Bahwa diam-diam, perasaan yang sama seperti yang dirasakannya juga tumbuh di hati pria itu. Bahwa selama ini hubungan mereka berkutat pada hal yang itu-itu saja karena pria itu bimbang menentukan langkah. Bahwa jika dia menyatakan perasaannya terlebih dulu, semua akan terbalas. Dan bahwa dengan mengesampingkan semua ketidakmungkinan yang ada, mereka bisa bersatu.

Detik berlalu begitu lambat, tapi Sooyeon tetap menunggu dengan sabar, tahu bahwa ada pergolakan batin yang besar di dalam diri Heechul saat ini. Dia memilih menghabiskan waktu dengan menghitung detik-detik yang dia lewati berdiri di sana; bermain tebak-tebakan dengan dirinya sendiri mengenai jawaban yang akan diberikan pria di depannya. Dia akan menghitung sampai pria itu berbicara, dan jika hitungannya kebetulan berhenti di angka ganjil, tidak peduli apapun yang dikatakan pria itu, Sooyeon memutuskan akan percaya bahwa mereka berbagi perasaan yang sama. Sebaliknya, jika hitungannya berhenti di angka genap, dia akan mengartikannya sebagai tanda bahwa dia hanya perlu berusaha sedikit lebih keras untuk membuat pria itu percaya bahwa perasaan di antara mereka selama ini layak mendapat nama yang lebih baik dari sekedar kasih sayang oppa dan dongsaeng.

“Sooyeon-ah,” ujar Heechul, mematahkan hening yang untuk beberapa saat hadir di antara mereka.

Gadis yang disebut namanya itu mendongak setelah menghentikan hitungannya di angka 53. Ganjil!

Heechul menghela napas panjang sebelum menghadiahi Sooyeon dengan sebuah senyum hambar. “Kau sudah dewasa, rupanya.”

Sooyeon diam, tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu hanya bisa menatap Heechul yang untuk sesaat kembali kehilangan kemampuan berbicara. Tatapan diam yang lagi-lagi menghiasi mata pria di depannya membuat rasa menyesal karena telah menyatakan perasaannya tiba-tiba hadir dan perlahan menelusup ke dalam pikirannya.

“Masuklah,” Heechul berujar pelan. “Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke pintu kali ini.”

Perkataan itu membuat Sooyeon tahu dia telah mendapatkan jawaban atas penyataan cintanya. Dia sama sekali tidak menyukai hal itu, tapi pada akhirnya, dia tetap tersenyum seolah tidak ada hal istimewa yang baru saja terjadi.

“Sampai jumpa besok,” kata Sooyeon sebelum membalik badan dan berlari kecil menuju rumahnya, meninggalkan Heechul yang memandang punggungnya menjauh dengan banyak hal berkecamuk di pikirannya.

4. THE GAME

Heechul punya kebiasaan mengganggu Sooyeon yang hobi tidur pagi dengan datang ke kamar gadis itu dan menyetel musik kencang-kencang sampai gadis itu terbangun dengan ekspresi marah di wajahnya. Gadis itu kemudian akan melempari Heechul dengan benda pertama yang bisa dijangkaunya, dan tidak jarang, jika Heechul tidak sigap menangkap benda yang dilemparkan Sooyeon padanya, telepon genggam gadis itu akan berakhir di tempat sampah karena layar yang retak atau mesin yang tidak lagi berfungsi. Tapi beberapa hari belakangan, Sooyeon terbangun sendiri, tanpa gangguan dari siapa pun.

Sikap Heechul berubah sejak malam di mana Sooyeon menyatakan perasaannya. Pria itu memang masih tetap menjawab setiap Sooyeon menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar. Dia tetap datang ketika suatu malam Sooyeon meneleponnya dan minta dijemput setelah lembur di kantor—alasannya masih sama seperti dulu, bahwa dia sedang melakukan tugasnya sebagai Oppa yang baik. Nada antusias dan candaan yang selalu diselipkan pria itu dalam pembicaraan mereka juga masih tetap ada. Hanya saja atmosfir aneh yang menyelubungi mereka begitu pekat hingga Sooyeon tidak mungkin bisa pura-pura tidak sadar.

Perubahan sikap Heechul semakin jelas terlihat ketika suatu hari dia mengajak Sooyeon menonton pertunjukan musikal. Gadis itu tahu betul Heechul bukan penggemar jenis drama seperti ini. Sooyeon pernah berulang kali mengajaknya, tapi pria itu selalu punya cara untuk menolak. Ketika pertunjukan berakhir dan Heechul membawanya ke backstage, dia tahu pertunjukan itu bukanlah hal utama yang ingin diperlihatkan Heechul padanya.

Seorang gadis cantik dengan pakaian ala putri kerajaan di zaman Joseon menghampiri mereka dengan senyum cerah. Dia adalah pemeran utama pertunjukan yang baru saja Sooyeon dan Heechul saksikan.

Oppa, kau datang!” seru gadis itu, seolah tak percaya mendapati Heechul ada di sana.

“Tentu saja. Aku sudah melewatkan banyak sekali pertunjukanmu. Kupikir tidak terlalu terlambat untuk rajin menghadirinya mulai dari sekarang,” jawab Heechul.

Sooyeon melihat ada senyum dan ekspresi ramah yang hadir dari cara Heechul menjawab perkataan gadis di depan mereka. Dia tidak begitu menyukai hal itu.

“Sooyeon-ah, kenalkan, ini Yoona, kekasihku,” ujar Heechul. “Dan Yoong, ini Sooyeon yang pernah kuceritakan padamu.”

Cih! Kekasih. Kenapa Sooyeon tidak terkejut mendengar kata itu?

Gadis bernama Yoona itu melempar sebuah senyum bersahabat kepada Sooyeon. Ada ekspresi malu-malu yang masih belum hilang dari wajahnya karena klaim kekasih yang baru saja diucapkan Heechul. Mengulurkan tangan, gadis itu berkata, “Aku senang sekali bertemu denganmu. Heechul oppa bilang kau adalah penggemar drama musikal klasik. Kuharap penampilanku barusan cukup menarik minatmu.”

Sooyeon menjabat tangan feminin yang terulur di depannya. “Kau tampil sangat baik,” pujinya sambil memberikan senyum yang sama bersahabatnya seperti yang Yoona berikan padanya.

Sooyeon menghabiskan sisa malam itu dengan perasaan kesal. Bukan karena setelah menonton pertunjukan itu Heechul memperkenalkannya dengan seorang wanita cantik yang dia sebut kekasih. Bukan pula karena setelah perkenalan dan obrolan singkat penuh basa-basi di antara mereka, Sooyeon harus cukup tahu diri untuk bersikeras pulang sendiri demi tidak menjadi penganggu kebersamaan pasangan baru itu. Sooyeon kesal pada Heechul yang menurutnya mendadak sangat kekanakan. Gadis itu masih percaya pada hasil hitungannya malam itu. Ganjil, berarti Heechul juga menyukainya. Meski pada akhirnya pria itu menolak menjalin hubungan romantis bersamanya, Sooyeon rasa sedikit keterlaluan jika pria itu menyuarakan penolakannya dengan cara seperti tadi.

Mau tidak mau rasa kasihan Sooyeon pada Yoona timbul. Ketika Heechul memperkenalkan mereka berdua, itu memang baru pertama kali dia bertemu gadis itu secara langsung. Tapi namanya sudah dia dengar sejak jauh-jauh hari. Ketika Heechul masih belum membuat jarak dengan dirinya, pria itu selalu menceritakan gadis mana saya yang sedang dia sukai dan mana yang dia duga menyukai dirinya. Yoona termasuk kategori kedua. Beberapa kali gadis itu memberi Heechul undangan pertunjukan yang dia bintangi, tapi undangan itu biasanya hanya akan berakhir sebagai pemberian untuk Sooyeon.

Sooyeon berpikir lama hingga akhirnya membulatkan tekad, dia akan meladeni permainan Heechul.

5. LEE DONGHAE

Sooyeon mengenal pria itu saat kuliah. Keduanya mengambil jurusan yang sama, tapi mereka tidak masuk di tahun yang sama. Donghae adalah kakak tingkat Sooyeon. Mereka sering kali bertemu di beberapa mata kuliah yang harus diulang Donghae karena nilainya di mata kuliah tersebut tidak begitu baik.

Bagi Sooyeon, Donghae sama sekali tidak bodoh. Satu-satunya alasan dia tidak kunjung lulus adalah karena pria itu salah memilih psikologi industri sebagai ilmu untuk ditekuninya di universitas. Sooyeon pernah mengutarakan pendapatnya langsung kepada pria itu.

“Kau harusnya masuk jurusan seni musik,” ujar Sooyeon sembari mengacungkan sebotol air minum kemasan kepada Donghae yang saat itu baru saja turun dari panggung.

Waktu itu Sooyeon ditunjuk menjadi panitia acara ulang tahun kampus dan Donghae tampil sebagai salah satu pengisi acara. Pria itu menerima minuman yang diberikan Sooyeon dan langsung meneguk isinya hingga hanya tersisa sedikit. Penampilan tadi membuatnya begitu gugup hingga rasanya cairan dalam tubuhnya sudah keluar semua lewat bulir-bulir keringat yang bermunculan dari pelipisnya.

“Pertama kali tampil di depan umum?”

Donghae menggeleng. “Menurutmu aku akan dipilih untuk menjadi penampil di acara sebesar ini kalau panitia tidak menganggap kualifikasiku meyakinkan?”

Sooyeon ikut menggeleng. Dia tahu betul bahwa Jungsoo yang bertanggung jawab untuk hal itu tidak akan begitu gegabah memilih orang, apalagi jika orang yang dipilihnya harus tampil sebagai perwakilan mahasiswa. “Lalu?”

“Aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku adalah sunbae-mu di kampus ini. Aku juga tidak tahu apakah kau sadar bahwa semester ini kita belajar di mata kuliah yang sama karena aku harus mengulang beberapa dari mereka. Dan kau tahu, aku tidak ingin mengulang mata kuliah itu lagi tahun depan hanya karena dosen-dosen yang menyaksikan penampilanku tadi menilai aku tampil dengan buruk dan akhirnya memberiku nilai yang buruk juga di mata kuliah mereka.”

Sooyeon kontan tertawa mendengar hal itu. Mana mungkin ada dosen yang sejahat itu tidak meluluskan mahasiswanya hanya karena dia tampil buruk di acara tahunan terbesar di kampus. Lagipula, penampilan Donghae tadi cukup meyakinkan, terbukti dari riuh tepuk tangan yang muncul ketika lagu yang dia bawakan selesai mengalun. Sooyeon memang tidak begitu paham soal musik, tapi dia berani berkesimpulan bahwa penampilan pria di depannya jauh dari kata buruk.

“Itu kekhawatiran yang sangat wajar muncul di benak mahasiswa yang sudah nyaris di-drop out,” Donghae menambahkan, yang membuat tawa gadis di depannya semakin jadi.

Sooyeon berkomentar setelah tawanya berhasil dia redakan. “Dengan kemampuan bermain piano seperti itu, aku rasa minimal kau bisa seterkenal Yoon Han.”

Pujian itu membuat Donghae tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sebuah gestur yang secara tidak sadar sering dilakukannya jika merasa tersanjung. “Aku sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dia. Lagipula, permainan piano tunggal bukan keahlian utamaku. Aku menerima tawaran Jungsoo karena dia bilang orang lain yang dia tawari menolak untuk tampil.”

Sooyeon mengangguk paham, tak lupa menyertakan sebuah senyum simpul di bibirnya.

“Aku sebenarnya seorang pianis untuk sebuah band pop-jazz. Kami secara reguler tampil di sebuah kafe di daerah Yeoksamdong. Kalau kau mau, datanglah. Aku akan menjemputmu,” beritahu Donghae.

“Tapi sebelumnya kau harus memberitahuku, kenapa psikologi industri?”

Donghae mengangkat bahunya. “Aku hanya berpikir musisi yang punya latar belakang ilmu-ilmu keren seperti psikologi akan terkesan keren juga di mata penggemar. Kuharap itu bisa menjadi daya tarik tersendiriku nanti,” jelasnya.

Penjelasan yang nyaris mengada-ada itu membuat tawa Sooyeon hadir lagi di antara mereka.

“Jemput aku di stasiun terdekat,” ujar Sooyeon menutup pembicaraan.

Dan dari situ, kedekatan antara mereka mulai terjalin.

6. BOUNDARIES

Sama halnya seperti perasaan Sooyeon terhadap Heechul, perasaan Donghae terhadap Sooyeon juga terbit tanpa bisa benar-benar dia ketahui kapan mulanya. Yang pria itu tahu, kedatangan Sooyeon setiap kali dia tampil memberikan semangat baru baginya untuk menyajikan musik yang lebih menawan dari sebelumnya. Dia juga semakin produktif mengolah irama, tentu saja dengan menjadikan gadis bersuara seperti lumba-lumba itu sebagai inspirasinya. Di beberapa mata kuliah yang mereka hadiri bersama, Donghae sering kali mendapati dirinya mencuri pandang ke arah Sooyeon yang selalu memilih duduk di barisan paling depan. Pria itu menyukai tatapan serius gadis itu menyimak penjelasan dosen tentang sejumlah teori psikologi yang dikemukakan para ahli, bagaimana anak rambutnya terjatuh ketika dia menunduk untuk mencatat beberapa materi, bagaimana alisnya bertaut ketika gadis itu mendapati ada yang tidak dia mengerti dari buku bacaannya, juga bagaimana dia dengan semangat mengacungkan tangan untuk mengutarakan segala macam hal yang mengusik rasa ingin tahunya. Donghae sampai sempat berharap untuk tidak diluluskan saja di mata kuliah lain agar bisa lebih lama berada di ruangan yang sama dengan gadis pujaannya.

Sama pula halnya seperti perasaan Yoona terhadap Heechul yang selalu berusaha dia tunjukkan namun tidak pernah ditanggapi serius oleh pria itu, perasaan Donghae terhadap Sooyeon juga bagai dayung tak bersambut. Gadis itu membalas semua pesannya dengan ramah, menghadiri setiap ajakan untuk menyaksikan penampilan bandnya, bahkan membantunya menyelesaikan beberapa makalah yang kadang terlupa olehnya karena dia terlalu sibuk dengan urusan lain. Tapi hanya sebatas itulah kedekatan mereka. Sooyeon tidak pernah bersedia pergi berdua dengannya. Selalu saja ada si A atau si B yang disertakan gadis itu di setiap pertemuan mereka, dan Donghae tahu, Sooyeon secara tidak langsung ingin memberikan batasan bagi hubungan mereka.

Pria itu tahu diri. Dia akhirnya berkesimpulan bahwa selama ini gadis itu bersikap baik padanya hanya atas nama sopan santun saja. Lagipula, setelah dipikir-pikir lagi, cara Sooyeon berbicara padanya terlalu normal. Perbincangan mereka bahkan tidak terkesan lebih akrab dibanding percakapan gadis itu dengan wanita paruh baya yang menjual jajangmyeon di kantin kampus.

Prasangka Donghae terbukti ketika pada saat perayaan hari kelulusan—mereka akhirnya lulus bersamaan—seorang pria berpakaian tentara datang menemui Sooyeon di depan kampus. Saat itu Donghae sedang mengobrol dengan Sooyeon sekaligus memberikan serangkai bunga mawar sebagai kado kelulusan, tapi gadis itu memilih meninggalkannya di tengah percakapan yang tengah mereka lakukan lalu berlari ke depan kampus. Donghae mengikutinya, dan di situlah dia melihat Sooyeon menghampiri pria cantik berkulit putih susu. Mereka berpelukan. Pria itu bahkan sempat mendaratkan sebuah kecupan penuh sayang di kening gadis itu. Ekspresi tersipu Sooyeon sepanjang pertemuan singkatnya dengan pria berseragam itu juga tidak lolos dari pengamatan Donghae.

Hari itu, Sooyeon mematahkan hati Donghae, tanpa gadis itu pernah menyadarinya.

7. CROSSING BOUNDARIES

Patah hati berujung cemburu yang dialami Donghae karena kejadian di depan kampus tidak serta merta memadamkan perasaan suka yang dimiliki pria itu. Di atas segalanya, memang tidak pernah ada pernyataan cinta yang muncul antara keduanya. Donghae menganggap itu sebagai sebuah keuntungan. Setidaknya, dengan begitu dia masih bisa berada di dekat Sooyeon sebagai seorang sahabat tanpa adanya perasaan canggung di antara mereka.

Pria itu masih rajin menjemput Sooyeon untuk menghadiri acara pementasan bandnya—frekuensi tampilnya mereka di panggung besar semakin meningkat setelah Donghae menamatkan kuliah dan bisa sepenuhnya fokus membesarkan nama grup yang dinamainya Rustling Andande itu. Sooyeon dengan suara melengking khas lumba-lumbanya juga masih menjadi sumber inspirasi utama Donghae dalam menciptakan lagu. Beberapa kali Donghae juga masih memberanikan diri mengajak Sooyeon nonton film berdua. Semua ajakan itu ditanggapi Sooyeon dengan ramah, tentu saja dengan membawa serta beberapa temannya agar dia dan Donghae tidak berakhir nonton berdua seperti sepasang kekasih.

Semua masih sama. Kecuali malam ini.

Handsome Fish: Sibuk? Ayo nonton film James Bond bersamaku.

SooyeonJung: Sedang tidak ada kerjaan. Tapi aku tidak terlalu mengikuti serial Bond. Mockingjay, bagaimana?

Handsome Fish: Oke! Tempat dan jam biasa?

SooyeonJung: Yup! Sampai jumpa di sana 🙂

Sebagai kejutan untuk Donghae, malam itu dia mendapati Sooyeon menunggunya seorang diri di depan pintu masuk bioskop. Pria itu sempat berpikir teman Sooyeon, entah siapa itu, akan muncul tidak lama kemudian sebagai tanda batas hubungan mereka. Donghae menganggapnya sebagai hal biasa saking seringnya kejadian itu dia alami. Tapi sampai film yang dibintangi Jennifer Lawrence itu berakhir, mereka tetap berdua saja.

Tidak hanya sampai di situ. Ketika Donghae menawarkan diri mengantar Sooyeon pulang, gadis itu juga bersedia. Sooyeon memang tidak langsung menyatakan kesediaannya. Donghae melihat gadis itu menghabiskan waktu hampir semenit untuk mempertimbangkan tawarannya sebelum akhirnya mengangguk setuju. Setidaknya itu adalah sebuah langkah maju.

Ini sangat jauh berbeda dengan usaha pendekatannya sebelum ini yang selalu berujung pada penolakan halus yang diucapkan gadis itu. Dulu, selalu ada alasan “aku masih harus mengunjungi tempat lain setelah ini, aku tidak ingin membuatmu bosan menemaniku ke mana-mana” atau “tidak usah, aku pulang bersama temanku saja, kebetulan rumah kami searah”. Pernah juga dia mendapat alasan klise seperti “aku tidak ingin merepotkanmu”.

Donghae menelan semua penolakan itu karena dia tahu, memaksakan keinginannya pada Sooyeon tidak akan membuat gadis itu menyukainya lebih dari sebatas teman. Dia memilih bersabar, dengan harapan suatu saat Sooyeon akan mengizinkannya melampaui batasan yang selama ini ada di antara mereka.

Ketika akhirnya Sooyeon secara tidak langsung memberikannya izin itu, Donghae tidak bisa membendung pertanyaan-pertanyaan yang secara liar muncul di kepalanya.

Mungkinkah pembatas itu sekarang sudah lenyap? Mungkinkah Sooyeon dan pria cantik berkulit putih susu itu sudah tidak lagi bersama? Akankah dia mendapat kesempatan untuk berada di sisi Sooyeon, menggantikan posisi pria itu?

Pertanyaan Donghae terjawab beberapa bulan kemudian. Di sebuah pementasan yang disiarkan live di stasiun televisi lokal, dia tampil solo dan menyanyikan sebuah lagu yang diklaimnya sebagai ciptaan terbarunya. Tepuk tangan penonton membuka dan menutup lagu itu dengan sempurna, dan di antara orang-orang yang bertepuk tangan, ada Sooyeon di antaranya.

Sebelumnya Donghae tidak pernah berani menyanyikan lagu ciptaannya di depan gadis itu. Dia terlalu takut jika Sooyeon sadar bahwa lagu yang dia bawakan ternyata berkisah tentang dirinya, gadis itu akan menyadari perasaan Donghae dan semakin menjaga jarak dengannya. Perpisahan dengan Sooyeon adalah hal terakhir yang diinginkan pria bersuara sengau itu.

Tapi perubahan sikap Sooyeon belakangan ini membuat keberanian pria itu perlahan tumbuh. Ditambah dengan dukungan dari para anggota bandnya, Donghae merasa mantap untuk menyudahi ketakutannya malam ini. Sooyeon sudah melonggarkan batasan yang selama ini dia pegang teguh. Sekarang gilirannyalah sebagai pria untuk membuat sebuah langkah maju agar hubungan mereka bisa beranjak ke tahap berikutnya.

Di lain sisi, Sooyeon yang memang sudah pernah beberapa kali diberitahu oleh anggota Rustling Andante yang lain bahwa lagu-lagu yang diciptakan Donghae banyak yang terinspirasi dari dirinya, memutuskan untuk tidak mempercayai ide itu. Dia tahu bahwa Donghae selama ini menyukainya, tapi dia tidak yakin sebesar itu pengaruh dirinya terhadap Donghae hingga rangkaian melodi yang begitu bagus bisa lahir karena dirinya. Terlebih lagi, kedekatan mereka belakangan ini sering dijadikan bahan olokan anggota yang lain. Mungkin saja lagu-lagu itu tercipta murni karena kepandaian Donghae merangkai nada.

Pemikiran demikian bertahan di kepalanya hingga malam itu. Ketika lagu berjudul Let Me Be yang dinyanyikan Donghae menyapa indra pendengarannya, Sooyeon baru sadar bahwa perkataan teman-teman Donghae selama ini bukan semata untuk membuatnya salah tingkah. Lirik lagu itu jelas menceritakan kisah mereka, serta bagaimana pria itu berharap bahwa Sooyeon akan membalas cintanya.

Sooyeon tidak langsung menyuarakan jawabannya saat itu juga. Barulah setelah Donghae mengantarnya pulang, dia meraih telepon genggamnya dan mulai mengetik pesan melalui social messenger kepada Donghae.

SooyeonJung: Jadi perkataan teman-temanmu selama ini benar, bahwa aku jadi inspirasimu dalam menciptakan lagu?

Pesan itu dijawab beberapa puluh menit kemudian.

Handsome Fish: Hahaha…

SooyeonJung: Kenapa tertawa?

Handsome Fish: Aku sedang salah tingkah sekarang. Apa kau tahu bahwa wajahku sedang memanas?

SooyeonJung: Seharusnya wajahkulah yang memanas. Perbuatanmu membuat aku malu.

Handsome Fish: Jadi kau marah?

Pasan balasan untuk Donghae datang lama setelah itu. Dia bahkan sempat mendadak bersedih karena menganggap Sooyeon tidak membalas pesannya karena gadis itu benar marah. Tapi penantian Donghae selama bertahun-tahun ditakdirkan berakhir semanis senyumnya.

SooyeonJung: Kalau aku bilang bahwa aku juga menyukaimu, apa yang akan terjadi pada wajahmu yang memanas itu?

8. JEALOUS!

Pernyataan cinta mengejutkan Sooyeon kepadanya beberapa bulan lalu masih terus membayangi Heechul. Awalnya dia sangat yakin bahwa menolak gadis itu adalah pilih terbaik untuk dia tempuh. Pria itu bahkan sudah dengan tega memanfaatkan gadis sebaik Yoona demi membunuh perasaan Sooyeon terhadapnya. Setelah malam ketika dia mengenalkan Yoona sebagai kekasih barunya kepada Sooyeon, dia percaya gadis yang disayanginya seperti adik kandung itu akan bersikap dewasa dan mulai berpikir untuk melupakan perasaannya kepada Heechul. Pria itu mengira, dengan keberadaan gadis lain di sisinya, Sooyeon akan menarik diri dan mulai mengarahkan cintanya kepada orang yang lebih tepat.

Dan rencananya berhasil. Hubungannya dengan Yoona berjalan mulus meski sejauh ini hanya gadis itulah yang terlihat berusaha begitu banyak agar hubungan mereka semakin mesra. Sooyeon juga akhirnya bisa membuka hati untuk seorang pria lain yang diketahui Heechul memang sudah lama menaruh hati kepadanya. Gadis itu bahkan sudah kembali lagi seperti dulu, tanpa canggung menceritakan hari-harinya kepada Heechul. Keakraban yang sempat hilang di antara mereka berdua pelan-pelan muncul lagi.

Semua berjalan sesuai harapannya. Lalu kenapa Heechul malah merasa ada yang salah dengan dirinya saat melihat kemesraan Sooyeon dan kekasihnya?

Heechul baru saja menutup aplikasi instagram di telepon genggamnya. Beberapa waktu belakangan, dia mendapati dirinya begitu rajin men-stalking akun instagram Sooyeon dan kekasihnya hanya demi melihat perkembangan hubungan mereka yang sepertinya semakin lama semakin mesra. Heechul merasa diam-diam mencari tahu seperti itu adalah hal paling menyedihkan yang bisa dilakukan oleh pria senarsis dirinya, tapi dia juga gengsi bertanya langsung pada Sooyeon. Pria itu tidak yakin bisa mengontrol ekspresinya kalau apa yang dia dengar terlalu membangkitkan kecemburuan yang berusaha dia kubur dalam selama ini.

Awalnya kegiatan itu tidak sengaja Heechul lakukan. Suatu hari dia mendapat pemberitahuan bahwa Sooyeon mulai mengikutinya di instagram. Dia mengecek profil gadis itu dan mendapati dongsaeng kesayangannya itu ternyata sudah mengunggah banyak sekali foto di hari pertamanya memiliki akun sosial media satu itu. Heechul sejenak tidak percaya bahwa Sooyeon sendiri yang melakukan semua unggahan itu. Sooyeon yang dia kenal selama ini sangat malas memperbarui postingan akun-akun dunia mayanya. Gadis itu bahkan pernah mencela Heechul karena terlalu rajin memamerkan kehidupannya untuk dikonsumsi orang banyak. Kenapa gadis itu mendadak berubah jadi tukang pamer seperti dirinya?

Foto-foto yang Sooyeon pamerkan sebenarnya normal. Kebanyakan hanya foto dirinya dan orang-orang terdekatnya. Fotonya bersama Heechul juga ada. Bahkan foto tanaman di kebun kecil di belakang rumahnya juga tampak di antara jejeran foto koleksi Sooyeon. Tapi tetap saja, yang paling menarik perhatian Heechul adalah sebuah foto yang diunggah Sooyeon pertama kali. Ada gadis itu dan kekasihnya di sana, sedang tersenyum lebar sambil memamerkan cincin pasangan yang sepertinya baru dibeli. Entah kenapa Heechul gerah melihatnya. Bahkan dia dan Yoona yang lebih dulu menjalin hubungan saja belum pernah memiliki couple thing dalam bentuk apapun, tapi pasangan baru ini malah sudah punya cincin pasangan.

Rasa ingin tahulah yang kemudian mendorong Heechul membuka profil pria bernama Donghae itu. Heechul akhirnya tahu bahwa Donghae yang dulu diceritakan Sooyeon sekelas dengannya di beberapa mata kuliah psikologi, ternyata adalah seorang pianis dari sebuah grup band yang saat ini sedang naik daun. Terbukti dari jumlah pengikut instagramnya yang jauh lebih banyak daripada Heechul.

Heechul berulang kali memperingatkan dirinya sendiri bahwa tidak sepatutnya dia cemburu melihat Donghae mengunggah foto apapun. Sama seperti Sooyeon, unggahan pria itu tidak lebih dari sekedar foto-foto tentang hal yang dialaminya dalam sehari. Kebanyakan diambil saat grupnya tampil, sisanya hanya gambar acak yang menampakkan hujan, bunga, dan hal lain yang diunggahnya dengan menambahkan beberapa baris sajak atau kutipan terkenal untuk menambah kesan melankolis-romantis dari sekumpulan foto itu. Tentu saja, foto Sooyeon juga ada, tapi jumlahnya tidak banyak.

Heechul pernah iseng memperbesar satu gambar yang menyajikan wajah Sooyeon yang jelas sekali diambil sembunyi-sembunyi, penasaran dengan yang kalimat yang ditulis Donghae sebagai caption-nya. Pria 33 tahun itu hanya bisa tersenyum mengejek ketika mendapati Donghae menuliskan potongan dialog Romeo dan Juliet karya Shakespeare di bawah foto Sooyeon. Cheesy, celanya.

Tapi seburuk apapun foto-foto itu bagi Heechul, tetap saja bisa membangkitkan rasa tidak suka di dalam dirinya. Sooyeon seharusnya berkencan dengan dirinya, bukan pria lain!

Rasa tidak suka itu semakin menjadi setelah hari ini dia melihat Donghae mengunggah foto sebuah cincin dan tulisan marry me yang dipajang tepat di samping kotak kecil berwarna merah tempat cincin itu disimpan. Heechul sempat terkejut dengan jumlah komentar dan tanda like untuk foto itu yang seolah memberi tahu betapa banyak orang di luar sana yang mendukung perbuatan Donghae.

“Sialan!” makinya, tidak sadar sudah menyuarakan pikirannya terlalu keras hingga seisi ruangan tempatnya bekerja langsung menghadiahinya pandangan penuh rasa ingin tahu. Kalau bukan seorang sunbae-nya langsung menegur dan menanyakan apakah dia baik-baik saja, Heechul tidak akan pernah tahu bahwa makiannya ternyata sudah mengundang begitu banyak perhatian. Pria itu hanya bisa meminta maaf, berdalih sedang pusing dengan deadline yang menghimpitnya.

Heechul kemudian menatap kembali benda tipis berwarna putih yang tadi dia geletakkan ke atas meja. Dia memutuskan menelepon Yoona. Biasanya suara lembut nan ceria gadis itu bisa dengan mudah menenangkan hatinya.

Oppa!” seru Yoona begitu telepon tersambung.

Seperti dugaan Heechul, gadis itu menyapanya dengan begitu ceria. Mereka mengobrol selama hampir setengah jam. Yang dibicarakan hanya hal-hal random tentang apa yang saat itu mereka kerjakan di tempat masing-masing. Yoona kebetulan tengah latihan untuk pementasan musikal terbarunya, sementara Heechul menjelaskan bahwa dia seharusnya mengonsep detail sebuah iklan parfum tapi sedang kekurangan inspirasi.

Setelah telepon ditutup, pria itu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop, berusaha untuk konsentrasi terhadap pekerjaannya. Yoona tadi sudah sempat memberikan semangat kepadanya. Rasanya jahat sekali jika dia mengabaikan bentuk perhatian seperti itu.

Heechul menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. “Baiklah, fokus!” perintahnya pada diri sendiri.

Sayangnya, hari itu pekerjaan sama sekali tidak masuk ke dalam daftar hal-hal yang harus dia pikirkan. Belum sampai sepuluh menit berkaca di depan laptop, lamaran Donghae terhadap Sooyeon kembali menjadi perhatian utamanya.

“Menikah! Lee Donghae mengajak Sooyeon menikah! Memangnya sudah berapa lama mereka menjalin hubungan? Setahun saja belum. Berani-beraninya dia menyatakan cinta dengan cara kampungan seperti yang dilakukannya ini. Lalu apa pula yang dilakukan gadis-gadis remaja pengikut Donghae yang meninggalkan begitu banyak komentar dukungan dengan kalimat-kalimat yang begitu memuakkan?” gerutu Heechul dalam hati. “Sooyeon itu milikku! Gadis itu tidak boleh menikahi pria selain diriku!”

Dia meraih telepon genggamnya dengan kasar, membuka kembali aplikasi instagramnya, mencari akun Donghae dan membaca semua komentar yang masuk untuk foto sensasional pria itu, berharap akan menemukan Sooyeon menjawab lamaran itu dengan kata tidak.

Dengan tidak sabar Heechul membaca satu per satu komentar yang entah kenapa rasanya kalimat-kalimat itu begitu menyebalkan baginya. Pria itu menyerah setelah bosan menggulirkan tampilan layar teleponnya dan tidak juga mendapati komentar Sooyeon di sana. Rasanya tidak mungkin kalau gadis itu tidak tahu bahwa dia baru saja dilamar.

Heechul sempat terpikir untuk langsung saja bertanya kepada sang pemilik jawaban, tapi dia merasa bahwa itu adalah ide yang hanya akan merusak citranya. Dia tidak boleh menunjukkan kecemburuannya sedikit pun. Itu sama sekali tidak keren.

Gengsi yang teramat tinggi membuat Heechul penasaran selama berhari-hari. Berulang kali dia membuka aplikasi LINE-nya, menyalurkan rasa ingin tahunya lewat pertanyaan-pertanyaan beraroma posesif, hanya untuk kemudian menghapus lagi kata-kata yang baru diketiknya.

Heechul merasa dirinya begitu menyedihkan. Dan bersamaan dengan itu, dia juga jadi begitu pemarah. Dia marah kepada dirinya sendiri yang waktu itu menolak pernyataan cinta Sooyeon. Dia marah kepada Donghae yang secepat itu ingin mematenkan Sooyeon sebagai miliknya. Dia marah kepada Sooyeon yang tidak pernah membahas peristiwa lamaran itu meski mereka berbincang hampir tiap hari di telepon. Dia marah kepada semua orang, termasuk Yoona yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Kau kenapa?” gadis itu bertanya kepada Heechul yang baru saja membentaknya. Padahal dia hanya bertanya tentang menu yang ingin dipesan pria itu untuk makan malam mereka kali ini, kenapa pria di depannya itu terlihat begitu emosi?

Heechul tidak memberi penjelasan apapun kepada Yoona. Dia hanya menggumamkan kata maaf sebelum akhirnya mengambil jaket cokelat yang tersampir di sandaran kursinya dan meninggalkan gadis itu sendirian di sana bersama kebingungan yang melandanya. Heechul bahkan ragu apakah permintaan maafnya tadi bisa didengar oleh sosok wanita bergaun hitam yang malam itu sengaja mangkir latihan demi memenuhi ajakan makan dengannya, tapi dia merasa tidak punya waktu lagi untuk kembali menghampiri gadis itu hanya untuk sekedar berpura-pura bersikap selayaknya gentleman seperti yang selama ini selalu berusaha dia lakukan. Pikirannya saat itu dipenuhi oleh sosok lain: Sooyeon. Dan satu-satunya hal yang paling ingin dia lakukan saat ini adalah menemui gadis itu dan meminta supaya dia tidak menerima pinangan Lee Donghae.

9. LOVE CONFESSION

“Kau tidak akan menikahi Lee Donghae, bukan?”

Sooyeon baru saja pulang kantor setelah lembur demi menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya. Satu-satunya yang diinginkan gadis itu hanya mandi air hangat dan tidur nyenyak sampai pagi, tapi ketika membuka pintu pagar dan mendapati bahwa yang muncul di hadapannya adalah Heechul yang berdiri dengan ekspresi serius sambil menodongnya dengan pertanyaan yang juga serius, dia tahu bahwa mandi air hangat dan tidur nyenyaknya harus sedikit tertunda.

Gadis itu menutup pintu pagar lalu berjalan mendekati Heechul. Ketika jarak mereka sudah dekat, dia langsung menyuarakan rasa ingin tahunya. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Kau tidak akan menikahi Lee Donghae, bukan?” Heechul mengulangi pertanyaan itu lagi.

Sooyeon menaikkan alisnya dan menghadiahi Heechul pandangan yang membuat lawan bicaranya itu kontan merasa bahwa dia baru saja telah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat konyol. Memasang tampang polos, gadis itu bertanya, “Tidak boleh?”

Heechul tahu dia tidak berhak melarang gadis itu melakukan apapun. Di atas segalanya, Donghae adalah seorang pria baik. Dia dan Sooyeon juga sudah sama-sama dewasa hingga pilihan untuk menikah adalah hal yang wajar. Ditambah dengan status mereka sebagai sepasang kekasih, rasanya tidak ada salahnya untuk membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Tapi dia juga tahu bahwa ketika pernikahan itu benar terjadi, hatinya akan sangat terluka.

Lagipula, dia menemui gadis itu memang bukan untuk melarang. Dia datang untuk mengajukan permintaan. Bukankah Sooyeon pernah bilang bahwa gadis itu menyukai dirinya? Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Bukankah sah-sah saja menyatakan cinta pada gadis yang sudah memiliki kekasih?

“Aku mencintaimu,” tembak pria itu langsung.

Rasanya seolah ada batu besar yang baru saja terangkat dari punggungnya ketika kalimat itu akhirnya lolos dari bibirnya. Selama ini Heechul mungkin bisa menahan kalimat itu dan mengkamuflasekannya dalam pernyataan sayang dari seorang oppa kepada dongsaeng-nya, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Dia merasa bodoh karena baru menyadari betapa dia menyukai Sooyeon dan betapa berarti keberadaan gadis itu di sampingnya setelah gadis itu menemukan pria lain. Pria itu hanya bisa berharap-harap cemas semoga kesadaran itu datang padanya tidak terlalu terlambat.

Sooyeon mengerjapkan matanya, sedikit kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi. Apakah Kim Heechul baru saja menyatakan cinta padanya? Pria itu tidak salah memakai kosa kata, bukan? Cinta? Bukan sekedar sayang atau suka?

“Kau mencintaiku?” gadis itu mengulang kalimat Heechul dalam nada berbeda. Ada ketidakyakinan yang tersirat dalam cara gadis itu bertanya.

Pria di depannya tidak butuh waktu lama untuk mengangguk yakin.

“Ah, tentu saja. Kau mencintaiku karena aku adik kesayanganmu.”

Ingin rasanya Heechul menjerit frustasi melihat Sooyeon menanggapi pernyataan cintanya dengan kalimat seperti barusan. Andai saja gadis itu tahu sudah berapa lama kalimat itu tersegel di kepalanya, serta betapa sulitnya kalimat itu lolos dari bibirnya.

“Aku mencintaimu sebagai seorang pria.”

“Ini bukan karena kau cemburu melihat aku bersama Donghae, bukan?”

Sebenarnya iya. Rasa cemburu itulah yang membuat Heechul meninggalkan Yoona duduk kebingungan di restoran hanya untuk kemudian berlari seperti orang gila ke rumah Sooyeon karena tidak kunjung mendapat taksi. Rasa cemburu jugalah yang mendorongnya mengaku pada diri sendiri bahwa dia sebenarnya sudah menyukai gadis itu jauh sebelum Sooyeon menyatakan cinta padanya. Tapi dia menolak mengakui semuanya di depan gadis itu.

Tidak kunjung menemukan alasan yang tepat dan sekiranya bisa menyelamatkan harga dirinya, Heechul akhirnya malah melakukan sebuah tindakan bodoh yang sesaat kemudian langsung disesalinya. “Aku sama sekali tidak cemburu padanya,” ujarnya dengan ekspresi yang justru berlawanan dengan apa yang dia ucapkan.

Sooyeon merasa ada kembang api yang tiba-tiba meledak di hatinya melihat pria di depannya salah tingkah seperti itu. Tidak diragukan lagi, Kim Heechul mencintanya!

Sooyeon tersenyum dalam hati. Senang sekali rasanya melihat raut muka Heechul saat ini. Merasa berada di atas angin, gadis itu memilih mempermainkan Heechul sedikit lebih lama lagi. Gadis itu memicingkan mata, menatap Heechul dengan pandangan curiga, dan bertanya, “Benarkah?”

Heechul mengerang putus asa. “Sialan, Sooyeon! Kau benar-benar suka melihatku menderita, huh?”

Kali ini gadis itu tidak mampu lagi menahan senyumnya. Hitungannya dulu ternyata tidak salah. Ganjil, berarti Heechul juga menyukainya. Dia tidak tahu kenapa selama ini dia begitu percaya pada hal konyol itu, tapi waktu telah membuktikan bahwa ternyata kepercayaannya sama sekali tidak keliru. Semua terbukti malam ini.

Berjinjit, Sooyeon mendekatkan bibirnya ke telinga Heechul dan membisikkan jawabannya kepada pria itu. Ketika sudah selesai, gadis itu mengucapkan selamat malam dan masuk ke rumah, meninggalkan Heechul yang berdiri mematung di depan pintu dengan sejuta perasaan berkecamuk di hatinya.

10. THE GROOM

Heechul berdiri di sana, di altar sebuah gereja yang terletak tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Di sampingnya, seorang pria paruh baya berpakaian putih yang hari ini sekali lagi akan menyatukan sepasang manusia dalam sebuah ikatan suci melalui sebuah janji di depan Tuhan terlihat bersiap-siap dengan kitab di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada kursi yang berderet rapi dan menghadap ke arahnya. Beberapa dari kursi itu diduduki oleh orang-orang yang terlihat familier baginya.

Heechul merasa ada sesuatu yang mendadak mencuri napasnya ketika pintu gereja itu dibuka dan menampilkan sesosok gadis bergaun putih yang sangat dikenalnya. Pria itu bingung bagaimana keterkejutan masih bisa menghampiri dirinya mendapati betapa memukau sosok yang saat itu sedang melangkah menuju dirinya. Padahal mereka sudah bertemu beberapa jam sebelumnya, ketika dia nekad menyelinap ke ruang rias hanya demi melihat penampilan gadis itu setelah didandani, lalu kenapa sekarang sensasi aneh itu masih bisa merajainya?

Dia selalu membenci adegan pernikahan di film-film drama, ketika pengantin wanita berjalan menuju altar dalam gerakan lambat dan orang-orang seisi ruangan hening memperhatikan bagaimana sosok feminin itu menunduk khidmat menuju pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dia lebih benci lagi pada ekspresi yang muncul di wajah sang pengantin pria ketika melihat calon mempelainya semakin mendekat dan lagu romantis menjadi pengiring semua peristiwa sakral itu.

Tapi betapapun Heechul membenci hal seperti itu, betapapun dia melakukan segala cara agar hal itu tidak terjadi padanya, semua tetap saja terjadi. Pria itu yakin, jika ada yang mengabadikan apa yang terjadi padanya saat ini dalam bentuk video, dia akan melihat kejadian yang sama persis seperti adegan di film-film drama yang selalu dia cela itu.

Sooyeon sudah berdiri di dekatnya. Jarak mereka sudah sedemikian dekat hingga Heechul merasa sangat sulit menahan godaan untuk tidak mewujudkan ide gila yang terlintas di pikirannya saat itu. Mereka masih sempat saling melempar tatapan menggoda untuk satu sama lain sebelum akhirnya menghadap ke arah pendeta dan menyilakan pria itu memulai prosesi pemberkatan.

“Apakah kau, Lee Donghae, bersedia menerima gadis di depanmu ini sebagai istri, mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, serta saling mengasihi sampai maut memisahkan kalian?” Suara lantang pendeta menggema ke seluruh sudut gereja itu.

“Aku bersedia.”

“Dan apakah kau, Jung Sooyeon, bersedia menerima pria di depanmu ini sebagai suami, mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, serta saling mengasihi sampai maut memisahkan kalian?

Gadis yang disebutkan namanya itu diam sejenak, memperhatikan calon suaminya tersenyum manis kepadanya, menunggu dia memberikan jawaban atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan pendeta kepadanya. Di belakang pria itu ada Heechul, berdiri di sana dengan jas hitam rapi dengan status sebagai pendamping pengantin, juga menghadiahinya senyum yang sama manisnya seperti yang diberikan Donghae kepadanya.

Dengan pandangan terkunci pada calon suaminya, Sooyeon menjawab, “Aku bersedia.”

Riuh tepuk tangan memenuhi gereja setelah pendeta menyatakan Donghae dan Sooyeon resmi menjadi sepasang suami-istri. Teriakan yang meminta mempelai pria mencium mempelai wanita pelan-pelan terdengar hingga makin lama terasa makin menuntut. Donghae tentu saja tidak keberatan melakukan perintah itu. Dengan senyum melekat di bibirnya, dia mendekatkan wajahnya kepada Sooyeon yang menyambutnya dengan suka hati.

Semua orang di ruangan itu bergembira, kecuali seorang bestman yang hanya bisa ikut bertepuk tangan dengan senyum hambar tersungging di bibirnya sambil dalam hati berharap bisa menculik pengantin wanita dan membawanya ke tempat di mana mereka bisa bersama selamanya.11

11. WHAT IF

Heechul tidak pernah membayangkan akan tiba di hari di mana Lee Donghae mendatanginya untuk meminta dia melakukan sesuatu yang begitu konyol. Tapi di sinilah dia sore ini, di sebuah kafe dengan interior ala Eropa di Abad Pertengahan, memenuhi ajakan pria yang beberapa jam tadi mendatanginya di kantor dan bersikeras agar dia bersedia meluangkan waktu istirahatnya karena pria itu ingin membicarakan sebuah hal penting.

Hyung, aku ingin kau menjadi bestman-ku,” pinta Donghae.

Heechul yang terlihat mendengarkannya dengan malas. Pria yang lebih tua itu tampak lebih tertarik pada potongan tiramisu cheesecake yang tersaji di depannya. Dengan mulut mengunyah potongan kue yang lebih kecil, dia bertanya, “Kenapa aku? Kenapa bukan salah satu anggota bandmu?”

Donghae mengembuskan napas panjang. Pertanyaan itu memang sangat wajar ditanyakan, tapi menceritakan alasannya dengan lengkap berarti memberi tahu bahwa vokalis sekaligus gitaris bandnya mengancam akan mogok latihan jika posisi pendamping pengantin diserahkan kepada anggota selain dirinya, drummernya sudah menyiapkan pidato dan secara tidak langsung berharap dirinya ditunjuk menjadi pendamping agar kata sambutan sepanjang tiga lembar yang sudah disusunnya itu tidak berakhir sia-sia di tempat sampah, sementara si magnae yang bertugas memainkan saxophone bersikeras bahwa tampang menarik dan kepandaian berbicaranya adalah modal yang menjadikannya paling cocok untuk menjadi seorang pendamping pengantin.

“Mereka semua berebut. Aku tidak bisa memilih salah satu,” jelas Donghae.

Heechul menyeruput kopi yang tadi memang dia pesan sebagai pasangan tiramisu cheesecake-nya. Cuek, pria itu berkata, “Aku masih belum paham apa yang begitu istimewa dari seorang pembawa cincin hingga mereka semua memperebutkan posisi itu.”

Donghae juga sebenarnya tidak paham. Satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa hal terbaik yang bisa dia lakukan demi tidak terlalu mengecewakan teman-temannya adalah memilih orang lain yang lebih patut dihormati. Dan dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan Heechul?

Sang calon pengantin itu membuka mulutnya untuk meminta kepastian dari Heechul, tapi kemudian mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya Donghae memilih diam saja, membiarkan Heechul mempertimbangkan tawarannya, dan menunggu pria yang dipanggilnya hyung itu memberinya jawaban sambil menyendok brownies kukus rasa pandan yang tadi dia pesan.

Tapi Donghae salah sangka. Heechul diam bukan karena sedang mempertimbangkan permintaannya untuk menjadi pendamping mempelai. Pikiran pria itu sedang melayang ke masa beberapa tahun yang lalu.

Ayah Heechul adalah seorang pengusaha dengan bisnis yang berkembang semakin pesat dari tahun ke tahun. Dan bagi seorang pria dengan pencapaian hidup gemilang seperti itu, menjalin hubungan dengan banyak wanita adalah sebuah hal yang lumrah.

Heechul kecil mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa hal yang dilakukan ayahnya itu digolongkan buruk, juga kenapa orang-orang bilang bahwa itulah alasan kenapa pada suatu hari ibunya tiba-tiba pergi dari rumah. Dia pernah mendengar para pembantu mengatakan bahwa ibunya pergi karena sudah bosan menghadapi omongan orang tentang perselingkuhan ayahnya. Heechul tidak paham apa arti kata-kata itu. Bagi bocah itu, tidak masalah jika ayahnya melakukan apapun, selama pria itu tetap rajin membelikannya mainan apapun yang dia minta dan mengajaknya ke tempat-tempat bagus setiap liburan.

Ketika dia sudah beranjak dewasa dan cinta kepada lawan jenis sudah menjadi bagian dari hidupnya, dia baru sadar betapa kebiasaan selingkuh ayahnya itu ternyata memang adalah hal buruk.

Usianya 19 tahun kala itu. Dia baru saja memasuki sebuah kafe dengan niat untuk bersantai di sana ketika pandangannya tertumbuk pada sesosok pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Heechul hanya melihat pria itu dari belakang, tapi dia sudah terlalu mengenal pria itu hingga bisa mengenalinya tanpa perlu melihat wajah. Pria yang sangat dikenalnya itu sedang duduk bersama seorang wanita cantik dan seorang anak gadis yang entah kenapa dia rasa juga tidak begitu asing baginya.

“Kau oppa pemberani itu, kan?” gadis kecil itu berseru, membuat dua orang dewasa yang duduk di meja yang sama dengannya langsung menoleh ke arah Heechul.

Sang pria—yang memang sudah sejak awal Heechul yakini sebagai ayahnya—membelalak kaget, sementara sang wanita yang sepertinya masih belum tahu apa yang terjadi, bertanya kepada gadis kecil di sampingnya, “Sooyeon-ah, kau mengenal oppa itu?”

Gadis itu mengangguk mantap. Dia tidak mungkin melupakan wajah orang yang sudah menyelamatkannya. Gadis itu berdiri, lalu berlari kecil ke arah pahlawannya dan menggamit lengan pria itu sambil mengumumkan dengan bangga, “Oppa inilah yang waktu itu menolongku saat dimintai uang oleh siswa sekolah lain.”

“Ah, jeongmalyo?” seru wanita itu. “Kalau begitu kau harus bergabung dengan kami. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menolong anakku.”

Heechul tidak mengerti kenapa waktu itu dia menurut saja ketika gadis kecil yang dipanggil Sooyeon itu dengan begitu bersemangat menariknya ke meja yang sama dengan meja tempat ayahnya berada. Mungkin dia tidak tega membiarkan gadis kecil itu kecewa. Mungkin juga karena dia menikmati ekspresi salah tingkah ayahnya yang kedapatan sedang berkencan dengan seorang wanita beranak satu.

“Kau tampak cukup akrab dengan adikmu,” kata ayahnya malam itu.

“Siapa yang kau maksud?”

“Siapa lagi kalau bukan gadis yang makan siang bersamamu hari ini?”

Heechul diam, masih belum begitu mengerti ke mana ayahnya ingin membawa pembicaraan ini.

“Aku dan ibunya adalah rekan kerja,” pria yang lebih tua itu menjelaskan. “Dia wanita yang menarik. Dia memiliki semua hal yang diharapkan seorang lelaki untuk ada dalam diri seorang wanita. Cantik, pintar, dan bergaya hidup modern.”

“Yang saking modernnya sampai sudi diajak berkencan oleh seorang pria beristri,” sambung Heechul. “Kenapa kau tidak menikahinya saja kalau memang sebaik itu nilainya di matamu?”

“Karena dia tidak ingin meninggalkan suaminya.”

Heechul hanya menanggapi penjelasan itu dengan sebuah anggukan pelan yang terkesan tidak tulus. Dia jadi penasaran pria seperti apa yang begitu bodoh tidak mengetahui istrinya berselingkuh di belakangnya selama bertahun-tahun dan malah menerima anak hasil perselingkuhan itu sebagai bagian dari keluarganya. Ataukah selama ini pria itu tahu dan memilih untuk tidak peduli?

“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Hanya ingin kau berjaga-jaga saja. Orang bijak mengatakan bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Darah brengsek dari ayahmu ini mengalir juga di dirimu. Dan Nak, kau tahu kan, menjalin hubungan dengan saudara sendiri jauh lebih tidak bermoral dibanding menjalin hubungan dengan istri orang lain.”

Heechul merasa mungkin itulah yang dinamakan feeling seorang ayah. Sejak dulu ayahnya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Pria yang bahkan tidak pernah berlaku bijaksana di mata Heechul itu ternyata sudah melakukan tindakan paling bijaksana dalam hidupnya ketika memperingatkan agar putranya tidak jatuh cinta kepada Sooyeon.

Heechul jadi mulai berandai-andai. Seandainya waktu itu dia mendengarkan nasihat ayahnya dan tidak keras kepala mendekati Sooyeon hanya demi membuktikan kalau ayahnya itu salah, seandainya dia tidak terlanjur menyayangi gadis itu dan mulai menjauh sebelum perasaanya jadi lebih dalam lagi, seandainya dia tidak begitu munafik pada dirinya sendiri dan langsung menerima saja saat Sooyeon menyatakan cinta kepadanya—di atas segalanya, bukankah waktu itu Sooyeon menyatakan cinta juga dengan kesadaran penuh bahwa mereka berdua adalah saudara?

Hyung, bagaimana? Kau bersedia?”

Seandainya waktu itu dia memiliki keberanian yang sama besarnya seperti Sooyeon… apa yang akan terjadi pada mereka sekarang?

“Aku tahu kita tidak begitu akrab. Tapi aku rasa, ini adalah win-win solution bagi kita berdua.”

Seandainya dia dan Sooyeon tidak terikat hubungan darah, akankah dia tiba di hari di mana seorang pria datang kepadanya, meminta dia menjadi seorang pendamping di acara pernikahan yang akan membawa gadis yang disukainya ke dalam sebuah ikatan sakral yang tidak mungkin bisa dia wujudkan bersama gadis itu?

“Apa maksudmu dengan win-win solution?” Heechul akhirnya menanggapi ucapan Donghae setelah tadi terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ya, seperti yang sudah aku jelaskan padamu, aku tidak ingin membuat temanku saling iri satu sama lain, karena itu aku merasa harus memilih orang lain yang juga berhak untuk berperan serta di acara ini. Dan siapa lagi yang lebih berhak selain kakak dari mempelai wanita?”

Donghae memang akhirnya tahu bahwa pria yang dulu dilihatnya menemui Sooyeon di hari kelulusan bukanlah kekasihnya, melainkan kakak tiri yang kebetulan begitu akrab dengannya. Gadis itu sendiri yang memberi tahu status Heechul padanya ketika suatu hari Donghae menyinggung kejadian itu. Pengetahuan itu pulalah yang semakin memantapkan niatnya untuk segera melamar Sooyeon waktu itu. Selama ini dia ragu melakukan itu karena tidak ingin terburu-buru mengajak gadis itu menikah sementara gadis itu mungkin masih menyimpan rasa untuk pria yang ditatapnya penuh kasih di hari kelulusannya itu. Tapi setelah tahu apa yang terjadi dan yakin bahwa batasan-batasan yang dibuat Sooyeon dengan dirinya bukan karena gadis itu sedang mengencani pria lain, Donghae semakin yakin pada niatnya.

“Sebagai kakak, tentu kau ingin mengambil peranan penting di pernikahan adikmu, bukan?”

Iya, Heechul memang ingin mengambil peran penting dalam pernikahan Sooyeon, tapi bukan sebagai pendamping pengantin pria.

“Baiklah, aku terima tawaranmu. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti istrimu malah jatuh cinta kepadaku,” ujar Heechul tanpa niat bercanda sedikitpun.

Donghae hanya tertawa menanggapi hal itu.

12. THE VOW

Ruangan itu bernuansa putih. Pencahayaan yang berasal dari lampu-lampu kristal lebih dari cukup untuk membuat helaian kain-kain satin berwarna gading yang menggantung artistik di langit-langit terlihat jelas. Di dalam situ juga terdapat bunga-bunga berwarna senada yang ditata sedemikian rupa hingga orang-orang yang melihat tidak akan bisa menampik kesan elegan muncul. Soojung layak mendapat apresiasi untuk hasil kerjanya ini. Seleranya memang bagus.

Ruangan itu ramai. Mungkin ada ribuan orang di dalamnya. Semua berpakaian menarik, entah berapa nominal yang harus mereka keluarkan untuk pakaian itu. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil berisi teman-teman yang mereka kenal, berbincang mengenai hal-hal yang mereka anggap menarik. Beberapa pelayan berpakaian seragam mondar-mandir membawa nampan, mendekati setiap yang ada di ruangan itu tanpa terkecuali, menawarkan sajian yang mereka bawa. Di sudut ruangan luas itu ada seorang orang pianis berusia pertengahan 40 tahun yang nyaris tidak berhenti menekan tuts pianonya sejak acara dimulai sejam lalu. Lantunan piano itulah yang menjadi pengiring semua kegiatan yang ada, mesti tak semua yang ada di dalam sana menyimak lagu apa saja yang dimainkannya.

Sooyeon termasuk salah satu yang tidak menikmati berada di dalam ruangan itu. Dia memilih menyingkir meski tahu bahwa dialah tokoh utama dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan hari besar dalam hidupnya itu. Gadis itu masih sempat melihat Donghae, suaminya, berbincang dengan temannya sebelum melangkah menuju balkon, satu-satunya tempat sepi yang bisa dia jangkau saat itu.

Pesta pernikahannya ini diselenggarakan di lantai teratas sebuah hotel mewah dan menghabiskan dana yang membelalakkan mata. Kalau ada yang berpikir bahwa pesta semewah itu bisa terlaksana karena karier Donghae sebagai penyanyi sudah begitu maju hingga bisa membayar semua biaya yang dibutuhkan, itu salah besar. Pesta ini adalah kado dari ayahnya—ayah Heechul—yang tampaknya begitu senang melihat dia menikah dengan pria yang bukan saudaranya.

Pria yang kini berada di usianya yang sudah menjelang senja itu memang sejak dulu menaruh kecurigaan bahwa gadis itu dan Heechul menjalin hubungan asmara terlarang seperti yang dia lakukan bersama ibu Sooyeon, tapi tidak pernah berhasil membuktikan kecurigaannya. Melihat gadis itu menikah dengan pria lain membuatnya yakin bahwa kecurigaannya tidak bisa lebih keliru lagi. Seandainya saja pria itu tahu seberapa kuat feeling-nya selama ini, Sooyeon yakin dia pasti sudah terkena serangan jantung saat itu juga.

Angin malam yang bertiup cukup kencang meniup-niup rambut Sooyeon yang ditata dalam jalinan longgar dan dipermanis dengan hiasan berbentuk bunga yang dipasang di sisi kepalanya. Dengan gelas wine di tangan kanannya, dia mendekati pagar pembatas dan menyandarkan tubuhnya di sana. Pemandangan malam kota Seoul menyambutnya.

“Apa kabar, Pengantin Baru?” Sapaan itu terdengar tidak lama kemudian.

Sooyeon merasa tidak perlu menengok untuk tahu siapa pemilik suara itu.

“Masih mencintaimu,” gadis itu menjawab dan diikuti oleh tawa halus dari lawan bicaranya.

Gadis itu menoleh, mendapati Heechul berdiri di sampingnya. “Kenapa kau tertawa? Kata-kata itu mengingatkanmu pada sesuatu?”

Heechul tidak akan pernah lupa pada kata itu—kata yang dibisikkan Sooyeon kepadanya sebagai jawaban atas pernyataan cintanya beberapa waktu lalu dan akhirnya bermuara pada kesepakatan mereka menjalin sebuah hubungan terlarang seperti yang mereka lakukan sekatang. Memutuskan tidak membahas masalah itu lagi, Heechul mengganti topik pembicaraan mereka, “Sepertinya abeoji bahagia sekali melihat kau menikahi Donghae, bukannya aku. Lihat saja bagaimana dia tertawa begitu lepas menyambut tamu-tamunya.”

Sooyeon tidak tahu apa yang begitu lucu dari kalimat itu, tapi dia tidak bisa menahan tawanya. Ah, mungkin dia sudah gila. Dan jika benar itu yang terjadi, sepertinya dia tahu siapa yang paling layak dia salahkan: ibunya.

Gadis itu berpikir, seandainya dia tidak terlahir dari rahim wanita itu, seandainya dulu wanita itu tidak berselingkuh dengan ayah Heechul dan akhirnya melahirkan dirinya, mungkin hubungan darah yang konyol antara dirinya dan pria itu tidak harus ada.

Di malam ketika Heechul menyatakan cinta kepadanya, Sooyeon tahu bahwa hidupnya tidak bisa lebih sempurna lagi. Oppa yang selama ini disukainya, yang memahaminya lebih dari apapun, ternyata berbagi kegilaan yang sama dengannya. Pria itu membalas cintanya meski tahu bahwa hubungan mereka jauh dari kata wajar. Mau diapakan lagi, perasaan suka itu berkobar begitu saja di hati mereka tanpa bisa dipadamkan. Sooyeon sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dia rasakan terhadap Heechul bukanlah cinta, tapi pada akhirnya selalu saja gagal. Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan pria itu untuk melakukan hal yang sama sebelum menyerah dan mengakui kalau dia merasakan hal yang sama seperti Sooyeon. Bukan salah mereka kan, jika ternyata perasaan itu lahir dalam kondisi yang tidak tepat?

Dari ibunya, Sooyeon tidak pernah belajar banyak. Sampai akhir hayatnya pun, wanita itu masih terlalu sibuk menikmati statusnya sebagai wanita modern yang tidak pernah punya cukup banyak waktu untuk mengajari anaknya ini-itu. Tapi setidaknya, dari wanita itu Sooyeon belajar bahwa untuk menjalin sebuah hubungan terlarang, kau hanya perlu mencari seorang suami baik hati yang tidak akan pernah curiga kalau kau dekat dengan pria lain, juga yang akan tetap memaafkanmu meski kau telah jelas-jelas ketahuan bersalah.

Ibunya telah membuktikan itu. Dia menikahi lelaki yang begitu baik hingga rela memberikan marganya kepada anak hasil perselingkuhan istrinya. Sooyeon merasa hanya harus mencari pria seperti itu untuk menjaga kelangsungan hubungannya dengan Heechul. Dan siapa lagi yang lebih memenuhi kriteria selain Lee Donghae?

Di saat Sooyeon butuh sosok kekasih untuk memanas-manasi Heechul, pria itu muncul. Waktunya terlalu tepat. Dan seiring kebersamaan mereka, dia tahu bahwa keberadaan Donghae di sampingnya punya fungsi yang jauh lebih besar dibanding hanya sekedar membuat Heechul cemburu. Sooyeon jadi bertanya-tanya, apakah posisi Im Yoona bagi Heechul juga sama seperti posisi Donghae bagi dirinya?

“Mana Yoona? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” gadis itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip cahaya di depannya.

“Kau merindukannya?”

Sooyeon menggeleng pelan. “Hanya ingin membuktikan dugaanku saja.”

“Dugaan?”

“Bahwa kalian sudah putus.”

Heechul tertawa. “Tidak adil sekali,” ujarnya. “Kau sudah memiliki Lee Donghae sebagai tameng untuk melindungimu dari kecurigaan abeoji, jadi bukankah sudah seharusnya aku juga menyimpan Yoona untukku?”

“Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah marah besar karena kau tinggalkan begitu saja di malam di mana kalian seharusnya merayakan peringatan 500 hari kebersamaan kalian. Tapi wanita itu, hanya dengan alasan bahwa kau tiba-tiba mendapat ide untuk menyelesaikan pekerjaanmu, langsung percaya dan memaafkan kelakuan burukmu begitu saja,” komentar Sooyeon, mengenang kembali saat ketika Heechul meninggalkan Yoona untuk menyatakan cinta kepada dirinya. “Sepertinya dia benar-benar menyukaimu.”

“Lebih besar dari yang kau rasakan padaku?”

Who knows?”

Hening menyelimuti mereka setelah itu. Masing-masing larut dalam pikirannnya sendiri.

Heechul menemukan kesadarannya lebih dulu. “Mau sampai berapa lama lagi kau berdiri di sini?” tanyanya.

Sooyeon menatap Heechul dan tersenyum sambil menyesap cairan berwarna merah darah yang ada di gelas di tangannya. “Entahlah,” jawabnya setelah cairan itu dia teguk, “sampai kau menyuruhku masuk, mungkin?”

“Kau begitu menyukaiku hingga lebih memilih berlama-lama denganku di sini daripada bersama suamimu, huh?”

Sooyeon hanya mengangkat bahu dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah lampu-lampu mobil yang dari jauh terlihat seperti lampu hias.

“Masuklah, jangan sampai suamimu panik mencarimu.”

“Baiklah,” jawabnya, “tapi setelah kau berjanji menyusulku ke Jepang.”

“Untuk menyaksikanmu berbulan madu? No way!”

Sooyeon berbalik agar bisa berhadapan dengan Heechul. Sambil menunduk mempermainkan ujung dasi pria itu dengan tangan kanannya, dia memberitahu, “Donghae ke Jepang bukan hanya untuk berbulan madu denganku. Sebagaian besar waktunya akan dihabiskan untuk promo album bersama teman-temannya. Kau tidak akan tega melihat dongsaeng kesayanganmu ini menghabiskan masa bulan madu sendirian di hotel menunggu suaminya pulang konser, kan?”

Tawa renyah pria itu memenuhi indra pendengaran Sooyeon sesaat setelah dia menyelesaikan penjelasan mengenai situasi bulan madunya. “As bitchy as your Mom, eh?” komentar Heechul.

“Bukankah wanita jalang memang tipemu?”

Heechul mengangguk, membenarkan pernyataan Sooyeon barusan sekaligus menyatakan persetujuan atas tawaran gadis itu kepadanya. Di atas segalanya, dia dan gadis itu memang lahir dari hubungan yang tidak sehat, jadi apa salahnya meneruskan tradisi yang orang tua mereka ciptakan dengan cara mereka sendiri? Rasanya itu bukan ide yang begitu buruk.

Sebelum kembali masuk ke ruang resepsi dan meninggalkan Heechul di balkon sendirian, sebuah sumpah diucapkan Sooyeon pada dirinya sendiri. Tidak peduli tantangan apa yang memisahkan dirinya dan pria itu, dia akan selalu mencari jalan untuk kembali ke pelukan Heechul.

FIN

Advertisements

11 thoughts on “The Vow

  1. hm, sepertinya ada yang (lagi-lagi) gagal move on dari dunia fangirling nih! haha.. kak, welcome back to fanfiction world! akhirnya nulis ff lagi!! *tebar confetti*

    well, what should I say? yang jelas ff ini sukses bikin gue pengen nimpuk orang. dont know, kak, lo selalu punya kecenderungan buat bikin orang gemes sama karakter di cerita lo. kayaknya kelamaan gak nulis ff bikin kegilaan lo makin jadi. awalnya gue kira ini cuma cerita cinta segitiga yang has korea banget. cinta tidak terbalas, jealousy, dan akhirnya ada satu yang harus berkorban biar tokoh utamanya bahagia. sampe pertengahan, gue masih yakin sama sangkaan awal gue. apalagi pas adegan di gereja itu, sudut pandang heechul bener2 menipu. pas nemu nama lee donghae di dialog aku-bersedia itu, awalnya gue pikir cuma typo aja. eh ternyataaaaa…. jessica ama heechul ini sama-sama sakit! kasian deh ama donghae.

    ini kepanjangan sih buat dijadiin oneshot. ada kali ya 10rb-an kata? tapi bagusan gini sih.. daripada lo akhirnya ngepost satu part dan langsung ngilang dr dunia fangirling lagi. hahaha.. *kabur ke narnia*

  2. Jahat banget jessica sama heechul 😦

    Pantesaaann jessica mau nikah sama donghae ..

    Monolog nya heechul tipu bangett Sumpahh aku kira dia jd groom nya tnyata ohh trnyata. .

    Thor ff haesica nya knpa ga pernah happy end huhuhu
    Tpl tetep daebaakk cerita mu selalu menipu XD

    Gokillllzzzz

    1. hai.. terima kasih udah mampir dan ninggalin komentar. iya, haesica emang ga pernah berakhir bahagia di ff2 buatanku, sama kayak kisah mereka di kehidupan nyata 😦 *kemudian baper*

  3. wow. ide dan cara berceritanya kok bikin aku berasa pengen nyumpah-nyumpah ya, kak? not in a bad way, lho. tapi ini tuh smooth banget penyampaiannya. sama kayak yang koemntar di atas, awalnya aku juga berpikir kalau ini cuma cerita cinta segitiga biasa di mana second lead male-nya harus mengalah dan melepaskan ceweknya untuk bisa bersama dengan pria yang dia suka sejak awal. di bagian pembuka, yang adegan di ruang rias itu, aku udah berpikir kalau yang menikah adlaah heechul sama jessica. terus pas adegan di gereja juga, kejadiannya kan diceritain seolah heechul menyaksikan semua itu karena emang dia pengantinnya. apalagi aku liat di sini donghae bukan cast utama. pengalaman sih, di banyak ff dia kalau gak jadi cast utama pasti kebagian peran tersakiti. makanya aku udah yakin banget sama dugaan cinta segitiga yang oh-so-cheesy itu. TAAAAAAPIIIII semua dugaanku terbantahkan di bagian-bagian akhir. kayaknya emang udah khas author, ya, menggiring pembaca buat mengira alur akan bergerak dengan pola A, tapi tiba-tiba di akhir bikin cerita berbelok tajam. oh iya, kak, kalau aku bisa kasih saran, sejujurnya aku berpikir kalau cerita ini alih-alih kepanjangan, malah sebetulnya masih bisa diperpanjang di beberapa bagian. jadinya nanti bakalan jadi cerita bersambung gitu. mungkin lebih seru. apalagi kan di cerita ini aja udah dibagi-bagi tuh kayak sub-sub cerita dan ada judulnya pula. sekedar saran aja sih. bukan maksud menggurui, karena apalah aku ini, cuma pembaca yang kalau disuruh bikin cerita sendiri pasti stuck di tengah-tngah.

    1. aku seneng deh kalau baca komentar panjang-panjang kayak gini. dan terima kasih banyak buat sarannya. ide seperti itu bukannya tidak pernah terlintas, cuma karena di beberapa sub judul aku kesulitan mengembangkan ide, jadi akhirnya aku tulis seperti ini. ada sih, rencana buat nulis ulang ff ini, tapi kalau nanti bener terwujud, mungkin bentuknya udah bukan fanfiction lagi.

      1. hihi.. aku juga hobi nulis komen panjang-panjang. mungkinkah kita jodoh? *kemudian dikeplak karena geje gak ketulungan*
        mau dinovelin kah? aku dukung, kak! idenya aku suka banget, soalnya. dan kalo mempertibangkan delivery yang udah kakak lakuin di ff buatan kakak, kayanya cerita ini bakalan bagus banget jadinya. fighting!!!

  4. aku baca ini di blog sebelah, terus karena penasaran sama endingnya jadi aku cari blog authornya. gak nyangka ternyata di sini malah udah dipublish lama dan langsung sampe ending lagi, gak kayak yang di sebelah yang dichapter-chapterin. dan endingnyaaaaa.. sumpah aku gak nyangka banget bakalan kaya begini kejadiannya. aku pikir sica nya nikah ama heechul. terus pas ending part 3 yang di blog sebelah itu, heran kok malah sama donghae nikahnya. eh ternyata pas baca sampe benar2 selesai, terjelaskanlah semua. daebak!

  5. Gila ya, ff ini bikin aku merasa beneran ketipu. Udah awalnya ngira jessica bakalan sama heechul. Udah keburu kasian aja liat donghae lagi2 kebagian peran jadi cowo yg mesti mengalah. Trus pas liat adegan pernikahannya, aku udah seneng karena donghae gak jadi patah hati. Tapi ternyata yg dia alami justru lebih parah dari patah hati. Ih, tega amat jessica manfaatin donghae kayak gitu. Hiks 😦

  6. Aaaah… Kenapa begini endingnya??? Udah bolak balik mutusin jessica bakalan sama siapa. Awalnya aku kira sama heechul, trus pacarannya sama lee donghae, eh tiba tiba ada heechul yg cemburu trus menyatakan cinta dan mereka udah tatap tatatapan di depan pendeta, tapi kok nikahnya ternyata sama donghae. Lalu dijelasin sebenarnya apa yang terjadi dan booooommm!! Aku sedih karena merasa dibodohi sama cerita ini 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s