Title: Mine (The Crazy Lover)

Author: nchuhae

Main Cast: Jessica Jung, Lee Donghae

Support Cast: Krystal Jung, Jung Ji Hoon, Kim Myungsoo

Length: Twoshots

Rating: PG17

Genre: Drama, (dark) romance, psychology, (mild) smut

***

Memposting ff Haesica di saat Jessicanya sendiri sedang ramai diberitakan bersama pria lain mungkin kesannya konyol. Saya cuma tidak mau menyimpan ff ini terlalu lama.

Masih sama seperti chapter sebelumnya, di chapter ini alurnya juga tidak teratur. Baca yang baik ya, biar tahu scene-nya terjadi sebelum atau sesudah pernikahan. Hope you enjoy it~

***

Donghae menyukai wanita yang dominan di atas ranjang. Dia selalu membiarkan wanitanya merasa berkuasa atas dirinya. Itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan betapa dia menghargai lawan jenisnya. Pria itu juga senang dimanjakan dengan belaian lembut di tempat-tempat tertentu di tubuhnya. Dan Jessica tahu itu.

Meski saat mencobanya pertama kali, Jessica masih butuh banyak bimbingan dari pria itu, tapi Jessica adalah orang yang belajar dengan cepat. Di kali kedua, ketiga, dan seterusnya, dia sudah tahu bagaimana menyenangkan pria itu. Dia hafal di bagian mana saja Donghae akan menikmati sentuhannya. Dia mengerti berapa lama waktu yang dibutuhkan pria itu untuk bisa sepenuhnya siap. Dan  oh, Jessica juga diam-diam telah mempelajari bagaimana memuaskan fantasi pria itu.

Sudah berapa kali mereka melakukannya? Jessica tidak lagi ingat. Yang jelas ini adalah pertama kalinya setelah mereka menikah.

Donghae sudah tidak berpakaian—Jessica melepaskan semuanya tadi, sementara gadis itu sendiri masih dalam balutan gaun pengantinnya.

“Apakah kau begitu menyukai gaunmu hingga belum juga melepaskannya sampai sekarang?” pria itu bertanya, tersenyum mengejek Jessica yang saat itu sedang berkonsentrasi dengan tubuh bawahnya.

Jessica ingin menjawab, tapi mulutnya penuh, dan dia sama sekali belum berniat menyelesaikan kegiatannya di bagian itu. Dia hanya menatap Donghae sesaat melalui sela paha pria itu, cukup puas dengan ekspresi Donghae atas apa yang dilakukannya. Biar saja pria itu mengejeknya, dia tidak peduli. Kenyataannya Jessica memang sangat menyukai gaunnya.

Setelah memastikan bahwa Donghae sudah cukup siap, Jessica turun dari ranjang. Dia berdiri di sisi tempat tidur, di tempat di mana Donghae bisa melihat apa yang dia lakukan. Gadis itu balik memandang Donghae dengan tatapan mengajak, mungkin saja pria itu berniat membantunya melepaskan gaun lalu menghempaskan tubuhnya ke kaca jendela dan mereka akan bercinta di sana, dengan resiko dilihat tetangga?

Tapi Donghae masih tetap di posisinya semula, hingga Jessica harus melepas sendiri gaunnya. You really love to see me doing striptease, don’t you?

***

Jessica menatap ragu pantulan dirinya di cermin. Pakaian ini membuatnya terlihat aneh—dan murahan. Kalau bukan karena Donghae pernah bilang bahwa dia ingin mencoba hal seperti ini, Jessica pasti tidak akan pernah sudi mengenakan pakaian minim berbahan latex dan stocking aneh serta sepatu dengan hak setinggi yang dia gunakan saat ini. Belum lagi borgol dan pisau aneh yang terselip di sisi stockingnya. Gadis itu bergidik membayangkan betapa malu dirinya jika Donghae ternyata malah menertawakannya.

Tenanglah, Sica… Dia sendiri kan yang bilang bahwa dia ingin melakukan hal ini denganmu?

Jessica menghembuskan napas panjang untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan sudah benar. Laki-laki itu pasti senang. Dan tidak ada yang bisa lebih membahagiakan dirinya selain menyenangkan kekasihnya itu.

Jessica hanya pernah jatuh cinta sekali dalam hidupnya. Tapi ketika dia jatuh cinta, dia berubah menjadi seorang pemuja. Gadis itu akan melakukan apa saja agar Donghae senang, meski terkadang dia tidak yakin dirinya bisa melakukan semua itu dengan baik.

Donghae mengucapkan hal ini beberapa waktu yang lalu, ketika Jessica iseng bertanya tentang fantasi seksualnya. Gadis itu agak terkejut mengetahui bahwa fantasi pria itu berhubungan dengan borgol, pisau, dan tarian telanjang. Tapi pada akhirnya, gadis itu tetap meluangkan waktu mencari informasi di internet agar bisa mewujudkan fantasi pria itu. Tubuh kakunya dia paksa belajar gerakan sensual. Setelah beberapa minggu berlatih, dia memutuskan akan mempraktikkannya hari ini.

Gadis itu sengaja pulang lebih awal dari kantor dengan alasan tidak enak badan. Dia juga sudah memberitahu agar Donghae tidak usah menjemputnya karena dia akan pulang dengan Krystal. Semua orang mempercayai kebohongannya. Dan Jessica senang akan hal itu.

Dia langsung menuju apartemen Donghae setelah itu. Donghae sudah beberapa kali mengajaknya ke sini. Kadang mereka hanya akan makan malam bersama—pria itu kadang memasak sesuatu dan meminta Jessica datang, kadang mereka akan menonton film berdua, selebihnya akan dihabiskan dengan bermesraan.

Jessica mengenal kediaman Donghae sama seperti dia mengenal telapak tangannya sendiri. Apartemen itu cukup luas dan dia punya banyak kenangan bersama pria itu hampir di semua sudut ruangan. Ke manapun Jessica melayangkan pandangannya, dia pasti akan menemukan sebuah kenangan. Sofa depan TV di mana Donghae mencium bibirnya untuk pertama kali, meja makan kecil di dekat dapur di mana Donghae pernah menertawainya setelah tahu gadis itu alergi pada mentimun, teras kecil di mana Donghae pernah membuatnya tertawa terbahak-bahak hanya dengan mengucapkan Lactobasillus—Jessica merasa itu kata yang sangat lucu, studio foto kecil di mana dia menyerahkan kegadisannya, dinding kamar di mana Donghae pernah menghempaskan tubuhnya dan memasuki gadis itu berkali-kali dalam posisi berdiri, atau kamar mandi di mana mereka selalu mandi bersama setelah bercinta. Semua, bagi Jessica, memberikan kenangan yang menyenangkan.

Saat itu Jessica berada di dalam kamar tidur Donghae, memutuskan akan bersembunyi di sana sambil menunggu pria itu pulang. Ini pasti akan jadi kejutan yang luar biasa baginya. Membayangkan itu saja sudah membuat tubuh Jessica bergetar karena terlalu antusias.

Suara pintu terbuka tak lama kemudian membuat Jessica berlari kecil ke belakang pintu kamar. Dia hanya harus menunggu pria itu masuk lalu memeluknya dari belakang, dan semua kejutan yang dipersiapkannya akan terlaksana.

Jessica bisa melihat pria itu dari sela pintu. Donghae sepertinya sedang menelpon seseorang. Sambil tersenyum kekanakan, gadis itu menajamkan pendengarannya, ingin tahu apa yang sedang dibicarakan pria itu.

“…aku dapatkan, Jongin. Tentu saja dia menerima lamaranku!”

Lamaran? Jessica bergumam, bingung.

“Eoh! Dia bahkan menangis saat aku berlutut dan memberinya cincin. Apa? Hahaha… Tenang saja, kau pasti akan kutunjuk sebagai bestman-ku. Ya, aku yakin semua orang pasti akan terkejut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi haraboji jika tahu seorang Sandara Park akan jadi cucu menantunya.”

Siapa Sandara?

“Oh, pacarku yang lain? Ya, beberapa memang sudah mulai membosankan. Aku mungkin akan memutuskan hubunganku dengan Yoona dan Jihyun tidak lama lagi. Yang lainnya sudah aku buang beberapa minggu lalu.”

Yoona? Jihyun? Siapa lagi mereka?

“Jessica? Entahlah… Kau tahu betapa sulit aku mendapatkannya. Aku pasti gila jika meninggalkan dia secepat ini. Lagipula, dia terlihat begitu menyukaiku. Dia melakukan semua yang aku minta tanpa pernah protes. Hahaha… Hebat, kan? Ya, kau benar, ternyata penampilan luarnya saja yang seperti itu, sebenarnya dia sama murahannya dengan wanita lain. Mungkin aku akan bertahan dengannya beberapa lama lagi, kalau aku sudah benar-benar bosan baru aku akan meninggalkannya.”

Dia akan meninggalkanmu, Sica!

“Dara tahu semuanya. Karena itulah aku menyukainya. Dia tetap mencintaiku meski tahu aku menjalin banyak affair dengan wanita lain. Dia memang calon istri ideal. Selain karena dia kaya, tentu saja.”

Siapa Dara, Bajingan?!

Donghae masih berbicara beberapa lama lagi di telepon, tapi Jessica sudah tidak memperhatikannya. Dia tidak keberatan jika memang serendah itu penilaian Donghae terhadapnya. Tapi membayangkan kekasih yang sangat dicintai bahkan dipujanya malah melamar wanita yang bukan dirinya terasa menyakitkan. Sangat menyakitkan.

***

Tidak ada yang bisa melukiskan betapa kagetnya Donghae saat memasuki kamarnya dan mendapati Jessica tertidur di sana. Dia ingat siang tadi gadis itu menghubunginya, memberitahu agar tidak usah dijemput karena ada urusan dengan adiknya. Rupaya dia sengaja berbuat seperti itu untuk melakukan ini.

Donghae berjalan mendekati tempat tidurnya, lalu duduk di sisi gadis itu. Dia sedikit khawatir Jessica mungkin mendengar percakapannya dengan Jongin sebelum ini, tapi setelah melihat betapa damai wajah di depannya, pria itu merasa mustahil Jessica tahu apa yang tadi dia katakan.

Donghae merasakan ada sedikit perasaan hangat yang pelan-pelan merambat di hatinya saat melihat Jessica yang sedang tertidur, sesuatu yang dia kira tidak akan pernah dia rasakan pada gadis ini.

Tanpa sadar dia menggerakkan tangannya ke wajah gadis itu, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, lalu membelai pipinya yang halus.

Lihatlah gadis itu, Donghae. Dia menunggumu sampai tertidur. Lihat pakaiannya, dia pasti datang untuk menyenangkanmu. Dia begitu menyukaimu. Dia memujamu. Kau yakin ingin melepaskannya?

Jessica membuka mata karena merasakan sentuhan Donghae di wajahnya. Dia langsung disambut oleh senyum hangat pria itu.

“Aku membangunkanmu?”

“Tidak apa-apa. Aku sepertinya sudah tertidur cukup lama.”

“Kau kelihatan seksi malam ini,” Donghae berkomentar, mengacu pada pakaian Jessica yang memang sangat seksi.

“Aku memakainya karena kau bilang kau suka,” Jessica menjawab, tak lupa menyertakan muka polosnya.

Donghae tertawa mendengar jawaban gadis itu, teringat bahwa dia memang pernah menyinggung hal ini beberapa waktu lalu. “Aku hanya bercanda, Sica. Aku tidak menyangka kau akan menanggapinya seserius ini.”

Tawa Donghae membuat Jessica cemberut. Gadis itu menggembungkan pipi, berharap itu bisa menutupi rasa malunya. Itu membuat tawa Donghae makin keras.

“Aku mau pulang saja!” gadis itu berujar kesal, lalu bangkit dan bersiap meninggalkan Donghae yang masih menertawainya.

Tangan Donghae dengan cepat meraihnya dan menarik gadis itu kepangkuannya. “Apa kau tahu bahwa kau terlihat paling imut saat sedang cemberut?”

“Pembohong!” Jessica bersungut manja.

Donghae tertawa lagi. Pria itu awalnya tidak pernah mengira Jessica yang dingin ternyata bisa seekspresif ini.

Kau belum sadar juga? Dia seperti itu setelah mengenalmu. Dia berubah karena kau. Demi kau, Bajingan!

Pria itu menghalau rasa bersalah yang tiba-tiba muncul dengan melingkarkan lengannya lebih erat di pinggang gadis dalam pangkuannya. Dia menenggelamkan wajahnya di bahu Jessica, menghirup aroma sabun gadis itu. “Kau tahu, Sica, kau boleh meragukan semua kebenaran di dunia ini. Tapi kalau itu memang harus terjadi, hal terakhir yang harus kau ragukan adalah aku. Semua yang aku ucapkan padamu adalah kebenaran, dan itu berlaku selamanya,” ujarnya menenangkan.

“Benarkah?”

“Eoh!” pria itu memastikan.

Hebat! Kau memang sangat lihai mempermainkan wanita dengan kata-kata manismu. Teruskan saja… Apapun yang kaukatakan, gadis ini akan menelan mentah-mentah semua rayuanmu.

“Sekarang, karena kau sudah ada di sini,” bisiknya menggoda, “kenapa kita tidak mempraktikkan saja apa yang sudah kaupelajari?”

***

Krystal sepenuhnya paham bahwa kakaknya sedang tidak ingin diganggu saat ini, tapi gadis itu merasa perlu menemuinya. Siang ini dia mendapat sebuah telepon dari temannya. Itu tentang Jessica. Tentang sesuatu yang menurut Krytal terdengar aneh dan perlu dia konfirmasi sendiri.

Mungkin yang dirasakannya hanya sebuah kecemasan tanpa alasan. Dia yakin kakaknya tidak akan melakukan hal bodoh, hanya saja gadis itu merasa perlu memastikan langsung agar pikirannya tenang.

Gadis itu menghabiskan waktu hampir sejam untuk sampai di kediaman Jessica—sebuah rumah mungil dengan pekarangan penuh bunga di kawasan Eunpyeong-gu. Jessica pindah ke tempat itu tidak lama setelah dia berhubungan dengan Donghae. Waktu itu dia beralasan pindah agar lebih dekat dengan kantornya, tapi Krystal dan orang tuanya tahu bahwa alasan sebenarnya gadis itu pindah adalah agar lebih dekat dengan tempat tinggal Donghae.

Krystal memencet bel beberapa kali, namun tidak ada tanda bahwa pemilik rumah akan membukakan pintu untuknya. Dia kemudian mencoba menelepon Jessica, tapi telepon kakaknya itu tidak aktif. Akhirnya, setelah menimbang semua kemungkinan, gadis itu memutuskan membuka sendiri pintu rumah Jessica. Dia memang tidak pernah diberitahu berapa kode kunci rumah Jessica, tapi melihat bagaimana kakaknya menyukai Donghae, Krystal bisa langsung menebak kode itu. Dia menekan beberapa angka—tanggal lahir Donghae, dan pintu itu terbuka saat itu juga.

Aroma yang aneh menyambutnya ketika dia membuka pintu, membuat gadis itu merasa ingin muntah saat itu juga. Berbagai macam pemikiran tidak jelas muncul di kepalanya. Gadis itu mendekati kamar Jessica, berharap apa yang dikhawatirkannya tidak benar-benar terjadi.

Semakin dekat, dia semakin bisa mendengar suara Jessica. Kakaknya melenguh.

Krystal langsung menghembuskan napas lega mendengar itu. Dia berkesimpulan bahwa setidaknya itu menunjukkan kekhawatirannya benar hanya pemikiran tak beralasan. Seharusnya dia lebih percaya pada kakaknya sendiri. Tersenyum lega, gadis itu berbalik, bersiap pulang dengan hati tenang karena tahu kakaknya baik-baik saja.

Tapi pemikiran itu tidak berlangsung lama. Di sela desahannya, Jessica menyebut satu nama yang membuat Krystal berbalik. Dia mendekati kamar Jessica lagi dan mengintip melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Apa yang kemudian dilihat gadis itu membuatnya terlalu terkejut hingga air matanya menitik. Dia sama sekali tidak pernah menyangka hal seperti ini bisa terjadi.

Mendadak, semua keanehan yang terjadi belakangan ini terasa jelas baginya. Krystal menangis tanpa suara, lalu pelan-pelan melangkah mundur meninggalkan tempat itu tanpa membiarkan Jessica tahu bahwa dia pernah datang.

***

Donghae tersenyum senang melihat Jessica yang berada di atasnya, sedang melucuti pakaiannya sendiri. Pria itu sendiri sudah sejak tadi tak berpakaian, sementara kedua tangannya sudah diborgol di kepala tempat tidur. Ah, Jessica melakukannya dengan sangat baik. Wajah dinginnya memang sangat cocok dengan gaya masokis seperti ini.

Setelah melepaskan satu-satunya atasan yang dikenakannya, Jessica menarik pisau yang sejak tadi terselip di sisi stocking hitamnya, lalu menelusurkan ujung benda itu di atas kulit dada Donghae yang terlanjang. Pria itu menatapnya penuh antusiasme. Adrenalinnya meningkat seiring tekanan ujung pisau itu di dadanya. Melihat itu, Jessica tersenyum simpul.

Lihatlah tubuh ini, Jessica! Yang katanya hanya milikmu ini, ternyata dia bagi dengan wanita lain… Sudikah kau berbagi?

“Kau senang?” tanya Jessica.

Donghae mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kau yang terbaik, Sica!”

Oh, Silly Princess, dengarlah itu. Dia menyebutmu sebagai yang terbaik. Kau dengar? Terbaik. Sudikah kau membiarkan pria ini membohongimu? Dan ah… jangan lupa ucapannya tadi, dia akan segera menikah dengan orang lain. Kau akan dibuang setelah dia bosan…

“Bajingan! Pembohong! Bangsat kau, Lee Donghae!” Jessica memekik keras, membuat Donghae kaget karena teriakan itu begitu tiba-tiba. Ke mana larinya keintiman mereka barusan?

Tapi pria itu tidak sempat mengungkapkan kekagetannya. Karena saat itu, pisau yang dipegang Jessica sudah menembus dadanya. Satu… dua… hingga belasan tusukan dihujamkan Jessica ke dada pria itu. Darah segar yang mengucur membanjiri tempat tidurlah yang akhirnya menyadarkan Jessica akan apa yang telah dilakukannya.

My dearest Lee Donghae, tahukah kau kemungkinan terburuk yang bisa terjadi padamu karena es yang mencair? Dia menenggelamkanmu…

Jessica menatap pria itu dengan wajah dinginnya. Ada air yang menitik dari kelopak matanya, kemudian mengalir di pipi gadis itu, dan dibiarkannya jatuh tanpa berniat menghapusnya.

Sekarang dia tidak akan bisa membagi cintanya lagi, Princess

Jessica tersenyum.

***

Krystal menangis di dalam mobilnya. Air mata itu jatuh karena prihatin pada kakaknya, karena takut melihat perbuatan kakaknya, karena kaget mengetahui bahwa kemungkinan yang dikiranya bisa jadi yang terburuk, ternyata bisa lebih buruk lagi.

Tiba-tiba semua terasa jelas baginya. Jessica yang sama sekali tidak kaget saat diberitahu bahwa Donghae meninggal, yang diam saja saat di pemakaman Donghae mereka akhirnya tahu bahwa Jessica bukan satu-satunya kekasih pria itu, dan bahwa sehari sebelum pria itu meninggal, dia baru saja melamar salah satu kekasihnya—yang bukan Jessica. Awalnya dia mengira sikap kakaknya yang dingin itu hanya karena dia sedang menutupi perasaannya yang hancur. Dia sempat sangat yakin bahwa dugaannya benar saat Jessica memutuskan mengurung diri di rumah tanpa membiarkan orang tuanya dan Krystal menjenguk.

Tadi, saat memasuki rumah kakaknya dan mencium aroma tidak sedap itu, dia sudah berpikir kalau kakaknya sudah terlalu putus asa dan memutuskan untuk menyusul Donghae. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa dia bersyukur mendengar lenguhan kakaknya. Setidaknya Jessica tidak bunuh diri seperti yang dia kira. Dia mengira lenguhan kakaknya adalah karena dia sedang berhubungan dengan pria lain—yang dilakukannya karena putus asa dan stress.

Dan kau berpikir kau mengenal kakakmu dengan baik, Krystal? Pikir lagi!

Gadis itu menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya, semakin sedih saat mengingat ucapan temannya di telepon bahwa kemarin dia melihat Jessica membeli sebuah gaun pengantin dan tuxedo di butik terkenal di Gangnam. Ternyata gaun itu untuk ini. Untuk memenuhi obsesinya yang tidak terwujud.

Krystal meraih telepon genggamnya, merasa harus menceritakan hal yang baru saja dia lihat kepada seseorang. Gadis itu membuka semua kontak yang tersimpan di telepon genggamnya, tapi tak menemukan satu pun nama yang menurutnya bisa diandalkan. Dia tidak mungkin membiarkan orang tuanya tahu apa yang dilakukan anak sulung mereka. Sedangkan Jongin, Krystal sudah memutuskan hubungannya dengan Jongin di hari pemakaman Donghae setelah tahu pria itulah yang menantang Donghae, apakah dia bisa mendekati Jessica atau tidak. Mengingat itu, Krystal jadi membenci dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak pernah membiarkan Donghae mendekati kakaknya.

Gadis itu lalu teringat sebuah kartu nama yang diberikan salah seorang detektif yang dulu menanyainya dalam rangka penyelidikan  kematian Donghae. Dengan tangan gemetar, dia mencari kartu nama itu di dalam dompetnya. Dia tahu, dengan menelpon detektif itu, hal yang mengerikan akan terjadi. Tapi kakaknya perlu pertolongan.

***

Detektif Jung Ji Hoon adalah tipe pria yang sangat mencintai pekerjaannya. Sejak kecil dia tergila-gila pada misteri, karena itulah dia memutuskan bergabung di kepolisian. Dia mengabdikan hampir sepertiga hidupnya untuk mengungkap kasus kriminal. Dan dia selalu berhasil.

Pria itu memandangi setumpuk file di depannya, merasa sangat yakin ada yang keliru. Dia yakin salah satu saksinya berbohong untuk menyempurnakan alibi salah seorang tersangka, tapi dia belum bisa membuktikannya.

“Hyung, mau berapa lama lagi kau memandangi berkas-berkas itu?”

Detektif berusia 33 tahun itu mendongak dari kertas-kertas yang sejak tadi menyita perhatiannya, hanya untuk mendapati Myungsoo, salah satu rekan kerjanya, memandangnya dengan tatapan jenuh.

“Aku akan terus memandangi kertas-kertas ini sampai aku menemukan celah untuk menemukan pelaku pembunuhan fotografer itu.”

“Ck, pantas saja ibumu cemas melihatmu. Kau selalu seperti ini, terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai lupa bahwa ibumu sudah sangat ingin diberi menantu,” komentar Myungsoo.

Mengabaikan komentar hoobae-nya itu, Detektif Jung malah berkata, “Aku sangat yakin dia dibunuh oleh salah seorang kekasihnya. Aku hanya tidak tidak punya bukti.”

“Kita sudah menanyai kelima kekasihnya, Hyung. Enam, jika kau menghitung calon istrinya dalam kategori yang berbeda. Dan mereka semua memiliki alibi yang kuat saat korban meninggal.”

“Tidak semua,” jawab Detektif Jung. Dia mengangsurkan salah satu foto kepada Myungsoo yang hanya menatapnya dengan pandangan bosan. “Aku yakin gadis inilah pelakunya.”

“Hyung, lupakan instingmu itu,” jawab Myungsoo tidak sabar. Detektif muda itu membungkukan badannya, mencari selembar kertas di tengah tumpukan file di meja seniornya itu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia menunjukkan kertas itu kepada pria di depannya dan berkata, “Kalau kau memang tidak percaya bahwa saat itu dia sedang terbaring sakit di rumahnya karena keterangan dari kantornya kau anggap tidak cukup kuat, setidaknya kau harus mempercayai ini. Ini ditandatangani oleh seorang psikolog forensik yang sudah berpengalaman. Gadis yang kaucurigai itu sudah melakukan tes deteksi kebohongan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Dan dia memang tidak bersalah. Aku yakin kita perlu melebarkan jangkauan tersangka kita. Pria ini playboy, kau tahu. Kekasihnya pasti bukan hanya keenam orang yang sudah kita wawancarai. Aku yakin salah satu dari kekasihnya yang tidak kita ketahui inilah yang membunuhnya. Mungkin dia marah mendengar pria itu akhirnya akan menikah?”

Jung Ji Hoon mengakui ide itu tidaklah buruk. Bisa saja yang terjadi memang seperti itu. Lagipula dia sedang berhadapan dengan kasus yang nyata, bukan hanya sebatas kasus di kartun detektif yang pelakunya selalu melibatkan orang dalam. Tapi detektif itu selalu bekerja dengan instingnya, dan dia percaya bahwa instingnya tidak akan pernah mengkhianati dirinya. Setidaknya itu belum pernah terjadi.

Telepon di ruangan mereka berdering tidak lama kemudian. Karena lebih dekat dengan telepon, maka Myungsoolah yang menjawabnya. Pria itu mengucapkan sejumlah kata-kata standard yang biasa diucapkan para polisi setiap kali menjawab telepon masuk, mengangguk beberapa kali, lalu mengangsurkan gagang telepon pada seniornya, “Hyung, untukmu. Dari seorang gadis,” ujarnya penuh arti.

Detektif Jung memilih tidak mengindahkan tatapan Myungsoo yang penuh keingintahuan, mungkin karena ini adalah pertama kalinya dia mendapat telepon dari seorang gadis. Memangnya apa yang diharapkannya, Ji Hoon sendiri tidak tahu gadis mana yang tiba-tiba menelponnya.

“Detektif Jung Ji Hoon di sini. Dengan siapa saya berbicara?”

Orang di ujung saluran telepon tidak langsung menjawabnya. Gadis itu terisak, membuat Ji Hoon kebingungan. “Nona, kau baik-baik saja?”

“Tolong selamatkan kakakku,” ujar gadis itu.

“Tenanglah, Nona. Sekarang beritahukan padaku kakakmu ada di mana.”

Hening sejenak, lalu dia mengangguk paham dan menutup telepon tanpa lupa meyakinkan penelponnya bahwa dia akan tiba di lokasi yang diberitahukan padanya secepat yang dia bisa.

Pria itu kemudian menyambar jaket dan pistolnya, tidak lupa memastikan benda itu berisi peluru. “Kau mau duduk di sini saja?” tanyanya pada Myungsoo yang kini sudah tidak menatapnya dengan pandangan seperti beberapa menit lalu sebelum dia menerima telepon.

Dengan malas pria itu ikut mengambil jaket dan pistolnya, lalu mengikuti Ji Hoon yang sudah bergegas di depannya. “Padahal satu kasus saja belum selesai, sudah ada kasus lain,” keluhnya.

***

Jessica bergelut manja di dalan pelukan suaminya, mencoba mempelajari ekspresi pria itu. Donghae jadi sangat pendiam belakangan ini. Pria itu hanya berbicara sesekali padanya.

Dia tahu laki-laki itu pasti sudah terpuaskan oleh apa yang baru saja mereka lakukan, tapi Donghae sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya. Meski begitu, senyum Jessica tetap tidak pudar. Dia merasa bangga karena sudah melakukan semua yang terbaik yang terpikirkan olehnya untuk memuaskan pria itu.

Dengan manja, gadis itu semakin mendekatkan tubuhnya ke pada Donghae, membuat kulit mereka bersentuhan di lebih banyak area dibanding sebelumnya. Tangannya bergerak ke dada bidang pria itu. Jari-jarinya kemudian dia telusurkan ke beberapa bekas luka yang belum sepenuhnya tertutup.

“Tukang rias itu memperlakukan tubuhmu dengan baik. Lukamu sudah tidak mengeluarkan darah lagi sekarang,” gumamnya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku, Sica?”

Jessica tersenyum senang mendengar pertanyaan itu. Salah. Bukan pertanyaan itu yang menyenangkannya. Fakta bahwa pria itu akhirnya berbicara lagi lah yang membuatnya sesenang ini.

“Karena aku mencintaimu, Hae-ya.”

“Kau membunuhku,” Donghae berujar datar.

“Aku tidak membunuhmu,” katanya meyakinkan. “Aku hanya memisahkanmu dengan kekasihmu yang lain. Lihat keadaan kita sekarang. Kita bersama. Kita berbahagia.”

Donghae tidak menjawab.

“Kau marah padaku?”

Donghae masih diam.

Jessica mengeratkan pelukannya di tubuh Donghae, berharap pria itu bisa memahami perasaannya. “Kau ingat, malam itu, ketika aku mengeluarkanmu dari peti yang mengurungmu dalam kegelapan dan kedinginan?” Jessica bertanya, mengingat lagi malam ketika dia diam-diam mendatangi kawasan di mana Donghae dikuburkan, bagaimana gadis itu menggali sedalam hampir 2 meter dan mengangkat tubuh tak berdaya Donghae sampai ke mobil, kemudian membawanya sampai ke tempat tinggalnya. “Coba katakan padaku, kekasihmu yang mana yang akan melakukan hal serupa demi bisa bersama denganmu? Hanya aku yang berani melakukannya. Jadi tolong, jangan marah padaku,” gadis itu memasang muka imutnya, mencoba berkompromi.

Dengan hatinya yang mati, entah kenapa Donghae masih bisa tersentuh oleh ucapan gadis itu. Sesuatu yang menurutnya aneh, karena saat hatinya masih berfungsi dengan normal, justru dia tidak bisa merasakan ketulusan gadis itu. Dia mengingat semuanya. Ketika Jessica mengeluarkannya dari peti terkutuk itu, dia seolah memperoleh kehidupan kedua—setelah gadis itu merenggut yang pertama.

Ah, Lee Donghae, kenapa kau begitu lamban memahami perasaanmu? Seharusnya kalian mendapatkan kisah seindah dongeng. Ingat, kau menyebutnya Princess, bukan? Semua Princess berhak mendapatkan happily ever after-nya.

“Tapi dengan cara seperti ini kita tidak akan bisa bersama selamanya seperti keinginanmu,” pria itu berujar muram. “Lihat tubuhku. Tidak lama lagi tubuh ini akan digerogoti binatang. Dan ketika saat itu tiba, aku yakin kau tidak akan menyukaiku lagi. Kau akan meninggalkanku.”

Jessica menjawabnya dengan senyuman menenangkan. “Dasar bodoh. Kaupikir aku akan membiarkan itu terjadi? Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku akan merawat tubuhmu, hingga kau bisa tetap setampan biasanya.”

“Benarkah?” pria itu bertanya antusias.

Lihat pria itu, Jessica… Bahkan dengan sorot matanya yang mati pun, kesan kekanakan itu masih tetap tidak hilang.

“Bagaimana kalau kita memulai dengan memandikanmu? Kau belum mandi sejak kemarin,” Jessica menawarkan. Dia mengerlingkan matanya dan menambahkan, “Kita bisa mandi bersama jika kau mau.”

Donghae mengangguk senang. “Kedengarannya menarik. Tapi aku masih ingin di sini bersamamu. Lagipula, kau sama sekali belum tidur, kan? Lihat kantung matamu yang menghitam. Tidurlah dulu, kau pasti lelah.”

Jessica tersenyum bahagia. Donghae-nya yang penuh perhatian telah kembali.

***

Kedua detektif itu memasuki rumah Jessica yang tidak terkunci. Mendengar laporan Krystal tentang kakaknya yang butuh diselamatkan, mereka sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya penculikan dan penyanderaan, karena itulah keduanya mempersiapkan pistol dengan amunisi penuh. Tapi ketika mereka memasuki rumah kecil yang ditunjukkan gadis itu, yang mereka dapatkan adalah pemandangan yang sama sekali tidak mengenakkan. Di depan mereka ada dua orang dengan wajah familiar yang berbaring telanjang di atas tempat tidur, dengan tubuh hanya ditutupi selimut ala kadarnya.

Holy shit!” Myungsoo spontan mengumpat.

Detektif Jung, karena pengalaman kerjanya yang lebih banyak, berhasil mengendalikan diri untuk tidak berdecak prihatin—atau jijik—melihat apa yang terjadi di depannya. Sekilas dia menoleh dan mendapati Krystal masih menangis tanpa suara di belakangnya.

“Gadis ini gila! Dia bercinta dengan mayat kekasihnya?” Lagi-lagi detektif muda itu berseru, yang langsung dihadiahi tatapan penuh peringatan dari seniornya.

Detektif Jung Ji Hoon mendekati pasangan berbahagia itu, mendapati sehelai gaun pengantin indah dan sepasang tuxedo putih di atas lantai tidak jauh dari tempat tidur itu. “Sepertinya mereka baru saja menikah,” ujarnya bercanda.

“Hyung!” Myungsoo langsung menegur selera humor seniornya itu.

Detektif senior itu tersenyum lebar, “Aku rasa kita baru saja mendapat sebuah kasus langka,” pria itu berkata sambil memperhatikan sepasang pengantin baru yang terbaring lelap di depan mereka.

“Hyung, kau bawa obat mual?” Myungsoo bertanya lagi. Mukanya sekarang sudah mulai pucat.

Ji Hoon memelototinya. “Bagaimana bisa kau menyebut dirimu detektif bagian kriminal kalau hal seperti ini saja sudah membuatmu mual? Kalau sedikit saja makanan dalam saluran pencernaanmu keluar, Kim Myungsoo, aku tidak akan segan-segan membenturkan kepalamu ke tembok,” ujarnya mengancam. “Atau kau mau wajahmu kujahit seperti pria ini?” tambahnya.

Detektif muda itu bergidik ngeri, memperhatikan kedua ujung bibir Donghae yang dijahit ke masing-masing sisi wajahnya hingga pria itu terlihat seolah sedang tersenyum.

“Jadi apa yang akan kita lakukan, Hyung?”

Ji Hoon tidak langsung menjawab. Dia menoleh lagi ke arah Krystal yang masih berdiri di belakangnya. Gadis itu sudah tidak menangis lagi, tapi perpaduan ekspresi kaget dan sedih masih melekat di wajahnya.

“Nona Jung, menurutmu dengan cara apa kita bisa menyelamatkan kakakmu?”

Gadis itu diam, sama sekali tidak punya ide.

Detektif Jung lalu menoleh kepada Myungsoo yang sudah terlihat sama pucatnya seperti Donghae. “Aku lupa membawa telepon genggamku. Kau membawa milikmu?” tanyanya.

Myungsoo menggeleng pelan, tahu kalau dia membuka mulutnya sedikit saja, dia akan langsung muntah. Aroma kamar ini sungguh membuatnya mual.

“Ka-kalian bisa pakai punyaku,” ujar Krystal sambil mengulurkan sebuah benda tipis berwarna putih.

Detektif Jung menerimanya dan langsung mencari fitur kamera. Setelah mengambil beberapa gambar dalam mode silent dan mengirim gambar itu ke emailnya, dia berkata, “Ayo kita pulang.”

Krystal dan Myungsoo langsung menatapnya dengan pandangan heran, tapi tidak ada satu pun yang berani menentang. Krystal paham detektif itu pasti punya alasan atas keputusan yang diambilnya, sementara Myungsoo masih harus menahan rasa mualnya.

“Kita akan kembali lagi nanti. Aku tidak ingin mengganggu bulan madu mereka,” Detektif Jung kembali bercanda, yang sama sekali tidak ditanggapi oleh dua orang di sampingnya. Pria itu kemudian melangkah menuju pintu keluar, disusul Myungsoo dan Krystal.

***

Detektif Jung Ji Hoon tidak pulang ke rumahnya malam itu. Dia memutuskan untuk tinggal di ruangannya, sendirian. Myungsoo tadi meminta izin padanya untuk pulang lebih awal karena merasa tidak enak badan.

Pria itu menatap tiga lembar foto yang baru saja dia cetak. Dia tahu instingnya tidak akan pernah membohonginya. Sejak awal dia memang sudah mencurigai Jessica sebagai pembunuh Donghae karena dari segi alibi, gadis itu punya alibi lebih lemah dibanding kekasih Donghae yang lain yang ditanyainya. Lolosnya gadis itu dari tes deteksi kebohongan membuat Detektif Jung sempat bimbang. Tapi apa yang dilihatnya tadi di rumah Jessica akhirnya membuat Ji Hoon mengonfirmasi ulang mengenai hasil tes itu kepada beberapa psikolog forensik yang dia kenal. Semua yang ditanyainya sepakat bahwa tes seperti itu tidak mempunyai keakuratan penuh, apalagi jika yang ditanya mempunyai kemampuan kontrol diri yang baik, seorang professional pun bisa tetap tertipu.

Sekarang, ketika dia sudah punya bukti untuk bisa menjerat gadis itu ke penjara, dia malah semakin bimbang. Sejujurnya, dia prihatin pada gadis itu. Mendalami kriminologi selama hampir lima tahun di universitas membuat detektif itu paham bahwa apa yang dilakukan Jessica hanya sebuah bentuk perwujudan cinta yang salah arah. Melihat bagaimana ekspresi gadis itu di dalam foto yang diambilnya tadi, dia tahu betapa Jessica menyukai Donghae. Terlalu besar hingga sampai ke tahap obsesi yang mengerikan. Lihat saja wajah gadis itu yang tersenyum sambil memeluk tubuh tak bernyawa kekasihnya. Dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi sebelum itu—yang dilihat Krystal hingga membuat gadis itu menelponnya tadi.

Ji Hoon mengembuskan napas panjang, menimbang mana yang akan dia dahulukan, sisi romatismenya atau pekerjaannya.

***

Jessica menatap bangga hasil kerjanya. Dia baru saja selesai memandikan Donghae—dengan cairan formalin—dan memakaikan sehelai t-shirt berwarna biru dan celana pendek untuk pria itu.  Dia juga sudah membubuhkan pelembab wajah agar kulit pria itu tampak lebih segar. “Kau tampan,” ujarnya.

Donghae tersenyum, “Semua karenamu.”

Gadis itu kemudian teringat sesuatu. “Aku lupa menyapukan pelembab bibir!” serunya, lalu turun dari tempat tidur dan menuju meja riasnya. Jessica menimbang, kira-kira rasa apa yang cocok untuk pria itu. “Kau suka strawberry atau vanilla?”

“Apa saja, asal jangan mentimun. Itu akan membuatmu enggan menciumku,” canda Donghae.

Jessica menggembungkan pipinya, pura-pura kesal. Bahkan setelah mati pun, pria itu tetap mengejeknya karena tidak menyukai mentimun. Lagipula, produk kecantikan mana yang akan menyediakan pelembab bibir dengan rasa seperti itu. Donghae bodoh, gumamnya.

Gadis itu akhirnya menjatuhkkan pilihannya pada rasa vanilla. Dia kembali ke atas ranjang, duduk tepat di sisi Donghae, dan dengan hati-hati menyapukan pelembab vanilanya ke bibir pucat pria itu. “Sempurna!” ujarnya bangga.

Detik selanjutnya, gadis itu sudah membungkukkan badannya untuk mencium Donghae. Rahang pria itu semakin kaku, jauh lebih kaku dibanding hari-hari sebelumnya. Jessica terpaksa memegang kedua pipi Donghae dan menekannya agar mulut pria itu terbuka, hingga Jessica bisa menelusurkan lidahnya ke dalam mulut Donghae.

“Aku menyusahkanmu. Bahkan untuk menciumku saja kau butuh usaha seperti itu,” Donghae berujar muram setelah Jessica melepaskan ciumannya.

Jessica tersenyum tenang. Dia membelai rambut pria itu dan menjawab tulus, “Tak apa. Aku tidak keberatan. Selama bisa memilikimu seutuhnya, aku akan melakukan apa saja.”

***

Krystal memencet bel rumah Jessica dengan perasaan ragu. Dia merindukan kakaknya. Tapi setelah apa yang dilihatnya terakhir kali, dia jadi takut bertemu dengannya. Kalau bukan karena Detektif Jung tadi menelpon dan meminta bantuannya, dia tidak akan datang ke tempat ini.

Gadis itu memencet bel berkali-kali, dan sama seperti saat dia datang sebelumnya, Jessica tetap tidak membukakan pintu untuknya. Krystal berbalik, menatap putus asa ke arah Detektif Jung dan rekannya yang berdiri di belakangnya. “Mungkin dia keluar,” ujar gadis itu.

Detektif Jung menggeleng. “Aku sudah berada di sini sejak pagi, tapi kakakmu tidak terlihat. Aku yakin dia ada di dalam,” beritahunya.

“Mungkin kau bisa menelponnya dan bertanya dia di mana kalau kau masih ragu pada keterangan kami,” usul Myungsoo. Suaranya terdengar tidak terlalu jelas karena mulutnya tertutup masker. Pria itu memakainya untuk berjaga-jaga agar dia tidak mual lagi seperti sebelumnya.

“Tapi aku—”

“Nona Jung, kami sangat mengharapkan bantuanmu.”

“Kenapa kalian tidak langsung masuk saja? Aku tahu kode kunci rumah ini,” ujar Krystal.

Detektif Jung Ji Hoon lagi-lagi menggeleng. “Melihat kondisi kakakmu, kami khawatir kalau dia akan histeris melihat kami langsung menerobos. Dia bisa saja melakukan tindakan nekad. Tapi kalau kau yang membujuknya, lebih besar kemungkinan dia mau menyerahkan diri.”

Putri bungsu keluarga Jung itu mengembuskan napas panjang, kemudian kembali memencet bel.

***

“Kau tidak berniat membukakan pintu untuk tamumu?” Donghae bertanya pada Jessica yang saat itu sedang membacakan sebuah novel untuknya.

Pagi tadi, setelah memandikan dan merapikan penampilan Donghae, gadis itu mengusulkan untuk membacakan novel untuknya. Donghae tidak keberatan dengan ide itu—dia memang tidak pernah lagi tahu apa arti keberatan sejak Jessica mengakhiri hidupnya. Suara bel terdengar tak lama setelah Jessica membaca bab pertama dari novel yang dipilihnya. Itu berarti, bel itu sudah ditekan setidaknya puluhan kali oleh orang yang sangat ingin bertemu dengan Jessica.

“Mungkin itu penting,” pria itu menambahkan.

“Tapi bagaimana kalau ada yang menemukanmu. Mereka pasti akan memisahkan kita.”

“Sica, kalau kau tidak membuka pintumu, orang yang saat ini berdiri di depan pintu, siapapun dia, pasti akan berpikir telah terjadi apa-apa padamu. Kalau mereka membuka paksa pintumu, itu akan lebih berbahaya bagi kita,” jelas Donghae, yang langsung dibenarkan Jessica.

Gadis itu menutup bukunya dan meletakkan benda itu di nakas di sisi tempat tidur. “Kau ingin aku membukanya?” tanyanya kepada Donghae yang saat itu sedang terbaring di pangkuannya.

Jessica tidak mendapati pria itu mengangguk atau menggeleng apalagi mengucapkan sesuatu untuk menimpali pertanyaannya. Dia memang tidak butuh itu. Baginya, dia dan Donghae sudah menjadi satu kesatuan. Apapun yang dipikirkan pria itu pasti bisa diketahuinya sebelum pria itu mengungkapkannya.

Jessica turun dari tempat tidur. Tangannya yang kurus seolah dipenuhi tenaga yang memungkinkannya menggangkat tubuh Donghae dan menyembunyikannya di dalam lemari. Tidak akan ada yang menemukan Donghae di sini, pikirnya. Dia lalu melangkah ringan menuju pintu dan menemukan adiknya berdiri kaku di depannya.

“Unnie…” cicit Krystal. Jessica tersenyum padanya, memperlihatkan wajah dinginnya yang dulu. Krystal mungkin akan menganggap ekspresi itu normal jika saja kejadian hari sebelumnya tidak pernah dilihatnya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Jessica tertawa melihat ekspresi adiknya. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Wajahmu pucat sekali,” ujarnya. Gadis itu lalu membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Krystal masuk.

Krystal mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah kakaknya, mendapati bahwa rumah ini terlihat terlalu normal. Tidak ada lagi aroma aneh seperti yang kemarin ditemukannya. Dia juga sempat menengok sekilas ke kamar tidur kakaknya—satu-satunya kamar di rumah itu, dan di tempat itu tidak ada tanda keberadaan Donghae. Di atas itu semua, kakaknya juga terlihat baik-baik saja, seolah tidak pernah ada hal buruk yang terjadi.

“Kau bertingkah seolah baru pertama kali ke rumah ini. Mau memperhatikan rumah ini berapa lama lagi?” tegur Jessica. Gadis itu tersenyum.

Krystal tidak tahu harus mengartikannya seperti apa, tapi dia berharap senyuman itu adalah hal yang baik. Gadis itu memutuskan untuk duduk di sebuah sofa yang menghadap ke arah TV, memaksa dirinya sedikit lebih santai dan mengusir jauh-jauh ketakutan yang dirasakannya terhadap kakaknya sendiri. “Kau baik-baik saja, Unnie? Appa dan Eomma mengkhawatirkanmu.”

“Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?

“Kau tahu..,” Krystal berusaha menjelaskan maksudnya, tapi kesulitan menemukan kata yang tepat untuk mengungkapnya. Akhirnya dia membiarkan kalimatnya tadi menggantung begitu saja.

Jessica tersenyum lagi. Gadis yang usianya lebih tua beberapa tahun dari Krystal itu tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya. Dia memilih melangkah ke dapur, “Kau mau minum apa?” teriaknya.

“A-apa saja, Unnie.”

Jessica kembali dengan dua kaleng minuman di tangannya. Dia memberikan satu kepada Krystal, sedangkan satunya lagi langsung dia buka. Mereka duduk berdampingan di sofa itu beberapa lama tanpa satu pun yang berbicara. Minuman milik Jessica bahkan sudah habis, tapi Krystal masih menggenggam miliknya tanpa menenguknya sama sekali.

Jessica bosan, karena itu dia bertanya, “Krystal Jung, sebenarnya apa tujuanmu ke tempat ini? Kau datang bukan karena khawatir padaku, bukan?”

Gadis yang ditanya itu tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu sebenarnya diucapkan Jessica dengan nada bicara sinisnya yang seperti biasa, tapi itu membuat Krystal semakin takut. Dia tahu dia tidak seharusnya merasakan itu. Jessica adalah kakaknya, dan dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa kakaknya itu tidak akan menyakitinya. Tapi perasaan takut itu tidak juga bisa hilang dari pikirannya. Akhirnya gadis itu menangis.

Jessica terkejut melihat adiknya tiba-tiba menangis. Jessica mendekatinya dan langsung merangkul gadis itu untuk menenangkannya. “Ssst, tenanglah… Kenapa kau menangis? Kau terlihat aneh sekali hari ini,” ujarnya menenangkan. Dia mengelus lembut rambut Krystal dan menambahkan, “Ceritakan padaku, kenapa kau seperti ini.”

Saat masih kecil, Krystal pernah merusak mainan kesukaan kakaknya hingga Jessica menangis. Ketika Krystal akhirnya bercerita padanya dan meminta maaf, Jessica memaafkannya dan tidak pernah mengungkit hal itu lagi. Sejak itulah Krystal yakin bahwa kakaknya menyayanginya lebih dari apapun. Jessica memang tidak pernah mengatakan apa-apa, tapi Krystal tahu itu.

Maka Krystal memutuskan untuk melakukannya lagi—mengakui semuanya. Dia menceritakan apa yang dia lihat, apa yang dia tahu, apa yang dia rasakan, dan apa yang diucapkan Detektif Jung padanya. “Unnie, kita bisa mencarikan dokter terbaik untukmu,” bujuknya.

Jessica melepaskan pelukannya dan menatap adiknya dengan dingin. “Aku tidak butuh dokter, Krystal,” ujarnya.

“Tapi Unnie…”

“Aku. Tidak. Butuh. Dokter.”

“Unnie,” Krystal lagi-lagi berusaha membujuk kakaknya.

Tapi gadis itu tidak sempat mengutarakan bujukan selain yang diucapkannya pertama kali. Jessica sudah lebih dulu histeris. Dia mencekik Krystal dan berulang kali mengucapkan, “Aku tidak butuh dokter!”

***

Detektif Jung Ji Hoon dan rekannya, Kim Myungsoo, langsung menerobos ke dalam rumah Jessica setelah mendengar suara teriakan.

Sebelum Krystal masuk tadi, dia memang sudah menyiapkan langkah antisipasi kalau-kalau apa yang ditakutkan Krystal benar terjadi. Ji Hoon menghubungi nomor Krystal dan membiarkan hubungan telepon mereka tetap tersambung hingga semua percakapan antara Krystal dan kakaknya bisa dia dengar. Meski awalnya dia sempat merasa tindakan itu berlebihan, tapi sekarang dia mensyukuri keputusannya. Dia dan Myungsoo langsung berlari ke arah Jessica yang sedang mencekik adiknya sendiri dan menarik gadis itu agar melepaskan cengkramannya di leher adiknya.

Tubuh Jessica mungkin kurus, tapi dia punya tenaga yang cukup besar. Butuh waktu lama agar kedua detektif itu bisa membebaskan Krystal. Myungsoo membantu gadis itu berdiri, sementara Jessica masih terus meronta-ronta.

“Lepaskan aku, Bajingan!” Jessica berteriak sambil berusaha melepaskan dirinya dari pegangan Detektif Jung.

Krystal hanya menangis melihat keadaan kakaknya. “Unnie…,” lirihnya.

“Gadis gila! Kau sudah membunuh kekasihmu, sekarang kau ingin membunuh adikmu sendiri? Apa kau tidak punya hati?” cerca Myungsoo. Pria itu tidak habis pikir bagaimana mungkin gadis yang terlihat normal seperti ini bisa melakukan begitu banyak hal mengerikan.

Jessica tidak mempedulikan perkataan pria itu. Dia terus berteriak minta dilepaskan.

Detektif Jung, meski kesulitan memegangi Jessica yang seperti bisa lepas darinya kapan saja, segera memberi isyarat agar rekannya itu berhenti memaki Jessica dan mulai mencari di mana gadis itu menyembunyikan mayat Donghae.

Teriakan Jessica makin menjadi saat Myungsoo masuk ke kamarnya. Saat itu, kekuatan menghampirinya entah dari mana. Ketika akhrnya dia berhasil meloloskan diri dari Detektif Jung yang memeganginya sekuat tenaga, gadis itu berlari ke kamarnya dan langsung menerjang Myungsoo yang sedang berusaha mengeluarkan mayat Donghae dari lemari.

“Lepaskan dia, Bajingan!” teriak Jessica saat mendorong detektif muda di depannya hingga pria itu terjatuh ke lantai.

Mereka akan memisahkan kita, Sica,” Jessica mendengar Donghae berujar lirih padanya.

Gadis itu segera menghampiri Donghae dan memeluknya. “Tidak akan, Hae. Tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan kau meninggalkanku.”

Detektif Jung Ji Hoon dan Krystal yang juga sudah berada di kamar itu langsung menatap Jessica dengan pandangan aneh. Krystal masih menangisi keadaan kakaknya, sementara kedua detektif itu saling bertukar pandang. Myungsoolah yang lebih dulu bersuara, “Ck, kau benar-benar parah, Nona. Tidak hanya menyimpan mayat kekasihmu, kau juga berbicara padanya?”

Jessica tidak menghiraukan cibiran detektif itu. Dia lebih memilih membelai sisi wajah pria itu dan berujar pelan, “Jangan pedulikan mereka, Hae. Mereka tidak bisa mendengarmu.”

Detektif Jung Ji Hoon merasa iba melihat adegan di depannya. Dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari profil gadis itu hingga tahu bahwa dia seharusnya mengasihani Jessica, bukan memperlakukannya sebagai seorang penjahat berbahaya. Gadis itu memang sejak dulu pendiam, tapi dia bukan orang yang berbahaya. Detektif  itu tidak tahu apa yang telah terjadi sampai Jessica bisa seperti ini. “Nona Jung, sadarlah… Dia sudah mati. Kau sendiri yang membunuhnya, bukan? Lepaskan dia. Biarkan mayatnya mendapatkan perlakuan yang layak,” ujarnya berusaha berkompromi.

“Dia tidak mati, Bodoh! Aku tidak membunuhnya. Aku hanya memisahkan dia dengan kekasihnya yang lain.”

Myungsoo tidak sesabar seniornya. Myungsoo tidak berbagi pemahaman yang sama dengan seniornya mengenai kasus Jessica. Bagi pria itu, Jessica adalah orang yang berbahaya dan tidak patut dikasihani. Mendengar ucapan gadis itu barusan semakin menambah keyakinannya.

Pria itu segera mengeluarkan pistolnya dan menodongkan benda itu kepada Jessica yang sedang bersimpuh memeluk tubuh tak bernyawa kekasihnya. “Hentikan omong kosongmu, Nona. Kuperingatkan untuk yang terakhir kali, lepaskan dia dan serahkan dirimu, karena kalau tidak, kami akan mengambil jalan kekerasan.”

Ji Hoon dan Krystal memandang Myungsoo dengan tatapan kaget. Ji Hoon tidak bisa menyalahkan tindakan hoobae-nya itu, tapi dia merasa itu adalah tindakan yang terlalu tergesa-gesa. Sedangkan Krystal, gadis itu hanya bisa diam menyaksikan semua yang terjadi di depannya. Dia tak tahu lagi apa yang benar dan apa yang salah. Dia hanya berharap kakaknya akan baik-baik saja.

Yang selanjutnya terjadi adalah Jessica yang mendadak panik melihat Myungsoo menodongkan pistol ke arahnya. Gadis itu menerjang Myungsoo yang sama sekali tidak menyangka Jessica akan seberani itu. Detik berikutnya, suara letusan peluru terdengar.

Krystal berteriak histeris melihat darah yang bercucuran ke lantai. Gadis itu masih sempat menyaksikan Detektif Jung menghampiri hoobae-nya dan Jessica, sebelum ketidaksadaran menelannya.

***

4 tahun kemudian

Tanah di area pemakaman itu masih basah karena hujan yang baru saja berhenti turun ketika Krystal berjalan menuju sebuah makam sambil membawa sebuket bunga lili. Dia meletakkan bunga tersebut di atas nisan bertuliskan nama orang yang sangat dikenalnya. Gadis itu tersenyum tipis, menirukan pose orang yang fotonya terpampang di nisan itu.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya pada orang di foto itu.

Krystal tidak tahu apakah yang baru saja dilakukannya itu konyol atau malah gila. Dia pernah merasa kakaknya melakukan hal aneh karena berbicara pada mayat kekasihnya. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? Berbicara pada nisan. Tidakkah itu sama anehnya?

Hari ini tepat 4 tahun berlalu sejak kematian orang yang namanya tertulis di nisan itu, tapi baru kali ini Krystal menemukan keberanian untuk datang langsung.

“Kau mungkin tidak ingin mengetahui ini, tapi aku merasa ingin bercerita padamu. Banyak hal terjadi setelah kau pergi,” ujarnya lagi.

Gadis itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Kau tahu, karena kejadian hari itu, Detektif Kim Myungsoo dikeluarkan dari divisi kriminal dan dipindahkan ke bagian lalu lintas. Dia bahkan dikenai sanksi tidak boleh memegang senjata api selama setahun oleh komisi disiplin kepolisian. Detektif Jung juga mendapat hukuman karena membiarkan penembakan itu terjadi. Tapi hukumannya tidak seberat detektif Kim. Dia hanya diskors selama beberapa bulan.”

Dia menghentikan ceritanya untuk sesaat, tiba-tiba teringat sesuatu yang menurutnya penting. Gadis itu tidak yakin apakah harus menceritakan ini di depan makam Donghae. Mungkin dari alamnya sana, pria itu sudah tahu apa yang terjadi. Mungkin juga pria itu sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi. Tapi pada akhirnya, Krystal tetap berujar, “Wanita yang dulu ingin kaunikahi sudah menikah dengan pria lain tidak lama setelah kau meninggal. Dia yang kaupilih melebihi kakakku, ternyata hanya sedangkal itu perasaannya padamu. Dia melupakanmu secepat angin berlalu. Kau tahu, aku mungkin akan berdosa karena mengatakan keburukanmu padahal kau sudah meninggal, tapi Oppa, menurutku kau bodoh telah menyia-nyiakan kakakku yang begitu mencintaimu.”

Krystal ingin melanjutkan ceritanya, namun terdiam dulu untuk beberapa saat. Ini adalah bagian tersulit untuk diceritakan.

“Sica unnie sempat mengalami koma selama beberapa hari akibat penembakan waktu itu, tapi akhirnya dia sadarkan diri. Orang pertama yang dia tanyakan ketika sadar adalah dirimu. Kau seharusnya melihat bagaimana dia menangis dan menjerit histeris saat kami beritahu tentaang keadaanmu,” kenang Krystal. Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian itu.

“Sekarang Unnie sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit jiwa di Seoul. Dokter bilang mentalnya terganggu karena mengalami sesuatu yang mengejutkan dan tidak bisa diterimanya. Aku tidak tahu sesuatu itu tepatnya seperti apa, tapi kutebak itu pasti berhubungan denganmu.”

“Aku menjenguknya hampir setiap minggu, dan tidak pernah menemukan perubahan berarti padanya. Dia masih terus mengingatmu dan histeris setiap kali dokter mengatakan kau sudah meninggal. Dia bahkan pernah beberapa kali mencoba bunuh diri,” tambahnya. Gadis itu merasakan cairan bening merembes ke pipinya. Dia selalu seperti itu tiap kali mengingat keadaan kakaknya.

Krystal mengapus lelehan air mata itu dengan telapak tangannya lalu berkata, “Kau akan memaafkannya kan, Oppa?”

Semilir angin yang berhembus membuat Krystal tersenyum. Dia tahu ini konyol, tapi dia memilih mengartikan itu sebagai sebuah jawaban ya.

“Aku akan datang lagi suatu hari nanti. Ketika kakakku sudah sembuh, aku yakin tempat pertama yang ingin didatanginya adalah makam ini. Dan Oppa, aku berharap itu tidak lama lagi.”

The End

A/N: Ada alasan kenapa saya sudah menuliskan genre seperti dark romance, psychology, dan smut sejak part 1. Saya anggap itu sebagai hint agar pembaca bisa membayangkan seperti apa cerita ini akan berakhir, jadi tolong jangan timpuk saya karena ending ceritanya spt ini *melipir ke belakang Donghae*

Kalau ada yang masih bingung, sejak awal cerita Donghae memang sudah mati. Saya sudah berusaha memberi kesan itu dengan menggambarkan dia yang hanya berbaring dan tersenyum di tempat tidur (biarpun sepertinya deskripsi saya masih gagal untuk membangun kesan itu). Selain dialog Donghae di flashback, percakapan mereka cuma salah satu bentuk kegilaan Jessica.

Anyway, terima kasih buat LittleRabbit dari Indo FF Arts untuk poster kece ini 🙂

Advertisements

14 thoughts on “[Part 2 of 2] Mine: The Crazy Lover

  1. Aaaaaa aku gapernah nyangka kalo ternyata donghae itu udh meninggal ya ampunn hhaha aku kira mereka bneran menikah bneran wkwkwk dan di part 2 ini bakalan lebih so sweet trnyataa jederrrr wahahaha daebaaakkk ka.. kejutan bgt aku blm pernah baca ff kayak gni .. kereeennn 🙂 kalo soal genre aku ga baca wktu part awal hahaa kayaknya kelewat :p

    Kasian sica ampe stress 😦 sedih banget liatnya .. tp ttp aja haesica romantis yaa wkwkkwk 😀
    Baguss kaa suka bgt ff kaka ceritanya kereenn ^^
    Stlah kasus jessica kk bakalan buat ff haesica lg ga? Buat lg dnk ka hehe aku fans berat couple itu nih ama yoonwon jg walaupun yoona nya udh taken haha ttp aja ngeshipp mereka 🙂

    Share ff haesica lg yaa ka .. bahasa kk enak dibaca sih soalnya hehe ditunggu yaa ka.. fighting 😀

    1. syukur deh kalo kamu ga kecewa2 amat baca chapter dua nya. aku rada ragu sih ngepublish ini, pertama krn gosipnya tylersica, kedua krn pas baca kometlntar di part sebelumnya, kayaknya semua ngarep part duanya bakalan sama romantisnya. otakku terlalu nyeleneh utk bikin ff yg pure sweet. haha… ff haesica mungkin bakalan ttp ada. mungkin.
      sekali lg makasih udah mau baca dan ninggalin komentar, ya 🙂

  2. Aku gak nyangka trnyata donghae udh meninggal..diawal crita aku udh sng bgt ngeliat pengantin baru..ditengah mulai kesel krna donghae cm mainin jessica aja..dibaca sampe ke bwh aku schock bgt sumpah..aku gak tau mau blg apa yg pasti author daebak bgt..critanya gak bisa ditebak..ancungi dua jempol..ya wlwpun endingnya miris bgt sih tp ttp keren bgt sumpah..ditunggu ff haesica lainnya yg gak kalah bgus dg ff ini tp klo bisa happy ending ya eonn 😀

  3. good job buat author… sumpah alur ni bner2 gk kbyang,ending yg tk trkesan & bkin histeris, acungi jmpol dehc sm author…mgkin part awal kita akn mkir ni adlah crita yg mmbhagiakn tp diakhir tryta sad,nah klau dfkir2 diawal sbnarnya donghae udh bgi tnda tp kita blum bs mkir akn hal akhir gmn…nah smpai diakhir tjuan crita itu bkin shock abies…is great.
    smg karya2 mu mnjdi yg trbaik,& smg kmu gk brhenti buat ff haesica, cpa yyg prcy akn tkdir ; mn tau ni mlah jdi jlan mreka, bukan jessica sbg snsd lg & bukan sbg artis yg tdk boleh mnikah… tp sbg jessica jung & tdk ada lrgngan mnikah…
    smg j kduanya ttap brhubungan baik didunia nyata…
    stidaknya q positive klau mreka prnh mnjalin sbuah hbungan khusus… & itu mnjdi kngan yg tkkan trlupkn utk kduanya.
    ditgu karya2 mu lg…ttep smgan y thor fighting!!!!!!!!!

  4. Hallo aku reader baru d sini. Wahh crta nya d luar dugaan nih. Kekekee berasa nntn film aku jd’a. Fantasi aku pas bc ini ff lgsg ke mana”. Hahaa kereeen deh. 😀 aku mau liat ff yg lain’a yahh. Terimakasih seblmnya dan salam kenal. ^^

  5. Gw dari awal rada2 aneh plus bingung kook donghae kayanya ga terlalu bnyak omongannya . Dan past baca part 2 nya kaget si tp udh ada pemikiran ky gtu jg dari awal . Hadooh cerita lo emng sulit di tebak haha

    Tylersica ?? Hadeh thor ini blm tentu benerkan ?? Jessica or tylernya blm confrim . Mudah2an aja mreka cm rekan kerja aja . Amin

    Cukup jessica keluar aja tp jgn smpe ama tuh cowo , ga setuju gw haha

    1. haha.. kayaknya emg ga ada yg setuju kalau Sica sama Tyler bener jadian. kita liat aja nanti perkembangannya gimana. kalaupun emg bener (pernah) pacaran, mereka jgn sampe jadi nikah.

      1. Amin amin amin amin amin , klopun pernah pacaran tp jgn smpai nikah amin amin amin hahaha

        Gw lebih iklas dia donghae , kris , jaejong , taecyeon dah walaupun gw kaga demen taecyeon tp seenggaknya dia ga bawa perngaruh buruk untuk jessica . .

        Tetep bkin ff haesica ya gw suka gaya tulisan lo noona 🙂

  6. gatau mau bilamg apa. ini ff angst terkeren yang pernah aku baca wuaaaaaaah. dan aku baru paham dipart awal kalau jessica dan donghae menikah itu ternyata dgn keadaan donghae yg sdh mati. dan aku kira myungsoo bakal bareng krystal wakakak. tetep nulis fic haesica ya kak. J!♡

  7. Maaf baru komen disini.
    Chapter 1 emang bikin gemessh ya. Flashbacknya dikemas dengan baik sampe bahkan ga sadar kalau itu yang di ajak ngobrol adalah mayat -.-
    Dan di chapter 2, mulai ngerti lol
    Kesian banget liat Jessica, belum bisa move on bahkan menjadi gila gegara bajingan itu..
    Ugh. Kesel banget sama Donghae disini, good job author-nim 🙂
    Fighting ^^

  8. Ini udah aku bookmark sejak lama, tapi baru sempat dibaca sekarang dan ya ampun! bisa2nya kamu kak bikin ff kayak gini >< aku jelas bukan satu2nya yang gemes baca part 1 dan ngarep kalo di part 2 ini semuanya akan sama romantisnya. apalagi sampe diprotect segala. kan jadi mikir bakal ada adegan romantis ala pengantin baru. hahaha…
    aku gak tahu mesti sebel sama kamu apa sama donghae, karena gila, dia nyebelin abis di sini, sampe bikin jessica kayak gitu. kalo dipikir2, emang iya sih, jessica kan orangnya diceritain tipikal pendiam gitu. dan kecenderungannya, sejauh yang aku tau, orang pendiam emang kadang bisa jadi "berbahaya". ah, pokoknya ini keren deh. terus nulis ya kak! aku suka banget sama gaya penulisan kakak. rasanya tipe aku banget. kata2nya ga terkesan lebay dan pengetikannya juga rapi. dialognya mengalir mulus banget, jadi perpidahan antar scene jadi ga berasa patah. sekali lagi makasih ya kak udah nulis ff ini. ini mungkin ff haesica terbaik yang pernah aku baca. xoxo.

  9. Kok bisa kayak gini? Di part pertama manisnya kebangetan, tapi ternyata si part kedua dijelaskan kalau semua hal manis di part pertama cuma kebahagiaan semu. Kasian jessica sampe kayak gitu. Tapi authornim, apa kamu gak kasihan sama readermu yg ketipu mentah2 abis baca ffmu? 😂😂😂

  10. ini tuh keren banget!! dari yg awalnya berbunga-bunga liat jessica “terjatuh” sampe akhirnya trrbengong-bengong pas tau kalo donghae ternyata udah mati.

    aku langsung teringat perasaan tertipu yg sama spt yg aku rasain pas baca gone girlnya gillian flynn. ceritanya gak persis sama sih, tp jungkir balik feelnya itu lho. you did a great, great job!

    dilihat dr adanya rain sama myungsoo keliatan kalo ff ini ditulis pas authornya lg ngikutin my lovely girl. trus di part awal ada byk moment kaistal juga. aku jd bertanya2 sehun di mana. biasanya sehun sm krystal selalu sepaket kalo di blog ini 😀

    1. wah, kalo dibandingin gone girl, level twist tulisanku gaak ada apa-apanya. but again, terima kasih udah membaca. dan bener bgt, tulisan ini dibuat pas aku lg nonton my lovely girl dan waktu itu aku msh open bgt sm pairingnya krystal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s