meltingtheiceprincess_heerinssi

Title: Mine (Melting The Ice Princess)

Author: nchuhae

Main Cast: Jessica Jung, Lee Donghae

Support Cast: Krystal Jung, Kim Jongin

Length: Twoshots 

Rating: PG-13

Genre: drama, (dark) romance, psychology, smut

A/N: It might be a long and boring story. Latar waktu tidak beraturan, flashback di mana-mana. The cute and beautiful poster belongs to heerinssi 🙂

***

Jessica memandang pantulan dirinya di cermin setinggi badan dalam kamar tidurnya sambil tersenyum cerah. Sejak tadi gadis itu tidak berhenti mengagumi kecantikannya sendiri. Orang bilang, semua wanita akan terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin. Jessica membenarkannya. Bukan tatanan rambutnya yang membuatnya terlihat elegan, juga bukan sapuan make up di wajahnya yang membuatnya terlihat menarik. Gaun pengantin putihnyalah yang membuat dia merasa sangat cantik.

Dia terbiasa mendengar adiknya berkata bahwa ia cantik, bahwa dengan wajahnya yang dingin itu, dia bisa meluluhkan banyak pria. Tapi dia baru benar-benar menyadari kebenaran kata-kata itu hari ini. Dalam 26 tahun hidupnya, tidak pernah sekalipun dia merasa seperti ini sebelumnya, seolah dunia berputar untuknya.

Gadis itu masih menyempatkan diri untuk mematut diri beberapa menit lebih lama di depan cermin sebelum akhirnya membalikkan badan demi mendapati seorang pria yang memakai tuxedo putih berbaring di atas ranjang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jessica melemparkan senyum pada pria itu dan bertanya, “Aku cantik, kan?”

Jessica sedikit terkejut oleh kenyataan bahwa dia mengucapkan pertanyaan itu dengan nada ceria. Sejak kapan sikap dinginnya menghilang? Ah, tentu saja sejak pria itu masuk ke dalam kehidupannya.

Pria itu tidak mengeluarkan suara apa-apa untuk menjawab pertanyaan Jessica, tapi bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum manis, senyum yang sama yang telah mencairkan es di hati Jessica.

Gadis itu tersenyum semakin lebar, karena meski dia tidak mendapat jawaban verbal, sebuah senyum dari pria itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya semakin berbunga. “Aku tahu aku cantik,” ujarnya.

Dia menatap cermin sekali lagi, mempertimbangkan apakah sebaiknya dia mempertahankan tatanan rambutnya sedikit lebih lama ataukah membiarkan saja helaian-helaian ikal itu terurai bebas sampai ke punggungnya. Kira-kira pria itu lebih suka dia seperti apa?

Kau cantik dengan penampilan seperti apapun.

Jessica teringat ucapan pria itu beberapa waktu lalu. Masihkah itu berlaku sampai sekarang?

Kau tahu, Sica, kau boleh meragukan semua kebenaran di dunia ini. Tapi kalau itu memang harus terjadi, hal terakhir yang harus kau ragukan adalah aku. Semua yang aku ucapkan padamu adalah kebenaran, dan itu berlaku selamanya.

Ah, pria itu memang selalu pandai bermain kata.

Pada akhirnya, Jessica memutuskan untuk melepas sejumlah jepit rambut yang membentuk rambut cokelatnya menjadi sebuah sanggul sederhana. Ketika rambutnya sudah terurai bebas, dia melakukan gerakan berputar yang anggun, berharap pria itu akan memujinya kali ini, bukan hanya sekedar tersenyum seperti tadi.

Tapi pria itu masih tetap diam di posisinya semula.

Jessica mendengus kesal. Dia tidak benar-benar kesal, tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa merasa kesal pada pria itu? Dia hanya ingin berakting imut. Pria itu selalu bilang dia terlihat paling imut saat sedang kesal. Cheesy, memang. Tapi entah kenapa dan bagaimana, Jessica selalu menelan mentah-mentah semua ucapan pria itu.

Gadis itu kemudian memilih menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, persis di samping pria itu. Melihat mata pria itu terpejam, Jessica tahu kalau dia sedang tertidur. Tentu saja, setelah semua hal melelahkan yang harus mereka lewati, wajar jika pria itu tertidur. Jessica juga sebenarnya merasakan hal yang sama, tapi kobaran rasa bahagianya mengalahkan semua lelah yang menjangkiti tubuhnya.

Dia memilih menunggu pria itu bangun sambil menatap wajah tenangnya saat tertidur. Menopangkan tubuh di satu lengannya, Jessica memperhatikan lekuk-lekuk wajah sang pria—suaminya. Dan saat itu, sepercik kenangan tiba-tiba muncul kembali di ingatannya.

***

Sejak kecil, Jessica tidak pernah pandai bergaul. Dia terlihat membenci semua hal; keluarganya, orang-orang yang berusaha menjadi temannya, bahkan dia terlihat membenci dirinya sendiri. Kenyataannya, dia hanyalah seorang gadis yang tidak begitu tahu cara mengekspresikan apa yang dirasakannya. Dia tetap merasakan bahagia saat orang tuanya memujinya, saat adiknya mengungkapkan kekaguman akan dirinya, atau saat orang lain menyanjung kecantikannya. Tapi Jessica adalah orang dengan ketakutan yang berlebih dan kadang tidak beralasan. Dia takut menanggapi semua itu dengan cara yang salah, maka dia memilih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Tumbuh dewasa, dia terbiasa dengan hal itu. Dan orang pun mulai lelah menunjukkan perhatian padanya. Dia tumbuh sebagai pribadi yang dingin, yang membuat orang enggan mendekatinya. Hanya orang-orang tertentu yang berusaha menjadi temannya, tapi mereka tidak pernah ada yang cukup gigih untuk itu.

Di sisi lain, adiknya tumbuh menjadi gadis muda dengan wajah yang sama cantik dengannya, tapi dengan pribadi yang jauh lebih hangat. Dia mendapatkan semua perhatian, sementara Jessica semakin tenggelam dalam dunianya yang dingin.

Jessica kesepian. Tapi tidak ada yang tahu itu. Tidak ada yang pernah ingin tahu. Dan dia juga tidak pernah membiarkan orang lain tahu.

“Kau tahu, kau harus ikut ke luar bersamaku sekali-sekali,” ujar adiknya, Krystal, suatu malam.

Jessica mendongak dari buku yang saat itu sedang dipengangnya, dan mendapati adiknya dalam balutan gaun malam berwana merah yang menurut Jessica terlalu terbuka untuk dikenakan seorang gadis seumuran adiknya. Dia akan ke pesta salah seorang teman prianya, Jessica menduga.

Sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan, Jessica kembali menatap halaman penuh kata di genggamannya, hendak meneruskan bacaannya. “Aku tidak terlalu suka dikelilingi banyak orang,” katanya.

Krystal biasanya akan langsung menyerah jika kakaknya menjawab seperti itu, tapi kali ini berbeda. Gadis yang lebih muda itu mengulurkan tangannya, berusaha meraih lengan Jessica yang sudah mulai larut dalam bacannya. “Unnie..,” rengeknya.

Sekali lagi Jessica menghentikan kegiatan membacanya. Dia tahu Krystal bukan tipikal gadis yang suka merengek. Mendengar apa yang baru saja dilakukan adiknya, Jessica berkata, “Ceritakan padaku siapa pria yang pestanya akan kau datangi ini.”

Seketika wajah Krystal bersemu merah. Kakaknya memang selalu tahu semua hal tanpa dia harus berpanjang-lebar menjelaskan. Adalah Kim Jongin, seorang sunbae-nya di kampus, yang sedang mengadakan pesta di sebuah klub terkenal di kota tempat mereka tinggal. Krystal menyukai pria itu dan selalu berusaha mengesankannya setiap kali ada kesempatan. Malam ini kesempatan terbaik yang mungkin bisa didapatkannya akhirnya datang. Jongin menyukai wanita elegan, dan dengan gaun yang dikenakannya sekarang, dia tahu pria itu tidak akan menolak untuk menatapnya lebih lama dari biasanya.

Jessica mengenal orang tuanya. Mereka tidak pernah mengekang dirinya atau adiknya, tapi mereka tetap punya batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dari sekedar melihat saja, semua sudah tahu bahwa Krystal akan pulang larut—mungkin juga dia tidak akan pulang malam ini. Itulah kenapa dia harus ikut, agar orang tuanya yakin bahwa anak bungsu mereka tidak akan melakukan hal di luar batas.

Kalau ada seseorang yang sangat dia sayangi di dunia ini, maka itu adalah adiknya. Jessica mungkin tidak bisa mengungkapkannya lewat perbuatan yang hangat seperti pelukan atau semacamnya. Dia selalu melakukan semua hal dengan caranya sendiri.

Gadis itu menutup bukunya, tidak lupa menandai halaman yang terakhir dia baca, kemudian bertanya, “Kau keberatan menunggu setengah jam?”

***

Sudah hampir dua jam Jessica menunggu suaminya terbangun dari tidur lelapnya, tapi pria itu belum juga menunjukkan tanda bahwa dia akan bangun dalam waktu dekat. Jessica bosan, iya. Tapi gadis itu selalu punya cara mengusir rasa bosannya. Dia sekarang sedang asyik bersandar di kepala tempat tidur, sementara tangannya asyik menelusuri objek favoritnya: wajah lelap pria itu.

Ada percikan rasa ragu dan malu ketika dia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir pria itu. Rasanya dingin. Pasti karena hujan yang mengucur deras di luar sana, pikir Jessica. Gadis itu menggeser tubuhnya lebih dekat dan dengan hati-hati mengangkat kepala pria itu hingga ia tertidur di pangkuan Jessica. Penuh sayang, dia mengelus rambut pria itu dan berharap hujan turun lebih lama. Dia bisa membayangkan betapa romantisnya memadu kasih bersama pria yang sekarang sudah menjadi suaminya ini di tengah terpaan dingin karena hujan.

Hujan. Itu mengingatkannya pada saat mereka pertama kali bertemu.

***

Pesta Kim Jongin mungkin adalah pesta paling meriah yang pernah didatangi Jessica. Dia memang tidak pernah mengikuti begitu banyak pesta untuk dijadikan pembanding yang sepadan. Sepanjang hidupnya, dia hanya menghadiri pesta jika dipaksa oleh orang tuanya, dan itu jumlahnya hanya hitungan jari. Tapi bagi Jessica, itu sudah cukup baginya untuk menentukan tolak ukur seperti apa sebuah pesta yang meriah.

Dia bisa melihat tempat ini disesaki oleh wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Bartender yang mencampur minuman dengan atraksi yang mengagumkan, disc jockey yang memainkan lagu sebagai pengiring gerak orang-orang di lantai dansa, pelayan yang mondar-mandir menyajikan makanan, tamu yang semuanya berpakaian bagus, dan tentu saja sang pemilik acara.

Pria itu menyapa mereka tak lama setelah mereka melangkahkan kaki memasuki tempat ini. Jessica bisa melihat bagaimana ekspresi kagum pria itu melihat penampilan adiknya malam ini. Mungkin itulah alasan kenapa dia langsung mengajak Krystal turun bersamanya untuk bergabung dengan tamu lain yang sudah sibuk meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti irama musik. Krystal melempar tatapan kepada Jessica, meminta persetujuan sebelum memutuskan akan menyambut uluran tangan Jongin atau tidak. Dan Jessica terlalu menyayangi adiknya hingga tidak sanggup melarangnya. Dia datang memang bukan untuk melarang gadis itu mendapatkan kesenangannya, bukan?

“Aku akan menunggumu di sana,” kata Jessica sambil menunjuk sebuah bangku kosong di dekat bartender.

Krystal masih sempat tersenyum penuh terima kasih padanya sebelum akhirnya dia menerima ajakan Jongin dan membaur di tengah kerumunan orang.

***

Jessica tidak punya pengalaman dengan minuman beralkohol, karena itu saat ditanya ingin memesan apa, dia hanya melirik seorang pria asing yang duduk tidak jauh dari tempatnya dan berkata, “Berikan aku minuman yang sama seperti pria itu.”

Bartender di depannya mengangguk paham, kemudian berbalik dan larut dalam kegiatannya mencampur cairan-cairan yang tidak dimengerti Jessica.

Gadis itu tidak pernah menyukai dunia malam. Kalau bukan karena Krystal, dia tidak akan pernah berpikiran untuk menginjakkan kaki di tempat bising seperti ini.

“Sendirian?” sebuah suara maskulin terdengar olehnya.

Jessica menoleh ke arah sumber suara, yakin bahwa pertanyaan tadi ditujukan untuknya. Dia kemudian mendapati pria asing yang tadi dia ‘contek’ minumannya kini sedang duduk tepat di samping gadis itu.

“Bukan urusanmu.”

Dia tidak sedang bermain jual mahal seperti yang mungkin banyak dilakukan gadis lain. Dia mengucapkan itu karena dia adalah Jessica. Sudah cukup baginya harus datang ke tempat ini demi menemani Krystal. Dia tidak ingin semakin mengusik kesendiriannya dengan meladeni pria tidak dikenal. Lagipula, dia sudah cukup tahu ke mana pertanyaan seperti itu akan berujung, dan Jessica merasa jijik dengan hanya membayangkannya. Oh, dia mungkin akan melakukan itu nanti. Dia pasti melakukannya. Tapi tidak dengan orang asing.

“Jongin adalah sepupuku,” kata pria itu.

Bukan urusanku! umpat Jessica dalam hati.

“Aku baru kembali dari Shanghai sore ini,” kata pria itu lagi.

Kau sedang berusaha pamer padaku bahwa kau baru saja bepergian ke luar negeri?

“Kalau bukan karena dia adalah sepupu kesayanganku, aku pasti akan lebih memilih tidur dibanding datang ke tempat ini,” dia masih terus bercerita.

Dan hubungannya denganku adalah?

“Kau teman Jongin? Atau mungkin salah satu pemujanya? Dia memang punya pesona yang bisa membuat banyak wanita tergila-gila.”

Itulah yang terjadi pada adikku.

Pria itu terus bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaannya sebagai fotografer, anjing-anjing peliharaannya, sampai pada kesukaannya akan laut dan hujan. Dia bahkan sempat-sempatnya menjelaskan siklus air kepada Jessica; bagaimana air di lautan menguap dan terhimpun di awan, lalu turun menjadi hujan.

“Hujan itu adalah peristiwa yang mengagumkan!” serunya.

Jessica mendengar cerita pria itu, tapi tidak punya keinginan untuk menunjukkan ketertarikan apalagi menanggapinya meski hanya satu kata. Dia lebih asyik memainkan jari di ujung-ujung gelasnya, mengaduk minuman itu dengan menggoyang-goyangkan gelasnya dalam gerakan memutar, dan sesekali mengawasi Krystal yang masih asyik menikmati kebersamaannya dengan Jongin. Jessica beberapa kali mendapati Jongin memberinya minuman dan meraba tubuh gadis itu, tapi Krystal terlihat tidak keberatan, jadi Jessica menahan diri untuk mengajak adiknya segera pulang.

“…sesuatu yang menyenangkan.”

Jessica mendengar potongan kalimat itu, sedikit tidak percaya pria ini masih belum menyerah mengajaknya berbicara. Dan hal menyenangkan apa yang baru saja pria itu bicarakan?

Bukan urusanmu, Sica!

Gadis itu meraih tas tangan yang dibawanya dan mengambil telepon genggamnya untuk melihat jam. Pesta ini mungkin akan berlangsung sampai pagi, tapi dia dan adiknya harus pulang sebelum malam terlalu larut kalau tidak mau orang tuanya marah.

Jam saat itu menunjukkan lewat tengah malam, dan itu berarti sudah dua jam mereka di sini. Jessica memutuskan membiarkan Krystal bersenang-senang beberapa saat lagi sebelum mengajaknya pulang.

Pria di samping Jessica masih sibuk bercerita. Masih tentang hujan. Kali ini dia menceritakan pengalamannya memotret saat hujan deras di kawasan wisata di Kyoto, bagaimana modelnya saat itu akhirnya sakit dan pemotretan harus ditunda beberapa hari.

“Aku tidak pernah sakit meski harus diguyur hujan semalaman. Sepertinya hujan tahu kalau aku menyukainya, karena itu dia bersahabat denganku. Kalau kau, apakah kau pernah sakit karena kehujanan?”

Jessica tiba-tiba merasa harus memberikan penghargaan kepada pria ini atas kerja kerasnya mengajak Jessica mengobrol. Gadis itu pun sepertinya harus mengakui bahwa meski pria itu tidak bisa membuatnya menikmati cerita tentang hujan dan segala macam hal lain tentang hidupnya, setidaknya dialah orang paling gigih yang pernah mengajak Jessica mengobrol sejauh ini. Kebanyakan orang akan menyerah setelah lima atau sepuluh menit. Sedangkan pria di sampingnya ini? Jessica mulai berhitung untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Pria ini menghampirinya tidak lama setelah dia sampai. Itu berarti sudah sejam lebih pria itu berbicara sendiri.

“Kau tidak lelah berbicara tanpa ditanggapi seperti ini?” Jessica akhirnya menyuarakan pikirannya.

“Aku tahu kau pasti akan menimpali perkataanku,” pria itu berujar bangga. Atau bahagia? Jessica tidak berani menebak.

Jessica menangkap binar kekanakan saat pria itu mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Dan itu seperti sebuah langkah awal yang menumbuhkan niatnya memperhatikan penampilan pria itu lebih baik. Pakaian kasual yang terlalu rapi, rambut dengan potongan pendek dan dicat warna cokelat gelap, wajah yang menarik, dan ah, dia tersenyum! Lumayan, pikir Jessica.

Gadis itu jadi bertanya-tanya sendiri, dengan penampilan seperti itu, pria tadi bisa mendapatkan gadis lain yang akan bersedia menemaninya mengobrol—atau mungkin lebih. Kenapa dia bertahan di samping Jessica yang sama sekali tidak menanggapinya?

“Aku Donghae. Lee Donghae,” beritahunya.

“Apa yang membuatmu berpikir aku mau berkenalan denganmu?” jawab Jessica. Masih dengan nada ketus dan ekspresi dinginnya, tentu saja.

“Aku sudah menceritakan banyak hal tentang diriku padamu. Tidakkah itu curang kalau kau bahkan tidak mengizinkanku mengetahui namamu?”

“Tidak ada gunanya mengetahui nama orang yang tidak akan kautemui untuk kedua kalinya, Tuan Lee.”

“Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir akan mempermainkan hidup kita, bukan? Siapa tahu kau nanti malah akan jadi kekasihku?” pria itu mengerling nakal.

Kau sedang berusaha menggodaku? Tidak akan berhasil, Playboy Murahan!

“Tapi sebelum itu terjadi aku harus mengetahui namamu. Dan berhubung kau belum mau memberitahukannya, untuk sementara akan kupanggil kau dengan sebutan Princess,” pria itu memutuskan. Dia tersenyum saat melihat alis Jessica yang langsung bertaut mendengar keputusan sepihaknya, lalu mendapat ide yang lebih cemerlang. “Ice Princess! Aku rasa itu lebih cocok dengan kepribadianmu yang misterius,” serunya.

Freak!” hujat Jessica sebelum dia memutuskan meninggalkan pria itu. Dia meraih tas tangannya dan berjalan menuju tempat adiknya berada.

Butuh waktu cukup lama untuk membujuk Krystal agar mau pulang. Malamnya dengan Jongin seharusnya tidak berakhir seperti ini. Tapi Jessica dengan segala otoritasnya sebagai kakak berhasil memaksanya pulang.

***

“Kau bahagia, Sica?” Donghae yang saat itu sudah terbangun dari tidurnya bertanya pada Jessica yang masih mengelus rambutnya dengan lembut.

“Karena menjadi istrimu? Tentu saja,” wanita itu menjawab mantap. Tidak ada hal yang bisa lebih membahagiakannya dibanding menikah dengan Donghae. Tidak setelah apa yang terjadi di antara mereka pasca pertemuan di pesta Jongin waktu itu.

***

Sore itu hujan turun sangat deras. Jessica berdiri di depan pintu masuk kantornya, menunggu Krystal yang berjanji akan datang menjemput. Tapi adiknya itu belum juga menunjukkan tanda kalau dia akan segera muncul. Padahal tadi saat terakhir Jessica menelponnya, dia bilang sudah berada beberapa blok dari kantor Jessica.

Beberapa kali gadis itu mengecek jam di telepon genggamnya, bimbang apakah harus menunggu Krystal lebih lama lagi di tempatnya berdiri sekarang, atau masuk saja ke dalam ruangannya dan menunggu Krystal di sana?

Hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda akan berhenti dalam waktu singkat. Malah, angin sore bertiup semakin kencang, membuat bulir-bulir air hujan yang semestinya langsung menyentuh tanah harus tertiup angin terlebih dulu. Jejak hujan di udara yang seharusnya vertikal jadi melengkung karena tiupan angin.

Kalau kau, apakah kau pernah sakit karena kehujanan?

Jessica tidak tahu ada apa dengan otaknya saat ucapan pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Donghae di pesta Jongin beberapa waktu lalu terlintas lagi di ingatannya. Bodoh! Jessica memaki, tanpa tahu dengan jelas ditujukan kepada siapa makian itu.

Sudah empat bulan berlalu sejak malam itu. Dan tidak ada yang spesial baginya. Hari-harinya berjalan sedatar biasa. Kerja, membaca buku, dan menyendiri. Yang berbeda adalah Krystal. Setelah pesta itu, dia diajak kencan beberapa kali oleh Jongin. Mereka resmi berpacaran setelah kencan yang ketiga. Dan kalau tidak salah, beberapa hari lalu Krystal dengan antusias bercerita padanya tentang bagaimana dia tidur dengan pria itu, cerita yang ditanggapi Jessica hanya dengan gumaman tidak jelas.

“Jessica-sshi!” panggil seseorang yang berhasil memutus rantai pikiran gadis itu.

Jessica tidak tahu sejak kapan mobil hitam keluaran terbaru itu berhenti tepat di depannya. Dia lebih tidak tahu lagi kenapa orang itu yang ada di hadapannya, bukan Krystal.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menjemputmu. Krystal sedang ada urusan. Kau tahu, urusan anak muda yang sedang dilanda cinta,” orang itu berkata, setengah berteriak dari dalam mobilnya. “Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak, terima kasih. Aku naik taksi saja,” tolak Jessica, ikut meninggikan suaranya. Hei, kenapa dia harus berteriak kalau dengan suara yang serendah tadi saja orang itu sudah bisa mendengarnya?

“Naiklah!”

“Tidak, terima kasih.”

Orang itu turun dari mobil dan berlari kecil menuju tempat Jessica berdiri. “Aku tahu mencari taksi di saat hujan seperti ini tidak mudah,” katanya setelah dia sudah berdiri tepat di samping Jessica.

Gadis itu bahkan tidak menoleh sama sekali untuk mengecek keadaan orang di sampingnya, apakah saat dia lari dari mobil tadi, dia basah oleh air hujan atau tidak. “Aku bisa meminta tolong ayahku,” Jessica beralasan.

“Kenapa harus menyusahkan orang lain kalau ada aku di sini?”

“Apakah kau selalu memaksa gadis-gadis untuk naik ke mobilmu?”

“Tidak, ini pertama kalinya. Biasanya tanpa kupaksa mereka juga sudah menawarkan diri.”

Jessica memutuskan tidak menganggapi perkataan itu. Dia lebih memilih membuka tasnya, mengambil telepon genggam untuk meminta ayahnya mampir menjemputnya. Gadis itu menggerakkan jari di atas layar telepon untuk mencari nomor ayahnya. Ketika dia sudah akan menekan tanda perintah untuk menelepon, orang di sampingnya dengan sigap merebut benda tipis itu dan memasukkannya ke dalam sakunya.

“Hei, kembalikan teleponku!” Jessica, dengan suara melengkingnya yang khas, berteriak memerintah orang itu mengembalikan apa yang baru saja diambilnya.

“Jangan memanggilku dengan panggilan hei. Kau tahu namaku.”

Jessica mendengus, mulai kehilangan kesabaran. “Lee Donghae-sshi, kembalikan telepon genggamku sekarang juga, atau kalau tidak aku akan meneriakimu sebagai pencuri!”

Donghae tersenyum mendengar gadis itu akhirnya memanggil namanya. “Kau hanya perlu naik ke mobil itu dan mengizinkanku mengantarmu sampai ke rumah, lalu benda ini akan kukembalikan,” katanya sambil menepuk saku celananya.

“Apakah kau selalu sekeras kepala ini?” ejek Jessica, teringat lagi bagaimana pria itu terus berusaha memancingnya agar mau berbicara padanya saat di pesta Jongin empat bulan lalu.

Sekali lagi Donghae memamerkan senyum simpulnya. “Kalau dibandingkan denganmu, sepertinya sikap keras kepalaku tidak ada apa-apanya.”

“Aku tidak keras kepala!” elak Jessica dalam sebuah gumaman sebelum memutuskan masuk ke mobil Donghae. Dia masih sempat mendengar pria itu berseru yes! sebelum menutup pintu penumpang dan menunggu sang pemilik mobil ikut masuk.

***

“Aku baru kembali dari Phuket,” Donghae berkata, untuk kesekian kalinya berniat membuka percakapan baru.

Meski Jessica akhirnya memutuskan naik ke mobil, tidak berarti gadis di sampingnya itu berniat mengakrabkan diri dengannya. Lihat saja sikap dinginnya. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Donghae, apalagi berbicara padanya. Donghae sudah melakukan banyak hal, mulai dari yang paling biasa sampai yang paling tidak penting. Dia memutar lagu dan ikut bernyanyi—yang diselingi siulan tidak jelas, memamerkan suara sengaunya yang khas, berharap Jessica akan tertarik atau setidaknya memakinya. Itu lebih baik daripada diam.

Tapi menarik perhatian Jessica tidak semudah itu. Tidak pernah semudah yang dia bayangkan. Setelah dua CD selesai diputar, Jessica tetap tidak menunjukkan tanda ketertarikan. Pada akhirnya dia kembali ke usahanya yang dulu pernah berhasil membuat Jessica menimpali perkataannya: bercerita hal random tentang kehidupannya. Kali ini tentang pemotretannya di salah satu tempat terkenal di Thailand.

“Kau pernah ke Phuket, Jessica-sshi? Kau harus ke sana suatu hari nanti!” serunya, menutup cerita.

“Kau tidak bertanya aku tinggal di mana?” Jessica akhirnya berbicara, meski tidak ada hubungan sama sekali dengan serangkaian cerita panjang yang sudah Donghae katakan. “Kita sudah berputar di daerah ini sebanyak tiga kali,” gadis itu menambahkan.

Donghae tertawa pelan, memamerkan wajah polosnya. “Oh, jadi kau menyadarinya?”

Tentu saja aku menyadarinya, Bodoh!

“Jongin sebenarnya sudah memberitahukanku alamatmu, tapi rasanya aku tidak puas memulangkanmu tanpa mendengar kau berbicara sesuatu,” Donghae berkilah.

Bukan alasan yang buruk.

“Sekarang karena aku telah berbicara padamu, maukah kau langsung mengantarku pulang saja?”

Pria itu menjawab Jessica dengan sebuah senyuman senang. Dia memperbaiki posisi duduknya, berusaha mengesankan kalau dia akan serius menyetir. “Akan hamba lakukan, Princess!”

***

Donghae bukan tipikal pria yang gampang menyerah. Dari dua pertemuan mereka, Jessica bisa memastikan hal itu.

Setelah pria itu mengantarnya pulang beberapa minggu lalu, dia mulai melakukan pendekatan yang lebih intens terhadap Jessica. Dia menjemput Jessica setiap pagi, memaksanya agar bersedia diantar ke kantor dengan alasan penghematan bahan bakar demi mengurangi kadar emisi karsinogenik di bumi ini—iya, dia berbicara tentang bumi, bukan kota atau negara atau apapun yang kawasannya lebih kecil dibanding sebuah planet. Dia mengirim pesan kepada Jessica hampir setiap hari, kadang dia menyertakan gambar-gambar lucu di setiap pesan yang dikirimnya. Jangan tanyakan tentang telepon berisi ajakan kencan. Semuanya tidak ada yang ditanggapi oleh Jessica.

“Unnie, kau tidak berniat mengangkat teleponmu? Sejak tadi benda itu tidak berhenti berbunyi, kepalaku sakit mendengarnya,” Krystal berkomentar, mengacu pada telepon yang dibiarkan kakaknya berdering bergitu saja.

“Wae? Kau tidak suka musiknya? Ini Mozart, kau tahu,” Jessica menjawab tidak acuh, sama sekali tidak berniat mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya.

“Itu Donghae Oppa, bukan?” Krystal bertanya tepat setelah telepon itu berhenti berdering—untuk sesaat, karena beberapa detik berikutnya benda itu kembali mengeluarkan lantunan piano gubahan Mozart. “Kenapa kau tidak mencoba mendekatinya? Mungkin kita bisa melakukan kencan ganda suatu saat nanti,” gadis itu menambahkan.

Jessica menghentikan kegiatan membacanya kali ini. Dia menutup bukunya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Krystal yang saat itu berdiri di sampingnya. “Jadi ini alasanmu sengaja batal menjemputku beberapa waktu lalu, agar kita nanti bisa menikmati kencan ganda? Bisa kutebak kau juga yang memberikan nomor teleponku pada pria itu.”

Krystal salah tingkah. Gadis itu menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal, mempermainkan ujung rambut panjangnya, dan mengguman tidak jelas.

Melihat ekspresi adiknya, Jessica langsung meraih teleponnya yang masih berdering. “Apa maumu?” tanyanya pada sang penelpon.

“Hebat! Kali ini kau mengangkat teleponku pada panggilan ke-32, lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya!” pria di ujung saluran telepon berseru takjub, yang entah kenapa membuat Jessica membayangkan sebuah binar kekanakan dari mata sang penelpon.

“Donghae-sshi, aku bertanya apa maumu?”

“Masih sama seperti kemarin.”

“Baiklah,” Jessicca menjawab, membuat Donghae langsung berseru daebak! di seberang sana, sementara Krystal menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Tapi aku tidak ingin pergi berdua saja denganmu. Ajak Jongin dan Krystal, dan jemput aku akhir minggu ini jam 7 malam di rumahku,” gadis itu menambahkan, lalu mengakhiri sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Donghae.

Dia meletakkan kembali teleponnya dan berniat melanjutkan bacaannya, tapi Krystal langsung memeluknya dan berkata, “Unnie, apa aku sudah pernah bilang kalau aku sangat menyayangimu?”

***

Kencan itu berlangsung jauh lebih biasa dibanding apa yang dibayangkan Jessica. Awalnya dia mengira Donghae akan membawa mereka ke restoran mahal dengan alunan piano romantis yang menjemukan sebagai latar. Atau ke klub malam di mana pria seperti Jongin dan Donghae bisa bebas melihat banyak gadis cantik dalam balutan pakaian seksi. Maka ketika pria itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan pinggir jalan, Jessica tidak bisa menentukan dengan jelas perasaannya sendiri.

Jongin dan Krystal, seperti layaknya pasangan yang baru saja menjalin hubungan, terlihat antusias berjalan memasuki tempat itu sambil menautkan lengan mereka, sementara dia dan Donghae berjalan terpisah, meski jarak mereka tidak begitu jauh.

Donghae memesankan seporsi besar tteokbokki untuk mereka berempat, yang diklaim pria itu sebagai tteokbokki paling enak di Korea. Jongin dan Krystal menikmati makanan itu dengan saling menyuapi dan menyelinginya dengan tawa bahagia. Ah, love bird!

Jessica mencoba satu gigitan dan langsung menyetujui ucapan Donghae sebelumnya. Ini memang tteokbokki paling enak yang pernah dicicipinya. Ketika dia sadar bahwa dia menghabiskan lebih banyak dibanding yang dia kira bisa dihabiskannya, Jessica merasa malu sendiri.

Kencan itu didominasi oleh cerita Jongin dan Krystal tentang hubungan mereka. Donghae yang seingat Jessica juga banyak bicara, lebih memilih diam dan membiarkan dua orang itu memamerkan kemesraan mereka. Setelah makan, mereka menuju tepian Sungai Han. Di sana mereka berniat menyewa sepeda dan mengendarinya berkeliling.

“Tapi aku tidak bisa mengendarai sepeda,” ujar Jessica saat melihat tiga orang lainnya sibuk memilih sepeda mana yang akan mereka kendarai.

Mendengar itu, Krystal menghentikan kegiatannya beberapa lama demi mentap Jessica dan mengerling nakal, “Tenang saja, Unnie. Kita menyebut ini kencan bukan tanpa alasan.”

Dan seperti yang sudah Jessica duga, mereka akhirnya memilih dua buah sepeda, masing-masing dengan boncengan di belakangnya. Krystal langsung naik ke sepeda yang dibawa Jongin, yang tak lama kemudian mengayuh pedal sepeda itu dan pelan-pelan meninggalkan dia dan Donghae.

Donghae menepuk jok belakang sepedanya, “Naiklah!”

Jessica, meski ragu, tetap duduk di tempat yang tadi ditepuk Donghae. Dia memakai gaun yang meski terlihat kasual, tapi tetap tindak memungkinkannya duduk selain dengan posisi menyamping.

Donghae meraih tangan gadis itu, mengaitkannya di pinggangnya sendiri. Jessica berusaha menarik tangannya dari pinggang pria itu, tapi Donghae menghalanginya. “Pegangan yang kuat. Mantan calon atlet balap sepeda kebanggan Korea Selatan akan menunjukkan kehebatannya!” serunya.

Sesaat kemudian, mereka sudah mengendarai sepeda berkeliling tepian Sungai Han.

“Jangan mengayuh terlalu kencang, aku tidak mau jatuh,” protes Jessica.

Alih-alih mengindahkan peringatan gadis itu, Donghae malah mengayuh sepedanya semakin kencang. Itu sukses membuat Jessica berteriak memakinya, sekaligus mengeratkan pelukan di pinggang pria itu. Saat mereka sampai ke jalan yang agak menurun, Donghae melepaskan dua kakinya dari pedal sepeda. Dia biasa melakukan ini saat kecil. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari sensasi yang dia rasakan saat dia berhasil melintasi jarak beberapa puluh meter tanpa mengayuh, hanya mengandalkan kemiringan jalan dan kemampuannya menyeimbangkan diri. Jessica lagi-lagi meneriakinya, tapi pria itu menjawab menenangkan, “Jangan khawatir, sesekali kau harus belajar jatuh. Jatuh itu menyenangkan.”

Satu hal yang dilupakan Donghae, menjaga keseimbangan saat sedang sendiri dan saat membonceng orang lain adalah dua hal yang jauh berbeda tingkat kesulitaannya. Maka ketika akhirnya mereka jatuh dan menabrak semak-semak, dia tidak heran jika Jessica memakinya.

Kalau biasanya Donghae akan memamerkan senyum khasnya untuk menimpali ucapan—hujatan—Jessica, kali ini pria itu tertawa. Tawa yang panjang dan sangat renyah.

“Apa yang kau tertawakan?”

Donghae tidak langsung menjawab. Dan bukannya segera bangkit, dia malah lebih memilih berbaring di tepi jalan raya, sementara Jessica sudah bersiap berdiri. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Jessica, mengisyaratkan agar gadis itu ikut berbaring di sampingnya. Jessica melepaskan genggaman itu dalam sekali hentakan, namun akhirnya dia duduk tepat di samping Donghae.

“Jatuh itu menyenangkan, bukan?”

“Jatuh itu menyakitkan.”

“Mungkin tubuhmu benar akan sakit, tapi jiwamu akan merasakan kebebasan yang menyenangkan.”

Jessica tidak tahu teori dari mana itu. Namun untuk kedua kalinya malam ini, dia lagi-lagi harus membenarkan ucapan pria itu. Dia merasakannya. Perasaan bebas saat berteriak ketika sepeda mereka hampir terjatuh tadi, juga rasa senang yang aneh ketika dia akhirnya terjatuh dan mendapati dirinya baik-baik saja. Maka gadis itu membiarkan sebuah senyum lolos dari bibirnnya. Sebuah senyum yang sangat tipis, terlalu tipis sampai dia yakin Donghae tidak akan menyadarinya.

Mereka bertahan lebih lama lagi di posisi itu tanpa satupun yang mengatakan sesuatu. Sedikit terlalu lama, karena akhirnya telepon dari Krystallah yang menyadarkan Jessica bahwa mereka seharusnya pulang.

Jessica menemui adiknya dan Jongin di tempat mereka tadi berpisah. Dia bisa melihat pakaian Jongin yang tidak lagi serapi tadi, juga lipstick adiknya yang warnanya sudah memudar. Jessica menghembuskan napas penuh pemahaman. Dia hanya berharap mereka berdua tidak melakukannya di tempat yang terlalu terbuka.

Tidak banyak yang terjadi dalam perjalanan mereka pulang. Di jok belakang, Krystal bersandar manja di bahu kekasihnya, sibuk bermain dengan jari yang saling ditautkan. Donghae asyik bersenandung mengikuti irama lagu Just The Way You Are milik Bruno Mars. Sementara Jessica, seperti yang selalu dilakukannya, hanya bisa diam dan menyimak semua yang terjadi tanpa keinginan berkomentar sama sekali.

Kencan itu selesai saat Krystal masuk ke rumah setelah berulang kali mengucapkan selamat malam pada Jongin. Jessica hendak mengikutinya, tapi Donghae mengucapkan sesuatu yang membuatnya menghentikan langkah dan berbalik memandang pria itu.

“Apa katamu?”

“Kau harus lebih membuka dirimu dan lebih banyak tersenyum. Sayang sekali kalau senyummu yang manis itu hanya kau nikmati sendiri.”

Oh, Silly Boy! Jessica bahkan tidak pernah tersenyum untuk dirinya sendiri.

“Dari mana kau bisa menyimpulkan bahwa senyumku manis?”

Pria itu tersenyum penuh rahasia. Dia mendekati Jessica, terlalu dekat sampai gadis itu merasa perlu melangkah mundur. Donghae menahannya, membuat Jessica akhirnya hanya berdiri kaku di tempatnya. Pelahan, pria itu membungkukkan badannya agar tinggi mereka setara. Dia menatap gadis itu, yang balik memandangnya dengan tatapan yang tidak lebih bersahabat dari biasanya. Donghae semakin mendekatkan wajahnya ke arah Jessica, dan ketika mereka sudah cukup dekat, dia berbisik, “Kau tidak berpikir kalau aku tidak melihatmu tersenyum saat kita jatuh tadi, kan?”

Jessica bisa merasakan degup jantungnya jadi lebih cepat karena perbuatan Donghae barusan. Dia tidak pernah menyangka bahwa dengan udara malam yang dingin, perasaan yang mulai bergejolak di hatinya—yang tidak mau diakuinya—bisa membuatnya merasa hangat. Sialan!

“Jadi… sampai bertemu lagi?” Donghae membuyarkan pikirannya tentang perasaan-apapun-itu-yang-sedang-berusaha-Jessica-pahami.

“Kata siapa aku masih mau bertemu denganmu?” Jessica masih bersikap keras kepala.

“Kau masih belum menyadari betapa aku bisa jadi keras kepala untuk mendapatkan yang kuinginkan, huh?”

“Memangnya apa yang kau inginkan?” gadis itu spontan bertanya. Sebuah pertanyaan yang menurutnya bodoh karena entah bagaimana, dia merasa sangat yakin bahwa dia tahu apa jawaban dari pertanyaan itu.

Jessica menyadari pria itu semakin mendekatkan wajahnya, tapi Jessica terlalu sibuk berargumen dengan dirinya sendiri hingga tubuhnya sama sekali tidak bisa dia gerakkan. Ketika bibir pria itu akhirnya mendarat di pipinya, dia tahu pertanyaannya tadi sudah terjawab.

“Selamat malam, Ice Princess!”

***

Jessica tahu, kalau ada yang bisa menandingi sifat keras kepalanya, maka orang itu adalah Donghae. Dia merasa sudah cukup jelas menyatakan ketidaksediaannya didekati oleh pria itu dengan menolak semua ajakan makan malam, nonton, jalan-jalan, dan hal konyol lain yang coba ditawarkan pria itu. Tapi Donghae masih saja datang setiap pagi untuk menawarinya tumpangan ke kantor. Pesan berisi ucapan tidak penting dan gambar yang sama tidak pentingnya juga terus memenuhi inbox Jessica.

Kegigihan pria itu, entah dari mana, membuat Jessica merasakan ada sedikit kehangatan di hatinya yang selama ini dingin. Dia tidak pernah merasa diinginkan oleh seseorang sampai seperti ini. Pria lain pernah datang padanya—tergoda akan kecantikan dan pesona dinginnya yang menantang, lalu memutuskan menyerah ketika Jessica menolak dengan kasar. Tapi pria itu berbeda.

Sesekali kau harus belajar jatuh. Jatuh itu menyenangkan.

Apakah jatuh cinta termasuk?

Jessica menggeleng, menghalau pikirannya sendiri.

Gadis itu melangkah keluar dari kamarnya di lantai dua, turun menuju ruang makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Yang mengejutkannya adalah, pria itu ada di ruang makan keluarganya pagi ini, ikut menikmati sarapan khas keluarga Jung, dan bercanda bersama kedua orang tuanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” gadis itu menyuarakan pikirannya.

“Orang tuamu mengajakku masuk.”

“Kenapa kau tidak pernah memperkenalkan kekasihmu pada kami, Sica-ya?” ibunya bertanya.

Jessica memandang Donghae, menuntut penjelasan. Tapi pria itu hanya menggangkat bahunya, tanda bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang itu.

Ayah Jessica menangkap interaksi anaknya dengan pria itu dan memasang senyum berwibawanya. “Kau tidak perlu malu apalagi takut kami tidak akan merestuimu. Krystal sudah menjelaskan semuanya pada kami sebelum dia berangkat tadi,” ujar pria paruh baya itu sambil melempar pandangan penuh arti kepada Donghae. “Pria pilihanmu ini sangat menyenangkan. Ayah tidak keberatan sama sekali. Sepertinya ibumu juga menyukainya. Bukan begitu, Yeobo?”

Ibu Jessica memandang suaminya dengan tatapan setuju lalu menjawab, “Ne.”

Mendengar percakapan itu, Donghae merasa roti yang baru ditelannya tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya. Dia terbatuk keras, hingga Nyonya Jung harus segera berlari ke dapur untuk mengambilkan air putih untuknya.

“Dia bukan kekasihku,” bantah Jessica yang kemudian meninggalkan meja makan. Donghae langsung mengejarnya sambil terbatuk-batuk, memaksanya agar mau diantar ke kantor—dan lagi-lagi tidak diindahkan Jessica.

Oh ayolah, Jessica, dia bahkan sudah mendapatkan hati orang tuamu. Apa lagi yang kau ragukan?

***

Donghae menghilang. Jessica tidak tahu kenapa. Dia tidak pernah berani mencari tahu. Tapi sejak pagi itu, Donghae tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Pesan dan kiriman gambar-gambar lucu yang biasa memenuhi inbox-nya juga tidak ada lagi.

Gadis itu sebenarnya bisa saja menghubungi pria itu, karena damn, dia hanya tinggal menekan tombol perintah panggil lalu dia akan terhubung dengan pria itu. Dia juga sempat berpikir untuk menanyakan kabar Donghae kepada Jongin melalui adiknya. Kenapa Donghae tidak pernah datang lagi ke rumahnya? Ke mana pria itu? Sakitkah dia?

Tapi Jessica adalah Jessica, seorang gadis naïf dengan gengsi setinggi langit dan kemampuan yang sangat payah dalam mengutarakan isi hatinya. Memangnya apa yang bisa diutarakan jika dia bahkan tidak pernah memahami perasaannya sendiri?

Maka gadis itu memilih menyiksa diri dengan tidak menunjukkan kekhawatirannya terhadap pria itu. Dia tidak pernah menelpon meski hampir tiap malam memandangi nomor telepon Donghae hingga tertidur. Dia tidak pernah meminta Krystal menanyakan tentang Donghae kepada Jongin meski setiap kali melihat adiknya, keinginan itu pasti muncul.

Gadis itu akhirnya tahu  rasanya kehilangan. Dia tidak berhenti memaki pria itu dalam hatinya. Berani sekali dia hadir terus-menerus di hadapan Jessica, membuat gadis itu terbiasa dengan keberadaannya, mengklaim dirinya tidak akan menyerah sebelum mendapatkan Jessica, tapi kemudian tiba-tiba menghilang.

Bajingan!

Oh, siapa yang kau maki, Jessica? Bukankah wajar jika dia menyerah setelah kau tolak berkali-kali?

***

Tidak ada yang bisa melukiskan perasaan Jessica ketika sore itu, sepulang kantor, mobil hitam yang sangat dikenalnya tampak terparkir tidak jauh dari pintu gerbang, tempatnya menunggu taksi.

Hei, kau pikir hanya pria itu saja yang memiliki mobil seperti itu? Jangan terlalu delusional, Jessica! Pria itu sudah menyerah untuk mendapatkanmu.

Setelah memutuskan bahwa mobil itu tidak mungkin milik Donghae, gadis itu langsung menyetop taksi yang kebetulan lewat, dan pulang tanpa keinginan untuk berharap bahwa keputusannya tadi salah.

***

Kemunculan Donghae sungguh sebuah kejutan bagi Jessica. Oh, benarkah? Tidakkah kau memang mengharapkan sebuah cerita semanis dongeng di mana pangeran akan mengejarmu, Princess?

Dia baru saja turun dari taksi ketika melihat pria itu menyambutnya di pintu masuk rumahnya. Pria itu tersenyum padanya, senyum yang begitu polos hingga membuat Jessica marah. Setelah menghilang beberapa minggu, bisa-bisanya pria itu kembali dan bertingkah seolah dia tidak melakukan kesalahan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menunggumu.”

Jessica memilih tidak mengacuhkannya. Dia berjalan menuju pintu, tapi langkahnya ditahan oleh Donghae.

“Kau tidak merindukanku?” tanya pria itu.

“Kenapa aku harus merindukanmu?”

Donghae tidak tahu harus menjawab seperti apa, maka dia memilih membicarakan hal lain. “Tadi aku ke kantormu, tapi kau terlanjur naik ke taksi sebelum aku sempat menghampiri,” beritahunya.

Jadi memang benar itu mobil Donghae. “Lalu?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin kau tahu saja.”

“Baiklah. Aku sudah tahu sekarang. Kau bisa pulang,” Jessica berujar dingin dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah. Tapi lagi-lagi Donghae menahannya. Kali ini pria itu memegang lengan atas Jessica dan menariknya agar gadis itu lebih dekat padanya.

“Apa lagi?”

“Kau marah?”

“Atas dasar apa aku harus marah padamu?”

Donghae menjawab ragu, “Karena aku menghilang beberapa minggu ini, mungkin?”

Jessica melangkah mundur, membuat Donghae melepaskan pegangannya di lengan gadis itu. “Kau tidak tahu betapa aku bersyukur untuk itu,” dustanya.

Mata Donghae memancarkan kilat nakal itu lagi. “Benarkah? Tapi aku mendengar hal yang berbeda dari adikmu.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia beberapa kali mendapatimu tertidur sambil memegang telepon genggam. Dan tebak apa yang tertera di layarnya?” Donghae bertanya sok misterius, menikmati bagaimana ekspresi Jessica berubah karena pertanyaannya.

Jessica mematung di tempatnya berdiri, merasa kehilangan tenaga setelah dirinya ketahuan merindukan pria itu. Dalam guyuran rasa malu yang menimpanya, dia sibuk merencanakan bagaimana cara membalas dendam kepada adiknya yang tiba-tiba menyebalkan itu, tidak sadar kalau tangan Donghae kini sudah menggenggam tangannya.

“Maafkan aku. Aku harus berangkat ke Taipei beberapa minggu terakhir. Aku ingin memberitahumu, tapi kemudian aku berpikir bahwa mungkin aku harus menghilang dulu agar kau tahu bahwa keberadaanku sudah menjadi bagian dari hari-harimu.”

Gadis itu hanya diam.

“Sica-ya, mau berapa lama lagi kau beradu keras kepala denganku?”

***

Tidak gampang menyentuh hati seorang Jessica Jung. Tapi sekali kau berhasil melakukannya, maka hati itu akan jadi milikmu selamanya.

Itu adalah cinta pertama, Jessica memutuskan. Dan layaknya semua hal yang dialami pertama kali, rasanya akan sangat menyenangkan.

Donghae tidak tahu bahwa sore itu, bukan hanya tangan Jessica yang dia sentuh, tapi juga hatinya. Dia memang tidak perlu mengetahui itu. Yang harus dia tahu adalah bagaimana semua itu membuat Jessica lebih ‘hidup’.

Jessica kini lebih rajin tersenyum. Oh, gadis itu bahkan tersenyum ketika tidak ada hal yang harus disenyumi. Gadis itu bersenandung, mengikuti irama yang mengalun di kepalanya. Dia juga lebih perhatian terhadap penampilannya, meski Krystal sudah berulang kali meyakinkannya bahwa dia terlihat cantik dengan pakaian apa saja.

Bagaimana rasanya jatuh, Jessica? Menyenangkan, bukan?

to be continued…

Advertisements

17 thoughts on “[Part 1 of 2] Mine: Melting The Ice Princess

  1. Wah ini keren bnget th0r. . . Hai kenalin aku reader bru,gk sengaja nemu FF ini dan langsung suka.
    Jalan crtanya bgus jd aku cpt memahami alurnya,feelnya jg dpt bget.
    Jessica emang ice bget untung d0nghae gk cpt nyerah. . .
    Ditunggu next chapternya th0r, FIGHTING

  2. Waww gw suka banget cerita ff ini , gw dapettt banget feelnya .. Salut bgt gw sm kegigihan donghae . Mendapatkan hati jessica jung itu memang susah . Tp donghae usahanya di acungin jempol bgt . Gw suka banget thor ff lo ini , lanjoott 😀

  3. Bagus banget ff-nya chingu. Sumpahh~
    Alurnya bagus, bahasanya ringan. Perfecto deh idenya..
    Aku suka banget ^o^
    Haesica jjang!
    Chingu daebakk~

  4. Keren thor ffnya..
    Feelnya dapat banget..
    Aku suka ffnya..
    Ditunggu kelanjutannya…
    SEMANGAT!~^^

  5. anneyeong,q readers bru di blog gk sgja nemu ff ni..
    kyak org nysar yg ktemu berlian, kt2 ni cocok buat ff author yg kren bget,feelnya & bhasanya yg enak di bc & dimgerti…
    sumpah critanya ringan & mnyengkan… q dibikin melting sm kisah cinta haesica, jempol buat hae yg gk nyerah smpe sgitunya,sica bner2 ice princess…
    oh y moment mlam prtmanya mn bg… koq mlah tidur sihc jgn smpai ktingglan… biar ada baby haesica.. di buat moment yg plig romantis y thor…
    ditggu y!!!

  6. Keren bgt sumpah…salut sm donghae..sica dinginnya udh over bgt..jrg bgt skrg nemu ff haesica yg daebak kyk gini..penasaran gimana critanya mereka bisa married..next chap juseyo ^^ fighting!!! 🙂

  7. daebbak kata itu yg pertama terlintas di pikiranku begitu baca fanfic ini. ini very nice author-nim

    feelnya diksinya alurnya apalagi karakternya semuanya dapet. castnya jungsist. pairingnya pas banget haesic dan kaistal. dua couple favoritku.

    aku suka banget pas bagian jessica ngomong sendiri. itu ngena sekali. jessica itu rada sakit jiwa yya? kepribadiannya aneh tapi aku suka karakternya.

    ditunggu lanjutannya author-nim
    fighting^^

  8. Yaampun aku ngerasa beruntung bisa nyasar dan nemuin ff ini 🙂 annyeong author salam kenal yaa. ..
    Sukaaa…sukaaa..sukaa..suka bgt ama cerita nya aaaaa entah knpa aku bacanya jd senyum2 sendiri serasa nntn drama 🙂 daebaaakkkk.. perfecto !!!
    Bahasa nya ituloh author ngena bgt di hati 😀
    Suka bgt part dimana haesica bru pertama kali ketemu haha sumpah itu kocak bgt wktu sica nimpalin donghae yg lg ngoceh tp dlm hati wkkwkw aku bayangin mereka ber2 lucu bgt 🙂
    Pokoknya alurnya dr awal crta ampe akhir aku sukaa semuaa ^^

    Ditunggu lanjutannya yaa author jgn lama2 ya penasaran ama kelanjutan kisah ice princess kita 🙂
    Ohh ia mau nanya ini blog khusus ff haesica ya??
    Update ASAP !! FIGHTING ^^

    1. nggak khusus haesica. ini sbnrnya blog fangirling aja sih, jadi di sini aku nulis apa aja, bisa ff buatanku, rekomendasi ff yg aku suka, atau malah curhat. tergantung mood. haha.. tp mmg isinya gak jauh2 dari para bias dan otp kesayangan, haesica salah satunya.
      chapter selanjutnya aku publish besok, atau kalo nggak sempat, ya lusa. makasih ya, udah nyasar ke blog ini. sering2 aja 🙂

      1. Oke deh author sip sip hehe kl author publish ff haesica lg pasti aku baca.. bakal sering2 mampir ksini kyknya hehehe..
        Siap thor gasabar besok jdnya xixixii 😀

  9. Komen apa ya? Jessica nya gemessshhh dah. Semuanya OK buat dibaca… Jarang orang sekarang bikin gaya nulis macam gini hehehe. (((maap ya komennya ga mutu wkwk))) keep writing! XD

  10. Hai thor salam kenal, saya readers baru^^
    FF nya keren~ sebegitu susahnya kah donghae untuk mendapatkan hati jessica~~~
    Ah suka bgt sama ff nya~
    Kerreeeeennnnn
    Lanjut yah thor, jangan lama2 ^^

  11. Ini ceritanya berasa reaaaallll<3<3<3<3
    I really miss haesica 😦 😦
    Mereka swrrt bangett disiniii ahhh seandainya kenyataaann 😦
    Btw,aku minta pw chapter 2 nya boleehh?

  12. Mengulang komen yang aku tinggalin di ffmu yg lain: sweet lee donghae is sweet!!
    Ah, kalau diperjuangin sampe kayak gitu, siapa juga yang gak bakalan luluh? Aw… Jessica beruntung banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s