letting-go

Title: Letting Go

Author: nchuhae

Pairing: Sunhae

Genre: Sad Romance

Length: Oneshot, 1.456 words

* * *

“Senyumnya masih seindah dulu,” gumam Donghae.

Pandangan pria itu lekat pada layar smartphone dalam genggamannya. Entah sudah berapa lama dia menatap foto itu, foto yang mengisi banyak halaman berita selebriti belakangan ini.

Senyum seperti itu dulu sangat akrab dengannya. Beberapa tahun lalu, senyum seperti itu diperuntukkan baginya. Ah, betapa dia rindu pada masa-masa singkat itu.

Sejenak Donghae mengalihkan pandangan dari layar yang sedari tadi ditatapnya. Dia sedang berada di atas pesawat kembali ke Korea. Eunhyuk yang duduk di sampingnya sudah tertidur tak lama sejak pesawat lepas landas. Penumpang lain juga diam. Beberapa tertidur, sebagian memilih untuk membaca buku atau mendengarkan musik.

Perjalanannya kali ini memang panjang dan melelahkan. Biasanya Donghae akan ikut tidur seperti yang lain. Grupnya memang tidak mengadakan comeback tahun ini, tapi jadwal mereka sebagai grup ataupun individu tetap saja padat. Karena itu waktu selama berada di atas pesawat selalu dia manfaatkan untuk beristirahat.

Kali ini, rasa kantuknya sama sekali menolak muncul.

Mereka baru saja menyelesaikan syuting video klip di ibukota salah satu negara paling maju di Eropa—salah satu kota yang menjadi favorit Donghae. Pria itu tidak tahu apa yang lebih membahagiakan bagi seorang musisi selain mengunjungi tempat favoritnya untuk membuat video klip dari lagu yang diciptakannya sendiri.

Tapi seorang Lee Donghae bukan hanya seorang musisi. Dia bukan hanya seorang idol dengan fans tak terhitung. Di atas segalanya, dia adalah laki-laki biasa yang terkadang jenuh pada dunianya sendiri.

Donghae bahkan tidak tahu apakah jenuh adalah kata yang tepat untuk melukiskan perasaannya. Dia menyukai kehidupannya yang penuh dengan irama dan pujian. Menjadi seorang artis adalah impiannya sejak lama. Dia mencintai para penggemarnya–penggemar grupnya. Tapi dia juga tidak bisa menampik bahwa cinta seperti itu hanya bisa memuaskan jiwa keartisannya, sementara ada satu bagian dari dirinya yang kosong, mendamba cinta yang sesungguhnya.

Dulu dia pernah berpikir bahwa wanita itulah yang akan mengisi ruang kosong dalam hatinya. Dia sempat sangat yakin bahwa bersama wanita itu, dia tidak akan pernah lagi merasa kesepian. Sayangnya, wanita itu tidak berpikiran sama.

“Maafkan aku,” kata wanita itu di pertemuan terakhir mereka sebagai sepasang kekasih. “Aku tahu ini sangat egois, tapi aku tidak bisa terus berada di sampingmu.”

“Kau tahu betul seperti apa peraturan di managemenku. Kumohon bertahanlah sebentar lagi. Aku pasti bisa membujuk mereka untuk segera mengumumkan hubungan kita,” Donghae menjawab lirih.

“Aku sangat tahu itu, Hae-ya. Karena itu memutuskan untuk mundur. Aku tidak bisa menutup mata melihat kau dipasangkan dengan wanita lain, melihatmu bersikap mesra kepada mereka di depan orang banyak, sementara untuk melakukan hal seperti itu denganku kita harus bersembunyi.”

“Sunye-ya….”

“Maafkan aku.”

Donghae kembali menatap layar smartphone-nya. Wanita itu ada di sana, tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang baru lahir. Ekspresi wanita dalam foto itu memancarkan dengan jelas kebahagiaan yang sedang ia rasakan.

Donghae ikut tersenyum melihatnya, meskipun jauh di lubuk hatinya, Donghae tahu rasa pedih itu tidak seharusnya ada. Sudah berulang kali dia meyakinkan dirinya bahwa dia harus ikut berbahagia untuk wanita itu. Di hadapan semua membernya, dia sudah tidak pernah membicarakan wanita itu lagi. Dia menyimpan semua lukanya sendiri, sebisa mungkin menutupnya dari orang lain.

Dan dia berhasil. Donghae cukup bangga karena bisa melewati tahun-tahun sepi setelah kepergian wanita itu. Dia bisa bersikap dewasa saat akhirnya wanita itu menemukan pengganti dirinya. Dia ikut memberi selamat saat wanita itu menikah, meski tidak menyempatkan diri menghadiri upacara pernikahannya. Setidaknya dia berhasil membuat hampir semua orang berpikir dia sudah tidak terperangkap lagi pada cinta lamanya.

Hanya di waktu-waktu tertentu, pria itu merasa lelah berbohong. Dia mungkin bisa membohongi orang lain, tapi dia tahu betul bahwa dia tidak sehebat yang orang kira. Selalu ada rasa sakit berbeda di hatinya setiap saat foto wanita itu dan suaminya menghiasi portal berita. Bukankah dia lebih layak berada di samping wanita itu?

Donghae segera menggeleng, berusaha menghalau pikirannya sendiri.

Dia tahu betul dirinya tidak layak dibandingkan dengan pria itu. Pria itu bisa melakukan apa yang tidak pernah bisa dilakukannya. Pria itu mampu meyakinkan dunia bahwa wanita itu tidak akan mendapatkan yang lebih baik dibanding dirinya. Pria itu berani mengungkapkan isi hatinya, tidak hanya sekedar menggoda di acara variety show. Donghae yakin itulah yang membuat wanita itu tersentuh dan ikut menemukan keberanian untuk melangkah lebih jauh, tidak peduli pada status keartisan yang menghalangi langkah banyak idola.

Sedangkan Donghae, dia terlalu takut kehilangan penggemarnya. Dia terlalu takut mengungkapkan perasaannya. Dan pada akhirnya, dia kehilangan wanita yang paling dikasihinya.

Hailey.

Nama bayi itu sungguh indah. Donghae yakin kelak dia akan tumbuh dengan baik. Kalau beruntung, mungkin Donghae akan punya kesempatan bertemu bayi itu secara langsung. Dia masih tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika hal itu betul terjadi, tapi dia sangat mengharapkan itu. Karena mungkin dengan melihat bayi itu secara langsung, dia akan sadar bahwa wanita itu benar-benar tidak bisa lagi menjadi miliknya. Mungkin ketika melihat bayi itu, dia bisa benar-benar melepaskan Sunye.

Suara pramugari yang memberitahu bahwa pesawat akan segera mendarat membuat rantai pikirannya tentang wanita itu terputus. Di saat yang hampir bersamaan, pesawat yang ditumpanginya mulai ramai oleh suara penumpang membetulkan posisi duduk. Ada juga yang kembali mengenakan sabuk pengaman yang sempat dilepaskan selama pesawat berada di ketinggian yang stabil.

“Hae…,” sebuah suara menegurnya, membuat Donghae refleks menoleh ke arah sumber suara.

“Kupikir kau masih tidur,” ujar Donghae.

“Suara pramugari tadi terlalu seksi hingga aku langsung terbangun,” jawab Eunhyuk dengan ekspresi khas orang baru bangun tidur.

Donghae menanggapinya dengan sebuah anggukan paham. Pada keadaan normal, jika hatinya tidak sedang dirundung kegalauan seperti sekarang, dia pasti akan memukul pelan kepala sahabatnya itu. Bahkan di saat baru bangun tidur pun, pikirannya tetap tidak jauh dari wanita seksi.

“Aku tidak tahu bahwa kau masih belum melupakannya,” Eunhyuk berkata lagi, kali ini dengan nada lebih serius.

Dan Donghae tahu dia tidak perlu berpura-pura dengan menanyakan siapa yang dimaksud sahabatnya itu. Eunhyuk pasti melihat dia memperhatikan foto wanita itu dan bayinya sejak tadi.

“Rasanya masih terlalu sulit, Hyuk,” Donghae menjawab setelah cukup lama diam.

“Karena kau masih mencintainya?”

Donghae kembali diam. Perlukah dia menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas?

Tak ada lagi percakapan antara dia dan Eunhyuk setelah itu. Keduanya memilih tidak mengucapkan apa-apa bahkan setelah pesawat mendarat dan mereka keluar dari bandara.

Puluhan elf sudah menuggu mereka sambil membawa balon berwarna biru safir. Beberapa di antara mereka sibuk meneriakkan nama Donghae dan Eunhyuk, sementara yang lain sibuk menghindari penjagaan security dan bodyguard agar bisa mengambil gambar yang nantinya akan diunggah di berbagai media sosial.

Donghae memberi senyum tipis nan manis kepada semua yang meneriakkan namanya—senyum yang dilatihnya untuk menyenangkan para fans. Dia menatap segerombolan gadis muda yang menatapnya penuh pemujaan. Inilah yang dulu membuatnya harus kehilangan wanita itu. Karena memilih untuk tetap berada dalam hingar-bingar teriakan penuh nada posesif inilah dia harus kehilangan apa yang sebenarnya paling dia harapkan. Dia memilih mempertahankan satu mimpinya, dengan mengorbankan mimpinya yang lain.

“Oppa!! Saranghae!!” Donghae masih sempat mendengar itu sebelum pintu van yang akan membawanya kembali ke dorm ditutup oleh bodyguard sewaan managemennya.

Eunhyuk yang duduk di dekat Donghae masih sibuk melambai-lambai kepada para fans dari balik kaca jendela mobil. Barulah setelah van berada cukup jauh dari gate kedatangan mereka tadi, fans berhenti mengejar dan Eunhyuk bisa bersandar di bangkunya.

“Kadang aku bertanya-tanya, apakah para fans kita itu punya waktu cukup banyak untuk mengurus hidup mereka sendiri. Mereka ada di manapun kita berada. Tidakkah kau merasa cinta mereka kepada kita sungguh besar?” Eunhyuk berkata tanpa menatap lawan bicaranya.

Donghae tahu maksud sahabatnya berkata demikian. Fans itulah yang sudah dipilihnya. Jadi bukankah sudah seharusnya dia menikmati kehidupannya yang sekarang?

“Aku tahu itu tidak mudah. Aku bisa menghitung tahun-tahun yang kau lewatkan dengan mengamatinya dari jauh. Tapi aku harap kau ingat pada apa yang kau ucapkan padaku dulu, saat dia mengumumkan pernikahannya.”

Donghae tidak akan lupa. Bukan hanya Eunhyuk, seluruh anggota Super Junior mendengarnya saat mengucapkan hal itu. Kalimat itulah yang dulu menguatkannya.

“Merelakannya untuk orang lain adalah caraku memberitahu bahwa aku mencintainya,” Donghae mengulang kalimat itu dalam satu bisikan pelan, hingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya. Dia mengulang kalimat itu beberapa kali, sampai ia merasa akal sehatnya kembali lagi.

Satu-satunya yang boleh dia rasakan adalah bahagia. Wanita itu bahagia bersama keluarga barunya, jadi tak ada alasan baginya untuk diam-diam merasa sedih sendiri.

Saat itu, van yang membawa mereka berdua sudah berada di jalan utama Kota Incheon. Donghae memperhatikan pemandangan itu dari tempatnya duduk. Mungkin seperti halnya pemandangan yang dilihatnya selama van ini melaju, kenangan-kenangannya dengan wanita itu juga akan berlalu. Harus berlalu.

Dia tersenyum saat menyandarkan punggungnya ke belakang. “Aku mengantuk sekali, Hyuk,” ujarnya kepada Eunhyuk yang juga bersiap untuk tidur lagi. “Bangunkan aku kalau kita sudah sampai,” ujarnya sebelum menutup mata.

Diingatnya lagi teriakan-teriakan fans di bandara tadi, dan itu seperti sebuah lullabby yang mengantar Donghae menuju sebuah mimpi indah, di mana dia berada di tengah panggung, di tengah lautan berwana biru safir yang diciptakan fans untuk grupnya—untuknya.

FIN

A/N: Ini hanya tulisan seorang shipper yang kurang kerjaan. I really am wishing the greatest happiness for Sunye’s little family, but I just can’t help but miss Sunhae.

That lovely poster above is made by the lovely renovatio from IndoFanfictionsArts 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Letting Go

  1. bagussss ff nya :’)
    klo ini jadi “true story” sih daebak banget. Donghae lebih pilih fans nya huhu *terharu*

    btw kalimat ini sweet banget
    “Merelakannya untuk orang lain adalah caraku memberitahu bahwa aku mencintainya”

    good job! keep writing! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s