Image

Title: …, maybe?

Author: nchuhae

Cast: Lee Donghae, Min Sunye

Length: 1.049 words, oneshot

Rating/Genre: G/Can’t define the right genre for this story

Donghae meletakkan spidol merah di tangannya ke atas meja dengan ekspresi datar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang saat menyadari jumlah tanda silang merah di kalender di depannya. Tanda itu diberikannya untuk setiap tanggal yang terlewati olehnya. Jumlahnya kini sudah hampir mencapai kepala tiga. Itu berarti, sudah hampir sebulan dia mengerjakan hobi barunya ini.

Pria itu mengingat kembali hari ketika dia pertama kali memulai kegiatan bodohnya ini. Hari ketika dia bertemu lagi dengan gadis itu setelah sekian lama cuma bisa menatapnya lewat layar kaca, hari ketika dia kembali bisa mendengar gadis itu menyapanya dengan senyum yang selalu dia rindukan, hari ketika gadis itu menjanjikan sesuatu padanya.

***

“Sudah lama sekali,” kata Donghae.

Ne,” gadis itu menjawab pelan.

Canggung adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan pertemuan mereka. Setelah hubungan mereka resmi berakhir setahun lalu, inilah kali pertama dia dan gadis itu kembali dipertemukan dalam satu acara. Donghae masih ingat berapa senangnya dia ketika tahu bahwa akhirnya dia bisa menemui gadis itu lagi. Setidaknya, dia berhutang satu kalimat kepada gadis itu.

“Maafkan aku,” Donghae berujar pelan. Pria itu menunduk, menatap lantai gedung tempat mereka berada. “Seharusnya hubungan kita tidak berakhir dengan cara seperti itu,” dia menambahkan, sementara otaknya memutar kembali moment-moment kebersamaannya dengan gadis di sampingnya. Dia tersenyum samar ketika mengenang masa itu, namun tak lama senyumnya menghilang saat menyadari betapa singkat kebersamaan mereka. “Ini salahku.”

Aniyo… Kau tidak salah. Aku yang seharusnya minta maaf karena memutuskan untuk tidak bertahan.”

Donghae tersenyum lagi, menyadari betapa baik hati gadis itu. Dia, hal terindah yang pernah diberikan Tuhan untuknya, tapi harus terlepas dari genggamannya. “Kau memang sangat baik, Sunye-ah,” dia berucap tulus.

Hening lagi. Terlalu banyak yang ingin diucapkan Donghae pada gadis yang kini berambut pendek itu. Dulu, ketika mereka masih bersama, dia cukup memeluk gadis itu lalu semua hal yang sulit dia ungkapkan akan mengalir dengan sendirinya seiring helaan napas gadis itu dalam dekapannya. Sekarang, untuk sekedar bersalaman pun rasanya sudah sangat canggung.

“Kalau saja waktu itu aku lebih memperhatikan komunikasi antara kita,” ujar Donghae ketika dia berhasil menemukan kembali suaranya. “Kalau saja aku tidak terlalu egois dan mencoba lebih memahamimu seperti kau memahamiku, aku rasa kita masih bisa…,” dia memotong kata-katanya sendiri sebelum sempat mengakhirinya. Rasanya terlalu berat baginya berandai-andai.

“Ada akhir untuk segala sesuatu,” Sunye berujar pendek seraya menatap Donghae, meyakinkan kalau dia tidak ingin memperpanjang masalah yang telah selesai.

Dia selalu bisa memahami apa yang dirasakan Donghae, termasuk saat ini. Pria itu sebenarnya tidak perlu berujar panjang lebar untuk membuat Sunye tahu apa yang ingin disampaikannya. Mata pria itu selalu mampu berbicara lebih banyak dari apa yang bisa dilakukan bibirnya, dan Sunye cukup pandai untuk bisa membaca makna-makna tersembunyi di balik tatapan sendu itu.

Donghae menganggukan kepala pelan. Dia sepenuhnya sadar maksud ucapan Sunye barusan. Mungkin gadis itu benar. Tidak ada gunanya mengingat apa yang sudah berlalu. Gadis itu kini sudah memulai menulis cerita di lembaran hidupnya yang baru. “Kau bahagia dengannya?”

Sunye menoleh. Dia menatap Donghae cukup lama, berusaha menimbang jawaban yang harus diberikannya agar pria itu tidak terluka. Gadis itu masih dalam ekspresi diamnya ketika Donghae menemukan raut bahagia yang samar-samar muncul di wajah Sunye. “Dia pasti pria yang sangat baik,” Donghae menyimpulkan tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya.

“Kau benar.”

Ada satu pertanyaan lagi yang sebenarnya ingin diutarkan Donghae pada Sunye, namun ucapan singkat gadis itu barusan sudah cukup untuk memberinya jawaban tanpa perlu bertanya. Sebelum ini dia masih sempat menaruh harapan kecil di hatinya bahwa mungkin saja suatu hari nanti –saat Sunye sudah tidak bersama kekasihnya yang sekarang, Donghae bisa kembali menjadi pria yang paling utama di hati gadis itu. Sebuah harapan muluk bahwa dia akan mendapat kesempatan memperbaiki keegoisannya dulu. Sekarang dia tahu kesempatan itu tidak akan pernah lagi datang padanya.

Menyadari bahwa pembicaraan ini sebaiknya tidak diteruskan lagi, Sunye akhirnya memilih berdiri. Dia menatap Donghae yang masih duduk di bangku di depannya. Mata pria itu balas menatap Sunye penuh tanya, hingga akhirnya sebuah kalimat lolos dari bibirnya yang kelu, “kau sudah mau pergi?”

“Sepertinya memberku sudah kubiarkan terlalu lama menunggu. Kami masih harus ke gedung SBS untuk recording.”

“Ah, ne. Kau benar. Maafkan aku sudah menahanmu di sini.”

“Aku senang bisa berbicara seperti ini lagi denganmu. Rasanya sudah lama sekali kita tidak mengobrol berdua seperti ini,” Sunye menjawab sambil memamerkan senyumnya yang khas, membuat Donghae ikut tersenyum melihatnya.

“Jaga dirimu,” Donghae berpesan, berusaha menyembunyikan perasaan kalah yang dia rasakan.

Gadis itu masih memperlihatkan tersenyumnya untuk sesaat sebelum membungkuk dan mengucapkan salam perpisahan. Donghae memperhatikan gadis itu berjalan menjauhinya. Pelan tapi pasti gadis itu berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Mungkin analogi yang sama berlaku untuk kisah cinta mereka.

Donghae menghembuskan napas panjang sebelum memulai pertaruhan terakhirnya. Kalau gadis itu berbalik, maka tidak perduli dia sudah menjadi milik orang lain sekalipun, Donghae akan berusaha merebutnya kembali.

Langkah demi langkah terus ditapaki Sunye, namun tidak ada tanda gadis itu akan berbalik. Sosoknya sudah hampir menghilang di ujung lorong. Sekali lagi Donghae menghembuskan napas frustasi sebelum memutuskan untuk berhenti menggantungkan nasibnya pada takdir. Dia memilih bertindak kali ini. “Sunye-ah…,” panggilnya.

Gedung tempatnya berada tergolong cukup riuh, tapi Sunye masih bisa mendengar suara itu memanggil namanya. Dia berbalik dan mendapati Donghae masih di tempatnya semula.

“Apakah kau punya acara setelah recording-mu berakhir? Maukah kau menonton film bersamaku?” pria itu berujar dengan suara lantang demi memastikan suaranya terdengar cukup jelas.

Sunye tersenyum. Dia tidak akan lupa pada kalimat itu, kalimat serupa dengan yang diucapkan Donghae 2 tahun lalu padanya di sebuah acara. “Aku harus latihan,” gadis itu menjawab dengan kalimat yang juga sama.

Tapi kau latihan dance setiap hari. Berhentilah berlatih dance dan mulailah berlatih cinta denganku. Donghae menimbang apakah dia harus mengulangi dialog itu. Masih pantaskah?

Donghae menelan bulat-bulat kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya dan mengganti kalimatnya. “Kau harus mau, karena aku akan membelikanmu ddokbokki paling enak di Korea.”

“Aku tidak bisa, Orabeoni.”

Ah, panggilan itu. Sudah lama sekali rasanya dia tidak dipanggil seperti itu. “Lalu kapan?”

“Sabtu ini, mungkin?” Sunye menjawab kemudian melanjutkan langkahnya setelah melihat anggukan paham dari Donghae.

***

Donghae menatap kembali kalender penuh coretan merah di dekatnya.  Sudah 4 hari Sabtu yang terlewati sejak hari itu, tapi Sunye belum juga bisa menemuinya.

Pria itu berpikir, mungkin dia berharap terlalu banyak. Atau mungkin juga, dia salah mengartikan kata “mungkin” yang diucapkan gadis itu. Ya, mungkin dia harus kembali belajar mendefinisikan kata “mungkin”.

END

Desperate Sunhae shipper? Yes, I am.

Doesn’t mean I hate the fact that Sunye is now married with James. He’s adorable though. But in my mind, the best man for Sunye is Lee Donghae.

Advertisements

One thought on “…, maybe?

  1. Jadi ingat pas mereka sama2 jadi bintang tamu di come to play dan donghae ngegoda sunye terang2an begitu. Gak akan pernah lupa sama acara itu dan momentw sunhae yg bertebaran di sana. Dan ff ini, rasanya aku bisa ngebayangin gimana donghae yg masih suka sm sunye tp sunye udah sama pria lain. Pediiiih 😭😭💔

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s