Title: Agaasshi, Gwaenchanayo?

Author: nchuhae

Cast: Im Seulong, Lee Hyesa

Support Cast: Lee Changmin, Jung Jinwoon

Length: 3.832 words, oneshot

Rating/Genre: G/Romance with a lil bit comedy (maybe)

Hyesa POV

Aku berlari meninggalkan apartemen di lantai 16 itu dengan hati yang hancur. Sekuat tenaga aku berusaha menahan air mataku agar tidak mengalir di depannya. Perlahan suara yang sedari tadi memanggil namaku menjadi tak terdengar lagi. Ya, dia pasti tahu tidak ada gunanya mengejarku. Bisa apa dia? Menenangkanku dan berkata bahwa percakapannya yang tak sengaja kudengar tadi hanya sebuah kesalahpahaman? Aku sudah bertindak bodoh dengan mempercayai semua rayuannya. Dan tidak akan kubiarkan diriku melakukan kebodohan lain dengan mendengar penjelasannya

Kuambil handphone dari dalam tas lalu mulai mengetik pesan.To: Wonnie

Selamat untuk taruhan yang baru saja kau menangkan. Aku pikir sekarang aku sudah tidak ada gunanya lagi untukmu, jadi lebih baik kita putus.

Setelah pesan itu terkirim, kubuka penutup belakang handphoneku. Kukeluarkan sim card dari tempatnya, kupatahkan, dan akhirnya benda tipis mungil itu berakhir di lantai. Selamat tinggal, Jung Jinwoon.

* * *

Ini sudah jam 9.30 malam waktu Seoul. Seharusnya aku sudah berada di rumah 30 menit yang lalu. Changmin oppa pasti sudah sangat cemas memikirkan keberadaanku. Apalagi sekarang handphoneku tidak bisa dihubungi setelah tadi sim card-nya menjadi sasaran pelampiasan emosiku.

Tadi sepulang dari apartemen Jinwoon, aku berjalan tak tentu arah sampai akhirnya aku menemukan tempat ini. Sebuah danau di taman yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal namja sialan itu. Suasana di sini cukup tenang, sangat cocok untuk orang yang sedang patah hati sepertiku.

Yah, biarpun aku tidak begitu mencintai pria itu, tapi mengetahui kenyataan bahwa sikap manisnya selama ini hanya demi memenangkan taruhan dengan teman-temannya tetap saja  membuat hatiku sakit. Apalagi aku sudah berjanji pada diriku untuk belajar mencintainya. Tak kusangka usahaku sia-sia saja. Babo! Babo! Babo!

“Jung Jinwoon, aku membencimu!”

Tanpa sadar aku berteriak. Detik selanjutnya air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Malah air mataku mengalir jauh lebih banyak dari yang kubayangkan sebelumnya.

“Agasshi, gwaenchanayo?” kata seorang namja yang tiba-tiba menyentuh bahuku dengan lembut.

Aku mendongakkan kepala untuk melihat pemilik suara itu dan… ommona~

* * *

Seulong POV

Sejak 3 jam yang lalu aku terus menatap laptop, mengetik sesuatu, kemudian menghapusnya. Temanku bilang membuat tulisan di alam terbuka akan lebih ampuh untuk memunculkan sisi romantismu. Sayangnya hal itu tidak berlaku buatku.

Kalau sudah begini mau tak mau aku menyesali keputusanku mengambil alih kolom remaja yang dulu ditangani salah satu hoobae di majalah tempatku bekerja. Awalnya kupikir pekerjaan ini jauh lebih mudah dibandingkan menulis artikel kesehatan seperti yang biasa kulakukan, ternyata aku salah besar.

Pemimpin redaksi kami memintaku membuat sebuah cerita fiksi romantis. Katanya cerita jenis ini banyak digemari remaja sekarang. Hah, alasan yang aneh! Bukankah dari dulu remaja memang suka dibuai dengan cerita fiksi romantis? Dan kenapa juga aku baru menyadari hal ini sehari sebelum tulisanku harus diserahkan?

“Babo! Babo! Babo!” sebuah suara terdengar di dekatku.

Siapa itu? Perkataannya barusan benar-benar mewakili isi hatiku.

Kuedarkan pandanganku untuk mencari sumber suara, dan pencarianku berakhir pada seorang yeoja berambut lurus sebahu yang duduk tidak jauh dariku. Dia hanya seorang diri. Pandangannya nyaris kosong, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Dari tempatku duduk sangat jelas terlihat matanya yang berkaca-kaca.

“Jung Jinwoon, aku membencimu!”

Yeoja itu berteriak lantang kemudian menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Dia menangis. Itu sudah pasti.

Tanpa berpikir panjang aku segera meletakkan laptopku ke tanah, berjalan menghampirinya, dan memegang pundaknya sehati-hati mungkin agar dia tidak kaget.

“Agasshi, gwaenchanayo?” tanyaku.

Aish, pertanyaan macam apa itu, Im Seulong? Sudah jelas dia menangis, berarti dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Mendengar suaraku, yeoja itu menengadahkan kepalanya dan menatapku cukup lama. Sekarang aku bisa melihat jelas wajahnya. Dia tidak begitu cantik, bahkan terlihat menyeramkan karena tangisannya barusan membuat maskaranya luntur. Tapi untuk alasan tertentu aku berani mengatakan dia sangat manis, apalagi dengan tatapan melongo seperti itu.

“Agasshi, gwaenchanayo?” aku mengulang pertanyaanku tadi.

“Apa aku mengenalmu?” dia bertanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dulu.

“Ah, aku baru tahu kalau ternyata patah hati bisa membuat seseorang lupa tata krama berbicara. Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, malah bertanya balik. Kita memang belum saling mengenal, tapi asal kau tahu saja, teriakanmu tadi sudah membuyarkan konsentrasiku menulis,” ujarku.

“Jinjja? Ah, mianhaeyo… Aku juga tidak menyangka teriakanku bisa sampai sekeras itu. Dan tentang pertanyaanmu tadi, yah, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” dia menjawab sambil menatap danau di depan kami.

“Kalau boleh kutebak, kau pasti baru saja putus dengan pacarmu, kan?”

Pertanyaanku itu berhasil membuat dia kembali menoleh ke arahku. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan.

“Kalau kau butuh teman untuk bicara, kau bisa bicara padaku. Mungkin dengan begitu perasaanmu akan sedikit lebih lega,” kataku lagi.

* * *

Hyesa POV

Tidak kusangka aku akan menceritakan kisah cinta memalukanku dengan Jinwoon kepada orang yang baru saja kutemui. Aku bahkan tidak tahu namanya. Tapi seperti yang dikatakannya tadi, setelah menceritakan ini perasaanku menjadi lebih lega.

“Maafkan kalau aku lancang, hanya saja aku pikir tangisanmu tadi sangat sia-sia,” kata namja itu.

“Mwo?”

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dia bahkan tidak berusaha mengejarmu untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya? Kalau aku jadi dia, biarpun niatku mendekatimu memang hanya untuk menjadikanmu objek taruhan, setidaknya aku akan berusaha mengejarmu untuk minta maaf. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan itikad baik padamu. Jadi untuk apa kau menangis?”

Ucapan namja ini sungguh keterlaluan untuk ukuran orang baru kenal, cenderung menyakitkan malah. Meskipun yah, kuakui dia benar.

“Wajar saja sebenarnya kalau kau sakit hati. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan merasakan hal yang sama. Bedanya, aku tidak akan sebodoh kau menyia-nyiakan air mata demi orang yang belum tentu memikirkanmu,” lanjutnya.

Aku masih diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan.

“Sudahlah, tidak usah kau ambil hati perkataanku barusan. Hari semakin malam, kau harus pulang,” katanya lagi.

“Aku rasa semua perkataanmu benar. Terima kasih kau mau mendengarkan ceritaku. Itu sangat membantu. Aku akan pulang sekarang. Oppaku pasti sangat pusing mencariku,” ujarku sambil berdiri, bersiap pulang.

“Kau mau aku antar? Pulang dengan taksi di saat seperti ini sangat tidak aman, apalagi kau ini seorang yeoja.”

“Bukankah pulang dengan orang tidak dikenal juga sama tidak amannya?” Kataku yang berhasil membuat dia garuk-garuk kepala.

“Aku kan cuma menawarkan bantuan. Kalau kau tidak mau, ya sudah…”

Omo… Dia marah? Mukanya itu kenapa jadi makin tampan?

“Hhahaha… Mukamu itu lucu sekali. Ayo, kita berangkat.”

“Hey agasshi, kau ini aneh sekali. Bukannya kau sendiri yang bilang kalau pulang dengan orang tidak dikenal itu berbahaya? Kenapa sekarang malah mengajakku pulang?” Tanyanya dengan muka yang masih sama menggemaskannya dengan tadi.

“Setidaknya kau tampan, jadi walaupun kau menculikku aku tidak akan merasa rugi.”

Ucapanku barusan sukses membuat tawanya meledak. Dia yang tadinya sedang duduk sekarang sudah berguling-guling tidak jelas di tanah sambil memegangi perutnya.

“Ya! Apa yang salah dengan ucapanku?”

“Selain aneh, ternyata kau juga sangat lucu. Asal kau tahu, aku tidak akan mau menghabiskan waktu menculik yeoja sepertimu. Maskaramu yang luntur itu sungguh menyeramkan. Aku saja masih ragu kau ini manusia atau hantu penasaran. Tapi kuucapkan terima kasih karena sudah memujiku,” ujarnya masih sambil tertawa.

Ah, namja ini! Kenapa dia begitu heboh menanggapi ucapanku? Aku jadi menyesal sudah memujinya.

Tunggu dulu! Dia bilang apa tadi? Maskaraku luntur? Oh no! Lee Hyesa babo!

Refleks aku mengambil cermin untuk memastikan ucapannya.

Bumi… kumohon telan aku sekarang juga. Wajahku sudah cukup memprihatinkan karena air mata sialan dan maskara luntur ini. Kenapa penderitaanku harus bertambah dengan muka yang memerah? Apa bedanya aku dengan kepiting berlumur saus tiram? Sungguh mengerikan.

“Kau melamunkan apa? Kajja!” Kata namja itu yang entah sejak kapan sudah berada di atas sebuah sepeda motor.

Segera aku menghampirinya dan membungkuk.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa pulang denganmu,” ujarku dengan nada yang aku sendiri tidak bisa mengartikannya.

Tanpa menunggunya berbicara lagi, aku langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan dia dan motornya, kemudian bersembunyi di balik pohon dan merutuki nasibku hari ini. Putus dengan namja yang belum lama berpacaran denganku, apalagi alasannya karena dia cuma menjadikanku bahan taruhan. Kemudian bertemu namja tampan yang sangat mempesona, tapi kesan yang kuberikan sangat buruk. Ditambah lagi saat aku pulang nanti, Changmin oppa pasti akan memarahiku habis-habisan. Ugh, sungguh sial!

Seulong POV

Ini sudah untuk yang kelima kalinya aku mengganti posisi tidurku. Sejak tadi aku berusaha memejamkan mata namun hasilnya nihil. Alasannya hanya dua. Pertama, tulisan yang seharusnya kukumpulkan pagi ini belum selesai juga. Kedua, entah kenapa pikiranku selalu saja tertuju pada yeoja yang tadi kutemui di taman.

Sungguh aku mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi apa-apa dengan yeoja itu saat perjalanan pulang ke rumahnya. Tadi saat dia tiba-tiba berubah pikiran dan lari meninggalkanku, aku betul- betul kaget. Ketika sadar, dia sudah menghilang. Aku berusaha mencarinya, tapi dia seperti hantu yang menghilang begitu saja. Atau jangan-jangan dia itu memang hantu? Mungkin saja dia arwah penasaran dari gadis yang mati bunuh diri di danau itu.

Ah, Im Seulong… Kau sudah gila!

* * *

Kuputuskan untuk tidak tidur malam ini. Bagaimanapun juga aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan.

Aku ke toilet untuk membasuh muka. Tapi ada yang aneh saat aku bercermin. Yang muncul bukan pantulan wajahku, melainkan wajah yeoja itu.

“A-apa yang kau lakukan di toiletku?” Tanyaku dengan nada kaget bercampur takut. Yeoja itu benar-benar hantu?

“Hey, bukankah kau merindukanku?” Dia malah balik bertanya dengan nada centil.

“Aku? Merindukanmu? Kau gila, agasshi!”

“Kau yang gila! Ah, salah. Kau tidak gila, hanya saja kau babo. Apa kau tidak sadar kalau kau sudah jatuh cinta padaku?” Yeoja itu lagi-lagi berkata dengan nada menggoda.

“Kita ini tidak saling mengenal, agasshi! Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang yang tidak kukenal?” Elakku, meskipun dalam hati aku tidak yakin dengan yang baru saja aku ucapkan. Benarkah aku tidak punya perasaan terhadap yeoja itu?

“Aish… Kau ini sungguh naif. Baiklah kalau kau tidak percaya dengan perkataanku, aku akan bantu menyakinkanmu,” katanya yang masih dengan nada menggoda. Sesaat kemudian adegan yang terjadi sungguh tidak bisa kupercaya. Dia keluar dari cermin dan berdiri tepat di hadapanku. Pelan…pelan…pelan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dengan lembut dia ciumi bibirku. Tak butuh waktu lama untukku meyakinkan diri membalas ciumannya. Awalnya ciuman ini sangat kunikmati, tapi lama kelamaan kenapa rasanya jadi aneh? Kuberanikan diri membuka mata. Dan sungguh shock ketika aku sadar bahwa yang kucium adalah bantal guling.

Ya ampun ternyata aku cuma bermimpi. Sejak kapan aku tertidur?

Kulihat jam di samping tempat tidurku. 04.20 pagi. Tuhan! Ini bencana!

Di saat aku seharusnya menyelesaikan pekerjaanku, aku malah tertidur pulas dan memimpikan yeoja itu. Sungguh mimpi yang aneh. Tapi sepertinya percakapan dalam mimpi itu ada benarnya. Aku rasa aku menyukai yeoja itu. Yeoja yang sama sekali tidak kuketahui nama dan asalnya.

Dan hey! Sepertinya aku juga mendapat ide untuk tulisanku.

* * *

Paginya di kantor aku menemui Changmin hyung, pemimpin redaksi di majalah tempatku bekerja. Kuserahkan draft tulisan yang sudah kuketik susah payah saat bangun tidur tadi dengan perasaan yang campur aduk. Aku sama sekali tidak ragu dengan kualitas tulisanku, tapi bisakah ini disebut cerita fiksi seperti yang diminta Changmin hyung tempo hari?

“Seulong-ah, kuakui tulisanmu sangat menarik… Pemilihan judulnya juga sangat kreatif. Walaupun sebetulnya ini tidak sesuai dengan yang kuminta. Ini lebih mirip sebuah pengakuan, atau mungkin lebih tepatnya, kau sedang menyatakan cinta pada seseorang. Entahlah…” Changmin hyung berkomentar dengan gayanya yang penuh wibawa.

“Mianhe, hyung. Aku tidak bisa memikirkan orang lain selain yeoja itu,” aku mulai curhat dengan bossku yang satu ini.

“Hahahaha… Kau sangat jujur. Baiklah, kali ini kau kuiizinkan melanggar permintaanku, dengan satu syarat…” Changmin hyung menggantung kalimatnya sejenak, membuat aku jadi khawatir. “Kalau yeojamu ini sudah membalas perasaanmu, ajak dia langsung menemuiku. Aku penasaran ingin melihat yeoja yang bisa membuatmu berlaku seperti ini,” lanjutnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Tentu saja, hyung. Akan kupamerkan dia ke seluruh dunia jika dia sudah membalas perasaanku.

* * *

Hyesa POV

Sudah seminggu aku terpenjara di rumah ini. Gara-gara aku pulang sangat telat tempo hari, Changmin oppa menghukumku tidak boleh ke mana-mana selain ke kampus. Parahnya, hukumanku ini berlaku untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Semua tergantung kemurahan hati oppaku itu. Menyebalkan! Kakiku sudah gatal ingin menginjak mal dan tempat-tempat lain yang biasa aku kunjungi bersama teman-temanku.

“Aku pulang…” Sebuah suara terdengar dari arah pintu. Makhluk yang tega menyiksaku selama ini sudah pulang dari kantor rupanya.

“Hyesa-ah, oppa bawakan makanan kesukaanmu,” katanya sembari menyodorkan sekotak brownies cokelat buatan toko langganan kami.

“Gomawo, oppa…” Jawabku malas.

“Hey, kenapa kau begitu tidak bersemangat akhir-akhir ini?”

“Mollayo, oppa. Mungkin aku hanya sedikit bosan.”

“Kalau kau berkata begitu agar hukumanmu kuhentikan, kau melakukan hal yang percuma,” ujarnya tegas sambil meletakkan sebuah majalah di meja.

“Oppaaaaa,” rengekku.

Kupandangi punggung oppaku itu dengan tampang memelas, berharap dia akan berbalik dan mengubah keputusannya. Tapi percuma. Persis seperti yang dia katakan. Ah, Tuhan, kenapa kau memberikanku oppa yang keras kepala seperti dia?

Kualihkan pandanganku ke sebuah benda yang tadi di letakkan oppa di atas meja. Ini pasti majalah yang diterbitkan kantornya bulan ini. Biasanya di majalah ini ada halaman yang diisi dengan cerita fiksi remaja, dan aku adalah pembaca setia kolom itu.

Lembar demi lembar kubuka sampai akhirnya aku menemukan yang aku cari. Judulnya lucu. Agasshi, gwaenchanayo? Hahaha… Aku jadi teringat seseorang yang dulu mengatakan hal serupa kepadaku. Kira-kira dia masih mengingatku tidak ya?

Kubaca nama pengarangnya. Im Seulong. Dia penulis baru? Well, mari kita lihat karyanya.

* * *

Aku hanya bisa melongo melihat baris-baris tulisan di depanku. Dan seperti diperintah oleh sebuah suara imajiner dari dalam pikiranku, aku berlari menyambar kunci mobil Changmin oppa yang berada di dekat tv. Saat menstater mobilnya, kulihat oppaku itu berlari ke arahku.

“Ya! Lee Hyesa! Mau ke mana kau? Ini sudah malam. Hukumanmu juga belum selesai. Kalau kau pergi…”

Kata-kata itu tidak sempat aku dengar lanjutannya karena mobil sudah berjalan menjauh dari rumahku.

“Mianhe, oppa. Kali ini aku tidak bisa jadi dongsaeng penurut. Ada hal yang lebih penting saat ini.”

* * *

Tulisan yang awalnya kukira adalah cerita fiksi, ternyata sama sekali berbeda dengan yang kuharapkan. Ini kisah nyata si pengarang dengan seorang yeoja, dan aku yakin akulah yeoja itu.

Jika yeoja yang kumaksud membaca tulisan ini, aku mohon padanya untuk datang dan menjawab perasaanku. Aku akan menunggunya setiap hari di tempat dan waktu yang sama seperti saat perkenalan kami dulu.

Dengan napas tersengal-sengal aku berlari ke danau penuh kenangan itu. Tadi karena terlalu terburu-buru, aku sampai lupa kalau jalan yang kulalui sedang mengalami perbaikan sehingga aku tidak lewat jalan alternatif. Akibatnya aku terpaksa meninggalkan mobil Changmin oppa di sana dan harus berlari sekitar 500 meter untuk menemui namja itu di tempat ini.

Kuedarkan pandanganku ke segala arah dan mendapati namja itu sedang berdiri di suatu sisi danau sambil menatapku dengan wajah cemberut.

“Nona Maskara Luntur! Kenapa kau lama sekali? Apa kau tidak tahu kalau nyamuk di sini sangat ganas?” Omelnya saat aku sudah berada di depannya.

“Salahmu sendiri. Kenapa kau begitu percaya diri kalau aku akan membaca tulisanmu dan datang ke sini? Bagaimana kalau sebaliknya?”

Tiba-tiba dia memelukku. Sangat erat sampai-sampai napasku sesak.

“Aku yakin kau akan datang,” ujarnya tepat di telingaku. Tubuhku jadi menggigil karenanya.

“Ya! Kau mau membunuhku, hah? Aku kesulitan bernapas karena kau memelukku terlalu erat,” kali ini giliranku mengomelinya.

Dia melepaskan pelukannya dan mengajakku ikut duduk di sampingnya.

“Jadi, kau juga menyukaiku, kan?”

Aku tidak tahu itu pertanyaan atau apa. Hah, percaya diri sekali orang ini. Anehnya aku tidak merasa risih dengan rasa percaya dirinya itu.

“Kenalkan, aku Lee Hyesa. Mahasiswi semester akhir di fakultas Sastra Inggris Universitas Seoul,” kataku sambil mengulurkan tangan padanya.

Dia memandangku dengan tatapan bertanya, lalu setelah itu mengangguk. Ya, sebelum berbicara perasaan masing-masing, kami harus saling mengenal terlebih dulu.

“Aku Im Seulong. Calon dokter yang jatuh cinta pada dunia jurnalisme,” katanya sambil menjabat tanganku. “Jadi bagaimana, apakah kau juga menyukaiku?” Dia mengulang pertanyaannya tadi.

“Molla.”

“Ya! Kau ini!”

“Tapi aku mau kok jadi pacarmu,” ujarku jujur.

“Mwo?” Dia bertanya, memasang muka heran.

“Saat ini aku tidak yakin menyukaimu atau tidak. Tapi karena kau sangat tampan dan kurasa cukup baik, aku yakin suatu saat akan menyukaimu.”

“Ya! Nona Maskara Luntur, kau anggap aku ini apa?” Ujarnya dengan nada sedikit meninggi. Dia marah?

“Aku anggap kau sebagai namjachingu-ku. Itu kan yang ingin kau dengar?” Kataku dengan nada menggoda. Kumohon, jangan marah.

“Hhahaha! Sudah kuduga kau juga menyukaiku,” ujarnya yakin.

“Mwo? Aku kan hanya mengakuimu sebagai namjachigu-ku, bukan berarti aku menyukaimu.”

“Ya, Nona! Coba kau lihat dirimu. Kalau kau tidak menyukaiku, mana mau kau ke luar rumah jam segini dengan pakaian seperti itu? Itu karena kau terburu-buru ingin bertemu aku, kan?”

Mendengarnya aku refleks melihat penampilanku. Gaun tidur tipis berwarna biru langit yang membuat lekuk tubuhku terlihat jelas walau dengan penerangan seadanya seperti sekarang. Pantas saja aku merasa begitu kedinginan sejak tadi. Tanpa dikomando sel-sel darah diwajahku memanas. Bisa kutebak mukaku sekarang sudah merah seperti tomat. Ya Tuhan, kenapa aku harus selalu tampil memalukan di depan pria ini?

“Kau sangat cantik dengan wajah memerah seperti itu,” katanya sembari memakaikan jaketnya kepadaku.

Aku tak mampu berkata-kata, jadi yang kulakukan hanyalah menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku, membuat darahku mengalir begitu cepat. Kuberanikan diri menatap wajahnya. Dia melakukan hal yang sama denganku. Entah berapa lama kami saling menandang seperti itu, sampai akhirnya wajahku dan wajahnya saling mendekat. Beberapa saat setelahnya, kurasakan bibirnya mulai menyentuh bibirku. Ciumannya sukses membuat aku sesak napas. Aku rasa sebentar lagi aku akan mati karena terlalu senang.

* * *

Seulong POV

Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Malam ini dia menjawab perasaanku. Aku sangat kaget ketika melihatnya datang dengan napas tersengal-sengal dan dengan pakaian tidur yang begitu menggoda imanku. Tapi sungguh, aku senang dia datang.

Saat aku menanyakan perasaannya padaku, dia sempat mengelak, meskipun pada akhirnya semburat merah itu hadir di wajahnya. Ya, aku yakin dia juga mencintaiku.

Dan seperti adegan di film-film drama, setelah itu kami berciuman. Bukan sekedar mimpi seperti yang tempo hari kualami. Kali ini semua nyata. Saking nyatanya aku nyaris melakukan hal di luar batas. Untunglah aku masih cukup bisa mengendalikan diri, jadi kuakhiri ciuman ini setelah entahlah… aku tak peduli berapa lama itu berlangsung.

“Wae?” Tanyanya.

“Kau ingin menguji imanku, Hyesa-sshi? Lihat pakaianmu itu. Kalau kuteruskan ciuman tadi, aku tidak yakin kau bisa kembali ke rumah tanpa terjadi sesuatu pada pakaian itu,” aku berusaha berkata jujur. Semoga dia tidak marah.

“Padahal aku tidak keberatan kok,” godanya.

Ah, yeoja ini menantangku rupanya. Baiklah kalau begitu, mari kita lihat sejauh mana ‘tidak keberatan’mu itu berlaku.

“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan?” Pekiknya saat aku mulai mendekatinya lagi.

“Bukankah tadi kau bilang tidak keberatan?” Ujarku sambil memasang tampang semesum mungkin dan… PLETAK! Dia memukul pelan kepalaku.

Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Sudah kuduga dia tidak berani. Muka takutnya itu sungguh membuat perasaanku campur aduk.

“Makanya lain kali jangan coba menggodaku seperti itu,” kataku setelah berhasil menetralisir tawaku.

“Ah, ternyata lagi-lagi aku salah memilih pria. Tak kusangka kau begitu mesum,” ujarnya dengan wajah yang dibuat cemberut, tapi tangannya melingkar di pinggangku.

“Ya! Mana boleh kau menyamakanku dengan namja yang waktu itu membuatmu menangis? Shiroh!”

“Andwae… Kenapa namjachingu-ku ini begitu pemarah? Mianhae. Aku tak bermaksud membandingkanmu dengannya. Kau tahu kan siapa yang lebih baik,” ujarnya sambil mengeratkan pelukannya di pinggangku. Aigoo, dia sungguh manja.

“Oh iya, mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sebutan yeobo karena aku juga akan memanggilmu dengan sebutan serupa. Arasseo?”

Dia terlihat ingin protes dengan keputusan sepihakku, jadi kucium saja bibirnya. Kali ini hanya ciuman singkat, tapi berhasil membuatnya lupa mengajukan protes.

Tiba-tiba aku teringat satu hal. Jam berapa sekarang? Andwae… Aku melupakan sesuatu. Semoga saja Changmin hyung belum tidur jam segini.

Tanpa pikir panjang kutekan sederet nomor di handphoneku. Tak lama kemudian orang yang kutelpon mengangkat telponnya.

“Hyung, apa aku mengganggumu?”

“Aniya… Aku belum bisa tidur karena menunggu adikku pulang. Kau ada perlu denganku?”

“Ne. Yeoja itu sudah menjawab cintaku, hyung. Sekarang aku ingin menepati janjiku padamu,” ujarku penuh semangat.

“Ah, arasseo. Kau boleh membawanya ke rumahku sekarang. Aku tak sabar ingin mengenalnya…”

Setelah itu telpon kututup. Kulirik yeojaku yang masih menatapku heran.

“Aku ingin kau menemui seseorang,” ujarku mantap.

Tanpa menunggu persetujuannya, aku menarik dia menuju motor yang kuparkir tak jauh dari tempat kami berdua.

* * *

Hyesa POV

Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia menarikku ke motornya. Biarpun dalam hatiku timbul begitu banyak pertanyaan, entah kenapa aku menurut saja.

Kueratkan pelukanku di pinggangnya. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju tempat seseorang yang tadi dia telpon. Siapakah orang itu? Seulong memanggilnya hyung. Apa itu berarti Seulong akan mengenalkanku dengan kakaknya? Keluarganya? Omona… Ini kan seharusnya dilakukan dengan sedikit lebih resmi. Setidaknya bukan sekarang saat aku hanya memakai gaun tidur tipis. Ditambah lagi ini sudah tergolong larut malam. Apa kata kakaknya nanti? Ottohkae?

* * *

“Yeobo, kita sudah sampai,” kata Seulong yang berhasil membawaku kembali ke alam nyata.

Aku menatap rumah di depanku. Kenapa bisa sampai di sini? Ini kan rumahku? Bukannya kita akan menemui kakak Seulong?

“Kajja…” Ujarnya sembari menarik tanganku.

Aku masih membatu, sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa yang sebetulnya sedang terjadi?

“Kau tak usah takut, Yeobo. Hyung-ku ini baik kok,” Seulong berusaha meyakinkanku.

Kalau hyung yang kau maksud adalah Lee Changmin, aku ragu pada kebenaran kata-katamu. Dia memang baik, hanya saja aku tak yakin dia cukup baik untuk bisa menerima kelakuanku malam ini.

“Hyung! Aku datang,” kata Seulong di depan pintu. Wajahnya sangat ceria, berbanding terbalik denganku yang saat ini hanya bisa menunduk.

Tak lama kemudian Changmin oppa keluar dengan memakai baju tidurnya. Dia langsung memeluk Seulong dan dibalas pelukan serupa oleh namja yang memaksaku memanggilnya yeobo ini.

“Chukkae, Seulong-ah. Ternyata yeoja itu membalas cintamu. Itu dia?” Kata Changmin oppa sembari berjalan mendekatiku. Aku hanya bisa pasrah, menghitung mundur sampai akhirnya kemarahan oppa meledak saat melihat aku di depannya.

“YA! LEE HYESA!” Teriaknya. Aku tak tahu itu karena dia kaget atau marah, yang jelas perasaanku tidak enak.

“Hyung, kau mengenalnya?” Tanya Seulong dengan tampang innocent.

Bagaimana mungkin dia tak mengenalku, yeobo baboya? Aku ini adiknya…

“Yeoja yang sudah membuatmu tergila-gila seperti ini adalah adikku, Seulong-ah,” Kata Changmin oppa, berusaha memberi penjelasan pada pacarku itu.

Seulong yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-angguk tidak percaya. “Jinjja? Kalian sama sekali tidak mirip. Dia terlalu cantik untuk jadi adikmu, Hyung,” ujarnya sambil tertawa renyah.

“Ya! Kau mau kupecat?” ancam Changmin oppa. Aku tidak tahu sedekat apa hubungan mereka di kantor, tapi aku yakin oppaku hanya bercanda dengan ucapannya barusan.”Sekarang lebih baik kau pulang. Aku harus melakukan sesuatu pada bocah ini,” kata Changmin oppa lagi.

Kulihat Seulong ragu. Tapi detik selanjutnya dia malah menghampiriku lalu mengacak pelan rambutku sambil tersenyum jahil.

“Dengarkan kata oppamu baik-baik,” pesannya sambil beranjak meninggalkanku berdua dengan Changmin oppa.

Yeobo… Kumohon jangan pergi…

Terdengar suara motornya semakin menjauh. Ah, ikatan batin kami sungguh tidak kuat.

Appa, Eomma, cepatlah pulang dari Inggris…

Oppa sebentar lagi akan mencincangku.

* * *

Karena perbuatanku yang lagi-lagi membuat oppa cemas, aku harus menjalani sidang ala Lee Changmin.

Catatan kesalahanku bertambah.

Pertama, aku keluar rumah padahal hukumanku karena pulang telat waktu itu belum juga selesai.

Kedua, aku pergi dengan membawa lari mobil oppa tanpa izinnya.

Ketiga, aku pergi dengan pakaian yang bisa dibilang tidak pantas.

Keempat, aku meninggalkan mobil oppa di jalan dan lupa membawanya pulang.

Kelima, aku sama sekali tidak menyentuh brownies pemberian oppa tadi. Oppa bilang itu melukai perasaannya *ah, Oppa lebay!

Akibatnya, aku dihukum bekerja di kantor Oppa untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Anehnya, aku ditugaskan menjadi asisten pribadi Seulong. Ah, ini hukuman atau apa?

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s