donghae-firstnight

Title: Our First Night

Author: nchuhae

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyesa (OC)

Length: Oneshot, 4.335 words

Rating/Genre: PG17/Romance, Arranged Marriage, Drama

***

Dengan susah payah aku membuka pakaian yang sudah menempel di badanku sejak pagi tadi: sebuah gaun pengantin berwarna putih yang didesain tanpa lengan dengan sedikit pita kecil di beberapa bagian.

Aku menyalakan shower dan membiarkan air mengalir membasahi setiap inchi tubuhku. Tanpa sadar aku terduduk. Tubuhku terasa begitu lelah setelah menjalani serangkaian proses pemberkatan dan resepsi. Sedikit tidak percaya, pada akhirnya aku bisa sampai di moment ini. Moment yang kuyakin ditunggu oleh banyak wanita lajang di luar sana.

Pria yang kunikahi tadi pagi adalah seorang pengusaha muda yang kuakui sangat tampan. Statusnya sebagai pemilik perusahaan besar merupakan nilai tambah tersendiri. Senyumannya adalah salah satu hal yang patut dia banggakan, karena itu membuatnya terlihat sangat mempesona. Tak bisa kubayangkan kalau mulai hari ini aku bisa dengan bangga memperkenalkan pria itu sebagai suamiku.

Beruntung? Entahlah.

Pria itu terkenal dengan image santun dan berwibawa, bukan tipe yang kuharapkan untuk menjadi pendamping hidupku. Aku lebih menyukai pria yang sedikit nakal tapi tentu saja masih dalam koridor yang wajar.

Kami menikah karena dijodohkan. Inilah hal yang membuatku sedikit menyesal telah terlahir dalam keluarga pengusaha. Perjodohan adalah sesuatu yang sulit dihindari. Para pengusaha akan mengupayakan segala hal agar perusahaan mereka berkembang semakin besar, dan salah satu caranya adalah menikahkan anak mereka sehingga dua perusahaan bisa bersatu. Ayahku adalah satu diantara sekian banyak yang mempraktikkan hal itu. Terkadang aku merasa orang tuaku telah menjualku, meski aku sendiri tak yakin mereka setega itu padaku.

Aku sedang asyik membasuh tubuhku dengan sabun saat kudengar pintu kamar mandi diketuk dengan pelan.

“Hyesa-sshi, kau ada di dalam?” kata seseorang dari balik pintu.

Bisa kutebak pemilik suara itu. Lee Donghae. Suamiku. Di rumah ini hanya ada dua orang pria, ayahku dan dia. Ayahku tidak mungkin memanggilku dengan sapaan resmi seperti itu. Yah, seperti itulah dia memanggilku sejauh ini. Wajarkah seorang suami memanggil istrinya dengan sapaan seresmi itu? Sungguh pria kaku.

Aku berdiri untuk mematikan keran air agar suaraku bisa terdengar lebih jelas olehnya. “Ne,” jawabku singkat.

Tak ada jawaban lagi darinya. Yang ada hanya suara langkah kaki yang terdengar semakin samar. Sepertinya dia memutuskan untuk membiarkanku lebih lama lagi di dalam sini.

Pesta pernikahan kami sendiri memang belum sepenuhnya berakhir. Saat aku masuk tadi, masih ada cukup banyak tamu undangan yang memenuhi halaman tempat resepsi pernikahan kami digelar. Aku hanya terlalu lelah berbasa-basi—apalagi sebagian besar tamu yang hadir adalah rekan kerja ayah yang sama sekali tidak kukenal, sehingga aku memutuskan untuk masuk rumah lebih dulu.

Kunyalakan kembali keran air dan membilas busa sabun yang menempel. Tanpa sadar air mataku mengalir bersama aliran air dari keran itu. Aku masih ingat bagaimana dulu aku membayangkan sebuah pernikahan. Sesuatu yang melelahkan, tapi menyenangkan dan menggairahkan di lain sisi. Sekarang, aku merasa bahwa yang bisa kudapatkan bersama pria kaku itu hanya rasa lelah dan tertekan.

Bahkan, untuk membayangkan malam pertama kami nanti, aku tidak berani. Bagaimana hal itu akan terjadi antara dua orang yang sama sekali tidak saling mencintai? Terhitung dengan hari ini, kami baru bertemu tiga kali. Aku merasa dia begitu asing. Bagaimana mungkin aku menyerahkan sesuatu yang begitu berharga dari diriku kepada seseorang seperti dia, meskipun pada kenyataannya dia adalah suamiku.

Kupandangi cermin besar yang ada di dinding dan tampaklah tubuhku yang polos, tak terbalut satu helai benangpun. Pikiran-pikiran aneh hinggap di otakku, membuat aku merasa risih sekaligus jijik. Berbagai macam kemungkinan bermunculan dalam imajinasiku dan aku belum siap jika itu harus benar-benar terjadi. Selain sikapnya yang kaku, yang kuyakini terjadi karena kami belum betul-betul saling mengenal, pria itu sama sekali tidak buruk. Aku hanya merasa jarak antara kami masih begitu jauh.

Lalu bagaimana kalau dia memaksa? Dia berhak untuk itu. Tapi aku tidak akan mungkin mengatakan bahwa aku belum siap. Itu bukan sesuatu yang pantas diucapkan seorang istri pada suaminya.

Seandainya aku punya pengalaman tentang hal ini, mungkin saja perasaanku tidak akan segugup sekarang. Setidaknya aku tahu bagaimana memuaskan pria yang telah menjadikanku istrinya. Kenyataannya aku cuma seorang wanita yang selama hidup terlalu terfokus pada pelajaran dan pekerjaan. Jangankan pacar, dekat dengan seorang pria pun aku tak pernah. Akibatnya seperti sekarang, aku nyaris buta tentang hal itu.

Sewaktu kutanya, rekan kerjaku sempat bilang kalau semua akan berjalan secara alami. Tapi itu tidak cukup menenangkanku. Dua hari belakangan, aku stress karena hal ini. Dan malam inilah puncaknya. Ottohkae?

“Hyesa-sshi, kau masih di dalam?” suara itu terdengar lagi. Seketika bulu romaku meremang.

“Ne.” Lagi-lagi hanya jawaban itu yang bisa kuberikan.

“Kau sudah terlalu lama di dalam. Kau bisa sakit kalau terlalu lama terkena air. Keluarlah,” ujarnya lembut.

Dia benar. Sepertinya aku memang sudah terlalu lama membiarkan air ini merasuk di pori-poriku. Sejak tadi aku memang merasa sedikit menggigil. Apa itu sebuah bentuk perhatian darinya? Ataukah dia hanya tidak sabar ingin menikmati tubuhku?

Untuk kedua kalinya keran air kumatikan. Kuraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu lalu kupakai dengan rapi. Ketika pintu terbuka, kudapati dirinya sedang berdiri masih dengan setelan jas pengantin lengkap, meski sepatunya sudah diganti dengan sendal rumah. Di tangannya ada sebuah handuk tebal.

Tanpa menunggu persetujuanku, dia menggosokkan handuk itu di kepalaku, bermaksud mengeringkan rambutku yang memang masih sangat basah. Dia melakukan itu dalam diam, sementara akupun tidak mampu bersuara. Yang kulakukan hanya berdiri patuh sambil menikmati aroma tubuhnya yang tercium sangat jelas mengingat jarak kami yang begitu dekat.

“Aku tidak tahu kau begitu suka berlama-lama di kamar mandi. Tapi mulai sekarang, jangan harap kau bisa melakukannya lagi, apalagi di malam hari seperti ini,” ujarnya tegas.

Apa maksudnya itu? Belum apa-apa dia sudah berniat mengatur pola hidupku? Mengubah kebiasaanku? Apa dia tidak tahu kalau aku seperti ini karena strees dan penyebab stressku adalah dirinya?

“Kebiasaanmu itu tidak baik untuk kesehatan. Menjaga kebersihan diri itu penting, Hyesa-sshi, tapi kalau terlalu berlebihan kau bisa sakit,” katanya lagi. Ucapannya kali ini sukses membuatku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku. Tidak, ini tidak mungkin cinta. Tidak mungkin aku jatuh cinta hanya karena kalimatnya barusan. Sadarlah, Hyesa! Dia hanya sedang berkompromi dengan perasaanmu agar bisa menidurimu secepatnya.

“Sekarang kau gantilah bajumu. Aku juga mau mandi,” katanya lagi.

“Apakah semua tamu sudah pulang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja,” dia menjawab dengan senyum di wajahnya, seolah pertanyaanku barusan adalah sesuatu yang konyol. Pria itu lalu melangkah menuju kamar mandi. “Cobalah kau cek jam berapa sekarang,” ujarnya sebelum masuk dan mengunci kamar mandi.

Iseng, aku mengikuti perkataan Donghae dan melihat jam kecil yang berada di atas meja di dekat tempat tidurku. Pukul setengah dua belas malam. Rasanya sedikit tidak percaya kalau aku sudah berada di kamar mandi selama hampir dua jam. Dan waktu selama itu hanya kupakai untuk memikirkan satu hal.

Suara air mengalir mulai terdengar. Kupakai kesempatan ini untuk mengenakan pakaian. Dia tidak mungkin mandi sambil mengintipku, kan?

Aku membuka pintu lemari dan begitu terkejut ketika mendapatinya nyaris kosong. Semua pakaianku menghilang entah ke mana. Yang tersisa hanya sepasang baju tidur pria dan sebuah lingerie berwarna pastel yang bahkan akupun ragu pernah memilikinya. Sejak kapan benda ini ada di lemariku?

Kakiku kemudian kulangkahkan menuju kamar orang tuaku di lantai dua. Kuketuk pintunya dengan sedikit kasar. Aku butuh penjelasan tentang isi lemariku. Sayangnya, tak ada reaksi dari dalam. Tak lama aku baru ingat kalau adik dan kedua orang tuaku sedang menginap di rumah keluarga Donghae.

Mungkin memang agak aneh. Alih-alih menyuruh aku dan Donghae ke hotel dan menyiapkan paket liburan untuk bulan madu kami, orang tuaku malah memilih meninggalkan rumah dan membiarkan kami berdua di sini. Ibuku sudah menjelaskan ini padaku sejak jauh-jauh hari. Tradisi keluarga, katanya.

Jadi kepada siapa aku harus bertanya tentang bajuku sekarang?

Aku berjalan mondar-mandir di depan kamar orang tuaku selama beberapa saat hingga sebuah ide melintas di kepalaku. Adikku tidak mungkin membawa bajunya juga, kan? Aku bisa meminjamnya malam ini.

Aku melangkahkan kaki menuju kamar adikku di lantai dua. Saat kuputar kenopnya dan tak ada tanda pintu akan terbuka, aku mendengus frustasi untuk yang kesekian kalinya malam ini. Aku kembali ke kamar orang tuaku, mencoba membuka pintu kayu itu, dan mendapatkan hasil yang sama. Pintunya dikunci.

Oke, sekarang aku sudah benar-benar yakin orang tuaku baru saja menjualku pada pria yang saat ini sedang mandi di kamarku. Ditambah adikku. Dia juga bersekongkol menjualku pada pria itu.

Dengan langkah gontai aku kembali ke kamarku dan mencari telepon genggam yang sejak beberapa hari lalu kugeletakkan di laci nakas samping tempat tidur. Kuambil benda tipis itu. sejumlah pesan masuk yang belum sempat kubaca hanya kuabaikan. Satu-satunya yang kuinginkan saat ini adalah menelepon orang tuaku. Dengan cepat kutekan sederet nomor yang sudah kuhapal di luar kepala. Setelah deringan keempat, barulah telepon diangkat.

“Kalian ke manakan pakaianku?” sebuah teriakan tertahan bernada frustasi keluar dari mulutku. Saat ini aku merasa mereka benar-benar menjualku.

Mendengarku berbicara seperti itu, Ibuku yang berada di ujung saluran telepon malah tertawa nakal. “Pakaianmu kami sita untuk sementara. Sebagai gantinya, pakailah pakaian yang sudah kami sediakan,” katanya.

“APA?” aku tidak bisa lagi menahan intonasi suaraku kali ini. Itu bukan teriakan marah. Aku sudah tidak tahu lagi apa gunanya marah di saat seperti ini. “Eomma, tega sekali kau melakukan ini pada anakmu,” keluhku lirih.

“Hyesa, ini aku, ibu mertuamu,” tiba-tiba saja telepon sudah berpindah ke tangan lain. Mereka benar-benar besan yang kompak.

“Ah, ne eommoni.”

“Lakukanlah yang terbaik malam ini dan berikan kami cucu secepatnya, oke?” ujarnya tak kalah jahil dengan ucapan ibuku tadi. Belum sempat aku menjawab, suara lain kembali terdengar. Kali ini suara wanita yang lebih muda.

“Unnie, kau pasti gugup kan? Tenang saja, sebelum berangkat ke sini aku sudah membuatkan teh melati untukmu. Kau biasa meminum itu agar lebih rileks, bukan? Aku menaruhnya di meja makan. Hwaiting!”

“Aish, anak ini! Kau mau kubunuh, hah?” teriakku padanya.

KLIK! Dengan semena-mena dia menutup telepon, meninggalkan aku yang berdiri mematung. Dosa apa aku mempunyai orang tua dan adik seperti mereka? Dengan kelakuan mereka yang seperti itu, aku rasa aku tidak butuh teh melati. Aku butuh obat penenang.

Putus asa, aku meletakkan telepon itu kembali di laci kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil memanndangi ruangan tempat aku berada sekarang. Ruangan ini sangat wangi karena diisi oleh bunga hampir di setiap sudut. Bau harum yang menyeruak dari bunga-bunga itu menambah kesan romantis yang ditimbulkan ornamen-ormanen khas pernikahan yang sengaja dipasang Ibu kemarin malam. Ditambah dengan ranjang putih yang juga ditaburi mawar, lengkaplah sudah pemandangan yang sukses membuatku bergidik ngeri.

Bosan menatap kamar ini, kuambil baju laknat yang ada di dalam lemariku lalu kupakai dengan terpaksa. Setidaknya ini masih lebih baik daripada memakai jubah mandi yang basah. Ketika selesai, bersamaan dengan itu juga pintu kamar mandi terbuka. Pria itu keluar dengan bertelanjang dada, hanya sebuah handuk kecil yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Aku sedikit tak percaya mengetahui bahwa tubuhnya ternyata sebagus itu. Padat dan berisi, cukup pantas untuk menjadikannya model majalah pria.

Dia menatapku dengan intens. Awalnya dia melirik tubuhku yang semi telanjang ini. Kudapati raut mukanya sedikit berbeda ketika itu terjadi. Tapi tak lama tatapannya beralih ke mataku. Aku ingin balas menatapnya. Sangat ingin. Setidaknya untuk menunjukkan bahwa aku bukanlah orang yang bisa diintimidasi semudah yang dia bayangkan. Kenyataannya tatapan itu benar-benar mengintimidasiku. Aku hanya bisa menunduk dan merasakan jantungku berdegup sangat cepat hingga nyaris copot, sementara kakiku lemas membayangkan apa yang akan kualami beberapa saat lagi.

Kudengar dia berjalan mendekat. Sekarangkah saatnya? Aku tidak siap. Tidak bisakah kami hanya tidur saja malam ini tanpa melakukan hal itu?

“Menyingkirlah sedikit, aku mau mengambil pakaian tidurku. Orang tuamu menyimpannya di sini, kan?” ujarnya yang entah kenapa membuatku bernapas sedikit lebih lega. Dia memakai pakaian tidurnya bukankah berarti dia belum ingin menyentuhku malam ini? Tidak mungkin kan kami melakukan hal itu kalau dia masih memakai pakaian lengkap? Jadi malam ini aku selamat, begitu?

“Kau ingin melihatku berganti baju?” tanyanya kemudian.

“Huh?”

“Keluarlah, aku yakin kau tak ingin berada di sini saat aku melepaskan handukku.”

***

Entah ini keberuntungan atau tidak, aku tak tahu. Sikapnya tadi seolah dia tak menginginkanku. Itu sedikit menyakitkan. Tapi di sisi lain aku juga senang. Bukankah ini yang memang aku harapkan?

Kutinggalkan dia di kamar, membiarkannya mengganti baju sementara aku berjalan menuju meja makan untuk meminum teh yang dibuatkan adikku tadi. Benar saja, di atas meja sudah tersedia dua cangkir kosong dan sebuah teko yang kuyakini isinya adalah teh melati kesukaanku. Sudah agak dingin mengingat minuman ini memang dibuat beberapa jam yang lalu. Tapi tak apa. Biarpun dingin, rasa tehnya tetap tidak berubah. Mungkin aku harus menarik perkataanku beberapa saat lalu. Aku tidak butuh obat penenang. Aku hanya butuh minuman ini.

Kutuang teh dan mulai menyesapnya sedikit. Pria itu muncul tak lama kemudian. Tanpa berkata apa-apa, dia melakukan hal yang sama denganku, duduk sambil menikmati teh yang sudah dingin.

“Kenapa kau belum tidur?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku tak bisa tidur.”

“Kenapa?”

Dia mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu,” jawabnya.

Hening untuk beberapa saat. Suara jarum jam menjadi satu-satunya sumber suara di ruangan ini. Aku ingin berbicara lagi dengannya. Sungguh, keheningan ini membuatku sangat tidak nyaman. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Sebelumnya kami memang tidak pernah berbicara banyak. Pertemuan pertama ketika kami diperkenalkan, dia hanya berbicara ketika ditanya kesediaannya menikah denganku. Pertemuan kedua ketika kami fitting gaun pengantin, dia hanya mengucapkan beberapa kalimat pujian ketika ditanya pendapatnya tentang gaunku. Lalu pertemuan ketiga hari ini, yah seperti ini. Kaku.

“Kenapa kau mau menikah denganku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku sedikit tersedak mendengar pertanyaan itu. Kami memang dijodohkan, dan waktu itu ibuku dengan sangat jelas mengatakan bahwa aku akan sangat menyesal jika menolak pria ini. Ayahku yang biasanya hanya menyerahkan urusan perjodohan pada ibuku, waktu itu juga dengan antusias menasihatiku dengan mengatakan bahwa dia sangat berharap aku menerima perjodohan ini.Bahkan adikku, seorang remaja hopeless-romatic yang tidak pernah setuju dengan perjodohan, ikut-ikutan memuji pria itu di depanku. Tapi biarpun begitu, waktu itu mereka juga tetap memberikanku kebebasan untuk menolak kalau aku memang merasa tidak yakin.

Aku berpikir cukup lama untuk bisa mengeluarkan jawaban yang aku sendiri tidak yakini, “Usiaku sudah cukup matang untuk menikah, karierku baik, orang tuaku terus mendesakku untuk menikah, dan aku tidak memiliki kekasih.”

“Kau yakin hanya karena alasan itu?” tanyanya memastikan.

“Kau ingin aku menjawab apa? Aku juga tak tahu. Aku hanya merasa kau bisa membahagiakanku,” jawabku sembari meneguk kembali teh di cangkirku.

“Kita bahkan tidak saling mengenal dengan baik dan kau sudah bisa berpikir seperti itu?”

Hei, apakah aku sedang diinterogasi? Kenapa dia tidak berhenti bertanya?

“Sejujurnya sebelum bertemu denganmu, ibuku sempat memaksaku ikut kencan buta beberapa kali. Dia mungkin sudah sangat frustasi melihatku tidak pernah mengenalkan seorang pria padanya sementara anak teman-temannya yang lain sudah banyak yang menikah,” ujarku, mencoba bercanda. “Pria-pria itu tidak kalah darimu. Hanya saja ada sesuatu yang membuatku tidak yakin untuk menyerahkan masa depanku pada mereka. Lalu kau, entahlah. Aku hanya merasa kau berbeda.”

“Jadi kau menyukaiku?” tanyanya lagi.

Mungkin karena pertanyaannya yang sedikit menyudutkanku, atau karena tatapan nakalnya saat mengucapkan hal itu, tiba-tiba saja aku merasa wajahku memanas. Kuminum tehku sampai tandas dengan harapan minuman itu bisa membuatku sedikit lebih normal. Berusaha memasang ekspresi tenang, aku menjawab, “Tidak juga. Aku hanya merasa kau pria baik.”

Dia membalas ucapanku dengan anggukan paham. Senyum itu kembali terlukis di wajahnya.

Keingintahuan yang sama kemudian muncul di benakku. Sudah lama aku penasaran akan hal ini, tapi tidak pernah merasa punya kesempatan untuk bertanya. “Kalau kau, kenapa kau menerima perjodohan ini?” tanyaku.

Dia tersenyum tipis dan menenggak habis minumannya sebelum menjawab, “Karena aku memang menginginkanmu sejak dulu.”

Jawaban itu tentu saja mengagetkanku. Dia bilang sejak dulu? Bukankah kami bertemu pertama kali di acara perjodohan itu? Aish, kenapa ini? Tubuhku jadi panas-dingin karena ucapannya. Tanpa sadar aku mengibas-ngibaskan tanganku untuk mendapatkan sedikit udara segar. Darahku seolah mengalir deras dan aku yakin ini tidak wajar. Apakah sedahsyat itu dampak ucapannya barusan terhadap tubuhku? Itu kan belum tentu sebuah kejujuran. Bisa saja dia hanya bermaksud menggodaku.

Kuperhatikan dia melakukan hal yang sama denganku. Ada apa ini? Kenapa udara di sekitar kami mendadak terasa begitu panas?

“Hyesa-ah, minuman apa yang kita minum ini?” tanyanya. Kali ini tak ada lagi panggilan resmi.

“Hanya teh melati.”

“Kau yakin tidak ada tambahan lain pada minuman ini?” kali ini dia sudah berdiri dan berjalan mondar-mandir di sekitar meja makan.

Di saat yang sama, aku merasakan bagian-bagian tertentu dari tubuhku menegang. Sedikit kepayahan aku menjawab, “Mollayo. Adikku yang membuat ini sebelum pergi. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku rasa dia mengerjai kita,” ujarnya, terdengar kepayahan sama seperti diriku.

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu obat perangsang? Sepertinya dia menambahkan itu di tehmu,” jelasnya singkat.

Tidak perlu mencoba terlebih dulu untuk tahu akibat yang bisa ditimbulkan obat perangsang. Aku sudah sering membacanya. Dan tanda-tanda itu sudah kualami sekarang. Tubuhku terasa begitu panas dan di bagian-bagian tertentu aku merasa menginginkan sentuhan.

Dalam hati aku merutuki kebodohanku. Seharusnya aku sudah curiga sejak tadi. Adikku yang jahil itu tidak mungkin dengan sukarela menyediakan minuman untukku jika bukan untuk tujuan tertentu.

“Menjauhlah kalau kau merasa belum siap. Dengan pakaian seperti yang kau kenakan sekarang ditambah efek dari minuman barusan, aku tidak bisa menjamin tidak akan berbuat apa-apa padamu kalau kau tetap ada di hadapanku,” ujar Donghae.

Jadi dia menyadari ketidaksiapanku? Dan dia memahaminya? Hyesa, kau sudah salah sangka pada orang ini.

“Tapi kau mau tidur di mana? Selain kamarku, semuanya terkunci.”

“Kau tidak usah khawatir. Aku bisa tidur di mana saja,” dia menjawab dan masih sempat memaksakan senyum  untuk menenangkanku. “Pergilah,” perintahnya dengan raut muka yang tidak bisa kudeskripsikan. Aku tahu seberapa sulit dia untuk tetap mengendalikan diri, karena akupun merasakan hal yang sama.

Sadar akan apa yang bisa saja terjadi padaku, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar, menjauhi suamiku yang masih saja sibuk mondar-mandir di sekitar meja makan.

Tapi entah ada apa dengan diriku, aku jugaa tak tahu. Setelah sampai di depan pintu kamarku, aku malah memutuskan berbalik dan berjalan mendekatinya. Bahasa sederhananya, aku memutuskan menyerahkan diriku dengan suka rela padanya malam ini juga.

Ketika Donghae menyadari aku sudah berdiri lagi di hadapannya, sesaat dia menatapku heran, namun sedetik kemudian bibirnya sudah mengunci bibirku dengan sempurna. Ada sedikit rasa ingin berontak ketika bibirku dilumat olehnya, tapi tubuhku menikmatinya. Sebagian diriku masih belum ingin melakukan hal seperti ini dengannya malam ini, tapi tubuhku menerima perlakuannya. Maka ketika dia bermaksud memperdalam ciumannya, kubuka mulutku untuk mempersilahkannya melakukan apa yang dia inginkan. Persetan dengan akal sehat atau apapun itu namanya. Tidak ada yang salah kan kalau sepasang suami-istri melakukan hubungan suami-istri?

Ciuman itu berlangsung panas, seolah kami adalah sepasang manusia yang sudah saling memendam hasrat sejak lama. Desahan-desahan muncul ketika kami saling menelusuri rongga mulut masing-masing. Seakan tak mau tinggal diam, tangannya bergerak menuju tubuhku yang memang sudah mengharapkan sentuhannya sejak tadi. Sementara tanganku menyusup ke dalam bajunya, meraba otot-otot perutnya yang keras sambil sesekali bermain lebih ke bawah.

Dengan bibir yang masih bertaut, dia menuntunku menuju kamar pengantin kami dan mengempaskan tubuhku di atas ranjang. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menarik napas sedangkan dia membuka bajunya dengan kasar. Dalam satu hitungan dia melemparkan baju tidurnya ke sudut kamar, menyisakan sehelai pakaian yang menutupi bagian tubuh bawahnya. Setelah urusan dengan pakaiannya selesai, dia kembali melahap bibirku.

Lama berkutat dengan bibir, leher, dan bahuku, dia mengangkat kepalanya untuk sesaat. Dia menatap dadaku dan aku tahu apa maksudnya.

“Kau mengizinkanku?” tanyanya lembut.

“Aku istrimu, lakukan apa saja yang kau inginkan,” jawabku sambil berusaha memasang senyum.

Detik selanjutnya kudengar suara kain disobek. Dan setelah itu, apa yang beberapa hari terakhir menjadi sumber kekhawatiran terbesarku akhirnya terjadi juga.

***

Kami berakhir dalan posisi berpelukan dengan selimut menutupi sebagian tubuh kami. Di bawah selimut itu, kakinya menindih kakiku sementara tangannya hinggap di pinggulku. Aku sendiri meletakkan kepalaku di lengannya. Posisi ini memudahkanku untuk mendengar suara debaran jantungnya yang entah sejak kapan menjadi sangat indah di telingaku.

“Terima kasih,” kata Donghae sembari mencium keningku.

Aku malu. Sungguh, rasanya tidak pernah aku diselimuti perasaan yang sama sebelumnya. Ini sejenis rasa malu yang berbeda. Rasa malu yang menyenangkan. Satu-satunya yang bisa aku ucapkan untuk membalas ucapannya barusan adalah gumaman tidak jelas yang akupun tidak mengerti apa maksudnya.

“Kau tidak menyesalinya, kan?”

“Menurutmu?”

Mata pria itu berkilat nakal. “Menurutku kau menikmatinya,” ujarnya.

Jawaban itu membuat aku tertawa. Suasana di antara kami menjadi begitu ringan sekarang, seolah kami bukan lagi dua orang asing yang diikat dalam jalinan pernikahan. “Kalau begitu tetaplah bertahan dengan kesimpulanmu,” ujarku malu-malu.

Kami diam lagi untuk beberapa saat. Ada begitu banyak hal yang memenuhi pikiranku saat ini. Kebanyakan hanya hal remeh seperti apa yang akan terjadi besok ketika orang tuaku datang dan bertanya macam-macam tentang apa yang kami lakukan malam ini, tapi ada satu hal penting yang menurutku perlu mendapat jawaban.

“Kau sudah sering melakukan ini sebelumnya?” tanyaku penasaran.

Donghae melonggarkan pelukannya dan menatapku lekat-lekat. Matanya mencari mataku. Pandangannya menuntut, membuat aku tidak bisa tidak balik memandangnya. “Kau mau jawaban seperti apa?”

“Yang jujur,” kataku.

Pria itu tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya di tubuhku. Dia membelai rambutku kemudian menciuminya. “Bohong kalau kubilang belum. Tidak sering, tapi pernah. Aku ini pria dewasa, Hyesa-ah. Dalam kurun waktu tertentu, kami butuh penyaluran.”

Pantas saja dia tadi terlihat tidak begitu canggung dengan lekuk tubuh wanita. Aku sedikit kecewa dengan jawabannya, tapi kuhargai kejujurannya padaku.

“Padahal ini adalah pertama kalinya untukku. Jadi aku menjadikanmu yang pertama sementara kau hanya menjadikanku yang kesekian?” ujarku pura-pura merajuk.

Dia kembali mencium keningku dengan lembut. Senyumnya tak hilang, dan saat itu aku tahu bahwa senyum itulah yang akan membuatku jatuh cinta padanya lagi dan lagi.

“Sekarang bisakah kau menjelaskan perkataanmu saat kita minum teh tadi? Apa maksudmu dengan kau-mencintaiku-sejak-dulu? Itu bukan kebohongan yang sengaja kau ciptakan agar aku menyerahkan diri padamu, kan?”

“Kau sudah terlalu banyak bicara, Nyonya Lee. Sekarang tidurlah dulu, besok akan kuceritakan semua padamu,” ujarnya seraya menarik selimut yang memang tidak menutupi tubuh kami dengan seharusnya.

Aku ingin bertanya lagi, tapi ciuman singkatnya di bibirku berhasil membuat aku bungkam.

“Mimpikan aku,” katanya sambil memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya di tubuhku.

Akupun mengikutinya. Sekuat tenaga aku berusaha memejamkan mata meski jantungku belum mau berhenti berdegup kencang. Entah karena ucapan Donghae atau karena perbuatannya. Bisa juga karena keduanya.

***

Aku terbangun keesokan harinya ketika kurasakan sinar matahari menembus retina mataku. Sedikit berat, kucoba membuka mata.

“Selamat pagi, Nyonya Lee,” ucap sebuah suara.

Aku tersenyum mendengar panggilan itu. Hebat sekali, dalam waktu kurang dari 24 jam, Hyesa-sshi sudah berubah menjadi Hyesa-ah dan berubah lagi menjadi Nyonya Lee. Aku paling suka panggilan yang terakhir.

Aku membalas salamnya dengan suara parau khas orang baru bangun tidur, sementara tubuhku menggeliat malas dan mataku masih sangat ingin terpejam.

Tiba-tiba kurasakan bibirnya hinggap di kelopak mataku, kiri dan kanan.

“Itu morning kiss dariku.”

Aku kembali tersenyum. Perlahan kubuka mataku. Kudapati dirinya sudah sangat rapi dalam busana casual yang membuatnya terlihat sangat tampan.

“Teh?” ujarnya seraya mengangkat secangkir  minuman kecoklatan di depanku. “Tanpa obat perangsang,” tambahnya.

Mau tak mau tawaku meledak mendengar ucapannya barusan. Segera kuambil cangkir di tangannya dan menyesap habis isinya dalam waktu singkat.

“Wow, sepertinya kau haus.”

“Ne, gara-gara perbuatanmu,” jawabku manja.

Dia hanya terkekeh mendengar ucapanku.

“Darimana kau mendapatkan bajumu? Bukankah di lemari hanya ada baju tidur yang sudah kau robek semalam?”

“Kenapa? Kau tidak suka melihatku berpakaian? Aku bisa membukanya sekarang juga kalau kau mau,” katanya sembari mengerling nakal. Aku tahu mukaku sudah memerah sekarang, tapi tanganku masih sempat kulayangkan untuk memukul pelan dadanya yang bidang.

Dia tertawa akibat ulahku, lalu berkata, “Orang tua kita dan adikmu yang membawakannya. Bajumu juga ada.”

“Mereka ada di sini?”

“Tadi pagi-pagi sekali mereka ke mari. Sekarang kuyakin mereka sedang menguping di balik pintu.”

Mataku melebar mendengar penjelasan Donghae. Lebih lagi ketika kudengar celetukan dari luar.

“Unnie, bagaimana teh buatanku?” Suara adikku.

“Hyesa-ah… Kau akan memberikan ibumu ini cucu secepatnya, kan?” Suara ibu mertuaku.

“Hyesa-ah… Lingerie yang Ibu berikan apakah masih utuh?” Suara ibuku.

“Ayah bisa mendengar suara tangisan bayi dari sini.” Suara ayahku.

Detik selanjutnya kudengar mereka tertawa serempak dalam satu ketukan. Para ibu juga ikut berpartisipasi menyumbang suara tawa, tapi jelas tawa Ayah dan adikku lebih mendominasi.

Aku ingin marah, namun rasa maluku lebih dulu merajalela. Mukaku memanas dan kuyakin pasti sudah sangat merah saat ini.

“Kita seharusnya berterima kasih pada mereka. Kalau bukan karena mereka, mungkin aku belum bisa memenangkan hatimu.”

Kualihkan pandanganku ke arah Donghae yang juga terlihat malu-malu. Aku jadi teringat pertanyaanku yang semalam belum dijawabnya. “Kau masih berhutang satu jawaban padaku, Hae-ya.”

Dia cuma tersenyum tipis sembari menunjukkan sebuah foto padaku. Aku mengamatinya dengan seksama. Seorang gadis berambut sebahu dalam balutan seragam sekolah menengah. Sepertinya foto ini diambil diam-diam, karena yang tampak hanya bagian punggung gadis itu.

“Siapa dia?”

“Kau.”

“Apa?”

“Itu jawaban atas pertanyaanmu semalam.”

Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata Donghae.

“Aku mengenalmu sejak kita masih di jenjang sekolah menengah. Mungkin kau tidak sadar kalau sudah sejak lama aku selalu ada di dekatmu, mengintaimu, mencintaimu. Berkali-kali aku berusaha mendekatimu, tapi kau selalu bersikap tak peduli pada semua pria yang mendekatimu. Jadi kuputuskan untuk tetap mengamatimu dari jauh. Lalu kita tumbuh menjadi dua orang yang lebih dewasa dan memasuki usia pantas menikah. Kau sudah menjadi wanita karier dan akupun sudah sukses dengan usaha yang kurintis, maka kudesak orang tuaku untuk menikahkan kita. Sejujurnya, kita tidak benar-benar dijodohkan. Aku sudah melamarmu pada orang tuamu jauh sebelum pertemuan kita di acara perjodohan waktu itu. Inilah jawabanku atas pertanyaanmu semalam.”

Aku tidak tahu apa yang lebih mendominasi dalam diriku ketika mendengar jawaban itu. Aku kaget, tentu saja. Apa yang selama ini kupikir adalah perjodohan ternyata sama sekali bukan. Akhirnya aku mengerti mengapa seluruh keluargaku begitu berharap aku bersedia menikahi pria di depanku ini. Aku terharu. Ya, siapa yang tidak akan merasa terharu jika tahu seseorang mencintaimu sejak lama? Tapi di atas itu semua, aku merasa bahagia, karena aku tahu pilihanku menikahi pria ini bukanlah sebuah kesalahan yang akan kusesali suatu hari nanti.

Tanpa bisa kucegah, tanganku melingkar erat di lehernya. Tidak kupedulikan selimut yang melorot dan membuat tubuh bagian atasku jadi kembali terlihat polos. Aku hanya ingin melakukan ini. Bukankah sangat manis ketika kau mengetahui bahwa ada orang yang begitu menginginkanmu?

“Kau memberiku alasan untuk menyukai kata saranghae,” kataku pada Donghae, masih dengan tangan melingkar di lehernya. “Karena ada namamu di dalamnya. Sarang.  Hae. Bukankah itu sangat bagus? Saranghae.”

Kurasakan lengan Donghae ikut melingkari tubuhku. Dia lalu berbisik, “Nado saranghae, Nyonya Lee.”

END

A/N: Saya baru saja mengecek tulisan-tulisan yang sudah saya posting di blog ini dan kemudian sadar kalau semua ff yang memasang Donghae sebagai cast utama—yang berarti hampir semua—ternyata selalu bernuansa sendu. Sempat terpikir untuk membuat satu cerita baru, tapi entah kenapa belakangan ini saya selalu terobsesi dengan cerita yang jauh dari bahagia. Karena itu saya memutuskan mencari stok ff lama yang endingnya bahagia dan mempostingnya di sini. Setidaknya ini bisa memberi sedikit warna bagi kehidupan Donghae yang selalu saya kisahkan galau di setiap ff di blog ini 😀

Cerita ini sudah pernah saya publish sekitar tahun 2010 atau 2011 lalu di blog lain dengan judul yang sama, jadi kalau ada yang merasa familiar sama ceritanya, itu karena ini memang bukan cerita baru.

Advertisements

9 thoughts on “Our First Night

  1. Ahhhh sweet banget ya. Sampe bikin melted gini aww.
    Senyum-senyum gajelas gitu aku sampe akhir HE HE HE, first night yang gabakal dilupain ya sama mereka lol.
    Btw aku pernah baca ini tapi dimana ya kak lupa nah dulu aku bacanya cuma setengah mungkin dipostnya waktu itu cuma segitu kali ya. Akhirnya puas banget dapet yang full ver. Keren deh ya gemesh hihihi.

    1. waktu itu dipost langsung deh kayaknya. aku juga lupa sih, abis udah kelamaan. haha.. tp kemarin pas aku cek di draft, jadinya cuma satu file, ga kepisah. biasanya kalo emang niatnya mau dipublish lebih dr satu part, filenya aku pisahin.

  2. Happy end 🙂
    sekali-kali buat happy end untuk pairing haesica dongg eonn 😦 aku suka bgt sama couple itu, ya ya hehe .. kl bsa jgn sama oc, buat juga ya yg sama jessica 🙂
    kl eonni ada waktu #request 😀 wkwkkwk ..
    fighting eonn ^^ gomawo ..

    1. kamu ada ide cerita haesica yang happy ending bagusnya gimana? aku lagi krisis ide (padahal sebenarnya emang males mikir aja *kemudian ditimpuk*)
      tiap liat couple ini bawaannya sedih mulu.

  3. This is too sweet to be true!! Maygad, kalo dijodohinnya sama makhluk bernama lee donghae dan endingmya semanis ini, aku juga siap dijodohin kapan aja 😀

  4. setelah tadi terbaper-baper karena kisah hyukjae yang difrienzone-in sama donghae, sekarang jadi baper gara-gara lee donghae so sweet abis di sini. cerita tentang cinta yang dipendam terus diutarakan di waktu yang tepat kayak gini emang selalu sukses bikin hatiku melting. SESEORANG TOLONG JODOHIN GUE SAMA LEE DONGHAE!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s